Dilihatnya isteri tercinta itu duduk bersamadhi, boneka di tangan kiri, tusuk konde di tangan kanan, matanya dipejamkan dan bibirnya berkemak-kemik, kemudian tubuh isterinya seperti menegang dan kedua tangan gemetaran, matanya dibuka lalu ujung tusuk konde yang runcing itu ia tusukkan ke arah paha boneka ayam. Hampir Pangeran Panjirawit terpekik saking kagetnya melihat darah keluar dari paha ayam itu. Ia melompat dari tempat duduknya dan keluar dari situ melalui pintu tengah dan …… hampir ia bertubrukan dengan seorang gadis yang jongkok di belakang pintu.
"Eh?! Engkau ini,
Minten? Apa yang kau kerjakan di sini??"
Gadis Itu berusia kurang lebih enam belas tahun. Cantik
manis, tubuhnya padat dan mulai
mekar, jelas nampak pada bagian dadanya yang
tertutup kemben, kulitnya
halus dan hitam manis. Tubuh gadis itu gemetar ketika ia berjongkok di
depan sang pangeran.
"Ampun …….gusti…… hamba…….
hamba tadinya ingin mencari kembang melati dan mawar untuk tambah sesaji …..”
"Hemm, jangan ganggu
kami. Pergi!" kata pangeran itu yang tergesa-gesa lari terus menuju ke belakang, ke kandang ayam di mana Petak berada. Sebagai
seorang pria ia tidak begitu
memperhatikan tentang sesaji,
tidak tahu bahwa kembang untuk
itu sudah lengkap tersedia. Akan
tetapi bukankah Suminten seorang
gadis pelayan dalam? Tidak
terlalu mengherankan kehadiran
gadis itu di sana. Ia tidak pikirkan lagi gadis Itu dan jantungnya berdebar
keras ketika tiba di luar kandang ia
mendengar suara Petak berkeokkeok.
Cepat ia membuka pintu kamar dan
wajahnya menjadi pucat. Si Petak tampak rebah miring, paha
kanannya mengucurkan darah. Pangeran Panjirawit cepat melompat dan
lari kembali ke tempat isterinya.
"Endang jangan bunuh Si Petak..... !" katanya Iirih, suaranya gemetar wajahnya
masih pucat. Endang PatIbroto yang
duduk bersila menggeleng kepala, lalu mencabut tusuk kondenya dari
paha boneka ayam, mencabut bulu putih lalu melempar boneka dan bulu ayam ke taman. Ia bangkit berdiri
sambil berkata,
"Jangan khawatir, kakanda.
Hamba terlalu sayang kepada
ayam kita itu untuk membunuhnya. Hanya
untuk pembuktian kebenaran ucapan
dan dugaan adinda."
Pangeran Pannirawit menghela napas
panjang.
"Engkau benar, yayi.
Kulihat tadi paha Si Petak berdarah. Hiihhhh menggigil aku sekarang. Terkutuk benar orang yang melakukan perbuatan sekeji itu terhadap para
ponggawa kerajaan."
"Dan setelah terjadi
perbuatan pengecut itu, disebar desas-desus tentang
diri hamba. Tidakkah sekarang kakanda pikir bahwa hamba harus
menyelidiki peristiwa ini?" kata pula Endang Patibroto sambil membetulkan rambutnya yang terurai lepas
karena tadi ia mencabut tusuk
kondenya. Ia menggunakan kedua tangan
untuk membereskan gelungnya dan
gerakan ini, mengangkat kedua lengan membetulkan rambut,
amatlah manisnya. Lenyaplah sifat Endang Patibroto wanita
sakti, yang tampak kini seorang puteri yang cantik jelita, dengan sepasang lengan yang indah bentuknya
dan halus kulitnya seperti batu pualam. Pangeran Panjirawit meraih, menangkap pinggang isterinya dan menariknya duduk
di atas pangkuannya kembali.
"Biarkan rambutmu, sayang. Biarkan terurai seperti itu ……!" Ia menyusupkan
muka pada selimut rambut yang harum dan halus, meramkan mata.
Endang Patibroto tertawa
kecil, mengelus dagu
suaminya.
"Belum paduka jawab pertanyaan adinda …….”
"Apa…… ? Ah, tentang penyelidikan, biarlah besok
kuperintahkan kakang Sungkono untuk mengerahkan para abdi pengawal menyelidik."
"Tidak akan ada
gunanya, pangeran. Penjahat
itu sakti, kakang Sungkono bukanlah lawannya. Harus diakui bahwa kakang Sungkono merupakan abdi yang baik dan setia, akan tetapi
menghadapi penjahat sakti ini harus dilawan dengan kesaktian pula."
"Baiklah, yayi. Besok kau bersama aku menyelidik, sekarang mari temani aku tidur, sayang. Aku menjadi ngeri dan serem." la
memeluk dan hendak memondong tubuh
isterinya. Akan tetapi Endang
Patibroto meronta dan turun dari
pondongan suaminya karena ia tahu bahwa sekali ia sudah
memasuki peraduan bersama
suaminya, ia akan lupa
segala. Padahal malam inilah saat
yang tepat untuk menyelldik, malam
hari Respati.
"Kakanda, maafkan
adinda untuk saat ini. Hari ini hari Respati, bukan? Nah, inilah saatnya penjahat
itu turun tangan. Karena,
ketahuilah kanda bahwa amat sukar
untuk mencari penjahat sakti ini kalau tidak pada waktu ia melepas kejahatannya. Biasanya, pada saat
ia melakukan kejahatannya, tentu ia
melepas pengintai yang akan mengabarkan apakah usahanya itu berhasil atau
tidak."
"Pengintai? Kalau begitu, mengapa para
penyelidik kedua kerajaan tidak
dapat menangkapnya?"
"Ah, mana dapat?
Biasanya, pengintai itu bukan manusia, melainkan binatang, biasanya
burung hantu, burung gagak dan sebangsanya …..”
"Ihhh …….!” Pangeran itu bergidik dan merangkul leher
isterinya.
"Jangan pergi, Endang, aku …… aku …… hihh, aku takut!" Endang tersenyum dan mencium suaminya.
"Paduka? Takut?
Pangeran Panjirawit yang gagah perkasa, suami hamba yang terclnta…..
, takut …..??" Panjirawit mencubit pinggul
isterinya dengan gemas.
"Tidak takut menghadapi musuh siapapun juga, tapi setan dan iblis ....... hihh, ngeri aku…….”
"Perkenankan hamba pergi, kakanda. Tidak akan lama. Setelah selesai menyelidik, hamba akan cepat kembali. Mudah-mudahan berhasil
membekuk batang leher penjahat itu, demi keamanan Jenggala dan Panjalu dan demi bersihnya nama hamba. Hamba pasti kembali dan ….. mudah-mudahan paduka
belum tidur."
"Mana bisa aku tidur
tanpa kau di sampingku, manis?
Bibirmu itu lho ……..”
"Mengapa dengan bibir
hamba……..?” Endang mengusap-usap bibirnya dan suaminya tertawa.
"Bibirmu yang membuat aku tidak bisa tidur sendirian." iapun meraih lagi
isterinya, mencium bibir yang selalu merah tanpa menginang
(makan sirih) itu, merah membasah, lembut
dan hangat penuh madu asmara.
Setelah puas berciuman, Endang Patibroto akhirnya merenggut
tubuhnya terlepas dari pelukan suaminya, membenarkan
rambutnya yang awut-awutan, meringkaskan pakaiannya. Melihat isterinya berkemas
dan mengenakan celana hitam
sebatas lutut, mengaitkan kain yang berubah menjadi dandanan seorang pendekar
wanita, kembali Pangeran Panjirawit gelisah.
"Engkau tidak membawa senjata, Endang?" Ia bergidik kalau teringat betapa dahulu, sepuluh tahun yang
lalu, isterinya ini dengan keris
pusaka Ki Brojol Luwuk (pusaka Mataram) merupakan seorang
wanita perkasa yang
menggiriskan dan menggegerkan seluruh
Kerajaan Panjalu dan
Jenggala. Endang tersenyum,
"Menghadapi penjahat
pengecut perlu apa bersenjata? Tusuk
konde hamba inipun belum tentu perlu hamba pergunakan. Nah, suami pujaan hati, hamba pergi, sampai nanti!" Begitu selesai kata-kata ini, tubuh
Endang Patibroto berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Panjirawit.
Pangeran ini termenung, tidak heran menyaksikan kesaktian isterinya yang ia tahu memiliki ilmu
Aji Bayu Tantra yang memungkinkan isterinya berkelebat cepat seperti terbang
dan lari seperti angin
cepatnya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, hatinya merasa
kosong setelah isterinya tidak berada di sampingnya. Ia lalu bangkit dan memasuki kamar tidurnya. Akan tetapi di pintu ia terhenti karena melihat bayangan Suminten
menyelinap.
"Heiii, kau lagi, Minten? Tidak dipanggil mengapa kau berada di sini? Tidak mengaso di belakang, di pondok abdi dalem?"
Gadis yang berdada montok itu maju, berlangkah jongkok
sampai dekat kaki Pangeran Panjirawit, menyembah dan sedikit menyentuh kaki sang pangeran, kemudian menengadah memandang pangeran itu, mata yang jeli bersinar-sinar penuh harapan, hidung yang mancung berkembang-kempis, mulutnya
setengah terbuka sehingga tampak di balik sepasang bibir yang basah itu ujung deretan gigi yang putih dalam mulut yang merah.
Lalu terdengar mulut yang
menggairahkan itu berbisik,
"Ampunkan hamba, gusti ……… hamba kira ……barangkali …… paduka masih membutuhkan sesuatu
yang dapat hamba kerjakan ……”
Pangeran Panjirawit mengerutkan kening. Aneh sekali, pada mata dan mulut gadis
ini terdapat sesuatu yang mengingatkan ia akan isterinya, akan
pandang mata dan mulut isterinya sewaktu
ia cumbu! Aiihh, tidak! Ia takkan membiarkan dirinya tertarik oleh lain wanita. Tiada wanita di dunia ini yang dapat menandingi isterinya.
"Tidak, Minten.
Kau pergilah ke belakang, aku mau tidur." Pangeran itu memasuki kamarnya
tanpa menutup daun pintu karena ia ingin melihat apabila isterinya pulang. Perlahan Suminten bangkit berdiri,
sejenak ia berdiri di depan pintu kamar, kedua tangan dengan
jari-jari kecil itu dikepal-kepal, giginya
yang kecil-kecil putih
menggigit bibir bawah, matanya layu dan air mata mengalir turun di kedua pipinya. Ia sampai tak sedap makan tak nyenyak tidur, siang malam memikirkan sang pangeran, mengharap-harap dan diusahakannya sedapat mungkin menarik
perhatiannya. Namun sia-sia, pangeran
itu sama sekali tidak tertarik padanya, melihat
dengan pandang mata seperti kebanyakan pria kalau memandangnyapun tidak
pernah. Bukankah wajar dan sudah selayaknya kalau seorang pangeran mengambil dara abdi-dalem menjadi selir? Apakah yang dipunyai isteri pangeran yang
tidak ada pada dirinya? Ia penasaran dan menderita karena tergila- gila dan jatuh cinta kepada sang pangeran. Begitu gagah, begitu tampan, begitu halus, begitu dekat namun…… begitu jauh tak terjangkau tangan dan hati. Ini semua gara-gara
isteri pangeran. Gara-gara Endang Patibroto sehingga suaminya tidak
wajar seperti para pangeran lain. Wanita iblis itu, dengan ilmu
iblisnya. Suminten bergidik
ngeri, akan tetapi matanya menyinarkan cahaya.
Desas-desus itu memang benar.
Ia telah menyaksikan sendiri. Dengan ilmu iblisnya isteri pangeran telah mengguna-gunai
Si Petak tadi. Bergeraklah kedua
kakinya perlahan menuju ke belakang, di mana tersedia kamar-kamar dalam
pondok khusus untuk para abdi.
Bagaikan iblis sendiri, tubuh Endang Patibroto melesat
naik ke atas atap rumah dan mulailah ia
dengan petualangannya, dengan
perjalanan malamnya melakukan penyelldikan. Begitu kedua kakinya menginjak genteng, begitu angin malam bermain dengan rambutnya, timbul
kegairahannya, teringat ia akan hidupnya, naluri seorang pendekar yang
waspada akan setiap gerak dan suara.
Ketajaman telinganya bertambah, pandahg
matanya yang selama sepuluh tahun ini terbenam dalam kemesraan, dalam lautan asmara yang tak kunjung padam bersama suaminya kini bersinar-sinar tajam, indera ke enam yang ada pada diri
setiap orang pendekar yang sudah
matang ilmunya, kini hidup dan
menjadi sandaran baginya
untuk melakukan penyelidikan.Tubuhnya berkelebat cepat sekali, kadang-kadang di atas genteng berlompatan, kadang-kadang di
bawah berlarian. Malam ini amat sunyi. Tak tampak seorangpun penduduk kota raja keluar dari pintu.
Hanya orang-orang yang mabuk minuman, mabuk asmara, mabuk judi, dan sebangsa maling
saja yang berani keluar pintu di malam Respati
itu. Mereka ini tentu saja tidak takut dicaplok iblis karena sudah mabuk. Namun Endang Patibroto tidak menaruh perhatian kepada
mereka ini. Ia bahkan menujukan perhatiannya ke atas! Ke arah pohon-pohon besar, ke arah atap-atap gedung di mana tinggal para ponggawa tinggi, para
pangeran dan tumenggung, para panglima dan perwira. Kalau ia berloncatan dari genteng ke
genteng, jelas tercium bau kemenyan yang memenuhi udara.
Suasana malam itu tentu akan mengecilkan hati
seorang pendekar, namun Endang sama
sekali tidak merasa gentar. Kepercayaan akan
diri sendiri timbul kembali pada saat itu. Di dalam pelukan dan di bawah cumbu rayu dan belaian
Pangeran Panjirawit, ia merasa kehilangan kepercayaan ini, tidak berdaya dan
lemah, seakan-akan tidak kuasa akan
tubuhnya sendiri, tidak kuasa akan hatinya sendiri. Seakan-akan tubuh dan hatinya sudah menjadi sebagian milik
suaminya dan ia hanya menurut apa yang dikehendaki suaminya karena kebahagiaanlah yang terasa olehnya dalam pelayanan terhadap
suaminya ini. Ia bahagia melihat suaminya bahagia karena dia.
Ia puas melihat suaminya puas karena
dia.
Tapi sekarang ia merasa seperti seekor burung yang bebas. Dengan seluruh dirinya seorang ia menentang segala bahaya. Tiba-tiba, ketika ia meloncat ke atas genteng tinggi
gedung Pangeran Panjirawit, ia berhenti bergerak. Telinganya mendengar sesuatu.
Pekik mengerikan!.. Jelas
sekali dari atas genteng itu. Datang
dari rumah gedung Demang Kanaroga, demang
yang ahli dalam ilmu perang yang selalu menjadi tangan kanan setiap orang senopati Jenggala dalam perang. Secepat kilat
tubuhnya melesat dan berlarilah ia ke arah gedung itu, lalu melayang naik ke atas atap gedung. Ia
mencari-cari lalu mengintai ke dalam kamar ki demang. Terlambat! Demang Kanaroga tampak
terkapar di dalam kamarnya, dirubung dan ditangisi anak isterinya. Mati dan darah mengalir dari kedua lengan, dan
terutama banyak sekali dari dadanya. Tiada
gunanya masuk, ia takkan mampu
berbuat sesuatu.
Endang
Patibroto meloncat ke bagian yang paling tinggi dari atap
itu. Dan tampaklah olehnya kini dua ekor benda terbang berputaran di atas gedung itu. Burungkah?
Burung hitam? Bukan! Sayapnya tidak
mengeluarkan bunyi dan bentuk
tubuhnya tidak seperti burung, pendek,
tapi sayapnya amat lebar.
No comments:
Post a Comment