Bagian 009


Dan sang wiku, dalam saat terakhir sekalipun, tetap berpegang kepada kesetiaan, dia mengatakan bahwa yang menyuruhnya adalah Pangeran Darmokusumo dari Panjalu."
"Bagus..........I Ha-ha-ha-ha, bagus.......... Wiku Kalawisesa, andika (kamu) tewas sebagai seorang gagah sejati yang masih memegang kesetiaan. Bagus, ha-ha-ha, tepat sekali rencana Sang Adipati Blambangan." Tiba-tiba ia menoleh ke arah kakek tinggi besar itu dan berkata,
"Paman Brejeng, kau yakin betul bahwa Endang Patibroto akan mengenalmu?"
"Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku mengingatkan hal-hal lalu, tentu ia ingat bahwa aku adalah Brejeng, pelayan pribadi Gusti Dibyo Mamangkoro," jawab kakek itu dengan sikap dan kata-kata yang kasar sekali. Agaknya ia tidak bisa bicara halus seperti sikap orang-orang liar. Memang orang liarlah kakek ini, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro.
"Baik sekali. Memang untuk itulah kau kubawa serta, paman Brejeng. Sekarang dengarkan kalian semua rencanaku selanjutnya." Raden Sindupati duduk di atas sebuah batu dan anak buahnya berjongkok mengelilinginya, mendengarkan rencana siasat yang akan dipergunakan terhadap Endang Patibroto.

Kita tinggalkan dulu pasukan Blambangan yang sedang mengatur slasat dan mari kita mengikuti perjalanan Endang Patibroto. Tentu saja Endang Patibroto tidak mengetahui sama sekali akan keadaan suaminya, dan lebihlebih tidak menyangka ada pasukan Blambangan yang merencanakan siasat untuk menjebaknya. Ia melakukan perjalanan siang malam menuju ke istana Kota Raja Panjalu. Di sepanjang perjalanan, ia melihat betapa kehidupan rakyat Panjalu jauh lebih makmur daripada keadaan rakyat Jenggala. Rumah-rumah penduduk dusun lebih baik, pakaian mereka lebih bersih dan terutama sekali sinar wajah mereka lebih gembira dan tubuh mereka leblh gemuk sehat. Ia menghela napas panjang dan harus mengakui bahwa sang prabu di Panjalu jauh lebih pandai mengatur pemerintahan daripada sang prabu di Jenggala. Ketika tiba di Kota Raja Panjalu, ia tidak berani memperlihatkan diri, bersembunyi dan malam harinya ia menyusup ke dalam kota raja, langsung ia mencari istana tempat tinggal Pangeran Darmokusumo. Malam itu sunyi sekali karena hujan turun rintik-rintik semenjak sore. Akan tetapi suasana sunyi ini menyenangkan hati Endang Patibroto. Memang lebih sunyi lebih baik. Ia hendak menculik Pangeran Darmokusumo dan dipaksanya mengaku. Kemarahannya terhadap pangeran ini masih belum mereda, bahkan setelah tiba di situ, amarahnya makin meluap. Ia teringat betapa pangeran ini yang menjadi biang keladi segala urusan, yang mengotorkan dan mencemarkan nama baiknya, bahkan yang hampir saja membunuh suaminya. Kalau teringat akan ini, sudah sepatutnya kalau ia membunuh pangeran ini. Akan tetapi ia tidak akan membunuhnya, hanya akan memaksanya mengakui semua perbuatannya di depan sang prabu, di depan umum. Endang Patibroto sama sekall tidak mengira bahwa desas-desus tentang dirinya pada waktu itu lebih hebat lagi. Berita yang didesas-desuskan oleh Suminten kiranya telah mendahuluinya sampai ke Panjalu! Juga kepergiannya, bahkan ia tidak berada di rumah, telah terdengar sampai ke Panjalu. Di dalam beberapa hari ini tidak pernah terjadi pembunuhan-pembunuhan mujijat lagi dan hal ini dihubungkan dengan kepergiannya. Setelah ia pergi, tidak ada lagi terjadi pembunuhan-pembunuhan. Makin yakinlah hati orang-orang yang tidak menyukainya bahwa dialah biang keladi semua pembunuhan. Juga Endang Patibroto sama sekali tidak pernah menduga bahwa pada saat itu, baris pendem pasukan Panjalu sudah siap menantinya. Para senopati Panjalu telah menerima berita rahasia yang dikirim oleh Raden Sindupati tentang kedatangannya ke Panjalu. Terutama istana Pangeran Darmokusumo telah dijaga oleh baris pendem yang amat banyak dan kuat. Inilah merupakan hasil sebuah di antara siasat Raden Slndupati. Dengan menyamar sebagai seorang ponggawa Jenggala ia mengirim seorang pembantunya berkuda secepatnya ke Panjalu membawa berita bahwa Endang Patibroto berusaha menyerang dan membunuh Pangeran Darmokusumo. Dan karena memang desas-desus tentang Endang Patibroto sudah santer mempengaruhi orang-orang dan terutama sekali para senopati Panjalu, maka tanpa memeriksa lebih lanjut lagi para senopati lalu membuat persiapan menyambut kedatangan Endang Patibroto. Karena memang dibiarkan masuk, dengan mudah Endang Patibroto malam itu meloncat masuk melalui dinding tinggi yang mengelilingi istana Pangeran Darmokusumo. Akan tetapi begitu ia menyelinap ke ruangan depan, terdengar bentakan keras,
"Tangkap pembunuh!" Seketika ia dikurung oleh puluhan orang pengawal bersenjata lengkap. Obor-obor dipasang dan ia segera diserbu.
Endang Patibroto terkejut sekali. Ia hendak membuka mulut, akan tetapi maklum bahwa percuma saja bicara. Para pengawal itu tentulah kaki tangan Pangeran Darmokusumo yang entah bagaimana sudah mengetahui kedatangannya.
"Pangeran Darmokusumo, keluarlah kalau kau laki-laki. Jangan mengusahakan rencana pemberontakan dan pembunuhan secara keji dan pengecut!" teriak Endang Patibroto, akan tetapi segala macam senjata sudah mengurung dan menyerangnya. Terpaksa Endang Patibroto bergerak dan robohlah empat orang pengeroyok. Ia hendak nekat masuk, ingin menangkap Pangeran Darmokusumo, akan tetapi dari dalam berlompatan keluar lima orang senopati pilihan dari Panjalu dikepalai oleh Ki Patih Suroyudo sendiri. Patih tua ini memegang tombak pusaka dan ia membentak.
"Endang Patibroto, kau benar-benar iblis betina. Kau pembunuh pengecut dan keji, masih berani mengeluarkan kata-kata keji terhadap gusti pangeran?"
"Paman Patih Suroyudo! Dengarlah baik-baik.., Bukan aku, melainkan Pangeran Darmokusumo yang menjadi biang keladi segala..........”
"Tutup mulut, iblis wanita laknat!" Ki Patih Suroyudo sudah menerjang dengan tombaknya, namun sedikit miringkan tubuh, Endang Patibroto sudah mengelak dan sekali tangannya bergerak, ia menangkap tombak dan didorong kuat-kuat ke belakang sehingga ki patih yang tua itu terhuyung-huyung dan terjengkang roboh. Lima orang senopati berseru marah dan menubruk dengan senjata masing-masing.
“Kalian tidak mau mendengar kata-kataku?? Biarkan aku menghadap sang prabu, akan kubuka semua rahasia Pangeran Darmokusumo!" teriaknya akan tetapi siapa sudi mendengar kata-katanya?

Semua orang sudah membencinya, yakin bahwa dialah wanita iblis yang menyebar maut dan kini datang hendak membunuh Pangeran Darmokusumo pula. Lima orang senopati dengan gerakan lincah mendesak maju. Endang Patibroto kewalahan juga karena hujan senjata menyerang dirinya. Ia mengeluarkan pekik melengking saking marahnya dan...,... Aji Sardulo Bairowo ini membuat lima orang pengawal yang kurang kuat terguling roboh. Menggunakan kesempatan selagi lima orang senopati itu mundur karena pengaruh Sardulo Bairowo, Endang Patibroto meloncat ke belakang. Seorang senopati melontarkan tombaknya. Endang Patibroto membuat gerak loncat berjungkir balik, ujung kakinya menyentuh tombak yang terbang menyeleweng dan menembus dada seorang pengawal, pengawal itu menjerit dan roboh tewas, dadanya ditembus tombak. Geger di pekarangan istana Pangeran Darmokusumo. Tampak oleh Endang Patibroto kini Pangeran Darmokusumo keluar dari istana berdiri tegak dengan muka marah. Puteri Mayagaluh berdiri di samping suaminya, sebatang keris telanjang di tangan, menjaga keselamatan suaminya. Hampir Endang Patibroto tertawa. Puteri ini masih cantik, bekas sahabatnya, adik suaminya. Memegang keris, seakan-akan dengan keris itu akan dapat melawannya. Ingin ia terbang menyambar pangeran itu, namun jarak terlampau jauh dan di depannya terlampau banyak pengawal mengeroyoknya. Bahkan kini lima orang senopati sudah maju lagi, yang kehilangan tombak sudah memegang tombak baru. Juga Ki Patih Suroyudo sudah maju samba memberi aba-aba membesarkan hati anak buahnya. Endang Patibroto menarik napas panjang. Percuma saja menggunakan kekerasan. Tak mungkin ia dapat melawan sekian banyaknya perajurit, belum lagi kalau pasukan-pasukan pembantu tiba. Dia seorang diri mana mampu menghadapi ratusan, bahkan ribuan prajurit Panjalu. Juga, tidak baik kalau ia menyebar maut di antara para perajurit ini, yang tidak tahu apa-apa dan yang terkena bujuk Pangeran Darmokusumo si pengkhianat, si pemberontak.
Lebih baik ia pulang, menceritakan terus terang kepada suaminya. Suaminya tentu akan mencari jalan keluar yang baik, mungkin dengan melapor kepada sang prabu di Jenggala. Ingin rasanya ia menangis saking kecewa hatinya.

Usahanya gagal malah ia dikurung rapat. Ia menjadi marah dan kembali beberapa orang pengeroyok roboh terjungkal. Ia hanya mengandalkan kaki tangan, namun para prajurit itu tidak berdaya. Sekali tangkis tombak patah, pedang golok beterbangan. Sekali tampar biarpun perlahan, pengeroyok-pengeroyok berjatuhan. Endang Patibroto memekik lagi, hebat sekali pekik Sardulo Bairowo ini. Para pengeroyok terdekat mundur ketakutan, saling tabrak saling tindih, saling himpit. Endang Patibroto meloncat, dan terus berloncatan menggunakan kepala-kepala dan pundak-pundak para pengeroyok sebagai landasan. Akhirnya ia tiba di luar istana.
"Tangkap.......... ! Bunuh.......... ! Kejar.......... !!" Teriakan-teriakan ini saling sahut dan bertubi-tubi. Mereka mengejar, namun sia-sia. Bagaikan bayangan iblis tubuh Endang Patibroto berkelebat dan senjata-senjata beterbangan lagi. Teriak-teriakan kesakitan terdengar susul- menyusul. Para pengeroyok banyak yang roboh, membuat yang lain gentar. Namun Endang Patibroto tidak berniat membunuh mereka, hanya merobohkan dengan tamparan-tamparan sekedar membuat tulang lengan patah dan kepala pening. Kemudian ia melompat lagi, merobohkan lagi beberapa belas pengeroyok kemudian lenyap menghilang ditelan malam. Hujan masih turun rintik-rintik, keadaan gelap pekat namun para perajurit masih sibuk mencari dan mengejar sampai jauh. Suara mereka berisik, mengagetkan para penduduk yang tidak berani keluar dan menjadi penakut sejak terjadinya peristiwa pembunuhan-pembunuhan aneh pada diri para ponggawa selama ini. Terengah-engah Endang Patibroto berhenti berlari di dalam hutan, berteduh di bawah sebatang pohon besar. Ia lelah, lelah sekali. Lelah lahir batin, sudah sepuluh tahun ia tidak pernah bertanding, maka pertandingan melawan Wiku Kalawlsesa yang sakti, ditambah lagi perjalanan tak kunjung henti ke Panjalu, kemudian pengeroyokan ketat tadi, membuat tubuhnya lelah luar biasa. Dan sepuluh tahun ia hidup bahagia, aman tenteram di samping suaminya yang tercinta, kini menghadapi pelbagai hal menjengkelkan hati, batinnyapun lelah sekali. Ia bersandar kepada sebatang pohon, dan tak terasa lagi tertidur, biarpun air hujan ada satu dua yang menetes turun ke atas tubuhnya melalui daun-daun pohon yang lebat. Hatinya diliputi kekhawatiran besar ketika Endang Patibroto melanjutkan perjalanannya, pulang ke Jenggala. Ia dapat membayangkan betapa gelisah hati suaminya yang malam itu ditinggalkan, kemudian sampai hampir dua pekan ia tidak pulang. Akan tetapi suaminya akan lebih gelisah lagi kalau sudah mendengar ceritanya tentang pengakuan Wiku Kalawisesa. Siapa kira, Pangeran Darmokusumo. Bedebah!
Hari telah senja ketika ia tiba di pintu gerbang sebelah selatan Kota Raja Jenggala. Tiba-tiba dari arah kiri ia mendengar bunyi burung emprit gantil.
“Tiiiiit-tuiiiiit-tuiiit-tit-tit-tit..........”

Tak mungkin bunyi burung emprit gantil. Itulah suara tanda rahasia yang biasa dipakai para pengawal suaminya. Hatinya berdebar tak enak dan secepat kilat tubuhnya berkelebat ke kiri. Keadaan sudah remang-remang akan tetapi ia dapat melihat bergeraknya tubuh orang di selokan dekat sawah.
"Gusti puteri.......... Bayangan itu memanggil, lirih dan suaranya mengandung rintihan.
Ia meloncat dekat. Melihat orang itu merangkak keluar dari selokan.
"Gusti puteri.......... !”
"Aahhh, engkaukah ini, kakang Sungkono..........?“ Endang Patibroto meloncat menghampiri dan orang itu mengeluarkan keluhan, lalu menubruk kaki Endang Patibroto.
"Aduhhh, gusti puteri.......... “
"Ada apa, kakang Sungkono? Mengapa kau di sini dan.......... eh, kenapa berlumur darah? Engkau terluka, kenapa?" Hati Endang Patibroto seperti ditusuk-tusuk pisau, indra ke enamnya bekerja dan ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang hebat.
"Gusti puteri.......... bencana hebat menimpa.......... gusti pangeran ditangkap dengan tuduhan melindungi paduka.......... dituduh memberontak.......... karena pembunuhan-pembunuhan itu..........
karena paduka menyerang istana Pangeran Darmokusumo.......... !"
Dada Endang Patibroto terguncang, menggelora, kakinya menggigil. Suaminya ditangkap! Akan tetapi ia masih dapat menguasai suaranya yang bertanya mendesak.
"Lalu bagaimana.......... ? Dia dibawa kemana.......... ?" Ia merasa ngeri mendengar suaranya sendiri, seperti suara orang lain yang asing, suara yang kosong.
"Mula-mula.......... pasukan datang........hendak menangkap paduka, atas perintah gusti prabu. Gusti pangeran membantah, melawan dan dikeroyok. Hamba.......... hamba membelanya, tapi kena tusuk tombak....... aduhh, hamba tak kuat lagi, gusti.......” Endang Patibroto berjongkok, memegang pundak Raden Sungkono yang ternyata terluka parah, terutama di lambungnya.
"Kakang.......... ke mana dibawanya suamiku.......... “

<<< Bagian 008                                                                                    Bagian 010 >>>

No comments:

Post a Comment