Perawan Lembah Wilis; Bagian 147


Pusporini menangis, kini tangisnya sukar dikatakan, apakah tangis itu karena menyesali perbuatannya ataukah tangis girang bahwa Joko Pramono tidak jadi direbut orang, ataukah kedua-duanya!
"Wah, jelas sudah sekarang! Ini tentu tipu daya keji Suminten yang jahanam itu! Sengaja diatur, mungkin sudah lama diaturnya dan dicari kesempatan ini. Siasat untuk memecah-belah di antara kita dan sekaligus menghancurkan kita dengan dalih pelanggaran susila dan melawan para pengawal! Dan hampir saja siasatnya berhasil." Kembali pemuda ini meraba bibirnya yang menyendol dan pecah pinggirnya.
"Kalau tidak cepat-cepat aku menghindar, tentu kepalaku telah pecah sekarang dan andika berdua hanya akan menangisi sebuah mayat tiada gunanya lagi!"
"Joko .....!!” Pusporini menubruk pemuda itu dan menangis sesenggukan di atas dadanya. Joko Pramono mengejap-ngejapkan matanya menahan dua butir air matanya yang akan menitik turun saking terharu dan girangnya hati. Pusporini yang penuh penyesalan, seperti lupa diri, lupa bahwa di situ terdapat Setyaningsih yang memandang dengan mata basah air mata. Dia mengangkat mukanya dan dengan terisak-isak ia meraba pinggir bibir yang pecah itu, meraba dan membelainya, kemudian mengecup luka di bibir dengan halus.
"Joko, maafkan aku, Joko ... maafkan aku dan kau pukullah aku sebagai hukuman ..!"
Joko Pramono tersenyum lebar dan mendekap muka itu ke dadanya, erat-erat seolah-olah ia hendak menyimpan kepala dan wajah yang amat dicintanya itu ke dalam dadanya, dan takkan diperbolehkan keluar lagi. Kemudian ia mencium dahi Pusporini dan memegang dagu gadis itu, diangkatnya muka yang basah itu menghadap mukanya,
lalu ia berkata,
"Engkau ..? Dihukum pukulan? Wah, eman-eman (sayang)....! Kalau aku tadi tahu upahnya akan sebesar ini, mau rasanya aku menerima sebuah pukulanmu lagi....”
"Kau memang ceriwis!" Pusporini berkata, akan tetapi dengan sikap manja dan tangannya menampar lirih ke arah pipi Joko Pramono. Pemuda itu tertawa dan menunduk, dengan mesra dan sepenuh cinta kasih hatinya ia mengambung pipi kiri Pusporini dengan hidungnya.
Sejenak Pusporini terlena dalam belaian mesra ini, akan tetapi tiba-tiba ia melepaskan diri dan mencela,
"Ihhh .... , tak tahu malu. Ada ayunda melihat kita!" Joko Pramono yang sadar dari buaian asmara yang memabukkan, seakan-akan baru timbul dari keadaan tenggelam ke dalam perasaan bahagia yang tadi membuatnya lupa akan segala. Cepat ia menghadapi
Setyaningsih dan berkata,
"Maafkan kami, Ayunda, karena terharu kami sampai lupa diri, lupa akan kegawatan keadaan. Kita semua telah menjadi korban siasat buruk Suminten, dan sungguh mengkhawatirkan kalau mengingat akan keadaan Kakangmas Pangeran yang masih tertinggal di sana."
"Aku akan kembali ke sana dan membantu Kakangmas Pangeran lolos keluar istana!" Pusporini yang agaknya ingin menebus kesalahan, kini mengajukan diri dengan suara tetap dan tabah.
"Biarkan aku saja yang pergi, Rini, engkau perlu menjaga dan menemani Ayunda di sini ....." kata Joko Pramono yang sebetulnya tentu saja merasa khawatir kalau Pusporini dibiarkan pergi sendirian memasuki tempat yang penuh dengan musuh-musuh itu dan yang ia tahu amat berbahaya. Sebaliknya, Pusporini juga mengkhawatirkan keselamatan pria yang dicintanya karena tadi malam pun para pengawal hendak membunuh Joko Pramono. Kalau pemuda itu kembali ke istana, bukanlah sama halnya dengan menyerahkan nyawanya?
"Tidak, Joko. Mereka semalam memusuhimu, belum tentu akan memusuhi aku!"

Melihat betapa kedua orang muda itu berebut, Setyaningsih menghela napas, merangkul leher Pusporini sambil berkata,
"Kalian berdua tidak boleh kembali ke sana lagi setelah berhasil lolos. Karena suamiku berada di sana, maka akulah yang akan kembali ke sana. Aku harus berada di samping Kakangmas Pangeran, dalam keadaan bagaimanapun juga. Kalian berdua sebaiknya lekas pergi ke Panjalu dan memberi laporan kepada Rakanda Patih Tejolaksono dan Pangeran Dar mokusumo."
"Ah, berbahaya sekali, Ayunda!" Joko Pramono berseru keras.
"Setelah iblis betina itu melakukan siasat fitnah keji, tentu dia tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih jahat lagi. Siapa tahu, Kakangmas Pangeran juga terjeblos ke dalam perangkap seperti kita, dan celakanya kalau Kakangmas Pangeran juga tertipu seperti halnya Diajeng Pusporini tadi. Jangan-jangan dia akan ....akan menganggap Ayunda tidak setia.....”
Setyaningsih menggeleng kepala dan tersenyum penuh keyakinan.
"Suamiku tidak akan meragukan kesetiaanku seujung rambut pun. Kakangmas Pangeran percaya penuh akan cinta kasih yang kami pupuk bersama."
"Yunda, aku akan ikut kembali ke sana karena aku tidak terima, aku akan menghancurkan kepala perempuan iblis Suminten!" kata Pusporini penuh amarah dan dendam terhadap selir raja yang amat cerdik dan keji itu.
"Benar, Ayunda. Biarkan kami ikut, selalu menemani dan mengawal Ayunda, juga kita bersama akan dapat lebih kuat melindungi dan membela Kakangmas Pangeran di sana. Selain itu, aku harus pula menangkap Ki Mitra yang entah mengapa telah menjadi palsu laporannya itu!"
Baru Pusporini teringat akan hal ini.
"Ki Mitra! Ah, dia tentu menjadi kaki tangan iblis betina itu, dan telah berkhianat! Aku pun ingin membagi sebuah tamparan di kepalanya!"
"Dia bukan Ki Mitra ...." Suara ini terdengar tiba-tiba dari balik semak-semak, kemudian muncullah dua orang dari balik semak-semak itu. Mereka adalah seorang pria setengah tua yang gagah perkasa dan seorang wanita muda yang berwajah manis. Setyaningsih tidak mengenal mereka ini, akan tetapi Joko Pramono dan Pusporini berseru kaget dan girang,
"Paman Wiraman dan Widawati ...!!" Ki Wiraman lalu melangkah maju bersama Widawati dan bekas pengawal pilihan dari Jenggala ini cepat memberi hormat,
"Harap maafkan kami berdua. Sebetulnya telah lama kami berdua berada di balik semak-semak itu, memimpin belasan orang anak buah penyelidik. Akan tetapi melihat betapa andika berdua tadi bertanding hebat, kami tidak berani melerai dan baru setelah mendengar percakapan, hati kami lega dan berani keluar."
"Ah, tidak mengapa, Paman. Paman Wiraman, apa artinya ucapanmu tadi bahwa dia bukan Ki Mitra?" Juga Pusporini memandang penuh pertanyaan, sedangkan Setyaningsih juga memandang penuh per hatian.
Ki Wiraman sebagai seorang pejuang yang banyak pengalaman tidak segera menjawab, melainkan memandang kepada Setyaningsih dengan sinar mata meragu dan penuh kecurigaan. Dia tidak mengenal puteri cantik ini dan dia harus berhati-hati untuk menceritakan rahasia yang diketahuinya.
"Jangan khawatir, Paman. Ini adalah Ayundaku, Setyaningsih, isteri dari Rakanda Pangeran Panji Sigit yang kini masih tertinggal di istana Jenggala."
"Ah, maafkan keraguan hamba," kata Ki Wiraman sambil menyembah dengan hormat, diturut pula oleh Widawati.

Sebagai cucu puteri mendiang Ki Patih Brotomenggala, tentu saja Widawati segera menghormat ketika mendengar bahwa puteri cantik ini adalah isteri Pangeran Panji seorang mantu sang prabu!
"Ayunda, dia ini adalah Paman Wiraman yang telah kuceritakan padamu." Pusporini memperkenalkan bekas, pengawal itu kepada Setyaningsih. Setyaningsih memandang ke arah Widawati yang menundukkan mukanya sambil berkata,
"Dan dia ini tentulah Widawati, cucu kepatihan Jenggala yang bernasib malang itu?"
Widawati mengangkat mukanya dan dengan pandang mata sayu ia menyembah dan menjawab,
"Tepat seperti dugaan paduka, hamba adalah Widawati .." Wiraman menarik napas panjang dan berkata,
"Sungguh berbahaya sekali keadaan paduka bertiga, dan masih untung dapat meloloskan diri. Ketika saya mendengar paduka menyebut-nyebut nama Ki Mitra, maka yakinlah saya bahwa paduka telah ditipu karena Ki Mitra telah tewas beberapa bulan yang lalu. Hanya para penyelidik saya yang mengetahui bahwa Ki Mitra telah dibunuh oleh kaki tangan Pangeran Kukutan dan mayatnya dikubur dalam hutan. Mereka mengira bahwa tidak ada orang yang mengetahui rahasia itu!"
"Ahh .... !!" Hampir berbareng Setyaningsih, Pusporini dan Joko Pramono berseru kaget. Kalau mereka ingat betapa mereka mengajak Ki Mitra bicara tentang rahasia perjuangan mereka! Kiranya Ki Mitra itu adalah Ki Mitra palsu! Kaki tangan Pangeran Kukutan dan Suminten! Terbukalah mata mereka kini bahwa sesungguhnya, semenjak menginjakkan kaki di Kerajaan Jenggala, mereka telah berada dalam cengkeraman Suminten dan sekutunya! Mengerti bahwa semua yang terjadi telah direncanakan oleh Suminten yang licin bagai belut dan cerdik bagai setan itu!
"Wah, kalau begitu, Kakangmas Pangeran terancam bahaya ....." Suara Setyaningsih mengandung isak tertahan karena gelisahnya memikirkan keselamatan suaminya.
"Kita harus kembali ke sana sekarang juga untuk menolong Rakanda Pangeran!" kata Pusporini.
"Tidak ada lain jalan! Kita mengamuk di istana Jenggala!" kata pula Joko Pramono.
"Hendaknya paduka bertiga bersabar," kata Ki Wiraman dengan suara tenang dan penuh pengertian.
"Memang hanya orang-orang sakti seperti paduka bertiga yang agaknya akan dapat memasuki kota raja dan istana Jenggala, akan tetapi hendaknya bersabar dan jangan menggunakan kekerasan. Di sana selain banyak pengawal, juga hamba tahu banyak terdapat pembantu-pembatu rahasia yang sakti mandraguna. Kalau menggunakan kekerasan, selain paduka akan menghadapi perlawanan
yang kuat dan berbahaya, juga hal ini akan membahayakan keadaan Gusti Pangeran Panji Sigit. Sebaiknya dilakukan secara diam-diam dan di waktu malam."
"Apakah tidak akan terlambat, Paman? Kami harus menyelamatkan Rakanda Pangeran dan tangan mereka," bantah Joko Pramono.
"Hamba kira tidak begitu. Gusti Sinuwun amat cinta kepada Gusti Pangeran Panji Sigit Sehingga mereka tidak akan begitu sembrono untuk mencelakai Gusti Pahgeran.
Selain itu .. hemmm....harap maafkan hamba, hamba sudah tahu bahwa Suminten menaruh hati kepada Gusti Pangeran. Sebaiknya malam nanti saja paduka bertiga menyelundup ke dalam kota raja dan diam-diam mengusahakan agar Gusti Pangeran Panji Sigit dapat lolos dari sana. Adapun hamba akan berjaga di luar kota raja dan mengirim laporan mengenai paduka sekalian ke Panjalu."
Mereka mengadakan perundingan dan tiga orang muda
yang perkasa namun dalam hal pengalaman dan siasat tentu saja tidak dapat menang dari Ki Wiraman itu selalu mendengarkan nasehat dan pendapat Ki Wiraman. Bahkan mereka banyak mendengar tentang keadaan Jenggala dari bekas pengawal ini dan terkejutlah hati mereka ketika mendengar bahwa sesungguhnya bukan hanya Pangeran Kukutan, Suminten dan Ki Patih Warutama yang menguasai Jenggala, melainkan kekuasaan-kekuasaan dari Sriwijaya dan Cola. Ketika mereka bertanya kepada Ki Wiraman tentang Nini Bumigarba, Ki Wiraman menarik napas panjang dan berkata,
"Sungguh kasihan kalau hamba mengingat akan nasib Gusti Patih Tejolaksono dan keluarganya. Dua orang puteranya, Bagus Seta dan Retna Wilis, pergi dibawa orang maha sakti, entah berada di mana dan sampai kini tiada berita. Banyak orang pernah mendengar nama Nini Bumigarba, dan hamba sendiri pernah mendengar nama yang dihubungkan dengan nama Ni Dewi Sarilangking, seorang wanita iblis yang sudah terkenal semenjak jaman Mataram dahulu. Akan tetapi siapakah orang yang pernah melihatnya? Agaknya hamba kira tak mungkin nenek sakti itu ada hubungannya dengan mereka yang mencengkeram Jenggala, bahkan hamba masih ragu-ragu apakah wanita yang sudah terkenal di jaman Mataram itu benar-benar sekarang masih hidup! Tentu dia sudah berusia tidak kurang dari dua ratus tahun!"
Hari itu juga, Ki Wiraman mengutus beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke Panjalu dan membawa laporan-laporannya mengenai peristiwa yang terjadi di Jenggala yang dialami oleh empat orang muda perkasa itu. Malamnya, sebelum bulan muncul dan keadaan masih gelap, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono menyelundup masuk ke kota raja melalui dinding tembok, mempergunakan kesaktian mereka melompati dinding tembok yang tinggi. Adapun Ki Wiraman dan Widawati memimpin sisa anak buah mereka mengadakan penjagaan di luar kota raja sambil terus menghubungi anak buah mereka yang mereka selundupkan sebagai mata-mata di dalam kota raja untuk mendengar apa yang terjadi dengan tiga orang muda yang berusaha menolong Pangeran Panji Sigit itu.

Dengan tubuh lemas dan semangat terbang, Pangeran Panji Sigit di malam hari itu melihat betapa Setyaningsih yang dipondong Pusporini dapat lolos, demikian pula Joko Pramono dan melihat betapa Pusporini, Joko Pramono bersama isterinya itu dapat keluar dari istana, dikejar-kejar oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Pangeran Kukutan sendiri. Ia terlalu marah untuk dapat mengeluarkan suara, terlalu heran dan kaget menyaksikan adegan antara isterinya dan Joko Pramono sehingga ia seolah-olah sejak melihatnya telah berubah menjadi sebuah arca, tak dapat bergerak sama sekali, tubuhnya lemas kakinya menggigil.

<<< Bagian 146                                                                                     Bagian 148 >>>

No comments:

Post a Comment