Perawan Lembah Wilis; Bagian 141


"Ih, bagaimana kau bisa tahu?"
"Mudah saja, Eyang. Eyang sendiri berkali-kali menasehati agar aku tidak mencinta, tidak pula membenci. Akan tetapi Eyang kelihatannya amat membenci Ekadenta sehingga Eyang menciptakan pedang pusaka, dan mendidik aku untuk kelak mengalahkan muridnya. Eyang amat membenci Ekadenta, tentu karena amat mencintanya."
"Wah-wah, kiranya perasaan wanitamu masih halus dan peka! Aku khawatir sekali, Retna Wilis."
"Tak perlu khawatir, Eyang. Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada siapa pun juga. Laki-laki seperti babi hutan!" Ia teringat akan Jayus dan tiga orang kawannya yang dibunuhnya di hutan.
Demikianlah, sejak hari tadi sampai tiga hari tiga malam lamanya, Retna Wilis berpuasa dan yang dilakukannya selama tiga hari tiga malam ini hanya duduk bersila memejamkan mata, bersamadhi mengheningkan cipta, ditujukan untuk membersihkan dan membuka lahir batinnya untuk menerima ilmu yang oleh gurunya disebut dengan nama Aji Wisalangking. Memang amat mengagumkan dan patut dipuji keteguhan hati dan kekuatan kemauan dara ini. Selama lima tahun ia selalu berada di pantai dan setiap hari hanya makan tetumbuhan laut dan ikan. Kini, baru saja ia mendapatkan buah-buahan dan daging kelinci, sebelum menikmati sedikit pun, ia telah berpuasa, namun sama sekali ia tidak terseret oleh selera dan nafsunya! Buah nangka yang dibawanya pulang, makin masak dan kalau malam mengeluarkan bau yang sedap menggugah selera. Namun, perasaan Retna Wilis sedikit pun juga tidak terpengaruh karena dalam keadaan samadhi seperti itu, penciumannya, seperti juga inderanya yang lain, seolah-olah mati untuk sementara, semua panca indria telah "ditarik" ke dalam sehingga tidak terpengaruh oleh keadaan di luar tubuh.

Tiga hari kemudian, Nini Bumigarba menyadarkan muridnya dari samadhi. Begitu Retna Wilis membuka mata dan pandang matanya kembali memasuki dunia, ia lalu diangkat bangun oleh gurunya, digandeng tangannya diajak pergi ke pantai sebelah barat di mana terdapat batu-batu licin dan di pantai ini, air laut amat bersih, tidak bercampur pasir. Pada waktu itu, hari telah menjelang senja, langit gelap oleh awan mendung yang bunting tua dan bergerak-gerak seperti hidup, merupakan barisan raksasa-raksasa hitam yang tiada kunjung habis, bergerak dari selatan ke utara. Angkasa yang gelap oleh mendung itu kadang-kadang dibakar kilat berceleret, seperti senjata-senjata pusaka para pemimpin barisan itu. Keadaan di angkasa yang menyeramkan ini mempengaruhi air laut pula karena air laut tampak makin mengganas, suaranya bergemuruh dan ombak-ombak kecil tiada hentinya bergerak seolah-olah laut sendiri merasa gentar menghadapi ancaman serangan barisan raksasa di angkasa itu. Alam sepenuhnya memperlihatkan kehebatan dan kekuasaannya yang maha besar dan menggiriskan hati manusia. Dan dalam keadaan seperti inilah, Nini Bumigarba menyuruh muridnya berlutut di atas batu karang yang licin, sedangkan dia sendiri berdiri tegak di depan muridnya, dengan kedua kaki terpentang.
Retna Wilis disuruh "membuka" tubuh bagian dalam untuk menerima hawa sakti. Gadis ini berlutut dengan kedua lengan bergantung lepas, tubuh lemas karena selain berpuasa, juga ia melolos semua tenaga melawan agar dapat menerima hawa sakti dari gurunya. Air laut bergerak datang dan pergi lagi. Mula-mula hanya menyentuh lutut Retna Wilis dan mata kaki Nini Bumigarba, akan tetapi makin lama makin membesar sehingga ada kalanya air sampai merendam tubuh Retna Wilis sampai ke leher dan Nini Bumigarba sampai ke pinggang! Namun, dua orang itu tetap tidak bergerak, seolah-olah tidak merasakan ini semua. Retna Wilis tetap berlutut menundukkan muka, adapun Nini Bumigarba masih berdiri tegak dan menengadahkan muka ke atas, seolah-olah sedang asyik menonton awan mendung berarak atau sedang memohon kepada para dewata yang dianggap bertempat tinggal di atas! Retna Wilis tetap menanti dengan penuh kesabaran, penuh kepasrahan dan penuh kepercayaan.
Tiba-tiba seluruh tubuh nenek tua itu menggigil, mula- mula seperti orang kedinginan, makin lama makin hebat dan perlahan-lahan nenek ini mengangkat kedua tangannya, terus digerakkan ke atas dengan sikap seolah-olah ia sedang menerima sesuatu dari atas, dari tangan yang tak tampak. Kemudian, perlahan-lahan ia meletakkan tangan kirinya menyentuh ubun-ubun kepala Retna Wilis, sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka tergetar hebat dan muncullah getaran-gataran hawa sakti menuju ke muka dan dada Retna Wilis.
"Muridku, terimalah hawa sakti Wisalangking .... !" Suara Nini Bumigarba terdengar seakan-akan dari angkasa menghitam dan dari tangan kanannya yang mengeluarkan hawa mujijat itu tampak sinar menguap hitam, makin lama makin tebal menutup wajah Retna Wilis. Ada sejam lamanya mereka berdua dalam keadaan seperti itu, tidak bergerak dan Retna Wilis merasa betapa seluruh tubuhnya penuh oleh hawa panas bergetar yang membuat tubuhnya menggigil. Akan tetapi dengan penuh kepasrahan ia tetap "membuka" dirinya untuk nenerima hawa sakti itu sebanyak dan sepenuhnya.

Setelah mendengar suara nenek itu mengeluh panjang, barulah Retna Wilis "menutup" dirinya dan membuka mata. Ia melihat nenek itu telah berlutut dengan lemas bahkan hampir terbawa hanyut oleh ombak yang datang. Cepat ia menyambar tubuh gurunya dan memondongnya, dibawa meloncat ke darat, kemudian dibawa kembali ke dalam guha di mana biasanya nenek itu duduk bersamadhi. Tubuh nenek itu lemas sekali, akan tetapi ketika Retna Wilis merebahkan atas tanah, ia tersenyum dan, berkata lemah,
"Berhasil baik.....Wisalangking telah kupindahkan ke tubuhmu .... “
Tiba-tiba Retna Wilis merasa perutnya mual dan ada hawa membumbung dari pusarnya, membawa bau yang amis sekali sehingga ia hampir muntah-muntah.
"Jangan khawatir .....kerahkan hawa sakti di tubuh, tekan pusarmu, jangan membiarkannya keluar. Itulah pengaruh dari wisa (racun) Wisalangking. Biarkan dia terbiasa di tubuhmu, kalau kau sudah dapat menundukkannya, takkan terasa apa-apa ...“ Mendengar ini, cepat Retna Wilis duduk bersila dan mengerahkan tenaga mengatur napas. Benar saja, rasa muak dan mual lenyap, bau amis pun hilang. Setelah keadaan diri sendiri baik kembali, mulailah Retna Wilis merawat gurunya yang kelihatan lemah sekali. Sampai semalam suntuk dara remaja ini merawat gurunya tanpa banyak cakap, menyuapkan pisang ke dalam mulut gurunya dan ia sendiri pun mulai mengisi perutnya dengan buah-buah yang ia ambil dari hutan tiga hari yang lalu. Pada keesokan harinya, Retna Wilis melihat betapa wajah gurunya telah banyak berubah. Kini nenek itu kehilangan seri wajahnya, kehilangan sinar yang membayangkan semangat, tampak layu dan juga kentara sekali ketuaannya. Akan tetapi kesehatannya agaknya sudah pulih dan nenek itu sudah dapat keluar dari guha dan seperti biasa, bersama muridnya ia duduk berjemur matahari pagi di atas pasir.
"Kau ingat baik-baik pesanku kemarin dulu," nenek itu berkata.
"Terutama sekali jangan pergi dari sini sebelum melihat tanda bintang. Sekarang perhatikan bagaimana engkau harus melatih diri untuk membangkitkan Wisalangking dalam tubuhmu dan mempergunakan hawa sakti itu dalam serangan pukulan." Nenek itu lalu memberi petunjuk-petunjuk yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Retna Wilis sehingga setelah matahari naik tinggi, dia sudah hafal akan semua teori penggunaan Aji Wisalangking. Setelah ia mengerti benar bagaimana harus melatih diri, Retna Wilis bertanya,
"Eyang, mengapa Eyang kelihatan tergesa-gesa seperti ini? Eyang masih sehat dan kita tidak akan saling berpisah." Nenek itu tersenyum, senyum yang menambah tua wajahnya, dan menoleh ke belakang, ke arah utara.
"Tidak lama lagi ...tidak lama lagi .....lihat siapa yang datang itu!"

Retna Wilis dengan tenang menoleh dan ketika ia melihat bahwa yang datang adalah Ki Warok Surobledug yang tempo hari ia lukai bersama seorang kakek tua berambut putih dan tubuhnya gemuk pendek, ia lalu bangkit berdiri.
"Eyang, dialah babi hutan tua yang pernah kujumpai di hutan dan kulukai. Dia datang lagi bersama seorang kakek tua, entah mau apa dia!"
"Hi-hi-hik, jadi ketika kau bilang telah membunuh empat ekor babi hutan kemarin dulu, kau maksudkan empat orang laki-laki? He-he-heh, sekarang, kau boleh hadapi mereka, hendak kulihat bagaimana sepak terjang muridku!" Nenek itu memutar tubuh menghadap ke utara, masih duduk bersila dan wajahnya yang tadinya keruh dan kusut itu mendapatkan kembali semangat dan agak berseri....Retna Wilis sudah mengebutkan pakaiannya untuk membersihkannya dari pasir dan ia melangkah maju tiga tindak lalu berdiri menanti datangnya dua orang kakek itu. Dia tidak memandang kepada Ki Warok Surobledug yang dianggapnya ringan, melainkan memandang kakek rambut putih yang datang bersama warok itu. Kakek ini pendek dan gemuk sekali, wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot, mulutnya tersenyum penuh kesabaran, dan usianya tentu sudah mencapai sedikitnya tujuh puluh tahun. Jubahnya berwarna kuning, dengan lengan baju lebar sekali sehingga kedua tangannya tertutup. Langkahnya ringan dan halus, namun dapat mengimbangi kecepatan langkah Ki Warok Surobledug yang lebar-lebar. Begitu tiba di tempat itu, kakek rambut putih itu lalu membungkuk kepada Nini Bumigarba dan berkata dengan suara halus,
"Duhai Sang Hyang Wishnu pengatur seluruh jagat raya yang maha sakti! Kiranya Paduka berada di sini, Nini Bumigarba? Ah, sekarang tidak heran lagi aku mengapa keempat orang muridku tewas di daerah ini. Akan tetapi, mengapa setelah berusia sepuh sekali Paduka masih membiarkan murid Paduka mengganas dan melakukan pembunuhan secara keji?" Nini Bumigarba menyeringai, sepasang matanya kelihatan berseri seperti orang merasa geli dan gembira.
"Wah, andika telah mengenalku, akan tetapi siapakah andika ini, yang berbau pertapa di gunung?"
"Saya yang bodoh adalah Panembahan Ki Ageng Kelud, tentu saja Paduka tidak pernah mendengar nama saya yang kecil dan tidak terkenal, sebaliknya siapakah yang tidak mengenal nama besar Ni Dewi Sarilangking atau Nini Bumigarba?" jawab kakek itu, sikapnya penuh hormat.
"Tidak sekali-kali saya berani mengotorkan tempat Paduka dengan kaki saya kalau saja empat orang murid saya tidak terbunuh secara kejam oleh dara ini yang kalau saya tidak salah menduga adalah Murid Paduka."
"Memang benar, dia ini muridku bernama Retna Wilis, Perawan Lembah Wilis dan calon ratu di Wilis!"
"Kalau begitu, saya mohon keadilan Paduka, dan ingin mengetahui mengapa empat orang murid saya terbunuh oleh murid Paduka. Padahal, sepanjang ingatan saya, dengan penuh ketelitian saya mendidik murid-murid saya sehingga berkat bimbingan dan berkah Sang Hyang Wishnu, mereka telah menjadi satria-satria yang menjunjung kebenaran dan keadilan, menjadi pahlawan-pahlawan pembela nusa bangsa."
"Heh-heh-heh, Ki Ageng Kelud. Ucapanmu seperti omongan bocah yang masih ingusan! Seorang pertapa tua seperti andika ini masih bertanya mengapa mereka mati? Heh-heh, tentu saja mereka mati karena sudah semestinya mati! Kalau Sang Hyang Shiwa tidak menghendaki, bagaimana mereka dapat mati? Mengapa seorang seperti andika, yang kuduga telah puluhan tahun bertapa dan mengejar ilmu, masih bertanya tentang mati dan hidup? Apakah andika sudah sedemikian sakti mandraguna sehingga hendak mengingkari dan melawan kehendak Sang Trimurti?"

Kakek berambut putih itu mengangguk dan berkata lagi, suaranya masih penuh dengan kehalusan yang mencerminkan kesabaran yang sudah mendalam,
"Sama sekali tidak, Nini Bumigarba. Akan tetapi manusia terikat oleh kewajiban-kewajiban sebagai manusia, yang dinamai peri kemanusiaan dan saya hanyalah seorang manusia biasa yang tentu saja tak dapat melepaskan diri daripada ikatan kemanusiaan. Hidup dan mati berada di tangan Dewata, hal ini tak dapat disangkal lagi. Segala akibat adalah urusan dan tugas para dewata. Akan tetapi sebab-sebabnya berada di tangan manusia karena kewajiban untuk berikhtiar, untuk berjaga dan mengatur segala perbuatannya akan menjadi sebab timbulnya akibat. Empat orang muridku sudah mati, hal itu tidak saya ributkan karena saya mengerti bahwa kematian mereka sudah dikehendaki oleh Dewata. Akan tetapi, yang saya uruskan adalah sebab kematian mereka, karena sebab ini tentu diperbuat oleh manusia! Andaikata empat orang muridku itu tewas dalam perang membela nusa bangsa, saya akan tersenyum puas karena sebab kematiannya adalah sebab yang luhur dan utama. Andaikata mereka tewas dalam membela kebenaran, hal itupun akan memuaskan hati. Akan tetapi, saya mendengar dari Ki Warok Surobledug ini bahwa empat orang murid saya mati secara sia-sia, tanpa sebab yang patut mereka tebus dengan nyawa. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai guru mereka dan sebagai manusia untuk mengurus hal ini, Nini Burrugarba."
"Heh-he-he-he! Agaknya puluhan tahun andika bertapa hasilnya mendapatkan ilmu berdebat! Kematian murid- muridmu disebabkan oleh perbuatan muridku. Nah, dia berada di depanmu, kau uruslah dengan dia!"
Ki Ageng Kelud membungkuk kepada nenek itu.
"Terima kasih atas izin yang Paduka berikan, Nini Bumigarba." Kemudian ia menoleh dan menghadapi Retna Wilis yang masih berdiri dengan sikap tenang dan tak bergerak-gerak.

<<< Bagian 140                                                                                     Bagian 142 >>>

No comments:

Post a Comment