Bagian 008


Ia ingin melihat pangeran ini terlepas daripada "cengkeraman" wanita iblis Endang Patibroto.
"Memang seyogyanya begitulah, gusti pangeran. Lebih baik berterus terang sehingga hamba dapat menghaturkan laporan yang jelas dan lengkap kepada sri baginda." Seorang abdi dalem datang berjalan jongkok, menghidangkan minuman. Percakapan terhenti sebentar dan Pangeran Panjirawit memberi tanda dengan tangan agar abdi dalem itu cepat-cepat pergi. Akan tetapi abdi dalem itu, seorang gadis berkulit kuning langsat berusia dua puluh tahun, meragu dan memandang kepada sang pangeran.
"Ada apa lagi? Pergilah?"
Gadis pelayan itu menyembah.
"Ampun kalau hamba mengganggu, gusti. Hamba hanya hendak melapor bahwa pagi hari ini Suminten pergi, entah ke mana tak seorangpun abdi mengetahuinya."
Kalau tidak sedang dirisaukan urusan besar, tentu Pangeran Panjirawit akan menjadi heran, menaruh perhatian atau setidaknya teringat akan gerak-gerik Suminten malam tadi. Akan tetapi pikirannya terlalu penuh oleh isterinya yang belum pulang dan oleh panggilan sang prabu, maka ia berkata tak sabar.
"Laporkan saja kepada Raden Sungkono agar dicari. Pergilah!" Abdi dalem meninggalkan mereka dengan langkah jongkok.
"Paman patih, malam tadi telah terjadi hal yang mengerikan. Paman tentu tahu akan peristiwa-peristiwa kematian para ponggawa yang mengerikan, bukan? Nah, malam tadi saya sendiri telah diserang!" "Haa..........??" Ki patih terbelalak, dan memandang tubuh Pangeran Panjirawit yang tiada kurang sesuatu. Pangeran Panjiriwit mengerti akan makna pandang mata ini.
"Memang, saya selamat, paman. Kalau tidak ada isteriku, kiranya pagi hari ini paman akan mendapatkan diriku serupa dengan ponggawa-ponggawa lain, mati berlumur darah tanpa luka.!!”
Dengan wajah masih pucat ki patih berkata,
"Malam tadi Demang Kanoraga yang menjadi korban."
"Aiihh.......... kakang Demang Kanaroga juga..........?" Sang pangeran menghela napas, lalu melanjutkan,
"Saya baru diserang pada lengan dan kaki. Malam tadi isteri saya yang merasa penasaran, memaksa diperkenankan keluar rumah untuk menyelidiki dan menangkap manusia atau iblis yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji itu. Baru ia pergi, tiba-tiba lenganku sakit dan berdarah. Untung isteri saya datang tepat pada waktunya dan saya tertolong. Paman tentu tahu akan kesaktian isteri saya. Kemudian isteri saya pergi untuk mencari iblis itu dan.......... sampai pagi hari ini belum kembali. Oleh karena itu, sampaikan permohonan ampun saya kepada kanjeng rama, dan kalau beliau menghendaki saya seorang diri menghadap, beri kabarlah, saya tentu akan datang menghadap tanpa isteri saya."
Ki Patih Bratamenggala menjadi bingung sekali. Hatinya bertanya-tanya. Benarkah cerita ini? Lengan pangeran ini sama sekali tidak tampak bekas luka, atau tidak tampak bekas berdarah. Apa buktinya kebenaran cerita ini? Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengajukan pertanyaan ini, setelah minum hidangan lalu memohon diri.
Ketika Sang Prabu Jenggala mendengar laporan ki patih, ia termenung. Berkali-kali menarik napas panjang.
“Urusan ini sungguh ruwet dan meragukan. Biarlah kita menanti perkembangan selanjutnya, kakang patih." Sementara itu, dengan hati gelisah Pangeran Panjirawit memanggil Sungkono menghadap.
"Kakang Sungkono, ada tugas penting sekali bagimu."
"Hamba sudah mendengar dari abdi dalem, mencari Suminten yang lari..........”
"Persetan dengan Suminten!" Pangeran Panjirawit berseru tak sabar.
"Bukan Suminten yang harus dicari, kakang Sungkono, melainkan gusti puteri!"
"Gusti puteri..........?" Raden Sungkono terkejut, menatap wajah junjungannya dengan heran dan kaget.
"Ya, gusti puteri. Dia malam tadi pergi, kakang. Kau tahu tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap ponggawa-ponggawa Jenggala dan Panjalu?"
Raden Sungkono mengangguk-angguk.
"Malam tadi Demang Kanaroga yang terkena," katanya.
"Benar. Nah, gusti puteri malam tadi pergi untuk melakukan penyelidikan, untuk menangkap si pembunuh laknat setelah menyelamatkan aku yang hampir saja menjadi korban juga."
"Paduka, gusti..........??" Kembali Sungkono terkejut.
"Tak usah ribut-ribut. Betapapun saktinya pembunuh pengecut itu, dia tak mungkin dapat mengalahkan gusti puteri. Karena itu dia malam tadi pergi melakukan penyelidikan dan pengejaran."
Sungkono mengangguk-angguk.
"Memang sesungguhnya di dalam hati, hamba juga mengambil kesimpulan bahwa penjahat iblis itu hanya dapat dltangkap oleh gusti puteri yang sakti mandraguna."
"Benar, kakang. Sekarang, gustimu belum juga pulang. Aku merasa khawatir juga. Oleh karena itu, kau kerahkan anak buahmu, kau lakukan penyelidikan ke mana gustimu melakukan pengejaran dan apabila perlu, kau harus siap membantunya. Mengerti, kakang?"
"Mengerti dan siap, gusti."
"Baik, aku percaya kepadamu. Apapun yang terjadi dengan diriku di sini, kau tidak perlu mencampuri, yang penting lekas susul dan temukan gustimu puteri. Nah, berangkatlah sekarang juga, kakang Sungkono."
Setelah pengawalnya yang setia itu pergi, Pangeran Panjirawit termenung, hatlnya merasa tidak enak sekali, wajah isterinya yang tercinta terbayang-bayang dan minuman panas di meja sampai menjadi dingin tanpa disentuhnya.

"Waahh.......... celaka, raden.......... celaka ..........tiga belas..........!!"
Raden Sindupati mengangkat alis dan menatap Klabangkoro dan Klabangmuko yang datang berlari-lari dengan napas senin kemis hampir putus, wajah penuh keringat sehingga kumis mereka yang sekepal sebelah itu menjadi basah kuyup dan kini berjuntai turun, sama sekali kehilangan kegagahannya, Di belakang Raden Sindupati, sekelompok pasukan terdiri dari dua puluh orang lebih, rata-rata berperawakan tinggi besar berserijata tombak, golok, atau penggada. Mereka berikat kepala seperti Klabangkoro dan Klabangmuko, dengan ujung menjungat ke atas seperti tanduk. Biarpun mereka itu orang-orang yang kelihatan kasar, namun jelas mereka bukan orang-orang sembarangan, melainkan "berisi'. Inilah pasukan dari Blambangan, anak buah Adipati Blambangan yang tersohor kuat. Pemimpin mereka, Raden Sindupati, berbeda dengan mereka. Memang dia juga mengenakan ikat kepala yang sama, akan tetapi perawakannya sedang, berdada bidang, wajahnya tampan dan usianya belum lewat empat puluh tahun. Kulitnya kuning bersih dan wajahnya selalu tersenyum, pandang matanya tajam. Kalau anak buahnya adalah orang-orang yang membayangkan kekuatan dan ketangkasan, adalah Raden Sindupati ini membayangkan kekuatan batin dan kesaktian. Senjatanya pun lebih sederhana, sebatang keris terselip di pinggangnya. Sudah belasan tahun, semenjak ia berusia kurang dari dua puluh lima tahun, Raden Sindupati melarikan diri ke Blambangan. Tadinya ia adalah seorang senopati muda di Jenggala yang melakukan pelanggaran besar, yaitu memperkosa dengan bujuk rayu dan ketampanannya seorang puteri Jenggala. Ketika ketahuan, puteri itu membunuh diri dan Raden Sindupati menjadi buronan. Semenjak itu tak pernah ia kembali ke Jenggala dan karena kesaktiannya, ia memperoleh kedudukan tinggi di Blambangan, bahkan kini dipercaya oleh Adipati Blambangan untuk mengacau dan melemahkan kedudukan Jenggala dan Panjalu, bahkan kalau mungkin membunuh Endang Patibroto.
"Kakang Klabangkoro dan Klabangmuko!" katanya tenang akan tetapi penuh wibawa.
"Tidak layak seorang prajurit tenggelam ke dalam kegelisahan. Takut dan gentar merupakan pantangan terbesar bagi seorang perajurit utama! Betapapun buruknya kenyataan yang dihadapi, seorang perajurit harus tetap tenang dan waspada."
"Maaf, raden, kami memang salah .... " kata Kiabangkoro merendah.
"Yang belum mengerti itu tidak salah, kakang. Nah, sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi? Pagi ini kami telah mendengar akan tewasnya Demang Kanaroga, ini berita baik, mengapa kalian seperti ketakutan?"
"Malam tadi, menurut rencana Wiku Kalawisesa akan merobohkan dua orang ponggawa Jenggala, pertama Demang Kanaroga dan ke dua Pangeran Panjirawit suami Endang Patibroto." Terdengar suara mencela seorang kakek berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar, dialah yang paling tinggi besar di antara semua prajurit Blambangan yang berada di situ.
"Kami berdua mendapat tugas untuk menyelidiki hasil usahanya itu di dekat gedung Pangeran Panjirawit. Malam itu mula-mula kami melihat dua ekor kelelawar terbang pulang dari atas gedung Demang Kanaroga, agaknya sudah selesai tugas. Kemudian seperti bayangan iblis...... tampak bayangan wanita itu.......... seperti terbang layaknya!"
"Hemm, kau maksudkan bayangan Endang Patibroto?" tanya Raden Sindupati tertarik. Karena sudah belasan tahun ia tidak kembali ke Jenggala, ia tidak pernah bertemu dengan wanita sakti itu, hanya mendengar namanya.
"Betul, raden. Dia memang hebat luar biasa. Kelelawar besar disambitnya, kemudian ia seperti terbang mengikuti kelelawar itu. Dari istananya tidak terdengar sesuatu, tidak ada tanda-tanda Pangeran Panjirawit tewas. Kami sedapat mungkin tergopoh-gopoh mengikutinya pula, dari jauh karena larinya cepat seperti angin. Dia membayangi kelelawar terbang. Coba bayangkan!" Klabangkoro menoleh kepada teman-temanaya dengan mata terbelalak.
"Dia dapat berlari begitu cepatnya sehingga dapat membayangi seekor kelelawar terbang!" Semua pasukan menjadi gempar, kecuali kakek tinggi besar tadi yang kembali mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, dan Raden Sindupati yang merasa tidak aneh karena banyaknya pendekar di Jenggala yang mampu melakukan hal ini, termasuk dia sendiri.
"Lalu bagaimana?" tanya Sindupati, tidak puas melihat pasukannya ribut-ribut. Semua orang diam, tertarik dan ingin mendengarkan lebih lanjut.
"Ketika kami berdua tiba di pondok sang wiku, kami terkejut setengah mati. Pondok itu sudah hancur lebur, seperti diamuk gajah! Arca Bathara Kala sudah menjadi keping-kepingan batu dan di luar pondok sang wiku bertanding melawan Endang Patibroto. Cantik dan gagah dia. Cantik manis sekali ya, adi Klabangmuko?"
"Seperti bidadari dari Bali!" kata Klabangmuko meram-melek, agaknya membayangkan wajah yang jelita dan tubuh yang montok itu. Ia tampak seperti seekor anjing Herder melihat daging, menjilat-jilat bibir.
"Teruskan, kakang. Bagaimana akhir pertandingan?"
"Kami tadinya hendak membantu sang wiku, akan tetapi tidak keburu lagi karena sekali tampar sang wiku menggeletak tak berkutik lagi. Bahkan berdiripun tidak mampu dia. Agaknya lengannya poklek (patah) dan iganya remuk. Kemudian.......... kemudian.........." Orang tinggi besar dengan kumis sekepal sebelah ini bergidik ngeri.
"Tenanglah, kakang. Lalu bagaimana, terbunuhkah sang wiku?" tanya Raden Sindupati tenang.
"Kalau terbunuh biasa saja kami tidak akan ngeri, raden. Wanita itu.......... huh, begitu cantik jelita, begitu halus kulitnya, begitu manis senyumnya, kiranya...... seperti iblis sendiri! Dia membuat boneka dari lempung menyerupai sang wiku, kemudian.......... kemudian ia terbang..........”
"Terbang??" Raden Sindupati terkejut juga, karena sesakti-saktinya manusia, belum pernah ia mendengar ada orang dapat terbang, kecuali kalau sudah memiliki tingkat setengah dewa seperti misalnya mendiang Sang Prabu Airlangga, atau Sang Rakyan Kanuruhan Patih Narotama, atau sedikitnya setingkat Sang Resi Empu Bharodo!
"Betul, terbang! Bukankah kau melihat dia terbang, Klabangmuko?"
"Betul! Dia bersila begini, lalu tubuhnya dalam keadaan bersila itu melayang ke arah sang wiku, mencabut rambutnya dan kembali melayang ke tempat tadi, masih duduk bersila seperti ini," kata Klabangmuko sambil meniru gerak-gerak Endang Patibroto. Raden Sindupati mengangguk-angguk. Ia mengerti sekarang dan diam-diam ia kagum juga. Biarpun bukan terbang, namun cara meloncat dengan keadaan duduk bersila bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kakek tinggi besar yang matanya lebar hanya mendengus lagi, seakan-akan semua yang diceritakan Itu tidak aneh baginya, biasa saja dan sudah diketahuinya.
"Kemudian.......... kemudian ia melakukan persis seperti yang dilakukan sang wiku selama ini dengan Aji Kalacakranya. Ia mengambil tusuk konde dan menusuk-nusuk boneka dan ……. dan sang wiku berlumur darah dari semua tubuhnya" cerita ini membuat para prajurit merasa ngeri dan mereka hanya saling pandang.
"Sudah kuduga.......... sudah kuduga.......... wiku sombong itu mana mampu menandingi murid gusti Dibyo Mamangkoro?" kata kakek tinggi besar itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Semua itu tidak penting," kata Raden Sindupati tak sabar,
"yang penting.......... apakah yang dikatakan oleh sang wiku ketika ia hendak dibunuh? Tentu kalian dapat mendengar apa yang mereka, bicarakan."
"Betul, raden. Endang Patibroto mengancam dan mendesak agar sang wiku mengaku siapa yang menyuruhnya melakukan pembunuhan-pembunuhan itu.

<<< Bagian 007                                                                                   Bagian 009 >>>

No comments:

Post a Comment