Endang Patibroto menggangguk-angguk. Ia berdiri tegak, bertolak pinggang, sinar matanya tajam menyelidik, menyapu keadaan dalam pondok dan tahulah ia bahwa pendeta ini adalah seorang pemuja Bathara Kala. Maka ia berhati-hati, maklum bahwa pemuja Bathara Kala biasanya memiliki ilmu-ilmu yang mujijat dan sakti mandraguna. Gurunya dahulu pernah berpesan kepadanya agar hati-hati kalau bertemu dengan tokoh pemuja Bathara Kala.
"Arca Bathara Kala dapat mengeluarkan mujijat,
muridku." demikian kata
gurunya,
"kalau dipuja secara
setia berpuluh tahun, dapat kemasukan roh
dan kesaktian Bathara Kala yang haus akan darah manusia, lapar akan daging manusia. Hancurkan lebih dahulu kesaktian arca ini, baru penyembahnya kehilangan sinar kesaktian yang
menjadi dasarnya."
Teringat akan nasehat gurunya ini, besar
hati Endang Patibroto. Ia tersenyum mengejek
ketika menjawab.
"Aehhh, kiranya
engkau ini kakak seperguruan Cekel
Aksomolo si Durna itu? Dan namamu
Wiku Kalawisesa? Heh, wiku sesat! Cekel Aksomolo adalah aku yang membunuhnya!
Kalau engkau hendak membalaskan kematiannya, aku Endang Patibroto siap
untuk menghadapi setiap saat. Kenapa engkau berlaku begini pengecut, menyerang suamiku? Dan kenapa pula engkau membunuh-bunuhi ponggawa Panjalu
dan Jenggala?"
Wiku Kalawisesa amatlah
cerdik dan banyak siasatnya. Karena cerdiknya, la amat berhati-hati dan
harus mengakui bahwa menghadapi wanita
ini, belum tentu ia akan menang. Kalau ia menang maka itulah yang
dikehendakinya dan tidak akan ada
urusan lagi. Akan tetapi kalau ia kalah dan tewas? Ia tidak takut mata, akan
tetapi matinya akan mengandung mati penasaran karena tujuannya tidak
tercapai. Dan mati penasaran akan membuat rohnya gentayangan tidak
menentu. Karena itu ia harus mengatur siasat sebelumnya. Baik ia akan kalah atau menang,
wanita musuh besarnya ini
harus dihancurkannya.
"Hoah-ha-ha-hah, bagaimana seorang perempuan muda yang bodoh macam engkau ini hendak
menjagoi? Urusan yang terjadi di depan matamu saja engkau maslh tidak
mengerti, dan kau mengaku dirimu pintar?"
"Wiku sombong, aku memang bukan orang pintar, akan tetapi setidaknya bukan manusia pengecut sebodoh engkau sehingga berani kau mengganggu aku.
Melihat adanya para korban yang
terdiri dari ponggawa-ponggawa pilihan,
tentu engkau bersekongkol dengan
orang yang ingin melihat Kerajaan Jenggala dan Panjalu menjadi lemah. Nah,
kau katakan siapa orangnya yang bersekongkol denganmu!"
Diam-diam kakek ini terkejut. Kiranya
cerdik pula wanita ini, dapat menduga
dengan tepat. la tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau kau sakti
mandraguna, awas paningai, tahu akan segala rahasia alam, melihat akan segala yang tergelar di
jagad raya, tentu engkau tak perlu bertanya-tanya lagi."
"Akan tetapi, kuberitahu juga tidak mengapa agar
kau tidak mati dalam penasaran. Aku
tahu bahwa engkau akan mati di tanganku, Endang
Patibroto, maka kau dengarlah dulu baik-baik dan jangan kaget akan hal-hal yang tentu tidak akan kau
sangka-sangka. Heh-heh-heh! Memang
tanpa tedeng aling-aling aku mengaku bahwa para ponggawa itu kubunuh atas perintah orang. Bukan sembarang orang, melainkan calon maharaja besar yang akan, menguasai seluruh
Panjalu dan Jenggala dijadikan satu. Dan untuk dapat menguasai kedua kerajaan ini, perlu sekali para penentangnya dan para penghalangnya disingkirkan lebih dulu untuk persiapan."
"Hemmm, sudah kuduga. Kemudian kau dan
sekutumu menghamburkan desas-desus bahwa akulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu, bukan?"
"Heh-heh-hi-hi-hih! Itu akalku, Endang Patibroto. Akalku untuk memancing kau keluar mencariku. Akan
tetapi kau ternyata penakut, tidak
berani keluar sehingga terpaksa aku
menyerang suamimu sebagai
pancingan dan benar saja, kau
datang menyerahkan nyawamu, heh-hehheh!"
"Wiku jahanam, katakan
siapa sekongkolmu itu!"
"Itu rahasia, heh-heh-heh, kau carilah sendIri. Tapi kau akan mati di sini, agar jangan
menjadi setan penasaran, baik kuberitahu. Calon maharaja itu adalah
Pangeran Darmokusumo di
Panjalu."
"Apa..........??" Endang Patibroto benar-benar kaget
sekali karena tak pernah menduga. Pangeran Darmokusumo putera sang prabu di Panjalu?
Ah, tidak mungkin! Pangeran Darmokusumo selain putera Sang Prabu Panjalu, juga putera mantu Sang Prabu Jenggala! Menikah dengan Puteri Mayagaluh, adik kandung Pangeran Panjirawit, suaminya! Mana
mungkin ini?
"Engkau dukun lepus, engkau tukang tenung
hina-dina, engkau pembohong rendah! Siapa percaya omonganmu?"
"Heh-heh-heh, bocah kemarin sore semacam engkau
ini yang begini tolol mana percaya? Mana
bisa melihat kenyataan? Pangeran Darmokusumo tidak suka melihat kerajaan menjadi dua, beliau hendak menguasai seluruh kerajaan, dijadikan satu,
pulih kembali seperti jaman Kahuripan, jaman Mataram."
"Tak mungkin ia mau membunuh-bunuhi ponggawa Jenggala, apalagi ponggawa Panjalu
sendirI. Kau mengadu domba.”
"Sesukamulah, Endang Patibroto. Engkau memang tolol, tidak tahu isi hati orang.
Ponggawa-ponggawa Jenggala yang
penting harus disingkirkan karena kelak menjadi penghalang, termasuk
engkau sendiri yang terutama.
Karena inilah beliau memilih aku
yang memang ingin membunuhmu. Selama
kau masih hidup, cita-citaku takkan
tercapai. Maka rencana cerdik beliaulah yang mendesas-desuskan keadaanmu,
mengatakan bahwa engkau yang
melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, karena engkau murid Dibyo Mamangkoro si manusia iblis! Ha-ha-ha, rencana yang
bagus sekali dan kelak kalau beliau menjadi maharaja, aku Sang Wiku Kalawisesa akan
diangkat menjadi sesepuh kerajaan."
Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan nafsu amarah sudah memenuhi
hati Endang Patibroto, matanya berkilat- kilat dan ia mulai ragu-ragu akan kebersihan Pangeran Darmokusumo. Memang
semenjak kerajaan dibagi dua, selalu timbul ketegangan di antara kedua kerajaan bersaudara, bahkan dahulu sampai terjadi permusuhan, peperangan. Bukan tak bisa jadi kalau Pangeran
Darmokusumo bercita-cita seperti
itu, mempersatukan dua kerajaan, kalau
perlu dengan kekerasan.
"Jangan coba menipu aku, wiku keparat. Pangeran Darmokusumo tidak mungkin suka membunuhi ponggawa-
ponggawa Panjalu sendiri..........!”
"Uuuuh, itulah kebodohanmu! Ponggawa-ponggawa yang terbunuh itu, seperti Tumenggung Diroprono,
Senopati Surabala putera Patih Suroyudo, termasuk
mereka yang menentang cita-cita Pangeran Darmokusumo, maka harus mati. Pangeran Darmokusumo sendiri yang memesan
kepadaku untuk jangan sampai gagal
membunuh engkau dan suamimu, heh-heh-heh, dan sekarang cita-cita beliau itu akan terlaksana..........!”
"Iblis laknat engkau, bukan aku, melainkan engkau yang akan mampus mendahului Darmokusumo!" Kemarahan Endang Patibroto tak
tertahankan lagi. Kini ia makin
percaya bahwa benar-benar Pangeran
Darmokusumo hendak memberontak, dan
lebih menjengkelkan lagi, berniat membunuh dia dan suaminya, kakak ipar pangeran itu sendiri. Alangkah
keji dan jahatnya. Tak boleh
ia mendiamkan saja. Pangeran itu harus diseret di muka umum, dihajar dan
dipaksa mengakui semua rencana pemberontakannya. Dalam amarah, ia sudah mengeluarkan aji kesaktiannya, seluruh urat syaraf
di tubuhnya menegang, hawa sakti
terkumpul di tubuh, berputaran merupakan hawa panas yang menjalar dan berputar-putar dari ujung kaki sampai di ubun-ubun kepala. Ia sudah
siap menandingi kakek sakti ini. Sambil terkekeh-kekeh Wiku Kalawisesa mengangkat
tongkat hitamnya sambil mengeluarkan bunyi mencicit seperti suara kelelawar dan......, tiga benda hitam tiba-tiba terbang menyambar kepala Endang Patibroto.. itulah
tiga ekor kelelawar yang sejak tadi
menggantung di bawah. Mereka ini
menerjang Endang Patibroto, di bawah sinar pelita yang remang-remang itu tampak mata binatang-binatang ini
merah bersinar-sinar, mulut terbuka memperlihatkan gigi yang runcing, kuku-kuku melengkung terbuka siap mencakar. Apa artinya serangan tiga ekor kelelawar bagi Endang Patibroto? Biarpun tiga ekor kelelawar itu besar-besar, sebesar kucing,
namun tanpa merubah kedudukan kaki, hanya dengan gerakan tangan kiri saja tanpa menggerakkan
tangan kanan yang bertolak pinggang, Endang Patibroto berhasil menampar
tiga kali berturut-turut, amat
cepat gerakannya dan tiga ekor
kelelawar itu mencelat, terlempar dan terbanting pada dinding pondok! Akan tetapi, tiga ekor binatang itu sudah terbang lagi
menyambar, seakan-akan pukulan dan bantingan itu tidak mereka rasakan sama
sekali. Endang Patibroto terkejut, tamparan
tangannya tadi cukup keras
untuk membikin pecah kepala kerbau,
bagaimana tiga ekor kelelawar itu hanya terlempar dan agaknya sama sekali tidak terluka? Ia
mendengar kakek itu terkekeh dan kini, bersama tiga ekor kelelawarnya, kakek
itu sudah menyerangnya dengan tusukan tongkat
hitam ke arah dadanya.
Endang Patibroto lega melihat betapa gerakan menusuk
kakek itu tidak amat cepat, sungguhpun amat
kuat. Mengertilah ia bahwa betapapun
sakti kakek ini, namun dalam hal ilmu silat tidaklah tangguh. Kakek ini
hanya mengandalkan keampuhan aji ilmu hitam dan tenaga mujijatnya saja. Dengan mudah ia mengelak sambil melangkah mundur, kemudian
merendahkan tubuhnya membiarkan tiga ekor kelelawar menyambar lewat,
kemudian dengan Aji Bayu Tantra
tubuhnya mencelat ke depan, cepatnya melebihi seekor
burung, dan tangannya sudah
mengandung Aji Gelap Musti ketika
dipukulkan ke dada Sang Wiku
Kalawisesa.
"Dessss..........!!!"
Pukulan ini tepat sekali, mengenai dada yang
hanya tulang-tulang dibungkus kulit. Endang Patibroto dapat merasa betapa kepalan tangannya bertemu
dengan tulang- tulang iga. Akan tetapi anehnya, ada semacam hawa
dingin yang menolak pukulannya, atau yang melindungi tulang-tulang itu sehingga tulang-tulangnya tidak remuk, hanya tubuh kakek itu yang terlempar ke dinding, dekat arca Bathara Kala.
"Aduuhhh.......... aduuhhh.......... aduuhhh.... ......
!"
Kakek itu mengeluh panjang
pendek dan begitu tongkatnya menuding
ke arah Endang Patibroto, segumpal asap hitam menyambar. Asap ini tebal dan membawa bau apak seperti bau kelelawar. Endang
Patibroto miringkan tangan dan menampar dengan jari-jari terbuka,
jari-jari yang mengandung Aji Pethit Nogo.
"Pyurrr..........II" Asap hitam yang bergulung tebal itu ambyar mawut, membubung ke atas, menerobos atap hitam dan lenyap. Ketika
itu, tiga ekor kelelawar sudah
menyambar lagi, lebih ganas daripada tadi. Endang Patibroto menjadi
gemas, dua ekor dapat ia pukul terpental, yang seekor, paling besar dan yang tadi mengelilingi
rumahnya, ia tangkap. Kedua tangannya bergerak, mencengkeram sayap
dan.......... "krek-krekkkk ...... !" sepasang sayap binatang itu hancur berkeping-keping, dlcabik-cabiknya, kemudian tubuh
binatang itu dibantingnya ke lantai. Tubuh yang sudah tak bersayap itu terbanting, terpental, terbanting lagi seperti sebuah bola, kemudian menggelundung ke sudut, mengeluarkan bunyi mencicit aneh seperti orang
mengerang dalam sekarat. Binatang itu tidak mati, agaknya memiliki
kekebalan luar biasa akan
tetapi tidak berdaya lagi karena
sepasang sayapnya sudah hancur. Yang dua lagi datang menyambar. Endang Patibroto kembali
menangkap mereka, merobek-robek sayap mereka dan membanting tubuh mereka seperti tadi. Dua ekor
kelelawar inipun terguling ke sudut pondok,tak dapat menyerang lagi.
Dengan pandang mata mulai beringas, semangat
dan kegembiraan bertanding mulai
menggairah di hatinya, Endang
Patibroto membalikkan tubuh, mencari Wiku Kalawisesa. Dilihatnya kakek itu berlutut memeluk kaki arca,
mengeluarkan ucapan-ucapan mantera
yang tak dimengerti maksudnya. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika
ia melihat sepasang mata arca itu.
Dari sepasang mata itu keluar sinar
kehijauan yang hebat dan menyilaukan mata. Tanpa disadari Endang Patibroto memandang sepasang
mata arca itu dan ia seperti orang
kena pesona, tubuhnya menjadi
kaku dan ia tak dapat mengalihkan pandang matanya
daripada sinar mata hijau
yang melekat pandang matanya
itu. Pada saat itu, perlahan-lahan Wiku
Kalawisesa sudah bangkit dari
berlutut, tertawa terkekeh-kekeh dan terhuyung-huyung menghampiri Endang
Patibroto. Tangan kirinya mencabut
keris kecil sejengkal, tangan
kanan mengangkat tongkat hitam tinggi-tinggi di atas kepala.
"Heh-heh-heh,..........hi-hi-hih,
bersiaptah mati kau Endang Patibroto..........
ha-ha!"
Endang hendak meloncat, tapi kedua kakinya seperti lekat pada tanah, hendak menggerakkan tangan akan tetapi kedua lengannya seperti
lumpuh, hendak membuang muka tapi tak mampu melepaskan sinar hijau itu. Matanya perih dan lelah, amat lelah, mengantuk dan nikmat seperti kalau ia berada dalam dekapan
suaminya. Suaminya! Tentu celaka kalau ia tidak segera
menyelamatkan diri daripada pengaruh kekuatan
mujijat. Suaminya yang tercinta! Endang Patibroto melihat
dengan perasaannya bahwa Wiku
Kalawisesa sudah datang dekat, ujung
keris sudah makin dekat, siap menusuknya. Ia
mengerahkan segala tenaga batinnya, membayangkan wajah gurunya Dibyo
Mamangkoro yang tertawa terbahak-bahak, kemudian bagaikan sebuah
bendungan air yang pecah, terdengar
mulutnya mengeluarkan suara jerit melengking yang sama sekali tidak menyerupai jerit manusia, melainkan lebih
mirip pekik auman harimau betina.
"Aaauuuuuhhhhhmmmmm..........!!!"
Luar biasa
sekali pekik ini, karena ini bukan sembarang pekik, melainkan Aji Sardulo Bairowo yang
suaranya mampu melumpuhkan lawan yang
tangguh.
No comments:
Post a Comment