"Di penjara istana.... paduka larilah ... paduka akan ditangkap... hamba.... hamba tak kuat, aduhhhh...” Sungkono menjadi lemas tubuhnya.
"Kakang....! Kakang
Sungkono....” Akan tetapi Endang Patibroto tahu bahwa panggilannya tak
terjawab. Sungkono pengawal setia itu sudah menghembuskan nafas terakhir. Ia
meletakkan kepala pengawal itu ke atas tanah, lalu berdiri seperti arca.
Suaminya ditangkap gara-gara Pangeran Darmokusumo! Ia menggertakkan giginya. La
harus membebaskan suaminya, biar harus mengorbankan nyawa. Ia harus menyerbu
penjara istana, biar dikepung seluruh perajurit Jenggala. Suaminya tidak
bersalah, suaminya tidak berdosa. Dan kalau hendak menangkap Pangeran
Darmokusumo si pengkhianat dianggap dosa, dialah yang berdosa, bukan suaminya.
"Kakangmas pangeran...!"
Ia menjerit lalu terduduk mendeprok di atas tanah, dekat mayat Sungkono,
menangis!
Baru kali ini Endang
Patibroto menangis hebat semenjak menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Kemudian
ia memegang pundak mayat itu dan berbisik,
"Terima kasih,
kakang... terima kasih atas pembelaanmu sehingga kau mengorbankan nyawa untuk
suamiku.. maafkan aku, tak dapat aku mengurus mayatmu karena aku harus
membebaskan suamiku... selamat tinggal, kakang Sungkono!" Ia lalu meloncat
bangun, mukanya beringas dan lahirlah kembali Endang Patibroto wanita sakti
mandraguna.
Air matanya berhenti
mengucur, pandang matanya berkilat ketika tubuhnya melesat jauh ke depan,
menuju dinding tinggi yang mengelilingi Kota Raja Jenggala. Karena sudah
sepuluh tahun menjadi isteri Pangeran Panjirawit, tentu saja Endang Patibroto
sudah hafal akan keadaan di istana dan tahu pula di mana letaknya tempat
tahanan. Tempat tahanan ini merupakan sebuah gedung besar di sudut belakang
kelompok bangunan istana, terbuat daripada dinding batu yang tebal dan kuat,
dikelilingi pekarangan yang lebar. Malam itu amat sunyi di lingkungan istana.
Endang Patibroto yang berkelebat melalui jalan di atas wuwungan, melihat betapa
penjagaan di tempat-tempat biasa diperketat, bahkan tampak seragam-seragam
perajurit yang biasanya tidak tampak menjaga keraton. Ia dapat menduga bahwa
pasukan pengawal keraton yang tidak berapa besar jumlahnya, kini ditambah
dengan pasukan-pasukan prajurit. Namun berkat ilmu kepandaiannya yang hebat,
Endang Patibroto berhasil menyusup melalui wuwungan-wuwungan, dilindungi
kegelapan malam, sampai ia berada dekat dengan rumah tahanan. Dari atas
wuwungan dapur
istana di belakang, ia
mengintai. Rumah tahanan itu berada di depannya, di bawah. Ketika ia mengintai,
kagetlah hatinya melihat banyaknya prajurit dan pengawal memenuhi pekarangan
rumah tahanan itu. Bukan main! Sedikitnya tentu ada tiga ratus orang prajurit,
mengawal etat, menjaga rumah tahanan itu seperti semut-semut merubung bangkai
jangkerik. Bahkan ia melihat pula banyak prajurit berada di atas wuwungan rumah
itu, siap dengan busur dan anak panah. Kalau ia nekat menyerbu, agaknya takkan
mungkinlah menembus penjagaan yang sekuat itu. Kiranya sang prabu Jenggala
benar-benar sudah siap sedia menanti kedatangannya. Ia mengertak gigi, hatinya
panas sekali. Apapun yang akan terjadi, ia harus dapat membebaskan suaminya.
Siapapun orangnya, baik sang prabu sendiri, tidak boleh menahan suaminya, tidak
boleh membelenggu suaminya, kecuali melalui mayatnya sendiri.
Endang Patibroto termenung,
mengasah otak mencari akal. Ia tidak mau secara sembrono menyerbu begitu saja.
Bukan karena ia takut. Ditambah lima kali jumlah itupun ia tidak akan takut,
mati bukan apa-apa baginya. Akan tetapi ia harus dapat membebaskan suaminya dan
hal ini takkan mungkin terlaksana kalau ia berlaku nekat. Ia harus cerdik.
Setelah termenung sejenak, tubuhnya lalu berkelebat, melayang turun di bagian
yang tak terjaga.
Kurang lebih satu jam
kemudian tampak asap mengebul di bagian sebelah kanan dapur istana.
"Kebakaran…… !
Kebakaran ……!!” teriak penjaga yang melihat asap dan api.
"Air..... ! Air.....!”
"Hayo bantu
padamkan...., lekas sebelum membesar apinya.....!”
Seorang perwira berseru
keras ketika melihat anak buahnya tersebar panik.
"Hei! Jangan membantu
semua! Sebagian tetap menjaga di sini!"
Karena tindakan tegas sang
perwira, keadaan tidak begitu panik lagi, dan hanya beberapa orang penjaga
secukupnya saja yang ditugaskan membantu pemadaman api yang membakar atap
bangunan itu. Akan tetapi pada menit-menit berikutnya, kembali tampak asap
mengebul, kini di sebelah utara dekat kandang kuda.
"Kebakaran lagi! Itu di
sana, dekat kandang!" "Dan itu di sana ada api! Dekat gudang!"
"Tolong! Bantu! Kebakaran
di mana-mana...!” Kini tak dapat dicegah lagi, kepanikan terjadi dengan hebat.
Para prajurit tersebar seperti semut digebah. Seorang di antara para perajurit,
yang memisahkan diri, agaknya hendak mencari ember atau alat lain pemadam
kebakaran, tiba-tiba menerima pukulan dua jari yang ditekuk, tepat mengenai
leher di bawah telinga kiri. Hanya terdengar suara "ngukkk!" dan
perajurit ini roboh lamas tak sadarkan diri. Endang Patibroto cepat
menanggalkan pakaian luar perajurit ini, dan cepat pula mengenakan pakaian itu
pada tubuhnya sendiri. Tubuh perajurit ini lebih besar daripadanya, akan tetapi
karena pakaian itu ia kenakan di luar pakaiannya sendiri, maka tidaklah terlalu
besar amat. Rambutnya kini tersembunyi di dalam topi prajurit dan jadilah ia
kini seorang prajurit yang tampan dan gagah. Endang Patibroto menyambar tombak
prajurit itu kemudian iapun berlari-lari. Tak lama kemudian, iapun tampak di
antara para prajurit dan pengawal yang bercampur-aduk, sehingga tidak ada
bahaya baginya ketahuan kepala pasukan. Keadaan amat panik dan lima tempat
kebakaran yang dibuat olehnya cukup membuat para prajurit tidak begitu
memperhatikan rumah tahanan. Dengan pura-pura berdiri tegak dengan tombak di
tangan, Endang Patibroto beraksi "menjaga" di' depan jendela kamar
tahanan. Ketika mendapat kesempatan, ia membuka daun jendela dari kayu itu.
Jeruji-jeruji besi di sebelah belakang daun jendela yang sebesar lengan-lengan
manusia bukan apa-apa bagi Endang Patibroto.
Ia mengerahkan aji
kekuatannya dan sekali tangannya mementang, dua buah jeruji melengkung lebar,
bahkan bagian atas yang menancap pada kayu terlepas. Bagaikan seekor burung, ia
melompat masuk dan tidak lupa menarik daun jendela dari dalam sehingga jeruji
yang tidak sebagaimana mestinya itu tidak tampak dari luar. Cepat ia lari ke
dalam.
"Hai...., kawan, mau
apa kau masuk ke sini?" Tiba-tiba muncul empat orang penjaga penjara,
yaitu petugas penjara.
Endang Patibroto meniru
suara pria lalu berkata.
"Kepala pasukan
menyuruh melihat apakah Pangeran Panjirawit masih ada di tempatnya. Di luar banyak
terjadi kebakaran, kepala pasukan khawatir kalau-kalau pangeran dilarikan
musuh."
"Mana bisa? Kami
menjaga di sini siapa dapat melarikannya? Akan tetapi, baik kau lihat sendiri,
kawan." Karena keadaan di luar yang panik membuat para penjaga di sebelah dalam
juga panik sehingga dalam keadaan kacau itu peristiwa masuknya seorang prajurit
yang mestinya tidak wajar dianggap biasa. Bersama empat orang petugas penjara
itu, Endang Patibroto dibawa masuk ke sebelah belakang. la melihat bahwa
petugas di dalam tahanan hanya ada delapan orang, maka hatinya menjadi lega.
"Nah, itulah dia. Masih
meringkuk seperti tikus. Apa kaukira siluman yang menjadi isterinya itu
dapat.......“
"Ngekk!!" Sebuah
tinju mengenai ulu hati si pembicara yang roboh tak bersuara dan tak bernapas
lagi. Tiga yang lain terkejut, akan tetapi tiga kali tubuh Endang Patibroto
bergerak dan tiga kali terdengar suara mengaduh dibarengi robohnya tiga orang.
Mendengar ribut-ribut ini, empat petugas yang lain datang. Inilah yang
dikehendaki Endang Patibroto.
"Eh, ada apakah...
Empat orang petugas yang masih mengira Endang Patibroto seorang prajurit biasa,
datang berlarian dan bertanya. Namun pertanyaan mereka disambut gerakan kaki
tangan yang luar biasa cepatnya dan hampir berbareng empat orang itupun roboh
semua.
"Endang.......”
"Pangeran...... !!,”
Mereka berpelukan, saling
dekap erat-erat seakan-akan takut kalau-kalau mereka terpisah lagi.
"Aku tahu, kau takkan
membiarkan aku dikeram terus, isteriku...." Pangeran Panjirawit merangkul
dan menciumi
Isterinya.
Air mata Endang Patibroto
membasahi pipi dan dagu suaminya.
"Kakanda .... maafkan
hamba... telah membikin sengsara kakanda.... “
"Hushhh.... !"
Pangeran Panjirawit menutup mulut isterinya dengan bibir, untuk mencegahnya
melanjutkan kata-kata.
"Kau tidak pernah
salah, aku yakin. Apakah yang telah terjadi? Benarkah engkau menyerbu ke Panjalu?
Aku tidak percaya.... “
"Nanti saja, kakanda.
Kita belum bebas. Yang penting sekarang bagaimana kita dapat keluar dari
sini."
Pangeran Panjirawit baru
teringat akan hal ini dan keningnya berkerut penuh kekhawatiran. Ia memandang
isterinya yang berubah menjadi seorang prajurit dan kalau saja keadaan tidak
berbahaya seperti itu, tentu ia akan mentertawakan dan menggoda isterinya
sedemikian rupa sampai isterinya menghentikan godaannya dengan cium, gigit dan
cubit. Biasanya begitu kalau di rumah.
Kemudian ia melirik ke arah
petugas tahanan yang menggeletak malang-melintang.
"Benar, kakanda.
Sebaiknya kanda menyamar," kata Endang Patibroto yang agaknya mengikuti
gerak mata dan sikap suaminya.
Hatinya lega bukan main
melihat suaminya dalam keadaan sehat selamat dan hanya hal inilah yang terasa
di hatinya. Yang lain-lain tidak ia hiraukan. Cepat Endang Patibroto
membelejeti (menanggalkan) pakaian luar seorang di antara para petugas tahanan
yang tubuhnya sama besar dengan tubuh suaminya, kemudian membantu suaminya
mengenakan pakaian itu. Pada saat itu, terdengar pintu depan digedor-gedor dari
luar. Teriakan perwira menggema ke dalam rumah tahanan,
"Haii! Penjaga-penjaga
di dalam, apakah kalian tuli? Ataukah tertidur? Keparat, hayo buka pintu
ini....!!" Endang Patibroto memegang lengan suaminya.
"Cepat, pangeran."
Ia menarik lengan suaminya melalui ruangan dalam, terus menuju ke jendela yang
jerujinya sudah ia buka tadi. Dari belakang jendela itu terdengar suara
hiruk-pikuk para perajurit, dan pintu depan kini digedor-gedor dengan kerasnya,
bahkan mulai didorong oleh banyak prajurit.
"Cepat, kakanda.
Melalui jendela ini!" bisik Endang Patibroto.
"Tapi... tapi di luar
banyak perajurit, yayi. Bagaimana engkau..... ?" Di dalam hatinya Endang
Petibroto terharu.
Dalam keadaan seperti itu,
suaminya masih mengkhawatirkan dirinya, tidak menghiraukan diri sendiri. Sama
pula dengan dia, baginya mati tidak apa-apa asal suaminya selamat.
"Jangan khawatir,
kakanda sayang, adinda meiindungi." Endang Patibroto kini mengerahkan Aji
Gelap Musti memukul ke arah jendela dan.... "krekkk!" jeruji-jeruji
itu patah-patah semua.
"Mari kugendong,
pangeran, agar kita dapat lari lebih cepat, menggunakan ajiku Bayu
Tantra!"
Pangeran Panjirawit maklum
akan kesaktian isterinya, maklum bahwa dalam usaha melarikan diri ini
sepenuhnya tergantung dari tenaga isterinya. Ia lalu merangkul pundak isterinya
dari belakang, membiarkan dirinya digendong, mengempit pinggang yang ramping
itu dengan kedua kakinya. Mulutnya berbisik di dekat telinga isterinya,
"Aku sudah siap .....
mati bersama.... “
"Tidak, kita hidup
bersama, suamiku” bisik Endang kembali, kemudian ia melangkah mundur tiga
tindak lalu mengerahkan Aji Bayu Tantra dan tubuhnya melesat melalui jendela.
Daun jendela itu tertabrak dan terbuka lebar. Pangeran Panjirawit sungguhpun
sudah yakin akan kesaktian isterinya, tak dapat tidak menjadi kagum sekali
ketika tubuhnya "diterbangkan" melalui lubang jendela yang tidak
berapa lebar, begitu tepat dan hanya sedikit pundaknya menyentuh pinggir
jendela.
Di luar para prajurit masih
sibuk memadamkan api dan sebagian pula mendongkrak pintu depan rumah tahanan.
Ketika melihat munculnya seorang prajurit muda menggendong seorang berpakaian
penjaga, mereka tertegun dan terbelalak heran. Akan tetapi ketika tubuh
prajurit itu meloncat jauh dan mereka mengenal wajah si penjaga yang digendong,
berteriak-teriaklah mereka.
"Pangeran
lolos.....! Kepung.....! Tangkap..........” Segera banyak perajurit menghadang
dengan tombak dan pedang di tangan. Endang Patibroto sudah menduga bahwa ia
harus bertanding mati-matian, tidak membuang banyak waktu, kaki tangannya
bergerak dan empat orang perajurit roboh.
No comments:
Post a Comment