Hari Respati (Kamis) malam terang bulan! Malam yang berbeda daripada malam-malam lainnya. Sejak surup (senja) orang tidak berani keluar pintu, melainkan tekun di dalam rumah membakar kemenyan dan menaruh sesajen dan bunga-bunga rampai di sudut rumah. Asap kemenyan, yang mengepul dari setiap rumah, berkumpul di angkasa bermain dengan sinar bulan, suram-muram mengandung keajaiban menyeramkan. Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa pada malam hari Respati, apalagi di waktu terang bulan, jin setan iblis siluman dan roh-roh yang gentayangan berpesta-pora, keluyuran di seluruh permukaan bumi untuk mencari mangsa dan korban di antara manusia yang lemah batinnya. Setelah senja, begitu matahari yang amat ditakuti mereka tenggelam, mereka, keluar dari pohon-pohon besar, dari goa-goa angker, memasuki kota dan dusun. Mula-mula ributlah suara mereka, bercampur-baur dengan suara margasatwa, kerak jangkerik, tangis walang kekek, kerak kalak dan bunyi burung burung malam.
"Kulikkk kulik kulikkk I"
Suara ini terdengar di angkasa, melewati rumah-rumah
orang, nyaring dan tinggi suaranya, kadang-kadang diiringi kelepak sayap.
"Huuuuukk.. huukkk huuukkk.... !”
Suara besar parau, jarang
akan tetapi amat mengesankan sehingga gemanya
terdengar membangunkan bulu roma.
"Klebek…. klebek….
klebek,,,, suara ini!
terdengar di bawah di sekitar rumah, membuat orang menengok ke
kolong balai dengan hati giris. Sukar menentukan siapa pembuat suara-suara itu.
Burung kulikkah atau kuntilanak yang menangis kehilangan
anak yang mencari-carl penggantinya di antara bayi-bayi manusia yang baru terlahir? Suara burung hantukah yang besar parau itu, ataukah suara iblis raksasa dan gendruwo berambut panjang
riap-riapan dan gimbal,
bermata merah menyala sebesar
bende, bersiung sejengkal-jengkal dan lidahnya tergantung sampai di
leher? Dan yang terakhir itu, suara
kalepak sayap ayamkah, atau suara banaspatl si glundung pringis, kepala tanpa tubuh yang bergulingan ke atas tanah kadang-kadang berloncatan seperti
bola, matanya melotot mulutnya
lebar meringis ketawa tidak menangispun
bukan? Kadang-kadang, apabila angin berhenti bertiup, suara-
suara itupun lenyap. Sunyi senyap
menyelimuti bumi, keadaan begini lebih menyeramkan lagi karena kata orang, pada saat
beginilah roh-roh jahat menerkam korbannya.
Kalau sudah begini, bunyi pintu berderit sedikit
saja cukup menegangkan urat
syaraf. Dan pada saat sunyl senyap seperti itu,
di waktu bulan purnama menyembunyikan sebagian mukanya
yang keemasan di balik awan
hitam berbentuk kepala Bathara Kala,
di waktu angin berhenti bertiup dan semua penduduk Kota Raja Jenggala tak berani berkutik pula dalam rumah di atas tempat tidur
masing-masing, ibu-ibu mendekap anaknya, suami-suami mendekap
isterinya, hati berdebar-
debar gelisah, pada saat itulah
terdengar jerit melengking yang
nyaring mengerikan. Jerit yang hanya dapat keluar dari mulut
iblis, atau dari mulut seekor serigala terluka, atau juga dari mulut seorang yang nyawanya direnggut maut!
Jerit melengking yang membuat seluruh penghuni Kota Raja Jenggala terbelalak ketakutan. Sampai berdiri rambut
kepala saking kaget dan takut. Dan lebih gelisah lagi mereka yang berdekatan tinggalnya
dengan rumah gedung itu dari mana jerit melengking tadi terdengar kemudian disusul
tangis dan ratap memilukan hati.
Mereka ini tahu bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat di dalam rumah gedung
Tumenggung Wirodwipo itu. Akan tetapi rasa serem dan ngeri
membuat mereka pura-pura tidak tahu
karena siapakah yang berani datang
bertandang? Siapa berani keluar dari pintu rumah pada malam terkutuk sepertl itu? Dua bayangan hitam menyelinap keluar
dari pekarangan rumah gedung Tumenggung Wirodwipo. Mereka adalah dua orang laki-laki tinggi besar dengan tubuh yang kokoh
kuat. Keduanya memelihara kumis tebal sekepal sebelah dan kepala
mereka memakai pengikat kepala yang ujungnya menjulang runcing
ke atas sehingga bayangan mereka tampak bertanduk. Biarpun tubuh mereka dempal besar, namun gerakan mereka amat lincah, ringan dan cepat
mengagumkan. Seakan-akan kaki mereka tidak menlmbulkan suara sama sekali. Kalau
ada penduduk yang melihat mereka pada saat itu, tentu dia yakin
telah melihat setan, tidak akan percaya bahwa
manusiamanusia jugalah yang ia lihat. Dua orang tinggi besar itu berlari terus tanpa mengeluarkan suara, tanpa berkata-kata dan mereka. keluar dari kota raja dengan cara yang hebat pula, yakni dengan
melompati pintu gerbang sebelah
selatan. Mereka memasuki hutan
jati yang berada tak jauh dari kota raja, akhirnya membuka pintu sebuah
pondok,
"Geriiiiiittttt !"
Daun pintu bergerit terbuka
dan api pelita di sebelah dalam
bergoyang-goyang terbawa angin yang ikut masuk bersama dua orang tinggi besar ke dalam pondok. Pintu ditutupkan kembali dan api
pelita berhenti bergoyang. Tiga ekor
binatang kalong (kelelawar) yang amat besar terbang berputaran dalam pondok itu, mengeluarkan
bunyi mencicit dan kelepak sayap mereka terdengar jarang.
Kembali api pelita bergoyang. Agaknya binatangbinatang menyeramkan ini terbang menyambut kedatangan dua orang tinggi besar, atau mungkin juga karena kaget. Setelah kedua
orang laki-laki itu duduk,
kalong-kalong itu berhenti terbang,
hinggap menggantung di bawah
atap.
"Heh-heh-heh-hih-hikl"
Di balik asap kemenyan yang mengepul tinggi dan tebal, suara ketawa itu terdengar seperti suara ketawa iblis, dua orang laki-laki tinggi besar itu memandang kagum bercampur seram. Mereka berdua adalah orang-orang yang biasa akan hal-hal menyeramkan,
bahkan mereka berdua mampu mencekik leher
orang sampai mati, tanpa mengejapkan mata.
Namun penglihatan malam ini di dalam pondok,
apalagi setelah tadi mereka membuktikan sendiri hasilnya
di dalam gedung Tumenggung Wirodwipo,
benar-benar melampaui batas ketabahan mereka dan bulu tengkuk mereka
meremang. Kakek yang bersila di
belakang tabir asap kemenyan itu sudah tua. Begitu tuanya sampai
wajahnya yang berkeriputan itu seperti bukan wajah manusia lagi.
Tubuhnya kurus bongkok, mukanya berkulit hitam sehingga yang
tampak jelas hanya warna putih matanya dan dua buah giginya yang menguning. Kepalanya dibungkus sorban
kuning yang kotor. Memang segala sesuatunya pada
kakek ini kelihatan kotor belaka. Ruangan
pondok yang tidak luas terhias banyak
tengkorak manusia yang oleh gerakan asap
bergulung tampak seakan-akan hidup, mata yang tak berbiji seperti
melotot dan mulut tak
berbibir seperti tertawa.
Kakek yang tertawa-tawa itu memegang sebatang keris
kecil, hanya sejengkal panjangnya dan ujung keris berlumur darah segar. Di
depan perutnya, tangan kirinya memegang sebuah boneka dari lempung, boneka yang juga berlumur darah, boneka
yang memakai pakaian. Kalau dipandang dengan teliti, tampaklah bahwa boneka ini serupa benar dengan Tumenggung Wirodwipo!
"Heh-heh-hi-hik, bagaimanakah, anakmas? Berhasilkan?"
Kakek itu bertanya kepada dua orang laki-laki itu sambil melempar boneka ke sudut dan
menyimpan keris di ikat pinggangnya.
"Bagus sekali hasilnya, paman wiku. Kami mendengar sendiri jerit kematiannya yang terakhir setelah dua kali ia mengerang kesakitan,"
jawab Klabangkoro yang mempunyai tanda
bekas bacokan pada pipi kanannya.
"Ha-ha-heh-heh, aku sudah tahu, anakmas. Sebelum kalian datang, kalongkalongku
sudah pulang lebih dulu mewartakan hasil
usahaku. Dan darah di kerisku menjadi tanda yang tak dapat dlsangkal lagi, heh-heh-heh!"
Klabangmuko, adik Klabangkoro, bergidik. Memang tadi
ia mendengar kelepak sayap kalong-kalong itu di atas rumah gedung Tumenggung Wirodwipo.
"Paman Wiku Kalawisesa, hebat sekali kesaktian paman. Semua berhasil sesuai dengan
rencana. Gusti adipati di Blambangan tentu akan gembira sekali
mendengar ini."
"Paman wiku tentu akan
menerima ganjaran yang besar. Ha-ha-ha" kata Klabangkoro yang
ikut gembira karena berhasilnya tugas
ini berarti dia sendiri berdua
adiknya akan menerima ganjaran
pula.
"Heh-heh-heh, nanti dulu, masih kurang satu. Kalian
lihat saja nanti hari Respati pekan
depan, lihat baik-baik dan bergembiralah karena
pada malam hari itu, Pangeran Panjirawit menerima gilirannya mati di ujung keris wasiatku.
Heh-heh-heh-heh!"
Dua orang kakak beradik itu kaget, juga girang.
"Dia ….? Tapi …..
menurut rencana, kita hanya akan menghitamkan namanya agar ia menerima hukuman dari dua
kerajaan bersaudara, tidak …….. tidak
perlu paman bunuh."
"Heh-heh, kalian tahu apa, nak-mas? Bukan hanya Gusti Adipati Blambangan yang menaruh dendam kepada isteri pangeran
itu, juga aku mempunyai perhitungan setinggi langit!! Adik seperguruanku, Cekel
Aksomolo, tewas di tangan Endang
Patibroto, yang kini menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Inilah sebabnya mengapa aku segera
menerima penawaran kerja sama dari
Gusti Adipati Blambangan. Memang, cara yang direncanakan gusti adipati cukup hebat, akan tetapi hatiku tidak puas kalau tidak melihat
wanita itu sengsara hebat. Maka
suaminya harus kubunuh, baru nanti
dia dimusuhi kedua kerajaan. Ha-ha-heh-heh!"
"Tapi ……. dia amat
sakti …….. bukankah berbahaya itu,
paman?" tanya Klabangmuko.
“Hik…hik… boleh jadi dia sendiri tak dapat dibunuh secara ini. Akan tetapi
suaminya orang biasa! Kalian boleh
lihat pekan nanti, akan tetapi awas, jangan terlalu dekat mengintai istana
pangeran itu.”
"Baiklah, paman. Kini kami mohon pamit untuk
melaporkan hasil ini kepada Raden
Sindupati."
Kakek itu mengangguk-angguk. Dua orang tinggi besar ini lalu membuka
daun pintu pondok, keluar dan
menutupkan. kembali daun pintunya. Pelita di dalam bergoyang apinya,
si kakek terkekeh girang lalu
bangkit menghampiri sebuah arca
Bathara Kala yang berdiri angker di südut, menjatuhkan diri berlutut dan mencium kaki
arca, menyembah dan mulut yang
ompong itu berkemak-kemik. Sepasang mata
arca itu seolah-olah mengeluarkan cahaya berkilat. Siapakah sesungguhnya kakek sakti yang mengerikan ini? Para pembaca BADAI LAUT SELATAN tentu mengenai nama
Cekel Aksomolo, seorang pendeta
seperti Bhagawan Durna bentuk
tubuhnya, pendeta sakti yang menyeleweng ke jalan resat, dan akhirnya tewas di tangan Endang Patibroto isteri Pangeran Panjirawit dari
Kerajaan Jenggala. Pendeta Itu adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo, yang selama puluhan tahun
bertapa di Gunung Cermai. Pendeta ini sebetulnya adalah seorang Bangsa Hindu yang datang merantau ke Nusantara, seperguruan
dengan Cekel Aksomolo dalam ilmu
hitam dan ilmu sihir, juga kesaktian. Akan
tetapi berbeda dalam agama karena
Wiku Kalawisesa ini adalah seorang penyembah Bathara Kala. Ketika ia mendengar tentang kematian adik seperguruannya di tangan Endang Patibroto, hatinya
sakit sekali. Maka turunlah ia dari pertapaannya di Gunung Cermai dan mulailah ia berdaya upaya untuk membalas dendam.
Namun karena ia mendengar bahwa
isteri Pangeran Panjirawit itu adalah seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan hampir sepuluh tahun
lamanya belum berani turun tangan.
Akhirnya tibalah kesempatan yang dinanti-nantikannya. Adipati Blambangan yang juga
merasa sakit hati kepada Endang Patibroto atas
kematian Bhagawan Kundilomuko, pamannya dan penyembah Bhatari Durgo, dan
di samping sakit hati terhadap Endang
Patibroto juga kepada Kerajaan
Jenggala yang sudah menghancurkan Kadipaten Nusabarung yang masih saudaranya, datang
menghubungi kakek ini. Maklum akan kesaktian
Endang Patibroto, maka lalu
direncanakan siasat keji yaitu
mengenyahkan orang-orang penting di Kerajaan Jenggala dan Panjalu
dengan menjatuhkan dosanya di pundak Endang Patibroto. Dengan siasat ini kalau berhasil, selain kedudukan dua kerajaan menjadi lemah,
juga Endang Patibroto akan ditangkap dan kalau sudah begitu, Blambangan akan datang menyerbu Jenggala.
Adapun yang
dipercayai tugas ini oleh Adipati
Blambangan adalah seorang perwiranya yang bernama Raden Sindupati,
seorang bekas senopati Jenggala
yang sudah melarikan diri
karena mempunyai dosa, yaitu
membujuk rayu dan memperkosa seorang
puteri Jenggala dan kini ia menjadi perwira di Blambangan. Raden Sindupati membawa sepasukan pengawal Blambangan
yang berkepandaian tinggi, dipimpin
oleh kakak beradik Klabangkoro. Ia
bermarkas di dalam hutan yang
tersembunyi dan melakukan "operasinya" dari tempat ini. Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi penghubung antara pasukan ini dengan si dukun lepus Wiku
Kalawisesa. Bagaimana adanya rencana itu dapat diikuti dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya, siasat yang keji dan menciptakan
malam-malam terkutuk yang mengerikan, seperti yang terjadi pada malam itu yang membawa
maut bagi Tumenggung Wirodwipo, seorang
tokoh prajurit Jenggala yang tangguh.
Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala geger.
Betapa tidak kalau dalam waktu beberapa pekan
saja beberapa orang perwira yang
penting-penting telah mati dalam
keadaan yang amat ajaib. Mula-mula lengan kiri korban-korban ini secara
tiba-tiba mengucurkan darah, kemudian lengan kanan bercucuran darah dan terasa sakit seperti ditusuk keris, dan akhirnya ulu hati mereka mengucurkan darah segar
yang mendatangkan kematian. Dan semua terjadi tiap hari Respati malam.
Perbuatan setankah? Kanjeng Ratu Raro Kidul entah sebab apa menjadi
murka dan bala tentaranya mendarat lalu mengamuk menyebar maut di antara ponggawa kedua kerajaan? Ataukah iblis- iblis penghuni Pancagiri (Lima Gunung Semeru-Bromo-Kelud-Arjuno-Anjasmoro) oleh sebab yang belum diketahui menjadi marah-marah kepada dua kerajaan bersaudara.
No comments:
Post a Comment