Perawan Lembah Wilis; Bagian 196


"Mari kita turun dan menemui kanjeng rama," kata Bagus Seta perlahan kepada bibi dan pamannya. Mereka berdua mengangguk, tidak berani mencampuri urusan antara Bagus Seta dan pendeta-pendeta sakti itu.
"Terima kasih, sahabatku Biku Janapati" kata Wasi Bagaspati sambil bangkit berdiri, diturut oleh Bagaskolo yang masih meraba-raba dadanya yang terasa sesak.
Biku Janapti mengerutkan keningnya,
"Sahabatku Wasi Bagaspati, berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Andika masih diperkenankan hidup untuk menebus segala dosa dan sadar atas kesesatanmu. Dia yang tadinya lengah dan tidak sadar melakukan kesesatan, kemudian menjadi sadar dan merendahkan hati, dia akan menerangi dunia laksana bulan yang terbebas daripada gumpalan awan hitam. Maka, insyaf dan sadarlah, sahabatku, bahwa perbuatan jahat menuruti hawa nafsu angkara murka tidak akan membawamu ke alam kebahagiaan lahir batin."
Wasi Bagaspati mendongkol sekali, akan tetapi karena ia telah ditolong, ia lalu menghela napas dan berkata,
"Salahnya aku kurang tekun mempelajari ilmu, akan tetapi, sudahlah ....biar kucoba untuk mencari jalan kebenaran. Sampai jumpa kembali, Sang Biku Janapati!" Setelah berkata demikian, Wasi Bagaspati dan adik seperguruannya lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu. Biku Janapati memandang dengan mata termenung dan menarik napas panjang, maklum bahwa ia memikul tanggung jawab berat sekali, kemudian ia pun melangkah pergi dengan tongkatnya, menuju ke arah larinya dua orang kakek itu.

Tejolaksono dan Endang Patibroto mengamuk di samping Retna Wilis, mereka bertiga seakan-akan berlomba membunuhi anak buah pasukan musuh sehingga.....pasukan menjadi gentar dan me larikan diri cerai-berai. Setelah jumlah lawan menipis, barulah Tejotaksono dan Endang Patibroto melihat bahwa selain mereka bertiga, maslh ada seorang pria lagi yang juga mengamuk hebat. Kini mereka berdekatan, tiba-tiba Endang Patibroto berseru,
"Sindupati ....!”
Adiwijaya menengok terkejut sekali dan hendak melarikan diri bersembunyi namun terlambat karena Endang Patibroto yang telah mengenalinya itu tiba-tiba lari menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi telah menerjangnya dengan pukulan maut Gelapmusti. Karena wanita sakti ini meloncat dengan Aji Bayu Tantra, maka gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar, sukar untuk dihindari lagi. Terpaksa Adiwijaya menangkis, akan tetapi karena hatinya gentar dan ia merasa bersalah, ia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya dan begitu lengannya bertemu dengan lengan Endang Patibroto, ia terjengkang dan roboh bergulingan. Untung ia cepat mempergunakan aji kesaktiannya yang amat ia andalkan, yaitu Trenggiling-wesi sehingga begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia sehat kembali dan sudah menjauhkan diri. Kalau tidak tentu kepalanya sudah remuk kena diinjak Endang Patibroto. Wanita ini makin marah dan terus mengejar tubuh yang bergulingan itu dengan loncatan-loncatan cepat.
"Sindupati, manusia terkutuk! Saat ini engkau pasti akan mampus di tanganku!"
Dengan sebuah lompatan cepat, kembali Endang Patibroto menerjang dan Adiwijaya sudah gugup sekali, bahkan sudah bangkit dan seolah-olah tidak mau melawan lagi, menyerahkan mati hidupnya kepada Endang Patibroto.
"Plakkk!" Tubuh Endang Patibroto terhuyung ke belakang ketika hantamannya itu tertangkis oleh lengan Retna Wilis.
"Jangan bunuh dia .....!" teriaknya dan ia segera membangunkan Adiwijaya. Endang Patibroto terbelalak memandang,
"Retna ......dia .....dia ini manusia jahat! Manusia terkutuk! Dia ....dia musuh besar ibumu ....!”
Retna Wilis menggeleng kepalanya dan berkata lirih,
"Agaknya jalan kita selalu harus bersimpang. Boleh jadi dia kauanggap jahat dan menjadi musuhmu. Akan tetapi bagiku dia seorang manusia baik dan menjadi satu-satunya sahabatku. Mari Paman, kita pergi." Retna Wilis menggandeng tangan Adiwijaya dan mengajaknya pergi cepat dari tempat itu.
Endang Patibroto mengepal tinju dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya ... dipegang oleh Tejolaksono.
"Diajeng, jangan memaksa dia .....!" Suaranya penuh keharuan. Endang Patibroto membalik, hendak meronta, akan tetapi ketika melihat pandang mata suaminya penuh keharuan dan kasihan, ia menangis dan Tejolaksono hanya dapat mengelus rambut isterinya itu sambil menghela napas dan matanya pun menjadi basah.

Ketika Bagus Seto, Joko Pramono dan Pusporini datang ke pantai tempat pertempuran itu, mereka bertiga ini mendapatkan Tejolaksono dan Endang Patibroto sedang bertangisan di antara tumpukan mayat anak buah Wasi Bagaspati yang berserakan dan malang melintang! Pusporini segera merangkul Endang Patibroto dan Tejolaksono dengan wajah muram dan berulang kali menghela napas menceritakan keadaan Retna Wilis yang meninggalkan ayah bundanya. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang Adiwijaya yang sesungguhnya adalah bekas Patih Warutama atau dahulu bernama Sindupati, karena menyebut nama orang ini tentu akan terpaksa menceritakan bahwa Endang Patibroto pernah diperkosa oleh manusia laknat itu!
Bagus Seta menghela napas dan berkata,
"Harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu suka bersabar dan menyerahkan segala sesuatunya dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Kalau kita menerima segala sesuatu yang menimpa kita, baik hal itu menguntungkan atau merugikan kita, dengan penuh kesabaran dan penyerahan, Sang Hyang Widdhi (Tuhan) pasti akan memberkahi karena Dia adalah Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Kuasa. Peristiwa menguntungkan kita terima sebagai anugerah Tuhan dan karenanya patut kita terima dengan rasa syukur dan hormat tanpa menjadi mabuk kesenangan dan melupakan bahwa keuntungan itu hanya terjadi karena Tuhan menghendaki. Sebaliknya peristiwa merugikan kita terima sebagai hukuman atas penyelewengan kita dan sebagai ujian, karenanya kita patut meneliti diri pribadi dan bertobat atas segala kesalahan kita, mohon ampun kepada Dia Yang Maha Adil."
"Ahhh ...Puteraku ....betapa aku akan dapat menahan batin yang berat ini ..” Endang Patibroto terisak.
"Mengapa tidak dapat, Kanjeng Ibu? Manusia yang menyerahkan segala sesuatu, mati hidupnya, dengan penuh kerelaan dan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widdhi akan sanggup menanggung derita yang bagaimana pun juga, karena penyerahan mendatangkan kekuatan gaib yang akan mengubah derita menjadi sesuatu yang wajar, bukan derita lagi."
"Bijaksana sekali ucapanmu, puteraku Bagus Seta. Sekarang, menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?" Tejolaksono berkata sambil memandang puteranya penuh kagum, juga dengan hati kosong melompong karena ia tidak tahu siapakah sesungguhnya yang jauh meninggalkan ayah bundanya. Retna Wilis ataukah Bagus Seta! Retna Wilis hanya terpisah lahirnya dan dara itu selama masih hidup dan berada di atas bumi, sekali waktu pasti dapat bertemu dan mungkin sekali dapat berkumpul kembali sebagai puteri dan orang tuanya. Akan tetapi Bagus Seta ini sungguhpun kini berada di depannya, bercakap-cakap seperti seorang putera, namun sesungguhnya pemuda ini seperti melayang di angkasa, sukar sekali dijamah karena keadaan Bagus Seta seolah-olah tidak lagi terikat oleh dunia apalagi oleh hubungan keluarga!
"Karena musuh telah dihalau dan adinda Retna Wilis telah dapat diselamatkan, sebaiknya Paduka berdua Kanjeng Ibu kembali ke Panjalu memimpin pasukan untuk memberi pelaporan kepada gusti sinuwun di Panjalu. Demikian pula dengan Paman Patih dan Kanjeng Bibi sebaiknya memimpin pasukan kembali ke Jenggala."
"Dan engkau sendiri?" Tejolaksono bertanya, suaranya kosong, sekosong hatinya yang makin merasakan betapa "jauhnya" puteranya yang kini berdiri di depannya itu.
"Hamba akan pergi merantau, melanjutkan perjalanan melakukan dharma bakti hamba seperti yang telah diajarkan oleh eyang guru .....”
"Dan ibumu? Tentu akan kehilangan engkau .....betapa akan berduka hatinya ....“

Bagus Seta tersenyum dan mengeluarkan setangkai bunga Cempaka Putih, menyerahkannya kepada Tejolaksono,
"Harap Kanjeng Rama sudi menyerahkan bunga ini kepada Kanjeng Ibu, dan dengan kekuasaan Sang Hyang Widdhi, hati ibunda akan terhibur." Tejolaksono menerima kembang itu teringat akan masa dahulu di waktu puteranya memberi setangkai kembang pula untuk diserahkan kepada Ayu Candra. Setelah menyimpan kembang itu ia berkata,
"Puteraku Bagus Seta, mendekatlah, Anakku."
Bagus Seta menghampiri ramandanya dan Tejolaksono memeluknya, memeluk erat-erat dan mendekap pemuda itu, seolah-olah hendak menanam pemuda itu dalam dadanya agar jangan dapat pergi lagi. Akan tetapi ada hawa yang hangat keluar dari dada Bagus Seta yang menjalar ke seluruh tubuh Tejolaksono dan yang mengingatkan patih sakti ini akan sinar Sang Surya, sinar matahari yang tidak hanya bertugas menghidupkan dia seorang. Sadarlah dia bahwa memang menjadi tugas puteranya untuk berjuang sebagai seorang sakti, sebagai seorang satria, demi kebenaran dan keadilan, demi menegakkan perikemanusiaan, berguna bagi manusia khususnya dan dunia umumnya. Tidak hanya bertugas menyenangkan hati kedua orang tuanya belaka ia melepaskan pelukannya dan dengan mata basah akan tetapi wajah berseri dan mulut tersenyum ia berkata,
"Pergilah, Anakku. Pergilah dengan hati lapang dengan doa restu yang rela dariku."
Setelah memberi hornet kepada Endang Patibroto yang memeluknya dan kepada Joko Pramono dan Pusporini, pemuda itu lalu berjalan pergi menyusuri pantai laut selatan, diikuti pandang mata empat orang itu sampai bayangannya lenyap ditelan kesuraman cuaca hari yang mulai sore. Kemudian mereka berempat pun meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Wilis di mana pasukan-pasukan mereka masih berkumpul membersihkan sisa perang di bawah pimpinan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis.

Retna Wilis duduk di atas sebuah batu besar di dalam hutan yang lebat. Ia duduk bersila di atas batu bawah pohon tanjung yang besar dan lebat sekali, dengan muka tunduk dan kedua mata dipejamkan, dalam keadaan hening karena dara perkasa ini bersamadhi. Kalau tidak dipandang dengan penuh perhatian, orang akan mengira bahwa ia tidak bernyawa lagi, demikian halus pernapasannya sehingga hampir tidak tampak dadanya bergerak. Hanya bedanya dengan biasanya, kalau sedang bersamadhi itu biasanya Retna Wilis hening dan tenang, wajahnya menjadi seperti kosong tidak mengandung perasaan apa-apa. Akan tetapi pada saat itu, wajahnya diselimuti kesuraman seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bahkan ada bekas-bekas air mata yang sudah hampir mengering di atas sepasang pipinya, di bawah pelupuk mata. Juga sepasang alisnya yang kecil hitam itu agak berkerut, tanda bahwa dia biarpun sedang bersamadhi, namun tidak dapat mengheningkan cipta, dan tidak dapat.. membebaskan diri dari panca indrianya. Tidak jauh dari tempat dara itu duduk bersamadhi di atas batu, tampak Adiwijaya duduk pula bersila di atas tanah, di depan gadis itu. Akan tetapi Adiwijaya tidak bersamadhi, semenjak tadi ia memandang wajah dara itu dengan penuh keprihatinan dan penuh perhatian. Entah sudah berapa puluh kali Adiwijaya menghela napas panjang dan pikirannya melayang-layang mengenangkan semua peristiwa yang terjadi, dan makin dipikir makin trenyuh hatinya, merasa amat kasihan dan terharu terhadap dara perkasa itu. Adiwijaya maklum bahwa Retna Wilis menderita tekanan batin yang hebat, bahwa dara itu berduka sekali.
Tadi dara itu bersila semenjak pagi sekali di atas batu, dan kalau Retna Wilis bersamadhi seperti biasanya, kiranya Adiwijaya tidak akan gelisah dan tersiksa seperti itu batinnya. Akan tetapi gadis itu bersila memejamkan mata, biarpun tidak pernah bergerak dan pernapasannya seperti orang tertidur atau bersamadhi, namun Adiwijaya yang juga biasa bersamadhi itu maklum bahwa dara ini memaksa diri untuk menyembunyikan perasaannya yang tertekan dan tersiksa. Bahkan dara itu tidak sadar bahwa beberapa tetes air mata keluar melalui bulu matanya menitik turun ke atas pipi sampai mengering kembali, tidak sadar bahwa keningnya selalu berkerut dan wajahnya diselimuti kemuraman yang mengharukan.
"Aku berdosa ....." pikirnya dengan trenyuh.
"Aku berdosa kepada ibunya, kepadanya ...., kalau tidak karena aku, mungkin dia sudah dapat berkumpul kembali dengan ayah bundanya, hidup berbahagia sebagai puteri Patih Panjalu, sebagai puteri suami isteri yang menjadi tokoh terkenal, sakti mandraguna dan gagah perkasa. Akan tetapi dia membelaku, rela pergi bersamaku!" Ingin Adiwijaya memukul kepalanya sendiri penuh penyesalan terhadap diri sendiri, terhadap semua perbuatannya dan kesesatannya yang lalu. Patutkah seorang manusia jahat, manusia terkutuk seperti dia, mendapatkan pembelaan dari seorang seperti Retna Wilis?
Menjelang tengah hari Retna Wilis bergerak perlahan dan membuka matanya. Mata yang suram, sayu dan membayangkan hati yang kosong dan perasaan yang tertindih penyesalan dan kedukaan. Melihat Adiwijaya duduk bersila di atas tanah, memandangnya dengan muka sedih, Retna Wilis bertanya,
"Paman, sudah lamakah aku bersamadhi?"

Suara itu! Begitu memelas, tergetar dan lirih. Begitu mengharukan dan menusuk perasaan Adiwijaya dan tak tertahankan lagi Adiwijaya menangis! Laki-laki yang dahulu menghadapi perbuatan keji sekeji-kejinya sambil tertawa itu kini menangis seperti anak kecil!
"Aduh Gusti Ayu Puteri Retna Wilis ...., mengapa Paduka membela hamba dan rela menentang rama ibu Paduka?" katanya di antara isaknya.

<<< Bagian 195                                                                                      Bagian 197 >>>

No comments:

Post a Comment