Perawan Lembah Wilis; Bagian 137


Adapun orang-orang sakti seperti Nini Bumigarba itulah menjadi tokoh-tokoh undangan semua. Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono, dan Pusporini sama sekali tidak menduga bahwa semenjak mereka menginjakkan kaki di bumi Jenggala mereka telah memasuki perangkap yang sengaja diatur oleh Suminten secara cerdik sekali. Suminten yang begitu melihat Pangeran Panji Sigit menghadap, melihat wajah tampan yang serupa benar dengan wajah pria yang pertama kali dipujanya, yaitu mendiang Pangeran Panjirawit, hatinya seperti diremas dan cinta kasihnya cinta kasih lama yang tadinya hampir terpendam kini tergali kembali dan makin menggelora. Juga ketika melihat Joko Pramono yang selain tampan gagah juga membayangkan kejantanan yang kuat, watak gila prianya bangkit dan nafsu berahinya berkobar. Biarpun empat orang muda itu tinggal di istana, hidup mewah dan serba kecukupan, terhormat dan terjaga, namun mereka ini sesungguhnya merupakan tawanan-tawanan yang setiap saat dapat di jadikan korban keganasan iblis-iblis yang berkuasa di Jenggala pada waktu itu!

Penuturan tentang Nini Bumigarba yang didengar oleh Pangeran Panji Sigit dan isterinya dari mulut Ki Mitra bukan semata-mata bohong. Memang sesungguhnyalah, biarpun pernah Biku Janapati dan Wasi Bagaspati mohon pertolongan nenek sakti mandraguna ini untuk menghadapi Ki Tunggaljiwa dan hampir saja nenek ini dapat membunuh Ki Tunggaljiwa dan Tejolaksono kalau tidak ditolong oleh Sang Bhagawan Ekadenda, namun Nini Bumigarba tidak mengikatkan dirinya secara langsung dengan kedua orang pendeta itu. Nini Bumigarba tidak mau terikat, apalagi setelah ia melihat betapa di pihak musuh terdapat kakek sakti Bhagawan Ekadenta! Karena itu, tak seorang pun di antara para anak buah kedua orang pendeta itu tahu di mana adanya Nini Bumigarba yang bagi manusia biasa seolah-olah merupakan dewa atau iblis! Hanya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati, dua orang manusia yang telah mencapai tingkat tinggi sekali ilmunya, yang mengetahui di mana adanya Nini Bumigarba, akan tetapi mereka pun tidak berani memberitahukan kepada orang lain. Mereka mendapat janji dari Nini Bumigarba bahwa nenek itu akan muncul dan menandingi Bhagawan Ekadenda jika kakek itu mencampuri urusan kerajaan!
"Kalian tak usah khawatir," demikian pesan nenek itu kepada Biku Janapati dan Wasi Bagaspati,
"semenjak dahulu aku tidak suka kepada Mataram dan keturunannya. Semenjak dahulu Ekadenta membantu Mataram! Akan tetapi sudah ada perjanjian pribadi antara dia dan aku bahwa kami berdua tidak akan mencampuri secara langsung urusan kerajaan. Dia tidak akan membantu Mataram dan aku tidak akan memusuhi Mataram! Kalau dia berani muncul dan langsung membantu Mataram, percayalah, aku akan siap menandinginya. sampai napas terakhir! Kulihat dia mempunyai murid yang baik, tentu muridnya yang akan maju. Karena itu, aku pun harus mencari seorang murid yang baik pula. Dalam segala macam hal, aku tidak mau kalah oleh Ekadenta!"
Biarpun mereka berdua orang-orang sakti mandraguna, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati tidak tahu rahasia apa yang tersembunyl di balik kebencian nenek ini terhadap kakek sakti Bhagawan Ekadenta. Namun mereka menjadi girang karena Bhagawan Ekadenta saja yang mereka takuti. Karena itu, perbualan Nini Bumigarba di puncak Wilis, yaitu menculik Retna Wilis dan karena perbuatan ini terpaksa bertanding dengan Ki Datujiwa dan membunuh kakek sakti itu, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kerajaan, tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pribadi, baik terhadap Endang Patibroto maupun terhadap Tejolaksono. Nenek sakti ini menculik Retna Wilis karena dia suka kepada anak ini yang dianggapnya merupakan calon murid terbaik yang penah dilihatnya. Dia sedang mencari murid untuk menandingi murid Bhagawan Ekadenta, maka melihat Retna Wilis dia menjadi girang sekali dan merasa yakin bahwa kalau digembleng anak ini akan menjadi orang yang tiada tandingan di dunia ini, biar murid Bhagawan Ekadenta sekali pun! Siapakah sebenarnya nenek yang amat luar biasa kesaktiannya ini? Untuk mengenalnya, kita membuka lembaran riwayatnya secara singkat. Nini Bumigarba ini sekarang usianya sudah amat banyak, sukar untuk diketahui, mungkin seratus tahun lebih, mungkin juga dua ratus tahun! Dahulu dia merupakan seorang puteri cantik jelita dan sakti mandraguna dari kerajaan kecil Umbul-tirta yang bergabung dengan Kerajaan Wengker menentang Kerajaan Mataram. Namanya sebagai puteri cantik adalah Dewi Sarilangking, selain cantik jelita, juga memiliki kesaktian yang tiada tandingnya di waktu itu. Akan tetapi, karena pasukan kerajaan-kerajaan kecil itu tidak mampu menandingi barisan-barisan besar Mataram, kedua kerajaan itu selalu terpukul mundur. Kemudian, muncullah seorang ksatria perkasa dan tampan di pihak Mataram, seorang
kelana yang memakai nama Joko Ekadenta. Ksatria inilah yang dapat menentang dan menandingi kesaktian Dewi Sarilangking sehingga puteri ini tidak saja kalah dalam bertanding, juga jatuh hatinya terhadap ksatria yang tampan dan perkasa itu. Namun, Joko Ekadenta yang dapat meneropong keadaan puteri itu melihat sifat-sifat yang tidak baik sehingga biarpun dia sebagai seorang pria juga amat kagum dan jatuh hati terhadap Dewi Sarilangking, namun dia "mundur" dan tidak mau melayani cinta kasih puteri itu. Hal ini merubah cinta kasih Dewi Sarilangking menjadi kebencian sehingga ia selalu mencari gara-gara untuk dapat bertanding melawan Joko Ekadenta yang selalu pula diakhiri dengan kekalahan di pihaknya. Satu-satunya bukti bahwa Ekadenta masih mencintanya adalah kenyataan bahwa dalam setiap pertandingan, kalau Dewi Sarilangking menyerang dengan sungguh-sungguh dan dengan serangan maut, namun sebaliknya Ekadenta selalu merobohkannya dengan hati-hati agar tidak melukainya.

Setelah Dewi Sarilangking dapat dikalahkan dan menemui tandingannya, Kerajaan Umbul-tirta yang kecil itu dengan mudah dapat ditaklukkan oleh Mataram. Dewi Sarilangking mengumpat caci dan mengutuk Joko Ekadenta karena kehancuran kerajaan ayahnya. Semua keluarganya terbasmi dalam perang, hanya dia sendiri, berkat kesaktiannya, dapat menyelamatkan diri dan menghilang untuk bertapa dan memperdalam ilmunya. Joko Ekadenta juga maklum bahwa semenjak itu, dia menanam bibit permusuhan yang hebat dan akan selalu terancam oleh Dewi Sarilangking, yang membencinya karena dua hal, pertama karena dia menolak cinta kasihnya atau tidak suka menyambung pertalian cinta yang ada di antara mereka, ke dua karena Joko Ekadenta membantu Mataram memukul kerajaannya. Karena maklum akan hal ini, Joko Ekadenta tidak mau kalah, juga pergi mengasingkan diri, bertapa dan mengejar ilmu kesaktian sebagai bekal untuk melindungi diri terhadap ancaman Dewi Sarilangking. Kekhawatirannya terbukti. Ke mana pun dia bertapa, selalu Dewi Sarilangking dapat mencarinya dan entah berapa puluh kali selama belasan tahun wanita itu selalu berusaha untuk membunuhnya dalam pertandingan-pertandingan yang amat dahsyat. Akan tetapi selalu Ekadenta dapat mengalahkan puteri itu dan selalu membujuknya agar menyudahi permusuhan mereka. Namun Sarilangking tetap berkeras kepala dan setiap dikalahkan, bertapa dan menggembleng diri lagi untuk kelak dipakai dalam pertandingan lanjutan! Melihat ini, Ekadenta mengalah dan pergi ke barat, melintasi lautan dan merantau sampai ke Pegunungan Himalaya di mana ia memperdalam ilmunya dan juga terutama sekali untuk menjauhkan diri dari Sarilangking! Dewi Sarilangking yang makin sakti mandraguna itu kehilangan musuhnya dan dia lalu menggunakan ilmunya untuk membantu Kerajaan Wengker, bahkan kemudian dia menjadi guru dari Dewi Mayangsari yang menjadi permaisuri di Wengker, permaisuri Sang Prabu Boko, Raja Kerajaan Wengker yang sakti sekali itu! Demikianlah sedikit riwayat Dewi Sarilangking yang kemudian dikenal dengan julukan Nini Bumigarba, menjadi seorang nenek yang amat hebat, seorang wanita yang tidak pernah menikah, akan tetapi biarpun sudah menjadi nenek tua renta, ia masih mendendam kepada Ekadenta yang kini pun sudah menjadi seorang kakek tua sekali yang amat sakti, yaitu Sang Bhagawan Ekadenta atau juga disebut Sang Sakti Jitendrya atau Sang Bhagawan Sirnasarira.

Ketika Nini Bumigarba yang memenuhi permintaan bantuan Biku Janapati dan Wasi Bagaspati, datang menyerang Ki Tunggaljiwa, nenek sakti ini tidak berhasil membunuh Ki Tunggaljiwa dan Bagus Seta karena muncul secara tiba-tiba kakek sakti yang menjadi musuhnya semenjak muda sehingga terpaksa nenek ini melarikan diri. Kemudian Nini Bumigarba pergi mencari murid untuk menandingi murid kakek itu kelak dan di puncak Wilis dia berhasil menculik Retna Wilis setelah membunuh Ki Datujiwa. Mungkin tanpa disadari oleh Endang Patibroto sendiri, wataknya yang aneh dan keras, suka akan kesaktian, menurun kepada puterinya. Biarpun menyaksikan dengan mata sendiri betapa Nini Bumigarba telah membunuh gurunya, Ki Datujiwa, namun Retna Wilis malah menjadi kagum dan suka sekali menjadi murid nenek itu! Hal ini bukan sekali-kali karena Retna Wilis tidak menyayang gurunya itu, melainkan karena dalam anggapan anak ini, pertandingan antara gurunya dan nenek itu adalah pertandingan adu kesaktian yang adil sehingga kalau gurunya kalah dan tewas dalam pertandingan itu, sudahlah sewajarnya. Bahkan ia merasa gembira sekali, biarpun ia harus meninggalkan ibunya, karena ketika ia dipondong dan dibawa lari nenek itu, ibunya sendiri menyatakan dengan suara yang jelas bahwa ibunya rela dia menjadi murid Nini Bumigarba. Pula, ketika ia dibawa lari, ia merasa seolah-olah dibawa terbang, demikian cepatnya nenek itu melarikannya. Nini Bumigarba melakukan perjalanan yang amat cepat sampai tiga hari lamanya dan baru berhenti setelah tiba di tepi Laut Selatan! Pantai Laut Selatan di daerah ini sunyi tak tampak seorang pun manusia dalam jarak puluhan kilometer. Pantai itu sendiri merupakan lautan pasir dan memang oleh penduduk di pedalaman, daerah yang merupakan daerah tandus ini disebut Segoro Wedi (Lautan Pasir). Adapun di pantai, gunung-gunung karang menjulang tinggi, seolah-olah merupakan perisai yang menentang amukan badai Laut Selatan sehingga air tidak sampai meluap dan merendam seluruh Nusa Jawa! Sunyi dan tidak subur seperti neraka, penuh dengan bahaya dan menyeramkan. Bahkan binatang-binatang darat tak tampak di daerah yang tandus ini, burung-burung pun tidak tampak, kecuali burung laut yang memang hidup dari ikan- ikan laut. Mahluk-mahluk hidup yang tampak di daerah ini hanyalah binatang pantai yang kecil seperti undur-undur, kepompong, kepiting, dan yang besar-besar hanyalah kura- kura laut yang kadang-kadang mendarat di pantai penuh pasir untuk bertelur. Kura-kura laut yang amat besar-besar, sedemikian besarnya sehingga takkan dapat terpikul oleh empat orang dan sedemikian kuatnya sehingga dua tiga orang dewasa saja yang menduduki punggungnya masih akan terangkut olehnya. Sunyi sekali di situ, sunyi dari suara-suara yang biasa terdengar di darat. Akan tetapi sedetik pun tak pernah berhenti dari suara bising ombak laut bertanding kekuatan melawan batu-batu karang yang menggunung di pantai, suaranya berdeburan, berkerosakan, seperti air mendidih, kadang-kadang bergelegar seperti halilintar mengamuk.

Ketika Nini Bumigarba menurunkan Retna Wilis dari pondongannya dan gadis cilik ini berdiri memandang ke arah laut bergelombang, nenek ini melirik dan tersenyum gembira menyaksikan betapa wajah muridnya itu berseri, pandang mata yang tajam itu bersinar-sinar penuh kekaguman memandang air laut yang bergelora. Nenek itu kagum melihat betapa muridnya itu setelah melakukan perjalanan lama yang amat melelahkan, tidak tampak kehilangan semangatnya dan senang hatinya melihat muridnya tidak kecewa menyaksikan daerah yang akan menjadi tempat tinggalnya.
"Retna Wilis, bagaimana pendapatmu dengan tempat ini? Engkau dan aku akan tinggal di daerah ini dan di sini engkau akan kugembleng dengan kesaktian sehingga kelak engkau akan menjadi seorang muda yang sakti tanpa tanding!"
Tanpa menoleh dari laut yang bergelombang, anak itu menjawab,
"Aku senang sekali tinggal di sini, Eyang." Nini Bumigarba tertawa, hatinya senang disebut eyang dan ia makin suka melihat sikap yang polos itu, tidak menjilat-jilat, tidak takut, melainkan sikap sewajarnya mencerminkan watak yang keras hati, angkuh, dan tidak mau merendahkan diri. Inilah calon muridnya yang cocok. Kalau saja ia dahulu di waktu mudanya memiliki watak seperti ini, angkuh dan tidak mau merendahkan tentu ia akan hidup bahagia. Akan tetapi dia telah menjatuhkan hatinya kepada Ekadenta yang mengakibatkan hidupnya penuh dengan kekecewaan, merana dan sengsara!
"Muridku bocah manis. Kenapa engkau suka tinggal di sini? Mengapa tempat ini yang amat sunyi dan tandus menyenangkan hatimu?"
"Aku senang, Eyang. Aku kagum menyaksikan kedahsyatan laut dan ombaknya yang setinggi gunung! Betapa dahsyatnya, betapa ganasnya, dan betapa kuatnya. Dan aku terpesona menyaksikan batu-batu karang menggunung. Betapa tenang menerima hantaman ombak yang begitu ganas, dan betapa kokoh kuatnya! Sungguh hebat dan besar laut dan gunung karang, dan betapa kecilnya kita ini!”
"Heh-he-he-he-he! Tepat sekali pendapatmu, muridku. Dan engkau akan kugembleng agar kelak engkau dapat memiliki kedahsyatan dan keganasan gelombang laut Kidul, memiliki keterangan yang dingin dan daya tahan yang kokoh kuat dari gunung-gunung karang! Ha-ha-ha!" Demikianlah, tanpa diketahui oleh seorang manusia pun, Nini Bumigarba yang telah mendapatkan seorang murid yang mencocoki hatinya, mulai menggembleng Retna Wilis dengan pelbagai ilmu dan aji kesaktian di pantai laut Kidul yang sunyi itu.

<<< Bagian 136                                                                                     Bagian 138 >>>

No comments:

Post a Comment