Retna Wilis membalikkan tubuh memandang. Yang datang adalah seorang kakek tinggi besar bermuka kehitaman, bercambang bauk, matanya besar-besar menyinarkan keheranan, usianya sekitar enam puluh tahun, pakaiannya serba hitam, ikat pinggangnya atau kolornya berwarna merah, di pinggangnya terselip gagang senjata, sikapnya gagah dan berwibawa.
Retna Wilis tetap tenang
saja dan ia memang bukan berpura-pura. Ia menganggap peristiwa itu biasa saja.
Empat orang itu ingin mati, menantangnya, maka ia turun tangan membunuh mereka.
Apa anehnya dalam hal ini? Kini kakek ini datang bertanya dan memandang penuh
keheranan, maka ia menjawab,
"Engkau melihat sendiri
apa yang kulakukan. Mereka minta mati dan aku memenuhi permintaan mereka.
Engkau mau apa?"
"Babo-babo ..........!
Selama hidupku, aku Ki Warok Surobledug baru sekali ini menyaksikan kekejaman
yang melewati batas! Banyak sudah kumelihat pembunuhan, akan tetapi tidak ada
yang sekeji ini! Banyak sudah kumelihat orang aneh dan sakti, akan tetapi baru
sekarang aku melihat orang, apalagi seorang perawan remaja, seorang bocah,
dengan enak membunuhi orang dan bersikap tenang seperti habis menginjak
semut-semut saja. Engkau siapakah, nini? Kulihat gerakanmu luar biasa sekali
dan apa salahnya Ki Brojol dan saudara-saudaranya maka engkau membunuh mereka
secara keji? Aku bukan seorang berpikiran dangkal, biarpun mereka ini
sahabat-sahabat baikku dan kutahu mereka ini satria-satria perkasa, akan tetapi
kalau mereka bersalah dan sudah selayaknya dibunuh, aku tidak akan membela
mereka."
Retna Wilis mengerutkan
alisnya. Ucapan kakek raksasa ini sukar dimengerti, akan tetapi dia merasa
tidak senang mendengar orang ini banyak bicara dan ribut-ribut hanya karena dia
membunuh empat orang kasar tadi!
"Aku tidak ada waktu
banyak bicara, kau pergilah. Kecuali kalau engkau seperti empat orang itu minta
mati, tentu. akan kupenuhi permintaanmu!"
Sepasang mata yang lebar itu
makin terbelalak. KiWarok Surobledug adalah seorang tokoh besar di Ponorogo,
sakti mandraguna dan tak pernah merasa gentar menghadapi lawan yang bagaimana
pun juga. Akan tetapi sekali ini, melihat dari jauh betapa dara remaja ini
sekali bergerak membunuh sahabat-sahabatnya yang sakti, kemudian melihat dara
remaja yang cantik jelita ini bersikap dingin dan tenang, setenang batu karang,
bertanya dengan suara dingin apakah dia minta mati, benar-benar membuat bulu
tengkuknya meremang. Bahkan ia diam-diam menduga apakah dara ini bukan manusia
melainkan iblis betina sendiri yang suka mengganggu manusia.
“Biar aku sudah tua bangka,
akan tetapi tentu saja aku tidak minta mati nini! Aku hanya ingin mendengar
mengapa engkau membunuh sahabat-sahabatku itu dan...."
"Engkau ini laki-laki
cerewet amat! Aku tidak ada waktu melayanimu .......!" Retna Wilis
memunguti buah-buah dan bangkai kelinci, kemudian tanpa menoleh lagi
meninggalkan Ki Warok Sirobledug yang berdiri melongo.
"Hei! Tunggu
........... !!" Kakek Itu meloncat dan seperti Sang Harya Werkudara ia
melangkah lebar dan cepat sekali telah menyusul Retna Wilis yang berjalan
seenaknya, menghadang di depan dara itu.
Retna Wilis makin tak senang
hatinya. Kedua tangannya penuh dengan bawaan dan kini kakek itu menghadang
jalan. Ia melangkah terus, kemudian menggerakkan sikunya mendorong tubuh kakek
itu sambil berkata.
"Minggir! Mau apa
menghadang jalan?"
Ki Warok Surobledug adalah
seorang gagah perkasa yang sudah banyak pengalamannya. Melihat sepak terjang
Retna Wilis tadi, ia sudah maklum bahwa perawan ini memiliki kedigdayaan yang
menggiriskan, maka kini melihat dara itu menyikunya, ia tidak berani memandang
ringan dan cepat ia memasang aji kekebatan untuk mengukur tenaga sakti dara
yang patut menjadi cucunya itu.
""Dukkki"
Siku kecil meruncing halus
bertemu dengan perut gendut yang penuh hawa kekebalan dan akibatnya tubuh Ki
Warok Surobledug terjengkang dan roboh! Retna Wilis berjalan terus seolah-olah
tidak terjadi apa-apa. Ki Warok Surobledug yang merasa betapa perutnya seperti
diseruduk tanduk banteng, meloncat bangun, agak terengah dan merasa terheran-heran
bercampur rasa penasaran. Hal yang kelihatannya tak mungkin sama sekali telah
terjadi. Kekebalannya yang amat kuat, tubuhnya yang biasanya sanggup menerima
hantaman senjata apa pun juga, kini bobol hanya oleh pukulan siku seorang
perawan remaja!
"Eh, tunggu dulu, nini
..........!” Dengan hati penasaran ia mengejar lagi. Retna Wilis menjadi kesal
hatinya. Ia menoleh dan melihat raksasa itu mengejar. Ia lalu mengerahkan
tangan kiri, berseru,
"Engkau
menjemukan!"
Ki Warok Surobledug melihat
datangnya sinar hitam menyambar. Ia cepat menggerakkan tangan kiri, membuka
tangan itu dan telapak tangannya yang penuh hawa sakti dan kebal, yang biasanya
sanggup meremas hancur sebatang golok tajam lawan, mencengkeram benda hitam
yang ia sangka tentu senjata rahasia lawan. Ia bergerak sigap dan berhasil
menangkap benda itu, akan tetapi tak terasa mulutnya mengeluarkan teriakan
karena telapak tangannya terasa sakit bukan main. Ketika ia melihat tangannya,
ia terkejut dan hatinya berdebar tegang melihat telapak tangannya luka parah,
kulit telapak tangannya pecah dan ada tiga buah benda hitam menancap di telapak
tangan sedangkan seluruh tangan itu basah oleh darahnya sendiri dan oleh benda
kuning yang lembek dan hancur. Ia mencium bau yang amat dikenalnya, akan tetapi
masih ragu-ragu dan mendekatkan tangannya ke depan hidung.
"Ya Dewata Yang Maha
Agung .....!” Ia berseru, hampir tidak percaya, keheranannya mengatasi rasa
nyeri. Ternyata bahwa yang dipakai dara itu menyerangnya adalah sebutir buah
sawo yang sudah masak! Sawo yang lunak karena sudah masak itu pecah di telapak
tangannya dan tiga buah biji sawo melukai telapak tangannya, sedangkan daging
dan kulit sawo itu biarpun lunak, ternyata dapat membuat telapak tangannva
pecah-pecah!
Ia mengangkat muka memandang
dan lebih terheran-heran lagi dia ketika melihat bayangan dara itu seperti
terbang saja bergerak ke arah selatan,
"Jagad Dewa Bathara
.....adakah dia penjelmaan Kanjeng Ratu Roro Kidul....?"
Hati Ki Warok Surobledug
yang biasanya tak pernah mengenal takut itu kini menjadi gentar. Ia maklum
bahwa kalau gadis itu tadi menyerangnya dengan senjata keras, dengan batu
misalnya, tentu dia tak hidup lagi. Baru sebutir sawo saja sudah membuat
tangannya yang kebal pecah-pecah! Berkali-kali kakek ini menghela napas, kemudian
dengan memaksakan diri mengatasi rasa nyeri tangan kirinya, ia menggali lubang
dan mengubur jenazah empat orang sahabatnya itu di tempat itu juga. Kemudian,
setelah berkali-kali memandang ke arah selatan, ia lalu pergi dengan cepat
menuju ke Gunung Kelud yang berada di utara melaporkan peristiwa mengerikan itu
kepada Ki Ageng Kelud.
Bagi Retna Wilis, peristiwa
yang terjadi tadi bukan apa- apa, sama sekali tidak ia pikirkan lagi, bahkan
setelah ia tiba di pantai dan menyuguhkan buah-buahan kepada Nini Bumigarba, ia
telah lupa akan pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan di hutan itu.
"Retna Wilis muridku
yang denok, muridku yang tercinta!" kata Nini Bumigarba yang sudah duduk
bersila dalam guha batu karang ketika nenek ini melihat datangnya muridnya
membawa buah-buah sawo dan kelapa.
"Ah, hal ini berarti
bahwa tak lama lagi kita akan saling berpisah." Retna Wilis memandang
nenek itu, hatinya merasa tak enak, akan tetapi ia menekan batinnya yang sudah
amat kuat sehingga rasa tak enak ini segera lenyap di bawah kekuatan kemauannya
yang membaja.
"Mengapa Eyang berkata
demikian? Aku hanya bermain-main di hutan, mengambil buah, membunuh kelinci dan
babi hutan!" Terbayang wajah empat orang laki-laki tinggi kasar yang
dibunuhnya. Memang mereka itu tidak lebih hanyalah babi-babi hutan berkaki dua,
pikirnya.
"Sudah menjadi kehendak
Hyang Suksma, muridku. Sepandai-pandainya manusia, tak mungkin ia dapat
menguasai nyawanya sendiri. Aku sudah merasakan getaran firasat dan sudah siap
menghadapi segala yang mungkin terjadi."
"Apakah yang Eyang
maksudkan?"
"Engkau tak perlu tahu.
Dapat mengetahui sebelum terjadi merupakan ilmu yang hanya akan menimbulkan
sengsara dalam hati sendiri. Cukup kalau kau ketahui bahwa kita takkan lama
lagi tinggal bersama di sini. Karena itu, perhatikanlah pesanku baik-baik.
Selama lima tahun ini aku telah menurunkan semua aji-ajiku kepadamu dan biarpun
murid Ekadenta sendiri tidak akan mudah menandingimu."
"Siapakah murid
Ekadenta, Eyang?"
"Kelak engkau akan
mengetahui sendiri. Ingat baik-baik bahwa engkau kelak harus dapat mengalahkan
murid Ekadenta. Dengarkah engkau? Kalahkan dia. Tunjukkan bahwa murid
Sarilangking atau Bumigarba tidak kalah oleh murid Ekadenta. Kalau perlu, untuk
mengalahkannya, engkau boleh membunuh dia!"
"Apakah dia sakti sekali,
Eyang?"
"Tidak ada yang dapat
melebihi kesaktianmu, muridku. Memang dia mewarisi ilmu-ilmu kesaktian, akan
tetapi sebelum berpisah, aku akan menurunkan hawa Wisalangking ke tubuhmu dan
dengan hawa itu, engkau akan dapat mengalahkan lawan yang memiliki kesaktian
melebihimu! Akan tetapi, untuk menerima Wisalangking engkau harus berpuasa
membersihkan lahir batinmu selama tiga hari tiga malam."
"Baik, Eyang, akan
kulakukan mulai sekarang juga."
"Dengarlah dulu pesanku
ini. Setelah aku pergi dan engkau sudah memiliki hawa Wisalangking, engkau
harus berlatih mempergunakan hawa itu di sini, seorang diri, selama belum ada
tanda yang akan tampak olehmu. Engkau ingat akan bintang kehijauan di sebelah
timur laut yang tampak tiap malam tanpa bulan?"
"Yang Eyang katakan
sebagai bintang yang berkuasa di Jenggala pada saat ini dan tampak tersembul di
puncak yang seperti cengger jago itu?"
"Benar. Kau lihat
baik-baik. Selama bintang itu masih ada di langit, engkau tidak boleh pergi
dari sini. Akan tetapi, begitu kau lihat bahwa bintang itu lenyap dari angkasa,
engkau harus cepat pergi meninggalkan tempat ini, kembali ke tempat
kelahiranmu."
"Di Wilis?"
"Benar. Kembalilah ke
puncak Wilis dan engkau taklukkan semua penduduk di seluruh wilayah Gunung
Wilis. Engkau harus menjadi seorang ratu, seorang puteri yang disembah-sembah
di Wilis dan tak seorang pun boleh melanggar wilayahmu. Ingat, siapa pun adanya
dia, yang berani mencoba untuk mengganggu wilayahmu, boleh kau bunuh. Tidak
perduli dia itu mengaku ibumu, atau ayahmu, atau siapa saja. Engkau akan
menjadi Ratu Wilis dan mengumpulkan kekuatan, menyusun pasukan sehingga kelak
engkau akan menyerang kerajaan keturunan Mataram! Inilah cita-citaku mengapa
aku bersusah payah mendidikmu, Retna Wilis. Mengertikah engkau?"
"Aku mengerti,
Eyang."
"Dan engkau akan
mentaati pesanku? Kalau engkau tidak sanggup, sekarang juga engkau akan
kulenyapkan dari muka bumi!"
"Aku taat dan sanggup
melaksanakan semua perintahmu."
"Bagus, engkau memang
muridku yang amat baik. Dan jangan lupa. Di bawah karang Kukura di barat itu,
di bawah air ulekan (air berpusing) terdapat guha di dalam lautan, guha yang
bersambung dengan karang Kukura, menjadi dasar karang. Setelah aku pergi dan
setelah hawa Wisalangking di tubuhmu kuat benar, kau pergilah ke sana, menyelam
dan masuki guha di bawah air laut. Di sana terdapat sebuah peti kecil berisi
sebatang pedang pusaka. Pedang itu adalah pedang pusaka Sapudenta, setelah
kupakai sampai seratus tahun, kusimpan di sana agar dapat menyedot hawa sakti
Segoro Kidul. Pedang itu tadinya kusediakan untuk menundukkan Ekadenta, akan
tetapi sekarang terlambat dan engkaulah yang akan menggunakannya untuk
menundukkan murid Ekadenta."
"Baiklah, Eyang. Masih
ada pesan lagi?"
"Ingat akan dua nama
ini. Biku Janapati dan Wasi Bagaspati. Mereka itu adalah dua orang bekas
sekutuku, boleh kau jadikan sabahat karena mereka mewakili negara-negara yang
kuat dan yang kelak perlu kau dekati agar dapat membantumu menundukkan seluruh
bumi Jawa di mana engkau akan menjadi ratunya. Akan tetapi tentu saja engkau
tidak perlu tunduk kepada mereka, hanya permintaan-permintaan mereka itu asal
pantas dan tidak memberatkan hatimu, boleh kau penuhi, boleh kau bantu agar
kelak mereka tidak segan-segan untuk mendatangkan pasukan-pasukan negara mereka
dan membantu tercapainya cita-citamu."
Di dalam hatinya Retna Wilis
tidak setuju dengan ucapan terakhir ini. Ia sama sekali tidak bercita-cita
untuk menjadi ratu dan cita-cita itu hanyalah merupakan idaman hati gurunya dan
kalau kelak ia laksanakan juga semata untuk memenuhi permintaan gurunya. Pada
saat ini, dia sama sekali tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi ratu!
"Dan yang terpenting
daripada semua pesanku adalah pesanku yang telah berulang kali kukatakan
kepadamu, yaitu jangan sampai engkau jatuh cinta kepada seorang pria! Gurumu
ini merana dan menderita lahir batin hanya karena telah berbuat bodoh sekali,
yaitu jatuh cinta kepada seorang pria."
"Kepada Ekadenta?"
No comments:
Post a Comment