Pusporini menangis, kini tangisnya sukar dikatakan, apakah tangis itu karena menyesali perbuatannya ataukah tangis girang bahwa Joko Pramono tidak jadi direbut orang, ataukah kedua-duanya!
"Wah, jelas sudah
sekarang! Ini tentu tipu daya keji Suminten yang jahanam itu! Sengaja diatur,
mungkin sudah lama diaturnya dan dicari kesempatan ini. Siasat untuk
memecah-belah di antara kita dan sekaligus menghancurkan kita dengan dalih
pelanggaran susila dan melawan para pengawal! Dan hampir saja siasatnya
berhasil." Kembali pemuda ini meraba bibirnya yang menyendol dan pecah
pinggirnya.
"Kalau tidak
cepat-cepat aku menghindar, tentu kepalaku telah pecah sekarang dan andika
berdua hanya akan menangisi sebuah mayat tiada gunanya lagi!"
"Joko .....!!”
Pusporini menubruk pemuda itu dan menangis sesenggukan di atas dadanya. Joko
Pramono mengejap-ngejapkan matanya menahan dua butir air matanya yang akan
menitik turun saking terharu dan girangnya hati. Pusporini yang penuh
penyesalan, seperti lupa diri, lupa bahwa di situ terdapat Setyaningsih yang
memandang dengan mata basah air mata. Dia mengangkat mukanya dan dengan
terisak-isak ia meraba pinggir bibir yang pecah itu, meraba dan membelainya,
kemudian mengecup luka di bibir dengan halus.
"Joko, maafkan aku,
Joko ... maafkan aku dan kau pukullah aku sebagai hukuman ..!"
Joko Pramono tersenyum lebar
dan mendekap muka itu ke dadanya, erat-erat seolah-olah ia hendak menyimpan
kepala dan wajah yang amat dicintanya itu ke dalam dadanya, dan takkan
diperbolehkan keluar lagi. Kemudian ia mencium dahi Pusporini dan memegang dagu
gadis itu, diangkatnya muka yang basah itu menghadap mukanya,
lalu ia berkata,
"Engkau ..? Dihukum
pukulan? Wah, eman-eman (sayang)....! Kalau aku tadi tahu upahnya akan sebesar
ini, mau rasanya aku menerima sebuah pukulanmu lagi....”
"Kau memang
ceriwis!" Pusporini berkata, akan tetapi dengan sikap manja dan tangannya
menampar lirih ke arah pipi Joko Pramono. Pemuda itu tertawa dan menunduk,
dengan mesra dan sepenuh cinta kasih hatinya ia mengambung pipi kiri Pusporini
dengan hidungnya.
Sejenak Pusporini terlena
dalam belaian mesra ini, akan tetapi tiba-tiba ia melepaskan diri dan mencela,
"Ihhh .... , tak tahu
malu. Ada ayunda melihat kita!" Joko Pramono yang sadar dari buaian asmara
yang memabukkan, seakan-akan baru timbul dari keadaan tenggelam ke dalam
perasaan bahagia yang tadi membuatnya lupa akan segala. Cepat ia menghadapi
Setyaningsih dan berkata,
"Maafkan kami, Ayunda,
karena terharu kami sampai lupa diri, lupa akan kegawatan keadaan. Kita semua
telah menjadi korban siasat buruk Suminten, dan sungguh mengkhawatirkan kalau
mengingat akan keadaan Kakangmas Pangeran yang masih tertinggal di sana."
"Aku akan kembali ke
sana dan membantu Kakangmas Pangeran lolos keluar istana!" Pusporini yang
agaknya ingin menebus kesalahan, kini mengajukan diri dengan suara tetap dan
tabah.
"Biarkan aku saja yang
pergi, Rini, engkau perlu menjaga dan menemani Ayunda di sini ....." kata
Joko Pramono yang sebetulnya tentu saja merasa khawatir kalau Pusporini
dibiarkan pergi sendirian memasuki tempat yang penuh dengan musuh-musuh itu dan
yang ia tahu amat berbahaya. Sebaliknya, Pusporini juga mengkhawatirkan
keselamatan pria yang dicintanya karena tadi malam pun para pengawal hendak
membunuh Joko Pramono. Kalau pemuda itu kembali ke istana, bukanlah sama halnya
dengan menyerahkan nyawanya?
"Tidak, Joko. Mereka
semalam memusuhimu, belum tentu akan memusuhi aku!"
Melihat betapa kedua orang
muda itu berebut, Setyaningsih menghela napas, merangkul leher Pusporini sambil
berkata,
"Kalian berdua tidak
boleh kembali ke sana lagi setelah berhasil lolos. Karena suamiku berada di
sana, maka akulah yang akan kembali ke sana. Aku harus berada di samping
Kakangmas Pangeran, dalam keadaan bagaimanapun juga. Kalian berdua sebaiknya
lekas pergi ke Panjalu dan memberi laporan kepada Rakanda Patih Tejolaksono dan
Pangeran Dar mokusumo."
"Ah, berbahaya sekali,
Ayunda!" Joko Pramono berseru keras.
"Setelah iblis betina
itu melakukan siasat fitnah keji, tentu dia tidak akan segan-segan melakukan
hal yang lebih jahat lagi. Siapa tahu, Kakangmas Pangeran juga terjeblos ke
dalam perangkap seperti kita, dan celakanya kalau Kakangmas Pangeran juga
tertipu seperti halnya Diajeng Pusporini tadi. Jangan-jangan dia akan ....akan
menganggap Ayunda tidak setia.....”
Setyaningsih menggeleng
kepala dan tersenyum penuh keyakinan.
"Suamiku tidak akan
meragukan kesetiaanku seujung rambut pun. Kakangmas Pangeran percaya penuh akan
cinta kasih yang kami pupuk bersama."
"Yunda, aku akan ikut
kembali ke sana karena aku tidak terima, aku akan menghancurkan kepala
perempuan iblis Suminten!" kata Pusporini penuh amarah dan dendam terhadap
selir raja yang amat cerdik dan keji itu.
"Benar, Ayunda. Biarkan
kami ikut, selalu menemani dan mengawal Ayunda, juga kita bersama akan dapat
lebih kuat melindungi dan membela Kakangmas Pangeran di sana. Selain itu, aku
harus pula menangkap Ki Mitra yang entah mengapa telah menjadi palsu laporannya
itu!"
Baru Pusporini teringat akan
hal ini.
"Ki Mitra! Ah, dia
tentu menjadi kaki tangan iblis betina itu, dan telah berkhianat! Aku pun ingin
membagi sebuah tamparan di kepalanya!"
"Dia bukan Ki Mitra
...." Suara ini terdengar tiba-tiba dari balik semak-semak, kemudian
muncullah dua orang dari balik semak-semak itu. Mereka adalah seorang pria
setengah tua yang gagah perkasa dan seorang wanita muda yang berwajah manis.
Setyaningsih tidak mengenal mereka ini, akan tetapi Joko Pramono dan Pusporini
berseru kaget dan girang,
"Paman Wiraman dan
Widawati ...!!" Ki Wiraman lalu melangkah maju bersama Widawati dan bekas
pengawal pilihan dari Jenggala ini cepat memberi hormat,
"Harap maafkan kami
berdua. Sebetulnya telah lama kami berdua berada di balik semak-semak itu,
memimpin belasan orang anak buah penyelidik. Akan tetapi melihat betapa andika
berdua tadi bertanding hebat, kami tidak berani melerai dan baru setelah
mendengar percakapan, hati kami lega dan berani keluar."
"Ah, tidak mengapa,
Paman. Paman Wiraman, apa artinya ucapanmu tadi bahwa dia bukan Ki Mitra?"
Juga Pusporini memandang penuh pertanyaan, sedangkan Setyaningsih juga
memandang penuh per hatian.
Ki Wiraman sebagai seorang
pejuang yang banyak pengalaman tidak segera menjawab, melainkan memandang kepada
Setyaningsih dengan sinar mata meragu dan penuh kecurigaan. Dia tidak mengenal
puteri cantik ini dan dia harus berhati-hati untuk menceritakan rahasia yang
diketahuinya.
"Jangan khawatir,
Paman. Ini adalah Ayundaku, Setyaningsih, isteri dari Rakanda Pangeran Panji
Sigit yang kini masih tertinggal di istana Jenggala."
"Ah, maafkan keraguan
hamba," kata Ki Wiraman sambil menyembah dengan hormat, diturut pula oleh
Widawati.
Sebagai cucu puteri mendiang
Ki Patih Brotomenggala, tentu saja Widawati segera menghormat ketika mendengar
bahwa puteri cantik ini adalah isteri Pangeran Panji seorang mantu sang prabu!
"Ayunda, dia ini adalah
Paman Wiraman yang telah kuceritakan padamu." Pusporini memperkenalkan
bekas, pengawal itu kepada Setyaningsih. Setyaningsih memandang ke arah
Widawati yang menundukkan mukanya sambil berkata,
"Dan dia ini tentulah
Widawati, cucu kepatihan Jenggala yang bernasib malang itu?"
Widawati mengangkat mukanya
dan dengan pandang mata sayu ia menyembah dan menjawab,
"Tepat seperti dugaan
paduka, hamba adalah Widawati .." Wiraman menarik napas panjang dan
berkata,
"Sungguh berbahaya
sekali keadaan paduka bertiga, dan masih untung dapat meloloskan diri. Ketika
saya mendengar paduka menyebut-nyebut nama Ki Mitra, maka yakinlah saya bahwa
paduka telah ditipu karena Ki Mitra telah tewas beberapa bulan yang lalu. Hanya
para penyelidik saya yang mengetahui bahwa Ki Mitra telah dibunuh oleh kaki
tangan Pangeran Kukutan dan mayatnya dikubur dalam hutan. Mereka mengira bahwa
tidak ada orang yang mengetahui rahasia itu!"
"Ahh .... !!"
Hampir berbareng Setyaningsih, Pusporini dan Joko Pramono berseru kaget. Kalau
mereka ingat betapa mereka mengajak Ki Mitra bicara tentang rahasia perjuangan
mereka! Kiranya Ki Mitra itu adalah Ki Mitra palsu! Kaki tangan Pangeran
Kukutan dan Suminten! Terbukalah mata mereka kini bahwa sesungguhnya, semenjak
menginjakkan kaki di Kerajaan Jenggala, mereka telah berada dalam cengkeraman
Suminten dan sekutunya! Mengerti bahwa semua yang terjadi telah direncanakan
oleh Suminten yang licin bagai belut dan cerdik bagai setan itu!
"Wah, kalau begitu,
Kakangmas Pangeran terancam bahaya ....." Suara Setyaningsih mengandung
isak tertahan karena gelisahnya memikirkan keselamatan suaminya.
"Kita harus kembali ke
sana sekarang juga untuk menolong Rakanda Pangeran!" kata Pusporini.
"Tidak ada lain jalan!
Kita mengamuk di istana Jenggala!" kata pula Joko Pramono.
"Hendaknya paduka
bertiga bersabar," kata Ki Wiraman dengan suara tenang dan penuh
pengertian.
"Memang hanya
orang-orang sakti seperti paduka bertiga yang agaknya akan dapat memasuki kota
raja dan istana Jenggala, akan tetapi hendaknya bersabar dan jangan menggunakan
kekerasan. Di sana selain banyak pengawal, juga hamba tahu banyak terdapat
pembantu-pembatu rahasia yang sakti mandraguna. Kalau menggunakan kekerasan,
selain paduka akan menghadapi perlawanan
yang kuat dan berbahaya,
juga hal ini akan membahayakan keadaan Gusti Pangeran Panji Sigit. Sebaiknya
dilakukan secara diam-diam dan di waktu malam."
"Apakah tidak akan
terlambat, Paman? Kami harus menyelamatkan Rakanda Pangeran dan tangan
mereka," bantah Joko Pramono.
"Hamba kira tidak
begitu. Gusti Sinuwun amat cinta kepada Gusti Pangeran Panji Sigit Sehingga
mereka tidak akan begitu sembrono untuk mencelakai Gusti Pahgeran.
Selain itu .. hemmm....harap
maafkan hamba, hamba sudah tahu bahwa Suminten menaruh hati kepada Gusti
Pangeran. Sebaiknya malam nanti saja paduka bertiga menyelundup ke dalam kota
raja dan diam-diam mengusahakan agar Gusti Pangeran Panji Sigit dapat lolos dari
sana. Adapun hamba akan berjaga di luar kota raja dan mengirim laporan mengenai
paduka sekalian ke Panjalu."
Mereka mengadakan
perundingan dan tiga orang muda
yang perkasa namun dalam hal
pengalaman dan siasat tentu saja tidak dapat menang dari Ki Wiraman itu selalu
mendengarkan nasehat dan pendapat Ki Wiraman. Bahkan mereka banyak mendengar
tentang keadaan Jenggala dari bekas pengawal ini dan terkejutlah hati mereka
ketika mendengar bahwa sesungguhnya bukan hanya Pangeran Kukutan, Suminten dan
Ki Patih Warutama yang menguasai Jenggala, melainkan kekuasaan-kekuasaan dari
Sriwijaya dan Cola. Ketika mereka bertanya kepada Ki Wiraman tentang Nini
Bumigarba, Ki Wiraman menarik napas panjang dan berkata,
"Sungguh kasihan kalau
hamba mengingat akan nasib Gusti Patih Tejolaksono dan keluarganya. Dua orang
puteranya, Bagus Seta dan Retna Wilis, pergi dibawa orang maha sakti, entah
berada di mana dan sampai kini tiada berita. Banyak orang pernah mendengar nama
Nini Bumigarba, dan hamba sendiri pernah mendengar nama yang dihubungkan dengan
nama Ni Dewi Sarilangking, seorang wanita iblis yang sudah terkenal semenjak
jaman Mataram dahulu. Akan tetapi siapakah orang yang pernah melihatnya?
Agaknya hamba kira tak mungkin nenek sakti itu ada hubungannya dengan mereka
yang mencengkeram Jenggala, bahkan hamba masih ragu-ragu apakah wanita yang
sudah terkenal di jaman Mataram itu benar-benar sekarang masih hidup! Tentu dia
sudah berusia tidak kurang dari dua ratus tahun!"
Hari itu juga, Ki Wiraman
mengutus beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke Panjalu dan membawa
laporan-laporannya mengenai peristiwa yang terjadi di Jenggala yang dialami
oleh empat orang muda perkasa itu. Malamnya, sebelum bulan muncul dan keadaan
masih gelap, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono menyelundup masuk ke
kota raja melalui dinding tembok, mempergunakan kesaktian mereka melompati
dinding tembok yang tinggi. Adapun Ki Wiraman dan Widawati memimpin sisa anak
buah mereka mengadakan penjagaan di luar kota raja sambil terus menghubungi
anak buah mereka yang mereka selundupkan sebagai mata-mata di dalam kota raja
untuk mendengar apa yang terjadi dengan tiga orang muda yang berusaha menolong
Pangeran Panji Sigit itu.
Dengan tubuh
lemas dan semangat terbang, Pangeran Panji Sigit di malam hari itu melihat
betapa Setyaningsih yang dipondong Pusporini dapat lolos, demikian pula Joko
Pramono dan melihat betapa Pusporini, Joko Pramono bersama isterinya itu dapat
keluar dari istana, dikejar-kejar oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh
Pangeran Kukutan sendiri. Ia terlalu marah untuk dapat mengeluarkan suara,
terlalu heran dan kaget menyaksikan adegan antara isterinya dan Joko Pramono
sehingga ia seolah-olah sejak melihatnya telah berubah menjadi sebuah arca, tak
dapat bergerak sama sekali, tubuhnya lemas kakinya menggigil.
No comments:
Post a Comment