Ki Ageng Kelud berusaha mengelak dengan miringkan tubuh dan menarik kepala ke belakang akan tetapi jari-jari tangan yang lunak halus dan kecil menyambar cepat dan menimpa pundak kirinya.
"Krekkk ...........
!" Remuklah tulang pundak Ki Ageng Kelud dan tubuh kakek itu terguling.
Retna Wilis menubruk maju mengirim pukulan maut ke arah kepala kakek itu yang
sudah meramkan matanya menanti datangnya maut sambil tersenyum tenang. Juga Ki
Warok Surobledug meramkan mata, tidak tahan menyaksikan kematian kakek itu.
"Ganas ...........
!" Suara ini perlahan dan halus, dibarengi bayangan putih seperti asap
datang bertiup dan tahu-tahu tubuh Retna Wilis terdorong ke belakang seperti
ditiup angin yang tak tertahankan saking kuatnya. Seluruh tubuh dara ini
menggigil ketika ia merasa betapa pukulannya tadi bertemu dengan telapak tangan
halus yang membuat hawa saktinya seolah-olah tenggelam ke dalam lautan yang
dingin melebihi ampak-ampak! Ketika ia dapat menguasai dirinya dan memandang, ternyata
di situ telah berdiri seorang kakek yang amat tua, berpakaian serba putih,
berambut dan berkumis jenggot panjang putih pula, wajahnya tertutup uap
bersinar putih dan kakek ini berdiri tak bergerak seperti sebuah arca. Akan
tetapi dia bukan arca karena pada saat itu, kakek itu berkata kepada Ki Ageng
Kelud,
"Ki Ageng dan Ki Warok,
sebaiknya andika berdua kembali ke tempat andika."
Ki Ageng Kelud biarpun sudah
remuk tulang pundaknya, namun dengan kekuatan batinnya dapat mengatasi rasa
nyeri. Sejenak ia memandang ke arah wajah yang terselimut uap putih, kemudian
berkata lirih penuh hormat,
"Omm
...sadhu-sadhu-sadhu ....." Ia berdiri menyembah lalu membalikkan
tubuhnya, mengangguk kepada Ki Warok Surobledug yang tadi terpesona dan
terbelalak, sambil menahan nafas lalu mengikuti Ki Ageng Kelud. Setelah mereka
pergi jauh sehingga tak tampak lagi dari tempat itu, sambil terengah-engah Ki
Warok Surobledug bertanya,
"Paman panembahan
....dia.... dia itu siapakah? Dewatakah…….?”
Ki Ageng Kelud menghela
napas panjang dan menggeleng kepala.
"Dia manusia biasa,
manusia yang terlalu biasa, manusia wajar .... manusia sejati ...." Ki
Ageng Kelud tidak bicara lagi, di dalam hatinya ia dapat menduga siapa gerangan
kakek yang luar biasa tadi, namun mulutnya tidak kuasa menyebut namanya karena
hatinya yang penuh dengan keharuan membuat lehernya tercekik, mulutnya
terkancing.
Sementara itu, Retna Wilis
yang telah berhasil menguasai dirinya, memandang kakek itu dengan alis
berkerut. Hatinya panas dan penuh penasaran, juga tidak puas. Siapakah orang
ini yang berani menentangnya, berani menggagalkan pukulan mautnya? Bahkan
berani seenaknya saja menyuruh pergi dua orang kakek tadi? Seluruh urat syarat
di tubuhnya menegang, dan ia sudah siap untuk menerjang kakek yang lancang ini.
Tadinya ia tidak dapat melihat muka yang tertutup halimun putih, akan tetapi
setelah ia mengerahkan hawa sakti dari pusarnya, disalurkan kepada pandang
matanya, ia dapat menembus halimun atau uap putih itu dan tampaklah dengan
jelas wajah seorang pria yang tampan. Wajah yang membayangkan kesabaran tiada
batasnya, dengan sepasang mata yang seperti mata bayi baru dapat melek, begitu
indah dan tanpa pencerminan perasaan sedikitpun, wajar dan tulus. Tiba-tiba
Nini Bumigarba meloncat maju, wajah nenek itu tidak seperti biasanya, tampak
beringas penuh kemarahan, sepasang matanya menyorotkan kekejaman seolah-olah ia
hendak menelan hidup-hidup kakek di depannya itu. Kemudian ia menudingkan
telunjuknya
kepada kakek itu dan berkata
dengan suara serak dan kasar.
"Ekadenta! Engkau
benar-benar seorang yang keterlaluan sekali! Telah puluhan tahun aku mencuci
tangan, tak pernah mengganggumu, akan tetapi engkau selalu menjadi batu
penghalang bagiku! Setelah aku mengasingkan diri di tempat sunyi ini, engkau
masih saja menggangguku!"
Kakek itu diam saja, hanya
memandang dengan sinar matanya yang lembut penuh welas asih dan penuh
pengertian. Ketika Retna Wilis mendengar suara gurunya, ia terkejut bukan main.
Jadi dia inikah yang bernama Ekadenta? Inikah musuh besar gurunya dan murid
orang inikah yang kelak harus ia kalahkan? Mengapa harus menanti sampai bertemu
muridnya? Gurunya pun dia tidak gentar untuk menandinginya. Kini musuh ini
telah membikin marah gurunya pula, maka dengan suara pekik melengking dahsyat,
Retna Wilis sudah meloncat maju dan tangannya telah menyambar segenggam pasir,
kemudian ia mengerahkan aji kesaktiannya, menggenggam pasir sampai pasir itu
menjadi hitam kebiruan lalu menyambitkan pasir itu ke arah muka si kakek
disusul terjangannya dengan Aji Pancaroba! Itulah Aji Pasir Sekti yang amat
mengerikan karena pasir yang digenggamnya tadi telah berubah menjadi pasir
berbisa. Jangankan sampai melukai daging, baru mengenai kulit saja dapat
menimbulkan keracunan yang merenggut nyawa. Aji Pasir Sekti yang sedemikian
ampuhnya masih ia susul dengan serangan Aji Pancaroba dan pukulan-pukulan maut,
sungguh sekali ini Retna Wilis mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia
bermaksud untuk sekali terjang merobohkan kakek itu di depan kaki gurunya! Akan
tetapi suara pekik nyaring mulutnya berubah teriakan kaget dan kesakitan.
Pasir-pasir hitam itu telah runtuh sebelum mengenai tubuh si kakek, bahkan
terjangannya sendiri bertemu dengan tenaga tak tampak yang melindungi kakek itu
dalam jarak tiga kaki! Tubuh Retna Wilis terbanting sehingga kulit sikunya
babak serta daging pinggulnya terasa panas sesenutan. Ia tak dapat lagi
menguasai hatinya yang marah. Begitu bangkit, dara remaja ini menerjang lagi,
menghantam dengan kedua tangan bertubi-tubi. Akan tetapi kembali ia terpelanting
karena tubuhnya bertemu dengan tenaga tak tampak. Berkali-kali ia bangkit lagi
dan mengirim serangan seperti menggila, namun selalu ia terpelanting dan
terbanting jatuh ke atas tanah, padahal kakek itu sedikitpun tidak bergerak,
hanya memandang kepadanya dengan senyum dan sinar mata penuh iba, Retna Wilis
hampir menjerit-jerit saking marahnya dan ia terus bangkit dan menerjang lagi.
Tiada bedanya dengan seekor ayam menyerang ayam lain yang berada dalam
kurungan. Setiap kali menerjang dari luar, sebelum menyentuh ayam di dalam,
telah bertumbukan dengan kurungan dan terpelanting jatuh.
"Retna Wilis,
mundurlah!" tiba-tiba Nini Bumigarba berseru. Retna Wilis masih penasaran,
akan tetapi dia pun maklum bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap musuh
gurunya yang benar-benar luar biasa ini, maka ia lalu mundur dengan muka merah.
Ia masih tidak mau menerima kalah dan andaikata tidak ada gurunya yang
menyuruhnya mundur, tentu ia akan menyerang terus sampai lawannya roboh atau
sampai dia sendiri yang roboh kehabisan tenaga dan napas!
"Ekadenta, tidak
malukah engkau tua bangka menghina orang muda?" Nini Bumigarba menghardik
dengan sikap seperti seekor ayam biang membela anaknya.
Kakek itu menoleh dan
membalikkan tubuhnya kepada Nini Bumigarba, lalu terdengar suaranya,
"Sarilangking, tidak ada yang menghina atau terhina. Aku hanya mencegah
kesesatan yang lebih parah. Mengapa engkau menjadikan dia seperti itu? Apa
gunanya bagi dunia dan manusia?"
"Wah-wah, sombongnya si
kepala batu! Aku menggembleng muridku sendiri, apa sangkut-pautnya denganmu?
Engkau sendiri juga telah menggembleng seorang murid! Aku hanya menandingimu
karena dialah yang kelak akan menandingi muridmu. Suruh dia ke sini, kita adu
mereka. Hayoh, kita sama lihat siapa di antara murid kita yang lebih
digdaya!"
Kakek itu menggeleng
kepalanya.
"Sari, sungguh sayang
sampai kini engkau masih belum mau berusaha untuk berpaling ke arah kebenaran.
Aku mendidik seorang murid untuk mewakili aku, menyumbangkan tenaga demi untuk
kebahagiaan manusia, demi untuk ketenteraman hidup, demi untuk menentang
kejahatan.”
"Benar! Aku yang jahat
dan harus ditentang, ya? Aku tidak menyangkal! Aku malah sebaliknya darimu.
Muridku akan mewakili aku, merusak kebahagiaan manusia sombong macam engkau,
mendatangkan kekacauan untuk meramaikan dunia, dan menentang manusia-manusia
yang menganggap diri suci dan baik!"
"Muridku akan berusaha
membawa penerangan bagi manusia ..“
"Dan muridku akan
membawa kegelapan!"
"Muridku akan mewakili
kebajikan”
"Dan muridku akan
menjadi ratu kejahatan!"
"Sari, mengapa engkau
tidak mau sadar juga? Lupakah engkau bahwa kita ini hanyalah manusia-manusia
biasa, manusia yang tidak dapat menguasai mati hidupnya sendiri? Sari,
ingatlah, betapa ketika kita dilahirkan, kita tanya bisa menangis, itu pun
terjadi di luar kehendak kita? Kita lahir kecil dan lemah, tanpa pikiran, tanpa
kehendak, tanpa pendapat, hanya menyerahkan diri di luar kesadaran, hanya
bergerak sesuai dengan kehendak Hyang Widi Wisesa. Kita dikurniai segala
perlengkapan, sampai pengertian dan akal budi, akan tetapi mengapa semua itu
membuat kita lupa akan asal mula diri kita? Sari, kaulihatlah baik-baik. Kau
pandanglah aku ...dan kau…… sadarlah ...Sari ...!”
Nenek itu tidak menjawab,
hanya memandang bagaikan kena pesona. Sampai lama mereka berpandangan, maka
nenek itu makin lama makin terbelalak lebar, penuh takjub, penuh kagum, penuh
takluk dan takut, kemudian nenek ini menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan
menangis!
"Ekadenta ...aku
....aku ....terlampau jauh tersesat .....aku hanyut ....tolonglah aku,
Ekadenta"
Kakek itu melangkah
perlahan-lahan, seakan-akan tidak memperdulikan nenek itu, mulutnya
mengeluarkan suara seperti orang bertembang, halus dan merdu, seperti bisikan
angin lalu,
"Yang pahit dan getir
itu banyak manfaatnya, yang manis dan lezat itu banyak bahayanya. Namun manusia
membenci yang pahit getir, tergila-gila kepada yang lezat manis. Akibatnya,
banyak derita duka nestapa. Tak baik terpengaruh oleh keindahan lahir, kupaslah
kulit dan periksa isi karena kulit yang buruk menyembunyikan isi yang berguna,
sebaliknya kulit yang indah seringkali menyembunyikan isi yang tak
berguna."
Perlahan-lahan Nini
Bumigarba bangkit dan melangkah pula mengikuti Bhagawan Ekadenta. Kakek itu
berjalan di depan sambil bertembang nenek itu melangkah di belakangnya, mata
memandang jauh ke depan seperti orang dalam mimpi. Mereka berdua berjalan terus
menuju ke laut!
"Eyang ..” Retna Wilis
berseru perlahan, akan tetapi gurunya sama sekali tidak menjawab, menoleh pun
tidak. Mereka berdua kini telah tiba di pantai yang disentuh ombak, akan tetapi
keduanya berjalan terus, seolah-olah tidak meiihat gelombang yang datang dari
depan.
"Eyang .....!!"
Kini Retna Wilis menjerit keras dan meloncat maju mengejar gurunya. Akan tetapi
ia berdiri terbelalak di pinggir laut, membiarkan air laut bermain di kakinya
sampai setinggi lutut. Ia tidak merasa ini semua karena sedang terpesona
memandang ke selatan, memandang tubuh kakek dan nenek itu yang terus melangkah
dengan tenangnya, melangkah di atas gelombang laut kidul yang datang
bergulung-gulung! Retna Wilis berdiri tanpa berkedip memandang dua orang itu
yang terus melangkah seakan-akan mereka itu sedang berjalan-jalan di dalam
taman saja. Kadang-kadang ombak menggunung menutup mereka, dan kadang-kadang
mereka muncul lagi. Mereka terus bergerak ke selatan sampai akhirnya bayangan
mereka lenyap di antara gelombang lautan yang makin bergelora. Retna Wilis
menahan isak saking kagum, terharu dan juga terheran-heran. Kemudian baru ia
merasa betapa air telah membasahi kainnya sampai ke paha, maka cepat ia
menjauhi air dan duduk di atas pasir, termenung memandang ke arah selatan,
mengharapkan sewaktu-waktu gurunya akan muncul dari selatan. Ia ingin sekali
mengetahui apa yang tampak oleh gurunya ketika memandang kakek itu, dan mengapa
gurunya lalu berlutut dan takluk, kemudian ia ingin tahu ke mana dua orang
sakti itu pergi. Namun, selamanya hal ini takkan pernah dapat dijawabnya,
takkan pernah dapat dijawab oleh siapa pun juga kecuali oleh manusia-manusia
yang telah terbuka mata batinnya akan hakekat hidup.
Retna Wilis
termenung sampai lama di. tepi laut, kemudian sadar bahwa gurunya takkan
kembali lagi, sadar bahwa dia kini berada seorang diri di atas permukaan dunia
ini. Hatinya mengeras, keberaniannya timbul dan ia lalu mengingat-ingat apa
yang dipesankan gurunya. Hawa Wisalangking telah berada di tubuhnya dan menurut
pesan gurunya, ia harus melatih diri, melatih aji kesaktian Wisalangking, cara
mempergunakannya seperti yang telah diterangkan gurunya. Dan ia harus pula mengambil
pedang Sapudenta dari dalam guha di bawah permukaan air laut. Kemudian, setelah
ada tanda lenyapnya bintang di atas puncak Gunung Cengger Jago, ia harus
meninggalkan pantai ini dan pergi ke Wilis. Retna Wilis membulatkan tekadnya
dan mulailah ia berlatih Aji Wisalangking yang amat dahsyat. Aji kesaktian ini
adalah aji yang paling dahsyat di antara semua ilmu yang dipelajarinya dari
Nini Bumigarba. Setahun kemudian, ia telah dapat melatih ilmu itu dengan baik,
sungguhpun belum sempurna benar, namun ia sudah dapat menguasai hawa
Wisalangking di tubuhnya. Menurut petunjuk gurunya, sesuai dengan cita-cita
gurunya dahulu untuk mengalahkan Ekadenta dengan Aji Wisalangking ditambah
penggunaan pedang Sapudenta, Retna Wilis lalu mendatangi pantai di sebelah barat.
Ia sudah tahu di mana adanya air ulekan di bawah karang Kukura, yaitu batu
karang di mana agaknya menjadi sarang binatang kura-kura raksasa karena
kura-kura raksasa yang mendarat untuk bertelur selalu muncul dari air ulekan
ini.
No comments:
Post a Comment