Dara remaja ini amat suka tinggal di pantai Teluk Prigi, di darat bermain-main dengan kura-kura raksasa atau berlatih aji kesaktian, kadang-kadang ia menanggalkan seluruh pakaiannya, bertelanjang bulat menerjang ombak Laut Selatan, menyelam dan berenang berkejaran dengan ikan-ikan di laut sehingga kalau pada waktu itu ada yang melihat tentu akan mengira bahwa dia adalah seorang peri Segoro Kidul, atau puteri dari Ratu Roro Kidul sendiri! Tubuhnya sedemikian penuh terisi hawa kesaktian sehingga ikan-ikan hiu yang banyak berkeliaran di bawah ombak, sama sekali tidak dapat mengganggunya, bahkan seringkali diganggu Retna Wilis, dipegang ekornya dan dilontarkan jauh ke atas permukaan air, dicengkeram sisinya dan dipatahkan taringnya! Kalau menyaksikan muridnya seperti itu, Nini Bumigarba tertawa terkekeh-kekeh dengan penuh kebanggaan dan kekaguman. Di waktu ia muda dahulu, harus ia akui bahwa dia tidaklah sehebat muridnya ini. Namun ada kalanya Retna Wilis memandang ke arah utara, ke daratan di balik gunung karang di mana sayup-sayup tampak gerombolan hutan di lereng Pegunungan Seribu. Pada suatu hari yang cerah, selagi Nini Bumigarba yang kini banyak menghabiskan waktunya untuk bersamadhi dan nenek itu kelihatan kini malas, Retna Wilis tak dapat menahan keinginan hatinya dan seorang diri ia lari ke utara dengan niat hendak melihat hutan di utara itu dan mencari buah-buahan kelapa atau pisang. Dia menggunakan kedua kakinya seperti orang biasa berlari, namun hasil larinya sama sekali tak dapat dikatakan biasa! Tubuhnya berkelebat cepat sukar diikuti pandangan mata, dan lajunya melebihi larinya seekor kuda membalap. Sebentar saja ia sudah tiba di dalam hutan yang tampak dari Segoro Wedi. Setibanya di tempat yang penuh tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon besar itu, Retna Wilis menjadi gembira hatinya seperti seorang yang melihat benda-benda indah yang tak pernah dilihatnya.
Ia melompat ke sini, lari ke
sana, melayang ke atas pohon-pohon, menyambit runtuh buah-buah kelapa, nyambar
buah-buah nangka dan menangkap seekor kelinci gemuk. Ketika ia melemparkan
semua buah dan kelinci yang sudah ia bunuh itu ke atas tanah kemudian ia
melompat naik ke atas pohon sawo yang besar, memilih-milih sawo yang sudah
masak, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Retna Wilis yang
berada di atas pohon itu cepat memandang dan tampaklah olehnya empat orang
laki-laki berjalan mendatangi tempat itu. Mereka adalah empat orang laki-laki
yang bersikap gagah, yang tiga orang berusia kurang lebih empat puluh tahun,
yang seorang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya. Mereka
berjalan sambil bercakap-cakap dan ketika mereka tiba di bawah pohon, Retna
Wilis mendengar seorang di antara mereka, yang menggantungkan sebuah penggada
besar di pinggangnya, berkata,
"Ki Warok Surobledug
boleh dipercaya seratus prosen. Dia seorang satria sejati yang pada waktu ini
menjadi ketua sekalian warok di Ponorogo. Dia boleh diajak berkawan dalam
membela Jenggala. Kalau tidak sekarang orang-orang gagah bergerak untuk
berdarma bhakti kepada Jenggala, menunggu sampai kapan?"
Tiba-tiba orang yang
termuda, seorang yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan menghentikan
langkahnya, memandang ke arah buah-buah dan bangkai kelinci sambil berkata,
"Ssttt ......ada orang
....”
Tiga orang kawannya berhenti
juga. Tadi mereka asyik bercakap-cakap sehingga tidak melihat buah-buahan itu.
Kini mereka menghentikan percakapan dan kesemuanya berhenti di bawah pohon
sawo, memandang ke kanan kiri. Pemuda itu tiba-tiba menengadah lalu tertawa
bergelak,
"Ha-ha-ha! Kiranya ada
seekor monyet betina di atas pohon!"
Tiga orang kawannya
memandang ke atas dan mereka pun tertawa.
"Jayus! Jangan bicara
sembarangan!" bentak laki-laki yang membawa penggada ketika ia melihat
bahwa yang dikatakan monyet betina itu adalah seorang gadis remaja yang amat
jelita. Karena melihat seorang dara berada di atas pohon sehingga dari bawah
tampak betis memadi bunting dan sebagian paha yang berkulit halus putih di
balik kain yang tersingkap, empat orang laki-laki itu tidak dapat mengalihkan
pandang matanya.
Retna Wilis adalah seorang
dara yang menjadi besar di tempat sunyi. Biarpun perasaan wanitanya membisikkan
rasa tidak suka kepada empat orang laki-laki yang tersenyum-senyum menyeringai
dan memandangnya dengan sinar mata panas penuh gairah, namun ia tidak tahu apa
yang mereka pikirkan. Ia menekan kemarahannya ketika mendengar betapa orang
muda itu tadi menyebutnya monyet betina. Lamurkah mata pemuda itu yang mengira
dia monyet? Biarpun memanjat pohon, jelas bahwa dia berpakaian dan sama sekali
bukan monyet!
"Ha-ha-ha, Paman
Brojol, memang dia betina tetapi tentu saja bukan monyet, melainkan seorang
dara jelita. Tadi kusangka monyet karena mana ada seorang perawan cantik
memanjat pohon seperti monyet? Eh, perawan gunung yang jelita dan berkulit
kuning, berbetis padi bunting dan berpaha ........... wah, engkau benar hebat.
Turunlah!" kata Jayus, orang muda itu. Retna Wilis mengerutkan alisnya.
Tentu saja dia tidak sudi turun.
"Kalian mau apakah? Aku
tidak ada urusan dengan kalian. Pergilah, jangan sampai aku kehilangan
kesabaranku." Suara Retna Wilis dingin, juga pandang matanya dingin
sekali. Akan tetapi karena sebagian wajahnya terhalang daun-daun sawo, hal ini
agaknya tidak tampak oleh Jayus yang tergila-gila melihat betis dan pahanya,
sedangkan tiga orang laki-laki yang lebih tua, sungguhpun mereka bukan golongan
mata keranjang dan pengganggu wanita, namun mereka maklum akan darah muda
Jayus, hanya tersenyum saja, maklum pula bahwa Jayus hanya menggoda dara itu, tidak
mempunyai niat yang buruk.
"Waduh-waduh, galaknya
....Eh, genduk bocah ayu, turunlah dan mari kita bicara baik-baik. Kakangmu ini
bernama Jayus, ingin berwawancara dengan-mu, bocah ayu. Kenapa mengusir kami
pergi? Kalau engkau kehilangan kesabaran, engkau mau apakah?"
"Tidak mau apa-apa,
hanya mau membunuh kalian!" jawab Retna Wilis, mulai jengkil, apalagi ia
teringat nasehat gurunya bahwa semua pria di dunia ini tidak ada yang baik dan
tidak ada yang boleh dipercaya omongannya.
"Ingat, muridku. Pria-pria
itu seperti sekawanan kumbang yang berhati palsu. Sebelum berhasil mendapatkan
sari bunga, mereka beterbangan di sekeliling bunga, berdendang bernyanyi dengan
suara merdu, membujuk rayu sehingga sang kembang akhirnya membuka kelopaknya.
Celakalah sang kembang yang dengan mudah tunduk akan rayuan mereka dan membuka
kelopaknya, karena kumbang-kumbang buas itu akan memasukinya dan menghisap
habis sampai kering madu sari bunga dan setelah bunga itu mengering dan melayu,
kumbang-kumbang itu pergi meninggalkannya tanpa pamit dan terima kasih,
paling-paling meninggalkan kotorannya di kelopak bunga!" Demikianlah
nasehat Nini Bumigarba sehingga di sudut hati dara jelita ini telah bertumbuh
benih kebencian terhadap kaum pria.
Empat orang pria itu
terkejut dan memandang terbelalak ke arah dara remaja yang berada di atas pohon
sawo. Gilakah perawan ini? Mengancam hendak membunuh mereka, jagoan-jagoan
terkenal dari Gunung Kelud? Empat orang ini terutama sekali si pemegang
penggada adalah tokoh-tokoh Gunung Kelud, murid-murid Sang Panembahan Ki Ageng
Kelud yang terkenal sakti mandraguna dan juga berwatak satria-satria perkasa.
Dan kini mereka diancam hendak dibunuh oleh seorang perawan yang baru berusia
belasan tahun? Tiga orang yang sudah berusia hampir empat puluh tahun itu
terbelalak dan terheran-heran, juga menjadi curiga karena sebagai orang-orang
yang perpengalaman mereka dapat menduga bahwa perawan itu tentu tidak lancang
begitu saja berani mengancam hendak membunuh mereka. Akan tetapi Jayus, yang
masih muda dan darahnya lebih panas, tertawa bergelak dengan hati panas.
"Ha-ha-ha, perawan
gunung bermulut besar! Engkau hendak membunuh kami? Wah-wah-wah, seekor kadal
sekali pun akan mati karena tertawa mendengar kesombonganmu. Hayo turunlah dan
bunuh aku kalau memang mampu. Apa engkau tidak tahu dengan siapa engkau
berhadapan? Inilah Jayus, jangankan engkau, biar ada seorang raksasa betina
sekali pun, sekali pegang dapat kulontaran sampai terjatuh ke laut kidul.
Haa-ha!"
"Engkau minta
mati?" Tiba-tiba Retna Wilis melayang turun bagaikan gerakan seekor burung
srikatan melayang dan tahu-tahu telah berada di depan Jayus yang memandang
kagum akan tetapi tetap memandang rendah.
"Engkau minta mati dan
dilempar jauh? Boleh!" Setelah berkata demikian, dengan gerakan sembarangan
Retna Wilis melangkah maju. Jayus cepat menggerakkan kedua tangan hendak
menangkap dara yang baru sekarang ia lihat amat jelita seperti puteri kahyangan
itu, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kedua tangannya itu tak dapat ia
gerakkan lagi karena ada angin yang menyambar dari perawan itu. Di lain saat,
tangan kiri Retna Wilis menampar ke arah kepalanya.
"Prakkk!" Darah
dan otak muncrat dari kepala yang pecah terkena tamparan dahsyat itu dan tangan
kanan Retna Wilis mencengkeram pinggang, membuat gerakan melempar dan ....
mayat Jayus melayang jauh sekali, terbanting ke atas tanah tak mampu bergerak
lagi!
Tiga orang kawan Jayus
berdiri seperti terkena hikmat, tak mampu bergerak, kemudian Ki Brojol, yaitu
laki-laki brewok yang memegang penggada, sekali melompat telah mengejar tubuh
Jayus yang dilontarkan. Ia berlutut sebentar dekat mayat itu, kemudian melompat
lagi menghadapi Retna Wilis, mukanya merah, matanya melotot dan napasnya
terengah-engah saking marahnya.
"Kau .....kau
....perawan iblis .... kau telah membunuhnya .....!!"
Dua orang kawannya juga
marah sekali, yang memegang tombak sudah mengangkat tombaknya, yang memegang
pedang sudah mencabut pedangnya sedangkan Ki Brojol sendiri sudah melepas
penggadanya. Retna Wilis berdiri dengan tenang menghadapi tiga orang laki-laki
tinggi besar yang marah-marah dan siap menerjangnya itu.
"Dia minta mati
sendiri, aku hanya memenuhi tantangannya. Kalian ini mau apa? Apakah juga minta
mati seperti dia?"
Mendengar ucapan yang
demikian tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu, Ki Brojol dan dua orang
kawannya bergidik, akan tetapi juga kemarahan mereka berkobar. Jayus telah
tewas, padahal kawan mereka yang muda itu tidak melakukan sesuatu, hanya
mengucapkan kata-kata menggoda kepada gadis ini.
"Perawan iblis! Siluman
keji! Engkaulah yang harus mampus agar tidak mengotorkan dunia!" bentak Ki
Brojol yang menjadi marah sekali. Makiannya ini seolah-olah menjadi aba-aba
bagi kedua orang kawannya karena mereka bertiga langsung menyerang Retna Wilis
dengan tiga macam senjata mereka. Biarpun mereka itu adalah satria perkasa yang
tentu saja tidak sudi mengeroyok seorang perawan bertangan kosong dengan
menggunakan senjata, namun kematian kawan mereka terlalu hebat dan terlalu
menyakitkan hati sehingga saking marah, mereka lupa akan sifat-sifat satria.
Gerakan mereka cepat dan kuat sekali, bagaikan kilat-kilat menyambar, tombak
yang runcing menusuk ke arah lambung Retna Wilis, pedang menyambar ke lehernya
dari belakang dan penggada di tangan Ki Brojol menghantam kepalanya! Namun
Retna Wilis hanya berdiri diam tak bergerak, hanya masih bersikap seperti tadi,
lengan kanan terangkat dengan siku ditekuk dan tangan kanan terbuka miring di
depan dada, tangan kiri terkepal di pinggang kiri, kedua kaki terpentang ke
depan belakang, sedikit pun tidak bergerak atau bergoyang, matanya terbelalak,
berkedip pun tidak menghadapi datangnya serangan tiga senjata dahsyat itu.
Biarpun kelihatannya tidak bergoyang, namun sesungguhnya ia telah mengerahkan
aji kesaktian Argoselo yang membuat tubuhnya kebal dan kokoh kuat seperti batu
hitam di gunung!
"Aahhhh……”
"Hemm……”
"Celaka…..!”
Seruan-seruan ini keluar
dari mulut tiga orang pria itu. Mereka adalah satria-satria perkasa, tentu saja
terkejut menyaksikan betapa lawan mereka, hanya seorang perawan remaja, sama
sekali tidak mengelak atau menangkis serangan mereka. Mereka merasa tidak enak
hati dan berbalik khawatir kalau-kalau serangan mereka akan mencelakakan dara
yang tidak melawan ini, akan tetapi untuk menarik kembali senjata sudah
terlambat sehingga mereka hanya mampu mengurangi tenaganya saja. Namun, begitu
tiga buah senjata itu secara berbareng menimpa lambung, leher dan kepala,
mereka bertiga terkejut bukan main karena senjata mereka membalik keras dan
pada saat itu, tubuh Retna Wilis bergerak, tangan kanannya dengan jari terbuka
berkelebat menyambar tiga kali menempiling kepada tiga orang lawannya dengan
kecepatan yang tak dapat diikuti pandangan mata sehingga tak mungkin dielakkan
lagi. Tamparan-tamparan itu tidak keras, seperti menyentuh saja, namun
akibatnya mengerikan karena tiga orang laki- laki tinggi besar itu terpelanting
roboh dengan mata mendelik dan napas putus, sedangkan muka mereka berubah
menjadi hitam!
"Aduh Dewata pengatur
jagat! Apa yang kau lakukan ini .....?" Tiba-tiba terdengar suara nyaring
dan muncullah seorang kakek yang agaknya datang tergesa-gesa dan berlari cepat.
Dari jauh, kakek ini sudah
menyaksikan pertandingan-pertandingan itu, dan ia mempercepat larinya, namun ia
terlambat dan ia masih berkesempatan menyaksikan betapa perawan remaja itu
membunuh tiga orang lawannya dengan sekali gerakan saja.
No comments:
Post a Comment