Bagian 007


"Aduhh.......... bunuh saja aku, Endang Patibroto"
"Enaknya …….! Rasakan hasil kekejianmu sendiri. Awas lenganmu!"
Kembali Endang Patibroto menusuk, lengan kanan kemudian lengan kiri. Kaki tangan kakek itu mengucurkan darah segar dan ia mengeliat-geliat,.......... mengaduh-aduh..........dan merintih-rintih minta mati.
"Ja..........jangan lanjutkan.......... jangan tusuk lagi.......... kau pukul matilah aku, Endang..........!!"
"Apa? Kau merasa tersiksa? Tak ingatkah akan para ponggawa yang kau bunuh? Tidak ingatkah akan penderitaan suamiku? Ya, suamiku yang hendak kau bunuh? Rasakan sekarang, perlahan-lahan kutusuk dadamu..........!!”
"Aduh, ampun, Endang Patibroto! Ampunkan aku seorang tua.......... hu-huhuuhh.........." Kakek itu menangis saking takutnya!
Endang Patibroto menahan tusuk kondenya di kulit dada boneka.
"Ampunkan? Betapa mudahnya minta ampun. Hayo katakan, jangan membohong, siapa yang menyuruhmu? Aku masih tidak percaya akan semua keteranganmu tadi. Katakan siapa sekongkolmu? Siapa menyuruhmu membunuh suamiku? Membunuh para ponggawa?"
"Sudah kukatakan,.......... kepadamu ..... tiada lain.......... Pangeran Darmokusumo....."
"Bohong"
"Demi dewata.........."
"Kau tidak mengindahkan para dewata!"
"Demi Hyang Widhi.........."
"Manusia macam kau tidak takut Hyang Widhil"
"Aduh, ampun, aku tidak membohong Endang Patibroto. Benar Pangeran Darmokusumo yang menyuruhku.........."
"Sekali lagi, jangan bohong! Lihat tusuk kondeku siap menusuk. Katakan sebenarnya, kalau kau mengaku, mungkin aku dapat mengampunimu" Endang Patibroto membujuk.
"Bukan orang lain, melainkan Pangeran Darmokusumo, seorang. Demi Sang Hyang Bathara Kala ...... aku bersumpah……. !!”
Lega hati Endang Patibroto. Ia tidak lancang dan sembrono. Setelah kakek pemuja Bathara Kala ini bersumpah demi Bathara Kala, agaknya ia tidak berbohong. Si keparat Pangeran Darmokusumo! Dengan gemas ia menusukkan tusuk kondenya di ulu hati boneka Itu.
"Aauuuurrrghh.......!" Wiku Kalawisesa roboh tergelimpang. Dari dadanya mengucur darah segar. Matanya mendelik dan aneh sekali, pada saat terakhir itu, ia terkekeh…
“Heh-heh-heh-hih-hik, Endang Patibroto. Aku akan membalas dendam kepadamu! Akan kuhancurkan engkau, suamimu, rumah.......huahha-ha,.... .tunggu........ kau tunggu pembalasanku......!" Dan tubuhnya berkelojotan dalam sekarat.
Endang Patibroto melemparkan boneka tanah, membersihkan tusuk kondenya dan memakainya lagi di rambutnya. Kemudian ia meloncat dan berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam. Sambil berloncatan Endang Patibroto berpikir, keparat si Pangeran Darmokusumo! Kejam benar hatimu. Demi tercapainya cita-cita, tega benar membunuhi para ponggawa setia. Bahkan tega hendak membunuh Pangeran Panjirawit, kakak iparnya sendiri. Kalau aku pulang dan menceritakan hal ini kepada suamiku, tentu dia tidak akan percaya. Dan celakalah kalau sampai ketidak percayaan menguasai hati suamiku. Ketidakpercayaan pangkal keruntuhan cinta. Tidak baik menaruh ganjalan hati. Lebih tepat sekarang juga bertindak sebelum terlalu parah keadaan. Ia dapat menyelinap ke Kerajaan Panjalu, akan ditangkapnya, Pangeran Darmokusumo, dipaksanya supaya mengakui segala perbuatannya yang laknat. Kalau sudah begitu terserah keputusan Sang Prabu Panjalu terhadap puteranya. Akan tetapi ia akan bebas daripada tuduhan, akan tercuci bersih namanya. Tiada jalan lain, Wiku Kalawisesa sudah mati. Percuma saja ia jadikan bukti atau saksi.
"Heh, sira (kamu) Pangeran Darmokusumo! Awaslah engkau, aku tidak akan mendiamkan saja ulah tingkahmu memburuk-burukkan namaku dan terutama hendak membunuh suamiku. Pangeran Darmokusumo, jangan kaget. Endang Patibroto yang akan membuka kedokmu!" Makin cepat tubuhnya berkelebat, mempergunakan ilmu lari cepat sehingga tubuhnya lenyap hanya tampak bayangan seperti bayangan seekor garuda melayang di angkasa.

"Nini bocah ayu, siapakah engkau?" tanya Ki Patih Bratamanggala dengan sikap tenang dan sabar sambil memandang Suminten yang duduk bersimpuh di depannya dan menangis.
"Hamba Suminten, gusti patih, hamba adalah abdi dalem, pelayan Gusti Pangeran Panjirawit." Suminten menyembah dan berkata dengan suara gemetar. Ki Patih yang sudah berusia lima puluh tahun lebih itu mengerutkan keningnya, kemudian sambil memandang penuh selidik bertanya,
"Heh, Suminten. Apa kehendakmu di pagi hari buta ini memaksa para pengawal, mohon menghadap kepadaku?"
Hari itu masih pagi sekali, Ki Patih Bratamenggala baru saja bangun tidur ketika kepala pengawal menghadap dan menyatakan bahwa, ada seorang gadis remaja memaksa minta menghadap karena urusan yang amat penting. Dari sikap pengawal ini, ki patih tahu bahwa tentu pengawal ini sudah mendengar akan urusannya dan mempertimbangkan bahwa hal itu amatlah pentingnya sehingga ia berani menyampaikan permohonan si gadis.
"Ampun beribu ampun, gusti. Hamba telah berani mengganggu paduka di pagi hari ini. Akan tetapi kepada siapakah gerangan hamba harus melaporkan peristiwa mengerikan semalam kalau tidak kepada paduka? Hamba tidak berani menghadap gusti prabu."
Berdebar jantung ki patih. Semalam ia sudah mendengar akan berita dahsyat yang mengabarkan tentang kematian Ki Demang Kanaroga, kematian yang mengerikan, seperti terjadi pada diri Tumenggung Wirodwipo dan yang lain-lain. Mengerikan berdarah sampai mati tanpa luka. Berita apa pula yang dibawa gadis ini, yang lebih mengerikan daripada peristiwa kematian Demang Kanaroga? Ia sedang bingung dan pusing serta gelisah memikirkan kematian-kematian itu, dan kini di pagi hari buta gadis ini mengganggunya dengan urusan tetek-bengek.
"Hemm, bocah ayu, tahukah kau bahwa bukan main-main menghadap dan mengganggu waktuku di pagi hari begini? Ceritakanlah dan berdoalah bahwa ceritamu cukup penting agar kau tidak membikin marah kepadaku." Suminten tidak takut. la merasa yakin bahwa ceritanya amat penting, dan bahwa sudah bulat tekatnya untuk menyampaikan berita ini kepada ki patih. Hanya inilah yang dapat dilakukan seorang pelayan rendah seperti dia, hanya inilah yang dapat ia lakukan untuk melampiaskan iri hati dan cemburu, melampiaskan duka karena tidak mendapat perhatian Pangeran Panjirawit yang dicintanya.
"Ampun, gusti patih. Semalam, tanpa hamba sengaja, hamba telah menyaksikan sesuatu yang hebat, perbuatan mengerikan dan menyeramkan yang dilakukan oleh.......... gusti puteri..........!!”
"Gust! puteri..........?"
"Garwa (isteri) gusti pangeran," Suminten membenarkan.
"Isteri Sang Pangeran Panjirawit?" Ki patih tertarik. Tentu saja tertarik mendengar sesuatu tentang isteri pangeran itu, tentang Endang Patibroto, wanita sakti bekas kepala pengawal Jenggala sepuluh tahun yang lalu, yang telah menggegerkan seluruh kerajaan.
"Apa yang beliau lakukan?"
"Hamba.......... iihhh, hamba masih ngeri kalau mengenangkan semua itu..........!” Suminten menggigil.
"Tanpa hamba sengaja, hamba melihat gusti puteri bercengkerama dengan gusti pangeran, kemudian gusti puteri membuat sebuah boneka Si Petak..........”
"Siapa Si Petak?"
"Ayam kelangenan (kesayangan) gusti pangeran. Kemudian, gusti puteri mengambil tusuk kondenya dan ditusukkan paha ayam itu dan..........”
"Dan bagaImana?" KI Patih Bratamenggala makin tertarik, sampai terbungkuk dari kursinya agar lebih dekat dengan gadis itu dan lebih jelas mendengar penuturannya.
"Terdengar Si Petak memekik.......... dan.......... ketika kemudian hamba melihat ke kandang.......... paha Si Petak itu berdarah seperti ditusuk, padahal tidak ada lukanya sama sekali..........”
"Nanti dulu!" Ki patih membentak keras sampai Suminten terkejut. Wajah patih itu menjadi pucat, tangan yang memegang lengan kursi menggigil.
"Coba ceritakan lagi dengan jelas!"

Kini Suminten bercerita lagi, tidak gugup macam tadi, diceritakannya semua tentang perbuatan Endang Patibroto menusuk boneka ayam putih dan betapa akibatnya ayam itu bercucuran darah pahanya. Berdebar jantung Ki Patlh Bratamenggala. Kiranya tidak kosong desas-desus itu! Desas-desus yang mengatakan bahwa semua pembunuhan yang terjadi atas diri para ponggawa Jenggala dan Panjalu adalah perbuatan Endang Patibroto. Apa maksudnya gerangan? Tentu tersembunyi niat buruk. Perlu segera dilaporkan kepada sang prabu, sekarang juga! Tergesa-gesa Ki Patih Bratamenggala berdandan setelah menyuruh Suminten menanti, kemudian ia membawa Suminten pergi ke istana, menghadap Sang Prabu Jenggala. Di depan sang prabu yang mendengarkan dengan kening berkerut, berceritalah Ki patih tentang apa yang didengarnya dari Suminten. Sang prabu terkejut bukan main. Sesungguhnya di dalam hatinya, sang prabu tidak pernah senang mempunyai mantu Endang Patibroto yang selain bukan "darah kusuma" (darah bangsawan) juga riwayat hidupnya amat, mengecewakan itu. Apalagi setelah ada kenyataan bahwa selama sepuluh tahun Endang Patibroto tidak mempunyai putera, ditambah lagi kenyataan bahwa Pangeran Panjirawit tidak mengambil selir yang tentu saja karena takut kepada isterinya, makin tak senang hati sri baginda. Desas-desus akhir ini menambah rasa tidak senangnya, namun maklum bahwa puteri mantunya itu seorang sakti, sang prabu tidak pernah menyatakan sesuatu. Kini, mendengar pelaporan ini yang ada saksinya, sang prabu menjadi murka dan Suminten lalu disuruh mengulangi ceritanya. Dengan tubuh gemetaran karena takut, Suminten bercerita kembali dan makin besar amarah sri baginda. Setelah menitahkan pelayan. untuk membawa Suminten yang sejak saat itu "dilindungi" atau "diamankan" di dalam istana, menjadi anggota kelompok abdi dalem sri baginda, maka sang prabu lalu mengajak ki patih berunding.
Kemudian dipanggillah para pangeran dan pejabat tinggi dan akhirnya diputuskan untuk mengundang Pangeran Panjirawit beserta isteri ke istana!
"Kakang patih, kepadamulah kuserahkan tugas ini, undang Panjirawit dan isterinya ke istana menghadapku!" Persidangan lalu dibubarkan setelah sang prabu mengatur agar para pengawal siap untuk menangkap puteranya sendiri bersama mantunya, apabila beliau memberi perintah sewaktu-waktu setelah berwawancara dengan Pangeran Panjirawit dan isterinya.

Dapat dibayangkan betapa bingung hati Pangeran Panjirawit ketika pagi hari itu ia kedatangan Ki Patih Bratamenggala yang menyampaikan perintah sandi prabu mengundang dia dan isterinya ke istana. Semalam ia tidak dapat tidur barang sekejap. Hatinya risau, gelisah memikirkan isterinya. Endang Patibroto tak kunjung pulang, dan sungguhpun kaki tangannya yang berdarah tiba-tiba sembuh kembali sebagai tanda akan berhasilnya usaha Endang Patibroto mencari musuh tersembunyi, namun hatinya tetap khawatir sekali. Bagaimana ia tidak akan gelisah kalau isteri tercinta itu belum juga pulang? Sampai malam berganti pagi, Endang Patibroto belum pulang! Payah ia menanti-nanti di dalam kamar, lalu keluar dari kamar duduk di ruangan dekat taman, kembali ke kamar, makin lama makin risau. Duduk tak senang, tidur tak mungkin, hendak menyusul ke mana? Wajahnya lesu dan kusut ketika ia menyambut kunjungan ki patih. Dan ia makin bingung mendengar perintah ramandanya. Bingung dan khawatir! Ada kepentingan apakah sampai sang prabu memanggil dia dan isterinya? Dan bagaimana ia harus menjawab karena isterinya tidak ada di rumah? Mengatakan sakit? Minta waktu diundur? Ramandanya tentu akan marah. Ia tahu atau dapat menduga dalam hati kecilnya bahwa isterinya tidak begitu disuka oleh keluarga ramandanya. Sikap mereka dingin dan hormat dibuat-buat kepada isterinya. Kalau mengatakan isterinya pergi, pergi ke mana? Mana mungkin isteri seorang pangeran pergi begitu saja tanpa diketahui ke mana perginya? Ah, la menyesal sekali mengapa malam tadi ia memperbolehkan isterinya pergi. Hatinya sudah tidak enak dan sekarang ia menghadapi hal yang lebih tidak enak lagi. Lebih baik berterus terang! Ya, tidak ada jalan lain baginya dan bagi kebaikan nama isterinya.
"Paman patih, sungguh amat menyesal hati saya bahwa untuk sementara ini tidak mungkin saya mentaati perintah kanjeng rama, karena sesungguhnya..........isteri saya yayi dewi Endang Patibroto semalam telah pergi dan belum juga pulang sampai pagi hari ini."
Ki patih mengangkat alisnya, menghubungkan kepergian itu dengan peristiwa yang ia dengar dari mulut Suminten.
"Ahhh, gusti puteri pergi? Eh, karena urusan ini mengenai panggilan kanjeng gusti sinuwun, kalau boleh hamba bertanya.......... ke manakah perginya, mengapa malam-malam?"
Dengan muka pucat Pangeran Panjirawit memandang ki patih, kemudian menarik napas panjang dan berkata,
"Tidak baik kiranya kalau saya sembuhyikan lagi, paman, setelah kini datang panggilan dari ramanda sinuwun." Patih itu mengangguk-angguk, mengira bahwa pangeran ini akan membuka rahasia isterinya, wanita siluman itu. Betapapun juga, ki patih ini di dalam hatinya mencinta Pangeran Panjirawit yang terkenal sebagai pangeran yang halus budi pekertinya, ramah-tamah bahasanya, dan sopan tutur sapanya.

<<< Bagian 006                                                                                   Bagian 008 >>>

No comments:

Post a Comment