"Aduhh.......... bunuh saja aku, Endang Patibroto"
"Enaknya …….! Rasakan hasil kekejianmu sendiri.
Awas lenganmu!"
Kembali Endang Patibroto menusuk, lengan kanan kemudian
lengan kiri. Kaki tangan kakek itu mengucurkan darah segar dan ia mengeliat-geliat,..........
mengaduh-aduh..........dan merintih-rintih minta mati.
"Ja..........jangan
lanjutkan.......... jangan tusuk lagi.......... kau pukul matilah aku,
Endang..........!!"
"Apa? Kau merasa
tersiksa? Tak ingatkah akan para ponggawa yang kau bunuh? Tidak ingatkah
akan penderitaan suamiku? Ya, suamiku yang hendak kau bunuh? Rasakan sekarang, perlahan-lahan kutusuk
dadamu..........!!”
"Aduh, ampun, Endang
Patibroto! Ampunkan aku seorang tua.......... hu-huhuuhh.........." Kakek itu menangis saking takutnya!
Endang Patibroto menahan
tusuk kondenya di kulit dada
boneka.
"Ampunkan? Betapa mudahnya minta ampun. Hayo katakan, jangan membohong, siapa yang
menyuruhmu? Aku masih tidak percaya akan semua keteranganmu tadi. Katakan siapa sekongkolmu? Siapa
menyuruhmu membunuh suamiku?
Membunuh para ponggawa?"
"Sudah
kukatakan,.......... kepadamu ..... tiada lain.......... Pangeran Darmokusumo....."
"Bohong"
"Demi
dewata.........."
"Kau tidak mengindahkan para dewata!"
"Demi Hyang
Widhi.........."
"Manusia macam kau tidak takut Hyang Widhil"
"Aduh, ampun, aku tidak
membohong Endang Patibroto. Benar
Pangeran Darmokusumo yang menyuruhku.........."
"Sekali lagi, jangan bohong! Lihat tusuk kondeku siap menusuk. Katakan sebenarnya, kalau kau mengaku, mungkin aku
dapat mengampunimu" Endang
Patibroto membujuk.
"Bukan orang lain,
melainkan Pangeran Darmokusumo, seorang. Demi Sang Hyang Bathara Kala ...... aku bersumpah……. !!”
Lega hati Endang Patibroto.
Ia tidak lancang dan sembrono. Setelah
kakek pemuja Bathara Kala ini
bersumpah demi Bathara Kala, agaknya ia tidak berbohong. Si keparat
Pangeran Darmokusumo! Dengan gemas ia menusukkan tusuk kondenya di ulu hati boneka Itu.
"Aauuuurrrghh.......!"
Wiku Kalawisesa roboh tergelimpang. Dari
dadanya mengucur darah segar. Matanya mendelik
dan aneh sekali, pada saat
terakhir itu, ia terkekeh…
“Heh-heh-heh-hih-hik, Endang Patibroto. Aku akan membalas dendam
kepadamu! Akan kuhancurkan engkau, suamimu,
rumah.......huahha-ha,.... .tunggu........ kau tunggu
pembalasanku......!" Dan
tubuhnya berkelojotan dalam sekarat.
Endang Patibroto melemparkan boneka tanah, membersihkan tusuk
kondenya dan memakainya lagi di rambutnya. Kemudian ia meloncat dan berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam. Sambil berloncatan Endang Patibroto berpikir, keparat si Pangeran Darmokusumo! Kejam
benar hatimu. Demi tercapainya cita-cita, tega benar membunuhi para
ponggawa setia. Bahkan tega hendak membunuh
Pangeran Panjirawit, kakak
iparnya sendiri. Kalau aku pulang dan menceritakan hal ini
kepada suamiku, tentu dia tidak akan
percaya. Dan celakalah kalau sampai ketidak percayaan menguasai hati suamiku. Ketidakpercayaan pangkal
keruntuhan cinta. Tidak baik
menaruh ganjalan hati. Lebih tepat sekarang juga bertindak sebelum
terlalu parah keadaan. Ia dapat menyelinap ke Kerajaan Panjalu, akan
ditangkapnya, Pangeran Darmokusumo, dipaksanya supaya mengakui segala perbuatannya yang laknat. Kalau
sudah begitu terserah keputusan Sang Prabu Panjalu terhadap puteranya.
Akan tetapi ia akan bebas daripada tuduhan, akan tercuci bersih namanya. Tiada jalan lain, Wiku Kalawisesa sudah mati. Percuma saja ia jadikan bukti
atau saksi.
"Heh, sira (kamu)
Pangeran Darmokusumo! Awaslah engkau, aku tidak akan mendiamkan saja
ulah tingkahmu memburuk-burukkan namaku
dan terutama hendak membunuh suamiku.
Pangeran Darmokusumo, jangan kaget. Endang Patibroto yang akan membuka kedokmu!" Makin cepat tubuhnya berkelebat, mempergunakan ilmu lari cepat sehingga tubuhnya
lenyap hanya tampak bayangan seperti bayangan
seekor garuda melayang di
angkasa.
"Nini bocah ayu,
siapakah engkau?" tanya Ki Patih Bratamanggala dengan sikap tenang dan sabar sambil
memandang Suminten yang duduk bersimpuh di depannya dan menangis.
"Hamba Suminten, gusti patih, hamba adalah abdi dalem,
pelayan Gusti Pangeran Panjirawit." Suminten menyembah dan
berkata dengan suara gemetar. Ki
Patih yang sudah berusia lima puluh
tahun lebih itu mengerutkan keningnya, kemudian
sambil memandang penuh selidik bertanya,
"Heh, Suminten. Apa kehendakmu di pagi hari buta ini memaksa
para pengawal, mohon
menghadap kepadaku?"
Hari itu masih pagi sekali, Ki Patih Bratamenggala baru saja bangun tidur ketika kepala
pengawal menghadap dan menyatakan bahwa, ada seorang gadis
remaja memaksa minta menghadap karena
urusan yang amat penting. Dari sikap
pengawal ini, ki patih tahu bahwa
tentu pengawal ini sudah mendengar akan urusannya dan mempertimbangkan bahwa hal itu amatlah pentingnya sehingga ia berani
menyampaikan permohonan si gadis.
"Ampun beribu ampun,
gusti. Hamba telah berani mengganggu paduka
di pagi hari ini. Akan tetapi kepada siapakah
gerangan hamba harus
melaporkan peristiwa mengerikan semalam
kalau tidak kepada paduka? Hamba
tidak berani menghadap gusti
prabu."
Berdebar jantung
ki patih. Semalam ia sudah
mendengar akan berita dahsyat yang
mengabarkan tentang kematian
Ki Demang Kanaroga, kematian yang mengerikan, seperti terjadi pada
diri Tumenggung Wirodwipo dan yang lain-lain. Mengerikan berdarah
sampai mati tanpa luka. Berita apa pula yang dibawa gadis ini, yang
lebih mengerikan daripada peristiwa kematian
Demang Kanaroga? Ia sedang
bingung dan pusing serta gelisah memikirkan kematian-kematian itu, dan kini di pagi hari buta gadis ini
mengganggunya dengan urusan tetek-bengek.
"Hemm, bocah ayu,
tahukah kau bahwa bukan main-main
menghadap dan mengganggu waktuku
di pagi hari begini? Ceritakanlah dan berdoalah bahwa ceritamu cukup penting agar kau tidak membikin marah
kepadaku." Suminten tidak
takut. la merasa yakin bahwa ceritanya amat penting, dan bahwa sudah bulat tekatnya
untuk menyampaikan berita ini
kepada ki patih. Hanya inilah yang dapat dilakukan seorang pelayan rendah seperti dia, hanya inilah yang dapat ia lakukan untuk melampiaskan iri
hati dan cemburu, melampiaskan duka karena tidak mendapat perhatian Pangeran Panjirawit yang dicintanya.
"Ampun, gusti patih. Semalam, tanpa hamba sengaja, hamba telah
menyaksikan sesuatu yang hebat, perbuatan mengerikan dan menyeramkan yang dilakukan oleh..........
gusti puteri..........!!”
"Gust!
puteri..........?"
"Garwa (isteri) gusti
pangeran," Suminten membenarkan.
"Isteri Sang Pangeran Panjirawit?" Ki
patih tertarik. Tentu saja tertarik mendengar sesuatu
tentang isteri pangeran itu, tentang Endang Patibroto, wanita
sakti bekas kepala pengawal Jenggala sepuluh
tahun yang lalu, yang telah menggegerkan seluruh kerajaan.
"Apa yang beliau
lakukan?"
"Hamba.......... iihhh, hamba masih ngeri kalau
mengenangkan semua itu..........!”
Suminten menggigil.
"Tanpa hamba sengaja, hamba melihat gusti puteri bercengkerama dengan
gusti pangeran, kemudian gusti
puteri membuat sebuah boneka Si
Petak..........”
"Siapa Si Petak?"
"Ayam kelangenan
(kesayangan) gusti pangeran. Kemudian, gusti
puteri mengambil tusuk kondenya dan ditusukkan paha ayam itu dan..........”
"Dan bagaImana?" KI Patih Bratamenggala makin tertarik, sampai terbungkuk dari
kursinya agar lebih dekat dengan
gadis itu dan lebih jelas mendengar penuturannya.
"Terdengar Si Petak memekik.......... dan.......... ketika kemudian hamba
melihat ke kandang.......... paha Si Petak itu berdarah seperti
ditusuk, padahal tidak ada lukanya sama sekali..........”
"Nanti dulu!" Ki
patih membentak keras sampai
Suminten terkejut. Wajah patih itu menjadi pucat, tangan yang memegang lengan kursi menggigil.
"Coba ceritakan lagi
dengan jelas!"
Kini Suminten bercerita lagi, tidak gugup macam tadi, diceritakannya semua tentang perbuatan Endang
Patibroto menusuk boneka ayam putih
dan betapa akibatnya ayam itu
bercucuran darah pahanya. Berdebar
jantung Ki Patlh
Bratamenggala. Kiranya tidak kosong desas-desus itu! Desas-desus yang mengatakan bahwa
semua pembunuhan yang terjadi atas
diri para ponggawa Jenggala dan Panjalu adalah perbuatan Endang Patibroto. Apa maksudnya gerangan? Tentu
tersembunyi niat buruk. Perlu segera
dilaporkan kepada sang prabu,
sekarang juga! Tergesa-gesa Ki Patih Bratamenggala berdandan
setelah menyuruh Suminten menanti,
kemudian ia membawa Suminten pergi ke istana, menghadap Sang Prabu
Jenggala. Di depan sang prabu yang mendengarkan dengan kening berkerut, berceritalah Ki patih tentang apa yang didengarnya dari
Suminten. Sang prabu terkejut bukan main. Sesungguhnya di dalam hatinya, sang prabu tidak pernah senang mempunyai mantu Endang Patibroto yang
selain bukan "darah kusuma" (darah
bangsawan) juga riwayat hidupnya
amat, mengecewakan itu.
Apalagi setelah ada kenyataan bahwa selama sepuluh tahun Endang Patibroto tidak mempunyai putera, ditambah lagi kenyataan bahwa Pangeran Panjirawit tidak mengambil selir
yang tentu saja karena takut kepada isterinya,
makin tak senang hati sri baginda. Desas-desus akhir ini menambah rasa tidak senangnya, namun
maklum bahwa puteri mantunya itu
seorang sakti, sang prabu tidak
pernah menyatakan sesuatu. Kini,
mendengar pelaporan ini yang ada saksinya, sang prabu menjadi murka dan Suminten lalu
disuruh mengulangi ceritanya. Dengan tubuh gemetaran karena takut, Suminten bercerita kembali dan makin
besar amarah sri baginda. Setelah menitahkan pelayan.
untuk membawa Suminten yang
sejak saat itu "dilindungi" atau
"diamankan" di dalam
istana, menjadi anggota
kelompok abdi dalem sri
baginda, maka sang prabu lalu mengajak ki
patih berunding.
Kemudian dipanggillah para pangeran dan
pejabat tinggi dan akhirnya diputuskan untuk mengundang Pangeran
Panjirawit beserta isteri ke istana!
"Kakang patih, kepadamulah kuserahkan tugas ini,
undang Panjirawit dan isterinya ke istana menghadapku!" Persidangan lalu dibubarkan setelah sang prabu
mengatur agar para pengawal siap
untuk menangkap puteranya sendiri bersama
mantunya, apabila beliau memberi perintah sewaktu-waktu setelah berwawancara dengan Pangeran Panjirawit dan
isterinya.
Dapat dibayangkan betapa bingung hati Pangeran Panjirawit ketika
pagi hari itu ia kedatangan Ki Patih
Bratamenggala yang menyampaikan perintah
sandi prabu mengundang dia dan
isterinya ke istana. Semalam
ia tidak dapat tidur barang sekejap.
Hatinya risau, gelisah
memikirkan isterinya. Endang Patibroto tak kunjung pulang, dan
sungguhpun kaki tangannya yang berdarah tiba-tiba sembuh kembali sebagai tanda akan
berhasilnya usaha Endang Patibroto mencari musuh tersembunyi, namun hatinya tetap khawatir sekali. Bagaimana ia tidak akan gelisah kalau isteri tercinta itu belum juga pulang? Sampai malam
berganti pagi, Endang Patibroto belum pulang! Payah ia menanti-nanti di
dalam kamar, lalu keluar dari kamar duduk di ruangan dekat taman, kembali ke
kamar, makin lama makin risau. Duduk tak senang, tidur tak mungkin, hendak
menyusul ke mana? Wajahnya lesu dan kusut ketika ia menyambut
kunjungan ki patih. Dan ia makin
bingung mendengar perintah ramandanya. Bingung
dan khawatir! Ada kepentingan apakah sampai sang prabu memanggil dia dan isterinya? Dan bagaimana ia
harus menjawab karena isterinya tidak ada di rumah? Mengatakan sakit?
Minta waktu diundur? Ramandanya tentu akan marah. Ia tahu atau dapat
menduga dalam hati kecilnya bahwa isterinya tidak begitu disuka oleh
keluarga ramandanya. Sikap mereka dingin dan hormat dibuat-buat kepada isterinya. Kalau mengatakan isterinya
pergi, pergi ke mana? Mana mungkin isteri
seorang pangeran pergi begitu saja tanpa diketahui ke mana perginya? Ah, la menyesal sekali
mengapa malam tadi ia memperbolehkan isterinya
pergi. Hatinya sudah tidak
enak dan sekarang ia menghadapi hal yang lebih tidak enak lagi. Lebih baik
berterus terang! Ya, tidak ada jalan lain baginya dan bagi kebaikan nama isterinya.
"Paman patih, sungguh amat menyesal hati saya bahwa untuk sementara ini tidak mungkin saya
mentaati perintah kanjeng rama, karena sesungguhnya..........isteri saya yayi dewi Endang Patibroto semalam
telah pergi dan belum juga pulang sampai pagi hari ini."
Ki patih mengangkat alisnya,
menghubungkan kepergian itu
dengan peristiwa yang ia dengar dari
mulut Suminten.
"Ahhh, gusti puteri
pergi? Eh, karena urusan ini mengenai panggilan kanjeng
gusti sinuwun, kalau boleh
hamba bertanya.......... ke manakah perginya, mengapa malam-malam?"
Dengan muka pucat Pangeran Panjirawit memandang ki patih,
kemudian menarik napas panjang dan berkata,
"Tidak
baik kiranya kalau saya sembuhyikan lagi, paman, setelah kini datang panggilan dari ramanda sinuwun." Patih itu mengangguk-angguk, mengira
bahwa pangeran ini akan membuka rahasia isterinya, wanita siluman itu.
Betapapun juga, ki patih ini di dalam
hatinya mencinta Pangeran Panjirawit yang terkenal sebagai pangeran
yang halus budi pekertinya, ramah-tamah bahasanya, dan sopan tutur sapanya.
No comments:
Post a Comment