Bagian 001


Hari Respati (Kamis) malam terang bulan! Malam yang berbeda daripada malam-malam lainnya. Sejak surup (senja) orang tidak berani keluar pintu, melainkan tekun di dalam rumah membakar kemenyan dan menaruh sesajen dan bunga-bunga rampai di sudut rumah. Asap kemenyan, yang mengepul dari setiap rumah, berkumpul di angkasa bermain dengan sinar bulan, suram-muram mengandung keajaiban menyeramkan. Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa pada malam hari Respati, apalagi di waktu terang bulan, jin setan iblis siluman dan roh-roh yang gentayangan berpesta-pora, keluyuran di seluruh permukaan bumi untuk mencari mangsa dan korban di antara manusia yang lemah batinnya. Setelah senja, begitu matahari yang amat ditakuti mereka tenggelam, mereka, keluar dari pohon-pohon besar, dari goa-goa angker, memasuki kota dan dusun. Mula-mula ributlah suara mereka, bercampur-baur dengan suara margasatwa, kerak jangkerik, tangis walang kekek, kerak kalak dan bunyi burung burung malam.
"Kulikkk kulik kulikkk I"
Suara ini terdengar di angkasa, melewati rumah-rumah orang, nyaring dan tinggi suaranya, kadang-kadang diiringi kelepak sayap.
"Huuuuukk.. huukkk huuukkk.... !”
Suara besar parau, jarang akan tetapi amat mengesankan sehingga gemanya terdengar membangunkan bulu roma.
"Klebek…. klebek…. klebek,,,, suara ini! terdengar di bawah di sekitar rumah, membuat orang menengok ke kolong balai dengan hati giris. Sukar menentukan siapa pembuat suara-suara itu.
Burung kulikkah atau kuntilanak yang menangis kehilangan anak yang mencari-carl penggantinya di antara bayi-bayi manusia yang baru terlahir? Suara burung hantukah yang besar parau itu, ataukah suara iblis raksasa dan gendruwo berambut panjang riap-riapan dan gimbal, bermata merah menyala sebesar bende, bersiung sejengkal-jengkal dan lidahnya tergantung sampai di leher? Dan yang terakhir itu, suara kalepak sayap ayamkah, atau suara banaspatl si glundung pringis, kepala tanpa tubuh yang bergulingan ke atas tanah kadang-kadang berloncatan seperti bola, matanya melotot mulutnya lebar meringis ketawa tidak menangispun bukan? Kadang-kadang, apabila angin berhenti bertiup, suara- suara itupun lenyap. Sunyi senyap menyelimuti bumi, keadaan begini lebih menyeramkan lagi karena kata orang, pada saat beginilah roh-roh jahat menerkam korbannya.
Kalau sudah begini, bunyi pintu berderit sedikit saja cukup menegangkan urat syaraf. Dan pada saat sunyl senyap seperti itu, di waktu bulan purnama menyembunyikan sebagian mukanya yang keemasan di balik awan hitam berbentuk kepala Bathara Kala, di waktu angin berhenti bertiup dan semua penduduk Kota Raja Jenggala tak berani berkutik pula dalam rumah di atas tempat tidur masing-masing, ibu-ibu mendekap anaknya, suami-suami mendekap isterinya, hati berdebar- debar gelisah, pada saat itulah terdengar jerit melengking yang nyaring mengerikan. Jerit yang hanya dapat keluar dari mulut iblis, atau dari mulut seekor serigala terluka, atau juga dari mulut seorang yang nyawanya direnggut maut!

Jerit melengking yang membuat seluruh penghuni Kota Raja Jenggala terbelalak ketakutan. Sampai berdiri rambut kepala saking kaget dan takut. Dan lebih gelisah lagi mereka yang berdekatan tinggalnya dengan rumah gedung itu dari mana jerit melengking tadi terdengar kemudian disusul tangis dan ratap memilukan hati. Mereka ini tahu bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat di dalam rumah gedung Tumenggung Wirodwipo itu. Akan tetapi rasa serem dan ngeri membuat mereka pura-pura tidak tahu karena siapakah yang berani datang bertandang? Siapa berani keluar dari pintu rumah pada malam terkutuk sepertl itu? Dua bayangan hitam menyelinap keluar dari pekarangan rumah gedung Tumenggung Wirodwipo. Mereka adalah dua orang laki-laki tinggi besar dengan tubuh yang kokoh kuat. Keduanya memelihara kumis tebal sekepal sebelah dan kepala mereka memakai pengikat kepala yang ujungnya menjulang runcing ke atas sehingga bayangan mereka tampak bertanduk. Biarpun tubuh mereka dempal besar, namun gerakan mereka amat lincah, ringan dan cepat mengagumkan. Seakan-akan kaki mereka tidak menlmbulkan suara sama sekali. Kalau ada penduduk yang melihat mereka pada saat itu, tentu dia yakin telah melihat setan, tidak akan percaya bahwa manusiamanusia jugalah yang ia lihat. Dua orang tinggi besar itu berlari terus tanpa mengeluarkan suara, tanpa berkata-kata dan mereka. keluar dari kota raja dengan cara yang hebat pula, yakni dengan melompati pintu gerbang sebelah selatan. Mereka memasuki hutan jati yang berada tak jauh dari kota raja, akhirnya membuka pintu sebuah pondok,
"Geriiiiiittttt !"
Daun pintu bergerit terbuka dan api pelita di sebelah dalam bergoyang-goyang terbawa angin yang ikut masuk bersama dua orang tinggi besar ke dalam pondok. Pintu ditutupkan kembali dan api pelita berhenti bergoyang. Tiga ekor binatang kalong (kelelawar) yang amat besar terbang berputaran dalam pondok itu, mengeluarkan bunyi mencicit dan kelepak sayap mereka terdengar jarang. Kembali api pelita bergoyang. Agaknya binatangbinatang menyeramkan ini terbang menyambut kedatangan dua orang tinggi besar, atau mungkin juga karena kaget. Setelah kedua orang laki-laki itu duduk, kalong-kalong itu berhenti terbang, hinggap menggantung di bawah atap.
"Heh-heh-heh-hih-hikl"
Di balik asap kemenyan yang mengepul tinggi dan tebal, suara ketawa itu terdengar seperti suara ketawa iblis, dua orang laki-laki tinggi besar itu memandang kagum bercampur seram. Mereka berdua adalah orang-orang yang biasa akan hal-hal menyeramkan, bahkan mereka berdua mampu mencekik leher orang sampai mati, tanpa mengejapkan mata. Namun penglihatan malam ini di dalam pondok, apalagi setelah tadi mereka membuktikan sendiri hasilnya di dalam gedung Tumenggung Wirodwipo, benar-benar melampaui batas ketabahan mereka dan bulu tengkuk mereka meremang. Kakek yang bersila di belakang tabir asap kemenyan itu sudah tua. Begitu tuanya sampai wajahnya yang berkeriputan itu seperti bukan wajah manusia lagi. Tubuhnya kurus bongkok, mukanya berkulit hitam sehingga yang tampak jelas hanya warna putih matanya dan dua buah giginya yang menguning. Kepalanya dibungkus sorban kuning yang kotor. Memang segala sesuatunya pada kakek ini kelihatan kotor belaka. Ruangan pondok yang tidak luas terhias banyak tengkorak manusia yang oleh gerakan asap bergulung tampak seakan-akan hidup, mata yang tak berbiji seperti melotot dan mulut tak berbibir seperti tertawa.

Kakek yang tertawa-tawa itu memegang sebatang keris kecil, hanya sejengkal panjangnya dan ujung keris berlumur darah segar. Di depan perutnya, tangan kirinya memegang sebuah boneka dari lempung, boneka yang juga berlumur darah, boneka yang memakai pakaian. Kalau dipandang dengan teliti, tampaklah bahwa boneka ini serupa benar dengan Tumenggung Wirodwipo!
"Heh-heh-hi-hik, bagaimanakah, anakmas? Berhasilkan?"
Kakek itu bertanya kepada dua orang laki-laki itu sambil melempar boneka ke sudut dan menyimpan keris di ikat pinggangnya.
"Bagus sekali hasilnya, paman wiku. Kami mendengar sendiri jerit kematiannya yang terakhir setelah dua kali ia mengerang kesakitan," jawab Klabangkoro yang mempunyai tanda bekas bacokan pada pipi kanannya.
"Ha-ha-heh-heh, aku sudah tahu, anakmas. Sebelum kalian datang, kalongkalongku sudah pulang lebih dulu mewartakan hasil usahaku. Dan darah di kerisku menjadi tanda yang tak dapat dlsangkal lagi, heh-heh-heh!"
Klabangmuko, adik Klabangkoro, bergidik. Memang tadi ia mendengar kelepak sayap kalong-kalong itu di atas rumah gedung Tumenggung Wirodwipo.
"Paman Wiku Kalawisesa, hebat sekali kesaktian paman. Semua berhasil sesuai dengan rencana. Gusti adipati di Blambangan tentu akan gembira sekali mendengar ini."
"Paman wiku tentu akan menerima ganjaran yang besar. Ha-ha-ha" kata Klabangkoro yang ikut gembira karena berhasilnya tugas ini berarti dia sendiri berdua adiknya akan menerima ganjaran pula.
"Heh-heh-heh, nanti dulu, masih kurang satu. Kalian lihat saja nanti hari Respati pekan depan, lihat baik-baik dan bergembiralah karena pada malam hari itu, Pangeran Panjirawit menerima gilirannya mati di ujung keris wasiatku. Heh-heh-heh-heh!"
Dua orang kakak beradik itu kaget, juga girang.
"Dia ….? Tapi ….. menurut rencana, kita hanya akan menghitamkan namanya agar ia menerima hukuman dari dua kerajaan bersaudara, tidak …….. tidak perlu paman bunuh."
"Heh-heh, kalian tahu apa, nak-mas? Bukan hanya Gusti Adipati Blambangan yang menaruh dendam kepada isteri pangeran itu, juga aku mempunyai perhitungan setinggi langit!! Adik seperguruanku, Cekel Aksomolo, tewas di tangan Endang Patibroto, yang kini menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Inilah sebabnya mengapa aku segera menerima penawaran kerja sama dari Gusti Adipati Blambangan. Memang, cara yang direncanakan gusti adipati cukup hebat, akan tetapi hatiku tidak puas kalau tidak melihat wanita itu sengsara hebat. Maka suaminya harus kubunuh, baru nanti dia dimusuhi kedua kerajaan. Ha-ha-heh-heh!"
"Tapi ……. dia amat sakti …….. bukankah berbahaya itu, paman?" tanya Klabangmuko.
“Hik…hik… boleh jadi dia sendiri tak dapat dibunuh secara ini. Akan tetapi suaminya orang biasa! Kalian boleh lihat pekan nanti, akan tetapi awas, jangan terlalu dekat mengintai istana pangeran itu.”
"Baiklah, paman. Kini kami mohon pamit untuk melaporkan hasil ini kepada Raden Sindupati."

Kakek itu mengangguk-angguk. Dua orang tinggi besar ini lalu membuka daun pintu pondok, keluar dan menutupkan. kembali daun pintunya. Pelita di dalam bergoyang apinya, si kakek terkekeh girang lalu bangkit menghampiri sebuah arca Bathara Kala yang berdiri angker di südut, menjatuhkan diri berlutut dan mencium kaki arca, menyembah dan mulut yang ompong itu berkemak-kemik. Sepasang mata arca itu seolah-olah mengeluarkan cahaya berkilat. Siapakah sesungguhnya kakek sakti yang mengerikan ini? Para pembaca BADAI LAUT SELATAN tentu mengenai nama Cekel Aksomolo, seorang pendeta seperti Bhagawan Durna bentuk tubuhnya, pendeta sakti yang menyeleweng ke jalan resat, dan akhirnya tewas di tangan Endang Patibroto isteri Pangeran Panjirawit dari Kerajaan Jenggala. Pendeta Itu adalah kakak seperguruan Cekel Aksomolo, yang selama puluhan tahun bertapa di Gunung Cermai. Pendeta ini sebetulnya adalah seorang Bangsa Hindu yang datang merantau ke Nusantara, seperguruan dengan Cekel Aksomolo dalam ilmu hitam dan ilmu sihir, juga kesaktian. Akan tetapi berbeda dalam agama karena Wiku Kalawisesa ini adalah seorang penyembah Bathara Kala. Ketika ia mendengar tentang kematian adik seperguruannya di tangan Endang Patibroto, hatinya sakit sekali. Maka turunlah ia dari pertapaannya di Gunung Cermai dan mulailah ia berdaya upaya untuk membalas dendam. Namun karena ia mendengar bahwa isteri Pangeran Panjirawit itu adalah seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan hampir sepuluh tahun lamanya belum berani turun tangan. Akhirnya tibalah kesempatan yang dinanti-nantikannya. Adipati Blambangan yang juga merasa sakit hati kepada Endang Patibroto atas kematian Bhagawan Kundilomuko, pamannya dan penyembah Bhatari Durgo, dan di samping sakit hati terhadap Endang Patibroto juga kepada Kerajaan Jenggala yang sudah menghancurkan Kadipaten Nusabarung yang masih saudaranya, datang menghubungi kakek ini. Maklum akan kesaktian Endang Patibroto, maka lalu direncanakan siasat keji yaitu mengenyahkan orang-orang penting di Kerajaan Jenggala dan Panjalu dengan menjatuhkan dosanya di pundak Endang Patibroto. Dengan siasat ini kalau berhasil, selain kedudukan dua kerajaan menjadi lemah, juga Endang Patibroto akan ditangkap dan kalau sudah begitu, Blambangan akan datang menyerbu Jenggala.

Adapun yang dipercayai tugas ini oleh Adipati Blambangan adalah seorang perwiranya yang bernama Raden Sindupati, seorang bekas senopati Jenggala yang sudah melarikan diri karena mempunyai dosa, yaitu membujuk rayu dan memperkosa seorang puteri Jenggala dan kini ia menjadi perwira di Blambangan. Raden Sindupati membawa sepasukan pengawal Blambangan yang berkepandaian tinggi, dipimpin oleh kakak beradik Klabangkoro. Ia bermarkas di dalam hutan yang tersembunyi dan melakukan "operasinya" dari tempat ini. Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi penghubung antara pasukan ini dengan si dukun lepus Wiku Kalawisesa. Bagaimana adanya rencana itu dapat diikuti dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya, siasat yang keji dan menciptakan malam-malam terkutuk yang mengerikan, seperti yang terjadi pada malam itu yang membawa maut bagi Tumenggung Wirodwipo, seorang tokoh prajurit Jenggala yang tangguh. Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala geger. Betapa tidak kalau dalam waktu beberapa pekan saja beberapa orang perwira yang penting-penting telah mati dalam keadaan yang amat ajaib. Mula-mula lengan kiri korban-korban ini secara tiba-tiba mengucurkan darah, kemudian lengan kanan bercucuran darah dan terasa sakit seperti ditusuk keris, dan akhirnya ulu hati mereka mengucurkan darah segar yang mendatangkan kematian. Dan semua terjadi tiap hari Respati malam. Perbuatan setankah? Kanjeng Ratu Raro Kidul entah sebab apa menjadi murka dan bala tentaranya mendarat lalu mengamuk menyebar maut di antara ponggawa kedua kerajaan? Ataukah iblis- iblis penghuni Pancagiri (Lima Gunung Semeru-Bromo-Kelud-Arjuno-Anjasmoro) oleh sebab yang belum diketahui menjadi marah-marah kepada dua kerajaan bersaudara.

<<< Badai Laut Selatan                                                                    Bagian 002 >>>

No comments:

Post a Comment