Ia ingin melihat pangeran ini terlepas daripada "cengkeraman" wanita iblis Endang Patibroto.
"Memang seyogyanya begitulah, gusti
pangeran. Lebih baik berterus terang sehingga hamba dapat menghaturkan laporan yang jelas dan lengkap kepada
sri baginda." Seorang abdi dalem datang berjalan jongkok, menghidangkan minuman.
Percakapan terhenti sebentar dan Pangeran Panjirawit memberi tanda dengan
tangan agar abdi dalem itu cepat-cepat pergi.
Akan tetapi abdi dalem itu, seorang gadis
berkulit kuning langsat berusia
dua puluh tahun, meragu dan memandang
kepada sang pangeran.
"Ada apa lagi?
Pergilah?"
Gadis pelayan itu menyembah.
"Ampun kalau hamba
mengganggu, gusti. Hamba hanya hendak
melapor bahwa pagi hari ini Suminten pergi, entah ke mana tak seorangpun abdi
mengetahuinya."
Kalau tidak sedang
dirisaukan urusan besar, tentu
Pangeran Panjirawit akan menjadi heran, menaruh perhatian atau
setidaknya teringat akan gerak-gerik Suminten malam
tadi. Akan tetapi pikirannya terlalu penuh oleh isterinya yang belum pulang dan oleh panggilan sang prabu, maka ia berkata tak sabar.
"Laporkan saja kepada Raden Sungkono agar dicari. Pergilah!" Abdi dalem meninggalkan mereka dengan langkah jongkok.
"Paman patih, malam
tadi telah terjadi hal yang
mengerikan. Paman tentu tahu akan
peristiwa-peristiwa kematian para
ponggawa yang mengerikan, bukan? Nah, malam tadi saya sendiri telah diserang!"
"Haa..........??" Ki patih
terbelalak, dan memandang tubuh
Pangeran Panjirawit yang tiada kurang sesuatu. Pangeran Panjiriwit mengerti akan makna
pandang mata ini.
"Memang, saya selamat, paman. Kalau tidak ada isteriku, kiranya pagi hari
ini paman akan mendapatkan diriku serupa dengan ponggawa-ponggawa lain, mati berlumur darah tanpa luka.!!”
Dengan wajah masih pucat ki
patih berkata,
"Malam tadi Demang
Kanoraga yang menjadi korban."
"Aiihh.......... kakang Demang Kanaroga juga..........?" Sang pangeran menghela
napas, lalu melanjutkan,
"Saya baru diserang pada lengan dan kaki. Malam tadi isteri
saya yang merasa penasaran, memaksa diperkenankan keluar rumah untuk menyelidiki
dan menangkap manusia atau iblis yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Baru ia pergi, tiba-tiba lenganku
sakit dan berdarah. Untung
isteri saya datang tepat pada waktunya dan
saya tertolong. Paman tentu tahu akan kesaktian isteri saya. Kemudian isteri
saya pergi untuk mencari iblis itu
dan.......... sampai pagi hari ini
belum kembali. Oleh karena itu,
sampaikan permohonan ampun saya
kepada kanjeng rama, dan kalau
beliau menghendaki saya seorang diri menghadap, beri kabarlah, saya
tentu akan datang menghadap tanpa
isteri saya."
Ki Patih Bratamenggala menjadi
bingung sekali. Hatinya bertanya-tanya. Benarkah
cerita ini? Lengan pangeran ini
sama sekali tidak tampak bekas luka, atau tidak tampak bekas berdarah. Apa buktinya kebenaran cerita
ini? Akan tetapi, tentu saja ia
tidak berani mengajukan pertanyaan ini, setelah minum hidangan lalu
memohon diri.
Ketika Sang Prabu Jenggala mendengar laporan ki patih, ia
termenung. Berkali-kali menarik
napas panjang.
“Urusan ini sungguh ruwet dan meragukan. Biarlah
kita menanti perkembangan selanjutnya, kakang patih." Sementara itu, dengan hati gelisah Pangeran
Panjirawit memanggil Sungkono menghadap.
"Kakang Sungkono, ada tugas penting sekali
bagimu."
"Hamba sudah mendengar dari abdi dalem, mencari Suminten yang lari..........”
"Persetan dengan Suminten!" Pangeran
Panjirawit berseru tak sabar.
"Bukan Suminten yang harus dicari, kakang Sungkono, melainkan gusti puteri!"
"Gusti
puteri..........?" Raden
Sungkono terkejut, menatap wajah junjungannya dengan heran dan kaget.
"Ya, gusti puteri. Dia malam tadi pergi, kakang. Kau tahu tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap ponggawa-ponggawa Jenggala
dan Panjalu?"
Raden Sungkono mengangguk-angguk.
"Malam tadi Demang
Kanaroga yang terkena," katanya.
"Benar. Nah, gusti puteri malam tadi pergi untuk melakukan penyelidikan, untuk menangkap si pembunuh laknat setelah menyelamatkan aku yang hampir saja menjadi
korban juga."
"Paduka, gusti..........??" Kembali
Sungkono terkejut.
"Tak usah ribut-ribut. Betapapun
saktinya pembunuh pengecut itu, dia tak mungkin dapat mengalahkan gusti puteri. Karena
itu dia malam tadi pergi melakukan penyelidikan dan pengejaran."
Sungkono mengangguk-angguk.
"Memang sesungguhnya di dalam hati, hamba juga
mengambil kesimpulan bahwa penjahat iblis itu hanya dapat dltangkap oleh gusti puteri yang sakti mandraguna."
"Benar, kakang.
Sekarang, gustimu belum juga pulang. Aku merasa khawatir juga. Oleh karena itu, kau kerahkan anak
buahmu, kau lakukan penyelidikan ke mana gustimu melakukan pengejaran dan apabila perlu, kau harus siap membantunya. Mengerti, kakang?"
"Mengerti dan siap, gusti."
"Baik, aku percaya kepadamu. Apapun yang terjadi dengan diriku di sini, kau tidak perlu mencampuri, yang penting lekas susul dan temukan gustimu puteri.
Nah, berangkatlah sekarang juga, kakang Sungkono."
Setelah pengawalnya yang setia itu pergi, Pangeran Panjirawit termenung, hatlnya merasa tidak enak sekali, wajah isterinya yang tercinta terbayang-bayang dan
minuman panas di meja sampai menjadi dingin tanpa disentuhnya.
"Waahh.......... celaka,
raden.......... celaka
..........tiga belas..........!!"
Raden Sindupati mengangkat alis dan menatap Klabangkoro dan
Klabangmuko yang datang berlari-lari
dengan napas senin kemis hampir putus, wajah penuh keringat sehingga
kumis mereka yang sekepal sebelah itu menjadi basah kuyup dan kini berjuntai
turun, sama sekali kehilangan kegagahannya, Di belakang Raden Sindupati, sekelompok pasukan terdiri
dari dua puluh orang lebih, rata-rata
berperawakan tinggi besar
berserijata tombak, golok, atau
penggada. Mereka berikat kepala seperti Klabangkoro dan Klabangmuko, dengan ujung menjungat ke atas seperti tanduk. Biarpun mereka itu orang-orang yang kelihatan kasar, namun jelas mereka bukan orang-orang sembarangan, melainkan
"berisi'. Inilah pasukan dari
Blambangan, anak buah Adipati
Blambangan yang tersohor kuat.
Pemimpin mereka, Raden Sindupati, berbeda dengan
mereka. Memang dia juga mengenakan ikat kepala yang sama, akan tetapi
perawakannya sedang, berdada
bidang, wajahnya tampan dan
usianya belum lewat empat puluh
tahun. Kulitnya kuning bersih dan
wajahnya selalu tersenyum, pandang
matanya tajam. Kalau anak
buahnya adalah orang-orang yang
membayangkan kekuatan dan ketangkasan, adalah Raden Sindupati ini
membayangkan kekuatan batin dan
kesaktian. Senjatanya pun lebih sederhana, sebatang
keris terselip di
pinggangnya. Sudah belasan tahun,
semenjak ia berusia kurang dari dua puluh lima tahun, Raden
Sindupati melarikan diri ke Blambangan. Tadinya
ia adalah seorang senopati muda di Jenggala yang melakukan pelanggaran besar, yaitu memperkosa dengan bujuk rayu dan ketampanannya
seorang puteri Jenggala. Ketika ketahuan, puteri itu membunuh diri
dan Raden Sindupati menjadi buronan. Semenjak itu tak pernah ia kembali ke
Jenggala dan karena kesaktiannya, ia memperoleh kedudukan tinggi di
Blambangan, bahkan kini dipercaya oleh Adipati Blambangan untuk mengacau dan melemahkan kedudukan
Jenggala dan Panjalu, bahkan kalau mungkin membunuh Endang Patibroto.
"Kakang Klabangkoro dan Klabangmuko!" katanya
tenang akan tetapi penuh wibawa.
"Tidak layak seorang
prajurit tenggelam ke dalam kegelisahan. Takut dan gentar merupakan pantangan terbesar bagi
seorang perajurit utama! Betapapun buruknya
kenyataan yang dihadapi,
seorang perajurit harus tetap tenang dan waspada."
"Maaf, raden, kami
memang salah .... " kata Kiabangkoro merendah.
"Yang belum mengerti itu tidak salah, kakang. Nah, sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi? Pagi ini kami telah mendengar akan tewasnya Demang Kanaroga, ini
berita baik, mengapa kalian seperti ketakutan?"
"Malam tadi, menurut rencana
Wiku Kalawisesa akan
merobohkan dua orang ponggawa Jenggala, pertama Demang Kanaroga dan
ke dua Pangeran Panjirawit suami Endang Patibroto." Terdengar suara mencela seorang kakek
berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar,
dialah yang paling tinggi besar di antara semua prajurit Blambangan yang
berada di situ.
"Kami berdua mendapat tugas untuk menyelidiki hasil usahanya itu di dekat gedung Pangeran
Panjirawit. Malam itu
mula-mula kami melihat dua ekor kelelawar terbang pulang dari atas gedung Demang Kanaroga, agaknya
sudah selesai tugas. Kemudian seperti
bayangan iblis...... tampak bayangan wanita itu.......... seperti terbang
layaknya!"
"Hemm, kau maksudkan bayangan
Endang Patibroto?" tanya Raden Sindupati tertarik. Karena
sudah belasan tahun ia tidak kembali ke
Jenggala, ia tidak pernah bertemu
dengan wanita sakti itu, hanya mendengar namanya.
"Betul, raden. Dia memang hebat luar biasa.
Kelelawar besar disambitnya, kemudian ia seperti terbang mengikuti
kelelawar itu. Dari istananya tidak terdengar sesuatu, tidak ada
tanda-tanda Pangeran Panjirawit tewas. Kami sedapat mungkin tergopoh-gopoh mengikutinya pula, dari jauh karena larinya
cepat seperti angin. Dia
membayangi kelelawar terbang. Coba bayangkan!" Klabangkoro menoleh kepada teman-temanaya
dengan mata terbelalak.
"Dia dapat berlari begitu cepatnya sehingga dapat
membayangi seekor kelelawar terbang!"
Semua pasukan menjadi gempar,
kecuali kakek tinggi besar
tadi yang kembali mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, dan Raden Sindupati yang merasa tidak aneh karena banyaknya pendekar di Jenggala yang mampu melakukan hal ini, termasuk dia sendiri.
"Lalu bagaimana?" tanya Sindupati, tidak puas melihat pasukannya
ribut-ribut. Semua orang diam,
tertarik dan ingin mendengarkan lebih lanjut.
"Ketika kami berdua tiba di pondok sang wiku,
kami terkejut setengah mati. Pondok itu sudah hancur lebur,
seperti diamuk gajah! Arca Bathara Kala sudah menjadi keping-kepingan batu dan di luar pondok sang wiku
bertanding melawan Endang Patibroto. Cantik dan gagah dia. Cantik manis sekali ya, adi
Klabangmuko?"
"Seperti bidadari
dari Bali!" kata Klabangmuko meram-melek,
agaknya membayangkan wajah yang jelita dan tubuh yang montok
itu. Ia tampak seperti seekor anjing
Herder melihat daging, menjilat-jilat bibir.
"Teruskan, kakang.
Bagaimana akhir
pertandingan?"
"Kami tadinya hendak membantu sang wiku, akan tetapi tidak keburu lagi karena sekali tampar
sang wiku menggeletak tak berkutik lagi. Bahkan berdiripun tidak mampu dia. Agaknya lengannya poklek (patah) dan
iganya remuk. Kemudian.......... kemudian.........." Orang tinggi besar dengan kumis sekepal sebelah
ini bergidik ngeri.
"Tenanglah, kakang.
Lalu bagaimana, terbunuhkah sang wiku?" tanya Raden Sindupati tenang.
"Kalau terbunuh biasa saja kami tidak akan ngeri, raden.
Wanita itu.......... huh, begitu
cantik jelita, begitu halus
kulitnya, begitu manis senyumnya,
kiranya...... seperti iblis sendiri! Dia membuat boneka
dari lempung menyerupai sang wiku, kemudian.......... kemudian ia terbang..........”
"Terbang??" Raden Sindupati terkejut juga,
karena sesakti-saktinya manusia, belum pernah ia mendengar ada orang dapat terbang, kecuali
kalau sudah memiliki tingkat
setengah dewa seperti misalnya
mendiang Sang Prabu
Airlangga, atau Sang Rakyan Kanuruhan Patih Narotama, atau sedikitnya setingkat
Sang Resi Empu Bharodo!
"Betul, terbang!
Bukankah kau melihat dia terbang, Klabangmuko?"
"Betul! Dia bersila begini, lalu
tubuhnya dalam keadaan bersila itu melayang ke arah sang wiku, mencabut rambutnya dan kembali melayang ke tempat tadi, masih duduk bersila seperti
ini," kata Klabangmuko sambil
meniru gerak-gerak Endang Patibroto. Raden Sindupati mengangguk-angguk. Ia mengerti sekarang dan
diam-diam ia kagum juga. Biarpun bukan
terbang, namun cara meloncat dengan keadaan duduk bersila bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kakek tinggi besar yang matanya lebar hanya mendengus lagi, seakan-akan semua yang diceritakan Itu tidak aneh baginya, biasa saja dan sudah diketahuinya.
"Kemudian.......... kemudian
ia melakukan persis seperti
yang dilakukan sang wiku selama ini
dengan Aji Kalacakranya. Ia mengambil tusuk konde dan menusuk-nusuk boneka dan
……. dan sang wiku berlumur darah
dari semua tubuhnya" cerita ini
membuat para prajurit merasa ngeri dan mereka hanya saling
pandang.
"Sudah kuduga..........
sudah kuduga.......... wiku sombong itu
mana mampu menandingi murid gusti
Dibyo Mamangkoro?" kata kakek
tinggi besar itu sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya.
"Semua itu tidak
penting," kata Raden Sindupati tak sabar,
"yang penting.......... apakah yang dikatakan oleh sang wiku ketika ia hendak dibunuh? Tentu kalian dapat mendengar apa yang mereka, bicarakan."
"Betul, raden. Endang Patibroto mengancam dan mendesak agar sang wiku mengaku siapa yang menyuruhnya melakukan
pembunuhan-pembunuhan itu.
No comments:
Post a Comment