Perawan Lembah Wilis; Bagian 144


Setelah ia tiba di pantai itu, ia berdiri memandang air yang berpusing itu dengan hati penuh gairah. Retna Wilis maklum bahwa sekuat-kuatnya tenaga manusia, tak mungkin akan dapat melawan air berpusing seperti itu. Bagian ini merupakan teluk kecil yang bentuknya bundar, sehingga ombak yang bergelombang datang memasuki teluk kecil ini, airnya berputar dan membentuk pusingan air yang hebat dan kuat. Dan dia diharuskan terjun menyelam karena guha di mana tersimpan pedang pusaka Sapudenta terdapat di bawah batu karang Kukura yang ia injak sekarang, berada di dinding karang yang tertutup air yang kadang-kadang tenang apabila ombak berhenti menderu. Retna Wilis tidak merasa ngeri menyaksikan air berpusing itu. Semenjak berada di situ, ia seringkali bermain-main dengan air dan ombak, menggoda ikan-ikan hiu yang ganas dan dia merupakan seorang ahli renang yang kuat, kuat menahan napas dan dapat membuka mata di dalam air sehingga dapat melihat ikan-ikan di bawah permukaan air. Memang belum pernah ia mandi di bawah karang Kukuran ini karena tempat itu memang berbahaya, akan tetapi sedikit pun tidak ada rasa takut di hatinya ketika Retna Wilis berdiri di atas batu karang, siap untuk terjun. Dia sudah meraba-raba bajunya seperti biasa kalau hendak mandi di laut, hendak membuka pakaiannya. Akan tetapi ketika teringat akan sesuatu, ia menghela napas dan tidak melanjutkan gerakan jari tangannya. Semenjak ia melatih Wisalangking, bahkan semenjak ia menerima pemindahan hawa Wisalangking dari gurunya, ia menjadi malu kepada diri sendiri untuk bertelanjang bulat seperti biasa. Dahulu, sebelum ia memiliki aji kesaktian itu, tubuhnya berkulit putih kuning dan mulus tanpa cacad. Akan tetapi semenjak ia memiliki hawa Wisalangking, ia melihat betapa kulit di sekeliling pusarnya diliputi lingkaran warna menghitam! Ia merasa malu dan tak senang dengan cacat ini, akan tetapi betapapun ia berusaha, lingkaran warna menghitam di sekeliling pusarnya itu tak dapat lenyap. Karena itu pula dia sekarang tidak jadi membuka pakaiannya dan setelah menarik napas, menghimpun hawa segar ke dalam rongga dadanya, dara perkasa ini membelitkan sarungnya ke belakang, mengikatnya kemudian meloncat terjun ke dalam air!

Begitu tubuh dara itu menyentuh air, langsung ia dicengkeram oleh pusaran air dan Retna Wilis cepat menjungkirkan tubuhnya, menyelam mempergunakan gerakan kaki tangannya dengan sekuatnya. Namun, kembali ia dikuasai oleh air berpusing dan betapapun ia melawan, tetap saja tubuhnya dihanyutkan oleh tenaga sakti yang tak mungkin dapat ia lawan. Betapapun saktinya, Retna Wilis adalah seorang manusia dan manusia ditakdirkan hidup di darat sehingga dalam melawan pusaran air, dara yang sakti mandraguna itu akan kalah jauh dibandingkan dengan seekor ikan kecil. Sampai pening rasa kepala Retna Wilis karena tubuhnya hanyut dan dibawa berputar terus, makin diseret ke bawah di mana pusingan air itu menjadi makin kuat. Dia maklum bahwa kalau tidak segera dapat melepaskan diri dari pusingan air, ia akan terancam bahaya maut, yaitu dapat terbanting pada batu karang dengan kekuatan yang amat dahsyat. Maka ia cepat mengerahkan seluruh tenaga, menahan kekuatan dahsyat itu dari matanya terbelalak memandang melalui air yang sudah mulai gelap karena pusingan air membawanya sampai dalam. Tiba-tiba ia melihat bayangan seekor kura-kura raksasa lewat. Kura-kura ini hanya sedikit saja terpengaruh oleh pusingan air karena tentu saja dalam hal bermain di air, dia seratus kali lebih pandai daripada Retna Wilis! Kura-kura adalah seekor binatang yang tidak buas, tidak suka menyerang manusia apabila tidak diganggu, dan tidak suka pula makan daging manusia. Dia mendekati Retna Wilis hanya karena tertarik melihat benda aneh yang bergerak-gerak melawan pusingan air. Akan tetapi, begitu binatang ini lewat dekat, kedua lengan Retna Wilis menyambar ke depan dan ia berhasil merangkap dua kaki belakang kura-kura itu yang menjadi terkejut sekali dan meronta sekuatnya. Sia-sia saja usahanya ini karena kedua tangan Retna Wilis sudah mencengkeramnya dengan kekuatan yang luar biasa, bahkan gadis itu dapat terus merayap dan menerkam binatang itu di atas punggungnya, bertelungkup dan merangkul leher binatang itu dengan kedua lengan! Kura-kura itu menyelam dan menjungkir-balikkan tubuhnya dalam air, namun Retna Wilis tetap berada di punggungnya, bahkan kini dara perkara itu mencekik leher kura-kura sehingga binatang itu akhirnya tidak meronta lagi, maklum bahwa makluk yang berada di punggungnya itu amat kuat. Ia hanya berenang menjauhi pusaran air karena dalam keadaan tidak berdaya dalam cengkeraman makhluk kuat di punggungnya itu, pusaran air menjadi berbahaya baginya. Retna Wilis yang masih menelungkup di punggung kura-kura raksasa menjadi lega setelah kura-kura itu menjadi jinak, maka ia lalu menggunakan tangannya menekuk leher kura-kura ke arah kiri. Kura-kura itu kesakitan dan otomatis membelok ke kiri untuk menyelamatkan lehernya. Dengan demikian, dara itu kini dapat "menyetir" binatang raksasa itu menuju ke bawah karang Kukura. Dengan kekuatan pandang mata dan dengan rabaan tangan kiri, akhirnya Retna Wilis berhasil menemukan guha dan ketika kura-kura itu membawanya memasuki guha, ternyata bahwa guha itu penuh dengan kura-kura besar! Terbuktilah dugaannya bahwa tempat itu memang menjadi sarang kura-kura. Ada beberapa ekor kura-kura yang dengan gerakan ganas datang menyerang, akan tetapi dengan dorongan tangan kirinya Retna Wilis membuat beberapa ekor kura-kura ini terjengkang sehingga akhirnya mereka menjadi ketakutan dan berenang menjauhkan diri, keluar dari dalam guha.

Retna Wilis turun dari punggung kura-kura dan binatang ini yang ternyata merupakan kura-kura terbesar di situ, mendekam di sudut, agaknya dia mulai jinak dan maklum bahwa manusia yang sakti itu tidak berniat jahat, buktinya tidak membunuhnya. Retna Wilis cepat mencari dan dengan mudah menemukan peti kecil panjang yang terjepit di sela-sela batu karang dalam guha. Ia menarik peti kecil itu, membuka dan matanya silau menyaksikan sebatang pedang yang indah di dalam peti, pedang yang tertarik sedikit gagangnya sehingga tampak sedikit mata pedang yang putih mengkilap. Tanpa membuang waktu, ia mengambil pedang yang sudah lengkap dengan sarung pedang dan talinya itu, mengalungkan talinya di pundak sehingga pedang itu berada di punggungnya. Kemudian ia menghampiri kura-kura raksasa dan naik lagi ke punggungnya. Dengan menepuk-nepuk kepala kura-kura, binatang ini berenang keluar dan seperti tadi, Retna Wilis mengemudikan binatang ini sampai dapat melalui pusaran air dan timbul di permukaan air dengan selamat. Retna Wilis cepat menghirup napas, menyedot hawa segar dan duduk bersila di atas punggung kura-kura.
"Kukura, bawa aku mendarat!" teriaknya riang dan kura-kura itu cepat meluncur ke pantai. Dengan wajah berseri Retna Wilis membiarkan dirinya dibawa kura-kura raksasa itu ke pantai, duduk bersila dengan tenangnya, dengan pedang di punggung, gagah perkasa dan cantik jelita seperti dewi laut. Kalau ada orang melihat dara ini duduk bersila di atas punggung kura-kura raksasa, muncul dari dalam laut, tentu orang itu takkan ragu-ragu mengatakan bahwa dia telah melihat dewi atau peri penjaga Segoro Kidul! Setelah Retna Wilis meloncat turun, kura-kura itu dengan gerakan lamban berjalan atau merangkak kembali ke air, menoleh satu kali memandang ke arah Retna Wilis, kemudian menyelam ditelan ombak mendatang. Retna Wilis melambaikan tangan sambil tertawa.
"Terima kasih, Kukura!"
Mulai hari itu, Retna Wilis lalu makin tekun melatih diri, kini ia menggerakkan dan mainkan pedang pusaka Sapudenta yang memiliki sinar putih seperti perak dalam latihan-latihannya sesuai dengan pelajaran yang ia terima dari Nini Bumigarba. Kalau ada orang melihat dari jauh ketika dara ini sedang berlatih pedang, tentu akan mengira bahwa di pantai itu ada kilat menyambar-nyambar karena pedang itu ketika dimainkan dengan dorongan tenaga sakti Wisalangking, berkelebatan seperti kilat menyambar, mengeluarkan sinar putih menyilaukan mata.
Setiap malam Retna Wilis tak pernah lupa untuk memandang ke angkasa, ke atas gunung yang berbentuk cengger jago, dan setiap kali melihat bintang kehijauan masih bersinar-sinar di angkasa, ia menghela napas dan merasa menyesal bahwa waktunya belum tiba untuk meninggalkan tempat itu. Setelah gurunya tiada, dara ini merasa kesepian dan bosan tinggal seorang diri di situ. Akan tetapi ia selalu taat akan pesan gurunya dan ia tiada akan meninggalkan pantai itu sebelum ada tanda yang dipesankan gurunya, yaitu lenyapnya bintang kehijauan yang menjadi lambang kejayaan kekuasaan yang mencengkeram Jenggala di waktu itu.

Pangeran Panji Sigit bersama isterinya Setyaningsih, telah tinggal di Jenggala, di lingkungan istana. Juga Pusporini dan Joko Pramono tinggal di istana Jenggala. Mereka, empat orang muda perkasa ini, gagal dalam penyelidikan mereka tentang diri Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wilis. Kemudian mereka lebih menujukan perhatian mereka terhadap keadaan di Jenggala dan bertekad untuk membantu perjuangan dari Panjalu yang dipimpin oleh Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Tejolaksono, yaitu untuk membebaskan sang prabu dan Kerajaan Jenggala dari cengkeraman persekutuan jahat yang telah mereka ketahui siapa orang-orangnya itu. Makin jelaslah kini bagi Pangeran Panji Sigit dan isterinya, juga Pusporini dan Joko Pramono, akan keadaan di kerajaan ini. Sang prabu yang sudah tua itu benar-benar telah terlalu dalam tenggelam dan semua kekuasaan telah dicengkeram oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama. Empat orang muda ini maklum bahwa persekutuan ini amat licin dan cerdik, tidak memperlihatkan kekuasaan namun sudah mutlak mengoper kekuasaan Jenggala di tangan mereka sehingga kalau sewaktu-waktu sang prabu yang sudah tua itu meninggal, otomatis Pangeran Kukutan yang menggantikan menjadi Raja Jenggala, Ki Patih Warutama tetap menjadi patih, dan Suminten menjadi ibusuri! Pangeran Panji Sigit maklum bahwa untuk menyelamatkan kerajaan harus dilakukan sekarang juga selagi ramandanya masih hidup. Mulailah pangeran ini mulai mendekati ramandanya, mulailah mencari kesempatan untuk memberi ingat kepada ramandanya akan bahaya yang mengancam bagi Kerajaan Jenggala. Menurut penyelidikan Joko Pramono dan Pusporini, tidak hanya para ponggawa yang diganti oleh orang-orang baru, juga para emban dan pendeta Agama Wishnu telah didesak dan kini telah dibangun candi-candi besar untuk keperluan beberapa orang pendeta penyembah Shiwa yang agaknya mendapat tempat istimewa dan dianak emaskan oleh Ki Patih Warutama dan Pangeran Kukutan. Dalam pertemuan rahasia mereka, Pangeran Panji Sigit memutuskan untuk mengirim Joko Pramono dan Pusporini ke Panjalu dan memberi kabar kepada Ki Patih Tejolaksono dan Pangeran Darmokusumo tentang hasil penyelidikan mereka, dan tentang gagalnya penyelidikan mereka mengenai diri Nini Bumigarba. Empat orang muda ini tidak tahu bahwa rencana mereka telah diketahui Suminten, bahwa Suminten telah mengatur siasat yang telah lama direncanakan dan yang kini dipercepat pelaksanaannya untuk mendahului rencana Pangeran Panji Sigit yang hendak mengutus dua orang muda itu membuat laporan ke Panjalu.

Malam itu terang bulan dan langit cerah sekali. Langit yang membiru dihias beberapa buah bintang, terang oleh sinar bulan yang sejuk. Ketika Pangeran Panji Sigit sedang bercakap-cakap dengan isterinya di luar kamar sambil memandang bulan purnama yang indah, tiba-tiba seorang pelayan wanita datang menghadap dan menyampaikan permintaan gusti selir yang minta kepada Setyaningsih untuk menemaninya di dalam taman keputren. Gusti selir hendak menikmati cahaya bulan di taman dan minta agar Setyaningsih suka menemaninya bercakap-cakap. Tentu saja hal yang wajar ini sukar ditolak oleh Setyaningsih, bahkan Pangeran Panji Sigit yang tidak ingin menimbulkan kecurigaan di hati Suminten musuh utama yang paling berbahaya itu, membujuk isterinya untuk berdandan dan segera berangkat bersama pelayan itu untuk memenuhi panggilan ibunda selir. Biarpun di dalam hatinya Setyaningsih merasa segan dan tidak senang karena sesungguhnya ia muak melihat Suminten, namun ia tidak berani menolak dan setelah cepat berdandan, berangkatlah ia bersama pelayan wanita yang diutus memanggilnya itu memasuki keputren dan langsung menuju ke taman yang indah, milik pribadi Suminten. Sementara itu, Joko Pramono yang sedang duduk bersamadhi di dalam kamarnya, mendapat kunjungan Ki Mitra. Kakek ini berindap-indap mengetuk daun jendela kamar Joko Pramono.
"Raden ....! Raden ...., keluarlah .... " la berbisik.
Joko Pramono turun dari pembaringannya dan membuka daun jendela.
"Paman Mitra, bagaimana engkau bisa masuk ....?" Pemuda ini merasa heran karena orang tua ini menjadi juru taman di luar istana dan untuk memasuki daerah istana bukanlah hal yang mudah.
"Ssttt ..... hamba mengenal seorang pengawal setia. Dia yang memanggil hamba karena terjadi urusan yang gawat sekali!"
Joko Pramono menarik kakek itu memasuki kamarnya.
"Apakah yang terjadi?"
"Lekas paduka bertindak, Raden, kalau tidak ... bisa terlambat ...! Hamba mendengar dari pengawal setia bahwa Gusti Puteri Setyaningsih malam ini diundang ke taman bunga di taman sari oleh Gusti Selir Suminten....” Joko Pramono memandang tajam, “Hemm, urusan begitu saja, apa salahnya?”
“Ah, paduka terlalu memandang rendah Gusti Selir Suminten! Menurut laporan-laporan yang hamba dengar, malam ini Gusti Puteri Setyaningsih sengaja dipancing untuk diajak makan minum dan ... akan diracun!"

<<< Bagian 143                                                                                     Bagian 145 >>>

No comments:

Post a Comment