Bagian 003


Dilihatnya isteri tercinta itu duduk bersamadhi, boneka di tangan kiri, tusuk konde di tangan kanan, matanya dipejamkan dan bibirnya berkemak-kemik, kemudian tubuh isterinya seperti menegang dan kedua tangan gemetaran, matanya dibuka lalu ujung tusuk konde yang runcing itu ia tusukkan ke arah paha boneka ayam. Hampir Pangeran Panjirawit terpekik saking kagetnya melihat darah keluar dari paha ayam itu. Ia melompat dari tempat duduknya dan keluar dari situ melalui pintu tengah dan …… hampir ia bertubrukan dengan seorang gadis yang jongkok di belakang pintu.
"Eh?! Engkau ini, Minten? Apa yang kau kerjakan di sini??"
Gadis Itu berusia kurang lebih enam belas tahun. Cantik manis, tubuhnya padat dan mulai mekar, jelas nampak pada bagian dadanya yang tertutup kemben, kulitnya halus dan hitam manis. Tubuh gadis itu gemetar ketika ia berjongkok di depan sang pangeran.
"Ampun …….gusti…… hamba……. hamba tadinya ingin mencari kembang melati dan mawar untuk tambah sesaji …..”
"Hemm, jangan ganggu kami. Pergi!" kata pangeran itu yang tergesa-gesa lari terus menuju ke belakang, ke kandang ayam di mana Petak berada. Sebagai seorang pria ia tidak begitu memperhatikan tentang sesaji, tidak tahu bahwa kembang untuk itu sudah lengkap tersedia. Akan tetapi bukankah Suminten seorang gadis pelayan dalam? Tidak terlalu mengherankan kehadiran gadis itu di sana. Ia tidak pikirkan lagi gadis Itu dan jantungnya berdebar keras ketika tiba di luar kandang ia mendengar suara Petak berkeokkeok. Cepat ia membuka pintu kamar dan wajahnya menjadi pucat. Si Petak tampak rebah miring, paha kanannya mengucurkan darah. Pangeran Panjirawit cepat melompat dan lari kembali ke tempat isterinya.
"Endang jangan bunuh Si Petak..... !" katanya Iirih, suaranya gemetar wajahnya masih pucat. Endang PatIbroto yang duduk bersila menggeleng kepala, lalu mencabut tusuk kondenya dari paha boneka ayam, mencabut bulu putih lalu melempar boneka dan bulu ayam ke taman. Ia bangkit berdiri sambil berkata,
"Jangan khawatir, kakanda. Hamba terlalu sayang kepada ayam kita itu untuk membunuhnya. Hanya untuk pembuktian kebenaran ucapan dan dugaan adinda."
Pangeran Pannirawit menghela napas panjang.
"Engkau benar, yayi. Kulihat tadi paha Si Petak berdarah. Hiihhhh menggigil aku sekarang. Terkutuk benar orang yang melakukan perbuatan sekeji itu terhadap para ponggawa kerajaan."
"Dan setelah terjadi perbuatan pengecut itu, disebar desas-desus tentang diri hamba. Tidakkah sekarang kakanda pikir bahwa hamba harus menyelidiki peristiwa ini?" kata pula Endang Patibroto sambil membetulkan rambutnya yang terurai lepas karena tadi ia mencabut tusuk kondenya. Ia menggunakan kedua tangan untuk membereskan gelungnya dan gerakan ini, mengangkat kedua lengan membetulkan rambut, amatlah manisnya. Lenyaplah sifat Endang Patibroto wanita sakti, yang tampak kini seorang puteri yang cantik jelita, dengan sepasang lengan yang indah bentuknya dan halus kulitnya seperti batu pualam. Pangeran Panjirawit meraih, menangkap pinggang isterinya dan menariknya duduk di atas pangkuannya kembali.
"Biarkan rambutmu, sayang. Biarkan terurai seperti itu ……!" Ia menyusupkan muka pada selimut rambut yang harum dan halus, meramkan mata.
Endang Patibroto tertawa kecil, mengelus dagu suaminya.
"Belum paduka jawab pertanyaan adinda …….”
"Apa…… ? Ah, tentang penyelidikan, biarlah besok kuperintahkan kakang Sungkono untuk mengerahkan para abdi pengawal menyelidik."
"Tidak akan ada gunanya, pangeran. Penjahat itu sakti, kakang Sungkono bukanlah lawannya. Harus diakui bahwa kakang Sungkono merupakan abdi yang baik dan setia, akan tetapi menghadapi penjahat sakti ini harus dilawan dengan kesaktian pula."
"Baiklah, yayi. Besok kau bersama aku menyelidik, sekarang mari temani aku tidur, sayang. Aku menjadi ngeri dan serem." la memeluk dan hendak memondong tubuh isterinya. Akan tetapi Endang Patibroto meronta dan turun dari pondongan suaminya karena ia tahu bahwa sekali ia sudah memasuki peraduan bersama suaminya, ia akan lupa segala. Padahal malam inilah saat yang tepat untuk menyelldik, malam hari Respati.
"Kakanda, maafkan adinda untuk saat ini. Hari ini hari Respati, bukan? Nah, inilah saatnya penjahat itu turun tangan. Karena, ketahuilah kanda bahwa amat sukar untuk mencari penjahat sakti ini kalau tidak pada waktu ia melepas kejahatannya. Biasanya, pada saat ia melakukan kejahatannya, tentu ia melepas pengintai yang akan mengabarkan apakah usahanya itu berhasil atau tidak."
"Pengintai? Kalau begitu, mengapa para penyelidik kedua kerajaan tidak dapat menangkapnya?"
"Ah, mana dapat? Biasanya, pengintai itu bukan manusia, melainkan binatang, biasanya burung hantu, burung gagak dan sebangsanya …..”
"Ihhh …….!” Pangeran itu bergidik dan merangkul leher isterinya.
"Jangan pergi, Endang, aku …… aku …… hihh, aku takut!" Endang tersenyum dan mencium suaminya.
"Paduka? Takut? Pangeran Panjirawit yang gagah perkasa, suami hamba yang terclnta….. , takut …..??" Panjirawit mencubit pinggul isterinya dengan gemas.
"Tidak takut menghadapi musuh siapapun juga, tapi setan dan iblis ....... hihh, ngeri aku…….”
"Perkenankan hamba pergi, kakanda. Tidak akan lama. Setelah selesai menyelidik, hamba akan cepat kembali. Mudah-mudahan berhasil membekuk batang leher penjahat itu, demi keamanan Jenggala dan Panjalu dan demi bersihnya nama hamba. Hamba pasti kembali dan ….. mudah-mudahan paduka belum tidur."
"Mana bisa aku tidur tanpa kau di sampingku, manis? Bibirmu itu lho ……..”
"Mengapa dengan bibir hamba……..?” Endang mengusap-usap bibirnya dan suaminya tertawa.
"Bibirmu yang membuat aku tidak bisa tidur sendirian." iapun meraih lagi isterinya, mencium bibir yang selalu merah tanpa menginang (makan sirih) itu, merah membasah, lembut dan hangat penuh madu asmara.
Setelah puas berciuman, Endang Patibroto akhirnya merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan suaminya, membenarkan rambutnya yang awut-awutan, meringkaskan pakaiannya. Melihat isterinya berkemas dan mengenakan celana hitam sebatas lutut, mengaitkan kain yang berubah menjadi dandanan seorang pendekar wanita, kembali Pangeran Panjirawit gelisah.
"Engkau tidak membawa senjata, Endang?" Ia bergidik kalau teringat betapa dahulu, sepuluh tahun yang lalu, isterinya ini dengan keris pusaka Ki Brojol Luwuk (pusaka Mataram) merupakan seorang wanita perkasa yang menggiriskan dan menggegerkan seluruh Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Endang tersenyum,
"Menghadapi penjahat pengecut perlu apa bersenjata? Tusuk konde hamba inipun belum tentu perlu hamba pergunakan. Nah, suami pujaan hati, hamba pergi, sampai nanti!" Begitu selesai kata-kata ini, tubuh Endang Patibroto berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Panjirawit.

Pangeran ini termenung, tidak heran menyaksikan kesaktian isterinya yang ia tahu memiliki ilmu Aji Bayu Tantra yang memungkinkan isterinya berkelebat cepat seperti terbang dan lari seperti angin cepatnya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, hatinya merasa kosong setelah isterinya tidak berada di sampingnya. Ia lalu bangkit dan memasuki kamar tidurnya. Akan tetapi di pintu ia terhenti karena melihat bayangan Suminten menyelinap.
"Heiii, kau lagi, Minten? Tidak dipanggil mengapa kau berada di sini? Tidak mengaso di belakang, di pondok abdi dalem?"
Gadis yang berdada montok itu maju, berlangkah jongkok sampai dekat kaki Pangeran Panjirawit, menyembah dan sedikit menyentuh kaki sang pangeran, kemudian menengadah memandang pangeran itu, mata yang jeli bersinar-sinar penuh harapan, hidung yang mancung berkembang-kempis, mulutnya setengah terbuka sehingga tampak di balik sepasang bibir yang basah itu ujung deretan gigi yang putih dalam mulut yang merah. Lalu terdengar mulut yang menggairahkan itu berbisik,
"Ampunkan hamba, gusti ……… hamba kira ……barangkali …… paduka masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba kerjakan ……”
Pangeran Panjirawit mengerutkan kening. Aneh sekali, pada mata dan mulut gadis ini terdapat sesuatu yang mengingatkan ia akan isterinya, akan pandang mata dan mulut isterinya sewaktu ia cumbu! Aiihh, tidak! Ia takkan membiarkan dirinya tertarik oleh lain wanita. Tiada wanita di dunia ini yang dapat menandingi isterinya.
"Tidak, Minten. Kau pergilah ke belakang, aku mau tidur." Pangeran itu memasuki kamarnya tanpa menutup daun pintu karena ia ingin melihat apabila isterinya pulang. Perlahan Suminten bangkit berdiri, sejenak ia berdiri di depan pintu kamar, kedua tangan dengan jari-jari kecil itu dikepal-kepal, giginya yang kecil-kecil putih menggigit bibir bawah, matanya layu dan air mata mengalir turun di kedua pipinya. Ia sampai tak sedap makan tak nyenyak tidur, siang malam memikirkan sang pangeran, mengharap-harap dan diusahakannya sedapat mungkin menarik perhatiannya. Namun sia-sia, pangeran itu sama sekali tidak tertarik padanya, melihat dengan pandang mata seperti kebanyakan pria kalau memandangnyapun tidak pernah. Bukankah wajar dan sudah selayaknya kalau seorang pangeran mengambil dara abdi-dalem menjadi selir? Apakah yang dipunyai isteri pangeran yang tidak ada pada dirinya? Ia penasaran dan menderita karena tergila- gila dan jatuh cinta kepada sang pangeran. Begitu gagah, begitu tampan, begitu halus, begitu dekat namun…… begitu jauh tak terjangkau tangan dan hati. Ini semua gara-gara isteri pangeran. Gara-gara Endang Patibroto sehingga suaminya tidak wajar seperti para pangeran lain. Wanita iblis itu, dengan ilmu iblisnya. Suminten bergidik ngeri, akan tetapi matanya menyinarkan cahaya. Desas-desus itu memang benar. Ia telah menyaksikan sendiri. Dengan ilmu iblisnya isteri pangeran telah mengguna-gunai Si Petak tadi. Bergeraklah kedua kakinya perlahan menuju ke belakang, di mana tersedia kamar-kamar dalam pondok khusus untuk para abdi.

Bagaikan iblis sendiri, tubuh Endang Patibroto melesat naik ke atas atap rumah dan mulailah ia dengan petualangannya, dengan perjalanan malamnya melakukan penyelldikan. Begitu kedua kakinya menginjak genteng, begitu angin malam bermain dengan rambutnya, timbul kegairahannya, teringat ia akan hidupnya, naluri seorang pendekar yang waspada akan setiap gerak dan suara. Ketajaman telinganya bertambah, pandahg matanya yang selama sepuluh tahun ini terbenam dalam kemesraan, dalam lautan asmara yang tak kunjung padam bersama suaminya kini bersinar-sinar tajam, indera ke enam yang ada pada diri setiap orang pendekar yang sudah matang ilmunya, kini hidup dan menjadi sandaran baginya untuk melakukan penyelidikan.Tubuhnya berkelebat cepat sekali, kadang-kadang di atas genteng berlompatan, kadang-kadang di bawah berlarian. Malam ini amat sunyi. Tak tampak seorangpun penduduk kota raja keluar dari pintu. Hanya orang-orang yang mabuk minuman, mabuk asmara, mabuk judi, dan sebangsa maling saja yang berani keluar pintu di malam Respati itu. Mereka ini tentu saja tidak takut dicaplok iblis karena sudah mabuk. Namun Endang Patibroto tidak menaruh perhatian kepada mereka ini. Ia bahkan menujukan perhatiannya ke atas! Ke arah pohon-pohon besar, ke arah atap-atap gedung di mana tinggal para ponggawa tinggi, para pangeran dan tumenggung, para panglima dan perwira. Kalau ia berloncatan dari genteng ke genteng, jelas tercium bau kemenyan yang memenuhi udara. Suasana malam itu tentu akan mengecilkan hati seorang pendekar, namun Endang sama sekali tidak merasa gentar. Kepercayaan akan diri sendiri timbul kembali pada saat itu. Di dalam pelukan dan di bawah cumbu rayu dan belaian Pangeran Panjirawit, ia merasa kehilangan kepercayaan ini, tidak berdaya dan lemah, seakan-akan tidak kuasa akan tubuhnya sendiri, tidak kuasa akan hatinya sendiri. Seakan-akan tubuh dan hatinya sudah menjadi sebagian milik suaminya dan ia hanya menurut apa yang dikehendaki suaminya karena kebahagiaanlah yang terasa olehnya dalam pelayanan terhadap suaminya ini. Ia bahagia melihat suaminya bahagia karena dia. Ia puas melihat suaminya puas karena dia.

Tapi sekarang ia merasa seperti seekor burung yang bebas. Dengan seluruh dirinya seorang ia menentang segala bahaya. Tiba-tiba, ketika ia meloncat ke atas genteng tinggi gedung Pangeran Panjirawit, ia berhenti bergerak. Telinganya mendengar sesuatu. Pekik mengerikan!.. Jelas sekali dari atas genteng itu. Datang dari rumah gedung Demang Kanaroga, demang yang ahli dalam ilmu perang yang selalu menjadi tangan kanan setiap orang senopati Jenggala dalam perang. Secepat kilat tubuhnya melesat dan berlarilah ia ke arah gedung itu, lalu melayang naik ke atas atap gedung. Ia mencari-cari lalu mengintai ke dalam kamar ki demang. Terlambat! Demang Kanaroga tampak terkapar di dalam kamarnya, dirubung dan ditangisi anak isterinya. Mati dan darah mengalir dari kedua lengan, dan terutama banyak sekali dari dadanya. Tiada gunanya masuk, ia takkan mampu berbuat sesuatu.
Endang Patibroto meloncat ke bagian yang paling tinggi dari atap itu. Dan tampaklah olehnya kini dua ekor benda terbang berputaran di atas gedung itu. Burungkah? Burung hitam? Bukan! Sayapnya tidak mengeluarkan bunyi dan bentuk tubuhnya tidak seperti burung, pendek, tapi sayapnya amat lebar.

<<< Bagian 002                                                                                   Bagian 004 >>>

No comments:

Post a Comment