Sampai keadaan di dalam taman sunyi kembali karena suara pengawal yang melakukan pengejaran sudah terlalu jauh untuk dapat didengar dari situ, Pangeran Panji Sigit masih saja berdiri termenung dengan hati dan tubuh lemas. Tiba-tiba sebuah tangan yang halus dan lemas, menyentuh pundaknya dengan mesra, dan bisikan suara Suminten menyusup ke dalam telinga kirinya.
"Pangeran, jangan
khawatir, orang-orang jahat yang menyakiti hatimu itu pasti akan dapat
tertangkap dan diseret di depan kakimu, Pangeran ...”
Suara bisikan yang lembut
basah ini memasuki telinganya, mula-mula seperti air sewindu yang amat dingin,
kemudian seperti ujung pisau runcing menusuk jantungnya, membuat Pangeran Panji
Sigit tersentak kaget dari lamunannya dan ia cepat menoleh lalu membentak,
"Tidak ...! Aku tidak
percaya ....Ini semua tentu siasatmu ..! tentu perbuatanmu ...! Aku tidak
percaya isteriku akan berbuat keji dan hina ...!”
Bibir merah semringah itu
tersenyum di belakang punggung Pangeran Panji Sigit yang sudah membuang muka
membelakangi wanita itu. Karena senyum itu tidak sewajarnya timbul dari
kegembiraan hati, maka bukan tersenyum lagi, melainkan menyeringai dan
andaikata pangeran itu dapat melihatnya tentu akan makin curiga hatinya. Akan
tetapi hanya sebentar, karena Suminten sudah berkata lagi, kini tidak berbisik
karena dia ingin memaksa kata-katanya agar dapat sejelas mungkin menusuk kedua
telinga pangeran yang tampan dan yang setiap kali ia temui membuat api dalam
tubuhnya menggelora dan nafsunya menyengat-nyengat.
"Pangeran, mengapa
andika tidak mau melihat kenyataan? Wanita adalah makluk lemah yang mudah
tergoda. Lihatlah aku! Aku mencinta sang prabu, akan tetapi begitu melihat
andika yang lebih gagah, aku tergila-gila dan bertekuk lutut terhadap gelora
nafsu cintaku! Apalagi Setyaningsih yang masih muda belia! Dan Joko Pramono
adalah seorang jantan muda yang memiliki daya tarik luar biasa sekali. Mungkin
dalam hal ketampanan, dia tidak dapat mengatasimu, Pangeran. Akan tetapi, dia
lebih gagah, tubuhnya lebih kuat seperti seekor banteng muda! Dan Setyaningsih
adalah seorang wanita muda yang sejak kecil hidup bersama Endang Patribroto!
Andika mangenal siapa Endang Patibroto! Isteri rakandamu Pangeran Panji Rawit
dan belum lama ditinggal mati suaminya sudah menjadi kekasih Tejolaksono! Mana
mungkin kesetiaannya dapat dipercaya? Andika baru melihat dia membelai Joko
Pramono dan merangkul mesra, sayang keburu datang para pengawal dan Pusporini
perempuan setan itu. Kalau tidak, tentu andika akan dapat menyaksikan adegan
yang lebih mesra lagi antara Setyaningsih dan Joko Pramono ...ahhh, kalau saja
andika dapat melihat apa yang kusaksikan sendiri ... mereka berkasih-kasihan di
luar taman, di atas rumput seperti dua ekor menjangan muda, bergelut mesra bercumbu-cumbuan
...”
"Diam ....!!
Diammmmm.....!! Diammmm ...!!!" Pangeran Panji Sigit berteriak-teriak
seperti orang gila, menubruk ke depan dan menggunakan kepalan tangan kanannya
menghantam batang pohon tanjung yang tumbuh di taman sari itu sehingga pohon
itu berguncang dan daun-daun kuning rontok. Akan tetapi karena ia memukul
batang pohon karena kemarahan dan sakit hati, tanpa mengerahkan aji
kesaktiannya, maka kulit tangannya pecah-pecah berdarah dan tangannya
membengkak.
Kemudian pangeran ini terisak-isak
dan menyandarkan dahinya pada batang pohon, mulutnya berteriak-teriak lemah
seperti berbisik-bisik,
"Tidak ...., tidak ....
tidak ...!!!” Akhirnya pangeran itu terkulai lamas dan roboh pingsan. Pukulan
batin itu terlalu hebat baginya. Betapa pun ia menggunakan kekuatan batinnya
untuk menolak dan tidak percaya bahwa isterinya akan berbuat serong, berjina
dengan Joko Pramono, namun kedua matanya menyaksikan sendiri isterinya
membelai-belai Joko Pramono, dan andaikata ada keraguan, maka keraguan ini disapu
hilang oleh teriakan Pusporini yang memaki Joko Pramono ceriwis, cabul, dan
mata keranjang!
Pangeran Panji Sigit tidak
tahu betapa dalam keadaan pingsan itu, bibir dan seluruh mukanya diciumi oleh
bibir Suminten yang sudah tak dapat menahan nafsunya, kemudian wanita ini
dengan muka mangar-mangar kemerahan bertepuk tangan. Muncullah empat orang
pelayan wanita kepercayaannya dan ia lalu memerintahkan mereka menggotong tubuh
pria yang membuatnya tergila-gila ini ke dalam kamarnya. Malam telah lama lewat
dan hari telah menjelang siang ketika Pangeran Panji Sigit siuman dari
pingsannya dan ia mendapatkan dirinya telah rebah di atas sebuah pembaringan
yang lunak harum di dalam kamar yang indah dan ...sebuah lengan yang lunak
halus melintang di atas dadanya, pernapasan yang halus terdengar di sebelah
kanannya. Ketika ia menoleh ke arah si pemilik lengan dan si pembuat napas,
kiranya Suminten yang memeluknya dalam keadaan pulas! Suminten dengan wajahnya
yang manis, rambut terurai lepas merupakan satu-satunya alat penutup tubuh,
sama dengan keadaan dirinya sendiri yang hanya berselimut kain merah. Raden
Panji Sigit mengerutkan kening, teringat akan semua peristiwa semalam, tahu
bahwa dia telah di bawa ke dalam kamar Suminten, dan tidur sepembaringan dengan
ibu tirinya itu, pembaringan yang biasanya ditiduri ramandanya! Ia menjadi muak
dan cepat menurunkan lengan yang melintang di atas dadanya, kemudian melompat
turun, menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaian tergesa-gesa. Suminten
menggeliat, mengeluarkan suara seperti seekor anak kucing manja dan mau tidak
mau Pangeran Panji Sigit harus memandang tubuh yang amat indah dan memiliki
daya tarik menggairahkan dan merangsang nafsu berahi itu. Namun ia menekan
semua gelora batinnya yang mulai bangkit ini dengan kesadaran betapa jahat,
keji, dan berbahayanya selir ramandanya ini. Suminten membuka mata, dimulai
dengan berkejapnya bulu mata yang lentik itu, kemudian matanya terbuka dan
seperti seorang kaget wanita ini bangkit duduk, membiarkan rambutnya yang
panjang menjadi tirai jarang di depan dadanya yang telanjang sehingga mencipta
penglihatan yang dapat meruntuhkan hati setiap orang pria.
"Ouhhhh ....Pangeran,
andika sudah siuman? Syukurlah .... aduhh, andika amat mencemaskan hatiku....
semalam suntuk kujaga di sini belum juga siuman, sampai akhirnya aku tertidur
di sampingmu. Marilah ke sini, Pangeran....” Pangeran Panji Sigit mengerutkan
keningnya dan menggeleng.
"Terima kasih, saya
akan pergi .....”
"Ehhh, jangan pergi,
Pangeran. Andika masih perlu istirahat. Ke sinilah, mari rebah di sini, lupakan
segala kesedihan. Suminten akan menghiburmu, Pangeran, Suminten mencintamu
dengan seluruh jiwa raganya, dengan seluruh hatinya, setiap helai bulu di
tubuhnya mencintamu, Pangeran ....”
Pangeran Panji Sigit
bergidik. Bukan main wanita ini. Siapa yang terjerat oleh wanita seperti ini,
yang memiliki wajah cantik manis, memiliki tubuh yang menggairahkan, memiliki
suara yang merangsang nafsu, kiranya takkan mudah dapat melepaskan diri lagi.
Suminten sudah turun dari pembaringan sehingga kini tidak ada bagian tubuhnya
yang tertutup selimut. Ia lari menghampiri dan memeluk pinggang pangeran itu
dengan kemanjaan yang memikat hati.
"Pangeran, tak tahukah
engkau betapa siang malam Suminten selalu merindukanmu? Marilah ... bersikaplah
manis kepadaku, Pangeran, dan Suminten akan mencipta surga untukmu." Ia
meraih ke atas, berdiri jinjit untuk mencapai bibir Pangeran Panji Sigit dengan
mulutnya. Pangeran itu membuang muka dan mendorong pundak Suminten sehingga
wanita ini terjengkang dan jatuh terlentang di atas pembaringan.
"Tak perlu andika
merayuku! Aku sudah tahu siapa dan orang macam apa andika ini! Aku akan pergi
dari istana terkutuk ini, sekarang juga!" Sambil berkata demikian, tanpa
menoleh lagi Pangeran Panji Sigit sudah melangkah menuju pintu untuk keluar.
"Engkau kasar sekali,
Pangeran! Tak tahu dicinta orang! Hi-hik, apa kaukira aku tidak tahu akan
segala tugas rahasiamu? Engkau mata-mata Panjalu, mengkhianati kerajaan ramamu
sendiri! Hihi-hik, kaukira akan mudah saja keluar dari sini? Ratusan orang
pengawal sudah mengurung dan siap menanti tanda dariku untuk menyambutmu dengan
seratus batang anak panah, seratus buah golok dan seratus batang tombak!"
Pangeran Panji Sigit telah
tiba di pintu dan dibukanya daun pintu kamar itu. Ia melihat betapa tak jauh
dari situ, di luar gedung telah berdiri barisan pengawal yang mengurung gedung
itu dengan senjata lengkap di tangan! Wanita ini tidak membohong. Tak mungkin
dia dapat lolos dari tempat ini dan agaknya untuk menerobos penjagaan demikian
ketat merupakan hal yang berbahaya sekali. Ia menoleh dan melihat betapa
Suminten sudah mengenakan pakaiannya, kini sedang memasang hiasan daun telinga
sambil miringkan muka yang manis itu, yang memandangnya dengan kerling tajam
dan senyum mengejek. Betapa ayu dan luwesnya wanita ini! Kalau bukan selir
ramandanya dan bukan seorang wanita yang berwatak iblis!
Tiba-tiba Pangeran Panji
Sigit tersenyum dan sinar matanya berkilat. Sekali melompat dia telah berada di
dekat wanita itu yang memandangnya dengan mata terbelalak. Agaknya Suminten
dapat melihat sinar mata itu dan terkejut.
"Engkau ....mau
apa......?” tanyanya dengan mata terbelalak.
"Tidak apa-apa, hanya
akan keluar dengan aman dari istana ini, bahkan dari Kerajaan Jenggala, dan
engkau yang akan menjadi pengawalku sampai aku terbebas dari ancaman
orang-orangmu!"
"Apa .... ?" Akan
tetapi seruan Suminten terpaksa berhenti karena Pangeran Panji Sigit telah
menjabak rambutnya, rambut yang halus hitam dan panjang, yang amat lemas
mengkilap karena setiap hari dikeramasi air bunga dan diminyaki yang harum dan
selalu dikagumi setiap orang pria yang pernah merasai kenikmatan menemani
wanita ini di kamarnya. Kini rambut itu dijambak dengan kasar dan hampir
Suminten tak dapat percaya akan kenyataan ini. Seluruh tubuhnya telah ia
sediakan, dengan rela hendak ia serahkan kepada pemuda tampan ini, tubuhnya
yang dapat meruntuhkan kerajaan yang ia yakin akan diperebutkan oleh laksaan
orang pria. Akan tetapi sekali ini sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap
pangeran yang mengingatkannya akan Pangeran Panji Rawit ini, yang sekaligus
merampas hatinya, merampas cinta kasihnya yang selamanya belum pernah ia
jatuhkan kepada seorang pria kecuali kepada mendiang Pangeran Panji Rawit. Baru
sekali ini, semenjak Pangeran Panji Rawit, ada pria yang menolak tubuhnya,
namun yang sekaligus malah membangkitkan gairahnya karena penolakan itu.
"Tidak perlu
ribut-ribut. Mungkin kalau engkau berteriak, para anjing pengawalmu itu akan
mengeroyokku sampai tewas, akan tetapi sebelum mereka sempat melakukan hal itu,
lebih dulu aku akan memukul pecah kepalamu! Engkau menurut raja, kawal aku
sampai lolos dari kerajaan dan aku tidak akan membunuhmu, biarpun engkau sudah
sepatutnya dibunuh!” Sambil berkata demikian, Pangeran Panji Sigit lalu menggandeng
tangan Suminten keluar dari kamar itu. Suminten yang maklum bahwa kalau ia
melawan, tentu pangeran ini tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, menjadi
pucat mukanya, menggigit bibirnya dan mendesis,
"Engkau kejam, engkau
tak tahu dicinta orang. Ada jalan ke surga, mengapa memilih neraka?"
"Tak usah banyak rewel.
Surgamu merupakan jalan menuju neraka bagiku!" jawab Pangeran Panji Sigit
sambil menarik tangan ibu tirinya itu keluar dari gedung.
"Pangeran Panji Sigit,
engkau dikhianati isterimu dan sahabatmu, mau apa engkau pergi dari sini?
Apakah engkau hanya ingin dijadikan bahan tertawaan dan ejekan orang? Tinggal
saja di sini sebagai seorang pangeran terhormat dan kalau engkau ingin menjadi
pangeran pati......”
"Cukup, tak usah banyak
cakap lagi dan jangan mencoba untuk melawan. Aku tidak main-main dan engkaulah
orangnya yang akan tewas lebih dahulu, kalau ada yang menghalangi aku."
Suminten mengeluarkan isak
tertahan dan tidak bersuara lagi. Para pengawal yang melihat Suminten keluar
bergandeng tangan dengan Pangeran Panji Sigit, tidak menjadi heran karena
memang selir muda ini sudah biasa menggandeng para pangeran muda yang tampan.
Akan tetapi keadaan dua orang muda itu yang mengherankan para pengawal. Pakaian
mereka kusut, rambut juga belum disisir, bahkan agaknya baru bangun tidur.
Wajah dua orang itu sama sekali tidak membayangkan kemesraan, bahkan kelihatan
kaku dan keruh. Namun para pimpinan pengawal tidak berani bertanya, hanya
memimpin anak buahnya untuk memberi hormat kepada selir muda yang sesungguhnya
menjadi junjungan pertama mereka itu.
"Jaga di sini
baik-baik, aku hendak pergi berjalan-jalan sebentar dengan puteranda
pangeran," kata Suminten, suaranya tenang dan biasa sungguh pun mukanya
keruh.
Pangeran Panji Sigit menarik
napas lega. Ia tadi sudah siap untuk memukul pecah kepala wanita ini lebih dulu
sebelum menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi, ucapan Suminten itu membuka jalan
ke arah kebebasan baginya dan ia terus menggandeng tangan wanita itu yang mulai
terasa dingin, keluar dari lingkungan istana. Akan tetapi Pangeran Panji Sigit
terlalu memandang rendah Suminten dan anak buahnya. Biarpun tadi Suminten
mengeluarkan kata-kata yang membuka jalan kebebasan baginya, namun tanpa ia
ketahui, Suminten telah membuat gerakan dengan jari tangannya yang dilihat oleh
pimpinan pengawal. Gerakan jari tangan yang merupakan isyarat bahwa ada sesuatu
yang tidak beres sehingga begitu Suminten dan pangeran muda itu lewat, pemimpin
pengawal segera lari menemui Pangeran Kukutan dan melaporkan hal itu.
No comments:
Post a Comment