Perawan Lembah Wilis; Bagian 010


"Di penjara istana.... paduka larilah ... paduka akan ditangkap... hamba.... hamba tak kuat, aduhhhh...” Sungkono menjadi lemas tubuhnya.
"Kakang....! Kakang Sungkono....” Akan tetapi Endang Patibroto tahu bahwa panggilannya tak terjawab. Sungkono pengawal setia itu sudah menghembuskan nafas terakhir. Ia meletakkan kepala pengawal itu ke atas tanah, lalu berdiri seperti arca. Suaminya ditangkap gara-gara Pangeran Darmokusumo! Ia menggertakkan giginya. La harus membebaskan suaminya, biar harus mengorbankan nyawa. Ia harus menyerbu penjara istana, biar dikepung seluruh perajurit Jenggala. Suaminya tidak bersalah, suaminya tidak berdosa. Dan kalau hendak menangkap Pangeran Darmokusumo si pengkhianat dianggap dosa, dialah yang berdosa, bukan suaminya.
"Kakangmas pangeran...!" Ia menjerit lalu terduduk mendeprok di atas tanah, dekat mayat Sungkono, menangis!
Baru kali ini Endang Patibroto menangis hebat semenjak menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Kemudian ia memegang pundak mayat itu dan berbisik,
"Terima kasih, kakang... terima kasih atas pembelaanmu sehingga kau mengorbankan nyawa untuk suamiku.. maafkan aku, tak dapat aku mengurus mayatmu karena aku harus membebaskan suamiku... selamat tinggal, kakang Sungkono!" Ia lalu meloncat bangun, mukanya beringas dan lahirlah kembali Endang Patibroto wanita sakti mandraguna.

Air matanya berhenti mengucur, pandang matanya berkilat ketika tubuhnya melesat jauh ke depan, menuju dinding tinggi yang mengelilingi Kota Raja Jenggala. Karena sudah sepuluh tahun menjadi isteri Pangeran Panjirawit, tentu saja Endang Patibroto sudah hafal akan keadaan di istana dan tahu pula di mana letaknya tempat tahanan. Tempat tahanan ini merupakan sebuah gedung besar di sudut belakang kelompok bangunan istana, terbuat daripada dinding batu yang tebal dan kuat, dikelilingi pekarangan yang lebar. Malam itu amat sunyi di lingkungan istana. Endang Patibroto yang berkelebat melalui jalan di atas wuwungan, melihat betapa penjagaan di tempat-tempat biasa diperketat, bahkan tampak seragam-seragam perajurit yang biasanya tidak tampak menjaga keraton. Ia dapat menduga bahwa pasukan pengawal keraton yang tidak berapa besar jumlahnya, kini ditambah dengan pasukan-pasukan prajurit. Namun berkat ilmu kepandaiannya yang hebat, Endang Patibroto berhasil menyusup melalui wuwungan-wuwungan, dilindungi kegelapan malam, sampai ia berada dekat dengan rumah tahanan. Dari atas wuwungan dapur
istana di belakang, ia mengintai. Rumah tahanan itu berada di depannya, di bawah. Ketika ia mengintai, kagetlah hatinya melihat banyaknya prajurit dan pengawal memenuhi pekarangan rumah tahanan itu. Bukan main! Sedikitnya tentu ada tiga ratus orang prajurit, mengawal etat, menjaga rumah tahanan itu seperti semut-semut merubung bangkai jangkerik. Bahkan ia melihat pula banyak prajurit berada di atas wuwungan rumah itu, siap dengan busur dan anak panah. Kalau ia nekat menyerbu, agaknya takkan mungkinlah menembus penjagaan yang sekuat itu. Kiranya sang prabu Jenggala benar-benar sudah siap sedia menanti kedatangannya. Ia mengertak gigi, hatinya panas sekali. Apapun yang akan terjadi, ia harus dapat membebaskan suaminya. Siapapun orangnya, baik sang prabu sendiri, tidak boleh menahan suaminya, tidak boleh membelenggu suaminya, kecuali melalui mayatnya sendiri.
Endang Patibroto termenung, mengasah otak mencari akal. Ia tidak mau secara sembrono menyerbu begitu saja. Bukan karena ia takut. Ditambah lima kali jumlah itupun ia tidak akan takut, mati bukan apa-apa baginya. Akan tetapi ia harus dapat membebaskan suaminya dan hal ini takkan mungkin terlaksana kalau ia berlaku nekat. Ia harus cerdik. Setelah termenung sejenak, tubuhnya lalu berkelebat, melayang turun di bagian yang tak terjaga.
Kurang lebih satu jam kemudian tampak asap mengebul di bagian sebelah kanan dapur istana.
"Kebakaran…… ! Kebakaran ……!!” teriak penjaga yang melihat asap dan api.
"Air..... ! Air.....!”
"Hayo bantu padamkan...., lekas sebelum membesar apinya.....!”
Seorang perwira berseru keras ketika melihat anak buahnya tersebar panik.
"Hei! Jangan membantu semua! Sebagian tetap menjaga di sini!"
Karena tindakan tegas sang perwira, keadaan tidak begitu panik lagi, dan hanya beberapa orang penjaga secukupnya saja yang ditugaskan membantu pemadaman api yang membakar atap bangunan itu. Akan tetapi pada menit-menit berikutnya, kembali tampak asap mengebul, kini di sebelah utara dekat kandang kuda.
"Kebakaran lagi! Itu di sana, dekat kandang!" "Dan itu di sana ada api! Dekat gudang!"
"Tolong! Bantu! Kebakaran di mana-mana...!” Kini tak dapat dicegah lagi, kepanikan terjadi dengan hebat. Para prajurit tersebar seperti semut digebah. Seorang di antara para perajurit, yang memisahkan diri, agaknya hendak mencari ember atau alat lain pemadam kebakaran, tiba-tiba menerima pukulan dua jari yang ditekuk, tepat mengenai leher di bawah telinga kiri. Hanya terdengar suara "ngukkk!" dan perajurit ini roboh lamas tak sadarkan diri. Endang Patibroto cepat menanggalkan pakaian luar perajurit ini, dan cepat pula mengenakan pakaian itu pada tubuhnya sendiri. Tubuh perajurit ini lebih besar daripadanya, akan tetapi karena pakaian itu ia kenakan di luar pakaiannya sendiri, maka tidaklah terlalu besar amat. Rambutnya kini tersembunyi di dalam topi prajurit dan jadilah ia kini seorang prajurit yang tampan dan gagah. Endang Patibroto menyambar tombak prajurit itu kemudian iapun berlari-lari. Tak lama kemudian, iapun tampak di antara para prajurit dan pengawal yang bercampur-aduk, sehingga tidak ada bahaya baginya ketahuan kepala pasukan. Keadaan amat panik dan lima tempat kebakaran yang dibuat olehnya cukup membuat para prajurit tidak begitu memperhatikan rumah tahanan. Dengan pura-pura berdiri tegak dengan tombak di tangan, Endang Patibroto beraksi "menjaga" di' depan jendela kamar tahanan. Ketika mendapat kesempatan, ia membuka daun jendela dari kayu itu. Jeruji-jeruji besi di sebelah belakang daun jendela yang sebesar lengan-lengan manusia bukan apa-apa bagi Endang Patibroto.

Ia mengerahkan aji kekuatannya dan sekali tangannya mementang, dua buah jeruji melengkung lebar, bahkan bagian atas yang menancap pada kayu terlepas. Bagaikan seekor burung, ia melompat masuk dan tidak lupa menarik daun jendela dari dalam sehingga jeruji yang tidak sebagaimana mestinya itu tidak tampak dari luar. Cepat ia lari ke dalam.
"Hai...., kawan, mau apa kau masuk ke sini?" Tiba-tiba muncul empat orang penjaga penjara, yaitu petugas penjara.
Endang Patibroto meniru suara pria lalu berkata.
"Kepala pasukan menyuruh melihat apakah Pangeran Panjirawit masih ada di tempatnya. Di luar banyak terjadi kebakaran, kepala pasukan khawatir kalau-kalau pangeran dilarikan musuh."
"Mana bisa? Kami menjaga di sini siapa dapat melarikannya? Akan tetapi, baik kau lihat sendiri, kawan." Karena keadaan di luar yang panik membuat para penjaga di sebelah dalam juga panik sehingga dalam keadaan kacau itu peristiwa masuknya seorang prajurit yang mestinya tidak wajar dianggap biasa. Bersama empat orang petugas penjara itu, Endang Patibroto dibawa masuk ke sebelah belakang. la melihat bahwa petugas di dalam tahanan hanya ada delapan orang, maka hatinya menjadi lega.
"Nah, itulah dia. Masih meringkuk seperti tikus. Apa kaukira siluman yang menjadi isterinya itu dapat.......“
"Ngekk!!" Sebuah tinju mengenai ulu hati si pembicara yang roboh tak bersuara dan tak bernapas lagi. Tiga yang lain terkejut, akan tetapi tiga kali tubuh Endang Patibroto bergerak dan tiga kali terdengar suara mengaduh dibarengi robohnya tiga orang. Mendengar ribut-ribut ini, empat petugas yang lain datang. Inilah yang dikehendaki Endang Patibroto.
"Eh, ada apakah... Empat orang petugas yang masih mengira Endang Patibroto seorang prajurit biasa, datang berlarian dan bertanya. Namun pertanyaan mereka disambut gerakan kaki tangan yang luar biasa cepatnya dan hampir berbareng empat orang itupun roboh semua.
"Endang.......”
"Pangeran...... !!,”
Mereka berpelukan, saling dekap erat-erat seakan-akan takut kalau-kalau mereka terpisah lagi.
"Aku tahu, kau takkan membiarkan aku dikeram terus, isteriku...." Pangeran Panjirawit merangkul dan menciumi
Isterinya.
Air mata Endang Patibroto membasahi pipi dan dagu suaminya.
"Kakanda .... maafkan hamba... telah membikin sengsara kakanda.... “
"Hushhh.... !" Pangeran Panjirawit menutup mulut isterinya dengan bibir, untuk mencegahnya melanjutkan kata-kata.
"Kau tidak pernah salah, aku yakin. Apakah yang telah terjadi? Benarkah engkau menyerbu ke Panjalu? Aku tidak percaya.... “
"Nanti saja, kakanda. Kita belum bebas. Yang penting sekarang bagaimana kita dapat keluar dari sini."
Pangeran Panjirawit baru teringat akan hal ini dan keningnya berkerut penuh kekhawatiran. Ia memandang isterinya yang berubah menjadi seorang prajurit dan kalau saja keadaan tidak berbahaya seperti itu, tentu ia akan mentertawakan dan menggoda isterinya sedemikian rupa sampai isterinya menghentikan godaannya dengan cium, gigit dan cubit. Biasanya begitu kalau di rumah.
Kemudian ia melirik ke arah petugas tahanan yang menggeletak malang-melintang.
"Benar, kakanda. Sebaiknya kanda menyamar," kata Endang Patibroto yang agaknya mengikuti gerak mata dan sikap suaminya.

Hatinya lega bukan main melihat suaminya dalam keadaan sehat selamat dan hanya hal inilah yang terasa di hatinya. Yang lain-lain tidak ia hiraukan. Cepat Endang Patibroto membelejeti (menanggalkan) pakaian luar seorang di antara para petugas tahanan yang tubuhnya sama besar dengan tubuh suaminya, kemudian membantu suaminya mengenakan pakaian itu. Pada saat itu, terdengar pintu depan digedor-gedor dari luar. Teriakan perwira menggema ke dalam rumah tahanan,
"Haii! Penjaga-penjaga di dalam, apakah kalian tuli? Ataukah tertidur? Keparat, hayo buka pintu ini....!!" Endang Patibroto memegang lengan suaminya.
"Cepat, pangeran." Ia menarik lengan suaminya melalui ruangan dalam, terus menuju ke jendela yang jerujinya sudah ia buka tadi. Dari belakang jendela itu terdengar suara hiruk-pikuk para perajurit, dan pintu depan kini digedor-gedor dengan kerasnya, bahkan mulai didorong oleh banyak prajurit.
"Cepat, kakanda. Melalui jendela ini!" bisik Endang Patibroto.
"Tapi... tapi di luar banyak perajurit, yayi. Bagaimana engkau..... ?" Di dalam hatinya Endang Petibroto terharu.
Dalam keadaan seperti itu, suaminya masih mengkhawatirkan dirinya, tidak menghiraukan diri sendiri. Sama pula dengan dia, baginya mati tidak apa-apa asal suaminya selamat.
"Jangan khawatir, kakanda sayang, adinda meiindungi." Endang Patibroto kini mengerahkan Aji Gelap Musti memukul ke arah jendela dan.... "krekkk!" jeruji-jeruji itu patah-patah semua.
"Mari kugendong, pangeran, agar kita dapat lari lebih cepat, menggunakan ajiku Bayu Tantra!"
Pangeran Panjirawit maklum akan kesaktian isterinya, maklum bahwa dalam usaha melarikan diri ini sepenuhnya tergantung dari tenaga isterinya. Ia lalu merangkul pundak isterinya dari belakang, membiarkan dirinya digendong, mengempit pinggang yang ramping itu dengan kedua kakinya. Mulutnya berbisik di dekat telinga isterinya,
"Aku sudah siap ..... mati bersama.... “
"Tidak, kita hidup bersama, suamiku” bisik Endang kembali, kemudian ia melangkah mundur tiga tindak lalu mengerahkan Aji Bayu Tantra dan tubuhnya melesat melalui jendela. Daun jendela itu tertabrak dan terbuka lebar. Pangeran Panjirawit sungguhpun sudah yakin akan kesaktian isterinya, tak dapat tidak menjadi kagum sekali ketika tubuhnya "diterbangkan" melalui lubang jendela yang tidak berapa lebar, begitu tepat dan hanya sedikit pundaknya menyentuh pinggir jendela.

Di luar para prajurit masih sibuk memadamkan api dan sebagian pula mendongkrak pintu depan rumah tahanan. Ketika melihat munculnya seorang prajurit muda menggendong seorang berpakaian penjaga, mereka tertegun dan terbelalak heran. Akan tetapi ketika tubuh prajurit itu meloncat jauh dan mereka mengenal wajah si penjaga yang digendong, berteriak-teriaklah mereka.
"Pangeran lolos.....! Kepung.....! Tangkap..........” Segera banyak perajurit menghadang dengan tombak dan pedang di tangan. Endang Patibroto sudah menduga bahwa ia harus bertanding mati-matian, tidak membuang banyak waktu, kaki tangannya bergerak dan empat orang perajurit roboh.

<<< Bagian 009                                                                                    Bagian 011 >>>

No comments:

Post a Comment