Akibatnyapun hebat karena tiga ekor kelelawar yang tadinya mencicit-cicit belum mati, sekarang berkelojotan, kaku dan..... mati. Kakek sakti Wiku Kalawisesa yang tadinya sudah menyeringai kejam, siap menusuk dada dan menghantam kepala Endang Patibroto seketika menjadi pucat dan terhuyung ke belakang, ke dekat arca Bathara Kala. Akan tetapi yang amat menguntungkan bagi Endang Patibroto, pengaruh mujijat yang mempesonakannya tadi telah buyar, tidak mengikatnya lagi sehingga ia mampu bergerak seperti biasa. la maklum akan bahayanya sinar hijau dari mata arca itu, dan ia tahu bahwa ia tidak boleh terlalu lama memandang sinar mata hijau itu. Ia meloncat ke depan dan menantang.
"Hayoh, Wiku Kalawisesa dukun lepus pendeta sesat,
kerahkan seluruh kesaktianmu! Inilah Endang Patibroto yang takkan mundur setapak menandingimu. Akulah orangnya yang
akan menamatkan riwayatmu yang kotor, mengirimmu ke asalmu menjadi inti api neraka!" Sumbar seperti ini sama sekali bukan terdorong oleh kesombongan, melainkan sebuah di antara taktik-taktik
pertandingan, karena sedikit banyak dapat melemahkan batin lawan,
menimbulkan takut dan ragu. Padahal,
pantangan bagi orang yang menghadapi lawan berat adalah ragu dan gentar, yang dapat mengurangi kewaspadaan.
Wiku Kalawisesa yang sudah amat kecewa karena kemenangan yang sudah di depan mata itu meleset dan gagal, sedikit banyak menjadi gentar
juga. Ia tahu apa artinya pekik
dahsyat tadi. Seorang yang sudah dapat memiliki aji seperti itu, bukanlah orang
sembarangan. Aji itu tidaklah mudah
dipelajari, membutuhkan kematangan tenaga dalam dan harus pandai mengatur dan menguasai "getaran". Akan
tetapi, teringat akan hikmat arca
pujaannya yang lebih ia percaya daripada
segala apa di dunia ini, bahkan melebihi dirinya sendiri, bangkit
kembali semangat kakek itu.
Kini ia menerjang maju, gerakannya
tidak cepat, tidak tergesa-gesa, bahkan
perlahan-lahan seperti orang mengancam. Yang mengejutkan hati Endang Patibroto adalah keris kecil sejengkal itu. Dari keris ini memancar keluar sinar hijau yang mempengaruhinya
seperti yang terpancar keluar dari sepasang mata arca Bathara Kala! Ia mundur-mundur dan
mengambil kuda- kuda yang kuat untuk
menghadapi lawan.
"Heh-heh-heh, kau takut, bocah sombong? Kau takut, ya? Heh-heh, kau akan mati di ujung kerisku ini!" kata Wiku Kalawisesa yang dapat melihat lawannya agak gentar
menghadapi kerisnya.
"Inilah keris pusaka Ki Kolokenaka! Inilah yang
membunuh semua ponggawa, dan ini pula yang akan membunuhmu, lalu membunuh suamimu. Heh-heh!"
Hemm, keras ini berbahaya, pikir Endang Patibroto. Ia siap menanti terjangan lawan, awas terhadap kerisnya. Ia harus dapat menghalau keras itu, harus dapat merampasnya! Ia mundur-mundur memasang sikap, kedua
tumitnya berjungkit, lengan kira ditekuk menyilang depan
dada, tangan kanan diangkat tinggi
di atas kepala, semua jari tangan
terbuka. Inilah gerak pembukaan Aji Wisang Nala! Tubuhnya dimasuki
aji meringankan tubuh yang
dulu ia pelajari dari ibunya, gerakan
yang mengandung sari gerakan burung walet dan camar di Laut Kidul.
Seluruh urat syaraf menggetar, siap
dengan gerakan otomatis yang mendarah daging. Serangan datang
dengan tusukan keris disusul hantaman tongkat. Dahsyat sekali.
"Siuuutt.......... wussss..........!" Wiku Kalawisesa gelagapan. Tahu-tahu lawannya lenyap. la cepat membalik menurutkan gerak reflex dan perasaan, ternyata lawannya
sudah berada di belakangnya! Ia
lalu menyerang bertubi-tubi, kini cepat karena maklum bahwa lawannya ini memiliki gerakan cepat sekali melebihi
burung walet. Endang Patibtoto melejit
ke sana ke sini, gerakannya cepat
sekali, namun diam-diam ia mengeluh karena sinar hljau keris itu benar-benar ampuh sekali, seakan-akan menghalangi gerakannya,
membuat ia silau dan canggung.
Ketika untuk ke sekian kalinya tongkat menghantam ke arah kepala, ia
miringkan tubuh membiarkan tongkat lewat di dekat pundak, kemudian secepat
kilat ia menangkap dengan
tangan kanannya pergelangan tangan kiri lawan yang memegang keris. Ia
harus merampas keris ampuh ini,
sebelum ia celaka! Dengan pengerahan tenaga sakti, jari-jari tangan
kanan yang penuh dengan Aji Pethit Nogo ini mencengkeram pergelangan tangan
lawan. Aji Pethit Nogo adalah aji ciptaan eyangnya, ayah dari ibunya, yang bernama Resi
Bhargowo atau Bhagawan Rukmoseto. Hebatnya
bukan kepalang. Dengan aji
ini, tangan yang halus itu dapat meremas hancur
batu karang yang kuat! Kini ia mencengkeram pergelangan tangan Wiku Kalawisesa, tak mau melepaskannya lagi. Sang wiku mengaduh-aduh,
memekik-mekik berusaha melepaskan cengkeraman, namun sia-sia. Dengan marah tongkatnya menyambar kepada Endang Patibroto, mengarah kepala, dari atas ke bawah. Endang
Patibroto tidak mau melepaskan
cengkeramannya, bahkan menambah tenaganya, sambil
miringkan tubuh.
"Krekkkk..........! Dessss..........!!" Bersamaan detik terjadinya! Pergelangan kiri Wiku
Kalawisesa hancur tulangnya, dan keris Ki Kolokenaka terampas oleh Endang Patibroto, akan tetapi pukulan tongkat hitam itu meleset dan mengenai pundak
wanita sakti ini. Endang Patibroto terlempar menabrak
arca Bathara Kala. Ia pening, pundaknya seperti remuk,
membuat lengan kirinya sementara lumpuh. Ia bersandar
kepada arca, terengah-engah.
"Augg..........
aduhh.......... tanganku.........” Wiku Kalawisesa mengaduh-aduh,
menyumpah-nyumpah, kemudian melangkah maju, mengayun tongkat. Endang Patibroto maklum
akan datangnya bahaya, berusaha
mengelak, akan tetapi.......... tubuhnya
tak dapat digerakkan. Punggungnya yang
menempel arca seperti lekat pada arca atau seolah-olah ada tenaga mujijat yang keluar dari tubuh arca itu yang menahannya! Tongkat
sudah datang, mengarah kepalanya! Endang Patibroto meronta,
dapat bergerak miring, namun pundaknya masih lekat. Terpaksa ia
mengangkat lengan kanannya yang memegang keris, menangkis tongkat
dengan lengannya sambil
mengerahkan tenaga dalam yang
didasari hawa sakti yang kuat.
"Duk.......... Wiku
Kalawisesa terpental mundur, terhuyung-huyung
ke belakang. Lengan kiri yang
sudah remuk tulangnya itu tergantung
lumpuh. Ia marah sekali, matanya mendelik
marah, mulutnya mengeluarkan busa
di kanan kiri, hidungnya yang
panjang dan melengkung seperti hidung betet itu mekar, mendengus-dengus.
Kemudian ia mengerahkan seluruh
tenaga, perlahanlahan mengangkat tongkat ke atas
kepala, tidak tergesa-gesa karena
calon korbannya sudah tak berdaya, tak mampu melepaskan diri dari arca, seperti seekor lalat yang terjaring lekat di jala
sarang laba-laba. Ia tidak
tergesa-gesa, harus memukul yang tepat, sekali pukul membinasakan lawan. Terbelalak Endang Patibroto memandang. Maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya, karena tubuhnya tak dapat terlepas dari arca, akhirnya ia tentu akan kena pukul. Wanita sakti
ini memutar otak, mengingat ucapan
gurunya, Dibyo Mamangkoro. Hancurkan
dahulu kesaktian arca Bathara Kala,
baru kesaktian pemujanya akan punah, demikian pesan gurunya. la melirik ke atas,
tampak betapa sinar kehijauan yang
memancar keluar dari sepasang mata arca itu makin terang bercahaya,
seakan-akan mengeluarkan api hijau.
Dan keris di tangannyapun makin
terang cahayanya. Ia mengerahkan seluruh
tenaga batinnya, bibirnya berkemak-kemik membaca
mantera seperti yang diajarkan gurunya untuk
melawan kekuasaan ilmu hitam yang ampuh, kemudian.......... secepat
kilat keris di tangan kanannya bergerak, menusuk
mata arca itu, dua kali berturut-turut
pada sepasang mata yang
bercahaya hijau.
"Cesss..........! Cesss..........!!" Terdengar suara seperti api
tersiram air dan tampak asap putih
tebal bergulung-gulung keluar dari sepasang
mata arca! Dan.......... sinar
hijau lenyap, baik dari kedua mata
maupun dari keris kecil. Saat itu, tongkat di
tangan Wiku Kalawisesa sudah melayang datang,
akan tetapi tiba-tiba terhenti di tengah jalan dan mata kakek itu
terbelalak memandang patung, mulutnya celangap dan keluar
rintihan dan tangisan dari dalam mulut. Endang Patibroto menggerakkan tubuh, kini tidak ada lagi kekuasaan hitam menahannya. la
meloncat dan melempar keris kecil ke
sudut, tangannya dikepal dan dengan tenaga dahsyat ia menghantam ke arah.......... kepala arca.
"Darrr..........!" Kepala itu meledak hancur berkeping-keping dihantam tangan sakti dengan Aji Gelap Musti, seakan-akan disambar geledek. Dan pada saat itu, perut patung yang besar, berikut kaki tangannya, mengeluarkan bunyi gemuruh seperti Gunung Bromo mengamuk. Endang Patibroto mencelat mundur dan
cepat melesat keluar pondok pada
saat tubuh patung meledak.
"Blaaarrrr..........ill" Pondok itu hancur, atapnya terbang
entah ke mana, dinding bambu hancur
berkeping-keping.
Tubuh Wiku Kalawisesa terlempar
keluar pondok, jatuh terbanting bergulingan. Kakek itu mengaduh tubuhnya
sakit-sakit. Namun ia memiliki kekebalan sehingga tidak
terluka hebat. Dengan satu lengannya yang masih waras, ia memegang tongkat hitam, ia merangkak bangun dan berdiri. Lengan kirinya tetap lumpuh, pergelangan yang remuk tulangnya mulal
menggembung besar. Wajahnya pucat, matanya beringas, kemarahan dan
kedukaan bercampur dengan rasa takut ketika ia melihat
Endang Patibroto melangkah menghampirinya sambil
tersenyum. Senyum yang dingin,
sedingin tengkuknya yang meremang karena gentar.
"Engkau masih belum mati, Wiku Kalawisesa? Mari kita selesaikan."
Habis harapan Wiku Kalawisesa. Ia takut sekali dan karena tidak melihat jalan keluar, ia
menjadi nekat. Sambil menggereng macam serigala tersudut, ia
menubruk maju, tongkatnya menghantam. Akan tetapi dengan tenang Endang Patibroto menanti
sampai tongkat dekat,
kemudian secara tiba-tiba tubuhnya miring,
kakinya digeser lalu melangkah maju dari samping, tangan
kanannya menyambar dan
"Desss.......... lengan kanan kakek itu terpukul dari samping, membuat tongkatnya terlempar entah ke mana. Kemudian sebuah tamparan tangan kiri Endang Patibroto
disertai Aji Pethit Nogo
membuat kakek itu terpekik dan terbanting roboh, terengah-engah, tangan
kanan memegangi kepala yang disambar geledek,
napasnya hampir putus. Ia merangkak duduk,
berusaha bangkit akan tetapi tidak kuat dan ambruk
terduduk lagi.
"Keparat.........., Endang Patibroto, sempurnakanlah (bunuhlah) aku..........!!!”
Endang Patibroto tersenyum menyindir.
"Terlalu nyaman bagimu. Kau harus merasakan hasil perbuatanmu yang terkutuk!" Endang lalu membungkuk, mengambil sekepal tanah lempung, dikepal-kepal agar lunak sambil memandang lawan, bibirnya masih tersenyum manis
akan tetapi pandang matanya dingin.
Kakek itu mengangkat muka, melihat wanita
itu, terbelalak matanya.
"Apa.......... apa yang akan kau lakukan...?”
"Seperti apa yang kau lakukan terhadap
suamiku, terhadap ponggawa-ponggawa
lainnya."
Pucat wajah Wiku Kalawisesa, kemudian
la terkekeh menutupi rasa
ngerinya.
"He-he-heh, kau takkan mampu...... "
Endang Patibroto tak menjawab, melainkan duduk di
atas tanah, tiga meter jauhnya dari
kakek yang ketakutan, duduk bersila sambil
membentuk lempung itu menjadi boneka, boneka yang menyerupai Wiku Kalawisesa. Setelah jadi, tiba-tiba saja tubuhnya dengan
masih bersila mencelat ke arah kakek
itu yang merasa kepalanya sakit dan sekali lagi Endang Patibroto berkelebat, kembali ke tempat
semula dalam keadaan duduk bersila, segumpal rambut kakek itu di tangannya. Wiku Kalawisesa tercengang kagum. Ah, dia tidak tahu diri, pikirnya. Dia terlalu memandang rendah
wanita ini. Pantas saja adik seperguruannya,
Cekel Aksomolo tewas di
tangan wanita ini, dan diapun tentu akan tewas. Kiranya wanita ini sedemikian saktinya. Dapat melompat dalam keadaan duduk adalah perbuatan yang langka bagi orang yang tidak memiliki kesaktian tinggi sekali. Ia
tidak penasaran lagi kalau roboh di
tangan wanita sakti ini. Hanya rasa penasaran
karena tidak tercapai maksudnya membalas dendam. Akan tetapi, ia tidak
kehilangan kecerdikannya dan kembali ia terkekeh. Siapa bilang tidak tercapai maksudnya? Tunggulah saja kau,
Endang Patibroto, pembalasanku akan
tiba juga!
Akan tetapi suara ketawanya lenyap ditelan kengerian ketika ia melihat
Endang Patibroto mencabut tusuk konde. Rambutnya sudah dipasangkan pada boneka itu. Endang Patibroto bersila dan
bersamadhi sebentar, meramkan
mata, mulut masih tersenyum, kemudian tubuhnya
gemetar dan mata dibuka, ia menggerakkan tusuk konde mendekati kaki
kanan boneka.
"Jaga kaki kananmu, Wiku Kalawisesa"
"Kau takkan
mampul" kakek itu mendengus marah.
"Kau lihat saja.
Rasakanlah!" Tusuk konde
ditusukkan ke paha kaki kanan boneka. Sang
wiku mengerahkan kesaktian menolak. Endang Patibroto merasa betapa kaki boneka itu mengeras, akan tetapi iapun mengerahkan kesaktian, terus menusuk. Setelah mengadu
kekuatan batin,
akhirnya..........
"Blesssl" paha kanan boneka itu tertusuk dan darah
mengucur keluar.
"Aaaugggghh.........." Wiku Kalawisesa mengaduh, tangan kanan yang masih dapat bergerak memegangi paha kanannya yang
bercucuran darah.
"Sekarang paha kiri, wiku bedebah, manusia
berhati iblis" Kembali Endang Patibroto menusuk, kali ini
lawannya tidak menahan karena maklum akan sia-sia usahanya itu.
"Blessss " Dan paha kiri boneka itu tertusuk,
berdarah seperti juga paha kanan Wiku Kalawisesa.
No comments:
Post a Comment