Perawan Lembah Wilis; Bagian 146


Karena penasaran, Pangeran Kukutan lalu mengerahkan barisan pengawal, sedikitnya ada lima losin jumlahnya, melakukan pengejaran di malam terang bulan itu.
Akan tetapi, ilmu berlari cepat kedua orang murid Sang Resi Mahesapati ini jauh lebih tinggi daripada Pangeran Kukutan dan para pengawalnya sehingga para pengejar itu tertinggal jauh sekali. Dua orang muda perkasa itu maklum bahwa fihak istana pasti takkan membiarkan mereka pergi seenaknya, maka mereka pun tak pernah berhenti berlari dan semalam suntuk itu Pusporini yang berlari di depan sambil memondong tubuh Setyaningsih, telah jauh meninggalkan kota raja, memasuki hutan besar dan baru menjelang pagi, ia menghentikan larinya dan melepaskan tubuh Setyaningsih ke atas tanah yang bertilam rumput.
"Pusporini ....aduhh ....kepalaku ...." Setyaningsih mengeluh akan tetapi ia segera terguling lemas dan tertidur pulas!...“
"Hemm .....kau lemah dan keji terhadap suamimu, Setyaningsih!" kata Pusporini, nada suaranya marah dan tiba-tiba gadis yang keras hati, yang gagah perkasa dan yang tak pernah mengenal takut itu menangis tersedu-sedu sambil berjongkok di dekat Setyaningsih yang tidur nyenyak.
"Rini .... engkau mengapakah? Mengapa menangis? Dan mengapa pula kau tadi marah-marah dan memaki-maki aku tidak karuan?" Pertanyaan Joko Pramono ini diajukan dengan suara halus karena dia melihat gadis itu menangis, akan tetapi mengandung rasa mendongkol dan penasaran karena ia merasa betapa dia dimaki-maki tidak karuan tanpa salah. Mengapa Pusporini secara tiba-tiba memaki dia ceriwis, cabul, dan mata keranjang? Maki-makian keji yang dilontarkan di depan orang banyak pula. Bahkan gadis ini tidak mau membantunya yang dikeroyok banyak pengawal. Apakah sebabnya?

Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba Pusporini mencelat bangun dan serta-merta menerjangnya dengan pukulan maut tanpa mengeluarkan suara ba atau bu lagi! Pukulan dengan tangan kanan yang ditujukan ke arah dada Joko Pramono dengan penuh tenaga terdorong kemarahan dan kebencian!
"Eiiiitttt ....sembrono kau, Rini!" Joko Pramono terkejut sekali dan cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan sampai jauh. Hanya dengan cara itulah ia dapat menyelamatkan diri dari hantaman maut yang amat dahsyat itu. Pusporini yang memang berwatak keras dan tidak pernah mau kalah, menjadi penasaran dan terus menerjang lagi dengan dahsyatnya, tanpa memberi kesempatan kepada Joko Pramono untuk bicara atau balas menyerang, bahkan ia tidak hendak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk bernapas! Dia ingin membunuh pemuda ini yang telah menyakitkan hatinya malam tadi! Mengapa Pusporini secara tiba-tiba marah kepada Joko Pramono? Memang tidak mengherankan kalau diketahui apa yang diucapkan Ki Mitra malam tadi ketika kakek ini menghadap dara perkasa ini.
"Paduka harus cepat-cepat menolong, Raden Ayu ...kalau tidak, akan celakalah semua ...." kata kakek itu dengan muka pucat dan berkeringat.
"Ki Mitra ....ada apakah?" Pusporini bertanya kaget.....“
Kakek itu menghela napas panjang, menghapus peluhnya, kemudian menggeleng-geleng kepala dan berkata,
"Ah, kalau orang muda ......kaduk wani kurang dugo (menonjolkan keberanian tanpa perhitungan), semua ini gara-gara Raden Joko mengadakan pertemuan rahasia dengan Gusti Puteri Setyaningsih....”
"Apa .... Apa kau bilang ...? Jaga baik-baik mulutmu, Ki Mitra!" Pusporini marah sekali dan tangannya sudah gatal-gatal hendak menampar kakek itu kalau saja ia tidak ingat bahwa kakek ini adalah orang yang setia dan tentu ada sebabnya mengapa mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Hamba tidak menyalahkan paduka. Memang, biasanya yang terdekat malah tidak mengetahui. Sudah beberapa kali mereka berdua mengadakan pertemuan rahasia, ahh .....hamba tidak heran, yang puteri cantik jelita yang putera tampan perkasa. Akan tetapi sekali ini mereka terkena jebakan, mengadakan pertemuan di pondok dalam taman sari milik gusti selir dan mereka ketahuan, tertangkap basah! Mereka kini telah dikurung pasukan pengawal ..... ”
Demikianlah, mendengar ucapan ini, tanpa menanti sampai habis penuturan Ki Mitra, tubuh Pusporini sudah berkelebat dan ia berlari cepat memasuki taman sari itu. Dan apa yang dilihatnya? Sama dengan yang dilihat Pangeran Panji Sigit! Ia melihat betapa pria yang dicintanya itu sedang memondong tubuh Setyaningsih dan wanita itu, kakak tirinya yang amat dikasihinya, yang ia kagumi dan yang ia anggap sebagai seorang wanita sejati, seorang wanita yang patut dijadikan tauladan, dengan mesra membelai rambut kepala Joko Pramono, bersikap mesra penuh gelora nafsu berahi yang amat memalukan dan memuakkan perutnya! Ketika para pengawal keluar menyerbu, Pusporini membatalkan niatnya menyerang Joko Pramono, sebaliknya ia lalu menyambar tubuh Setyaningsih dan membawanya pergi karena betapapun juga, dia tidak mungkin dapat membiarkan kakak tirinya itu tertimpa aib dan malu, tertangkap basah melakukan perjinahan dengan Joko Pramono.

Tentu saja, dalam kedukaan dan kecewanya, dalam penderitaan akibat hancurnya kebahagiaan cinta kasihnya dengan Joko Pramono yang sekaligus dihancurkan oleh penglihatan di taman sari tadi, begitu melihat Joko Pramono, dara perkasa ini tak dapat menahan kebencian dan kemarahannya lagi dan langsung menerjang dan menyerang pemuda itu dengan pukulan-pukulan maut secara bertubi-tubi.
"Wah .....heiiitt ....berhenti dulu! Aihhhh .....!" Joko Pramono yang hanya menangkis dan mengelak itu akhirnya kena diserempet pundaknya sehingga ia roboh terpelanting. Baiknya ia memiliki tubuh yang terlatih dan kebal sehingga sebelum kaki Pusporini yang melayang datang itu sempat menghajar dan meremukkan kepalanya, Joko Pramono sudah menekankan kedua tangan ke atas tanah, mendorong dan tubuhnya mencelat jauh sehingga terhindar dari tendangan maut.
"Rini, jangan ... , berhenti dulu dan mari kita bicara... !”
"Keparat, manusia tak berbudi, tidak perlu bicara lagi. Engkau atau aku yang harus mati!" bentak Pusporini yang terus menyerang sehingga kembali Joko Pramono yang terheran-heran itu dan yang selalu mengalah, terdesak hebat dan tamparan Pusporini menyerempet pipinya sehingga pinggir bibir pemuda itu pecah berdarah. Melihat darah, Pusporini seperti menjadi semakin buas dan serangannya makin ganas.
"Pusporini .....! Eh, Joko Pramono .....! Mengapa kalian berkelahi? Berhenti ....berhentilah ....., apakah yang terjadi??" Setyaningsih yang telah sadar dari tidurnya, tadi sejenak terbelalak menyaksikan betapa Pusporini menyerang dan mendesak Joko Pramono. Kemudian ia melompat bangun dan cepat melerai mereka, menghadang di depan Pusporini yang sudah seperti seekor harimau betina direbut anaknya itu.
Pusporini dengan alis berdiri memandang Setyaningsih, napasnya terengah dan dua titik air mata membasahi pipinya.
"Engkau .... engkau hendak membela kekasihmu ini ....??”,
Ucapan ini bagi Setyaningsih dan Joko Pramono merupakan tuduhan yang amat mengejutkan, bagaikan halilintar menyambar di atas kepala mereka.
"Rini ... ! Apa yang kau katakan ini ....??" teriak Joko Pramono.
Wajah Setyaningsih menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak memandang adik tirinya.
"Pusporini adikku, mengapa kau mengeluarkan ucapan sekeji itu? Apakah yang telah terjadi ..? Mengapa aku berada di sini ....dan ...dan mengapa kalian bertempur….?” Muka Pusporini menjadi makin merah, dadanya menjadi makin bergelombang karena rongga dadanya dibakar api kemarahan.
"Hemmm, sungguh tak tahu malu dan pengecut! Sudah berani berbuat tidak berani mengaku! Kedua mataku sendiri telah melihat betapa engkau dalam pondongannya mengerang-erang manja dan penuh nafsu. Mataku belum buta! Semalam kumelihat sendiri dan sekarang kalian berdua masih berpura-pura lagi? Aduh, sungguh kasihan Kakangmas Pangeran Panji Sigit .., dikhianati isteri dan sahabat palsu....!!" Pusporini lalu menangis terisak.
Setyaningsih memandang kepada Pusporini, lalu kepada Joko Pramono berganti-ganti dengan muka pucat, kemudian ia berkata setengah menjerit.
"Di mana suamiku? Mengapa aku berada di sini? Apa yang terjadi? Lekas ceritakan, kalian berdua. Lekas ceritakan ..ah, aku bisa menjadi gila karena gelisah. !!"
Pusporini menghentikan tangisnya dan ia memandang wajah kakak tirinya itu dengan pandang mata tajam penuh selidik. Ia mulai meragu akan kebenaran dugaannya. Pada saat itu, Joko Pramono berkata,
"Ah, tidak salah lagi. Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, dan kita semua telah masuk perangkap keji. Pusporini, harap kau bersabar dan lebih baik kita secara terang-terangan saling menceritakan pengalaman malam tadi. Kalau kemudian terbukti bahwa aku telah melakukan hal keji terhadap Ayunda Setyaningsih seperti yang kautuduhkan, biarlah aku memberikan leherku untuk kaupenggal!"

Pusporini memandang kepada pria yang dicintanya akan tetapi sekarang dibencinya itu dengan mata penuh amarah, alisnya tetap berkerut, dan ia tidak menjawab. Hatinya masih terlalu sakit dan rongga dadanya masih terlalu panas penuh hawa amarah.
"Adinda Joko, ceritakanlah apa yang telah terjadi ......" Setyaningsih berkata dengan suara penuh permohonan sambil merangkul pundak Pusporini untuk mencegah adiknya yang galak ini menyerang lagi pemuda itu. Joko Pramono menghela napas panjang, kemudian memandang lagi kepada Pusporini lalu bercerita,
"Malam tadi, selagi saya duduk sendiri dalam kamar bersamadhi, datanglah Ki Mitra yang menceritakan dengan muka penuh kekhawatiran bahwa Ayunda Setyaningsih sedang diajak makan minum oleh selir Suminten dan bahwa Ayunda akan diracun. Ki Mitra minta kepada saya agar cepat menolong Ayunda, yang katanya setiap saat terancam dan bahwa Ayunda bersama selir Suminten berada di taman sari. Dia mencegah saya memberitahukan kepada Pusporini atau Rakanda Pangeran karena dia khawatir tidak akan keburu dan berjanji bahwa dialah yang akan memberitahu kepada Pusporini dan Rakanda Pangeran. Karena saya percaya kepadanya, saya lalu bersicepat memasuki taman sari. Di dalam taman sari itu amat sunyi dan saya melihat Ayunda seorang diri di dalam pondok merah. Saya terkejut melihat keadaan Ayunda karena Ayunda terhuyung-huyung dan hampir roboh.. Saya mengira bahwa tentu Ayunda telah keracunan, maka cepat saya menyambar dan memondong tubuh Ayunda untuk saya bawa pergi kembali ke tempat Rakanda Pangeran agar dapat diusahakan pertolongan. Akan tetapi pada saat itu, saya diserbu puluhan orang pengawal. Terpaksa saya menurunkan tubuh Ayunda dan pada saat itu.... Pusporini muncul akan tetapi hanya menyelamatkan Ayunda dan tidak membantu saya, bahkan memaki saya! Tentu saja saya menjadi penasaran dan mengejar terus. Siapa kira, begitu tiba di sini, dia bersungguh-sungguh hendak membunuh saya ....!" Joko Pramono menghapus darah yang masih keluar dari ujung bibirnya yang kini menjendol.
Wajah Pusporini yang tadinya merah kini perlahan-lahan berubah menjadi pucat. Kemarahan yang membayang di matanya mulai terganti keraguan kemudian kegelisahan, dan tatapan matanya pada Joko Pramono menjadi gugup dan bingung. Ia memegang pundak Setyaningsih dan mendesak,
"Ayunda ...., ceritakanlah ...apa yang telah terjadi dengan Ayunda di taman itu ...!" Pusporini membayangkan betapa Setyaningsih ketika dalam pondongan Joko Pramono, kelihatan begitu penuh nafsu berahi, jari-jari tangannya membelai muka dan rambut pemuda itu, mukanya diangkat-angkat hendak mencium! Setyaningsih yang rambutnya kusut dan wajahnya masih pucat itu memijit-mijit pelipisnya.
"Aku sendiri, tidak mengingat sesuatu ....kepalaku masih pening sekali. Hanya sedikit yang kuingat. Malam tadi aku duduk berdua dengan suamiku, lalu datang seorang pelayan ibunda selir yang mengundangku untuk menemaninya makan minum sambil menikmati terang bulan di taman sari. Aku dan suamiku merasa sungkan untuk menolak, terpaksa pergi juga bersama pelayan itu. Di dalam taman sari, di pondok merah itu, aku menemani ibunda selir makan minum. Kemudian ibunda selir menyuguhkan secangkir anggur. Aku menolak, akan tetapi katanya anggur itu amat baik untuk seorang isteri muda yang belum mempunyai anak. Aku didesak, lalu dikatakan apakah aku takut diracun sehingga terpaksa untuk menghilangkan kecurigaan aku minum anggur itu yang rasanya manis dan berbau harum sekali. Setelah itu ... aku seperti dalam mimpi yang kacau ... seperti hanya berdua dengan Kakangmas Pangeran .... ah, aku tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Tahu-tahu aku sadar dan telah berada di sini, berbaring di atas tanah dan melihat kalian berdua berkelahi seperti kemasukan setan!"
"Aha! Sudah mulai kelihatan belangnya sekarang!" Tiba-tiba Joko Pramono berkata sambil menepuk pahanya sendiri. Pusporini, ceritakanlah pengalamanmu agar kita dapat membandingkan!"

Dengan suara trenyuh karena ia pun mulai dapat menduga akan jalannya tipu muslihat musuh dan hatinya penuh keharuan karena sikapnya tadi terhadap Joko Pramono, Pusporini lalu bercerita,
"Ki Mitra datang kepadaku malam tadi dan mengatakan bahwa Ayunda dan ... Joko.... mengadakan .. eh, per... temuan rahasia ....di taman sari, bahkan Ayunda dan Joko sudah lama mengadakan hubungan percintaan dan malam tadi bertemu di taman sari akan tetapi tertangkap basah dan akan ditangkap para pengawal yang dikerahkan oleh... perempuan iblis itu... ! Aku datang ke sana dan melihat Ayunda ... dalam pondongan ... ahhh, sudahlah,.... aku memang bersalah .... mataku seperti buta!"

<<< Bagian 145                                                                                      Bagian 147 >>>

No comments:

Post a Comment