Sang prabu di Panjalu dan sang prabu di Jenggala menjadi prihatin dan mengerahkan para cerdik pandai untuk mencari sebab-sebabnya dan menangkap biang keladinya. Dan terdengarlah desas-desus yang disebar oleh kaki tangan Raden Sindupati di Kerajaan Panjalu bahwa satu-satunya orang yang mungkin dapat melakukan perbuatan keji itu bukan lain adalah Endang Patibroto, isteri Pangeran Panjirawit yang masih mendendam hati kepada Kerajaan Panjalu. Desas-desus ini santer ditiupkan oleh kaki tangan Blambangan. Endang Patibroto, bekas kepala pengawal Jenggala itu adalah murid mendiang Dibyo Mamangkoro, seorang manusia setengah iblis, senopati kerajaan iblis, yaitu Kerajaan Wengker yang dahulu dirajai Prabu Boko. Mungkin karena mendendam, atau karena iri hati melihat betapa Kerajaan Panjalu lebih besar dan makmur daripada Kerajaan Jenggala. Atau mungkin untuk melampiaskan amarah karena isteri Pangeran Panjirawit ini setelah menikah selama hampir sepuluh tahun belum juga dikaruniai putera. Bermacam-macamlah isi desas-desus itu yang kesemuanya jatuh ke pundak Endang Patibroto. Wanita sakti yang banyak musuhnya karena sepak terjangnya yang dahulu telah menjatuhkan banyak korban itu kini dikeroyok oleh mereka yang membencinya, biarpun tidak tahu-menahu sama sekali tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia itu, langsung saja memberi komentar dan menjatuhkan fitnahnya atas namanya. Desas-desus itu menembus pintu gerbang istana dan sampai ke telinga sang prabu di Panjalu. Akan tetapi karena sang prabu adalah seorang yang arif bijaksana, tidak mau menelan mentah-mentah fitnah yang jatuh atas diri Endang Patibroto, maklum betapa hebat dan berbahayanya fitnah ini. Diam-diam sang prabu hanya berpesan kepada ponggawa-ponggawa yang pandai dan setia untuk memasang mata dan memperketat penyelidikan.
Endang Patibroto sendiri
juga terkejut ketika
mendengar tentang kematian-kematian aneh mengerikan Itu. Sebagal murid Dibyo Mamangkoro yang ahli ilmu hitam, Ia
dapat menduga bahwa ini tentulah hasil perbuatan seorang ahli sihir
yang jahat. Lebih kaget dan penasaran lagi hatinya ketika sampai ke telinganya desas-desus bahwa dialah orangnya yang
disangka umum melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Pangeran Panjirawit juga
mendengar desas-desus ini dan melihat sikap isterinya yang
marah-marah dan penasaran, ia di
senja hari itu menghibur isterinya. Dipeluknya isteri tercinta Itu
dan ditariknya duduk di atas
pangkuan. Sepuluh tahun mereka
menjadi suami isteri, dan biarpun Endang Patibroto belum melahirkan putera, namun sang
pangeran tidak berubah cinta kasihnya yang mendalam, bahkan tidak pernah mau mengambil selir untuk menyambung keturunan. Pangeran Panjirawit adalah
putera selir Sang Prabu Jenggala. Dia
seorang pangeran yang tampan dan pandai olah keprajuritan. Seorang
pangeran yang hidup
sederhana, tidak suka bermewahan, setia
kepada kerajaan ramanda, dan jujur
dalam melakukan tugas, ramah
terhadap bawahan, tidak menjilat kepada atasan. Oleh karena itu, semua orang suka belaka kepada pangeran ini dan tertutuplah sebagian
rasa tidak suka terhadap isterinya,
Endang Patibroto. Tidak mengherankan apabila banyak orang tidak suka kepada Endang
Patibroto. Sebelum menjadi
isteri Pangeran Panjirawit (baca
Badai Laut Selatan), Endang
Patibroto adalah seorang gadis yang
liar, sakti mandraguna sehingga
menggiriskan semua orang, wataknya ganas dan mudah membunuh, pernah pula menjadi kepala pengawal keraton Jenggala. Akan tetapi semenjak ia menjadi isteri
Pangeran Panjirawit, ia tidak pernah
lagi bertualang, bahkan jarang keluar
dari istana di mana ia tenggelam dalam
kasih sayang suaminya. Harus diakui
bahwa tadinya tidak ada cinta kasih dalam hatinya terhadap Pangeran Panjirawit, akan tetapi penumpahan cinta kasih yang berlimpahan dari suaminya mencairkan kekerasan hatinya
dan menumbuhkan cinta kasih yang
besar pula. Endang Patibroto adalah
seorang wanita yang amat sakti.
Sebelum menjadi murid Dibyo
Mamangkoro, ia sudah memiliki bermacam
ilmu. Setelah menjadi murid tokoh iblis ini, ia seperti seekor harimau yang tumbuh sayap. Sakti mandraguna dan jarang bertemu tanding. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa pembunuhan itu membangkitkan semangatnya, membakar
hatinya membuatnya penasaran dan bersumpah di dalam hati untuk menangkap dan menghukum biang keladinya.Ketika suaminya memeluk dan
memangkunya, ia merangkulkan kedua lengan di leher Pangeran Panjirawit. Sudah sepuluh tahun menikah, namun suami isteri ini masih tetap seperti pengantin baru, saling menumpahkan kasih sayang yang tak kunjung padam. Betapapun gagah dan saktinya, dalam
saat-saat bermain asmara seperti itu, timbul pula sifat kewanitaan Endang Patibroto dan
ia kadang-kadang menjadi aleman (manja).
Sore itu mereka duduk di
ruangan dalam, di samping kamar
tidur, menghadapi taman bunga. Tempat
inilah menjadl tempat kesukaan mereka sehabis makan sore, duduk bercakap-cakap atau bersenda-gurau, bermain
asmara, menghadapi bunga-bunga yang mekar dan semerbak wangi.
Kesukaan Endang Patibroto adalah bunga melati dan bunga menur yang
sedap. Adapun kesukaan sang pangeran adalah
bunga mawar merah dan putih yang harum. Ketiga macam bunga itu memenuhi taman di depan ruang duduk ini, di
samping bunga-bunga kenanga,
kantil, dan arum dalu yang menyiarkan
ganda harum sedap seperti di dalam taman sorgaloka, menyentuh
rasa dan membangkitkan cinta.
Ruangan itu sederhana namun menyenangkan. Hanya terdapat beberapa kursi,
sebuah meja hiasan-hiasan binatang. Sejuk hawanya, harum semerbak baunya,
dan para pelayan memang tidak pernah
memasuk ruangan ini di waktu suami isteri di situ. Mereka
semua sudah maklum akan keadaan pangeran
dan isterinya yang selaIu berpengantinan mesra
sehingga mereka enggan dan takut
mengganggu.
"Isteriku Endang jiwa hatiku tersayang, mengapa wajahmu yang ayu muram sejak siang tadi? Lihat bulan sampai bersembunyi di balik awan seperti wajahmu
yang muram. Apa yang kau susahkan, sayang?" Pangeran Panjirawit bertanya
sambil mengelus-elus rambut
ikal dengan belaian mesra.
Endang Patibroto menghela
napas panjang. Biasanya,
kalau suaminya sudah mencumbunya seperti ini, hatinya serasa nikmat dan senang,
sebesar Gunung Semeru. Akan tetapi sekali ini perasaan senang itu tidak kunjung datang, bahkan ingin ia menangis, makin tertindih dan risau hatinya mengingat akan segala penasaran yang
didengarnya.
"Aduh, pangeran. Bagaimana hatiku tidak risau kalau teringat akan segala peristiwa yang
terjadi dan mendengar segala
desas-desus tentang diriku? Ah, tentu kakangmas pangeran telah mendengar pula?”
Panjirawit mempererat pelukannya sampai
terasa detak jantung isterinya menjadi satu dengan debar jantungnya sendiri. Alangkah besar cintanya kepada isterinya ini.
"Endang, mengapa
kau perdulikan segala omong
kosong itu? Biarkan saja mulut usil
bicara, asal tidak langsung di depan kita. Di bagian manakah di dunia in! tidak ada orang yang usil
mulut? Mereka itu iri hati terhadap engkau,
nimas, terhadap kita, melihat kebahagiaan kita…… "
"Tidak ….. tidak
begitu, pangeran. Semua desas-desus tentu ada sebabnya. Kematian-kematian yang aneh itu. Bahkan pekan lalu kakang Tumenggung Wirodwipo
juga menjadi korban. Sudah tiga orang ponggawa setia dan perkasa Jenggala tewas
secara keji. Juga ada tujuh orang ponggawa Panjalu tewas seperti itu …….”
"Hidup mati manusia berada di tangan Dewata, isteriku. Kebetulan saja para ponggawa yang mati itu yang telah terpilih oleh Hyang Widi untuk dipanggil kembali, mengapa merisaukan kematian
yang sudah disuratkan takdir?" Pangeran itu masih berusaha menghibur, jari-
jarinya dengan penuh cinta kasih
menyisihkan sinom rambut yang berikal di tengkuk, kemudian mencium kulit tengkuk yang putih bersih itu dengan bibirnya.
Biasanya, kalau dicium seperti itu, meremang seluruh bulu di tubuh Endang Patibroto, menimbulkan gairah dan
ia akan membalas belaian suami tersayang. Akan tetapi kali ini la melawan
gairah itu dengan menggeliatkan tubuh
dan berkata lagi, agak merajuk,
"Pangeran, suami
junjunganku, berpura-purakah paduka? Kematian-kematian
itu jelas berada di tangan Hyang Widi, akan tetapi sebab kematiannya dapat dibuat orang yang mengandung hati jahat. Itupun tidaklah amat kurisaukan kalau saja nama hamba tidak didesas-desuskan orang. Siapa dapat
menahan kalau mendengar desas-desus itu? Dikabarkan bahwa hambalah yang melakukan perbuatan keji itu, karena hamba murid Dibyo
Mamangkoro, karena hamba iri hati,
dengki, karena hamba tidak ….tidak punya anak …….." Kalimat terakhir
ini disusul dengan
sedu-sedan.
Pangeran Panjirawit mengerutkan kening, memegang dagu isterinya, diangkat muka itu sehingga berhadapan dengan mukanya, kemudian dengan sepenuh cinta kasihnya ia menempelkan
mulut pada mulut isterinya, menciumnya dengan halus, lembut dan mesra.
Sedu-sedan itu terhenti, lenyap dalam
ciuman yang dibalas oleh Endang
Patibroto dengan penyerahan yang tulus, dengan cinta kasih yang sama
besarnya. Sejenak keduanya tenggelam dalam kasih asmara, sampai
akhirnya Endang Patibroto terengah dan gemetar dalam dekapan suaminya, tubuhnya
menjadi hangat, kedua pipinya kemerahan. Akan tetapi kembali pangeran itu mengerutkan keningnya yang tebal ketika melihat air
mata mengalir turun di kedua pipi isterinya.
"Endang, kekasihku, dewiku ..... kau ...... kau menangis?" Memang mengherankan bahkan mengejutkan melihat isterinya menangis. Endang Patibroto adalah seorang wanita sakti, gagah perkasa tak kenal takut, tak kenal susah, dan tak
pernah meruntuhkan waspa (air mata).
"Kakangmas, hamba harus …… harus menyelidiki semua ini
…...!” Panjirawit mencium kening isterinya yang kanan. Kening ini kecil panjang dan hitam, melengkung indah
dan sedemikian indahnya sehingga kulit di dekat kening tampak
lebih putih daripada kulit di bagian
lain pada wajah ayu itu.
"Aduh yayi, mutiara hatiku.
Sesungguhnya aku tidak mau
bicara tentang semua peristiwa ini, khawatir mencemaskan hatimu. Jangan
mengira bahwa aku tidak mendengar segala
macam desas-desus keji tentang
dirimu, nimas. Akan tetapi, setelah sekarang
engkau mendesak dan agaknya engkau benar-benar merasa penasaran, baiklah kita bicara tentang ini. Akan tetapi, adindaku, lupakah engkau akan
janjimu kepadaku bahwa kau tidak akan bertualang mempergunakan kesaktianmu seperti dahulu lagi?
Aku amat khawatir, nimas …….”
Kini Endang Patibroto bangkit,
merangkul leher suaminya dan dialah yang kini mencium mulut yang dicintanya itu. Kemudian ia turun dari atas pangkuan sambil berkata manja,
"Takkan mungkin
bicara benar kalau kita tenggelam dalam
bercinta." Ia tersenyum dan lenyaplah semua kemuraman wajahnya. Senyum itu pula yang membuat
Panjirawit lupa akan
kekhawatirannya, bahwa isterinya akan menonjolkan kesaktiannya yang
mengerikan dan ditakutinya, karena
sekali isterinya bertualang dalam permusuhan, bencana hebat tentu
akan timbul. Akan tetapi senyum itu
terlalu cerah, terlalu indah dan menyilaukan mata, mengusir semua keraguan hati.
"Betapa aku dapat menghentikan cintaku
kepadamu walaupun sekejap
mata?" ia menggoda dan hendak
meraih lagi. Akan tetapi Endang Patibroto miringkan tubuh, raihan itu tidak mengenai sasaran.
Endang Patibroto duduk di
atas kursi menghadapi suaminya, lalu berkata sungguh-sungguh,
"Pangeran, aku tahu apa yang terjadi pada mereka. Dahulu guruku pernah
menjelaskan tentang ilmu membunuh musuh
melalui guna-guna, melalui aji ilmu hitam yang disebut Aji Kalacakra. Ilmu itu mujijat dan
keji, sanggup membunuh orang dari jauh hanya dengan
menusuk-nusuk boneka yang dibuat menyerupai orang yang dijadikan korbannya."
"Ihhh…… ! Aji terkutuk!"
Endang Patibroto tersenyum.
"Memang semua aji itu terkutuk kalau dipergunakan untuk kejahatan, kakanda."
"Dan siapakah orangnya
yang dituju, akan tewas
begitu saja?"
Pangeran itu masih kurang percaya, Endang
Patibroto menggeleng kepala.
"Tidak ada kekuasaan di dunia ini, betapapun hebatnya, dapat mengalahkan orang
yang bersih batinnya dan yang tidak
mempunyai dosa. Aji Kalacakra tidak mempan tentunya kepada orang yang
memiliki kesaktian lebih tinggi daripada orang yang
melakukan aji itu, juga tidak akan
mempan mempengaruhi orang yang tidak
pernah berdosa. Akan tetapi, manusia
manakah yang tidak pernah
melakukan dosa? Itulah sebabnya mengapa aji itu amat berbahaya."
"Akan tetapi, betul-betulkah aji semacam itu dapat
dilakukan orang?"
"Kakanda masih sangsi
akan kebenarannya? Sungguhpun hamba selamanya belum pernah melakukannya, akan tetapi mengerti caranya.
Harap paduka lihat baik-baik!" Endang
Patibroto lalu turun dari anak
tangga ke dalam taman, mengambil sekepal tanah lempung dan sehelai bulu
ayam, lalu kembali ke dekat suaminya yang memandangnya dengan mata penuh perhatian.
"Paduka mengenal
ini?"
"Eh…… , itu bulu ayam.
Putih …….. hemm, hanya ayam kelangenan (kesukaan) kita Si Petak yang suka masuk ke taman."
"Betul, kakangmas. Ini bulu Si Petak, dan lihatlah
ini."
"Engkau membuat
boneka Si Petak dari tanah lempung!"
"Kembali benar," kata Endang Patibroto sambil
memasangkan bulu putih itu pada tubuh
boneka ayam. Kemudian ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada emas,
lalu duduk bersila pada permadani dan berkata,
"Sekarang harap paduka lihat baik-baik, adinda akan membuat bukti akan kebenaran dugaan
adinda." Pangeran Panjirawit memandang dengan mata terbelalak.
No comments:
Post a Comment