Adapun orang-orang sakti seperti Nini Bumigarba itulah menjadi tokoh-tokoh undangan semua. Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono, dan Pusporini sama sekali tidak menduga bahwa semenjak mereka menginjakkan kaki di bumi Jenggala mereka telah memasuki perangkap yang sengaja diatur oleh Suminten secara cerdik sekali. Suminten yang begitu melihat Pangeran Panji Sigit menghadap, melihat wajah tampan yang serupa benar dengan wajah pria yang pertama kali dipujanya, yaitu mendiang Pangeran Panjirawit, hatinya seperti diremas dan cinta kasihnya cinta kasih lama yang tadinya hampir terpendam kini tergali kembali dan makin menggelora. Juga ketika melihat Joko Pramono yang selain tampan gagah juga membayangkan kejantanan yang kuat, watak gila prianya bangkit dan nafsu berahinya berkobar. Biarpun empat orang muda itu tinggal di istana, hidup mewah dan serba kecukupan, terhormat dan terjaga, namun mereka ini sesungguhnya merupakan tawanan-tawanan yang setiap saat dapat di jadikan korban keganasan iblis-iblis yang berkuasa di Jenggala pada waktu itu!
Penuturan tentang Nini
Bumigarba yang didengar oleh Pangeran Panji Sigit dan isterinya dari mulut Ki
Mitra bukan semata-mata bohong. Memang sesungguhnyalah, biarpun pernah Biku
Janapati dan Wasi Bagaspati mohon pertolongan nenek sakti mandraguna ini untuk
menghadapi Ki Tunggaljiwa dan hampir saja nenek ini dapat membunuh Ki
Tunggaljiwa dan Tejolaksono kalau tidak ditolong oleh Sang Bhagawan Ekadenda,
namun Nini Bumigarba tidak mengikatkan dirinya secara langsung dengan kedua
orang pendeta itu. Nini Bumigarba tidak mau terikat, apalagi setelah ia melihat
betapa di pihak musuh terdapat kakek sakti Bhagawan Ekadenta! Karena itu, tak
seorang pun di antara para anak buah kedua orang pendeta itu tahu di mana
adanya Nini Bumigarba yang bagi manusia biasa seolah-olah merupakan dewa atau
iblis! Hanya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati, dua orang manusia yang telah
mencapai tingkat tinggi sekali ilmunya, yang mengetahui di mana adanya Nini
Bumigarba, akan tetapi mereka pun tidak berani memberitahukan kepada orang
lain. Mereka mendapat janji dari Nini Bumigarba bahwa nenek itu akan muncul dan
menandingi Bhagawan Ekadenda jika kakek itu mencampuri urusan kerajaan!
"Kalian tak usah
khawatir," demikian pesan nenek itu kepada Biku Janapati dan Wasi
Bagaspati,
"semenjak dahulu aku
tidak suka kepada Mataram dan keturunannya. Semenjak dahulu Ekadenta membantu
Mataram! Akan tetapi sudah ada perjanjian pribadi antara dia dan aku bahwa kami
berdua tidak akan mencampuri secara langsung urusan kerajaan. Dia tidak akan
membantu Mataram dan aku tidak akan memusuhi Mataram! Kalau dia berani muncul
dan langsung membantu Mataram, percayalah, aku akan siap menandinginya. sampai
napas terakhir! Kulihat dia mempunyai murid yang baik, tentu muridnya yang akan
maju. Karena itu, aku pun harus mencari seorang murid yang baik pula. Dalam
segala macam hal, aku tidak mau kalah oleh Ekadenta!"
Biarpun mereka berdua
orang-orang sakti mandraguna, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati tidak tahu
rahasia apa yang tersembunyl di balik kebencian nenek ini terhadap kakek sakti
Bhagawan Ekadenta. Namun mereka menjadi girang karena Bhagawan Ekadenta saja
yang mereka takuti. Karena itu, perbualan Nini Bumigarba di puncak Wilis, yaitu
menculik Retna Wilis dan karena perbuatan ini terpaksa bertanding dengan Ki
Datujiwa dan membunuh kakek sakti itu, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya
dengan urusan kerajaan, tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pribadi, baik
terhadap Endang Patibroto maupun terhadap Tejolaksono. Nenek sakti ini menculik
Retna Wilis karena dia suka kepada anak ini yang dianggapnya merupakan calon
murid terbaik yang penah dilihatnya. Dia sedang mencari murid untuk menandingi
murid Bhagawan Ekadenta, maka melihat Retna Wilis dia menjadi girang sekali dan
merasa yakin bahwa kalau digembleng anak ini akan menjadi orang yang tiada
tandingan di dunia ini, biar murid Bhagawan Ekadenta sekali pun! Siapakah
sebenarnya nenek yang amat luar biasa kesaktiannya ini? Untuk mengenalnya, kita
membuka lembaran riwayatnya secara singkat. Nini Bumigarba ini sekarang usianya
sudah amat banyak, sukar untuk diketahui, mungkin seratus tahun lebih, mungkin
juga dua ratus tahun! Dahulu dia merupakan seorang puteri cantik jelita dan
sakti mandraguna dari kerajaan kecil Umbul-tirta yang bergabung dengan Kerajaan
Wengker menentang Kerajaan Mataram. Namanya sebagai puteri cantik adalah Dewi
Sarilangking, selain cantik jelita, juga memiliki kesaktian yang tiada
tandingnya di waktu itu. Akan tetapi, karena pasukan kerajaan-kerajaan kecil
itu tidak mampu menandingi barisan-barisan besar Mataram, kedua kerajaan itu
selalu terpukul mundur. Kemudian, muncullah seorang ksatria perkasa dan tampan
di pihak Mataram, seorang
kelana yang memakai nama
Joko Ekadenta. Ksatria inilah yang dapat menentang dan menandingi kesaktian
Dewi Sarilangking sehingga puteri ini tidak saja kalah dalam bertanding, juga
jatuh hatinya terhadap ksatria yang tampan dan perkasa itu. Namun, Joko
Ekadenta yang dapat meneropong keadaan puteri itu melihat sifat-sifat yang
tidak baik sehingga biarpun dia sebagai seorang pria juga amat kagum dan jatuh
hati terhadap Dewi Sarilangking, namun dia "mundur" dan tidak mau
melayani cinta kasih puteri itu. Hal ini merubah cinta kasih Dewi Sarilangking
menjadi kebencian sehingga ia selalu mencari gara-gara untuk dapat bertanding
melawan Joko Ekadenta yang selalu pula diakhiri dengan kekalahan di pihaknya.
Satu-satunya bukti bahwa Ekadenta masih mencintanya adalah kenyataan bahwa
dalam setiap pertandingan, kalau Dewi Sarilangking menyerang dengan
sungguh-sungguh dan dengan serangan maut, namun sebaliknya Ekadenta selalu
merobohkannya dengan hati-hati agar tidak melukainya.
Setelah Dewi Sarilangking
dapat dikalahkan dan menemui tandingannya, Kerajaan Umbul-tirta yang kecil itu
dengan mudah dapat ditaklukkan oleh Mataram. Dewi Sarilangking mengumpat caci
dan mengutuk Joko Ekadenta karena kehancuran kerajaan ayahnya. Semua
keluarganya terbasmi dalam perang, hanya dia sendiri, berkat kesaktiannya,
dapat menyelamatkan diri dan menghilang untuk bertapa dan memperdalam ilmunya.
Joko Ekadenta juga maklum bahwa semenjak itu, dia menanam bibit permusuhan yang
hebat dan akan selalu terancam oleh Dewi Sarilangking, yang membencinya karena
dua hal, pertama karena dia menolak cinta kasihnya atau tidak suka menyambung
pertalian cinta yang ada di antara mereka, ke dua karena Joko Ekadenta membantu
Mataram memukul kerajaannya. Karena maklum akan hal ini, Joko Ekadenta tidak
mau kalah, juga pergi mengasingkan diri, bertapa dan mengejar ilmu kesaktian
sebagai bekal untuk melindungi diri terhadap ancaman Dewi Sarilangking.
Kekhawatirannya terbukti. Ke mana pun dia bertapa, selalu Dewi Sarilangking
dapat mencarinya dan entah berapa puluh kali selama belasan tahun wanita itu
selalu berusaha untuk membunuhnya dalam pertandingan-pertandingan yang amat
dahsyat. Akan tetapi selalu Ekadenta dapat mengalahkan puteri itu dan selalu
membujuknya agar menyudahi permusuhan mereka. Namun Sarilangking tetap berkeras
kepala dan setiap dikalahkan, bertapa dan menggembleng diri lagi untuk kelak
dipakai dalam pertandingan lanjutan! Melihat ini, Ekadenta mengalah dan pergi
ke barat, melintasi lautan dan merantau sampai ke Pegunungan Himalaya di mana
ia memperdalam ilmunya dan juga terutama sekali untuk menjauhkan diri dari
Sarilangking! Dewi Sarilangking yang makin sakti mandraguna itu kehilangan
musuhnya dan dia lalu menggunakan ilmunya untuk membantu Kerajaan Wengker,
bahkan kemudian dia menjadi guru dari Dewi Mayangsari yang menjadi permaisuri
di Wengker, permaisuri Sang Prabu Boko, Raja Kerajaan Wengker yang sakti sekali
itu! Demikianlah sedikit riwayat Dewi Sarilangking yang kemudian dikenal dengan
julukan Nini Bumigarba, menjadi seorang nenek yang amat hebat, seorang wanita
yang tidak pernah menikah, akan tetapi biarpun sudah menjadi nenek tua renta,
ia masih mendendam kepada Ekadenta yang kini pun sudah menjadi seorang kakek
tua sekali yang amat sakti, yaitu Sang Bhagawan Ekadenta atau juga disebut Sang
Sakti Jitendrya atau Sang Bhagawan Sirnasarira.
Ketika Nini Bumigarba yang
memenuhi permintaan bantuan Biku Janapati dan Wasi Bagaspati, datang menyerang
Ki Tunggaljiwa, nenek sakti ini tidak berhasil membunuh Ki Tunggaljiwa dan
Bagus Seta karena muncul secara tiba-tiba kakek sakti yang menjadi musuhnya semenjak
muda sehingga terpaksa nenek ini melarikan diri. Kemudian Nini Bumigarba pergi
mencari murid untuk menandingi murid kakek itu kelak dan di puncak Wilis dia
berhasil menculik Retna Wilis setelah membunuh Ki Datujiwa. Mungkin tanpa
disadari oleh Endang Patibroto sendiri, wataknya yang aneh dan keras, suka akan
kesaktian, menurun kepada puterinya. Biarpun menyaksikan dengan mata sendiri
betapa Nini Bumigarba telah membunuh gurunya, Ki Datujiwa, namun Retna Wilis
malah menjadi kagum dan suka sekali menjadi murid nenek itu! Hal ini bukan
sekali-kali karena Retna Wilis tidak menyayang gurunya itu, melainkan karena
dalam anggapan anak ini, pertandingan antara gurunya dan nenek itu adalah
pertandingan adu kesaktian yang adil sehingga kalau gurunya kalah dan tewas
dalam pertandingan itu, sudahlah sewajarnya. Bahkan ia merasa gembira sekali,
biarpun ia harus meninggalkan ibunya, karena ketika ia dipondong dan dibawa
lari nenek itu, ibunya sendiri menyatakan dengan suara yang jelas bahwa ibunya
rela dia menjadi murid Nini Bumigarba. Pula, ketika ia dibawa lari, ia merasa
seolah-olah dibawa terbang, demikian cepatnya nenek itu melarikannya. Nini
Bumigarba melakukan perjalanan yang amat cepat sampai tiga hari lamanya dan
baru berhenti setelah tiba di tepi Laut Selatan! Pantai Laut Selatan di daerah
ini sunyi tak tampak seorang pun manusia dalam jarak puluhan kilometer. Pantai
itu sendiri merupakan lautan pasir dan memang oleh penduduk di pedalaman,
daerah yang merupakan daerah tandus ini disebut Segoro Wedi (Lautan Pasir).
Adapun di pantai, gunung-gunung karang menjulang tinggi, seolah-olah merupakan
perisai yang menentang amukan badai Laut Selatan sehingga air tidak sampai
meluap dan merendam seluruh Nusa Jawa! Sunyi dan tidak subur seperti neraka,
penuh dengan bahaya dan menyeramkan. Bahkan binatang-binatang darat tak tampak
di daerah yang tandus ini, burung-burung pun tidak tampak, kecuali burung laut
yang memang hidup dari ikan- ikan laut. Mahluk-mahluk hidup yang tampak di
daerah ini hanyalah binatang pantai yang kecil seperti undur-undur, kepompong,
kepiting, dan yang besar-besar hanyalah kura- kura laut yang kadang-kadang
mendarat di pantai penuh pasir untuk bertelur. Kura-kura laut yang amat
besar-besar, sedemikian besarnya sehingga takkan dapat terpikul oleh empat
orang dan sedemikian kuatnya sehingga dua tiga orang dewasa saja yang menduduki
punggungnya masih akan terangkut olehnya. Sunyi sekali di situ, sunyi dari
suara-suara yang biasa terdengar di darat. Akan tetapi sedetik pun tak pernah
berhenti dari suara bising ombak laut bertanding kekuatan melawan batu-batu
karang yang menggunung di pantai, suaranya berdeburan, berkerosakan, seperti
air mendidih, kadang-kadang bergelegar seperti halilintar mengamuk.
Ketika Nini Bumigarba
menurunkan Retna Wilis dari pondongannya dan gadis cilik ini berdiri memandang
ke arah laut bergelombang, nenek ini melirik dan tersenyum gembira menyaksikan
betapa wajah muridnya itu berseri, pandang mata yang tajam itu bersinar-sinar
penuh kekaguman memandang air laut yang bergelora. Nenek itu kagum melihat
betapa muridnya itu setelah melakukan perjalanan lama yang amat melelahkan,
tidak tampak kehilangan semangatnya dan senang hatinya melihat muridnya tidak
kecewa menyaksikan daerah yang akan menjadi tempat tinggalnya.
"Retna Wilis, bagaimana
pendapatmu dengan tempat ini? Engkau dan aku akan tinggal di daerah ini dan di
sini engkau akan kugembleng dengan kesaktian sehingga kelak engkau akan menjadi
seorang muda yang sakti tanpa tanding!"
Tanpa menoleh dari laut yang
bergelombang, anak itu menjawab,
"Aku senang sekali
tinggal di sini, Eyang." Nini Bumigarba tertawa, hatinya senang disebut
eyang dan ia makin suka melihat sikap yang polos itu, tidak menjilat-jilat,
tidak takut, melainkan sikap sewajarnya mencerminkan watak yang keras hati, angkuh,
dan tidak mau merendahkan diri. Inilah calon muridnya yang cocok. Kalau saja ia
dahulu di waktu mudanya memiliki watak seperti ini, angkuh dan tidak mau
merendahkan tentu ia akan hidup bahagia. Akan tetapi dia telah menjatuhkan
hatinya kepada Ekadenta yang mengakibatkan hidupnya penuh dengan kekecewaan,
merana dan sengsara!
"Muridku bocah manis.
Kenapa engkau suka tinggal di sini? Mengapa tempat ini yang amat sunyi dan
tandus menyenangkan hatimu?"
"Aku senang, Eyang. Aku
kagum menyaksikan kedahsyatan laut dan ombaknya yang setinggi gunung! Betapa
dahsyatnya, betapa ganasnya, dan betapa kuatnya. Dan aku terpesona menyaksikan
batu-batu karang menggunung. Betapa tenang menerima hantaman ombak yang begitu
ganas, dan betapa kokoh kuatnya! Sungguh hebat dan besar laut dan gunung
karang, dan betapa kecilnya kita ini!”
"Heh-he-he-he-he!
Tepat sekali pendapatmu, muridku. Dan engkau akan kugembleng agar kelak engkau
dapat memiliki kedahsyatan dan keganasan gelombang laut Kidul, memiliki
keterangan yang dingin dan daya tahan yang kokoh kuat dari gunung-gunung
karang! Ha-ha-ha!" Demikianlah, tanpa diketahui oleh seorang manusia pun,
Nini Bumigarba yang telah mendapatkan seorang murid yang mencocoki hatinya,
mulai menggembleng Retna Wilis dengan pelbagai ilmu dan aji kesaktian di pantai
laut Kidul yang sunyi itu.
No comments:
Post a Comment