Dua ekor binatang itu mencicit. Kalong (kelelawar)! Tak salah lagi, lnilah yang ia cari-cari, pikir Endang Patibroto. Jantungnya berdebar tegang dan gembira. Mampuslah kau sekarang, pengecut berhati keji. Peliharaanmu yang akan mengantarku ke sarangmu. Awas kau, ini Endang Patibroto akan datang untuk membekuk batang lehermu! Ketika dua ekor kelelawar itu terbang ke barat, Endang Patibrotopun segera melompat turun dan berlari cepat ke barat, mengikuti dua ekor kelelawar itu dari bawah. Ke manakah ia akan dibawa oleh dua ekor binatang itu? Ke luar kota? Ke manapun juga, akan kuikuti kalian. Heee! Mereka menuju ke barat terus?. Eh, membelok ke selatan kini. Terus ke selatan. Endang Patibroto masih berdebar tegang dan terus berlari. Kini ia berlari melalui depan istana suaminya! Arah terbang dua ekor kelelawar menuju ke selatan itu mengharuskan ia mengambil jalan ini. Aduh, betapa kalau suaminya mengetahui! Ah, tentu suaminya kini sedang tidur seorang diri di atas pembaringan bersih lunak yang menjadi saksi tunggal cinta kasih di antara mereka. Mendadak saja timbul perasaan mesra yang membuat Endang Patibroto meloncat naik ke atas atap rumahnya sendiri. Dua ekor kelelawar masih terbang di atas. Dan pada saat kedua kakinya menginjak genteng rumahnya itulah ia menahan pekik yang hampir keluar dari mulutnya. Di atas genteng itu terbang berputaran pula seekor kelelawar yang lain! Lebih besar daripada yang dua itu. Dan ia mendengar suara mengaduh di bawah. Suara suaminya!! Serasa berhenti detak jantung Endang Patibroto. Ia tidak memperdulikan lagi kepada kalong itu dan langsung ia melayang turun, memasuki taman dan melompat ke dalam, terus berkelebat masuk melalui pintu kamar tidur mereka yan tidak tertutup.
"Kakanda……..!!!”
Suaminya tidak tidur, melainkan duduk dengan mata terbelalak. Lengan kirinya berdarah di dekat
siku dan tangan kanannya berusaha
menghentikan keluarnya darah dari lengan yang tidak luka itu.
Dan pada saat ia meloncat masuk, suaminya mengaduh lagi dan terbelalak memandang lengan kanannya yang sekarang juga
berdarah! Dari atas terdengar suara
burung hantu terbang lewat,
"Huuu uukkkk huukk
huuukkk !" Seakan-akan burung hantu Itu mentertawakan Pangeran
Panjirawit.
"Endang ……. lekas……. ! Ini lenganku ini
….., bagaimana ……..??"
"Tenanglah, suamiku!
Tenang …… hemm, bedebah! Keparat ………!"
Panjirawit bukanlah
seorang penakut, apalagi
ada isterinya di situ.
Mendengar maki-makian keluar dari mulut isterinya yang biasanya halus ramah itu, ia memandang, bertanya,
"Kau memaki siapa,
yayi?"
"Tenanglah, suamiku……. , tenanglah......... "
kata Endang Patibroto dengan suara
bercampur sedu-sedan. Terlambat sedikit
saja, ia akan menemukan suaminya
dalam kamar seperti halnya Demang
Kanaroga tadi, terkapar mati. Cepat ia menubruk suaminya, bersila di depan
suaminya, menaruh kedua telapak tangan ke depan dada, menempel
ulu hati suaminya.
Melihat keadaan
isterinya yang demikian sungguh-sungguh, teringatlah lagi
Pangeran Panjirawit akan keadaannya. Teringat lagi bahwa
kali ini dialah yang hendak dijadikan korban. Mula-mula kedua lengan, kemudian ulu hati. Tahulah ia bahwa isterinya
mempergunakan kesaktiannya untuk melindunginya. Dari kedua telapak tangan yang halus itu, yang ia ingat benar kalau membelai-belainya,
kini keluar hawa panas yang menjalar
dari ulu hati ke seluruh tubuhnya, ke arah kedua lengannya dan darah tidak mengalir lagi dari kedua lengannya. Tiba-tiba Endang Patibroto melompat dan
menyambar bokor perak, tempolong perak
dan semua benda terbuat daripada perak
yang berada di kamar itu. Pangeran dan
dia memang lebih suka akan perak daripada emas.
Kedua tangannya bergerak cepat, secepat tubuhnya ketika
melesat dan bergerak mengumpulkan benda-benda tadi. Tidak sampai satu menit lamanya, semua benda perak itu telah ia robek, kait-kaitkan dan kini ia kembali kepada suaminya, menggunakan
robekan-robekan perak itu
menutupi tubuh suaminya.
"Tutup baik-baik, kakanda.
Bagian-bagian yang lemah,
kakanda tahu, dada, punggung, perut, pusar, kepala. Kaki tangan tidak mengapa. Tutup bagian-bagian yang lemah. Jangan takut, jangan khawatir, kakanda
tidak akan mengapa, aku akan
menghancurkan bedebah laknat itu! Berani dia mengganggu suamiku!" Suara ini bercampur isak
dan tubuh Endang Patibroto sudah
melesat lenyap lagi.
"Endang…. !" Pangeran Panjirawit memanggil, akan tetapi ia menahan kecemasannya. Ia harus percaya kepada
isterinya. Endang tidak akan kalah.
Cepat ia melakukan pesan isterinya, menutupi bagian-bagian tubuh yang lemah yang akan membuatnya tewas dengan sekali tusuk. Kaki tangan biarlah, tusuklah
kalau mau tusuk, pikirnya penuh
geram.
Endang Patibroto sudah melompat naik, tangannya menyambar genteng, sekali remas ia mendapatkan sepotong genteng. Kelelawar yang dua
ekor tak tampak lagi, akan tetapi yang seekor dan paling besar masih
beterbangan di atas gedungnya,
berputaran, seakan-akan menanti keluarnya pekik
maut yang diharapkan keluar dari
dalam gedung. Dengan menahan geram dan mengukur tenaga karena ia tidak ingin membunuh kelelawar itu, ia
mengayun tangan menyambit. Kelelawar besar itu mengeluarkan bunyi mencicit keras, terbangnya terhuyung dan setelah mencicit-cicit bingung
akhirnya ia terbang ke arah selatan. Inilah yang dikehendaki Endang Patibroto. ia berhasil mengusir kelelawar itu agar terbang pulang sebelum menyelesaikan tugas. Terbang pulang dan membawa dia ke tempat majikannya. Dengan jantung berdebar tegang dan
girang Endang Patibroto melesat cepat.
Ia tidak mau tertinggal oleh
kelelawar itu. Kelelawar itu terbang terus ke selatan melalui pintu gerbang selatan. Keluar kota
raja. Sudah ia duga akan hal ini. Siapapun dia
yang melakukan semua pembunuhan keji dan pengecut ini, tentu tidak berani tinggal di kota raja, di mana terdapat
banyak perwira-perwira berilmu tinggi dan di mana terdapat dia. Ia meloncat melalui dinding yang mengelilingi kota raja, terus berlari cepat.
Untung bulan yang tinggal sepotong masih terang. Tidak ada awan malam itu. Langit tampak suram muram, namun
bayangan kecil hitam Itu tampak
jelas. Alangkah besarnya kelelawar itu yang terbang rendah. Dari ujung ke ujung sayap tentu lebih
daripada sedepa. Binatang
itu terbang ke atas sebuah
hutan. Celaka! Hutan yang banyak
pohonnya, kalaulah di bawah pohon itu ia akan kehilangan bayangan
itu. Terpaksa Endang Patibroto lalu
meloncat naik ke atas pohon, kemudian dengan cekatan ia berloncatan dari
pohon ke pohon. Betapapun juga, tak
salah perhitungannya, tentu penjahat itu berdiam dan bersembunyi di
dalam hutan ini. Ia naik ke atas pohon yang tinggi dan tampaklah kelelawar itu yang menukik turun ke atas atap sebuah pondok kecil di tengah hutan. Pondok
itu! Tentu di situ tempat bersembunyi si
bedebah. Dengan hati-hati Endang Patibroto melompat ke atas
pohon yang berdekatan dengan pondok, mengintai. Kelelawar itu
menggelepar-gelepar di atas atap
lalu menerobos masuk melalui pintu setelah dengan berat badannya menabrak
pintu terbuka sedikit.
Terdengar suara orang mengutuk dari dalam. Endang Patibroto meloncat
turun, kakinya tidak
menimbulkan suara sedikitpun seperti seekor kucing melompat. Berindap-indap namun cepat ia mendekati pondok,
mengintai dari celah daun
pintu yang terbuka sedikit. Giginya
berkerotan ketika ia melihat ke
dalam pondok. Kakek tinggi kurus itu duduk bersila, memaki-maki kelelawar yang
hinggap di bawah atap, di atas
sebuah arca Bathara Kala.
"Kelelawar bodoh! Kalong yang tiada gunanya! Belum selesai tugas sudah pulang! Apa
hendak melapor akan gagalnya usahaku?
Bedebah, kubakar dagingmu
besok untuk santapan!" Kakek
itu mengomel panjang pendek. Sebuah boneka berada di tangan
kirinya, sebatang keris kecil di tangan kanan.
"Setan alas! Belum mau
tunduk juga engkau, Pangeran
Panjirawit? Tubuhmu kebal, ya? Keparat!" Ia menggunakan
kerisnya menusuk-nusuki tubuh boneka ltu, dadanya, lambungnya, pusarnya,
punggungnya, kemudian lehernya
dan kepalanya. Akan tetapi betapapun kuat ia menusuk, kerisnya tidak mampu menembusi tanah lempung yang tidak keras itu, seolah-olah tubuh boneka lempung itu
berubah menjadi baja.
Endang Patibroto bergidik. Kalau terlambat sedikit saja ia pulang tadi, tentu suaminya sudah terkapar mati dengan tubuh mandi darah. Ia melihat kaki kanan dan lengan kiri boneka itu
berlumur darah. Suaminya tentu menderita, akan tetapi alangkah gagah suaminya.
Biarpun kaki dan tangan berdarah, namun tetap dapat menjaga tubuh di bagian berbahaya. Dapat ia bayangkan betapa suaminya menderita dan cemas.
"Setan keparat kau Panjirawit. Heh-heh-hih-hi-hik! Hanya kaki tanganmu saja yang tidak kebal, ya? Hendak kulihat bagaimana kalau darahmu habis
keluar dari kaki tanganmu, akan
kuhancur leburkan kaki
tanganmu!"
Tangan yang hanya tulang
terbungkus kulit itu kini
menghujamkan keras ke arah kaki kira
boneka Panjirawit. Akan tetapi keris itu terhenti di tengah gerakan karena
tangannya tertahan oleh sebuah tangan yang berkulit putih halus. Hidungnya mencium
bau sedap harum dan tiba-tiba ada tangan putih halus lain lagi yang
menyambar dan merampas boneka itu. Wiku Kalawisesa terbelalak kaget dan mengangkat muka. Matanya yang tersembunyi dalam-dalam di rongga mata, memandang seolah-olah ia tidak percaya akan
apa yang tampak olehnya. Seorang wanita cantik jelita sudah berdiri di depannya, boneka itu telah berada di tangan si wanita yang dengan tenang
mencabuti beberapa helai rambut hitam yang menempel di kepala patung. Rambut suaminya. la
memasukkan gumpalan rambut itu ke
balik kemben, lalu menghancurkan patung dengan remasan tangannya sehingga
berubah menjadi sekepal
tanah lempung.
"Manusia berwatak
iblis, tua bangka yang tidak mencari jalan terang, calon penderita di dasar neraka jahanam! Siapakah engkau wahai kakek yang lebih rendah daripada binatang, lebih keji daripada iblis?" Biarpun suara Endang Patibroto halus, merdu, akan tetapi bagi kakek itu
seperti menyambarnya guntur di siang hari!. Tahulah ia kini mengapa usahanya membunuh
Pangeran Panjirawit gagal. Kiranya ada wanita sakti ini dan biarpun selama hidupnya ia
belum pernah bertemu muka dengan
Endang Patibroto, namun ia dapat
menduga dengan siapa ia berhadapan. Lalu meloncat bangun, gerakannya
cepat dan tangkas tidak sesuai
dengan tubuhnya yang lapuk.
"Engkaukah yang bernama
Endang Patibroto?" Gumamnya, matanya mendelik
mukanya terasa panas membakar
karena memang wanita inilah yang dimusuhinya.
Semua perbuatannya membunuhi para ponggawa itupun didasari rasa
benci dan dendam kepada wanita ini.
Endang Patibroto tersenyum, senyum yang dingin yang sudah sepuluh tahun tak pernah membayang di
bibirnya. Biasanya hanya untuk
suaminya, senyum mesra dan hangat. Hampir ia lupa bagaimana ia tersenyum di waktu ia masih gadis dan menghadapi lawan yang sakti dan jahat. Kini otomatis senyum itu muncul di bibirnya,
senyum yang membuat seorang seperti
Wiku Kalawisesa saja sampai
bergidik.
"Tidak salah seujung rambutpun dugaanmu, keparat tua bangka. Aku bukan pengecut macam
engkau yang melempar batu sembunyi tangan melakukan pembunuhan-pembunuhan keji
sambil bersembunyi. Akulah Endang
Patibroto, isteri dari Pangeran Panjirawit yang kau usahakan kematiannya. Kau …… Kau ….. si laknat pengotor jagad! Kau telah berani lancang tangan, menyerang suamiku secara keji.
Hayo mengakulah siapa namamu, sebelum
kujuwingjuwing (cabik-cabik) kulitmu, sebelum kupatahkan semua
tulangmu, sebelum kuhancurkan kepalamu!" Kini senyum dingin meninggalkan wajah ayu itu, berganti dengan warna merah membara, sepasang
mata itu berkilat seperti mengeluarkan cahaya terang, lubang hidungnya mendengus seolah-olah
keluar apinya. Teringat akan
suaminya, kemarahan Endang Patibroto memuncak dan
beginilah Endang Patibroto di kala gadisnya, di kala ia menjadi orang
yang paling ditakuti seluruh kerajaan, di kala keris pusaka Ki Brojol Luwuk
masih berada di tangannya. Kalau
sudah begini, dia seolah-olah
menjadi malaikat maut sendiri.
Wiku Kalawisesa bukan seorang yang lemah. Tidak, bahkan sebaliknya. Dia adalah kakak seperguruan Cekel
Aksomolo yang dulu terkenal sakti mandraguna. Dia seorang tokoh
dari India yang membawa datang
banyak aji yang aneh-aneh, terutama sekali ilmu hitamnya. Maka ia lalu menggunakan, kekuatan
batinnya untuk menekan rasa ngeri dan getarnya. Biarpun
ia bongkok, namun karena tubuhnya jangkung
sekali, ia masih lebih tinggi
daripada Endang Patibroto dan
ketinggiannya ini ia pergunakan untuk
memaksa hati memandang rendah lawan. Satu-satunya syarat bagi keampuhan ilmu hitam adalah perasaan lebih tinggl
dan lebih kuat daripada lawan, jauh
daripada rasa gentar.
"Heh-heh-hi-hi-hik!
Babo-babo, Endang Pitibroto! Sumbarmu melebihi letusan Gunung Bromo!
Kesombonganmu seolah-olah engkau dapat mencapai puncak Mahameru dan menyelam sampai di dasar Laut Kidul! Jangan kau mengira bahwa aku adalah sebangsa coro yang dapat
kau perbuat sesukamu begitu saja, inilah lawanmu, Endang Patibroto, inilah Sang Wiku Kalawisesa yang sudah bertahun-tahun menanti
saat ini untuk menyambut nyawamu dan membalas kematian adik
seperguruanku Cekel Aksomolo. Hah-hah-hi-hikl" Tangan kiri kakek itu bergerak menyambar sebatang tongkat yang tadi bersandar di dinding.
Tongkat ini berwarna hitam, sebesar ibu
jari, bengkak-bengkok dan butut, akan tetapi dari tongkat ini keluar pengaruh yang mengerikan. Tongkat bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat pusaka yang
sudah ia rapal, yang sudah bertahun-tahun menerima
hikmat sinar matahari dan bulan
purnama, sudah bertahun-tahun ia
menghisap pengaruh sakti dan hawa mujijat dari tempat-tempat angker dan kuburan-kuburan keramat!
No comments:
Post a Comment