Retna Wilis memandang terbelalak sambil menurunkan kedua kakinya dari atas batu.
"Paman Adiwijaya!
Andika ... menangis? Betapa anehnya...! Mengapa aku membelamu? Tentu saja!
Tidak boleh orang membunuhmu, biar ayah bundaku sendiri pun tidak boleh. Engkau
satu-satunya orang yang baik kepadaku, satu-satunya sahabatku, bahkan kuanggap
sebagai pengganti orang tuaku!"
"Aduh Dewa .... betapa
kejinya Sindupati ....ah, tidak layak aku hidup di dunia ini ..."
Adiwijaya atau Sindupati makin tertusuk hatinya. Setiap ucapan yang keluar dari
mulut Retna Wilis, kata demi kata merupakan keris berkarat yang menikam
jantungnya.
"Sindupati? Apa
maksudmu, Paman Adiwijaya?"
"Aduhai, Gusti Puteri
yang mulia. Paduka bunuhlah hamba ini, untuk melepaskan hamba daripada siksaan
batin karena dosa-dosa hamba yang setinggi langit. Bunuhlah hamba, Sang
Puteri!"
Melihat pria setengah tua
itu menangis mengguguk, Retna Wilis membuka matanya lebar-lebar.
"Paman, makin aneh saja
kata-katamu. Biarpun orang sedunia mengatakan engkau jahat dan berdosa, bagiku
engkau adalah orang yang paling baik."
"Tidak! Tidak! Paduka
tidak tahu. Hamba sesungguhnya dahulu bernama Sindupati, dua puluh tahun lebih
yang lalu hamba adalah seorang perwira Kerajaan Jenggala yang dikasihi gusti
sinuwun sepuh di Jenggala. Akan tetapi hamba berani mempersunting bunga dalam
taman terlarang, melakukan hubungan asmara dengan puteri sinuwun, sehingga
hamba menjadi seorang pelarian yang terkutuk."
"Hemm, kesalahanmu
tidak berapa hebat, Paman."
"Itu hanya per mulaan
saja. Hamba lalu menjadi perwira Blambangan, dan hamba bersama pasukan
Blambangan melakukan fitnah kepada ibunda Paduka, melakukan fitnah kepada
Puteri Endang Patibroto yang dahulu menjadi puteri mantu gusti sinuwun, isteri
dari Pangeran Panji Rawit. Hamba melakukan fitnah dengan maksud-maksud
melemahkan Jenggala yang menjadi musuh Blambangan karena tokoh Jenggala yang
ditakuti adalah ibu Paduka." Sindupati lalu menceritakan semua peristiwa
ketika Endang Patibroto terfitnah sehingga mengakibatkan tewasnya Pangeran
Panji Rawit. Retna Wilis mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Demikianlah, Gusti
Puteri. Hambalah orangnya yang telah mencelakakan secara tidak langsung
kehidupan rumah tangga ibunda. Bukankah hamba seorang manusia terkutuk yang
patut mati? Harap Paduka lekas turun tangan membunuh hamba, karena kebaikan
Paduka merupakan siksaan hebat yang tak tertahankan oleh batin hamba."
Retna Wilis menggeleng kepis.
"Dosamu masih belum
hebat, Paman. Engkau hanya melakukan tugas sebagal prajurit Blambangan dan apa
yang kaulakukan terhadap kanjeng ibu, selain dalam pelaksanaan tugas, juga
malah berjasa."
"Berjasa .....??"
Sindupati memandang heran. Retna Wilis tersenyum pahit.
"Engkau berjasa karena
kalau kanjeng ibu tidak kehilangan Pangeran Panji Rawit tentu tidak akan
bertemu dengan kanjeng rama, dan .....aku ....tentu tidak akan ada!"
"Ah itu masih belum
semua, Gusti Puteri. Dengarlah baik-baik! lbunda, paduka menjadi marah dan
pasukan Jenggala dan Panjalu, juga bersama kanjeng rama paduka, menyerbu
menghancurkan Blambangan. Hamba lalu lari lagi dan kemudian hamba bersekutu
dengan utusan-utusan Cola dan Sriwijaya, terutama dengan Wasi Bagaspati dan
dengan Suminten dan Pangeran Kukutan sehingga hamba berhasil menjadi patih
Jenggala dengan nama Patih Warutama. Hamba telah mengorbankan nyawa banyak
orang, tidak ada kejahatan dan kekejian yang tidak hamba lakukan, hamba
peristeri kekasih hamba dan ....dan hamba peristeri pula anaknya, puterinya
yang terlahir karena dahulu berhubungan dengan hamba, beristeri puteri hamba
sendiri. Nah, adakah dosa yang lebih besar daripada itu?"
Retna Wilis menggeleng
kepala, takjub.
"Tak dapat terbayangkan
olehku betapa engkau pernah melakukan kesesatan sehebat itu, Paman. Akan tetapi
itu bukan urusanku, dan kalau sekarang Paman menyesali perbuatan itu, baik
sekali."
Adiwijaya makin penasaran.
"Akan tetapi, hamba
.....hamba malah membunuh mereka ibu dan anak, hamba pada waktu melarikan diri
karena sekutu hamba dihancurkan, telah membunuh Pangeran Kukutan dan mencelakakan
Suminten. Hamba....berganti nama menjadi Adiwijaya dan mengelabuhi paduka
.....dosa hamba tak terampunkan ...”
Retna Wilis tetap
ntenggeleng kepala.
"Akan tetapi setelah
menjadi pembantuku, engkau selalu baik kepadaku, Paman."
"Hamba akui bahwa semenjak
bertemu dengan Paduka, hamba kehilangan semua watak kotor dan keji, hamba telah
mendapatkan pegangan dan telah bersumpah untuk bersetia kepada Paduka. Hamba
menganggap Paduka seperti sesembahan hamba, seperti ..anak hamba yang hamba
sayang ..., akan tetapi, hamba sungguh tidak patut, hamba seorang manusia
terkutuk. Hamba mohon, bunuhlah hamba agar hamba terbebas daripada siksaan
batin, Gusti."
"Tidak, Paman. Aku
tidak akan membunuhmu. Engkau boleh jadi pernah menyeleweng dan jahat, akan
tetapi aku pun bukan seorang baik-baik, dan segala kejahatan itu tidak dapat
menandingi kedurhakaanku terhadap kanjeng rama dan kanjeng ibu. Tidak, Paman.
Kita sama-sama jahat, karenanya kita dapat menyesali perbuatan kita berdua yang
sesat, dapat sama-sama menderita siksaan batin dart penyesalan hati."
Tiba-tiba Adiwijaya atau
Sindupati meloncat berdiri, peluhnya mengalir seperti air matanya.
"Retna Wilis, masih
belum tergugah hatimu untuk membunuh aku? Sindupati seorang manusia berhati
iblis! Dengarlah, Retna Wilis. Aku ...... aku telah melakukan hal yang
terkutuk.... Ketika engkau masih kecil di Wilis, aku pernah berkunjung kepada
ibumu, Aku memancing ibumu sehingga engkau yang sedang berlatih di pohon
ditinggalkan kemudian diculik oleh sekutuku, yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki
Kolohangkoro. Kemudian aku .....dengar baik-baik, ketika ibumu sedang tidur,
aku memukulnya pingsan dan aku .....aku memperkosanya!" Retna Wilis
mengeluarkan jerit lirih dan ia pun meloncat bangun, berdiri berhadapan dengan
Sindupati yang berwajah pucat sekali. Mereka bertemu pandang, sejenak tak
berkata-kata dan tidak bergerak, kemudian Sindupati berkata perlahan,
"Nah, cukuplah
sekarang. Kau bunuhlah aku, Retna Wilis."
Akan tetapi, tiba-tiba
sekali Retna Wilis tersedu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis.
"Tidak ..., aku tidak
akan membunuhmu, aku ... aku tetap lebih jahat daripada engkau, Paman. Aku
lebih menyakitkan hati kanjeng ibu daripada perbuatanmu terhadapnya....”
"Retna Wilis .
..!!" Sindupati berseru setengah memekik, heran, menyesal, terharu dan
berduka bercampur aduk menjadi satu dalam suaranya.
Retna Wilis menurunkan kedua
tangannya dan memandang Sindupati,
"Paman, kita sama-sama
jahat, dan sama-sama menyesal, sama-sama tidak mempunyai masa depan yang
terang, tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup ini. Karena itu ... jangan
....jangan kau tinggalkan aku, Paman. Engkaulah satu-satunya sahabatku yang
dapat kupercaya, engkau pengganti orang tuaku ....”
"Aduh, Gusti Puteri
....!" Sindupati menubruk kaki Retna Wilis, menyembah dan mencium ujung
ibu jari kaki gadis itu, jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Retna Wilis
berjongkok dan mengangkat bangun laki-laki setengah tua itu, memegang kedua
pundak dan berkata,
"Jangan begitu, Paman.
Mulai saat ini, Paman kuanggap sebagai paman kandung sendiri, mewakili kedua
orang tuaku. Bimbinglah aku, Paman, berilah petunjuk bagaimana aku harus
melanjutkan hidup ini."
Dengan suara serak saking
terharu hatinya Sindupati berkata,
"Baiklah, Retna Wilis.
Engkau kuanggap sebagai keponakanku, bahkan sebagai anakku yang akan kubela
dengan seluruh jiwa ragaku. Jangan khawatir, Anakku. Aku akan menggunakan
seluruh sisa hidupku demi membahagiakanmu dan akan menuntunmu untuk merubah
jalan hidupmu meialui jalan kebenaran. Biarpun aku seorang bekas manusia
sejahat-jahatnya aku masih belum lupa bagaimana caranya menjadi manusia baik.
Bahkan semua pengalamanku dapat kujadikan contoh keburukan. Marilah, Anakku,
masa depanmu tidak segelap yang kau khawatirkan. Pertama-tama lenyapkan rasa
bencimu...terhadap... ayah... bundamu. Sangguhkah?"
Retna Wilis mengangguk.
"Aku sebetulnya tidak
membenci mereka, Paman. Hanya, aku .....aku segan ditundukkan....”
"Nah, kalau engkau
benar menganggapku sebagai pamanmu, sebagai pengganti orang tuamu, engkau harus
taat kepadaku. Tanamkan rasa sayang kepada ayah bundamu, dan buang jauh-jauh
cita-citamu untuk menjadi ratu dunia!"
Retna Wilis mengangkat
mukanya memandang, kemudian mengangguk pula.
"Akan tetapi, ayah
bundaku, semua keluargaku, tentu akan memandang rendah kepadaku, seorang anak
durhaka....”
"Tidak, Anakku. Engkau
akan menjadi seorang semulia-mulianya di dunia ini, akan menjadi tokoh penegak
kebenaran dan orang tuamu, seluruh keluarga, kelak akan menjunjung tinggi
padamu."
"Akan tetapi, bagaimana
aku dapat melawan rangsangan hatiku sendiri, Paman? Ada sesuatu yang
mendorongku, yang tertanam di lubuk hatiku semenjak aku menjadi murid Nini
Bumigarba."
"Harus kaulawan dengan
kekuatan batinmu, dan .....“
"Ha-ha-ha-ha, burung
gagak berbulu hitam, bagaimana bisa mengubah bulu menjadi putih?"
Sindupati dan Retna Wilis
terkejut dan membalikkan tubuh. Kiranya di situ telah berdiri Wasi Bagaspati
dan Wasi Bagaskolo!
"Ha-ha-ha-ha, Retna
Wilis. Mengapa engkau begini bodoh mau mendengarkan ocehan seorang pengkhianat
kotor seperti dia ini? Kedua tangannya, seluruh tubuhnya sendiri sudah penuh
kotoran, mana mungkin dia dapat membersihkan engkau? Lebih baik engkau
bersekutu denganku, dan kalau kita bertiga membasmi tokoh-tokoh Jenggala dan
Panjalu, engkau kelak akan dapat menjadi ratu terbesar di seluruh
Jawa-dwipa!"
Melihat perubahan pada wajah
Retna Wilis yang kembali bersikap dingin dan beringas, Sindupati maklum bahwa
ucapan Wasi Bagaspati itu mendatangkan kesan di hati Retna Wilis. Ia khawatir
sekali kalau-kalau gadis itu terpengaruh oleh wataknya yang lama kembali, maka
kemarahannya timbul dan dengan nekat ia meloncat, menerkam dan menyerang Wasi
Bagaspati!
Wasi Bagaspati menggerakkan
tangannya, menyambut terjangan Sindupati dengan pukulan tangan miring.
"Krakkk!" Tubuh
Sindupati terlempar ke dekat kaki Retna Wilis dan sebagian besar tulang-tulang
iganya patah-patah! Melihat Sindupati menggeletak megap-megap di dekat kakinya,
seketika lenyaplah pengaruh liar di hati Ratna Wilis. Ia menubruk, berlutut di
dekat tubuh yang sudah berkelojotan itu.
"Paman ... Paman
Sindupati....”
Sindupati terengah-engah dan
mengeluarkan bisikan yang lirih sekali,
"Anakku ....sadarlah
.....lawanlah pengaruh buruk ....selamat tinggal ....selamat berjuang ke jalan
kebenaran ....aku layak mati ... penuh dosa ....." Tiba-tiba tubuhnya
mengejang lalu lemas. Sindupati, alias Warutama, alias Adiwijaya menghembuskan
napas terakhir.
Retna Wilis bangkit
perlahan-lahan, pandang matanya membuat Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo
mengkirik.
"Eh, Retna Wilis, perlu
apa mendengarkan ocehan orang sekarat? Lebih baik bersama kami mengejar
kemuliaan hidup. Hidup di dunia hanya satu kali dan berapa lamanya orang hidup?
Kalau tidak mengejar kemuliaan sekarang, kelak terlambat dan menyesal pun tiada
gunanya lagi," kata Wasi Bagaskolo.
"Manusia-manusia
iblis!" Tiba-tiba Retna Wilis meloncat cepat sekali menerjang Wasi
Bagaskolo yang berdiri paling dekat. Kakek ini terkejut dan cepat menangkis.
"Dukkkkl!"
Girang hati Wasi Bagaskolo
ketika ia menangkis itu ia mendapat kenyataan bahwa tenaga Retna Wilis tidaklah
sehebat pada pertandingan yang lalu. Dia hanya terhuyung. Hal ini menandakan
bahwa kesaktian dara itu belum pulih kembali. Hal ini memanglah benar. Selain
Retna Wilis masih menderita karena pertandingan yang lalu, juga dia menderita
tekanan batin yang amat berat sehingga hal ini pun banyak mengurangi dan
melemahkan tenaga sakti di tubuhnya.
Retna Wilis yang marah
sekali melihat Sindupati tewas, juga maklum bahwa tenaganya masih belum pulih
sebagai akibat ketika ia ditawan dan kemudian bertanding dengan kedua orang
kakek itu, maka ia cepat mencabut pedang pusaka Sapudenta dari punggungnya.
Wasi Bagaspati dan Wasi
Bagaskolo yang sudah waspada dan maklum bahwa selain tenaga saktinya masih
belum pulih, juga dara ini sedang menderita tekanan batin sehingga tidaklah
sekuat biasa, tidak menjadi gentar biar mereka telah kehilangan senjata pusaka
mereka.
"Retna Wilis, lebih
baik engkau menyerah secara baik- baik, menjadi pengganti Dewi Nilamanik,
menjadi seorang dewi penitisan Sang Bathari, hidup mulia dan penuh kesenangan.
Menyerahlah daripada aku menggunakan kekerasan."
Retna Wilis
tidak menjawab, melainkan mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya sudah meluncur
ke depan, tangannya memutar pedang pusaka Sapudenta dan berubah menjadi
gulungan sinar panjang membabat ke arah tubuh ke dua orang kakek itu. Namun
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sudah mengelak dengan loncatan mundur,
kemudian membalas dengan pukulan-pukulan sakti dari kanan Retna Wilis terus
meloncat ke depan menghindarkan diri dan membalikkan tubuh, pedang di tangan,
siap bertanding mati-matian.
No comments:
Post a Comment