Dan sang wiku, dalam saat terakhir sekalipun, tetap berpegang kepada kesetiaan, dia mengatakan bahwa yang menyuruhnya adalah Pangeran Darmokusumo dari Panjalu."
"Bagus..........I
Ha-ha-ha-ha, bagus.......... Wiku Kalawisesa,
andika (kamu) tewas sebagai seorang gagah sejati yang masih memegang kesetiaan. Bagus, ha-ha-ha, tepat sekali rencana Sang Adipati Blambangan." Tiba-tiba
ia menoleh ke arah kakek
tinggi besar itu dan berkata,
"Paman Brejeng, kau yakin betul bahwa Endang Patibroto akan mengenalmu?"
"Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku mengingatkan hal-hal lalu, tentu ia ingat bahwa aku
adalah Brejeng, pelayan pribadi Gusti Dibyo Mamangkoro," jawab kakek itu dengan sikap dan kata-kata yang kasar sekali. Agaknya ia tidak
bisa bicara halus seperti sikap
orang-orang liar. Memang orang
liarlah kakek ini, bekas anak buah
Dibyo Mamangkoro.
"Baik sekali. Memang untuk itulah kau kubawa serta,
paman Brejeng. Sekarang dengarkan kalian semua rencanaku selanjutnya." Raden Sindupati duduk di atas sebuah batu dan anak buahnya berjongkok mengelilinginya, mendengarkan
rencana siasat yang akan
dipergunakan terhadap Endang
Patibroto.
Kita tinggalkan dulu pasukan Blambangan yang
sedang mengatur slasat dan mari kita
mengikuti perjalanan Endang Patibroto. Tentu saja Endang Patibroto tidak
mengetahui sama sekali akan keadaan suaminya, dan lebihlebih
tidak menyangka ada pasukan Blambangan yang merencanakan siasat untuk menjebaknya. Ia melakukan perjalanan siang
malam menuju ke istana Kota Raja Panjalu. Di
sepanjang perjalanan, ia melihat betapa kehidupan rakyat Panjalu jauh
lebih makmur daripada keadaan rakyat Jenggala. Rumah-rumah penduduk dusun
lebih baik, pakaian mereka lebih
bersih dan terutama sekali sinar
wajah mereka lebih gembira dan tubuh
mereka leblh gemuk sehat. Ia menghela napas panjang dan harus mengakui bahwa
sang prabu di Panjalu jauh lebih
pandai mengatur pemerintahan daripada sang prabu di Jenggala. Ketika
tiba di Kota Raja Panjalu, ia tidak
berani memperlihatkan diri, bersembunyi dan malam harinya ia menyusup ke dalam
kota raja, langsung ia mencari istana tempat tinggal Pangeran
Darmokusumo. Malam itu sunyi
sekali karena hujan turun rintik-rintik semenjak sore. Akan tetapi suasana sunyi ini menyenangkan hati Endang Patibroto. Memang lebih sunyi lebih baik. Ia hendak
menculik Pangeran Darmokusumo dan dipaksanya mengaku. Kemarahannya terhadap pangeran
ini masih belum mereda, bahkan
setelah tiba di situ, amarahnya
makin meluap. Ia teringat betapa pangeran ini yang menjadi biang keladi segala urusan, yang mengotorkan dan mencemarkan nama
baiknya, bahkan yang hampir saja
membunuh suaminya. Kalau teringat akan ini, sudah sepatutnya kalau
ia membunuh pangeran ini. Akan tetapi ia tidak akan
membunuhnya, hanya akan memaksanya mengakui semua perbuatannya di depan sang prabu, di depan umum. Endang Patibroto sama sekall tidak mengira bahwa desas-desus tentang dirinya pada waktu itu lebih hebat lagi. Berita
yang didesas-desuskan oleh Suminten kiranya
telah mendahuluinya sampai ke
Panjalu! Juga kepergiannya, bahkan
ia tidak berada di rumah, telah terdengar sampai
ke Panjalu. Di dalam beberapa hari ini tidak pernah terjadi
pembunuhan-pembunuhan mujijat lagi dan hal ini dihubungkan dengan kepergiannya. Setelah
ia pergi, tidak ada lagi terjadi pembunuhan-pembunuhan. Makin yakinlah hati orang-orang yang tidak menyukainya bahwa dialah biang keladi semua
pembunuhan. Juga Endang Patibroto
sama sekali tidak pernah menduga bahwa
pada saat itu, baris pendem pasukan Panjalu sudah siap menantinya. Para senopati Panjalu telah
menerima berita rahasia yang dikirim oleh Raden Sindupati tentang
kedatangannya ke Panjalu.
Terutama istana Pangeran Darmokusumo telah dijaga oleh baris pendem yang amat banyak dan kuat. Inilah
merupakan hasil sebuah di antara
siasat Raden Slndupati. Dengan menyamar sebagai seorang
ponggawa Jenggala ia mengirim seorang pembantunya berkuda
secepatnya ke Panjalu membawa
berita bahwa Endang Patibroto berusaha
menyerang dan membunuh Pangeran
Darmokusumo. Dan karena memang
desas-desus tentang Endang Patibroto sudah santer
mempengaruhi orang-orang dan terutama sekali para senopati Panjalu,
maka tanpa memeriksa lebih
lanjut lagi para senopati lalu
membuat persiapan menyambut kedatangan Endang Patibroto. Karena memang dibiarkan masuk, dengan mudah Endang Patibroto malam itu meloncat masuk
melalui dinding tinggi yang mengelilingi istana Pangeran Darmokusumo. Akan tetapi begitu ia menyelinap ke ruangan depan, terdengar bentakan keras,
"Tangkap pembunuh!" Seketika ia dikurung oleh puluhan orang pengawal bersenjata lengkap.
Obor-obor dipasang dan ia
segera diserbu.
Endang Patibroto terkejut
sekali. Ia hendak membuka
mulut, akan tetapi maklum bahwa percuma saja
bicara. Para pengawal itu tentulah kaki tangan Pangeran Darmokusumo yang entah bagaimana sudah mengetahui kedatangannya.
"Pangeran Darmokusumo, keluarlah kalau kau
laki-laki. Jangan mengusahakan rencana pemberontakan dan pembunuhan secara
keji dan pengecut!" teriak
Endang Patibroto, akan tetapi segala
macam senjata sudah mengurung dan menyerangnya. Terpaksa Endang
Patibroto bergerak dan robohlah empat orang pengeroyok. Ia hendak nekat masuk, ingin menangkap Pangeran
Darmokusumo, akan tetapi dari dalam berlompatan keluar lima orang senopati pilihan dari Panjalu dikepalai oleh Ki
Patih Suroyudo sendiri. Patih tua ini memegang tombak pusaka dan ia membentak.
"Endang Patibroto, kau benar-benar iblis
betina. Kau pembunuh pengecut
dan keji, masih berani mengeluarkan kata-kata keji terhadap gusti
pangeran?"
"Paman Patih Suroyudo! Dengarlah baik-baik.., Bukan
aku, melainkan Pangeran Darmokusumo yang menjadi biang keladi segala..........”
"Tutup mulut, iblis
wanita laknat!" Ki Patih
Suroyudo sudah menerjang dengan
tombaknya, namun sedikit miringkan tubuh, Endang Patibroto sudah mengelak dan sekali tangannya bergerak, ia menangkap tombak dan didorong kuat-kuat ke belakang sehingga ki patih
yang tua itu terhuyung-huyung dan
terjengkang roboh. Lima orang
senopati berseru marah dan menubruk dengan senjata masing-masing.
“Kalian tidak mau mendengar kata-kataku?? Biarkan aku menghadap sang prabu, akan kubuka semua rahasia
Pangeran Darmokusumo!" teriaknya
akan tetapi siapa sudi mendengar kata-katanya?
Semua orang sudah
membencinya, yakin bahwa dialah wanita iblis yang menyebar maut dan kini datang
hendak membunuh Pangeran Darmokusumo pula. Lima orang senopati dengan gerakan
lincah mendesak maju. Endang Patibroto kewalahan juga karena hujan senjata
menyerang dirinya. Ia mengeluarkan pekik melengking saking marahnya dan...,...
Aji Sardulo Bairowo ini membuat lima orang pengawal yang kurang kuat terguling
roboh. Menggunakan kesempatan selagi lima orang senopati itu mundur karena
pengaruh Sardulo Bairowo, Endang Patibroto meloncat ke belakang. Seorang
senopati melontarkan tombaknya. Endang Patibroto membuat gerak loncat
berjungkir balik, ujung kakinya menyentuh tombak yang terbang menyeleweng dan
menembus dada seorang pengawal, pengawal itu menjerit dan roboh tewas, dadanya
ditembus tombak. Geger di pekarangan istana Pangeran Darmokusumo. Tampak oleh
Endang Patibroto kini Pangeran Darmokusumo keluar dari istana berdiri tegak
dengan muka marah. Puteri Mayagaluh berdiri di samping suaminya, sebatang keris
telanjang di tangan, menjaga keselamatan suaminya. Hampir Endang Patibroto
tertawa. Puteri ini masih cantik, bekas sahabatnya, adik suaminya. Memegang
keris, seakan-akan dengan keris itu akan dapat melawannya. Ingin ia terbang
menyambar pangeran itu, namun jarak terlampau jauh dan di depannya terlampau
banyak pengawal mengeroyoknya. Bahkan kini lima orang senopati sudah maju lagi,
yang kehilangan tombak sudah memegang tombak baru. Juga Ki Patih Suroyudo sudah
maju samba memberi aba-aba membesarkan hati anak buahnya. Endang Patibroto
menarik napas panjang. Percuma saja menggunakan kekerasan. Tak mungkin ia dapat
melawan sekian banyaknya perajurit, belum lagi kalau pasukan-pasukan pembantu
tiba. Dia seorang diri mana mampu menghadapi ratusan, bahkan ribuan prajurit
Panjalu. Juga, tidak baik kalau ia menyebar maut di antara para perajurit ini,
yang tidak tahu apa-apa dan yang terkena bujuk Pangeran Darmokusumo si
pengkhianat, si pemberontak.
Lebih baik ia pulang,
menceritakan terus terang kepada suaminya. Suaminya tentu akan mencari jalan
keluar yang baik, mungkin dengan melapor kepada sang prabu di Jenggala. Ingin
rasanya ia menangis saking kecewa hatinya.
Usahanya gagal malah ia
dikurung rapat. Ia menjadi marah dan kembali beberapa orang pengeroyok roboh
terjungkal. Ia hanya mengandalkan kaki tangan, namun para prajurit itu tidak
berdaya. Sekali tangkis tombak patah, pedang golok beterbangan. Sekali tampar
biarpun perlahan, pengeroyok-pengeroyok berjatuhan. Endang Patibroto memekik
lagi, hebat sekali pekik Sardulo Bairowo ini. Para pengeroyok terdekat mundur
ketakutan, saling tabrak saling tindih, saling himpit. Endang Patibroto
meloncat, dan terus berloncatan menggunakan kepala-kepala dan pundak-pundak
para pengeroyok sebagai landasan. Akhirnya ia tiba di luar istana.
"Tangkap.......... !
Bunuh.......... ! Kejar.......... !!" Teriakan-teriakan ini saling sahut
dan bertubi-tubi. Mereka mengejar, namun sia-sia. Bagaikan bayangan iblis tubuh
Endang Patibroto berkelebat dan senjata-senjata beterbangan lagi.
Teriak-teriakan kesakitan terdengar susul- menyusul. Para pengeroyok banyak
yang roboh, membuat yang lain gentar. Namun Endang Patibroto tidak berniat
membunuh mereka, hanya merobohkan dengan tamparan-tamparan sekedar membuat
tulang lengan patah dan kepala pening. Kemudian ia melompat lagi, merobohkan
lagi beberapa belas pengeroyok kemudian lenyap menghilang ditelan malam. Hujan
masih turun rintik-rintik, keadaan gelap pekat namun para perajurit masih sibuk
mencari dan mengejar sampai jauh. Suara mereka berisik, mengagetkan para
penduduk yang tidak berani keluar dan menjadi penakut sejak terjadinya peristiwa
pembunuhan-pembunuhan aneh pada diri para ponggawa selama ini. Terengah-engah
Endang Patibroto berhenti berlari di dalam hutan, berteduh di bawah sebatang
pohon besar. Ia lelah, lelah sekali. Lelah lahir batin, sudah sepuluh tahun ia
tidak pernah bertanding, maka pertandingan melawan Wiku Kalawlsesa yang sakti,
ditambah lagi perjalanan tak kunjung henti ke Panjalu, kemudian pengeroyokan
ketat tadi, membuat tubuhnya lelah luar biasa. Dan sepuluh tahun ia hidup
bahagia, aman tenteram di samping suaminya yang tercinta, kini menghadapi
pelbagai hal menjengkelkan hati, batinnyapun lelah sekali. Ia bersandar kepada
sebatang pohon, dan tak terasa lagi tertidur, biarpun air hujan ada satu dua
yang menetes turun ke atas tubuhnya melalui daun-daun pohon yang lebat. Hatinya
diliputi kekhawatiran besar ketika Endang Patibroto melanjutkan perjalanannya,
pulang ke Jenggala. Ia dapat membayangkan betapa gelisah hati suaminya yang
malam itu ditinggalkan, kemudian sampai hampir dua pekan ia tidak pulang. Akan
tetapi suaminya akan lebih gelisah lagi kalau sudah mendengar ceritanya tentang
pengakuan Wiku Kalawisesa. Siapa kira, Pangeran Darmokusumo. Bedebah!
Hari telah senja ketika ia
tiba di pintu gerbang sebelah selatan Kota Raja Jenggala. Tiba-tiba dari arah
kiri ia mendengar bunyi burung emprit gantil.
“Tiiiiit-tuiiiiit-tuiiit-tit-tit-tit..........”
Tak mungkin bunyi burung
emprit gantil. Itulah suara tanda rahasia yang biasa dipakai para pengawal
suaminya. Hatinya berdebar tak enak dan secepat kilat tubuhnya berkelebat ke
kiri. Keadaan sudah remang-remang akan tetapi ia dapat melihat bergeraknya
tubuh orang di selokan dekat sawah.
"Gusti puteri..........
Bayangan itu memanggil, lirih dan suaranya mengandung rintihan.
Ia meloncat dekat. Melihat
orang itu merangkak keluar dari selokan.
"Gusti puteri..........
!”
"Aahhh, engkaukah ini,
kakang Sungkono..........?“ Endang Patibroto meloncat menghampiri dan orang itu
mengeluarkan keluhan, lalu menubruk kaki Endang Patibroto.
"Aduhhh, gusti
puteri.......... “
"Ada apa, kakang Sungkono?
Mengapa kau di sini dan.......... eh, kenapa berlumur darah? Engkau terluka,
kenapa?" Hati Endang Patibroto seperti ditusuk-tusuk pisau, indra ke
enamnya bekerja dan ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang hebat.
"Gusti puteri..........
bencana hebat menimpa.......... gusti pangeran ditangkap dengan tuduhan
melindungi paduka.......... dituduh memberontak.......... karena
pembunuhan-pembunuhan itu..........
karena paduka menyerang
istana Pangeran Darmokusumo.......... !"
Dada Endang Patibroto terguncang,
menggelora, kakinya menggigil. Suaminya ditangkap! Akan tetapi ia masih dapat
menguasai suaranya yang bertanya mendesak.
"Lalu
bagaimana.......... ? Dia dibawa kemana.......... ?" Ia merasa ngeri
mendengar suaranya sendiri, seperti suara orang lain yang asing, suara yang
kosong.
"Mula-mula..........
pasukan datang........hendak menangkap paduka, atas perintah gusti prabu. Gusti
pangeran membantah, melawan dan dikeroyok. Hamba.......... hamba membelanya,
tapi kena tusuk tombak....... aduhh, hamba tak kuat lagi, gusti.......” Endang
Patibroto berjongkok, memegang pundak Raden Sungkono yang ternyata terluka
parah, terutama di lambungnya.
"Kakang.......... ke
mana dibawanya suamiku.......... “
No comments:
Post a Comment