"Apa ....???" Joko Pramono terkejut sekali.
"Lekaslah paduka
menolongnya sebelum terlambat!"
"Di manakah Kakangmas
Pangeran Panji Sigit? Dia harus diberi tahu, dan ....Pusporini ....”
"Ah, Raden, mengapa
menyia-nyiakan waktu? Gusti selir banyak memasang mata-mata, dan kalau kita
ribut- ribut ...dapat terlambat dan celaka! Lebih baik sekarang juga paduka
cepat memasuki taman sari dan menolong Gusti Puteri Setyaningsih sebelum
terlambat terkena racun. Hamba yang akan memberi tahu kepada Gusti Pangeran
Panji Sigit dan Raden-ayu Pusporini. Karena mengkhawatirkan keadaan
Setyaningsih, Joko Pramono mengangguk setuju, kemudian ia meloncat keluar dari
jendela kamarnya, menghilang ke dalam gelap untuk cepat-cepat menolong Setyaningsih
yang terancam bahaya maut di tangan Suminten yang jahat. Ki Mitra juga
berindap-indap menuju ke pondok keputren di mana terdapat kamar Pusporini.
Pada saat itu, Pangeran
Panji Sigit yang masih duduk di serambi depan pondoknya, merasa tidak enak
mengapa isterinya belum juga pulang. Andaikata bukan Suminten yang mengajak
isterinya bersenang-senang di taman, andaikata selir lain dari ramandanya yang
sekarang sudah terasing, tentu ia tidak gelisah seperti itu.
"Pangeran .....“
Pangeran Panji Sigit tersentak
kaget ketika mendengar suara ini dan melihat orangnya yang muncul dari pintu
tembusan ke belakang. Ternyata orang yang dikhawatirkan akan mencelakakan
isterinya, Suminten, berada di situ! Cantik jelita dan seluruh pembawaannya
mengandung tantangan yang merangsang dan genit. Wanita ini memang cantik manis
sekali, hal ini tak dapat disangkal oleh Pangeran Panji Sigit, dan terutama
sekali mulut dan mata itu mengundang cinta kasih pria dan tentu akan mudah
menjatuhkan hati pria yang bagaimana keras pun. Akan tetapi Pangeran Panji
Sigit yang sudah mengenaI watak dan isi dada inilah membusung itu, isi yang
amat keji dan kotor, menjadi terkejut dan cepat-cepat ia bangkit berdiri sambil
menghormat.
"Ibunda selir
....mengapa berada di sini ....Di mana isteriku, Setyaningsih?"
"Aduh Pangeran ....,
karena dialah aku bersusah payah datang mencarimu. Marilah kau ikut bersamaku
melihat dia. Lihat apa yang dilakukan isterimu dan sahabat baikmu, si keparat
Joko Pramono."
"Apa ....apa yang
terjadi .....Tipu muslihat apalagi yang kaulakukan?" Pangeran Panji Sigit
serta-merta menuduh ibu tirinya ini dan memandang dengan kening berkerut dan
jantung berdebar penuh kegelisahan akan keselamatan isterinya dan sahabat
baiknya.
Bibir yang merah semringah
itu menahan senyum mengejek, bibir bawah yang penuh bergerak-gerak, dagunya
berguncang-guncang karena di dalam rongga mulut lidahnya bergerak-gerak. Dalam
keadaan begini, Suminten tampak amat menarik hati dan menggemaskan hati pria,
apalagi disertai pandang mata yang redup sayu seperti mata orang yang
mengantuk, benar-benar memikat. Sang Arjuna sendiri biarpun sedang bertapa,
kalau digoda seorang wanita seperti Suminten, agaknya belum tentu akan kuat
bertahan! Kalau dalam ceritera Arjuna Mintaraga, Sang Arjuna yang bertapa
digoda oleh tujuh orang bidadari dapat bertahan, bukanlah aneh karena
bidadari-bidadari yang suci mana mungkin bisa membangkitkan nafsu berahi
seorang satria!
"Aduh, Pangeran, paduka
juga puteraku dan saya adalah ibumu ....ah begitu keras dan kejamkah hatimu
sehingga kesalahan kecil yang pernah saya lakukan dahulu itu masih saja tak
terlupakan? Saya tidak melakukan fitnah .. tadinya isterimu bersamaku di taman.
Karena sesuatu urusan, saya terpaksa meninggalkannya sebentar di taman dan ...
ah, kau lihat sendiri sajalah. Saya sudah mempersiapkan pengawal mengepung
taman, akan tetapi saya tidak membolehkan mereka turun tangan sebelum paduka
menyaksikan dengan mata sendiri agar kelak jangan menuduh saya menjatuhkan
fitnah terhadap isteri dan sahabatmu. Marilah, Pangeran . “
Pangeran Panji Sigit menjadi
pucat wajahnya dan jantungnya berdebar keras sekali. Bagaimana dia dapat
menolak? lsterinya belum kembali dan dia amat khawatir. Tidak, sama sekali
bukan khawatir bahwa berita yang dibawa Suminten in! mengandung kebenaran. Isterinya
dan Joko Pramono? Wah, biar dunia kiamat dia tidak akan dapat percaya akan hal
ini isterinya memang cantik jelita dan dapat meruntuhkan hati setiap orang
pria, akan tetapi Joko Pramono adalah seorang satria sejati, seorang gagah
perkasa dan seorang pria yang mencinta Pusporini. Sebaliknya, biarpun Joko
Pramono adalah seorang pemuda yang tampan dan. gagah perkasa dan pasti akan
mudah menjatuhkan hati setiap orang wanita, akan tetapi isterinya,
Setyaningsih, tentu saja amat setia dalam cinta kasihnya dan sampai mati pun ia
tidak akan meragukan kesetiaan isterinya sedikit pun juga isterinya dituduh
tidak setia oleh wanita hina yang gila laki-laki ini? Ah, betapa ingin ia
menampar atau mencekik wanita ini di saat itu juga!
"Ibunda selir ....saya
akan melihat dan .... kalau ini hanya fitnah .... demi para dewata, saya takkan
mendiamkan saja penghinaan ini ....!" desisnya dengan gigi terkancing.
Suminten tersenyum, bibirnya
merekah sehingga mututnya terbuka seperti sebuah luka yang tampak dagingnya
memerah, dan sebelum Pangeran Panji Sigit dapat menolaknya, wanita itu telah
menyambar lengannya dan ditariknya lengan pemuda bangsawan itu keluar dari situ
melalui pintu belakang.
"Marilah, Pangeran.
Saksikan saja sendiri dan buktikan kebenaran omongan ....Suminten ...!"
Ketika menyebutkan namanya sendiri ini, terdengar seperti bisikan mesra sekali.
Wanita ini sudah menyebutkan nama sendiri, tidak lagi bersikap sebagai seorang
ibu tiri, dan andaikata hati Pangeran Panji Sigit tidak sedang diliputi
kegelisahan hebat, tentu ia akan merasakan ketidakwajaran dan sikap yang jelas
menantang asmara ini. Bergegas Suminten yang menarik tangan pangeran itu
menyelinap melalui taman-taman istana menuju ke taman sari miliknya sendiri.
Beberapa sosok bayangan menyambut mereka di tempat gelap, di belakang
semak-semak. Mereka itu ternyata adalah pengawal-pengawal yang telah mengadakan
pengurungan di taman itu.
"Di mana mereka
....?" Suminten berbisik. Seorang pengawal menyembah dan dengan ibu
jarinya menunjuk ke depan. Jantung Pangeran Panji Sigit makin berdebar dan ia
menurut saja ketika Suminten kembali menggandengnya, menyusup di belakang
pohon-pohon dan akhirnya mereka dapat melihat bayangan dua orang di dekat
pondok merah di taman. Pangeran Panji Sigit berdiri dengan muka pucat, mata
terbelalak dan mulut ternganga, tidak percaya kepada pandang mata sendiri
ketika ia melihat bahwa bayangan itu adalah Joko Pramono dan Setyaningsih.
Seolah-olah berhenti denyut jantungnya, lehernya seperti tercekik, mulutnya
menjadi kering dan napasnya terengah-engah. Tanpa berkedip ia melihat betapa
Joko Pramono memondong tubuh isterinya, melihat jelas betapa otot-otot lengan
Joko Pramono melingkar-lingkar kuat menyangga kedua paha Setyaningsih, lengan
sebelah lagi merangkul punggung. Hal ini masih tidak berarti karena memang
sudah semestinya demikian kalau sedang memondong orang. Akan tetapi mengapa
Joko Pramono memondong Setyaningsih? Kalau saja ia melihat isterinya itu
pingsan atau menderita seperti orang sakit atau terluka, ia tentu akan cepat berlari
menghampiri mereka dan tidak melihat sesuatu yang aneh kalau Joko Pramono
memondong isterinya. Akan tetapi justeru keadaan Setyaningsih di saat itu tidak
seperti orang sakit, apalagi pingsan! Memang Setyaningsih seperti orang
gelisah, akan tetapi gelisah diamuk nafsu berahi! Kedua lengan yang lunak halus
hangat dari isterinya itu, kedua lengan yang biasanya merangkulnya, yang biasa
diciuminya sehingga ia hampir mengenal di luar kepala segala bentuk
lekuk-lengkung kedua lengan itu, hafal betapa di sebelah dalam pangkal lengan
kiri isterinya, di antara bulu-bulu halus mengeriting, terdapat sebuah tahi
lalat. Hafal pula betapa di dekat siku kanan yang meruncing itu terdapat
segores bekas luka. Kedua lengan itu kini dengan kemesraan yang sama seperti kalau
memeluknya, bahkan agaknya lebih mesra lagi, sedang melingkari leher Joko
Pramono! Dan jari-jari tangan isterinya yang kecil panjang dan halus itu!
Jari-jari tangan itu menjambak-jambak rambut kepala Joko Pramono, menjambak
mesra yang sesungguhnya merupakan belaian khas dari Setyaningsih karena
seringkali isterinya itu membelai seperti itu, menjambak-jambak halus rambut
kepalanya di waktu mereka berdua berada dalam keadaan semesra-mesranya. Kini
kedua tangan itu, sepuluh jari-jari meruncing itu terbenam ke dalam rambut
kepala Joko Pramono dan wajah isterinya diangkat-angkat mendekati wajah Joko
Pramono, seperti hendak menciumnya!
"Percayakah paduka,
Pangeran?" bisik Suminten di dekat telinganya.
Pangeran Panji Sigit
kehilangan suaranya, hampir kehilangan napasnya, kehilangan pula semangat dan
kemauannya. Ia diam saja.
"Akan kuperintahkan
pengawal menangkap bedebah yang mengkhianatimu itu, bagaimana?" kembali
bibir yang diharumkan sari bunga mawar itu berhembus membisikkan kata-kata
dekat telinganya. Pangeran Panji Sigit hampir pingsan saking marah dan sakit
hatinya. Ia tidak buta!
Ia melihat dengan mata
kepalanya sendiri. Isterinya! Setyaningsih! Begitu bergelora dalam nafsu
berahi! Jelas sekali olehnya karena ia telah mengenal betul keadaan isterinya
dan biarpun dia djauh, ia melihat jelas betapa saat itu Setyaningsih seperti
terbakar nafsu berahi dalam pondongan dan pelukan Joko Pramono. Biarpun saat
itu wajah Joko Pramono tidak membayangkan gairah yang sama, akan tetapi jelas
pemuda itu memondong isterinya, dan ia yakin bahwa Setyaningsih belum begitu
gila untuk bersikap seperti itu kalau tidak ada uluran cinta kasih dari pihak
Joko Pramono! Keji! Hina! Dan Pangeran Panji Sigit yang mendengar pertanyaan
Suminten itu hanya menganggukkan mukanya tanpa mengalihkan pandangnya yang
sejak tadi tak pernah berkedip.
Suminten mengangkat
tangannya tinggi-tinggi dan dari segala jurusan berlon-catan keluarlah pasukan
pengawal dengan senjata tombak, golok, atau pedang. Jumlah mereka itu tidak
kurang dari tiga puluh orang dan mereka semua segera membuat gerakan mengu-rung
Joko Pramono yang kelihatan kaget dan marah. Pangeran Panji Sigit dapat melihat
jelas betapa dengan setengah memaksa Joko Pramono melepaskan pondongannya dan
betapa Setyaningsih meronta-ronta seolah-olah tidak mau dilepaskan. Akhirnya,
karena para pengawal sudah menubruk maju, Joko Pramono membuat gerakan melempar
sehingga tubuh Setyaningsih terguling di atas tanah, kemudian pemuda itu
menerjang maju dan robohlah dua orang pengawal terdepan terkena hantaman kedua
tangannya. Akan tetapi, dua orang roboh yang maju ada belasan orang,
menubruknya dari kanan kiri, depan dan belakang. Joko Pramono mengeluarkan
suara bentakan keras, tubuhnya berkelebat mengelak dan menangkis, bahkan
senjata yang berhasil mengenai tubuhnya hanya merobek pakaiannya saja karena
kulitnya kebal oleh pengerahan hawa sakti tubuhnya, kemudian ia merobohkan lagi
empat orang pengeroyok. Pada saat itu menyambar sesosok bayangan yang amat
lincah. Sekali terjang, bayangan ini sudah merobohkan dua orang pengawal yang
mendekati Setyaningsih yang masih duduk setengah rebah di atas tanah dan
kelihatan bingung. Bayangan itu ternyata adalah Pusporini yang cepat menyambar
tubuh Setyaningsih, dikempit dengan lengan kiri sedangkan tangan kanan dara
perkasa ini menghajar roboh berturut-turut dua orang pengawal lain. Joko
Pramono yang dikeroyok banyak pengawal, melihat munculnya Pusporini segera
berseru,
"Bagus, Rini. Kau bantu
aku membasmi jahanam-jahanam ini!"
"Cih, laki-laki
ceriwis, cabul dan mata keranjang!" Pusporini memaki dan tubuhnya
berkelebat pergi membawa Setyaningsih yang hanya mengeluarkan suara keluhan
panjang.
Joko Pramono kaget sekali,
cepat ia mengerjakan tangannya dengan cepat sekali dan kembali enam orang
pengawal roboh terpelanting. Melihat ini, Pangeran Kukutan yang sejak tadi pun
telah bersembunyi di situ berteriak,
"Hayo maju semua, bunuh
keparat itu!"
Makin banyak
lagi pengawal berdatangan dan melihat gelagat buruk ini, Joko Pramono
mengeluarkan suara pekik keras tubuhnya agak merendah, kedua tangannya didorong
ke depan dan hawa pukulan seperti angin lesus menyambar ke depan, membuat
belasan orang pengawal yang berada terdepan, terjengkang dan terpelanting.
Ketika para pengawal memandang ke depan, pemuda perkasa itu ternyata telah
lenyap dari tempat itu. Joko Pramono telah mempergunakan Aji Cantuka Sekti
untuk memukul roboh para pengeroyoknya, kemudian ia meloncat dan pergi
secepatnya menyusul Pusporini yang telah lebih dulu membawa Jari Setyaningsih.
Pangeran Kukutan menjadi penasaran sekali ketika melihat Joko Pramono dapat
meloloskan diri, terutama sekali Setyaningsih dan Pusporini. Dia sudah mendapat
janji dari Suminten bahwa kalau siasat mereka berhasil dan empat orang muda itu
terjatuh ke tangan mereka, dia boleh memiliki dua orang wanita muda jelita itu!
Setyaningsih dan Pusporini! Betapa dia sudah tergila-gila, kalau malam sering
bermimpi memangku dua orang wanita itu, dan kalau dikenang membuat ia mengilar.
Kini, dikepung oleh puluhan orang pengawal pilihan, dua orang wanita itu dan
Joko Pramono masih dapat lolos! Ah, dia dan Suminten terlalu memandang rendah
mereka. Terlalu memandang rendah Joko Pramono dan Pusporini yang ternyata
benar-benar amat sakti. Kalau mereka tahu betapa hebat kesaktian dua orang muda
itu, tentu Pangeran Kukutan sudah minta bantuan Ki Patih Warutama sehingga
malam itu dapat diundang beberapa orang sakti dari luar untuk membantu.
No comments:
Post a Comment