Perawan Lembah Wilis; Bagian 145


"Apa ....???" Joko Pramono terkejut sekali.
"Lekaslah paduka menolongnya sebelum terlambat!"
"Di manakah Kakangmas Pangeran Panji Sigit? Dia harus diberi tahu, dan ....Pusporini ....”
"Ah, Raden, mengapa menyia-nyiakan waktu? Gusti selir banyak memasang mata-mata, dan kalau kita ribut- ribut ...dapat terlambat dan celaka! Lebih baik sekarang juga paduka cepat memasuki taman sari dan menolong Gusti Puteri Setyaningsih sebelum terlambat terkena racun. Hamba yang akan memberi tahu kepada Gusti Pangeran Panji Sigit dan Raden-ayu Pusporini. Karena mengkhawatirkan keadaan Setyaningsih, Joko Pramono mengangguk setuju, kemudian ia meloncat keluar dari jendela kamarnya, menghilang ke dalam gelap untuk cepat-cepat menolong Setyaningsih yang terancam bahaya maut di tangan Suminten yang jahat. Ki Mitra juga berindap-indap menuju ke pondok keputren di mana terdapat kamar Pusporini.
Pada saat itu, Pangeran Panji Sigit yang masih duduk di serambi depan pondoknya, merasa tidak enak mengapa isterinya belum juga pulang. Andaikata bukan Suminten yang mengajak isterinya bersenang-senang di taman, andaikata selir lain dari ramandanya yang sekarang sudah terasing, tentu ia tidak gelisah seperti itu.
"Pangeran .....“

Pangeran Panji Sigit tersentak kaget ketika mendengar suara ini dan melihat orangnya yang muncul dari pintu tembusan ke belakang. Ternyata orang yang dikhawatirkan akan mencelakakan isterinya, Suminten, berada di situ! Cantik jelita dan seluruh pembawaannya mengandung tantangan yang merangsang dan genit. Wanita ini memang cantik manis sekali, hal ini tak dapat disangkal oleh Pangeran Panji Sigit, dan terutama sekali mulut dan mata itu mengundang cinta kasih pria dan tentu akan mudah menjatuhkan hati pria yang bagaimana keras pun. Akan tetapi Pangeran Panji Sigit yang sudah mengenaI watak dan isi dada inilah membusung itu, isi yang amat keji dan kotor, menjadi terkejut dan cepat-cepat ia bangkit berdiri sambil menghormat.
"Ibunda selir ....mengapa berada di sini ....Di mana isteriku, Setyaningsih?"
"Aduh Pangeran ...., karena dialah aku bersusah payah datang mencarimu. Marilah kau ikut bersamaku melihat dia. Lihat apa yang dilakukan isterimu dan sahabat baikmu, si keparat Joko Pramono."
"Apa ....apa yang terjadi .....Tipu muslihat apalagi yang kaulakukan?" Pangeran Panji Sigit serta-merta menuduh ibu tirinya ini dan memandang dengan kening berkerut dan jantung berdebar penuh kegelisahan akan keselamatan isterinya dan sahabat baiknya.
Bibir yang merah semringah itu menahan senyum mengejek, bibir bawah yang penuh bergerak-gerak, dagunya berguncang-guncang karena di dalam rongga mulut lidahnya bergerak-gerak. Dalam keadaan begini, Suminten tampak amat menarik hati dan menggemaskan hati pria, apalagi disertai pandang mata yang redup sayu seperti mata orang yang mengantuk, benar-benar memikat. Sang Arjuna sendiri biarpun sedang bertapa, kalau digoda seorang wanita seperti Suminten, agaknya belum tentu akan kuat bertahan! Kalau dalam ceritera Arjuna Mintaraga, Sang Arjuna yang bertapa digoda oleh tujuh orang bidadari dapat bertahan, bukanlah aneh karena bidadari-bidadari yang suci mana mungkin bisa membangkitkan nafsu berahi seorang satria!
"Aduh, Pangeran, paduka juga puteraku dan saya adalah ibumu ....ah begitu keras dan kejamkah hatimu sehingga kesalahan kecil yang pernah saya lakukan dahulu itu masih saja tak terlupakan? Saya tidak melakukan fitnah .. tadinya isterimu bersamaku di taman. Karena sesuatu urusan, saya terpaksa meninggalkannya sebentar di taman dan ... ah, kau lihat sendiri sajalah. Saya sudah mempersiapkan pengawal mengepung taman, akan tetapi saya tidak membolehkan mereka turun tangan sebelum paduka menyaksikan dengan mata sendiri agar kelak jangan menuduh saya menjatuhkan fitnah terhadap isteri dan sahabatmu. Marilah, Pangeran . “
Pangeran Panji Sigit menjadi pucat wajahnya dan jantungnya berdebar keras sekali. Bagaimana dia dapat menolak? lsterinya belum kembali dan dia amat khawatir. Tidak, sama sekali bukan khawatir bahwa berita yang dibawa Suminten in! mengandung kebenaran. Isterinya dan Joko Pramono? Wah, biar dunia kiamat dia tidak akan dapat percaya akan hal ini isterinya memang cantik jelita dan dapat meruntuhkan hati setiap orang pria, akan tetapi Joko Pramono adalah seorang satria sejati, seorang gagah perkasa dan seorang pria yang mencinta Pusporini. Sebaliknya, biarpun Joko Pramono adalah seorang pemuda yang tampan dan. gagah perkasa dan pasti akan mudah menjatuhkan hati setiap orang wanita, akan tetapi isterinya, Setyaningsih, tentu saja amat setia dalam cinta kasihnya dan sampai mati pun ia tidak akan meragukan kesetiaan isterinya sedikit pun juga isterinya dituduh tidak setia oleh wanita hina yang gila laki-laki ini? Ah, betapa ingin ia menampar atau mencekik wanita ini di saat itu juga!
"Ibunda selir ....saya akan melihat dan .... kalau ini hanya fitnah .... demi para dewata, saya takkan mendiamkan saja penghinaan ini ....!" desisnya dengan gigi terkancing.

Suminten tersenyum, bibirnya merekah sehingga mututnya terbuka seperti sebuah luka yang tampak dagingnya memerah, dan sebelum Pangeran Panji Sigit dapat menolaknya, wanita itu telah menyambar lengannya dan ditariknya lengan pemuda bangsawan itu keluar dari situ melalui pintu belakang.
"Marilah, Pangeran. Saksikan saja sendiri dan buktikan kebenaran omongan ....Suminten ...!" Ketika menyebutkan namanya sendiri ini, terdengar seperti bisikan mesra sekali. Wanita ini sudah menyebutkan nama sendiri, tidak lagi bersikap sebagai seorang ibu tiri, dan andaikata hati Pangeran Panji Sigit tidak sedang diliputi kegelisahan hebat, tentu ia akan merasakan ketidakwajaran dan sikap yang jelas menantang asmara ini. Bergegas Suminten yang menarik tangan pangeran itu menyelinap melalui taman-taman istana menuju ke taman sari miliknya sendiri. Beberapa sosok bayangan menyambut mereka di tempat gelap, di belakang semak-semak. Mereka itu ternyata adalah pengawal-pengawal yang telah mengadakan pengurungan di taman itu.
"Di mana mereka ....?" Suminten berbisik. Seorang pengawal menyembah dan dengan ibu jarinya menunjuk ke depan. Jantung Pangeran Panji Sigit makin berdebar dan ia menurut saja ketika Suminten kembali menggandengnya, menyusup di belakang pohon-pohon dan akhirnya mereka dapat melihat bayangan dua orang di dekat pondok merah di taman. Pangeran Panji Sigit berdiri dengan muka pucat, mata terbelalak dan mulut ternganga, tidak percaya kepada pandang mata sendiri ketika ia melihat bahwa bayangan itu adalah Joko Pramono dan Setyaningsih. Seolah-olah berhenti denyut jantungnya, lehernya seperti tercekik, mulutnya menjadi kering dan napasnya terengah-engah. Tanpa berkedip ia melihat betapa Joko Pramono memondong tubuh isterinya, melihat jelas betapa otot-otot lengan Joko Pramono melingkar-lingkar kuat menyangga kedua paha Setyaningsih, lengan sebelah lagi merangkul punggung. Hal ini masih tidak berarti karena memang sudah semestinya demikian kalau sedang memondong orang. Akan tetapi mengapa Joko Pramono memondong Setyaningsih? Kalau saja ia melihat isterinya itu pingsan atau menderita seperti orang sakit atau terluka, ia tentu akan cepat berlari menghampiri mereka dan tidak melihat sesuatu yang aneh kalau Joko Pramono memondong isterinya. Akan tetapi justeru keadaan Setyaningsih di saat itu tidak seperti orang sakit, apalagi pingsan! Memang Setyaningsih seperti orang gelisah, akan tetapi gelisah diamuk nafsu berahi! Kedua lengan yang lunak halus hangat dari isterinya itu, kedua lengan yang biasanya merangkulnya, yang biasa diciuminya sehingga ia hampir mengenal di luar kepala segala bentuk lekuk-lengkung kedua lengan itu, hafal betapa di sebelah dalam pangkal lengan kiri isterinya, di antara bulu-bulu halus mengeriting, terdapat sebuah tahi lalat. Hafal pula betapa di dekat siku kanan yang meruncing itu terdapat segores bekas luka. Kedua lengan itu kini dengan kemesraan yang sama seperti kalau memeluknya, bahkan agaknya lebih mesra lagi, sedang melingkari leher Joko Pramono! Dan jari-jari tangan isterinya yang kecil panjang dan halus itu! Jari-jari tangan itu menjambak-jambak rambut kepala Joko Pramono, menjambak mesra yang sesungguhnya merupakan belaian khas dari Setyaningsih karena seringkali isterinya itu membelai seperti itu, menjambak-jambak halus rambut kepalanya di waktu mereka berdua berada dalam keadaan semesra-mesranya. Kini kedua tangan itu, sepuluh jari-jari meruncing itu terbenam ke dalam rambut kepala Joko Pramono dan wajah isterinya diangkat-angkat mendekati wajah Joko Pramono, seperti hendak menciumnya!
"Percayakah paduka, Pangeran?" bisik Suminten di dekat telinganya.
Pangeran Panji Sigit kehilangan suaranya, hampir kehilangan napasnya, kehilangan pula semangat dan kemauannya. Ia diam saja.
"Akan kuperintahkan pengawal menangkap bedebah yang mengkhianatimu itu, bagaimana?" kembali bibir yang diharumkan sari bunga mawar itu berhembus membisikkan kata-kata dekat telinganya. Pangeran Panji Sigit hampir pingsan saking marah dan sakit hatinya. Ia tidak buta!

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Isterinya! Setyaningsih! Begitu bergelora dalam nafsu berahi! Jelas sekali olehnya karena ia telah mengenal betul keadaan isterinya dan biarpun dia djauh, ia melihat jelas betapa saat itu Setyaningsih seperti terbakar nafsu berahi dalam pondongan dan pelukan Joko Pramono. Biarpun saat itu wajah Joko Pramono tidak membayangkan gairah yang sama, akan tetapi jelas pemuda itu memondong isterinya, dan ia yakin bahwa Setyaningsih belum begitu gila untuk bersikap seperti itu kalau tidak ada uluran cinta kasih dari pihak Joko Pramono! Keji! Hina! Dan Pangeran Panji Sigit yang mendengar pertanyaan Suminten itu hanya menganggukkan mukanya tanpa mengalihkan pandangnya yang sejak tadi tak pernah berkedip.
Suminten mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan dari segala jurusan berlon-catan keluarlah pasukan pengawal dengan senjata tombak, golok, atau pedang. Jumlah mereka itu tidak kurang dari tiga puluh orang dan mereka semua segera membuat gerakan mengu-rung Joko Pramono yang kelihatan kaget dan marah. Pangeran Panji Sigit dapat melihat jelas betapa dengan setengah memaksa Joko Pramono melepaskan pondongannya dan betapa Setyaningsih meronta-ronta seolah-olah tidak mau dilepaskan. Akhirnya, karena para pengawal sudah menubruk maju, Joko Pramono membuat gerakan melempar sehingga tubuh Setyaningsih terguling di atas tanah, kemudian pemuda itu menerjang maju dan robohlah dua orang pengawal terdepan terkena hantaman kedua tangannya. Akan tetapi, dua orang roboh yang maju ada belasan orang, menubruknya dari kanan kiri, depan dan belakang. Joko Pramono mengeluarkan suara bentakan keras, tubuhnya berkelebat mengelak dan menangkis, bahkan senjata yang berhasil mengenai tubuhnya hanya merobek pakaiannya saja karena kulitnya kebal oleh pengerahan hawa sakti tubuhnya, kemudian ia merobohkan lagi empat orang pengeroyok. Pada saat itu menyambar sesosok bayangan yang amat lincah. Sekali terjang, bayangan ini sudah merobohkan dua orang pengawal yang mendekati Setyaningsih yang masih duduk setengah rebah di atas tanah dan kelihatan bingung. Bayangan itu ternyata adalah Pusporini yang cepat menyambar tubuh Setyaningsih, dikempit dengan lengan kiri sedangkan tangan kanan dara perkasa ini menghajar roboh berturut-turut dua orang pengawal lain. Joko Pramono yang dikeroyok banyak pengawal, melihat munculnya Pusporini segera berseru,
"Bagus, Rini. Kau bantu aku membasmi jahanam-jahanam ini!"
"Cih, laki-laki ceriwis, cabul dan mata keranjang!" Pusporini memaki dan tubuhnya berkelebat pergi membawa Setyaningsih yang hanya mengeluarkan suara keluhan panjang.
Joko Pramono kaget sekali, cepat ia mengerjakan tangannya dengan cepat sekali dan kembali enam orang pengawal roboh terpelanting. Melihat ini, Pangeran Kukutan yang sejak tadi pun telah bersembunyi di situ berteriak,
"Hayo maju semua, bunuh keparat itu!"

Makin banyak lagi pengawal berdatangan dan melihat gelagat buruk ini, Joko Pramono mengeluarkan suara pekik keras tubuhnya agak merendah, kedua tangannya didorong ke depan dan hawa pukulan seperti angin lesus menyambar ke depan, membuat belasan orang pengawal yang berada terdepan, terjengkang dan terpelanting. Ketika para pengawal memandang ke depan, pemuda perkasa itu ternyata telah lenyap dari tempat itu. Joko Pramono telah mempergunakan Aji Cantuka Sekti untuk memukul roboh para pengeroyoknya, kemudian ia meloncat dan pergi secepatnya menyusul Pusporini yang telah lebih dulu membawa Jari Setyaningsih. Pangeran Kukutan menjadi penasaran sekali ketika melihat Joko Pramono dapat meloloskan diri, terutama sekali Setyaningsih dan Pusporini. Dia sudah mendapat janji dari Suminten bahwa kalau siasat mereka berhasil dan empat orang muda itu terjatuh ke tangan mereka, dia boleh memiliki dua orang wanita muda jelita itu! Setyaningsih dan Pusporini! Betapa dia sudah tergila-gila, kalau malam sering bermimpi memangku dua orang wanita itu, dan kalau dikenang membuat ia mengilar. Kini, dikepung oleh puluhan orang pengawal pilihan, dua orang wanita itu dan Joko Pramono masih dapat lolos! Ah, dia dan Suminten terlalu memandang rendah mereka. Terlalu memandang rendah Joko Pramono dan Pusporini yang ternyata benar-benar amat sakti. Kalau mereka tahu betapa hebat kesaktian dua orang muda itu, tentu Pangeran Kukutan sudah minta bantuan Ki Patih Warutama sehingga malam itu dapat diundang beberapa orang sakti dari luar untuk membantu.

<<< Bagian 144                                                                                     Bagian 146 >>>

No comments:

Post a Comment