Ternyata Retna Wilis amat suka tinggal di tempat ini. Selama hidupnya anak ini belum pernah melihat laut, semenjak lahir selalu berada di puncak Gunung Wilis. Kini, sekali berhadapan dengan laut dan gunung karang, ia terpesona dan menerima kesan yang menggetarkan jiwanya. Ia merasa seolah-olah lautan luas itu hidup, seolah-olah dapat melihat dewa-dewa penjaga laut yang perkasa, dapat melihat dewa-dewa penjaga gunung karang yang maha sakti dan ia ingin sekali dapat menjadi seperti mereka. Karena itu, ia tekun sekali belajar ilmu, mentaati segala perintah gurunya dan tidak ada perintah yang terlampau berat
baginya. Seringkali ia
menerima latihan-latihan bertapa yang amat berat dari gurunya. Latihan
bersamadhi duduk di
atas pasir di tepi pantai
sampai kalau air laut sedang pasang, ombak yang datang menenggelamkan tubuhnya
dan kadang-kadang pasir itu sampai membenamnya sepinggang lebih. Namun, sedetik
pun ia tidak pernah undur, tidak pernah meragu karena selain ia merasa yakin
bahwa perintah gurunya itu demi untuk memperkuat dirinya, jasmani dan rohani,
juga ia yakin bahwa gurunya tidak akan membiarkan dia mati dalam berlatih!
Kadang-kadang sampai dua hari dua malam ia "dibiarkan" saja oleh
gurunya dalam keadaan seperti itu sehingga tubuhnya serasa membeku dan
seolah-olah telah berubah menjadi batu karang sendiri yang kuat dan kokoh dalam
menerima terjangan ombak! Ada kalanya ia diharuskan bersamadhi di atas batu
karang menerima gempuran gelombang, tak pernah berhenti tertimpa hujan dari air
yang pecah berhamburan menghantam karang. Setiap detik ia terancam bahaya,
terhempaskan dari atas karang dan kalau hal ini terjadi, tentu tubuhnya akan
diangkat oleh gelombang dan dibanting hancur ke atas batu-batu karang! Namun,
Retna Wilis tetap mentaati semua perintah gurunya dan keyakinan ini memang
bukan membuta karena sesungguhnya, setiap saat Nini Bumigarba menjaga muridnya
dengan wajah berseri penuh kegembiraan dan kebanggaan.
Kalau matahari sedang
teriknya, dan pantai pasir itu seolah-olah terbakar mengeluarkan uap dari
bawah, Retna Wilis diharuskan bersamadhi di atas pasir yang panas sekali. Di
bawah tubuhnya, pasir panas dan uap dari bawah itu seolah-olah memanggang
tubuhnya, adapun dari atas, sinar matahari secara langsung menimpa tubuhnya
sehingga kalau habis berlatih seperti ini, kulit tubuhnya menjadi gosong dan
menghitam!
"Muridku, Retna Wilis
yang tersayang," kata Nini Bumigarba setelah setahun lebih muridnya
digembleng menghimpun kekuatan dengan cara bersamadhi yang aneh-aneh dan amat
sukar.
"Engkau mulai dapat
menerima inti tenaga sakti yang timbul dari gelombang lautan dan ketenangan
batu karang yang mengandung hawa dingin. Secara langsung engkau dapat menahan
hawa dingin yang timbul dari, latihan melawan ombak laut. Sebaliknya, berlatih
di atas pasir panas di bawah terik matahari, engkau dapat menerima inti tenaga
sakti dari matahari dan dari uap bumi. Latihan-latihan itu berat, namun
manfaatnya besar sekali, muridku. Dengan dasar tenaga sakti yang kau terima
intinya dari kekuatan alam ini, kau akan dapat menghadapi aji-aji pukulan lawan
yang hanya mempunyai dasar dua itu pula, dan engkau akan dapat kelak menerima
latihan-latihan aji pukulan yang hebat-hebat. Tahukah engkau, aji-aji pukulan
apa yang dimiliki ibumu dan yang telah diajarkan atau diterangkan
kepadamu?"
Retna Wilis mengangkat
mukanya. Bocah ini usianya baru sebelas dua belas tahun, dan baru setahun lebih
berada di situ, namun pandang matanya kini sudah jauh bedanya dengan setahun
yang lalu. Pandang matanya penuh kesungguhan, sikapnya penuh ketenangan,
tarikan bibirnya penuh keangkuhan dan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga
ia telah memiliki himpunan sifat-sifat batu karang, lautan, dan pasir panas di
bawah timpaan sinar matahari!
"Biarpun aku belum
banyak menerima pelajaran aji pukulan dari ibu, akan tetapi menurut keterangan
ibu, dia memiliki aji pukulan ampuh seperti Pethit Nogo, Wisangnolo, dan Gelap
Musti, Eyang."
Nenek itu mengangguk-angguk.
"Engkau telah
menyaksikan dahulu ketika ibumu mencoba memukulku sampai dua kali dan aku sama
sekali tidak roboh, bahkan ibumu yang terpental. Mengapa? Pertama ibumu
menggunakan aji pukulan Pethit Nogo yang 'biarpun belum kukenal, akan tetapi
dapat kuketahui dasarnya, yaitu dengan dasar hawa sakti yang panas. Tentu saja
dengan mudah aku dapat menerimanya karena inti tenaga sakti panas di dalam
tubuhku jauh lebih kuat, sehingga pukulannya itu seperti setitik air memasuki
jembangan penuh air, amblas tidak terasa. Demikian pula dengan pukulan ke dua.
Pukulan ke dua ini kukenal baik, karena itu adalah pukulan Wisangnolo yang
didapatkan ibumu dari gurunya, Si Mamangkoro! Heh-he-he! Tentu saja pukulan itu
tidak ada artinya bagiku karena aji itu adalah ciptaanku sendiri! Nah, sekarang
engkau mengerti betapa pentingnya melatih diri dengan samadhi yang menghimpun
hawa-hawa murni untuk menciptakan tenaga sakti. Maka, kau belajar dan
berlatihlah terus dengan penuh ketekunan, setelah engkau berhasil, baru aku
akan menurunkan aji-aji pukulan yang maha sakti."
Retna Wilis mengangguk.
"Aku mengerti, Eyang.
Aku tidak merasa puas sebelum dapat memiliki ketenangan dan kekuatan dan daya
tahan seperti gunung karang."
"Heh-he-he-he, jangan
khawatir. Engkau akan memiliki kedigdayaan seperti aku! Cuma satu hal yang
kupesanka agar engkau ingat-ingat betul, muridku. Semua kesaktian itu akan
musnah dan luntur hanya oleh satu hal... “
Retna Wilis mengerutkan
keningnya. Alis itu hitam panjang dan kecil, seperti dilukis saja menghias
wajahnya yang cantik jelita, yang kini mulai jelas tampak menurun wajah ibunya.
"Hemm, harusnya Eyang
memberi tahu kepadaku apa pantangan itu, karena hal itu penting sekali agar
jangan sampai aku melanggarnya di luar kesadaranku."
"Pantangannya adalah
kelemahan batin yang tidak mampu menolak perasaan hati sendiri."
"Mengapa menurutkan
perasaan dapat memusnahkan dan melunturkan kesaktianku, Eyang?"
"Perasaan hati yang
dituruti amatlah berbahaya, muridku. Di antaranya adalah rasa suka, duka,
takut, malu, dan marah. Manusia memang berperasaan dan di dalam hidupnya
diombang-ambingkan oleh perasaan ini sehingga menjadi lemah dan menjadi hamba
daripada perasaannya sendiri. Terutama sekali perasaan cinta kasih amatlah
berbahaya dan segala kesaktianmu akan tiada gunanya sekali engkau dicengkeram
oleh perasaan cinta ini. Maka, engkau harus memperkuat, harus dapat mengekang
dan mengendalikan perasaanmu sendiri, kalau perlu engkau boleh membunuh
perasaanmu!"
Retna Wilis masih terlampau
kecil untuk mengetahui betapa tak mungkin ajaran ini dilaksanakan, kecuali
kalau dia akan merubah diri menjadi iblis yang tidak berperasaan atau menjadi
binatang. Akan tetapi karena dia hanya mempunyai satu keyakinan, yaitu bahwa di
dunia ini gurunya inilah orang yang paling sakti mandraguna, paling benar, ia
lalu mengangguk dan mencatat semua ajaran itu di dalam hatinya.
"Lihatlah samudera
luas, muridku! Betapa dahsyatnya, betapa ganas dan garangnya, tak terlawan!
Mengapa dia begitu sakti? Karena dia tidak sudi menjadi hamba perasaan, tidak
mempunyai rasa sayang, atau takut, atau kasihan, atau malu mau pun marah.
Karena itu hebatnya bukan kepalang. Dan lihatlah gunung karang. Dia pun tidak
berperasaan, maka demikian kokoh kuat menghadapi segala macam terjangan, tak
pernah mengeluh, tak perduli akan keadaan di sekelilingnya. Karena itu ia tidak
suka tidak duka dan kokoh kuat!"
Pelajaran yang keluar dari
mulut Nini Bumigarba ini amatlah berbahaya bagi jiwa kanak-kanak yang sedang
berkembang. Memang sesungguhnya mengandung filsafat yang amat tinggi, akan
tetapi oleh karena keliru cara mengajarnya dan memang cara nenek ini mengajar
pamrih dan juga terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman pahit getir di waktu
mudanya, maka pelajaran ini tidak akan memberi kebekuan terhadap duniawi dan
kelembutan dalam watak, melainkan akan menjadikan orang membeku dan kehilangan
perasaan peri kemanusiaan! Pelajaran semacam ini dijatuhkan ke dalam hati Retna
Wilis yang pada dasarnya memang keras hati karena selama ini terpengaruh watak
dan sifat ibunya. Tentu saja amat berbahaya bagi gadis itu sendiri yang tanpa
disadarinya telah digembleng oleh gurunya menjadi seorang yang selain maha
sakti seperti gurunya, dalam hal perasaan malah leblh mengerikan daripada
gurunya! Namun Retna Wilis menjadi amat tekun belajar semenjak menerima nasehat
gurunya ini. Seringkali ia bermenung sampai berjam-jam memandang laut yang
mengganas dan memandang batu karang yang kokoh kuat, menerima gempuran air yang
pecah sendiri menjadi atom. Air laut bergerak terus, sedetik pun tak pernah
berhenti. Matahari dan bulan bergerak terus, kelihatan lambat namun tak pernah
berhenti sedetik pun dan karena gerakan yang tiada hentinya ini maka waktu
berlalu amat cepatnya, cepat akan tetapi tidak terasa dan kelihatn lambat,
seperti gerakan bulan dan natahari. Seolah-olah baru kemarin dulu Retna Wilis
tinggal di pantai Teluk Prigi atau Segoro Wedi. Seolah-olah baru beberapa hari
ia datang di tempat itu bersama gurunya. Padahal, telah lima tahun ia berada di
tempat itu dan kini Retna Wilis bukanlah bocah lagi, melainkan telah menjadi
seorang gadis remaja yang amat elok wajah dan bentuk tubuhnya. Wajahnya cantik
jelita, ayu dan manis sekali, cemerlang karena bersih dan asli, kecantikan yang
wajar dan liar, seperti kecantikan setangkai bunga mawar hutan bermandi embun
di antara duri-duri meruncing, seperti keindahan seekor harimau betina muda
yang mengkilap bulunya, seperti keindahan ular yang bermata tajam dan berlidah
merah meruncing dengan gerakannya yang lemas namun kuat, seperti Endang
Patibroto di waktu muda. Dia sendiri tidak tahu, karena ibunya tak pernah
menceritakannya, bahwa keadaannya bersamaan dengan ibunya di waktu kecil.
Ibunya, Endang Patibroto, di waktu kecilnya pun digembleng menuntut ilmu
kesaktian di antara deburan ombak laut kidul dan batu karang yang kokoh kuat.
Hanya bedanya, kalau ibunya digembleng oleh neneknya, dia digembleng oleh Nini
Bumigarba yang memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi daripada ibunya dan
neneknya, digembleng tidak hanya dengan aji kesaktian, melainkan juga dengan
ilmu kebatinan yang aneh, yang membuat dia bagaikan membaja lahir batinnya.
Siapa pun orangnya yang
berjumpa dengan Retna Wilis, tentu akan terpesona dan tentu akan tergetar
batinnya oleh bermacam perasaan yang mengaduk hati. Ada rasa kagum tentu,
terutama bagi pria, menyaksikan wajah yang demikian cantik jelita, rambut yang
hitam halus dan panjang dilepas bebas, digelung sederhana di atas kepala agak
ke belakang, sepasang daun telinga yang tersembul di antara ombak-ombak rambut
menghitam tampak tipis dan indah lekukannya, lubang daun telinga yang kecil
setiap hari berganti hiasan, ada kalanya batu karang merah, atau karang
mengkilap, bahkan kadang-kadang bunga laut kering atau ujung supit udang atau
kepiting! Namun, apa pun juga yang terselip dibawah daun telinga itu, selalu
menambahkan manis wajah yang hebat itu! Dahinya halus, bagian atasnya terhias
sinom (anak rambut) yang halus melingkar-lingkar seperti puteri-puteri pemalu.
Sepasang alisnya menjelirit kecil panjang, kedua ujungnya agak ke atas sehingga
membayangkan keangkuhan, kelihatan berlawanan sekali dengan sepasang mata yang
lebar memancarkan sinar bagaikan sepasang bintang di langit. Mata ini yang amat
mempesona, bening dan amat tajam sinarnya, namun mengandung wibawa yang aneh,
kesungguhan dan penuh pengertian seperti hanya terdapat dalam mata
pendeta-pendeta yang sudah awas paningal. Mata itu menyeramkan sinarnya,
mengandung pengaruh yang merupakan ancaman, akan tetapi keseraman yang
tersembunyi ini tertutup keindahan hiasan bulu mata yang hitam, panjang
melentik dan demikian lebat sehingga sekeliling mata di mana bulu mata itu
berakar kelihatan garis hitam seolah-olah pinggir mata itu diberi coretan
hitam. Hidungnya kecil mancung, dan mulutnya merupakan imbangan keindahan
matanya. Mulut itu manis bentuknya, dengan sepasang bibir yang penuh menjendol,
ukurannya kecil akan tetapi sedemikian rupa sehingga daging di bawah kulit
tipis merah seolah-olah setiap saat dapat pecah. Bentuknya seperti gendewa
terpentang dan amatlah sayang bahwa mulut semanis itu jarang sekali tersenyum,
apalagi tertawa, padahal kalau tersenyum tentu akan membuat dunia menjadi lebih
cerah! Karena bibir itu selalu tertutup, maka deretan gigi yang putih bersih
dan rapi merupakan mutiara-mutiara terpendam yang jarang dapat terlihat orang.
Wajah yang seperti wajah dewi kahyangan memiliki tubuh yang padat ramping dan
semampai, berkulit kuning halus dan karena sikap dan pembawaannya mengandung
daya kekuatan dahsyat, maka tubuh yang indah ini menyembunyikan kegagahan di
balik keluwesannya. Sungguh alam telah bermurah hati sekali kepada Retna Wilis
yang dikaruniai jasmani demikian indahnya!
Takkan ada
seorang manusia pun yang akan dapat mengira bahwa di dalam tubuh yang denok ini
tersembunyi kesaktian yang amat dahsyat dan mengerikan! Selama lima tahun tanpa
mengenal lelah, secara tekun sekali menerima gemblengan Nini Bumigarba, kini
Retna Wilis merupakan seorang gadis remaja yang, amat digdaya, sakti mandraguna
dan di dalam tubuhnya terdapat aji-aji kesaktian yang tidak lumrah manusia.
No comments:
Post a Comment