Karena penasaran, Pangeran Kukutan lalu mengerahkan barisan pengawal, sedikitnya ada lima losin jumlahnya, melakukan pengejaran di malam terang bulan itu.
Akan tetapi, ilmu berlari
cepat kedua orang murid Sang Resi Mahesapati ini jauh lebih tinggi daripada
Pangeran Kukutan dan para pengawalnya sehingga para pengejar itu tertinggal
jauh sekali. Dua orang muda perkasa itu maklum bahwa fihak istana pasti takkan
membiarkan mereka pergi seenaknya, maka mereka pun tak pernah berhenti berlari
dan semalam suntuk itu Pusporini yang berlari di depan sambil memondong tubuh
Setyaningsih, telah jauh meninggalkan kota raja, memasuki hutan besar dan baru
menjelang pagi, ia menghentikan larinya dan melepaskan tubuh Setyaningsih ke atas
tanah yang bertilam rumput.
"Pusporini ....aduhh
....kepalaku ...." Setyaningsih mengeluh akan tetapi ia segera terguling
lemas dan tertidur pulas!...“
"Hemm .....kau lemah
dan keji terhadap suamimu, Setyaningsih!" kata Pusporini, nada suaranya
marah dan tiba-tiba gadis yang keras hati, yang gagah perkasa dan yang tak
pernah mengenal takut itu menangis tersedu-sedu sambil berjongkok di dekat
Setyaningsih yang tidur nyenyak.
"Rini .... engkau
mengapakah? Mengapa menangis? Dan mengapa pula kau tadi marah-marah dan
memaki-maki aku tidak karuan?" Pertanyaan Joko Pramono ini diajukan dengan
suara halus karena dia melihat gadis itu menangis, akan tetapi mengandung rasa
mendongkol dan penasaran karena ia merasa betapa dia dimaki-maki tidak karuan
tanpa salah. Mengapa Pusporini secara tiba-tiba memaki dia ceriwis, cabul, dan
mata keranjang? Maki-makian keji yang dilontarkan di depan orang banyak pula.
Bahkan gadis ini tidak mau membantunya yang dikeroyok banyak pengawal. Apakah
sebabnya?
Akan tetapi betapa kagetnya
ketika tiba-tiba Pusporini mencelat bangun dan serta-merta menerjangnya dengan
pukulan maut tanpa mengeluarkan suara ba atau bu lagi! Pukulan dengan tangan
kanan yang ditujukan ke arah dada Joko Pramono dengan penuh tenaga terdorong
kemarahan dan kebencian!
"Eiiiitttt ....sembrono
kau, Rini!" Joko Pramono terkejut sekali dan cepat melempar tubuh ke
belakang dan bergulingan sampai jauh. Hanya dengan cara itulah ia dapat
menyelamatkan diri dari hantaman maut yang amat dahsyat itu. Pusporini yang memang
berwatak keras dan tidak pernah mau kalah, menjadi penasaran dan terus
menerjang lagi dengan dahsyatnya, tanpa memberi kesempatan kepada Joko Pramono
untuk bicara atau balas menyerang, bahkan ia tidak hendak memberi kesempatan
kepada pemuda itu untuk bernapas! Dia ingin membunuh pemuda ini yang telah
menyakitkan hatinya malam tadi! Mengapa Pusporini secara tiba-tiba marah kepada
Joko Pramono? Memang tidak mengherankan kalau diketahui apa yang diucapkan Ki
Mitra malam tadi ketika kakek ini menghadap dara perkasa ini.
"Paduka harus
cepat-cepat menolong, Raden Ayu ...kalau tidak, akan celakalah semua ...."
kata kakek itu dengan muka pucat dan berkeringat.
"Ki Mitra ....ada
apakah?" Pusporini bertanya kaget.....“
Kakek itu menghela napas
panjang, menghapus peluhnya, kemudian menggeleng-geleng kepala dan berkata,
"Ah, kalau orang muda
......kaduk wani kurang dugo (menonjolkan keberanian tanpa perhitungan), semua
ini gara-gara Raden Joko mengadakan pertemuan rahasia dengan Gusti Puteri
Setyaningsih....”
"Apa .... Apa kau
bilang ...? Jaga baik-baik mulutmu, Ki Mitra!" Pusporini marah sekali dan
tangannya sudah gatal-gatal hendak menampar kakek itu kalau saja ia tidak ingat
bahwa kakek ini adalah orang yang setia dan tentu ada sebabnya mengapa
mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Hamba tidak
menyalahkan paduka. Memang, biasanya yang terdekat malah tidak mengetahui.
Sudah beberapa kali mereka berdua mengadakan pertemuan rahasia, ahh .....hamba
tidak heran, yang puteri cantik jelita yang putera tampan perkasa. Akan tetapi
sekali ini mereka terkena jebakan, mengadakan pertemuan di pondok dalam taman
sari milik gusti selir dan mereka ketahuan, tertangkap basah! Mereka kini telah
dikurung pasukan pengawal ..... ”
Demikianlah, mendengar
ucapan ini, tanpa menanti sampai habis penuturan Ki Mitra, tubuh Pusporini
sudah berkelebat dan ia berlari cepat memasuki taman sari itu. Dan apa yang
dilihatnya? Sama dengan yang dilihat Pangeran Panji Sigit! Ia melihat betapa
pria yang dicintanya itu sedang memondong tubuh Setyaningsih dan wanita itu,
kakak tirinya yang amat dikasihinya, yang ia kagumi dan yang ia anggap sebagai
seorang wanita sejati, seorang wanita yang patut dijadikan tauladan, dengan
mesra membelai rambut kepala Joko Pramono, bersikap mesra penuh gelora nafsu
berahi yang amat memalukan dan memuakkan perutnya! Ketika para pengawal keluar
menyerbu, Pusporini membatalkan niatnya menyerang Joko Pramono, sebaliknya ia
lalu menyambar tubuh Setyaningsih dan membawanya pergi karena betapapun juga,
dia tidak mungkin dapat membiarkan kakak tirinya itu tertimpa aib dan malu,
tertangkap basah melakukan perjinahan dengan Joko Pramono.
Tentu saja, dalam kedukaan
dan kecewanya, dalam penderitaan akibat hancurnya kebahagiaan cinta kasihnya
dengan Joko Pramono yang sekaligus dihancurkan oleh penglihatan di taman sari
tadi, begitu melihat Joko Pramono, dara perkasa ini tak dapat menahan kebencian
dan kemarahannya lagi dan langsung menerjang dan menyerang pemuda itu dengan
pukulan-pukulan maut secara bertubi-tubi.
"Wah .....heiiitt
....berhenti dulu! Aihhhh .....!" Joko Pramono yang hanya menangkis dan
mengelak itu akhirnya kena diserempet pundaknya sehingga ia roboh terpelanting.
Baiknya ia memiliki tubuh yang terlatih dan kebal sehingga sebelum kaki
Pusporini yang melayang datang itu sempat menghajar dan meremukkan kepalanya,
Joko Pramono sudah menekankan kedua tangan ke atas tanah, mendorong dan
tubuhnya mencelat jauh sehingga terhindar dari tendangan maut.
"Rini, jangan ... ,
berhenti dulu dan mari kita bicara... !”
"Keparat, manusia tak
berbudi, tidak perlu bicara lagi. Engkau atau aku yang harus mati!" bentak
Pusporini yang terus menyerang sehingga kembali Joko Pramono yang
terheran-heran itu dan yang selalu mengalah, terdesak hebat dan tamparan
Pusporini menyerempet pipinya sehingga pinggir bibir pemuda itu pecah berdarah.
Melihat darah, Pusporini seperti menjadi semakin buas dan serangannya makin
ganas.
"Pusporini .....! Eh,
Joko Pramono .....! Mengapa kalian berkelahi? Berhenti ....berhentilah .....,
apakah yang terjadi??" Setyaningsih yang telah sadar dari tidurnya, tadi
sejenak terbelalak menyaksikan betapa Pusporini menyerang dan mendesak Joko
Pramono. Kemudian ia melompat bangun dan cepat melerai mereka, menghadang di
depan Pusporini yang sudah seperti seekor harimau betina direbut anaknya itu.
Pusporini dengan alis
berdiri memandang Setyaningsih, napasnya terengah dan dua titik air mata
membasahi pipinya.
"Engkau .... engkau
hendak membela kekasihmu ini ....??”,
Ucapan ini bagi Setyaningsih
dan Joko Pramono merupakan tuduhan yang amat mengejutkan, bagaikan halilintar
menyambar di atas kepala mereka.
"Rini ... ! Apa yang
kau katakan ini ....??" teriak Joko Pramono.
Wajah Setyaningsih menjadi
pucat sekali dan matanya terbelalak memandang adik tirinya.
"Pusporini adikku,
mengapa kau mengeluarkan ucapan sekeji itu? Apakah yang telah terjadi ..?
Mengapa aku berada di sini ....dan ...dan mengapa kalian bertempur….?” Muka
Pusporini menjadi makin merah, dadanya menjadi makin bergelombang karena rongga
dadanya dibakar api kemarahan.
"Hemmm, sungguh tak
tahu malu dan pengecut! Sudah berani berbuat tidak berani mengaku! Kedua mataku
sendiri telah melihat betapa engkau dalam pondongannya mengerang-erang manja
dan penuh nafsu. Mataku belum buta! Semalam kumelihat sendiri dan sekarang
kalian berdua masih berpura-pura lagi? Aduh, sungguh kasihan Kakangmas Pangeran
Panji Sigit .., dikhianati isteri dan sahabat palsu....!!" Pusporini lalu
menangis terisak.
Setyaningsih memandang
kepada Pusporini, lalu kepada Joko Pramono berganti-ganti dengan muka pucat,
kemudian ia berkata setengah menjerit.
"Di mana suamiku?
Mengapa aku berada di sini? Apa yang terjadi? Lekas ceritakan, kalian berdua.
Lekas ceritakan ..ah, aku bisa menjadi gila karena gelisah. !!"
Pusporini menghentikan
tangisnya dan ia memandang wajah kakak tirinya itu dengan pandang mata tajam
penuh selidik. Ia mulai meragu akan kebenaran dugaannya. Pada saat itu, Joko
Pramono berkata,
"Ah, tidak salah lagi.
Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, dan kita semua telah masuk perangkap
keji. Pusporini, harap kau bersabar dan lebih baik kita secara terang-terangan
saling menceritakan pengalaman malam tadi. Kalau kemudian terbukti bahwa aku
telah melakukan hal keji terhadap Ayunda Setyaningsih seperti yang kautuduhkan,
biarlah aku memberikan leherku untuk kaupenggal!"
Pusporini memandang kepada
pria yang dicintanya akan tetapi sekarang dibencinya itu dengan mata penuh
amarah, alisnya tetap berkerut, dan ia tidak menjawab. Hatinya masih terlalu
sakit dan rongga dadanya masih terlalu panas penuh hawa amarah.
"Adinda Joko,
ceritakanlah apa yang telah terjadi ......" Setyaningsih berkata dengan
suara penuh permohonan sambil merangkul pundak Pusporini untuk mencegah adiknya
yang galak ini menyerang lagi pemuda itu. Joko Pramono menghela napas panjang,
kemudian memandang lagi kepada Pusporini lalu bercerita,
"Malam tadi, selagi
saya duduk sendiri dalam kamar bersamadhi, datanglah Ki Mitra yang menceritakan
dengan muka penuh kekhawatiran bahwa Ayunda Setyaningsih sedang diajak makan
minum oleh selir Suminten dan bahwa Ayunda akan diracun. Ki Mitra minta kepada
saya agar cepat menolong Ayunda, yang katanya setiap saat terancam dan bahwa
Ayunda bersama selir Suminten berada di taman sari. Dia mencegah saya
memberitahukan kepada Pusporini atau Rakanda Pangeran karena dia khawatir tidak
akan keburu dan berjanji bahwa dialah yang akan memberitahu kepada Pusporini
dan Rakanda Pangeran. Karena saya percaya kepadanya, saya lalu bersicepat
memasuki taman sari. Di dalam taman sari itu amat sunyi dan saya melihat Ayunda
seorang diri di dalam pondok merah. Saya terkejut melihat keadaan Ayunda karena
Ayunda terhuyung-huyung dan hampir roboh.. Saya mengira bahwa tentu Ayunda
telah keracunan, maka cepat saya menyambar dan memondong tubuh Ayunda untuk
saya bawa pergi kembali ke tempat Rakanda Pangeran agar dapat diusahakan
pertolongan. Akan tetapi pada saat itu, saya diserbu puluhan orang pengawal.
Terpaksa saya menurunkan tubuh Ayunda dan pada saat itu.... Pusporini muncul
akan tetapi hanya menyelamatkan Ayunda dan tidak membantu saya, bahkan memaki
saya! Tentu saja saya menjadi penasaran dan mengejar terus. Siapa kira, begitu
tiba di sini, dia bersungguh-sungguh hendak membunuh saya ....!" Joko
Pramono menghapus darah yang masih keluar dari ujung bibirnya yang kini
menjendol.
Wajah Pusporini yang tadinya
merah kini perlahan-lahan berubah menjadi pucat. Kemarahan yang membayang di
matanya mulai terganti keraguan kemudian kegelisahan, dan tatapan matanya pada
Joko Pramono menjadi gugup dan bingung. Ia memegang pundak Setyaningsih dan
mendesak,
"Ayunda ....,
ceritakanlah ...apa yang telah terjadi dengan Ayunda di taman itu ...!"
Pusporini membayangkan betapa Setyaningsih ketika dalam pondongan Joko Pramono,
kelihatan begitu penuh nafsu berahi, jari-jari tangannya membelai muka dan rambut
pemuda itu, mukanya diangkat-angkat hendak mencium! Setyaningsih yang rambutnya
kusut dan wajahnya masih pucat itu memijit-mijit pelipisnya.
"Aku sendiri, tidak
mengingat sesuatu ....kepalaku masih pening sekali. Hanya sedikit yang kuingat.
Malam tadi aku duduk berdua dengan suamiku, lalu datang seorang pelayan ibunda
selir yang mengundangku untuk menemaninya makan minum sambil menikmati terang
bulan di taman sari. Aku dan suamiku merasa sungkan untuk menolak, terpaksa
pergi juga bersama pelayan itu. Di dalam taman sari, di pondok merah itu, aku
menemani ibunda selir makan minum. Kemudian ibunda selir menyuguhkan secangkir
anggur. Aku menolak, akan tetapi katanya anggur itu amat baik untuk seorang
isteri muda yang belum mempunyai anak. Aku didesak, lalu dikatakan apakah aku
takut diracun sehingga terpaksa untuk menghilangkan kecurigaan aku minum anggur
itu yang rasanya manis dan berbau harum sekali. Setelah itu ... aku seperti
dalam mimpi yang kacau ... seperti hanya berdua dengan Kakangmas Pangeran ....
ah, aku tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Tahu-tahu aku sadar dan telah
berada di sini, berbaring di atas tanah dan melihat kalian berdua berkelahi
seperti kemasukan setan!"
"Aha! Sudah mulai
kelihatan belangnya sekarang!" Tiba-tiba Joko Pramono berkata sambil
menepuk pahanya sendiri. Pusporini, ceritakanlah pengalamanmu agar kita dapat
membandingkan!"
Dengan suara trenyuh karena
ia pun mulai dapat menduga akan jalannya tipu muslihat musuh dan hatinya penuh
keharuan karena sikapnya tadi terhadap Joko Pramono, Pusporini lalu bercerita,
"Ki Mitra
datang kepadaku malam tadi dan mengatakan bahwa Ayunda dan ... Joko....
mengadakan .. eh, per... temuan rahasia ....di taman sari, bahkan Ayunda dan
Joko sudah lama mengadakan hubungan percintaan dan malam tadi bertemu di taman
sari akan tetapi tertangkap basah dan akan ditangkap para pengawal yang
dikerahkan oleh... perempuan iblis itu... ! Aku datang ke sana dan melihat
Ayunda ... dalam pondongan ... ahhh, sudahlah,.... aku memang bersalah ....
mataku seperti buta!"
No comments:
Post a Comment