"Nini, andika seorang dara yang masih remaja, masih bocah, harap andika suka memberi keterangan sejujurnya. Percayalah, aku adalah seorang tua yang tidak menurutkan nafsu hati dan sama sekali tidak ada nafsu amarah yang mendorongku menghadapimu. Katakanlah, mengapa andika membunuh empat orang muridku? Kalau memang mereka itu bersalah, yakinlah bahwa aku akan menerimanya dengan penuh pengertian dan keprihatinan."
Sampai lama Retna Wilis
menatap wajah kakek itu dan Ki Ageng Kelud melihat betapa sinar mata dara itu
mengandung hawa maut dan hawa dingin yang mendirikan bulu roma sehingga
diam-diam kakek ini dapat menduga bahwa kelak tentu dara ini akan merupakan
tokoh yang akan menggegerkan dunia, seperti gurunya di waktu muda. Diam-diam ia
memanjatkan doa kepada para dewata untuk keselamatan bocah ini sambil menunggu
jawaban yang akan keluar dari bibir yang berbentuk indah dan kemerahan itu.
"Ki Ageng Kelud, tidak
ada apa-apa yang perlu diributkan. Empat ekor babi hutan yang menjadi muridmu
itu pun tidak ada kesalahan apa-apa, hanya mereka itu minta mati dan aku
meluluskan permintaan mereka. Apa sih anehnya?"
Ki Ageng Kelud terbelalak
kaget. Dara itu masih bocah, akan tetapi jawabannya begitu dingin dan lebih
menyeramkan daripada sikap dan kata-kata Nini Bumigarba sendiri! Dunia diancam
malapetaka hebat yang merupakan diri bocah ini, pikirnya dan dia akan
menghabiskan sisa hidup dan tenaganya untuk menentang ancaman bagi ketenteraman
dunia ini.
"Nini, ceritakanlah.
Bagaimana asal mulanya maka murid-muridku minta mati di tanganmu?"
Retna Wilis tidak sabar
lagi, akan tetapi karena ia melihat betapa tadi gurunya melayani kakek ini, ia
berpendapat bahwa kakek ini tentulah bukan orang sembarangan dan patut pula ia
layani bercakap-cakap. Maka setelah menghela napas panjang ia berkata,
"Aku sedang memetik
buah sawo ketika mereka datang. Yang paling muda memaksaku menjawab
pertanyaan-pertanyaannya dan menyuruh aku turun. Aku bilang bahwa mereka
sebaiknya pergi saja karena kalau kesabaranku habis, mereka akan kubunuh. Yang
paling muda itu menertawakan aku dan menantang supaya aku membunuhnya. Nah,
karena dia sendiri yang minta mati, aku lalu turun dan membunuhnya. Tiga orang
kawannya marah-marah dan menyerangku. Kutanya apakah mereka juga ingin mati,
dan mereka menjawab dengan serangan senjata mereka. Kuanggap mereka itu hendak
berbelapati, maka aku turun tangan membunuhnya. Kemudian muncul kakek ini, akan
tetapi karena dia tidak minta mati, aku pun tidak membunuhnya, hanya
menyambitnya dengan buah sawo agar dia tidak menggangguku lagi."
Ki Ageng Kelud memandang dan
tertegun. Bukan main! Dara ini liar dan ganas sekali dan ia dapat membayangkan
peristiwa itu. Murid-muridnya tewas dalam keadaan penasaran. Dara seperti ini
kalau tidak dibasmi, kelak akan merupakan malapetaka bagi manusia-manusia lain.
Ia menghela napas panjang dan berkata,
"Nini Retna Wilis!
Kalau aku si tua bangka ini minta mati di tanganmu, apakah engkau juga hendak
membunuhku?"
Berkerut alis yang hitam
menjelirit itu.
"Sesungguhnya aku bukan
algojo tukang membunuh orang, Ki Ageng Kelud. Akan tetapi, kalau engkau
menghendaki demikian dan berusaha membalas dendam kematian murid-muridmu,
silahkan, aku tidak akan mundur selangkah, sekarang maupun kapan saja."
"Heh-he-heh, pertapa gemblung
(pandir)! Andika berani bertanding melawan Retna Wilis muridku yang sakti
mandraguna? Heh-heh-heh!" Ucapan ini jelas merupakan ejekan, karena
sesungguhnya amat memalukan kalau seorang tokoh besar seperti Ki Ageng Kelud
bertanding melawan seorang dara remaja yang masih bocah!
"Saya bertindak membela
kematian murid-muris saya, kalau Paduka hendak membela murid Paduka, dan
berkenan menamatkan hidup saya, silahkan, Nini Bumigarba," jawab kakek itu
dengan suara halus. Ia maklum bahwa dia sama sekali bukanlah lawan Nini Bumigarba,
akan tetapi kalau perlu, ia akan lawan juga, bukan hanya demi membalas kematian
murid-muridnya, melainkan terutama sekali untuk menghalau bahaya yang mengancam
ketenteraman dunia.
"Heh-heh, apa kau kira
akan dapat mengalahkan muridku? Ki Ageng Kelud, kalau andika bisa mengalahkan
Retna Wilis, berarti andika telah mengalahkan aku pula!"
Mendengar ini, Ki Ageng
Kelud diam-diam terperanjat sekali. Ia maklum bahwa Nini Bumigarba adalah
seorang yang kesaktiannya sukar dicari tandingnya dan bahwa seorang dengan
kesaktian seperti nenek itu tidak ada alasan untuk bicara besar, maka ucapannya
tadi berarti bahwa semua aji kesaktian nenek itu telah diwariskan kepada
muridnya ini! Dia telah mendengar penuturan Ki Warok Surobledug akan kesaktian
dara remaja itu yang amat luar biasa, dan kini ia baru benar-benar yakin bahwa
dara ini merupakan lawan yang amat berbahaya dan sama sekali tidak boleh
dipandang ringan.
"Bagus! Saya
menyerahkan nyawa di tangan Dewata kalau saya gagal membasmi pengaruh buruk
yang mengotorkan dunia. Nini, bersiaplah engkau!"
"Majulah, Ki Ageng
Kelud, aku siap membunuhmu seperti yang kau minta!" kata Retna Wilis,
sikapnya dingin dan sama sekali tidak kelihatan tegang, seolah-olah dia tidak
sedang menghadapi tantangan seorang lawan yang sakti. Ketenangannya amat
mengerikan sehingga Ki Warok Surobledug yang berdiri menonton di situ menjadi
tegang dan merinding bulu tengkuknya. Biarpun dia sudah cukup yakin akan
kesanggupan dan kedigdayaan Ki Ageng
Kelud, namun kini ia merasa ragu apakah kakek yang dipujanya itu akan sanggup
menandingi bocah yang tidak lumrah manusia, melainkan lebih tepat disebut
wanita iblis ini. Ki Ageng Kelud bersedakap dan menundukkan muka, mengheningkan
cipta sejenak untuk berdoa kepada Dewata bahwa kini ia menghadapi sebuah
pertandingan mati-matian tanpa pamrih untuk diri pribadi, tanpa dikendalikan
nafsu, baik nafsu amarah maupun dendam, melainkan semata karena sadar dan yakin
bahwa jika dara berwatak iblis ini tidak dibasmi, kelak akan mendatangkan malapetaka
bagi manusia. Setelah ia mengangkat muka lagi, sepasang matanya mengeluarkan
sinar bersemangat, kemudian ia melangkah maju menghampiri Retna Wilis. Dara
sakti itu memandang tak acuh, kemudian tubuhnya berkelebat maju dan tangan
kirinya menampar secara sembarangan. Biarpun gerakannya sembarangan saja, namun
di dalam kesederhanaan ini terkandung kekuatan dahsyat, seperti dahsyatnya
pukulan ombak samudera menghamtam karang yang kelihatannya juga sembarangan
saja namun dapat menggetarkan gunung karang! Ki Ageng Kelud dapat merasa
datangnya angin pukulan hawa sakti yang terbawa oleh tamparan itu. Ia menjadi
kaget dan kagum sekali. Dalam detik itu maklumlah ia mengapa empat orang
muridnya bukan lawan dara ini yang sesungguhnya memiliki tangan yang ampuhnya
menggila. Namun, sebagai seorang tokoh tua, ia merasa tidak semestinya mengelak
seperti orang takut menghadapi tamparan pertama lawannya yang masih bocah, maka
dengan niat mencoba dan mengukur tenaga, ia mengangkat lengan kanannya
menangkis.
"PlakkI" Dua tenaga
sakti bertemu melalui kedua lengan itu dan akibatnya, Retna Wilis dipaksa
melangkah mundur tiga tindak, akan tetapi di, lain pihak, kakek itu terhuyung
ke belakang sampai tubuhnya mendoyong miring. Makin kagetlah Ki Ageng Kelud.
Kini ia yakin bahwa tenaga sakti dara itu benar-benar hebat dan dia tidak perlu
menaruh sungkan lagi karena biarpun masih bocah, namun dara ini merupakan lawan
paling tangguh yang pernah ia hadapi. Cepat ia mengatur keseimbangan tubuhnya
dan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang ke atas dan bagaikan
seekor burung garuda, ia telah menubruk dengan kedua lengan dipentang dan kedua
tangan seperti sepasang cakar garuda mencengkeram ke arah pundak dan kepala
Retna Wilis.
Hebat bukan main serangan
balasan kakek ini. Ki Ageng Kelud memiliki sebuah ilmu yang amat dahsyat,
ciptaannya sendiri selama dia bertapa di Gunung Kelud sampai puluhan tahun
lamanya, ilmu yang belum pernah ia ajarkan kepada murid-muridnya karena selain
terlalu dahsyat, juga ilmu ini amat sukar dipelajari, membutuhan tenaga sakti
yang sudah mencapai puncak tinggi. Ilmu ini disebut Garuda Manang yang ia
ciptakan dari gerakan seekor burung garuda yang sedang marah karena sarangnya
yang berada di puncak randu alas digerumut seekor ular. Menyaksikan gerakan garuda
menyambar-nyambar dan akhirnya membunuh ular besar itu menimbulkan ilham bagi
kakek sakti ini sehingga ia berhasil mencipta sebuah, gerak silat yang selain
dahsyat, juga amat sukar dipelajari, yaitu Aji Garuda Manang. Kini, menghadapi
seorang lawan yang ia tahu amat tangguh, tanpa meragu lagi kakek ini
menggunakan ilmu yang sudah dilatih masak-masak namun belum pernah ia
pergunakan dalam pertandingan itu. Retna Wilis adalah seorang dara gemblengan
yang luar biasa, digembleng oleh seorang manusia yang memiliki kesaktian tidak
lumrah, akan tetapi dia masih belum berpengalaman, amat percaya kepada diri
sendiri dan tidak mengenal takut, juga tidak memandang sebelah mata kepada
lawan yang mana pun juga. Kini, menghadapi terjangan Ki Ageng Kelud yang
tubuhnya melayang di udara itu, Retna Wilis tidak bergerak, tidak menangkis
tidak mengelak, melainkan diam menanti datangnya serangan sambil mengerahkan
Aji Argoselo yang membuat tubuhnya kokoh kuat dan kebal seperti batu gunung
atau batu karang yang sanggup menerima hantaman ombak samudera.
"Desss .... !!”
Betapapun sudah teguh dan
bulat tekat di hati Ki Ageng Kelud untuk menewaskan gadis yang dianggapnya
merupakan ancaman bagi ketenteraman dunia itu, namun hati kakek ini sudah penuh
dengan welas asih yang dipupuknya selama puluhan tahun. Oleh karena itu,
melihat Retna Wilis tidak mengelak maupun menangkis terjangan yang dahsyat, ia
terkejut sendiri dan otomatis, timbul dari sifat welas asihnya, ia merubah
cengkeramannya, tidak menyerang kepala melainkan mencengkeram kedua pundak dara
itu. Akan tetapi, terjangannya yang dahsyat itu tertumbuk dengan tubuh yang
keras dan kebal melebihi baja dan yang mengeluarkan tenaga dahsyat pula
menggempur tenaganya sendiri. Tubuh Retna Wilis hanya bergetar dan berguncang
seperti batu karang diterjang ombak, sebaliknya, seperti air laut pula tubuh Ki
Ageng Kelud terpelanting dan roboh terguling-guling! Retna Wilis yang merasa
betapa tubuhnya tergetar hebat sehingga ia harus mengerahkan seluruh hawa sakti
di tubuhnya agar jangan roboh, menjadi terkejut juga dan timbullah kemarahannya
yang ditahan-tahan. Baru sekali ini ia merasakan serangan yang demikian
dahsyatnya, dan hal ini membuat hatinya penasaran. Ketika melihat tubuh lawan
bergulingan dan wajah kakek itu menjadi, pucat, ia mengeluarkan pekik
melengking, dan menerjang maju, menggunakan tumit kaki kanannya untuk menginjak
hancur kepala kakek Hu! Ki Ageng Kelud maklum akan datangnya ancaman maut,
cepat ia yang masih pening menggulingkan diri mengelak dan kaki Retna Wilis
amblas memasuki tanah sampai sebetis dalamnya! Dapat dibayangkan betapa
mengerikan kalau kaki yang mengandung kekuatan itu tadi mengenai kepala Ki
Ageng Kelud, tentu akan remuk dan pecah berantakan. Ki Ageng Kelud cepat
melompat bangun, menggoyang kepalanya mengusir kepeningan sambil siap-siap
menghadapi lawannya yang amat tangguh itu.
"Hi-hi-hik,
sebentar lagi engkau mampus, pertapa tua!" Terdengar Nini Bumigarba
tertawa mengejek, hatinya girang menyaksikan kehebatan sepak terjang muridnya.
Mendengar suara gurunya ini, Retna Wilis "mendapat hati" dan segera
ia memekik lagi sambil menerjang dengan gerakan cepat sekali. Bagi mata biasa,
tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan berputaran yang membawa debu
beterbangan, sedangkan bagi pandang mata Ki Ageng Kelud, ia. melihat betapa
gerakan tubuh dara itu amat cepatnya, berputaran dengan kedua lengan
dikembangkan dan dari putaran tubuhnya itu melancarkanlah pukulan-pukulan yang
dahyat dan mendatangkan angin berpusingan. Inilah Aji Pancaroba yang hebatnya
seperti amukan angin taufan! Maklum akan hebatnya serangan ini, Ki Ageng Kelud
bersikap tenang dan mencurahkan segenap tenaga dan kepandaiannya untuk bertahan
dan membela serta melindungi dirinya. Untung bahwa ia seorang tokoh yang
berpengalaman dan gerakannya mantap dan tenang, kalau tidak tentu dia tidak
akan dapat bertahan lama menghadapi Aji Pancaroba yang hebatnya bukan main ini.
Betapapun juga, dia segera terdesak dan terus mundur-mundur dan berputaran,
sama sekali tidak lagi mampu membalas. Dia sudah tua, tenaganya sudah banyak
berkurang dan napasnya tidak sepanjang puluhan tahun yang lalu, daya tahannya
berkurang. Sebaliknya, Retna Wilis makin lama makin hebat dan cepat gerakannya.
Kalau kakek ini berhasil menyusupkan satu dua pukulan, tubuh Retna Wilis menahannya
dan sama sekali tidak merasai pukulan itu, seolah-olah dipijat tangan lunak
saja. Sebaliknya, setiap kaki tangan dara itu menyerempet pundak atau bahu,
tubuh kakek itu tergetar dan terhuyung-huyung. Ki Ageng Kelud terdesak hebat,
setiap saat tentu roboh dan terdengarlah Nini Bumigarba terkekeh-kekeh
mentertawakan kakek itu. Ki Warok Surobledug berdiri dengan muka pucat, maklum
bahwa sebentar lagi tentu ia akan menyaksikan pertapa yang dijunjungnya
tinggi-tinggi itu rebah tak bernyawa. Dia menjadi gelisah dan bingung, hendak
membantu maklum bahwa tenaganya tidak ada artinya bahkan merupakan bunuh diri,
tidak membantu, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Kekhawatiran Ki Warok
Surobledug segera terjadi. Ketika tubuh Ki Ageng Kelud untuk ke sekian kalinya
terhuyung oleh dorongan angin pukulan dahsyat, Retna Wilis memekik dan mengirim
pukulan dengan jari tangan ke arah muka kakek itu.
No comments:
Post a Comment