"Ih, bagaimana kau bisa tahu?"
"Mudah saja, Eyang.
Eyang sendiri berkali-kali menasehati agar aku tidak mencinta, tidak pula
membenci. Akan tetapi Eyang kelihatannya amat membenci Ekadenta sehingga Eyang
menciptakan pedang pusaka, dan mendidik aku untuk kelak mengalahkan muridnya.
Eyang amat membenci Ekadenta, tentu karena amat mencintanya."
"Wah-wah, kiranya
perasaan wanitamu masih halus dan peka! Aku khawatir sekali, Retna Wilis."
"Tak perlu khawatir,
Eyang. Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada siapa pun juga. Laki-laki
seperti babi hutan!" Ia teringat akan Jayus dan tiga orang kawannya yang
dibunuhnya di hutan.
Demikianlah, sejak hari tadi
sampai tiga hari tiga malam lamanya, Retna Wilis berpuasa dan yang dilakukannya
selama tiga hari tiga malam ini hanya duduk bersila memejamkan mata, bersamadhi
mengheningkan cipta, ditujukan untuk membersihkan dan membuka lahir batinnya
untuk menerima ilmu yang oleh gurunya disebut dengan nama Aji Wisalangking.
Memang amat mengagumkan dan patut dipuji keteguhan hati dan kekuatan kemauan
dara ini. Selama lima tahun ia selalu berada di pantai dan setiap hari hanya
makan tetumbuhan laut dan ikan. Kini, baru saja ia mendapatkan buah-buahan dan
daging kelinci, sebelum menikmati sedikit pun, ia telah berpuasa, namun sama
sekali ia tidak terseret oleh selera dan nafsunya! Buah nangka yang dibawanya
pulang, makin masak dan kalau malam mengeluarkan bau yang sedap menggugah
selera. Namun, perasaan Retna Wilis sedikit pun juga tidak terpengaruh karena
dalam keadaan samadhi seperti itu, penciumannya, seperti juga inderanya yang
lain, seolah-olah mati untuk sementara, semua panca indria telah
"ditarik" ke dalam sehingga tidak terpengaruh oleh keadaan di luar
tubuh.
Tiga hari kemudian, Nini Bumigarba
menyadarkan muridnya dari samadhi. Begitu Retna Wilis membuka mata dan pandang
matanya kembali memasuki dunia, ia lalu diangkat bangun oleh gurunya, digandeng
tangannya diajak pergi ke pantai sebelah barat di mana terdapat batu-batu licin
dan di pantai ini, air laut amat bersih, tidak bercampur pasir. Pada waktu itu,
hari telah menjelang senja, langit gelap oleh awan mendung yang bunting tua dan
bergerak-gerak seperti hidup, merupakan barisan raksasa-raksasa hitam yang
tiada kunjung habis, bergerak dari selatan ke utara. Angkasa yang gelap oleh
mendung itu kadang-kadang dibakar kilat berceleret, seperti senjata-senjata
pusaka para pemimpin barisan itu. Keadaan di angkasa yang menyeramkan ini
mempengaruhi air laut pula karena air laut tampak makin mengganas, suaranya
bergemuruh dan ombak-ombak kecil tiada hentinya bergerak seolah-olah laut
sendiri merasa gentar menghadapi ancaman serangan barisan raksasa di angkasa
itu. Alam sepenuhnya memperlihatkan kehebatan dan kekuasaannya yang maha besar
dan menggiriskan hati manusia. Dan dalam keadaan seperti inilah, Nini Bumigarba
menyuruh muridnya berlutut di atas batu karang yang licin, sedangkan dia
sendiri berdiri tegak di depan muridnya, dengan kedua kaki terpentang.
Retna Wilis disuruh
"membuka" tubuh bagian dalam untuk menerima hawa sakti. Gadis ini
berlutut dengan kedua lengan bergantung lepas, tubuh lemas karena selain
berpuasa, juga ia melolos semua tenaga melawan agar dapat menerima hawa sakti
dari gurunya. Air laut bergerak datang dan pergi lagi. Mula-mula hanya
menyentuh lutut Retna Wilis dan mata kaki Nini Bumigarba, akan tetapi makin
lama makin membesar sehingga ada kalanya air sampai merendam tubuh Retna Wilis
sampai ke leher dan Nini Bumigarba sampai ke pinggang! Namun, dua orang itu
tetap tidak bergerak, seolah-olah tidak merasakan ini semua. Retna Wilis tetap
berlutut menundukkan muka, adapun Nini Bumigarba masih berdiri tegak dan
menengadahkan muka ke atas, seolah-olah sedang asyik menonton awan mendung
berarak atau sedang memohon kepada para dewata yang dianggap bertempat tinggal
di atas! Retna Wilis tetap menanti dengan penuh kesabaran, penuh kepasrahan dan
penuh kepercayaan.
Tiba-tiba seluruh tubuh
nenek tua itu menggigil, mula- mula seperti orang kedinginan, makin lama makin
hebat dan perlahan-lahan nenek ini mengangkat kedua tangannya, terus digerakkan
ke atas dengan sikap seolah-olah ia sedang menerima sesuatu dari atas, dari
tangan yang tak tampak. Kemudian, perlahan-lahan ia meletakkan tangan kirinya
menyentuh ubun-ubun kepala Retna Wilis, sedangkan tangan kanannya dengan
jari-jari terbuka tergetar hebat dan muncullah getaran-gataran hawa sakti
menuju ke muka dan dada Retna Wilis.
"Muridku, terimalah
hawa sakti Wisalangking .... !" Suara Nini Bumigarba terdengar seakan-akan
dari angkasa menghitam dan dari tangan kanannya yang mengeluarkan hawa mujijat
itu tampak sinar menguap hitam, makin lama makin tebal menutup wajah Retna
Wilis. Ada sejam lamanya mereka berdua dalam keadaan seperti itu, tidak
bergerak dan Retna Wilis merasa betapa seluruh tubuhnya penuh oleh hawa panas
bergetar yang membuat tubuhnya menggigil. Akan tetapi dengan penuh kepasrahan
ia tetap "membuka" dirinya untuk nenerima hawa sakti itu sebanyak dan
sepenuhnya.
Setelah mendengar suara
nenek itu mengeluh panjang, barulah Retna Wilis "menutup" dirinya dan
membuka mata. Ia melihat nenek itu telah berlutut dengan lemas bahkan hampir
terbawa hanyut oleh ombak yang datang. Cepat ia menyambar tubuh gurunya dan
memondongnya, dibawa meloncat ke darat, kemudian dibawa kembali ke dalam guha
di mana biasanya nenek itu duduk bersamadhi. Tubuh nenek itu lemas sekali, akan
tetapi ketika Retna Wilis merebahkan atas tanah, ia tersenyum dan, berkata
lemah,
"Berhasil
baik.....Wisalangking telah kupindahkan ke tubuhmu .... “
Tiba-tiba Retna Wilis merasa
perutnya mual dan ada hawa membumbung dari pusarnya, membawa bau yang amis
sekali sehingga ia hampir muntah-muntah.
"Jangan khawatir
.....kerahkan hawa sakti di tubuh, tekan pusarmu, jangan membiarkannya keluar.
Itulah pengaruh dari wisa (racun) Wisalangking. Biarkan dia terbiasa di
tubuhmu, kalau kau sudah dapat menundukkannya, takkan terasa apa-apa ...“
Mendengar ini, cepat Retna Wilis duduk bersila dan mengerahkan tenaga mengatur
napas. Benar saja, rasa muak dan mual lenyap, bau amis pun hilang. Setelah
keadaan diri sendiri baik kembali, mulailah Retna Wilis merawat gurunya yang
kelihatan lemah sekali. Sampai semalam suntuk dara remaja ini merawat gurunya
tanpa banyak cakap, menyuapkan pisang ke dalam mulut gurunya dan ia sendiri pun
mulai mengisi perutnya dengan buah-buah yang ia ambil dari hutan tiga hari yang
lalu. Pada keesokan harinya, Retna Wilis melihat betapa wajah gurunya telah
banyak berubah. Kini nenek itu kehilangan seri wajahnya, kehilangan sinar yang
membayangkan semangat, tampak layu dan juga kentara sekali ketuaannya. Akan
tetapi kesehatannya agaknya sudah pulih dan nenek itu sudah dapat keluar dari
guha dan seperti biasa, bersama muridnya ia duduk berjemur matahari pagi di
atas pasir.
"Kau ingat baik-baik
pesanku kemarin dulu," nenek itu berkata.
"Terutama sekali jangan
pergi dari sini sebelum melihat tanda bintang. Sekarang perhatikan bagaimana
engkau harus melatih diri untuk membangkitkan Wisalangking dalam tubuhmu dan
mempergunakan hawa sakti itu dalam serangan pukulan." Nenek itu lalu
memberi petunjuk-petunjuk yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Retna
Wilis sehingga setelah matahari naik tinggi, dia sudah hafal akan semua teori
penggunaan Aji Wisalangking. Setelah ia mengerti benar bagaimana harus melatih
diri, Retna Wilis bertanya,
"Eyang, mengapa Eyang
kelihatan tergesa-gesa seperti ini? Eyang masih sehat dan kita tidak akan
saling berpisah." Nenek itu tersenyum, senyum yang menambah tua wajahnya,
dan menoleh ke belakang, ke arah utara.
"Tidak lama lagi
...tidak lama lagi .....lihat siapa yang datang itu!"
Retna Wilis dengan tenang
menoleh dan ketika ia melihat bahwa yang datang adalah Ki Warok Surobledug yang
tempo hari ia lukai bersama seorang kakek tua berambut putih dan tubuhnya gemuk
pendek, ia lalu bangkit berdiri.
"Eyang, dialah babi
hutan tua yang pernah kujumpai di hutan dan kulukai. Dia datang lagi bersama
seorang kakek tua, entah mau apa dia!"
"Hi-hi-hik, jadi ketika
kau bilang telah membunuh empat ekor babi hutan kemarin dulu, kau maksudkan
empat orang laki-laki? He-he-heh, sekarang, kau boleh hadapi mereka, hendak
kulihat bagaimana sepak terjang muridku!" Nenek itu memutar tubuh
menghadap ke utara, masih duduk bersila dan wajahnya yang tadinya keruh dan
kusut itu mendapatkan kembali semangat dan agak berseri....Retna Wilis sudah
mengebutkan pakaiannya untuk membersihkannya dari pasir dan ia melangkah maju
tiga tindak lalu berdiri menanti datangnya dua orang kakek itu. Dia tidak
memandang kepada Ki Warok Surobledug yang dianggapnya ringan, melainkan
memandang kakek rambut putih yang datang bersama warok itu. Kakek ini pendek
dan gemuk sekali, wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot, mulutnya tersenyum
penuh kesabaran, dan usianya tentu sudah mencapai sedikitnya tujuh puluh tahun.
Jubahnya berwarna kuning, dengan lengan baju lebar sekali sehingga kedua
tangannya tertutup. Langkahnya ringan dan halus, namun dapat mengimbangi
kecepatan langkah Ki Warok Surobledug yang lebar-lebar. Begitu tiba di tempat
itu, kakek rambut putih itu lalu membungkuk kepada Nini Bumigarba dan berkata
dengan suara halus,
"Duhai Sang Hyang
Wishnu pengatur seluruh jagat raya yang maha sakti! Kiranya Paduka berada di
sini, Nini Bumigarba? Ah, sekarang tidak heran lagi aku mengapa keempat orang
muridku tewas di daerah ini. Akan tetapi, mengapa setelah berusia sepuh sekali
Paduka masih membiarkan murid Paduka mengganas dan melakukan pembunuhan secara
keji?" Nini Bumigarba menyeringai, sepasang matanya kelihatan berseri
seperti orang merasa geli dan gembira.
"Wah, andika telah
mengenalku, akan tetapi siapakah andika ini, yang berbau pertapa di
gunung?"
"Saya yang bodoh adalah
Panembahan Ki Ageng Kelud, tentu saja Paduka tidak pernah mendengar nama saya
yang kecil dan tidak terkenal, sebaliknya siapakah yang tidak mengenal nama
besar Ni Dewi Sarilangking atau Nini Bumigarba?" jawab kakek itu, sikapnya
penuh hormat.
"Tidak sekali-kali saya
berani mengotorkan tempat Paduka dengan kaki saya kalau saja empat orang murid
saya tidak terbunuh secara kejam oleh dara ini yang kalau saya tidak salah
menduga adalah Murid Paduka."
"Memang benar, dia ini
muridku bernama Retna Wilis, Perawan Lembah Wilis dan calon ratu di
Wilis!"
"Kalau begitu, saya
mohon keadilan Paduka, dan ingin mengetahui mengapa empat orang murid saya
terbunuh oleh murid Paduka. Padahal, sepanjang ingatan saya, dengan penuh
ketelitian saya mendidik murid-murid saya sehingga berkat bimbingan dan berkah
Sang Hyang Wishnu, mereka telah menjadi satria-satria yang menjunjung kebenaran
dan keadilan, menjadi pahlawan-pahlawan pembela nusa bangsa."
"Heh-heh-heh, Ki Ageng
Kelud. Ucapanmu seperti omongan bocah yang masih ingusan! Seorang pertapa tua
seperti andika ini masih bertanya mengapa mereka mati? Heh-heh, tentu saja
mereka mati karena sudah semestinya mati! Kalau Sang Hyang Shiwa tidak menghendaki,
bagaimana mereka dapat mati? Mengapa seorang seperti andika, yang kuduga telah
puluhan tahun bertapa dan mengejar ilmu, masih bertanya tentang mati dan hidup?
Apakah andika sudah sedemikian sakti mandraguna sehingga hendak mengingkari dan
melawan kehendak Sang Trimurti?"
Kakek berambut putih itu
mengangguk dan berkata lagi, suaranya masih penuh dengan kehalusan yang
mencerminkan kesabaran yang sudah mendalam,
"Sama sekali tidak,
Nini Bumigarba. Akan tetapi manusia terikat oleh kewajiban-kewajiban sebagai
manusia, yang dinamai peri kemanusiaan dan saya hanyalah seorang manusia biasa
yang tentu saja tak dapat melepaskan diri daripada ikatan kemanusiaan. Hidup
dan mati berada di tangan Dewata, hal ini tak dapat disangkal lagi. Segala
akibat adalah urusan dan tugas para dewata. Akan tetapi sebab-sebabnya berada
di tangan manusia karena kewajiban untuk berikhtiar, untuk berjaga dan mengatur
segala perbuatannya akan menjadi sebab timbulnya akibat. Empat orang muridku
sudah mati, hal itu tidak saya ributkan karena saya mengerti bahwa kematian
mereka sudah dikehendaki oleh Dewata. Akan tetapi, yang saya uruskan adalah
sebab kematian mereka, karena sebab ini tentu diperbuat oleh manusia! Andaikata
empat orang muridku itu tewas dalam perang membela nusa bangsa, saya akan
tersenyum puas karena sebab kematiannya adalah sebab yang luhur dan utama.
Andaikata mereka tewas dalam membela kebenaran, hal itupun akan memuaskan hati.
Akan tetapi, saya mendengar dari Ki Warok Surobledug ini bahwa empat orang
murid saya mati secara sia-sia, tanpa sebab yang patut mereka tebus dengan
nyawa. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai guru mereka dan sebagai manusia
untuk mengurus hal ini, Nini Burrugarba."
"Heh-he-he-he! Agaknya
puluhan tahun andika bertapa hasilnya mendapatkan ilmu berdebat! Kematian
murid- muridmu disebabkan oleh perbuatan muridku. Nah, dia berada di depanmu,
kau uruslah dengan dia!"
Ki Ageng Kelud membungkuk
kepada nenek itu.
"Terima kasih atas izin
yang Paduka berikan, Nini Bumigarba." Kemudian ia menoleh dan menghadapi
Retna Wilis yang masih berdiri dengan sikap tenang dan tak bergerak-gerak.
No comments:
Post a Comment