Perawan Lembah Wilis; Bagian 142


"Nini, andika seorang dara yang masih remaja, masih bocah, harap andika suka memberi keterangan sejujurnya. Percayalah, aku adalah seorang tua yang tidak menurutkan nafsu hati dan sama sekali tidak ada nafsu amarah yang mendorongku menghadapimu. Katakanlah, mengapa andika membunuh empat orang muridku? Kalau memang mereka itu bersalah, yakinlah bahwa aku akan menerimanya dengan penuh pengertian dan keprihatinan."
Sampai lama Retna Wilis menatap wajah kakek itu dan Ki Ageng Kelud melihat betapa sinar mata dara itu mengandung hawa maut dan hawa dingin yang mendirikan bulu roma sehingga diam-diam kakek ini dapat menduga bahwa kelak tentu dara ini akan merupakan tokoh yang akan menggegerkan dunia, seperti gurunya di waktu muda. Diam-diam ia memanjatkan doa kepada para dewata untuk keselamatan bocah ini sambil menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir yang berbentuk indah dan kemerahan itu.
"Ki Ageng Kelud, tidak ada apa-apa yang perlu diributkan. Empat ekor babi hutan yang menjadi muridmu itu pun tidak ada kesalahan apa-apa, hanya mereka itu minta mati dan aku meluluskan permintaan mereka. Apa sih anehnya?"

Ki Ageng Kelud terbelalak kaget. Dara itu masih bocah, akan tetapi jawabannya begitu dingin dan lebih menyeramkan daripada sikap dan kata-kata Nini Bumigarba sendiri! Dunia diancam malapetaka hebat yang merupakan diri bocah ini, pikirnya dan dia akan menghabiskan sisa hidup dan tenaganya untuk menentang ancaman bagi ketenteraman dunia ini.
"Nini, ceritakanlah. Bagaimana asal mulanya maka murid-muridku minta mati di tanganmu?"
Retna Wilis tidak sabar lagi, akan tetapi karena ia melihat betapa tadi gurunya melayani kakek ini, ia berpendapat bahwa kakek ini tentulah bukan orang sembarangan dan patut pula ia layani bercakap-cakap. Maka setelah menghela napas panjang ia berkata,
"Aku sedang memetik buah sawo ketika mereka datang. Yang paling muda memaksaku menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menyuruh aku turun. Aku bilang bahwa mereka sebaiknya pergi saja karena kalau kesabaranku habis, mereka akan kubunuh. Yang paling muda itu menertawakan aku dan menantang supaya aku membunuhnya. Nah, karena dia sendiri yang minta mati, aku lalu turun dan membunuhnya. Tiga orang kawannya marah-marah dan menyerangku. Kutanya apakah mereka juga ingin mati, dan mereka menjawab dengan serangan senjata mereka. Kuanggap mereka itu hendak berbelapati, maka aku turun tangan membunuhnya. Kemudian muncul kakek ini, akan tetapi karena dia tidak minta mati, aku pun tidak membunuhnya, hanya menyambitnya dengan buah sawo agar dia tidak menggangguku lagi."
Ki Ageng Kelud memandang dan tertegun. Bukan main! Dara ini liar dan ganas sekali dan ia dapat membayangkan peristiwa itu. Murid-muridnya tewas dalam keadaan penasaran. Dara seperti ini kalau tidak dibasmi, kelak akan merupakan malapetaka bagi manusia-manusia lain. Ia menghela napas panjang dan berkata,
"Nini Retna Wilis! Kalau aku si tua bangka ini minta mati di tanganmu, apakah engkau juga hendak membunuhku?"
Berkerut alis yang hitam menjelirit itu.
"Sesungguhnya aku bukan algojo tukang membunuh orang, Ki Ageng Kelud. Akan tetapi, kalau engkau menghendaki demikian dan berusaha membalas dendam kematian murid-muridmu, silahkan, aku tidak akan mundur selangkah, sekarang maupun kapan saja."
"Heh-he-heh, pertapa gemblung (pandir)! Andika berani bertanding melawan Retna Wilis muridku yang sakti mandraguna? Heh-heh-heh!" Ucapan ini jelas merupakan ejekan, karena sesungguhnya amat memalukan kalau seorang tokoh besar seperti Ki Ageng Kelud bertanding melawan seorang dara remaja yang masih bocah!
"Saya bertindak membela kematian murid-muris saya, kalau Paduka hendak membela murid Paduka, dan berkenan menamatkan hidup saya, silahkan, Nini Bumigarba," jawab kakek itu dengan suara halus. Ia maklum bahwa dia sama sekali bukanlah lawan Nini Bumigarba, akan tetapi kalau perlu, ia akan lawan juga, bukan hanya demi membalas kematian murid-muridnya, melainkan terutama sekali untuk menghalau bahaya yang mengancam ketenteraman dunia.
"Heh-heh, apa kau kira akan dapat mengalahkan muridku? Ki Ageng Kelud, kalau andika bisa mengalahkan Retna Wilis, berarti andika telah mengalahkan aku pula!"

Mendengar ini, Ki Ageng Kelud diam-diam terperanjat sekali. Ia maklum bahwa Nini Bumigarba adalah seorang yang kesaktiannya sukar dicari tandingnya dan bahwa seorang dengan kesaktian seperti nenek itu tidak ada alasan untuk bicara besar, maka ucapannya tadi berarti bahwa semua aji kesaktian nenek itu telah diwariskan kepada muridnya ini! Dia telah mendengar penuturan Ki Warok Surobledug akan kesaktian dara remaja itu yang amat luar biasa, dan kini ia baru benar-benar yakin bahwa dara ini merupakan lawan yang amat berbahaya dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
"Bagus! Saya menyerahkan nyawa di tangan Dewata kalau saya gagal membasmi pengaruh buruk yang mengotorkan dunia. Nini, bersiaplah engkau!"
"Majulah, Ki Ageng Kelud, aku siap membunuhmu seperti yang kau minta!" kata Retna Wilis, sikapnya dingin dan sama sekali tidak kelihatan tegang, seolah-olah dia tidak sedang menghadapi tantangan seorang lawan yang sakti. Ketenangannya amat mengerikan sehingga Ki Warok Surobledug yang berdiri menonton di situ menjadi tegang dan merinding bulu tengkuknya. Biarpun dia sudah cukup yakin akan kesanggupan dan kedigdayaan  Ki Ageng Kelud, namun kini ia merasa ragu apakah kakek yang dipujanya itu akan sanggup menandingi bocah yang tidak lumrah manusia, melainkan lebih tepat disebut wanita iblis ini. Ki Ageng Kelud bersedakap dan menundukkan muka, mengheningkan cipta sejenak untuk berdoa kepada Dewata bahwa kini ia menghadapi sebuah pertandingan mati-matian tanpa pamrih untuk diri pribadi, tanpa dikendalikan nafsu, baik nafsu amarah maupun dendam, melainkan semata karena sadar dan yakin bahwa jika dara berwatak iblis ini tidak dibasmi, kelak akan mendatangkan malapetaka bagi manusia. Setelah ia mengangkat muka lagi, sepasang matanya mengeluarkan sinar bersemangat, kemudian ia melangkah maju menghampiri Retna Wilis. Dara sakti itu memandang tak acuh, kemudian tubuhnya berkelebat maju dan tangan kirinya menampar secara sembarangan. Biarpun gerakannya sembarangan saja, namun di dalam kesederhanaan ini terkandung kekuatan dahsyat, seperti dahsyatnya pukulan ombak samudera menghamtam karang yang kelihatannya juga sembarangan saja namun dapat menggetarkan gunung karang! Ki Ageng Kelud dapat merasa datangnya angin pukulan hawa sakti yang terbawa oleh tamparan itu. Ia menjadi kaget dan kagum sekali. Dalam detik itu maklumlah ia mengapa empat orang muridnya bukan lawan dara ini yang sesungguhnya memiliki tangan yang ampuhnya menggila. Namun, sebagai seorang tokoh tua, ia merasa tidak semestinya mengelak seperti orang takut menghadapi tamparan pertama lawannya yang masih bocah, maka dengan niat mencoba dan mengukur tenaga, ia mengangkat lengan kanannya menangkis.
"PlakkI" Dua tenaga sakti bertemu melalui kedua lengan itu dan akibatnya, Retna Wilis dipaksa melangkah mundur tiga tindak, akan tetapi di, lain pihak, kakek itu terhuyung ke belakang sampai tubuhnya mendoyong miring. Makin kagetlah Ki Ageng Kelud. Kini ia yakin bahwa tenaga sakti dara itu benar-benar hebat dan dia tidak perlu menaruh sungkan lagi karena biarpun masih bocah, namun dara ini merupakan lawan paling tangguh yang pernah ia hadapi. Cepat ia mengatur keseimbangan tubuhnya dan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang ke atas dan bagaikan seekor burung garuda, ia telah menubruk dengan kedua lengan dipentang dan kedua tangan seperti sepasang cakar garuda mencengkeram ke arah pundak dan kepala Retna Wilis.

Hebat bukan main serangan balasan kakek ini. Ki Ageng Kelud memiliki sebuah ilmu yang amat dahsyat, ciptaannya sendiri selama dia bertapa di Gunung Kelud sampai puluhan tahun lamanya, ilmu yang belum pernah ia ajarkan kepada murid-muridnya karena selain terlalu dahsyat, juga ilmu ini amat sukar dipelajari, membutuhan tenaga sakti yang sudah mencapai puncak tinggi. Ilmu ini disebut Garuda Manang yang ia ciptakan dari gerakan seekor burung garuda yang sedang marah karena sarangnya yang berada di puncak randu alas digerumut seekor ular. Menyaksikan gerakan garuda menyambar-nyambar dan akhirnya membunuh ular besar itu menimbulkan ilham bagi kakek sakti ini sehingga ia berhasil mencipta sebuah, gerak silat yang selain dahsyat, juga amat sukar dipelajari, yaitu Aji Garuda Manang. Kini, menghadapi seorang lawan yang ia tahu amat tangguh, tanpa meragu lagi kakek ini menggunakan ilmu yang sudah dilatih masak-masak namun belum pernah ia pergunakan dalam pertandingan itu. Retna Wilis adalah seorang dara gemblengan yang luar biasa, digembleng oleh seorang manusia yang memiliki kesaktian tidak lumrah, akan tetapi dia masih belum berpengalaman, amat percaya kepada diri sendiri dan tidak mengenal takut, juga tidak memandang sebelah mata kepada lawan yang mana pun juga. Kini, menghadapi terjangan Ki Ageng Kelud yang tubuhnya melayang di udara itu, Retna Wilis tidak bergerak, tidak menangkis tidak mengelak, melainkan diam menanti datangnya serangan sambil mengerahkan Aji Argoselo yang membuat tubuhnya kokoh kuat dan kebal seperti batu gunung atau batu karang yang sanggup menerima hantaman ombak samudera.
"Desss .... !!”
Betapapun sudah teguh dan bulat tekat di hati Ki Ageng Kelud untuk menewaskan gadis yang dianggapnya merupakan ancaman bagi ketenteraman dunia itu, namun hati kakek ini sudah penuh dengan welas asih yang dipupuknya selama puluhan tahun. Oleh karena itu, melihat Retna Wilis tidak mengelak maupun menangkis terjangan yang dahsyat, ia terkejut sendiri dan otomatis, timbul dari sifat welas asihnya, ia merubah cengkeramannya, tidak menyerang kepala melainkan mencengkeram kedua pundak dara itu. Akan tetapi, terjangannya yang dahsyat itu tertumbuk dengan tubuh yang keras dan kebal melebihi baja dan yang mengeluarkan tenaga dahsyat pula menggempur tenaganya sendiri. Tubuh Retna Wilis hanya bergetar dan berguncang seperti batu karang diterjang ombak, sebaliknya, seperti air laut pula tubuh Ki Ageng Kelud terpelanting dan roboh terguling-guling! Retna Wilis yang merasa betapa tubuhnya tergetar hebat sehingga ia harus mengerahkan seluruh hawa sakti di tubuhnya agar jangan roboh, menjadi terkejut juga dan timbullah kemarahannya yang ditahan-tahan. Baru sekali ini ia merasakan serangan yang demikian dahsyatnya, dan hal ini membuat hatinya penasaran. Ketika melihat tubuh lawan bergulingan dan wajah kakek itu menjadi, pucat, ia mengeluarkan pekik melengking, dan menerjang maju, menggunakan tumit kaki kanannya untuk menginjak hancur kepala kakek Hu! Ki Ageng Kelud maklum akan datangnya ancaman maut, cepat ia yang masih pening menggulingkan diri mengelak dan kaki Retna Wilis amblas memasuki tanah sampai sebetis dalamnya! Dapat dibayangkan betapa mengerikan kalau kaki yang mengandung kekuatan itu tadi mengenai kepala Ki Ageng Kelud, tentu akan remuk dan pecah berantakan. Ki Ageng Kelud cepat melompat bangun, menggoyang kepalanya mengusir kepeningan sambil siap-siap menghadapi lawannya yang amat tangguh itu.

"Hi-hi-hik, sebentar lagi engkau mampus, pertapa tua!" Terdengar Nini Bumigarba tertawa mengejek, hatinya girang menyaksikan kehebatan sepak terjang muridnya. Mendengar suara gurunya ini, Retna Wilis "mendapat hati" dan segera ia memekik lagi sambil menerjang dengan gerakan cepat sekali. Bagi mata biasa, tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan berputaran yang membawa debu beterbangan, sedangkan bagi pandang mata Ki Ageng Kelud, ia. melihat betapa gerakan tubuh dara itu amat cepatnya, berputaran dengan kedua lengan dikembangkan dan dari putaran tubuhnya itu melancarkanlah pukulan-pukulan yang dahyat dan mendatangkan angin berpusingan. Inilah Aji Pancaroba yang hebatnya seperti amukan angin taufan! Maklum akan hebatnya serangan ini, Ki Ageng Kelud bersikap tenang dan mencurahkan segenap tenaga dan kepandaiannya untuk bertahan dan membela serta melindungi dirinya. Untung bahwa ia seorang tokoh yang berpengalaman dan gerakannya mantap dan tenang, kalau tidak tentu dia tidak akan dapat bertahan lama menghadapi Aji Pancaroba yang hebatnya bukan main ini. Betapapun juga, dia segera terdesak dan terus mundur-mundur dan berputaran, sama sekali tidak lagi mampu membalas. Dia sudah tua, tenaganya sudah banyak berkurang dan napasnya tidak sepanjang puluhan tahun yang lalu, daya tahannya berkurang. Sebaliknya, Retna Wilis makin lama makin hebat dan cepat gerakannya. Kalau kakek ini berhasil menyusupkan satu dua pukulan, tubuh Retna Wilis menahannya dan sama sekali tidak merasai pukulan itu, seolah-olah dipijat tangan lunak saja. Sebaliknya, setiap kaki tangan dara itu menyerempet pundak atau bahu, tubuh kakek itu tergetar dan terhuyung-huyung. Ki Ageng Kelud terdesak hebat, setiap saat tentu roboh dan terdengarlah Nini Bumigarba terkekeh-kekeh mentertawakan kakek itu. Ki Warok Surobledug berdiri dengan muka pucat, maklum bahwa sebentar lagi tentu ia akan menyaksikan pertapa yang dijunjungnya tinggi-tinggi itu rebah tak bernyawa. Dia menjadi gelisah dan bingung, hendak membantu maklum bahwa tenaganya tidak ada artinya bahkan merupakan bunuh diri, tidak membantu, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Kekhawatiran Ki Warok Surobledug segera terjadi. Ketika tubuh Ki Ageng Kelud untuk ke sekian kalinya terhuyung oleh dorongan angin pukulan dahsyat, Retna Wilis memekik dan mengirim pukulan dengan jari tangan ke arah muka kakek itu.

<<< Bagian 141                                                                                      Bagian 143 >>>

No comments:

Post a Comment