Perawan Lembah Wilis; Bagian 143


Ki Ageng Kelud berusaha mengelak dengan miringkan tubuh dan menarik kepala ke belakang akan tetapi jari-jari tangan yang lunak halus dan kecil menyambar cepat dan menimpa pundak kirinya.
"Krekkk ........... !" Remuklah tulang pundak Ki Ageng Kelud dan tubuh kakek itu terguling. Retna Wilis menubruk maju mengirim pukulan maut ke arah kepala kakek itu yang sudah meramkan matanya menanti datangnya maut sambil tersenyum tenang. Juga Ki Warok Surobledug meramkan mata, tidak tahan menyaksikan kematian kakek itu.

"Ganas ........... !" Suara ini perlahan dan halus, dibarengi bayangan putih seperti asap datang bertiup dan tahu-tahu tubuh Retna Wilis terdorong ke belakang seperti ditiup angin yang tak tertahankan saking kuatnya. Seluruh tubuh dara ini menggigil ketika ia merasa betapa pukulannya tadi bertemu dengan telapak tangan halus yang membuat hawa saktinya seolah-olah tenggelam ke dalam lautan yang dingin melebihi ampak-ampak! Ketika ia dapat menguasai dirinya dan memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang kakek yang amat tua, berpakaian serba putih, berambut dan berkumis jenggot panjang putih pula, wajahnya tertutup uap bersinar putih dan kakek ini berdiri tak bergerak seperti sebuah arca. Akan tetapi dia bukan arca karena pada saat itu, kakek itu berkata kepada Ki Ageng Kelud,
"Ki Ageng dan Ki Warok, sebaiknya andika berdua kembali ke tempat andika."
Ki Ageng Kelud biarpun sudah remuk tulang pundaknya, namun dengan kekuatan batinnya dapat mengatasi rasa nyeri. Sejenak ia memandang ke arah wajah yang terselimut uap putih, kemudian berkata lirih penuh hormat,
"Omm ...sadhu-sadhu-sadhu ....." Ia berdiri menyembah lalu membalikkan tubuhnya, mengangguk kepada Ki Warok Surobledug yang tadi terpesona dan terbelalak, sambil menahan nafas lalu mengikuti Ki Ageng Kelud. Setelah mereka pergi jauh sehingga tak tampak lagi dari tempat itu, sambil terengah-engah Ki Warok Surobledug bertanya,
"Paman panembahan ....dia.... dia itu siapakah? Dewatakah…….?”
Ki Ageng Kelud menghela napas panjang dan menggeleng kepala.
"Dia manusia biasa, manusia yang terlalu biasa, manusia wajar .... manusia sejati ...." Ki Ageng Kelud tidak bicara lagi, di dalam hatinya ia dapat menduga siapa gerangan kakek yang luar biasa tadi, namun mulutnya tidak kuasa menyebut namanya karena hatinya yang penuh dengan keharuan membuat lehernya tercekik, mulutnya terkancing.

Sementara itu, Retna Wilis yang telah berhasil menguasai dirinya, memandang kakek itu dengan alis berkerut. Hatinya panas dan penuh penasaran, juga tidak puas. Siapakah orang ini yang berani menentangnya, berani menggagalkan pukulan mautnya? Bahkan berani seenaknya saja menyuruh pergi dua orang kakek tadi? Seluruh urat syarat di tubuhnya menegang, dan ia sudah siap untuk menerjang kakek yang lancang ini. Tadinya ia tidak dapat melihat muka yang tertutup halimun putih, akan tetapi setelah ia mengerahkan hawa sakti dari pusarnya, disalurkan kepada pandang matanya, ia dapat menembus halimun atau uap putih itu dan tampaklah dengan jelas wajah seorang pria yang tampan. Wajah yang membayangkan kesabaran tiada batasnya, dengan sepasang mata yang seperti mata bayi baru dapat melek, begitu indah dan tanpa pencerminan perasaan sedikitpun, wajar dan tulus. Tiba-tiba Nini Bumigarba meloncat maju, wajah nenek itu tidak seperti biasanya, tampak beringas penuh kemarahan, sepasang matanya menyorotkan kekejaman seolah-olah ia hendak menelan hidup-hidup kakek di depannya itu. Kemudian ia menudingkan telunjuknya
kepada kakek itu dan berkata dengan suara serak dan kasar.
"Ekadenta! Engkau benar-benar seorang yang keterlaluan sekali! Telah puluhan tahun aku mencuci tangan, tak pernah mengganggumu, akan tetapi engkau selalu menjadi batu penghalang bagiku! Setelah aku mengasingkan diri di tempat sunyi ini, engkau masih saja menggangguku!"
Kakek itu diam saja, hanya memandang dengan sinar matanya yang lembut penuh welas asih dan penuh pengertian. Ketika Retna Wilis mendengar suara gurunya, ia terkejut bukan main. Jadi dia inikah yang bernama Ekadenta? Inikah musuh besar gurunya dan murid orang inikah yang kelak harus ia kalahkan? Mengapa harus menanti sampai bertemu muridnya? Gurunya pun dia tidak gentar untuk menandinginya. Kini musuh ini telah membikin marah gurunya pula, maka dengan suara pekik melengking dahsyat, Retna Wilis sudah meloncat maju dan tangannya telah menyambar segenggam pasir, kemudian ia mengerahkan aji kesaktiannya, menggenggam pasir sampai pasir itu menjadi hitam kebiruan lalu menyambitkan pasir itu ke arah muka si kakek disusul terjangannya dengan Aji Pancaroba! Itulah Aji Pasir Sekti yang amat mengerikan karena pasir yang digenggamnya tadi telah berubah menjadi pasir berbisa. Jangankan sampai melukai daging, baru mengenai kulit saja dapat menimbulkan keracunan yang merenggut nyawa. Aji Pasir Sekti yang sedemikian ampuhnya masih ia susul dengan serangan Aji Pancaroba dan pukulan-pukulan maut, sungguh sekali ini Retna Wilis mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia bermaksud untuk sekali terjang merobohkan kakek itu di depan kaki gurunya! Akan tetapi suara pekik nyaring mulutnya berubah teriakan kaget dan kesakitan. Pasir-pasir hitam itu telah runtuh sebelum mengenai tubuh si kakek, bahkan terjangannya sendiri bertemu dengan tenaga tak tampak yang melindungi kakek itu dalam jarak tiga kaki! Tubuh Retna Wilis terbanting sehingga kulit sikunya babak serta daging pinggulnya terasa panas sesenutan. Ia tak dapat lagi menguasai hatinya yang marah. Begitu bangkit, dara remaja ini menerjang lagi, menghantam dengan kedua tangan bertubi-tubi. Akan tetapi kembali ia terpelanting karena tubuhnya bertemu dengan tenaga tak tampak. Berkali-kali ia bangkit lagi dan mengirim serangan seperti menggila, namun selalu ia terpelanting dan terbanting jatuh ke atas tanah, padahal kakek itu sedikitpun tidak bergerak, hanya memandang kepadanya dengan senyum dan sinar mata penuh iba, Retna Wilis hampir menjerit-jerit saking marahnya dan ia terus bangkit dan menerjang lagi. Tiada bedanya dengan seekor ayam menyerang ayam lain yang berada dalam kurungan. Setiap kali menerjang dari luar, sebelum menyentuh ayam di dalam, telah bertumbukan dengan kurungan dan terpelanting jatuh.
"Retna Wilis, mundurlah!" tiba-tiba Nini Bumigarba berseru. Retna Wilis masih penasaran, akan tetapi dia pun maklum bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap musuh gurunya yang benar-benar luar biasa ini, maka ia lalu mundur dengan muka merah. Ia masih tidak mau menerima kalah dan andaikata tidak ada gurunya yang menyuruhnya mundur, tentu ia akan menyerang terus sampai lawannya roboh atau sampai dia sendiri yang roboh kehabisan tenaga dan napas!
"Ekadenta, tidak malukah engkau tua bangka menghina orang muda?" Nini Bumigarba menghardik dengan sikap seperti seekor ayam biang membela anaknya.

Kakek itu menoleh dan membalikkan tubuhnya kepada Nini Bumigarba, lalu terdengar suaranya, "Sarilangking, tidak ada yang menghina atau terhina. Aku hanya mencegah kesesatan yang lebih parah. Mengapa engkau menjadikan dia seperti itu? Apa gunanya bagi dunia dan manusia?"
"Wah-wah, sombongnya si kepala batu! Aku menggembleng muridku sendiri, apa sangkut-pautnya denganmu? Engkau sendiri juga telah menggembleng seorang murid! Aku hanya menandingimu karena dialah yang kelak akan menandingi muridmu. Suruh dia ke sini, kita adu mereka. Hayoh, kita sama lihat siapa di antara murid kita yang lebih digdaya!"
Kakek itu menggeleng kepalanya.
"Sari, sungguh sayang sampai kini engkau masih belum mau berusaha untuk berpaling ke arah kebenaran. Aku mendidik seorang murid untuk mewakili aku, menyumbangkan tenaga demi untuk kebahagiaan manusia, demi untuk ketenteraman hidup, demi untuk menentang kejahatan.”
"Benar! Aku yang jahat dan harus ditentang, ya? Aku tidak menyangkal! Aku malah sebaliknya darimu. Muridku akan mewakili aku, merusak kebahagiaan manusia sombong macam engkau, mendatangkan kekacauan untuk meramaikan dunia, dan menentang manusia-manusia yang menganggap diri suci dan baik!"
"Muridku akan berusaha membawa penerangan bagi manusia ..“
"Dan muridku akan membawa kegelapan!"
"Muridku akan mewakili kebajikan”
"Dan muridku akan menjadi ratu kejahatan!"
"Sari, mengapa engkau tidak mau sadar juga? Lupakah engkau bahwa kita ini hanyalah manusia-manusia biasa, manusia yang tidak dapat menguasai mati hidupnya sendiri? Sari, ingatlah, betapa ketika kita dilahirkan, kita tanya bisa menangis, itu pun terjadi di luar kehendak kita? Kita lahir kecil dan lemah, tanpa pikiran, tanpa kehendak, tanpa pendapat, hanya menyerahkan diri di luar kesadaran, hanya bergerak sesuai dengan kehendak Hyang Widi Wisesa. Kita dikurniai segala perlengkapan, sampai pengertian dan akal budi, akan tetapi mengapa semua itu membuat kita lupa akan asal mula diri kita? Sari, kaulihatlah baik-baik. Kau pandanglah aku ...dan kau…… sadarlah ...Sari ...!”
Nenek itu tidak menjawab, hanya memandang bagaikan kena pesona. Sampai lama mereka berpandangan, maka nenek itu makin lama makin terbelalak lebar, penuh takjub, penuh kagum, penuh takluk dan takut, kemudian nenek ini menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan menangis!
"Ekadenta ...aku ....aku ....terlampau jauh tersesat .....aku hanyut ....tolonglah aku, Ekadenta"

Kakek itu melangkah perlahan-lahan, seakan-akan tidak memperdulikan nenek itu, mulutnya mengeluarkan suara seperti orang bertembang, halus dan merdu, seperti bisikan angin lalu,
"Yang pahit dan getir itu banyak manfaatnya, yang manis dan lezat itu banyak bahayanya. Namun manusia membenci yang pahit getir, tergila-gila kepada yang lezat manis. Akibatnya, banyak derita duka nestapa. Tak baik terpengaruh oleh keindahan lahir, kupaslah kulit dan periksa isi karena kulit yang buruk menyembunyikan isi yang berguna, sebaliknya kulit yang indah seringkali menyembunyikan isi yang tak berguna."
Perlahan-lahan Nini Bumigarba bangkit dan melangkah pula mengikuti Bhagawan Ekadenta. Kakek itu berjalan di depan sambil bertembang nenek itu melangkah di belakangnya, mata memandang jauh ke depan seperti orang dalam mimpi. Mereka berdua berjalan terus menuju ke laut!
"Eyang ..” Retna Wilis berseru perlahan, akan tetapi gurunya sama sekali tidak menjawab, menoleh pun tidak. Mereka berdua kini telah tiba di pantai yang disentuh ombak, akan tetapi keduanya berjalan terus, seolah-olah tidak meiihat gelombang yang datang dari depan.
"Eyang .....!!" Kini Retna Wilis menjerit keras dan meloncat maju mengejar gurunya. Akan tetapi ia berdiri terbelalak di pinggir laut, membiarkan air laut bermain di kakinya sampai setinggi lutut. Ia tidak merasa ini semua karena sedang terpesona memandang ke selatan, memandang tubuh kakek dan nenek itu yang terus melangkah dengan tenangnya, melangkah di atas gelombang laut kidul yang datang bergulung-gulung! Retna Wilis berdiri tanpa berkedip memandang dua orang itu yang terus melangkah seakan-akan mereka itu sedang berjalan-jalan di dalam taman saja. Kadang-kadang ombak menggunung menutup mereka, dan kadang-kadang mereka muncul lagi. Mereka terus bergerak ke selatan sampai akhirnya bayangan mereka lenyap di antara gelombang lautan yang makin bergelora. Retna Wilis menahan isak saking kagum, terharu dan juga terheran-heran. Kemudian baru ia merasa betapa air telah membasahi kainnya sampai ke paha, maka cepat ia menjauhi air dan duduk di atas pasir, termenung memandang ke arah selatan, mengharapkan sewaktu-waktu gurunya akan muncul dari selatan. Ia ingin sekali mengetahui apa yang tampak oleh gurunya ketika memandang kakek itu, dan mengapa gurunya lalu berlutut dan takluk, kemudian ia ingin tahu ke mana dua orang sakti itu pergi. Namun, selamanya hal ini takkan pernah dapat dijawabnya, takkan pernah dapat dijawab oleh siapa pun juga kecuali oleh manusia-manusia yang telah terbuka mata batinnya akan hakekat hidup.

Retna Wilis termenung sampai lama di. tepi laut, kemudian sadar bahwa gurunya takkan kembali lagi, sadar bahwa dia kini berada seorang diri di atas permukaan dunia ini. Hatinya mengeras, keberaniannya timbul dan ia lalu mengingat-ingat apa yang dipesankan gurunya. Hawa Wisalangking telah berada di tubuhnya dan menurut pesan gurunya, ia harus melatih diri, melatih aji kesaktian Wisalangking, cara mempergunakannya seperti yang telah diterangkan gurunya. Dan ia harus pula mengambil pedang Sapudenta dari dalam guha di bawah permukaan air laut. Kemudian, setelah ada tanda lenyapnya bintang di atas puncak Gunung Cengger Jago, ia harus meninggalkan pantai ini dan pergi ke Wilis. Retna Wilis membulatkan tekadnya dan mulailah ia berlatih Aji Wisalangking yang amat dahsyat. Aji kesaktian ini adalah aji yang paling dahsyat di antara semua ilmu yang dipelajarinya dari Nini Bumigarba. Setahun kemudian, ia telah dapat melatih ilmu itu dengan baik, sungguhpun belum sempurna benar, namun ia sudah dapat menguasai hawa Wisalangking di tubuhnya. Menurut petunjuk gurunya, sesuai dengan cita-cita gurunya dahulu untuk mengalahkan Ekadenta dengan Aji Wisalangking ditambah penggunaan pedang Sapudenta, Retna Wilis lalu mendatangi pantai di sebelah barat. Ia sudah tahu di mana adanya air ulekan di bawah karang Kukura, yaitu batu karang di mana agaknya menjadi sarang binatang kura-kura raksasa karena kura-kura raksasa yang mendarat untuk bertelur selalu muncul dari air ulekan ini.

<<< Bagian 142                                                                                     Bagian 144 >>>

No comments:

Post a Comment