Bagian 002


Sang prabu di Panjalu dan sang prabu di Jenggala menjadi prihatin dan mengerahkan para cerdik pandai untuk mencari sebab-sebabnya dan menangkap biang keladinya. Dan terdengarlah desas-desus yang disebar oleh kaki tangan Raden Sindupati di Kerajaan Panjalu bahwa satu-satunya orang yang mungkin dapat melakukan perbuatan keji itu bukan lain adalah Endang Patibroto, isteri Pangeran Panjirawit yang masih mendendam hati kepada Kerajaan Panjalu. Desas-desus ini santer ditiupkan oleh kaki tangan Blambangan. Endang Patibroto, bekas kepala pengawal Jenggala itu adalah murid mendiang Dibyo Mamangkoro, seorang manusia setengah iblis, senopati kerajaan iblis, yaitu Kerajaan Wengker yang dahulu dirajai Prabu Boko. Mungkin karena mendendam, atau karena iri hati melihat betapa Kerajaan Panjalu lebih besar dan makmur daripada Kerajaan Jenggala. Atau mungkin untuk melampiaskan amarah karena isteri Pangeran Panjirawit ini setelah menikah selama hampir sepuluh tahun belum juga dikaruniai putera. Bermacam-macamlah isi desas-desus itu yang kesemuanya jatuh ke pundak Endang Patibroto. Wanita sakti yang banyak musuhnya karena sepak terjangnya yang dahulu telah menjatuhkan banyak korban itu kini dikeroyok oleh mereka yang membencinya, biarpun tidak tahu-menahu sama sekali tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia itu, langsung saja memberi komentar dan menjatuhkan fitnahnya atas namanya. Desas-desus itu menembus pintu gerbang istana dan sampai ke telinga sang prabu di Panjalu. Akan tetapi karena sang prabu adalah seorang yang arif bijaksana, tidak mau menelan mentah-mentah fitnah yang jatuh atas diri Endang Patibroto, maklum betapa hebat dan berbahayanya fitnah ini. Diam-diam sang prabu hanya berpesan kepada ponggawa-ponggawa yang pandai dan setia untuk memasang mata dan memperketat penyelidikan.

Endang Patibroto sendiri juga terkejut ketika mendengar tentang kematian-kematian aneh mengerikan Itu. Sebagal murid Dibyo Mamangkoro yang ahli ilmu hitam, Ia dapat menduga bahwa ini tentulah hasil perbuatan seorang ahli sihir yang jahat. Lebih kaget dan penasaran lagi hatinya ketika sampai ke telinganya desas-desus bahwa dialah orangnya yang disangka umum melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Pangeran Panjirawit juga mendengar desas-desus ini dan melihat sikap isterinya yang marah-marah dan penasaran, ia di senja hari itu menghibur isterinya. Dipeluknya isteri tercinta Itu dan ditariknya duduk di atas pangkuan. Sepuluh tahun mereka menjadi suami isteri, dan biarpun Endang Patibroto belum melahirkan putera, namun sang pangeran tidak berubah cinta kasihnya yang mendalam, bahkan tidak pernah mau mengambil selir untuk menyambung keturunan. Pangeran Panjirawit adalah putera selir Sang Prabu Jenggala. Dia seorang pangeran yang tampan dan pandai olah keprajuritan. Seorang pangeran yang hidup sederhana, tidak suka bermewahan, setia kepada kerajaan ramanda, dan jujur dalam melakukan tugas, ramah terhadap bawahan, tidak menjilat kepada atasan. Oleh karena itu, semua orang suka belaka kepada pangeran ini dan tertutuplah sebagian rasa tidak suka terhadap isterinya, Endang Patibroto. Tidak mengherankan apabila banyak orang tidak suka kepada Endang Patibroto. Sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit (baca Badai Laut Selatan), Endang Patibroto adalah seorang gadis yang liar, sakti mandraguna sehingga menggiriskan semua orang, wataknya ganas dan mudah membunuh, pernah pula menjadi kepala pengawal keraton Jenggala. Akan tetapi semenjak ia menjadi isteri Pangeran Panjirawit, ia tidak pernah lagi bertualang, bahkan jarang keluar dari istana di mana ia tenggelam dalam kasih sayang suaminya. Harus diakui bahwa tadinya tidak ada cinta kasih dalam hatinya terhadap Pangeran Panjirawit, akan tetapi penumpahan cinta kasih yang berlimpahan dari suaminya mencairkan kekerasan hatinya dan menumbuhkan cinta kasih yang besar pula. Endang Patibroto adalah seorang wanita yang amat sakti. Sebelum menjadi murid Dibyo Mamangkoro, ia sudah memiliki bermacam ilmu. Setelah menjadi murid tokoh iblis ini, ia seperti seekor harimau yang tumbuh sayap. Sakti mandraguna dan jarang bertemu tanding. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa pembunuhan itu membangkitkan semangatnya, membakar hatinya membuatnya penasaran dan bersumpah di dalam hati untuk menangkap dan menghukum biang keladinya.Ketika suaminya memeluk dan memangkunya, ia merangkulkan kedua lengan di leher Pangeran Panjirawit. Sudah sepuluh tahun menikah, namun suami isteri ini masih tetap seperti pengantin baru, saling menumpahkan kasih sayang yang tak kunjung padam. Betapapun gagah dan saktinya, dalam saat-saat bermain asmara seperti itu, timbul pula sifat kewanitaan Endang Patibroto dan ia kadang-kadang menjadi aleman (manja).

Sore itu mereka duduk di ruangan dalam, di samping kamar tidur, menghadapi taman bunga. Tempat inilah menjadl tempat kesukaan mereka sehabis makan sore, duduk bercakap-cakap atau bersenda-gurau, bermain asmara, menghadapi bunga-bunga yang mekar dan semerbak wangi. Kesukaan Endang Patibroto adalah bunga melati dan bunga menur yang sedap. Adapun kesukaan sang pangeran adalah bunga mawar merah dan putih yang harum. Ketiga macam bunga itu memenuhi taman di depan ruang duduk ini, di samping bunga-bunga kenanga, kantil, dan arum dalu yang menyiarkan ganda harum sedap seperti di dalam taman sorgaloka, menyentuh rasa dan membangkitkan cinta. Ruangan itu sederhana namun menyenangkan. Hanya terdapat beberapa kursi, sebuah meja hiasan-hiasan binatang. Sejuk hawanya, harum semerbak baunya, dan para pelayan memang tidak pernah memasuk ruangan ini di waktu suami isteri di situ. Mereka semua sudah maklum akan keadaan pangeran dan isterinya yang selaIu berpengantinan mesra sehingga mereka enggan dan takut mengganggu.
"Isteriku Endang jiwa hatiku tersayang, mengapa wajahmu yang ayu muram sejak siang tadi? Lihat bulan sampai bersembunyi di balik awan seperti wajahmu yang muram. Apa yang kau susahkan, sayang?" Pangeran Panjirawit bertanya sambil mengelus-elus rambut ikal dengan belaian mesra.
Endang Patibroto menghela napas panjang. Biasanya, kalau suaminya sudah mencumbunya seperti ini, hatinya serasa nikmat dan senang, sebesar Gunung Semeru. Akan tetapi sekali ini perasaan senang itu tidak kunjung datang, bahkan ingin ia menangis, makin tertindih dan risau hatinya mengingat akan segala penasaran yang didengarnya.
"Aduh, pangeran. Bagaimana hatiku tidak risau kalau teringat akan segala peristiwa yang terjadi dan mendengar segala desas-desus tentang diriku? Ah, tentu kakangmas pangeran telah mendengar pula?”
Panjirawit mempererat pelukannya sampai terasa detak jantung isterinya menjadi satu dengan debar jantungnya sendiri. Alangkah besar cintanya kepada isterinya ini.
"Endang, mengapa kau perdulikan segala omong kosong itu? Biarkan saja mulut usil bicara, asal tidak langsung di depan kita. Di bagian manakah di dunia in! tidak ada orang yang usil mulut? Mereka itu iri hati terhadap engkau, nimas, terhadap kita, melihat kebahagiaan kita…… "
"Tidak ….. tidak begitu, pangeran. Semua desas-desus tentu ada sebabnya. Kematian-kematian yang aneh itu. Bahkan pekan lalu kakang Tumenggung Wirodwipo juga menjadi korban. Sudah tiga orang ponggawa setia dan perkasa Jenggala tewas secara keji. Juga ada tujuh orang ponggawa Panjalu tewas seperti itu …….”
"Hidup mati manusia berada di tangan Dewata, isteriku. Kebetulan saja para ponggawa yang mati itu yang telah terpilih oleh Hyang Widi untuk dipanggil kembali, mengapa merisaukan kematian yang sudah disuratkan takdir?" Pangeran itu masih berusaha menghibur, jari- jarinya dengan penuh cinta kasih menyisihkan sinom rambut yang berikal di tengkuk, kemudian mencium kulit tengkuk yang putih bersih itu dengan bibirnya.

Biasanya, kalau dicium seperti itu, meremang seluruh bulu di tubuh Endang Patibroto, menimbulkan gairah dan ia akan membalas belaian suami tersayang. Akan tetapi kali ini la melawan gairah itu dengan menggeliatkan tubuh dan berkata lagi, agak merajuk,
"Pangeran, suami junjunganku, berpura-purakah paduka? Kematian-kematian itu jelas berada di tangan Hyang Widi, akan tetapi sebab kematiannya dapat dibuat orang yang mengandung hati jahat. Itupun tidaklah amat kurisaukan kalau saja nama hamba tidak didesas-desuskan orang. Siapa dapat menahan kalau mendengar desas-desus itu? Dikabarkan bahwa hambalah yang melakukan perbuatan keji itu, karena hamba murid Dibyo Mamangkoro, karena hamba iri hati, dengki, karena hamba tidak ….tidak punya anak …….." Kalimat terakhir ini disusul dengan sedu-sedan.
Pangeran Panjirawit mengerutkan kening, memegang dagu isterinya, diangkat muka itu sehingga berhadapan dengan mukanya, kemudian dengan sepenuh cinta kasihnya ia menempelkan mulut pada mulut isterinya, menciumnya dengan halus, lembut dan mesra. Sedu-sedan itu terhenti, lenyap dalam ciuman yang dibalas oleh Endang Patibroto dengan penyerahan yang tulus, dengan cinta kasih yang sama besarnya. Sejenak keduanya tenggelam dalam kasih asmara, sampai akhirnya Endang Patibroto terengah dan gemetar dalam dekapan suaminya, tubuhnya menjadi hangat, kedua pipinya kemerahan. Akan tetapi kembali pangeran itu mengerutkan keningnya yang tebal ketika melihat air mata mengalir turun di kedua pipi isterinya.
"Endang, kekasihku, dewiku ..... kau ...... kau menangis?" Memang mengherankan bahkan mengejutkan melihat isterinya menangis. Endang Patibroto adalah seorang wanita sakti, gagah perkasa tak kenal takut, tak kenal susah, dan tak pernah meruntuhkan waspa (air mata).
"Kakangmas, hamba harus …… harus menyelidiki semua ini …...!” Panjirawit mencium kening isterinya yang kanan. Kening ini kecil panjang dan hitam, melengkung indah dan sedemikian indahnya sehingga kulit di dekat kening tampak lebih putih daripada kulit di bagian lain pada wajah ayu itu.
"Aduh yayi, mutiara hatiku. Sesungguhnya aku tidak mau bicara tentang semua peristiwa ini, khawatir mencemaskan hatimu. Jangan mengira bahwa aku tidak mendengar segala macam desas-desus keji tentang dirimu, nimas. Akan tetapi, setelah sekarang engkau mendesak dan agaknya engkau benar-benar merasa penasaran, baiklah kita bicara tentang ini. Akan tetapi, adindaku, lupakah engkau akan janjimu kepadaku bahwa kau tidak akan bertualang mempergunakan kesaktianmu seperti dahulu lagi? Aku amat khawatir, nimas …….”

Kini Endang Patibroto bangkit, merangkul leher suaminya dan dialah yang kini mencium mulut yang dicintanya itu. Kemudian ia turun dari atas pangkuan sambil berkata manja,
"Takkan mungkin bicara benar kalau kita tenggelam dalam bercinta." Ia tersenyum dan lenyaplah semua kemuraman wajahnya. Senyum itu pula yang membuat Panjirawit lupa akan kekhawatirannya, bahwa isterinya akan menonjolkan kesaktiannya yang mengerikan dan ditakutinya, karena sekali isterinya bertualang dalam permusuhan, bencana hebat tentu akan timbul. Akan tetapi senyum itu terlalu cerah, terlalu indah dan menyilaukan mata, mengusir semua keraguan hati.
"Betapa aku dapat menghentikan cintaku kepadamu walaupun sekejap mata?" ia menggoda dan hendak meraih lagi. Akan tetapi Endang Patibroto miringkan tubuh, raihan itu tidak mengenai sasaran. Endang Patibroto duduk di atas kursi menghadapi suaminya, lalu berkata sungguh-sungguh,
"Pangeran, aku tahu apa yang terjadi pada mereka. Dahulu guruku pernah menjelaskan tentang ilmu membunuh musuh melalui guna-guna, melalui aji ilmu hitam yang disebut Aji Kalacakra. Ilmu itu mujijat dan keji, sanggup membunuh orang dari jauh hanya dengan menusuk-nusuk boneka yang dibuat menyerupai orang yang dijadikan korbannya."
"Ihhh…… ! Aji terkutuk!"
Endang Patibroto tersenyum.
"Memang semua aji itu terkutuk kalau dipergunakan untuk kejahatan, kakanda."
"Dan siapakah orangnya yang dituju, akan tewas begitu saja?"
Pangeran itu masih kurang percaya, Endang Patibroto menggeleng kepala.
"Tidak ada kekuasaan di dunia ini, betapapun hebatnya, dapat mengalahkan orang yang bersih batinnya dan yang tidak mempunyai dosa. Aji Kalacakra tidak mempan tentunya kepada orang yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada orang yang melakukan aji itu, juga tidak akan mempan mempengaruhi orang yang tidak pernah berdosa. Akan tetapi, manusia manakah yang tidak pernah melakukan dosa? Itulah sebabnya mengapa aji itu amat berbahaya."
"Akan tetapi, betul-betulkah aji semacam itu dapat dilakukan orang?"
"Kakanda masih sangsi akan kebenarannya? Sungguhpun hamba selamanya belum pernah melakukannya, akan tetapi mengerti caranya. Harap paduka lihat baik-baik!" Endang Patibroto lalu turun dari anak tangga ke dalam taman, mengambil sekepal tanah lempung dan sehelai bulu ayam, lalu kembali ke dekat suaminya yang memandangnya dengan mata penuh perhatian.
"Paduka mengenal ini?"
"Eh…… , itu bulu ayam. Putih …….. hemm, hanya ayam kelangenan (kesukaan) kita Si Petak yang suka masuk ke taman."
"Betul, kakangmas. Ini bulu Si Petak, dan lihatlah ini."
"Engkau membuat boneka Si Petak dari tanah lempung!"
"Kembali benar," kata Endang Patibroto sambil memasangkan bulu putih itu pada tubuh boneka ayam. Kemudian ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada emas, lalu duduk bersila pada permadani dan berkata,
"Sekarang harap paduka lihat baik-baik, adinda akan membuat bukti akan kebenaran dugaan adinda." Pangeran Panjirawit memandang dengan mata terbelalak.

<<< Bagian 001                                                                                    Bagian003 >>>

No comments:

Post a Comment