Perawan Lembah Wilis; Bagian 197


Retna Wilis memandang terbelalak sambil menurunkan kedua kakinya dari atas batu.
"Paman Adiwijaya! Andika ... menangis? Betapa anehnya...! Mengapa aku membelamu? Tentu saja! Tidak boleh orang membunuhmu, biar ayah bundaku sendiri pun tidak boleh. Engkau satu-satunya orang yang baik kepadaku, satu-satunya sahabatku, bahkan kuanggap sebagai pengganti orang tuaku!"
"Aduh Dewa .... betapa kejinya Sindupati ....ah, tidak layak aku hidup di dunia ini ..." Adiwijaya atau Sindupati makin tertusuk hatinya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Retna Wilis, kata demi kata merupakan keris berkarat yang menikam jantungnya.
"Sindupati? Apa maksudmu, Paman Adiwijaya?"
"Aduhai, Gusti Puteri yang mulia. Paduka bunuhlah hamba ini, untuk melepaskan hamba daripada siksaan batin karena dosa-dosa hamba yang setinggi langit. Bunuhlah hamba, Sang Puteri!"
Melihat pria setengah tua itu menangis mengguguk, Retna Wilis membuka matanya lebar-lebar.
"Paman, makin aneh saja kata-katamu. Biarpun orang sedunia mengatakan engkau jahat dan berdosa, bagiku engkau adalah orang yang paling baik."
"Tidak! Tidak! Paduka tidak tahu. Hamba sesungguhnya dahulu bernama Sindupati, dua puluh tahun lebih yang lalu hamba adalah seorang perwira Kerajaan Jenggala yang dikasihi gusti sinuwun sepuh di Jenggala. Akan tetapi hamba berani mempersunting bunga dalam taman terlarang, melakukan hubungan asmara dengan puteri sinuwun, sehingga hamba menjadi seorang pelarian yang terkutuk."
"Hemm, kesalahanmu tidak berapa hebat, Paman."
"Itu hanya per mulaan saja. Hamba lalu menjadi perwira Blambangan, dan hamba bersama pasukan Blambangan melakukan fitnah kepada ibunda Paduka, melakukan fitnah kepada Puteri Endang Patibroto yang dahulu menjadi puteri mantu gusti sinuwun, isteri dari Pangeran Panji Rawit. Hamba melakukan fitnah dengan maksud-maksud melemahkan Jenggala yang menjadi musuh Blambangan karena tokoh Jenggala yang ditakuti adalah ibu Paduka." Sindupati lalu menceritakan semua peristiwa ketika Endang Patibroto terfitnah sehingga mengakibatkan tewasnya Pangeran Panji Rawit. Retna Wilis mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Demikianlah, Gusti Puteri. Hambalah orangnya yang telah mencelakakan secara tidak langsung kehidupan rumah tangga ibunda. Bukankah hamba seorang manusia terkutuk yang patut mati? Harap Paduka lekas turun tangan membunuh hamba, karena kebaikan Paduka merupakan siksaan hebat yang tak tertahankan oleh batin hamba." Retna Wilis menggeleng kepis.
"Dosamu masih belum hebat, Paman. Engkau hanya melakukan tugas sebagal prajurit Blambangan dan apa yang kaulakukan terhadap kanjeng ibu, selain dalam pelaksanaan tugas, juga malah berjasa."
"Berjasa .....??" Sindupati memandang heran. Retna Wilis tersenyum pahit.
"Engkau berjasa karena kalau kanjeng ibu tidak kehilangan Pangeran Panji Rawit tentu tidak akan bertemu dengan kanjeng rama, dan .....aku ....tentu tidak akan ada!"
"Ah itu masih belum semua, Gusti Puteri. Dengarlah baik-baik! lbunda, paduka menjadi marah dan pasukan Jenggala dan Panjalu, juga bersama kanjeng rama paduka, menyerbu menghancurkan Blambangan. Hamba lalu lari lagi dan kemudian hamba bersekutu dengan utusan-utusan Cola dan Sriwijaya, terutama dengan Wasi Bagaspati dan dengan Suminten dan Pangeran Kukutan sehingga hamba berhasil menjadi patih Jenggala dengan nama Patih Warutama. Hamba telah mengorbankan nyawa banyak orang, tidak ada kejahatan dan kekejian yang tidak hamba lakukan, hamba peristeri kekasih hamba dan ....dan hamba peristeri pula anaknya, puterinya yang terlahir karena dahulu berhubungan dengan hamba, beristeri puteri hamba sendiri. Nah, adakah dosa yang lebih besar daripada itu?"
Retna Wilis menggeleng kepala, takjub.
"Tak dapat terbayangkan olehku betapa engkau pernah melakukan kesesatan sehebat itu, Paman. Akan tetapi itu bukan urusanku, dan kalau sekarang Paman menyesali perbuatan itu, baik sekali."
Adiwijaya makin penasaran.
"Akan tetapi, hamba .....hamba malah membunuh mereka ibu dan anak, hamba pada waktu melarikan diri karena sekutu hamba dihancurkan, telah membunuh Pangeran Kukutan dan mencelakakan Suminten. Hamba....berganti nama menjadi Adiwijaya dan mengelabuhi paduka .....dosa hamba tak terampunkan ...”
Retna Wilis tetap ntenggeleng kepala.
"Akan tetapi setelah menjadi pembantuku, engkau selalu baik kepadaku, Paman."
"Hamba akui bahwa semenjak bertemu dengan Paduka, hamba kehilangan semua watak kotor dan keji, hamba telah mendapatkan pegangan dan telah bersumpah untuk bersetia kepada Paduka. Hamba menganggap Paduka seperti sesembahan hamba, seperti ..anak hamba yang hamba sayang ..., akan tetapi, hamba sungguh tidak patut, hamba seorang manusia terkutuk. Hamba mohon, bunuhlah hamba agar hamba terbebas daripada siksaan batin, Gusti."
"Tidak, Paman. Aku tidak akan membunuhmu. Engkau boleh jadi pernah menyeleweng dan jahat, akan tetapi aku pun bukan seorang baik-baik, dan segala kejahatan itu tidak dapat menandingi kedurhakaanku terhadap kanjeng rama dan kanjeng ibu. Tidak, Paman. Kita sama-sama jahat, karenanya kita dapat menyesali perbuatan kita berdua yang sesat, dapat sama-sama menderita siksaan batin dart penyesalan hati."
Tiba-tiba Adiwijaya atau Sindupati meloncat berdiri, peluhnya mengalir seperti air matanya.
"Retna Wilis, masih belum tergugah hatimu untuk membunuh aku? Sindupati seorang manusia berhati iblis! Dengarlah, Retna Wilis. Aku ...... aku telah melakukan hal yang terkutuk.... Ketika engkau masih kecil di Wilis, aku pernah berkunjung kepada ibumu, Aku memancing ibumu sehingga engkau yang sedang berlatih di pohon ditinggalkan kemudian diculik oleh sekutuku, yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Kemudian aku .....dengar baik-baik, ketika ibumu sedang tidur, aku memukulnya pingsan dan aku .....aku memperkosanya!" Retna Wilis mengeluarkan jerit lirih dan ia pun meloncat bangun, berdiri berhadapan dengan Sindupati yang berwajah pucat sekali. Mereka bertemu pandang, sejenak tak berkata-kata dan tidak bergerak, kemudian Sindupati berkata perlahan,
"Nah, cukuplah sekarang. Kau bunuhlah aku, Retna Wilis."

Akan tetapi, tiba-tiba sekali Retna Wilis tersedu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis.
"Tidak ..., aku tidak akan membunuhmu, aku ... aku tetap lebih jahat daripada engkau, Paman. Aku lebih menyakitkan hati kanjeng ibu daripada perbuatanmu terhadapnya....”
"Retna Wilis . ..!!" Sindupati berseru setengah memekik, heran, menyesal, terharu dan berduka bercampur aduk menjadi satu dalam suaranya.
Retna Wilis menurunkan kedua tangannya dan memandang Sindupati,
"Paman, kita sama-sama jahat, dan sama-sama menyesal, sama-sama tidak mempunyai masa depan yang terang, tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup ini. Karena itu ... jangan ....jangan kau tinggalkan aku, Paman. Engkaulah satu-satunya sahabatku yang dapat kupercaya, engkau pengganti orang tuaku ....”
"Aduh, Gusti Puteri ....!" Sindupati menubruk kaki Retna Wilis, menyembah dan mencium ujung ibu jari kaki gadis itu, jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Retna Wilis berjongkok dan mengangkat bangun laki-laki setengah tua itu, memegang kedua pundak dan berkata,
"Jangan begitu, Paman. Mulai saat ini, Paman kuanggap sebagai paman kandung sendiri, mewakili kedua orang tuaku. Bimbinglah aku, Paman, berilah petunjuk bagaimana aku harus melanjutkan hidup ini."
Dengan suara serak saking terharu hatinya Sindupati berkata,
"Baiklah, Retna Wilis. Engkau kuanggap sebagai keponakanku, bahkan sebagai anakku yang akan kubela dengan seluruh jiwa ragaku. Jangan khawatir, Anakku. Aku akan menggunakan seluruh sisa hidupku demi membahagiakanmu dan akan menuntunmu untuk merubah jalan hidupmu meialui jalan kebenaran. Biarpun aku seorang bekas manusia sejahat-jahatnya aku masih belum lupa bagaimana caranya menjadi manusia baik. Bahkan semua pengalamanku dapat kujadikan contoh keburukan. Marilah, Anakku, masa depanmu tidak segelap yang kau khawatirkan. Pertama-tama lenyapkan rasa bencimu...terhadap... ayah... bundamu. Sangguhkah?"
Retna Wilis mengangguk.
"Aku sebetulnya tidak membenci mereka, Paman. Hanya, aku .....aku segan ditundukkan....”
"Nah, kalau engkau benar menganggapku sebagai pamanmu, sebagai pengganti orang tuamu, engkau harus taat kepadaku. Tanamkan rasa sayang kepada ayah bundamu, dan buang jauh-jauh cita-citamu untuk menjadi ratu dunia!"
Retna Wilis mengangkat mukanya memandang, kemudian mengangguk pula.
"Akan tetapi, ayah bundaku, semua keluargaku, tentu akan memandang rendah kepadaku, seorang anak durhaka....”
"Tidak, Anakku. Engkau akan menjadi seorang semulia-mulianya di dunia ini, akan menjadi tokoh penegak kebenaran dan orang tuamu, seluruh keluarga, kelak akan menjunjung tinggi padamu."
"Akan tetapi, bagaimana aku dapat melawan rangsangan hatiku sendiri, Paman? Ada sesuatu yang mendorongku, yang tertanam di lubuk hatiku semenjak aku menjadi murid Nini Bumigarba."
"Harus kaulawan dengan kekuatan batinmu, dan .....“

"Ha-ha-ha-ha, burung gagak berbulu hitam, bagaimana bisa mengubah bulu menjadi putih?"
Sindupati dan Retna Wilis terkejut dan membalikkan tubuh. Kiranya di situ telah berdiri Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo!
"Ha-ha-ha-ha, Retna Wilis. Mengapa engkau begini bodoh mau mendengarkan ocehan seorang pengkhianat kotor seperti dia ini? Kedua tangannya, seluruh tubuhnya sendiri sudah penuh kotoran, mana mungkin dia dapat membersihkan engkau? Lebih baik engkau bersekutu denganku, dan kalau kita bertiga membasmi tokoh-tokoh Jenggala dan Panjalu, engkau kelak akan dapat menjadi ratu terbesar di seluruh Jawa-dwipa!"
Melihat perubahan pada wajah Retna Wilis yang kembali bersikap dingin dan beringas, Sindupati maklum bahwa ucapan Wasi Bagaspati itu mendatangkan kesan di hati Retna Wilis. Ia khawatir sekali kalau-kalau gadis itu terpengaruh oleh wataknya yang lama kembali, maka kemarahannya timbul dan dengan nekat ia meloncat, menerkam dan menyerang Wasi Bagaspati!
Wasi Bagaspati menggerakkan tangannya, menyambut terjangan Sindupati dengan pukulan tangan miring.
"Krakkk!" Tubuh Sindupati terlempar ke dekat kaki Retna Wilis dan sebagian besar tulang-tulang iganya patah-patah! Melihat Sindupati menggeletak megap-megap di dekat kakinya, seketika lenyaplah pengaruh liar di hati Ratna Wilis. Ia menubruk, berlutut di dekat tubuh yang sudah berkelojotan itu.
"Paman ... Paman Sindupati....”
Sindupati terengah-engah dan mengeluarkan bisikan yang lirih sekali,
"Anakku ....sadarlah .....lawanlah pengaruh buruk ....selamat tinggal ....selamat berjuang ke jalan kebenaran ....aku layak mati ... penuh dosa ....." Tiba-tiba tubuhnya mengejang lalu lemas. Sindupati, alias Warutama, alias Adiwijaya menghembuskan napas terakhir.
Retna Wilis bangkit perlahan-lahan, pandang matanya membuat Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo mengkirik.
"Eh, Retna Wilis, perlu apa mendengarkan ocehan orang sekarat? Lebih baik bersama kami mengejar kemuliaan hidup. Hidup di dunia hanya satu kali dan berapa lamanya orang hidup? Kalau tidak mengejar kemuliaan sekarang, kelak terlambat dan menyesal pun tiada gunanya lagi," kata Wasi Bagaskolo.
"Manusia-manusia iblis!" Tiba-tiba Retna Wilis meloncat cepat sekali menerjang Wasi Bagaskolo yang berdiri paling dekat. Kakek ini terkejut dan cepat menangkis.
"Dukkkkl!"
Girang hati Wasi Bagaskolo ketika ia menangkis itu ia mendapat kenyataan bahwa tenaga Retna Wilis tidaklah sehebat pada pertandingan yang lalu. Dia hanya terhuyung. Hal ini menandakan bahwa kesaktian dara itu belum pulih kembali. Hal ini memanglah benar. Selain Retna Wilis masih menderita karena pertandingan yang lalu, juga dia menderita tekanan batin yang amat berat sehingga hal ini pun banyak mengurangi dan melemahkan tenaga sakti di tubuhnya.
Retna Wilis yang marah sekali melihat Sindupati tewas, juga maklum bahwa tenaganya masih belum pulih sebagai akibat ketika ia ditawan dan kemudian bertanding dengan kedua orang kakek itu, maka ia cepat mencabut pedang pusaka Sapudenta dari punggungnya.
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang sudah waspada dan maklum bahwa selain tenaga saktinya masih belum pulih, juga dara ini sedang menderita tekanan batin sehingga tidaklah sekuat biasa, tidak menjadi gentar biar mereka telah kehilangan senjata pusaka mereka.
"Retna Wilis, lebih baik engkau menyerah secara baik- baik, menjadi pengganti Dewi Nilamanik, menjadi seorang dewi penitisan Sang Bathari, hidup mulia dan penuh kesenangan. Menyerahlah daripada aku menggunakan kekerasan."
Retna Wilis tidak menjawab, melainkan mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, tangannya memutar pedang pusaka Sapudenta dan berubah menjadi gulungan sinar panjang membabat ke arah tubuh ke dua orang kakek itu. Namun Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sudah mengelak dengan loncatan mundur, kemudian membalas dengan pukulan-pukulan sakti dari kanan Retna Wilis terus meloncat ke depan menghindarkan diri dan membalikkan tubuh, pedang di tangan, siap bertanding mati-matian.

<<< Bagian 196                                                                                     Bagian 198 >>>

No comments:

Post a Comment