Perawan Lembah Wilis; Bagian 139


Dara remaja ini amat suka tinggal di pantai Teluk Prigi, di darat bermain-main dengan kura-kura raksasa atau berlatih aji kesaktian, kadang-kadang ia menanggalkan seluruh pakaiannya, bertelanjang bulat menerjang ombak Laut Selatan, menyelam dan berenang berkejaran dengan ikan-ikan di laut sehingga kalau pada waktu itu ada yang melihat tentu akan mengira bahwa dia adalah seorang peri Segoro Kidul, atau puteri dari Ratu Roro Kidul sendiri! Tubuhnya sedemikian penuh terisi hawa kesaktian sehingga ikan-ikan hiu yang banyak berkeliaran di bawah ombak, sama sekali tidak dapat mengganggunya, bahkan seringkali diganggu Retna Wilis, dipegang ekornya dan dilontarkan jauh ke atas permukaan air, dicengkeram sisinya dan dipatahkan taringnya! Kalau menyaksikan muridnya seperti itu, Nini Bumigarba tertawa terkekeh-kekeh dengan penuh kebanggaan dan kekaguman. Di waktu ia muda dahulu, harus ia akui bahwa dia tidaklah sehebat muridnya ini. Namun ada kalanya Retna Wilis memandang ke arah utara, ke daratan di balik gunung karang di mana sayup-sayup tampak gerombolan hutan di lereng Pegunungan Seribu. Pada suatu hari yang cerah, selagi Nini Bumigarba yang kini banyak menghabiskan waktunya untuk bersamadhi dan nenek itu kelihatan kini malas, Retna Wilis tak dapat menahan keinginan hatinya dan seorang diri ia lari ke utara dengan niat hendak melihat hutan di utara itu dan mencari buah-buahan kelapa atau pisang. Dia menggunakan kedua kakinya seperti orang biasa berlari, namun hasil larinya sama sekali tak dapat dikatakan biasa! Tubuhnya berkelebat cepat sukar diikuti pandangan mata, dan lajunya melebihi larinya seekor kuda membalap. Sebentar saja ia sudah tiba di dalam hutan yang tampak dari Segoro Wedi. Setibanya di tempat yang penuh tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon besar itu, Retna Wilis menjadi gembira hatinya seperti seorang yang melihat benda-benda indah yang tak pernah dilihatnya.

Ia melompat ke sini, lari ke sana, melayang ke atas pohon-pohon, menyambit runtuh buah-buah kelapa, nyambar buah-buah nangka dan menangkap seekor kelinci gemuk. Ketika ia melemparkan semua buah dan kelinci yang sudah ia bunuh itu ke atas tanah kemudian ia melompat naik ke atas pohon sawo yang besar, memilih-milih sawo yang sudah masak, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Retna Wilis yang berada di atas pohon itu cepat memandang dan tampaklah olehnya empat orang laki-laki berjalan mendatangi tempat itu. Mereka adalah empat orang laki-laki yang bersikap gagah, yang tiga orang berusia kurang lebih empat puluh tahun, yang seorang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya. Mereka berjalan sambil bercakap-cakap dan ketika mereka tiba di bawah pohon, Retna Wilis mendengar seorang di antara mereka, yang menggantungkan sebuah penggada besar di pinggangnya, berkata,
"Ki Warok Surobledug boleh dipercaya seratus prosen. Dia seorang satria sejati yang pada waktu ini menjadi ketua sekalian warok di Ponorogo. Dia boleh diajak berkawan dalam membela Jenggala. Kalau tidak sekarang orang-orang gagah bergerak untuk berdarma bhakti kepada Jenggala, menunggu sampai kapan?"
Tiba-tiba orang yang termuda, seorang yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan menghentikan langkahnya, memandang ke arah buah-buah dan bangkai kelinci sambil berkata,
"Ssttt ......ada orang ....”
Tiga orang kawannya berhenti juga. Tadi mereka asyik bercakap-cakap sehingga tidak melihat buah-buahan itu. Kini mereka menghentikan percakapan dan kesemuanya berhenti di bawah pohon sawo, memandang ke kanan kiri. Pemuda itu tiba-tiba menengadah lalu tertawa bergelak,
"Ha-ha-ha! Kiranya ada seekor monyet betina di atas pohon!"
Tiga orang kawannya memandang ke atas dan mereka pun tertawa.
"Jayus! Jangan bicara sembarangan!" bentak laki-laki yang membawa penggada ketika ia melihat bahwa yang dikatakan monyet betina itu adalah seorang gadis remaja yang amat jelita. Karena melihat seorang dara berada di atas pohon sehingga dari bawah tampak betis memadi bunting dan sebagian paha yang berkulit halus putih di balik kain yang tersingkap, empat orang laki-laki itu tidak dapat mengalihkan pandang matanya.

Retna Wilis adalah seorang dara yang menjadi besar di tempat sunyi. Biarpun perasaan wanitanya membisikkan rasa tidak suka kepada empat orang laki-laki yang tersenyum-senyum menyeringai dan memandangnya dengan sinar mata panas penuh gairah, namun ia tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Ia menekan kemarahannya ketika mendengar betapa orang muda itu tadi menyebutnya monyet betina. Lamurkah mata pemuda itu yang mengira dia monyet? Biarpun memanjat pohon, jelas bahwa dia berpakaian dan sama sekali bukan monyet!
"Ha-ha-ha, Paman Brojol, memang dia betina tetapi tentu saja bukan monyet, melainkan seorang dara jelita. Tadi kusangka monyet karena mana ada seorang perawan cantik memanjat pohon seperti monyet? Eh, perawan gunung yang jelita dan berkulit kuning, berbetis padi bunting dan berpaha ........... wah, engkau benar hebat. Turunlah!" kata Jayus, orang muda itu. Retna Wilis mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak sudi turun.
"Kalian mau apakah? Aku tidak ada urusan dengan kalian. Pergilah, jangan sampai aku kehilangan kesabaranku." Suara Retna Wilis dingin, juga pandang matanya dingin sekali. Akan tetapi karena sebagian wajahnya terhalang daun-daun sawo, hal ini agaknya tidak tampak oleh Jayus yang tergila-gila melihat betis dan pahanya, sedangkan tiga orang laki-laki yang lebih tua, sungguhpun mereka bukan golongan mata keranjang dan pengganggu wanita, namun mereka maklum akan darah muda Jayus, hanya tersenyum saja, maklum pula bahwa Jayus hanya menggoda dara itu, tidak mempunyai niat yang buruk.
"Waduh-waduh, galaknya ....Eh, genduk bocah ayu, turunlah dan mari kita bicara baik-baik. Kakangmu ini bernama Jayus, ingin berwawancara dengan-mu, bocah ayu. Kenapa mengusir kami pergi? Kalau engkau kehilangan kesabaran, engkau mau apakah?"
"Tidak mau apa-apa, hanya mau membunuh kalian!" jawab Retna Wilis, mulai jengkil, apalagi ia teringat nasehat gurunya bahwa semua pria di dunia ini tidak ada yang baik dan tidak ada yang boleh dipercaya omongannya.
"Ingat, muridku. Pria-pria itu seperti sekawanan kumbang yang berhati palsu. Sebelum berhasil mendapatkan sari bunga, mereka beterbangan di sekeliling bunga, berdendang bernyanyi dengan suara merdu, membujuk rayu sehingga sang kembang akhirnya membuka kelopaknya. Celakalah sang kembang yang dengan mudah tunduk akan rayuan mereka dan membuka kelopaknya, karena kumbang-kumbang buas itu akan memasukinya dan menghisap habis sampai kering madu sari bunga dan setelah bunga itu mengering dan melayu, kumbang-kumbang itu pergi meninggalkannya tanpa pamit dan terima kasih, paling-paling meninggalkan kotorannya di kelopak bunga!" Demikianlah nasehat Nini Bumigarba sehingga di sudut hati dara jelita ini telah bertumbuh benih kebencian terhadap kaum pria.

Empat orang pria itu terkejut dan memandang terbelalak ke arah dara remaja yang berada di atas pohon sawo. Gilakah perawan ini? Mengancam hendak membunuh mereka, jagoan-jagoan terkenal dari Gunung Kelud? Empat orang ini terutama sekali si pemegang penggada adalah tokoh-tokoh Gunung Kelud, murid-murid Sang Panembahan Ki Ageng Kelud yang terkenal sakti mandraguna dan juga berwatak satria-satria perkasa. Dan kini mereka diancam hendak dibunuh oleh seorang perawan yang baru berusia belasan tahun? Tiga orang yang sudah berusia hampir empat puluh tahun itu terbelalak dan terheran-heran, juga menjadi curiga karena sebagai orang-orang yang perpengalaman mereka dapat menduga bahwa perawan itu tentu tidak lancang begitu saja berani mengancam hendak membunuh mereka. Akan tetapi Jayus, yang masih muda dan darahnya lebih panas, tertawa bergelak dengan hati panas.
"Ha-ha-ha, perawan gunung bermulut besar! Engkau hendak membunuh kami? Wah-wah-wah, seekor kadal sekali pun akan mati karena tertawa mendengar kesombonganmu. Hayo turunlah dan bunuh aku kalau memang mampu. Apa engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan? Inilah Jayus, jangankan engkau, biar ada seorang raksasa betina sekali pun, sekali pegang dapat kulontaran sampai terjatuh ke laut kidul. Haa-ha!"
"Engkau minta mati?" Tiba-tiba Retna Wilis melayang turun bagaikan gerakan seekor burung srikatan melayang dan tahu-tahu telah berada di depan Jayus yang memandang kagum akan tetapi tetap memandang rendah.
"Engkau minta mati dan dilempar jauh? Boleh!" Setelah berkata demikian, dengan gerakan sembarangan Retna Wilis melangkah maju. Jayus cepat menggerakkan kedua tangan hendak menangkap dara yang baru sekarang ia lihat amat jelita seperti puteri kahyangan itu, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kedua tangannya itu tak dapat ia gerakkan lagi karena ada angin yang menyambar dari perawan itu. Di lain saat, tangan kiri Retna Wilis menampar ke arah kepalanya.
"Prakkk!" Darah dan otak muncrat dari kepala yang pecah terkena tamparan dahsyat itu dan tangan kanan Retna Wilis mencengkeram pinggang, membuat gerakan melempar dan .... mayat Jayus melayang jauh sekali, terbanting ke atas tanah tak mampu bergerak lagi!

Tiga orang kawan Jayus berdiri seperti terkena hikmat, tak mampu bergerak, kemudian Ki Brojol, yaitu laki-laki brewok yang memegang penggada, sekali melompat telah mengejar tubuh Jayus yang dilontarkan. Ia berlutut sebentar dekat mayat itu, kemudian melompat lagi menghadapi Retna Wilis, mukanya merah, matanya melotot dan napasnya terengah-engah saking marahnya.
"Kau .....kau ....perawan iblis .... kau telah membunuhnya .....!!"
Dua orang kawannya juga marah sekali, yang memegang tombak sudah mengangkat tombaknya, yang memegang pedang sudah mencabut pedangnya sedangkan Ki Brojol sendiri sudah melepas penggadanya. Retna Wilis berdiri dengan tenang menghadapi tiga orang laki-laki tinggi besar yang marah-marah dan siap menerjangnya itu.
"Dia minta mati sendiri, aku hanya memenuhi tantangannya. Kalian ini mau apa? Apakah juga minta mati seperti dia?"
Mendengar ucapan yang demikian tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu, Ki Brojol dan dua orang kawannya bergidik, akan tetapi juga kemarahan mereka berkobar. Jayus telah tewas, padahal kawan mereka yang muda itu tidak melakukan sesuatu, hanya mengucapkan kata-kata menggoda kepada gadis ini.
"Perawan iblis! Siluman keji! Engkaulah yang harus mampus agar tidak mengotorkan dunia!" bentak Ki Brojol yang menjadi marah sekali. Makiannya ini seolah-olah menjadi aba-aba bagi kedua orang kawannya karena mereka bertiga langsung menyerang Retna Wilis dengan tiga macam senjata mereka. Biarpun mereka itu adalah satria perkasa yang tentu saja tidak sudi mengeroyok seorang perawan bertangan kosong dengan menggunakan senjata, namun kematian kawan mereka terlalu hebat dan terlalu menyakitkan hati sehingga saking marah, mereka lupa akan sifat-sifat satria. Gerakan mereka cepat dan kuat sekali, bagaikan kilat-kilat menyambar, tombak yang runcing menusuk ke arah lambung Retna Wilis, pedang menyambar ke lehernya dari belakang dan penggada di tangan Ki Brojol menghantam kepalanya! Namun Retna Wilis hanya berdiri diam tak bergerak, hanya masih bersikap seperti tadi, lengan kanan terangkat dengan siku ditekuk dan tangan kanan terbuka miring di depan dada, tangan kiri terkepal di pinggang kiri, kedua kaki terpentang ke depan belakang, sedikit pun tidak bergerak atau bergoyang, matanya terbelalak, berkedip pun tidak menghadapi datangnya serangan tiga senjata dahsyat itu. Biarpun kelihatannya tidak bergoyang, namun sesungguhnya ia telah mengerahkan aji kesaktian Argoselo yang membuat tubuhnya kebal dan kokoh kuat seperti batu hitam di gunung!
"Aahhhh……”
"Hemm……”
"Celaka…..!”
Seruan-seruan ini keluar dari mulut tiga orang pria itu. Mereka adalah satria-satria perkasa, tentu saja terkejut menyaksikan betapa lawan mereka, hanya seorang perawan remaja, sama sekali tidak mengelak atau menangkis serangan mereka. Mereka merasa tidak enak hati dan berbalik khawatir kalau-kalau serangan mereka akan mencelakakan dara yang tidak melawan ini, akan tetapi untuk menarik kembali senjata sudah terlambat sehingga mereka hanya mampu mengurangi tenaganya saja. Namun, begitu tiga buah senjata itu secara berbareng menimpa lambung, leher dan kepala, mereka bertiga terkejut bukan main karena senjata mereka membalik keras dan pada saat itu, tubuh Retna Wilis bergerak, tangan kanannya dengan jari terbuka berkelebat menyambar tiga kali menempiling kepada tiga orang lawannya dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandangan mata sehingga tak mungkin dielakkan lagi. Tamparan-tamparan itu tidak keras, seperti menyentuh saja, namun akibatnya mengerikan karena tiga orang laki- laki tinggi besar itu terpelanting roboh dengan mata mendelik dan napas putus, sedangkan muka mereka berubah menjadi hitam!
"Aduh Dewata pengatur jagat! Apa yang kau lakukan ini .....?" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah seorang kakek yang agaknya datang tergesa-gesa dan berlari cepat.
Dari jauh, kakek ini sudah menyaksikan pertandingan-pertandingan itu, dan ia mempercepat larinya, namun ia terlambat dan ia masih berkesempatan menyaksikan betapa perawan remaja itu membunuh tiga orang lawannya dengan sekali gerakan saja.

<<< Bagian 138                                                                                     Bagian 140 >>>

No comments:

Post a Comment