Bagian 005


Endang Patibroto menggangguk-angguk. Ia berdiri tegak, bertolak pinggang, sinar matanya tajam menyelidik, menyapu keadaan dalam pondok dan tahulah ia bahwa pendeta ini adalah seorang pemuja Bathara Kala. Maka ia berhati-hati, maklum bahwa pemuja Bathara Kala biasanya memiliki ilmu-ilmu yang mujijat dan sakti mandraguna. Gurunya dahulu pernah berpesan kepadanya agar hati-hati kalau bertemu dengan tokoh pemuja Bathara Kala.
"Arca Bathara Kala dapat mengeluarkan mujijat, muridku." demikian kata gurunya,
"kalau dipuja secara setia berpuluh tahun, dapat kemasukan roh dan kesaktian Bathara Kala yang haus akan darah manusia, lapar akan daging manusia. Hancurkan lebih dahulu kesaktian arca ini, baru penyembahnya kehilangan sinar kesaktian yang menjadi dasarnya."
Teringat akan nasehat gurunya ini, besar hati Endang Patibroto. Ia tersenyum mengejek ketika menjawab.
"Aehhh, kiranya engkau ini kakak seperguruan Cekel Aksomolo si Durna itu? Dan namamu Wiku Kalawisesa? Heh, wiku sesat! Cekel Aksomolo adalah aku yang membunuhnya! Kalau engkau hendak membalaskan kematiannya, aku Endang Patibroto siap untuk menghadapi setiap saat. Kenapa engkau berlaku begini pengecut, menyerang suamiku? Dan kenapa pula engkau membunuh-bunuhi ponggawa Panjalu dan Jenggala?"

Wiku Kalawisesa amatlah cerdik dan banyak siasatnya. Karena cerdiknya, la amat berhati-hati dan harus mengakui bahwa menghadapi wanita ini, belum tentu ia akan menang. Kalau ia menang maka itulah yang dikehendakinya dan tidak akan ada urusan lagi. Akan tetapi kalau ia kalah dan tewas? Ia tidak takut mata, akan tetapi matinya akan mengandung mati penasaran karena tujuannya tidak tercapai. Dan mati penasaran akan membuat rohnya gentayangan tidak menentu. Karena itu ia harus mengatur siasat sebelumnya. Baik ia akan kalah atau menang, wanita musuh besarnya ini harus dihancurkannya.
"Hoah-ha-ha-hah, bagaimana seorang perempuan muda yang bodoh macam engkau ini hendak menjagoi? Urusan yang terjadi di depan matamu saja engkau maslh tidak mengerti, dan kau mengaku dirimu pintar?"
"Wiku sombong, aku memang bukan orang pintar, akan tetapi setidaknya bukan manusia pengecut sebodoh engkau sehingga berani kau mengganggu aku. Melihat adanya para korban yang terdiri dari ponggawa-ponggawa pilihan, tentu engkau bersekongkol dengan orang yang ingin melihat Kerajaan Jenggala dan Panjalu menjadi lemah. Nah, kau katakan siapa orangnya yang bersekongkol denganmu!"
Diam-diam kakek ini terkejut. Kiranya cerdik pula wanita ini, dapat menduga dengan tepat. la tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau kau sakti mandraguna, awas paningai, tahu akan segala rahasia alam, melihat akan segala yang tergelar di jagad raya, tentu engkau tak perlu bertanya-tanya lagi."
"Akan tetapi, kuberitahu juga tidak mengapa agar kau tidak mati dalam penasaran. Aku tahu bahwa engkau akan mati di tanganku, Endang Patibroto, maka kau dengarlah dulu baik-baik dan jangan kaget akan hal-hal yang tentu tidak akan kau sangka-sangka. Heh-heh-heh! Memang tanpa tedeng aling-aling aku mengaku bahwa para ponggawa itu kubunuh atas perintah orang. Bukan sembarang orang, melainkan calon maharaja besar yang akan, menguasai seluruh Panjalu dan Jenggala dijadikan satu. Dan untuk dapat menguasai kedua kerajaan ini, perlu sekali para penentangnya dan para penghalangnya disingkirkan lebih dulu untuk persiapan."
"Hemmm, sudah kuduga. Kemudian kau dan sekutumu menghamburkan desas-desus bahwa akulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu, bukan?"
"Heh-heh-hi-hi-hih! Itu akalku, Endang Patibroto. Akalku untuk memancing kau keluar mencariku. Akan tetapi kau ternyata penakut, tidak berani keluar sehingga terpaksa aku menyerang suamimu sebagai pancingan dan benar saja, kau datang menyerahkan nyawamu, heh-hehheh!"
"Wiku jahanam, katakan siapa sekongkolmu itu!"
"Itu rahasia, heh-heh-heh, kau carilah sendIri. Tapi kau akan mati di sini, agar jangan menjadi setan penasaran, baik kuberitahu. Calon maharaja itu adalah Pangeran Darmokusumo di Panjalu."
"Apa..........??" Endang Patibroto benar-benar kaget sekali karena tak pernah menduga. Pangeran Darmokusumo putera sang prabu di Panjalu? Ah, tidak mungkin! Pangeran Darmokusumo selain putera Sang Prabu Panjalu, juga putera mantu Sang Prabu Jenggala! Menikah dengan Puteri Mayagaluh, adik kandung Pangeran Panjirawit, suaminya! Mana mungkin ini?
"Engkau dukun lepus, engkau tukang tenung hina-dina, engkau pembohong rendah! Siapa percaya omonganmu?"
"Heh-heh-heh, bocah kemarin sore semacam engkau ini yang begini tolol mana percaya? Mana bisa melihat kenyataan? Pangeran Darmokusumo tidak suka melihat kerajaan menjadi dua, beliau hendak menguasai seluruh kerajaan, dijadikan satu, pulih kembali seperti jaman Kahuripan, jaman Mataram."
"Tak mungkin ia mau membunuh-bunuhi ponggawa Jenggala, apalagi ponggawa Panjalu sendirI. Kau mengadu domba.”
"Sesukamulah, Endang Patibroto. Engkau memang tolol, tidak tahu isi hati orang. Ponggawa-ponggawa Jenggala yang penting harus disingkirkan karena kelak menjadi penghalang, termasuk engkau sendiri yang terutama. Karena inilah beliau memilih aku yang memang ingin membunuhmu. Selama kau masih hidup, cita-citaku takkan tercapai. Maka rencana cerdik beliaulah yang mendesas-desuskan keadaanmu, mengatakan bahwa engkau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, karena engkau murid Dibyo Mamangkoro si manusia iblis! Ha-ha-ha, rencana yang bagus sekali dan kelak kalau beliau menjadi maharaja, aku Sang Wiku Kalawisesa akan diangkat menjadi sesepuh kerajaan."

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan nafsu amarah sudah memenuhi hati Endang Patibroto, matanya berkilat- kilat dan ia mulai ragu-ragu akan kebersihan Pangeran Darmokusumo. Memang semenjak kerajaan dibagi dua, selalu timbul ketegangan di antara kedua kerajaan bersaudara, bahkan dahulu sampai terjadi permusuhan, peperangan. Bukan tak bisa jadi kalau Pangeran Darmokusumo bercita-cita seperti itu, mempersatukan dua kerajaan, kalau perlu dengan kekerasan.
"Jangan coba menipu aku, wiku keparat. Pangeran Darmokusumo tidak mungkin suka membunuhi ponggawa- ponggawa Panjalu sendiri..........!”
"Uuuuh, itulah kebodohanmu! Ponggawa-ponggawa yang terbunuh itu, seperti Tumenggung Diroprono, Senopati Surabala putera Patih Suroyudo, termasuk mereka yang menentang cita-cita Pangeran Darmokusumo, maka harus mati. Pangeran Darmokusumo sendiri yang memesan kepadaku untuk jangan sampai gagal membunuh engkau dan suamimu, heh-heh-heh, dan sekarang cita-cita beliau itu akan terlaksana..........!”
"Iblis laknat engkau, bukan aku, melainkan engkau yang akan mampus mendahului Darmokusumo!" Kemarahan Endang Patibroto tak tertahankan lagi. Kini ia makin percaya bahwa benar-benar Pangeran Darmokusumo hendak memberontak, dan lebih menjengkelkan lagi, berniat membunuh dia dan suaminya, kakak ipar pangeran itu sendiri. Alangkah keji dan jahatnya. Tak boleh ia mendiamkan saja. Pangeran itu harus diseret di muka umum, dihajar dan dipaksa mengakui semua rencana pemberontakannya. Dalam amarah, ia sudah mengeluarkan aji kesaktiannya, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, hawa sakti terkumpul di tubuh, berputaran merupakan hawa panas yang menjalar dan berputar-putar dari ujung kaki sampai di ubun-ubun kepala. Ia sudah siap menandingi kakek sakti ini. Sambil terkekeh-kekeh Wiku Kalawisesa mengangkat tongkat hitamnya sambil mengeluarkan bunyi mencicit seperti suara kelelawar dan......, tiga benda hitam tiba-tiba terbang menyambar kepala Endang Patibroto.. itulah tiga ekor kelelawar yang sejak tadi menggantung di bawah. Mereka ini menerjang Endang Patibroto, di bawah sinar pelita yang remang-remang itu tampak mata binatang-binatang ini merah bersinar-sinar, mulut terbuka memperlihatkan gigi yang runcing, kuku-kuku melengkung terbuka siap mencakar. Apa artinya serangan tiga ekor kelelawar bagi Endang Patibroto? Biarpun tiga ekor kelelawar itu besar-besar, sebesar kucing, namun tanpa merubah kedudukan kaki, hanya dengan gerakan tangan kiri saja tanpa menggerakkan tangan kanan yang bertolak pinggang, Endang Patibroto berhasil menampar tiga kali berturut-turut, amat cepat gerakannya dan tiga ekor kelelawar itu mencelat, terlempar dan terbanting pada dinding pondok! Akan tetapi, tiga ekor binatang itu sudah terbang lagi menyambar, seakan-akan pukulan dan bantingan itu tidak mereka rasakan sama sekali. Endang Patibroto terkejut, tamparan tangannya tadi cukup keras untuk membikin pecah kepala kerbau, bagaimana tiga ekor kelelawar itu hanya terlempar dan agaknya sama sekali tidak terluka? Ia mendengar kakek itu terkekeh dan kini, bersama tiga ekor kelelawarnya, kakek itu sudah menyerangnya dengan tusukan tongkat hitam ke arah dadanya.

Endang Patibroto lega melihat betapa gerakan menusuk kakek itu tidak amat cepat, sungguhpun amat kuat. Mengertilah ia bahwa betapapun sakti kakek ini, namun dalam hal ilmu silat tidaklah tangguh. Kakek ini hanya mengandalkan keampuhan aji ilmu hitam dan tenaga mujijatnya saja. Dengan mudah ia mengelak sambil melangkah mundur, kemudian merendahkan tubuhnya membiarkan tiga ekor kelelawar menyambar lewat, kemudian dengan Aji Bayu Tantra tubuhnya mencelat ke depan, cepatnya melebihi seekor burung, dan tangannya sudah mengandung Aji Gelap Musti ketika dipukulkan ke dada Sang Wiku Kalawisesa.
"Dessss..........!!!"
Pukulan ini tepat sekali, mengenai dada yang hanya tulang-tulang dibungkus kulit. Endang Patibroto dapat merasa betapa kepalan tangannya bertemu dengan tulang- tulang iga. Akan tetapi anehnya, ada semacam hawa dingin yang menolak pukulannya, atau yang melindungi tulang-tulang itu sehingga tulang-tulangnya tidak remuk, hanya tubuh kakek itu yang terlempar ke dinding, dekat arca Bathara Kala.
"Aduuhhh.......... aduuhhh.......... aduuhhh.... ...... !"
Kakek itu mengeluh panjang pendek dan begitu tongkatnya menuding ke arah Endang Patibroto, segumpal asap hitam menyambar. Asap ini tebal dan membawa bau apak seperti bau kelelawar. Endang Patibroto miringkan tangan dan menampar dengan jari-jari terbuka, jari-jari yang mengandung Aji Pethit Nogo.
"Pyurrr..........II" Asap hitam yang bergulung tebal itu ambyar mawut, membubung ke atas, menerobos atap hitam dan lenyap. Ketika itu, tiga ekor kelelawar sudah menyambar lagi, lebih ganas daripada tadi. Endang Patibroto menjadi gemas, dua ekor dapat ia pukul terpental, yang seekor, paling besar dan yang tadi mengelilingi rumahnya, ia tangkap. Kedua tangannya bergerak, mencengkeram sayap dan.......... "krek-krekkkk ...... !" sepasang sayap binatang itu hancur berkeping-keping, dlcabik-cabiknya, kemudian tubuh binatang itu dibantingnya ke lantai. Tubuh yang sudah tak bersayap itu terbanting, terpental, terbanting lagi seperti sebuah bola, kemudian menggelundung ke sudut, mengeluarkan bunyi mencicit aneh seperti orang mengerang dalam sekarat. Binatang itu tidak mati, agaknya memiliki kekebalan luar biasa akan tetapi tidak berdaya lagi karena sepasang sayapnya sudah hancur. Yang dua lagi datang menyambar. Endang Patibroto kembali menangkap mereka, merobek-robek sayap mereka dan membanting tubuh mereka seperti tadi. Dua ekor kelelawar inipun terguling ke sudut pondok,tak dapat menyerang lagi.

Dengan pandang mata mulai beringas, semangat dan kegembiraan bertanding mulai menggairah di hatinya, Endang Patibroto membalikkan tubuh, mencari Wiku Kalawisesa. Dilihatnya kakek itu berlutut memeluk kaki arca, mengeluarkan ucapan-ucapan mantera yang tak dimengerti maksudnya. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika ia melihat sepasang mata arca itu. Dari sepasang mata itu keluar sinar kehijauan yang hebat dan menyilaukan mata. Tanpa disadari Endang Patibroto memandang sepasang mata arca itu dan ia seperti orang kena pesona, tubuhnya menjadi kaku dan ia tak dapat mengalihkan pandang matanya daripada sinar mata hijau yang melekat pandang matanya itu. Pada saat itu, perlahan-lahan Wiku Kalawisesa sudah bangkit dari berlutut, tertawa terkekeh-kekeh dan terhuyung-huyung menghampiri Endang Patibroto. Tangan kirinya mencabut keris kecil sejengkal, tangan kanan mengangkat tongkat hitam tinggi-tinggi di atas kepala.
"Heh-heh-heh,..........hi-hi-hih, bersiaptah mati kau Endang Patibroto.......... ha-ha!"
Endang hendak meloncat, tapi kedua kakinya seperti lekat pada tanah, hendak menggerakkan tangan akan tetapi kedua lengannya seperti lumpuh, hendak membuang muka tapi tak mampu melepaskan sinar hijau itu. Matanya perih dan lelah, amat lelah, mengantuk dan nikmat seperti kalau ia berada dalam dekapan suaminya. Suaminya! Tentu celaka kalau ia tidak segera menyelamatkan diri daripada pengaruh kekuatan mujijat. Suaminya yang tercinta! Endang Patibroto melihat dengan perasaannya bahwa Wiku Kalawisesa sudah datang dekat, ujung keris sudah makin dekat, siap menusuknya. Ia mengerahkan segala tenaga batinnya, membayangkan wajah gurunya Dibyo Mamangkoro yang tertawa terbahak-bahak, kemudian bagaikan sebuah bendungan air yang pecah, terdengar mulutnya mengeluarkan suara jerit melengking yang sama sekali tidak menyerupai jerit manusia, melainkan lebih mirip pekik auman harimau betina.
"Aaauuuuuhhhhhmmmmm..........!!!"
Luar biasa sekali pekik ini, karena ini bukan sembarang pekik, melainkan Aji Sardulo Bairowo yang suaranya mampu melumpuhkan lawan yang tangguh.

<<< Bagian 004                                                                                   Bagian 006 >>>

No comments:

Post a Comment