"Mari kita turun dan menemui kanjeng rama," kata Bagus Seta perlahan kepada bibi dan pamannya. Mereka berdua mengangguk, tidak berani mencampuri urusan antara Bagus Seta dan pendeta-pendeta sakti itu.
"Terima kasih, sahabatku
Biku Janapati" kata Wasi Bagaspati sambil bangkit berdiri, diturut oleh
Bagaskolo yang masih meraba-raba dadanya yang terasa sesak.
Biku Janapti mengerutkan
keningnya,
"Sahabatku Wasi
Bagaspati, berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Andika masih diperkenankan
hidup untuk menebus segala dosa dan sadar atas kesesatanmu. Dia yang tadinya
lengah dan tidak sadar melakukan kesesatan, kemudian menjadi sadar dan
merendahkan hati, dia akan menerangi dunia laksana bulan yang terbebas daripada
gumpalan awan hitam. Maka, insyaf dan sadarlah, sahabatku, bahwa perbuatan
jahat menuruti hawa nafsu angkara murka tidak akan membawamu ke alam
kebahagiaan lahir batin."
Wasi Bagaspati mendongkol
sekali, akan tetapi karena ia telah ditolong, ia lalu menghela napas dan berkata,
"Salahnya aku kurang
tekun mempelajari ilmu, akan tetapi, sudahlah ....biar kucoba untuk mencari
jalan kebenaran. Sampai jumpa kembali, Sang Biku Janapati!" Setelah
berkata demikian, Wasi Bagaspati dan adik seperguruannya lalu melesat pergi meninggalkan
tempat itu. Biku Janapati memandang dengan mata termenung dan menarik napas
panjang, maklum bahwa ia memikul tanggung jawab berat sekali, kemudian ia pun
melangkah pergi dengan tongkatnya, menuju ke arah larinya dua orang kakek itu.
Tejolaksono dan Endang
Patibroto mengamuk di samping Retna Wilis, mereka bertiga seakan-akan berlomba
membunuhi anak buah pasukan musuh sehingga.....pasukan menjadi gentar dan me
larikan diri cerai-berai. Setelah jumlah lawan menipis, barulah Tejotaksono dan
Endang Patibroto melihat bahwa selain mereka bertiga, maslh ada seorang pria
lagi yang juga mengamuk hebat. Kini mereka berdekatan, tiba-tiba Endang
Patibroto berseru,
"Sindupati ....!”
Adiwijaya menengok terkejut
sekali dan hendak melarikan diri bersembunyi namun terlambat karena Endang
Patibroto yang telah mengenalinya itu tiba-tiba lari menghampiri dan tanpa
banyak cakap lagi telah menerjangnya dengan pukulan maut Gelapmusti. Karena
wanita sakti ini meloncat dengan Aji Bayu Tantra, maka gerakannya tangkas dan
cepat laksana kilat menyambar, sukar untuk dihindari lagi. Terpaksa Adiwijaya
menangkis, akan tetapi karena hatinya gentar dan ia merasa bersalah, ia tidak
mampu mengerahkan seluruh tenaganya dan begitu lengannya bertemu dengan lengan
Endang Patibroto, ia terjengkang dan roboh bergulingan. Untung ia cepat
mempergunakan aji kesaktiannya yang amat ia andalkan, yaitu Trenggiling-wesi
sehingga begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia sehat kembali dan sudah menjauhkan
diri. Kalau tidak tentu kepalanya sudah remuk kena diinjak Endang Patibroto.
Wanita ini makin marah dan terus mengejar tubuh yang bergulingan itu dengan
loncatan-loncatan cepat.
"Sindupati, manusia
terkutuk! Saat ini engkau pasti akan mampus di tanganku!"
Dengan sebuah lompatan
cepat, kembali Endang Patibroto menerjang dan Adiwijaya sudah gugup sekali,
bahkan sudah bangkit dan seolah-olah tidak mau melawan lagi, menyerahkan mati
hidupnya kepada Endang Patibroto.
"Plakkk!" Tubuh
Endang Patibroto terhuyung ke belakang ketika hantamannya itu tertangkis oleh
lengan Retna Wilis.
"Jangan bunuh dia
.....!" teriaknya dan ia segera membangunkan Adiwijaya. Endang Patibroto
terbelalak memandang,
"Retna ......dia
.....dia ini manusia jahat! Manusia terkutuk! Dia ....dia musuh besar ibumu
....!”
Retna Wilis menggeleng kepalanya
dan berkata lirih,
"Agaknya jalan kita
selalu harus bersimpang. Boleh jadi dia kauanggap jahat dan menjadi musuhmu.
Akan tetapi bagiku dia seorang manusia baik dan menjadi satu-satunya sahabatku.
Mari Paman, kita pergi." Retna Wilis menggandeng tangan Adiwijaya dan
mengajaknya pergi cepat dari tempat itu.
Endang Patibroto mengepal
tinju dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya ... dipegang oleh Tejolaksono.
"Diajeng, jangan
memaksa dia .....!" Suaranya penuh keharuan. Endang Patibroto membalik,
hendak meronta, akan tetapi ketika melihat pandang mata suaminya penuh keharuan
dan kasihan, ia menangis dan Tejolaksono hanya dapat mengelus rambut isterinya
itu sambil menghela napas dan matanya pun menjadi basah.
Ketika Bagus Seto, Joko
Pramono dan Pusporini datang ke pantai tempat pertempuran itu, mereka bertiga
ini mendapatkan Tejolaksono dan Endang Patibroto sedang bertangisan di antara
tumpukan mayat anak buah Wasi Bagaspati yang berserakan dan malang melintang!
Pusporini segera merangkul Endang Patibroto dan Tejolaksono dengan wajah muram
dan berulang kali menghela napas menceritakan keadaan Retna Wilis yang
meninggalkan ayah bundanya. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang Adiwijaya
yang sesungguhnya adalah bekas Patih Warutama atau dahulu bernama Sindupati,
karena menyebut nama orang ini tentu akan terpaksa menceritakan bahwa Endang
Patibroto pernah diperkosa oleh manusia laknat itu!
Bagus Seta menghela napas
dan berkata,
"Harap Kanjeng Rama dan
Kanjeng Ibu suka bersabar dan menyerahkan segala sesuatunya dengan penuh
kepercayaan kepada Tuhan. Kalau kita menerima segala sesuatu yang menimpa kita,
baik hal itu menguntungkan atau merugikan kita, dengan penuh kesabaran dan
penyerahan, Sang Hyang Widdhi (Tuhan) pasti akan memberkahi karena Dia adalah
Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Kuasa. Peristiwa menguntungkan kita terima
sebagai anugerah Tuhan dan karenanya patut kita terima dengan rasa syukur dan
hormat tanpa menjadi mabuk kesenangan dan melupakan bahwa keuntungan itu hanya
terjadi karena Tuhan menghendaki. Sebaliknya peristiwa merugikan kita terima
sebagai hukuman atas penyelewengan kita dan sebagai ujian, karenanya kita patut
meneliti diri pribadi dan bertobat atas segala kesalahan kita, mohon ampun
kepada Dia Yang Maha Adil."
"Ahhh ...Puteraku
....betapa aku akan dapat menahan batin yang berat ini ..” Endang Patibroto
terisak.
"Mengapa tidak dapat,
Kanjeng Ibu? Manusia yang menyerahkan segala sesuatu, mati hidupnya, dengan
penuh kerelaan dan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widdhi akan sanggup menanggung
derita yang bagaimana pun juga, karena penyerahan mendatangkan kekuatan gaib
yang akan mengubah derita menjadi sesuatu yang wajar, bukan derita lagi."
"Bijaksana sekali
ucapanmu, puteraku Bagus Seta. Sekarang, menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?"
Tejolaksono berkata sambil memandang puteranya penuh kagum, juga dengan hati
kosong melompong karena ia tidak tahu siapakah sesungguhnya yang jauh
meninggalkan ayah bundanya. Retna Wilis ataukah Bagus Seta! Retna Wilis hanya
terpisah lahirnya dan dara itu selama masih hidup dan berada di atas bumi,
sekali waktu pasti dapat bertemu dan mungkin sekali dapat berkumpul kembali
sebagai puteri dan orang tuanya. Akan tetapi Bagus Seta ini sungguhpun kini
berada di depannya, bercakap-cakap seperti seorang putera, namun sesungguhnya
pemuda ini seperti melayang di angkasa, sukar sekali dijamah karena keadaan
Bagus Seta seolah-olah tidak lagi terikat oleh dunia apalagi oleh hubungan
keluarga!
"Karena musuh telah
dihalau dan adinda Retna Wilis telah dapat diselamatkan, sebaiknya Paduka
berdua Kanjeng Ibu kembali ke Panjalu memimpin pasukan untuk memberi pelaporan
kepada gusti sinuwun di Panjalu. Demikian pula dengan Paman Patih dan Kanjeng
Bibi sebaiknya memimpin pasukan kembali ke Jenggala."
"Dan engkau
sendiri?" Tejolaksono bertanya, suaranya kosong, sekosong hatinya yang
makin merasakan betapa "jauhnya" puteranya yang kini berdiri di
depannya itu.
"Hamba akan pergi
merantau, melanjutkan perjalanan melakukan dharma bakti hamba seperti yang
telah diajarkan oleh eyang guru .....”
"Dan ibumu? Tentu akan
kehilangan engkau .....betapa akan berduka hatinya ....“
Bagus Seta tersenyum dan
mengeluarkan setangkai bunga Cempaka Putih, menyerahkannya kepada Tejolaksono,
"Harap Kanjeng Rama
sudi menyerahkan bunga ini kepada Kanjeng Ibu, dan dengan kekuasaan Sang Hyang
Widdhi, hati ibunda akan terhibur." Tejolaksono menerima kembang itu
teringat akan masa dahulu di waktu puteranya memberi setangkai kembang pula
untuk diserahkan kepada Ayu Candra. Setelah menyimpan kembang itu ia berkata,
"Puteraku Bagus Seta,
mendekatlah, Anakku."
Bagus Seta menghampiri
ramandanya dan Tejolaksono memeluknya, memeluk erat-erat dan mendekap pemuda
itu, seolah-olah hendak menanam pemuda itu dalam dadanya agar jangan dapat
pergi lagi. Akan tetapi ada hawa yang hangat keluar dari dada Bagus Seta yang
menjalar ke seluruh tubuh Tejolaksono dan yang mengingatkan patih sakti ini
akan sinar Sang Surya, sinar matahari yang tidak hanya bertugas menghidupkan
dia seorang. Sadarlah dia bahwa memang menjadi tugas puteranya untuk berjuang
sebagai seorang sakti, sebagai seorang satria, demi kebenaran dan keadilan,
demi menegakkan perikemanusiaan, berguna bagi manusia khususnya dan dunia
umumnya. Tidak hanya bertugas menyenangkan hati kedua orang tuanya belaka ia melepaskan
pelukannya dan dengan mata basah akan tetapi wajah berseri dan mulut tersenyum
ia berkata,
"Pergilah, Anakku.
Pergilah dengan hati lapang dengan doa restu yang rela dariku."
Setelah memberi hornet
kepada Endang Patibroto yang memeluknya dan kepada Joko Pramono dan Pusporini,
pemuda itu lalu berjalan pergi menyusuri pantai laut selatan, diikuti pandang
mata empat orang itu sampai bayangannya lenyap ditelan kesuraman cuaca hari
yang mulai sore. Kemudian mereka berempat pun meninggalkan tempat itu untuk
kembali ke Wilis di mana pasukan-pasukan mereka masih berkumpul membersihkan
sisa perang di bawah pimpinan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis.
Retna Wilis duduk di atas
sebuah batu besar di dalam hutan yang lebat. Ia duduk bersila di atas batu
bawah pohon tanjung yang besar dan lebat sekali, dengan muka tunduk dan kedua
mata dipejamkan, dalam keadaan hening karena dara perkasa ini bersamadhi. Kalau
tidak dipandang dengan penuh perhatian, orang akan mengira bahwa ia tidak
bernyawa lagi, demikian halus pernapasannya sehingga hampir tidak tampak
dadanya bergerak. Hanya bedanya dengan biasanya, kalau sedang bersamadhi itu
biasanya Retna Wilis hening dan tenang, wajahnya menjadi seperti kosong tidak
mengandung perasaan apa-apa. Akan tetapi pada saat itu, wajahnya diselimuti
kesuraman seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bahkan ada
bekas-bekas air mata yang sudah hampir mengering di atas sepasang pipinya, di
bawah pelupuk mata. Juga sepasang alisnya yang kecil hitam itu agak berkerut,
tanda bahwa dia biarpun sedang bersamadhi, namun tidak dapat mengheningkan
cipta, dan tidak dapat.. membebaskan diri dari panca indrianya. Tidak jauh dari
tempat dara itu duduk bersamadhi di atas batu, tampak Adiwijaya duduk pula
bersila di atas tanah, di depan gadis itu. Akan tetapi Adiwijaya tidak
bersamadhi, semenjak tadi ia memandang wajah dara itu dengan penuh keprihatinan
dan penuh perhatian. Entah sudah berapa puluh kali Adiwijaya menghela napas
panjang dan pikirannya melayang-layang mengenangkan semua peristiwa yang
terjadi, dan makin dipikir makin trenyuh hatinya, merasa amat kasihan dan
terharu terhadap dara perkasa itu. Adiwijaya maklum bahwa Retna Wilis menderita
tekanan batin yang hebat, bahwa dara itu berduka sekali.
Tadi dara itu bersila
semenjak pagi sekali di atas batu, dan kalau Retna Wilis bersamadhi seperti
biasanya, kiranya Adiwijaya tidak akan gelisah dan tersiksa seperti itu
batinnya. Akan tetapi gadis itu bersila memejamkan mata, biarpun tidak pernah
bergerak dan pernapasannya seperti orang tertidur atau bersamadhi, namun
Adiwijaya yang juga biasa bersamadhi itu maklum bahwa dara ini memaksa diri
untuk menyembunyikan perasaannya yang tertekan dan tersiksa. Bahkan dara itu
tidak sadar bahwa beberapa tetes air mata keluar melalui bulu matanya menitik
turun ke atas pipi sampai mengering kembali, tidak sadar bahwa keningnya selalu
berkerut dan wajahnya diselimuti kemuraman yang mengharukan.
"Aku berdosa
....." pikirnya dengan trenyuh.
"Aku berdosa kepada
ibunya, kepadanya ...., kalau tidak karena aku, mungkin dia sudah dapat
berkumpul kembali dengan ayah bundanya, hidup berbahagia sebagai puteri Patih
Panjalu, sebagai puteri suami isteri yang menjadi tokoh terkenal, sakti
mandraguna dan gagah perkasa. Akan tetapi dia membelaku, rela pergi bersamaku!"
Ingin Adiwijaya memukul kepalanya sendiri penuh penyesalan terhadap diri
sendiri, terhadap semua perbuatannya dan kesesatannya yang lalu. Patutkah
seorang manusia jahat, manusia terkutuk seperti dia, mendapatkan pembelaan dari
seorang seperti Retna Wilis?
Menjelang tengah hari Retna
Wilis bergerak perlahan dan membuka matanya. Mata yang suram, sayu dan
membayangkan hati yang kosong dan perasaan yang tertindih penyesalan dan
kedukaan. Melihat Adiwijaya duduk bersila di atas tanah, memandangnya dengan
muka sedih, Retna Wilis bertanya,
"Paman, sudah lamakah
aku bersamadhi?"
Suara itu! Begitu memelas,
tergetar dan lirih. Begitu mengharukan dan menusuk perasaan Adiwijaya dan tak
tertahankan lagi Adiwijaya menangis! Laki-laki yang dahulu menghadapi perbuatan
keji sekeji-kejinya sambil tertawa itu kini menangis seperti anak kecil!
"Aduh Gusti Ayu Puteri
Retna Wilis ...., mengapa Paduka membela hamba dan rela menentang rama ibu
Paduka?" katanya di antara isaknya.
No comments:
Post a Comment