Bagian 006


Akibatnyapun hebat karena tiga ekor kelelawar yang tadinya mencicit-cicit belum mati, sekarang berkelojotan, kaku dan..... mati. Kakek sakti Wiku Kalawisesa yang tadinya sudah menyeringai kejam, siap menusuk dada dan menghantam kepala Endang Patibroto seketika menjadi pucat dan terhuyung ke belakang, ke dekat arca Bathara Kala. Akan tetapi yang amat menguntungkan bagi Endang Patibroto, pengaruh mujijat yang mempesonakannya tadi telah buyar, tidak mengikatnya lagi sehingga ia mampu bergerak seperti biasa. la maklum akan bahayanya sinar hijau dari mata arca itu, dan ia tahu bahwa ia tidak boleh terlalu lama memandang sinar mata hijau itu. Ia meloncat ke depan dan menantang.
"Hayoh, Wiku Kalawisesa dukun lepus pendeta sesat, kerahkan seluruh kesaktianmu! Inilah Endang Patibroto yang takkan mundur setapak menandingimu. Akulah orangnya yang akan menamatkan riwayatmu yang kotor, mengirimmu ke asalmu menjadi inti api neraka!" Sumbar seperti ini sama sekali bukan terdorong oleh kesombongan, melainkan sebuah di antara taktik-taktik pertandingan, karena sedikit banyak dapat melemahkan batin lawan, menimbulkan takut dan ragu. Padahal, pantangan bagi orang yang menghadapi lawan berat adalah ragu dan gentar, yang dapat mengurangi kewaspadaan.

Wiku Kalawisesa yang sudah amat kecewa karena kemenangan yang sudah di depan mata itu meleset dan gagal, sedikit banyak menjadi gentar juga. Ia tahu apa artinya pekik dahsyat tadi. Seorang yang sudah dapat memiliki aji seperti itu, bukanlah orang sembarangan. Aji itu tidaklah mudah dipelajari, membutuhkan kematangan tenaga dalam dan harus pandai mengatur dan menguasai "getaran". Akan tetapi, teringat akan hikmat arca pujaannya yang lebih ia percaya daripada segala apa di dunia ini, bahkan melebihi dirinya sendiri, bangkit kembali semangat kakek itu. Kini ia menerjang maju, gerakannya tidak cepat, tidak tergesa-gesa, bahkan perlahan-lahan seperti orang mengancam. Yang mengejutkan hati Endang Patibroto adalah keris kecil sejengkal itu. Dari keris ini memancar keluar sinar hijau yang mempengaruhinya seperti yang terpancar keluar dari sepasang mata arca Bathara Kala! Ia mundur-mundur dan mengambil kuda- kuda yang kuat untuk menghadapi lawan.
"Heh-heh-heh, kau takut, bocah sombong? Kau takut, ya? Heh-heh, kau akan mati di ujung kerisku ini!" kata Wiku Kalawisesa yang dapat melihat lawannya agak gentar menghadapi kerisnya.
"Inilah keris pusaka Ki Kolokenaka! Inilah yang membunuh semua ponggawa, dan ini pula yang akan membunuhmu, lalu membunuh suamimu. Heh-heh!"
Hemm, keras ini berbahaya, pikir Endang Patibroto. Ia siap menanti terjangan lawan, awas terhadap kerisnya. Ia harus dapat menghalau keras itu, harus dapat merampasnya! Ia mundur-mundur memasang sikap, kedua tumitnya berjungkit, lengan kira ditekuk menyilang depan dada, tangan kanan diangkat tinggi di atas kepala, semua jari tangan terbuka. Inilah gerak pembukaan Aji Wisang Nala! Tubuhnya dimasuki aji meringankan tubuh yang dulu ia pelajari dari ibunya, gerakan yang mengandung sari gerakan burung walet dan camar di Laut Kidul. Seluruh urat syaraf menggetar, siap dengan gerakan otomatis yang mendarah daging. Serangan datang dengan tusukan keris disusul hantaman tongkat. Dahsyat sekali.
"Siuuutt.......... wussss..........!" Wiku Kalawisesa gelagapan. Tahu-tahu lawannya lenyap. la cepat membalik menurutkan gerak reflex dan perasaan, ternyata lawannya sudah berada di belakangnya! Ia lalu menyerang bertubi-tubi, kini cepat karena maklum bahwa lawannya ini memiliki gerakan cepat sekali melebihi burung walet. Endang Patibtoto melejit ke sana ke sini, gerakannya cepat sekali, namun diam-diam ia mengeluh karena sinar hljau keris itu benar-benar ampuh sekali, seakan-akan menghalangi gerakannya, membuat ia silau dan canggung. Ketika untuk ke sekian kalinya tongkat menghantam ke arah kepala, ia miringkan tubuh membiarkan tongkat lewat di dekat pundak, kemudian secepat kilat ia menangkap dengan tangan kanannya pergelangan tangan kiri lawan yang memegang keris. Ia harus merampas keris ampuh ini, sebelum ia celaka! Dengan pengerahan tenaga sakti, jari-jari tangan kanan yang penuh dengan Aji Pethit Nogo ini mencengkeram pergelangan tangan lawan. Aji Pethit Nogo adalah aji ciptaan eyangnya, ayah dari ibunya, yang bernama Resi Bhargowo atau Bhagawan Rukmoseto. Hebatnya bukan kepalang. Dengan aji ini, tangan yang halus itu dapat meremas hancur batu karang yang kuat! Kini ia mencengkeram pergelangan tangan Wiku Kalawisesa, tak mau melepaskannya lagi. Sang wiku mengaduh-aduh, memekik-mekik berusaha melepaskan cengkeraman, namun sia-sia. Dengan marah tongkatnya menyambar kepada Endang Patibroto, mengarah kepala, dari atas ke bawah. Endang Patibroto tidak mau melepaskan cengkeramannya, bahkan menambah tenaganya, sambil miringkan tubuh.
"Krekkkk..........! Dessss..........!!" Bersamaan detik terjadinya! Pergelangan kiri Wiku Kalawisesa hancur tulangnya, dan keris Ki Kolokenaka terampas oleh Endang Patibroto, akan tetapi pukulan tongkat hitam itu meleset dan mengenai pundak wanita sakti ini. Endang Patibroto terlempar menabrak arca Bathara Kala. Ia pening, pundaknya seperti remuk, membuat lengan kirinya sementara lumpuh. Ia bersandar kepada arca, terengah-engah.
"Augg.......... aduhh.......... tanganku.........” Wiku Kalawisesa mengaduh-aduh, menyumpah-nyumpah, kemudian melangkah maju, mengayun tongkat. Endang Patibroto maklum akan datangnya bahaya, berusaha mengelak, akan tetapi.......... tubuhnya tak dapat digerakkan. Punggungnya yang menempel arca seperti lekat pada arca atau seolah-olah ada tenaga mujijat yang keluar dari tubuh arca itu yang menahannya! Tongkat sudah datang, mengarah kepalanya! Endang Patibroto meronta, dapat bergerak miring, namun pundaknya masih lekat. Terpaksa ia mengangkat lengan kanannya yang memegang keris, menangkis tongkat dengan lengannya sambil mengerahkan tenaga dalam yang didasari hawa sakti yang kuat.
"Duk.......... Wiku Kalawisesa terpental mundur, terhuyung-huyung ke belakang. Lengan kiri yang sudah remuk tulangnya itu tergantung lumpuh. Ia marah sekali, matanya mendelik marah, mulutnya mengeluarkan busa di kanan kiri, hidungnya yang panjang dan melengkung seperti hidung betet itu mekar, mendengus-dengus. Kemudian ia mengerahkan seluruh tenaga, perlahanlahan mengangkat tongkat ke atas kepala, tidak tergesa-gesa karena calon korbannya sudah tak berdaya, tak mampu melepaskan diri dari arca, seperti seekor lalat yang terjaring lekat di jala sarang laba-laba. Ia tidak tergesa-gesa, harus memukul yang tepat, sekali pukul membinasakan lawan. Terbelalak Endang Patibroto memandang. Maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya, karena tubuhnya tak dapat terlepas dari arca, akhirnya ia tentu akan kena pukul. Wanita sakti ini memutar otak, mengingat ucapan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Hancurkan dahulu kesaktian arca Bathara Kala, baru kesaktian pemujanya akan punah, demikian pesan gurunya. la melirik ke atas, tampak betapa sinar kehijauan yang memancar keluar dari sepasang mata arca itu makin terang bercahaya, seakan-akan mengeluarkan api hijau. Dan keris di tangannyapun makin terang cahayanya. Ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya, bibirnya berkemak-kemik membaca mantera seperti yang diajarkan gurunya untuk melawan kekuasaan ilmu hitam yang ampuh, kemudian.......... secepat kilat keris di tangan kanannya bergerak, menusuk mata arca itu, dua kali berturut-turut pada sepasang mata yang bercahaya hijau.
"Cesss..........! Cesss..........!!" Terdengar suara seperti api tersiram air dan tampak asap putih tebal bergulung-gulung keluar dari sepasang mata arca! Dan.......... sinar hijau lenyap, baik dari kedua mata maupun dari keris kecil. Saat itu, tongkat di tangan Wiku Kalawisesa sudah melayang datang, akan tetapi tiba-tiba terhenti di tengah jalan dan mata kakek itu terbelalak memandang patung, mulutnya celangap dan keluar rintihan dan tangisan dari dalam mulut. Endang Patibroto menggerakkan tubuh, kini tidak ada lagi kekuasaan hitam menahannya. la meloncat dan melempar keris kecil ke sudut, tangannya dikepal dan dengan tenaga dahsyat ia menghantam ke arah.......... kepala arca.
"Darrr..........!" Kepala itu meledak hancur berkeping-keping dihantam tangan sakti dengan Aji Gelap Musti, seakan-akan disambar geledek. Dan pada saat itu, perut patung yang besar, berikut kaki tangannya, mengeluarkan bunyi gemuruh seperti Gunung Bromo mengamuk. Endang Patibroto mencelat mundur dan cepat melesat keluar pondok pada saat tubuh patung meledak.
"Blaaarrrr..........ill" Pondok itu hancur, atapnya terbang entah ke mana, dinding bambu hancur berkeping-keping.

Tubuh Wiku Kalawisesa terlempar keluar pondok, jatuh terbanting bergulingan. Kakek itu mengaduh tubuhnya sakit-sakit. Namun ia memiliki kekebalan sehingga tidak terluka hebat. Dengan satu lengannya yang masih waras, ia memegang tongkat hitam, ia merangkak bangun dan berdiri. Lengan kirinya tetap lumpuh, pergelangan yang remuk tulangnya mulal menggembung besar. Wajahnya pucat, matanya beringas, kemarahan dan kedukaan bercampur dengan rasa takut ketika ia melihat Endang Patibroto melangkah menghampirinya sambil tersenyum. Senyum yang dingin, sedingin tengkuknya yang meremang karena gentar.
"Engkau masih belum mati, Wiku Kalawisesa? Mari kita selesaikan."
Habis harapan Wiku Kalawisesa. Ia takut sekali dan karena tidak melihat jalan keluar, ia menjadi nekat. Sambil menggereng macam serigala tersudut, ia menubruk maju, tongkatnya menghantam. Akan tetapi dengan tenang Endang Patibroto menanti sampai tongkat dekat, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya miring, kakinya digeser lalu melangkah maju dari samping, tangan kanannya menyambar dan
"Desss.......... lengan kanan kakek itu terpukul dari samping, membuat tongkatnya terlempar entah ke mana. Kemudian sebuah tamparan tangan kiri Endang Patibroto disertai Aji Pethit Nogo membuat kakek itu terpekik dan terbanting roboh, terengah-engah, tangan kanan memegangi kepala yang disambar geledek, napasnya hampir putus. Ia merangkak duduk, berusaha bangkit akan tetapi tidak kuat dan ambruk terduduk lagi.
"Keparat.........., Endang Patibroto, sempurnakanlah (bunuhlah) aku..........!!!” Endang Patibroto tersenyum menyindir.
"Terlalu nyaman bagimu. Kau harus merasakan hasil perbuatanmu yang terkutuk!" Endang lalu membungkuk, mengambil sekepal tanah lempung, dikepal-kepal agar lunak sambil memandang lawan, bibirnya masih tersenyum manis akan tetapi pandang matanya dingin. Kakek itu mengangkat muka, melihat wanita itu, terbelalak matanya.
"Apa.......... apa yang akan kau lakukan...?”
"Seperti apa yang kau lakukan terhadap suamiku, terhadap ponggawa-ponggawa lainnya."
Pucat wajah Wiku Kalawisesa, kemudian la terkekeh menutupi rasa ngerinya.
"He-he-heh, kau takkan mampu...... "
Endang Patibroto tak menjawab, melainkan duduk di atas tanah, tiga meter jauhnya dari kakek yang ketakutan, duduk bersila sambil membentuk lempung itu menjadi boneka, boneka yang menyerupai Wiku Kalawisesa. Setelah jadi, tiba-tiba saja tubuhnya dengan masih bersila mencelat ke arah kakek itu yang merasa kepalanya sakit dan sekali lagi Endang Patibroto berkelebat, kembali ke tempat semula dalam keadaan duduk bersila, segumpal rambut kakek itu di tangannya. Wiku Kalawisesa tercengang kagum. Ah, dia tidak tahu diri, pikirnya. Dia terlalu memandang rendah wanita ini. Pantas saja adik seperguruannya, Cekel Aksomolo tewas di tangan wanita ini, dan diapun tentu akan tewas. Kiranya wanita ini sedemikian saktinya. Dapat melompat dalam keadaan duduk adalah perbuatan yang langka bagi orang yang tidak memiliki kesaktian tinggi sekali. Ia tidak penasaran lagi kalau roboh di tangan wanita sakti ini. Hanya rasa penasaran karena tidak tercapai maksudnya membalas dendam. Akan tetapi, ia tidak kehilangan kecerdikannya dan kembali ia terkekeh. Siapa bilang tidak tercapai maksudnya? Tunggulah saja kau, Endang Patibroto, pembalasanku akan tiba juga!

Akan tetapi suara ketawanya lenyap ditelan kengerian ketika ia melihat Endang Patibroto mencabut tusuk konde. Rambutnya sudah dipasangkan pada boneka itu. Endang Patibroto bersila dan bersamadhi sebentar, meramkan mata, mulut masih tersenyum, kemudian tubuhnya gemetar dan mata dibuka, ia menggerakkan tusuk konde mendekati kaki kanan boneka.
"Jaga kaki kananmu, Wiku Kalawisesa"
"Kau takkan mampul" kakek itu mendengus marah.
"Kau lihat saja. Rasakanlah!" Tusuk konde ditusukkan ke paha kaki kanan boneka. Sang wiku mengerahkan kesaktian menolak. Endang Patibroto merasa betapa kaki boneka itu mengeras, akan tetapi iapun mengerahkan kesaktian, terus menusuk. Setelah mengadu kekuatan batin, akhirnya..........
"Blesssl" paha kanan boneka itu tertusuk dan darah mengucur keluar.
"Aaaugggghh.........." Wiku Kalawisesa mengaduh, tangan kanan yang masih dapat bergerak memegangi paha kanannya yang bercucuran darah.
"Sekarang paha kiri, wiku bedebah, manusia berhati iblis" Kembali Endang Patibroto menusuk, kali ini lawannya tidak menahan karena maklum akan sia-sia usahanya itu.
"Blessss " Dan paha kiri boneka itu tertusuk, berdarah seperti juga paha kanan Wiku Kalawisesa.

<<< Bagian 005                                                                                    Bagian 007 >>>

No comments:

Post a Comment