Di antara mereka yang setia ini, Pangeran Panji Sigit mengenal Ki Pawitra, guru seni tari yang sudah tua. Ketika bertemu dengan Joko Pramono dan Pusporini dan mendengar cerita murid-murid Sang Resi Mahesapati ini tentang Ki Wiraman dan Widawati, betapa dahulu Widawati diselamatkan ketika seluruh keluarga Ki Patih Brotomenggala dibasmi, yaitu dilarikan oleh Ki Mitra yang menjadi juru taman keluarga guru seni tari itu, hati Pangeran Panji Sigit menjadi girang sekali.
"Bagus kalau
begitu!" kata Pangeran Panji Sigit kepada Joko Pramono, didengarkan pula
oleh Setyaningsih dan Pusporini.
"Kita harus dapat
menghubungi Ki Mitra dan mungkin dari teman-teman setia Ki Pawitra kita akan
dapat mengetahui keadaan sesungguhnya dari Jenggala, bahkan siapa tahu di
antara mereka ada yang dapat mengetahui di mana adanya Nini Bunigraba dan tahu
pula sebetulnya golongan manakah yang secara rahasia membantu persekutuan
Suminten dan Warutama!"
Memang patut dikagumi
kegigihan dan kebesaran semangat juang empat orang muda ini yang seakan-akan
telah memasuki gua harimau. Akan tetapi patut dikasihani pula mereka karena
mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka telah terperosok ke dalam lubang
jebakan yang diatur oleh Suminten yang cerdik licin. Mereka berempat sama
sekali tidak tahu bahwa tempat mereka berunding, yaitu di ruangan tempat
tinggal Pangeran Panji Sigit, telah dipasangi lubang-lubang rahasia di mana
dipasang kaki tangan Suminten yang tugasnya hanya bersembunyi dan mendengarkan
semua percakapan empat orang itu yang dilakukan di ruangan itu. Bahkan semua
percakapan antara Pangeran Panji Sigit dan isterinya di dalam kamar pun tidak
ada yang terlepas dari telinga kaki tangan itu yang selalu bersembunyi dan
mendengarkan! Mereka tidak pernah mimpi bahwa Suminten telah mengetahui semua
rahasia, rencana dan langkah-langkah yang akan mereka ambil, dan bahwa pedang
malapetaka telah tergantung di atas kepala mereka.
Pada malam hari itu juga,
seorang kakek datang menghadap Pangeran Panji Sigit, dilaporkan oleh seorang
penjaga. Ketika tiba di depan pangeran itu, kakek itu cepat menjatuhkan diri
berlutut dan menyembah, kemudian menengok kanan kin dan berbisik,
"Gusti Pangeran......
hamba Ki..... Mitra, mohon bicara“
Pangeran Panji Sigit
terkejut dan memandang penuh perhatian. Kakek ini usianya sudah enam puluh
tahunan, pakaiannya sederhana seperti pakaian pelayan, sikapnya cerdik. Cepat
pangeran itu memberi isyarat kepada Ki Mitra untuk mengikutinya. Setyaningsih
yang berada di dalam, menjadi heran melihat suaminya menuntun masuk seorang
kakek yang tidak ia kenal. Sebelum ia membuka mulut bertanya, Pangeran Panji
Sigit sudah mendahuluinya memperkenalkan,
"Diajeng, dia inilah Ki
Mitra yang kita bicarakan kemarin."
"Ahh, kebetulan sekali.
Akan tetapi, apakah yang kau kehendaki, paman? Mengapa engkau datang mencari
gusti pangeran?" Pertanyaan ini mencerminkan kecerdikan dan kewaspadaan
Setyaningsih. Ki Mitra yang melihat bahwa dia telah berada di sebelah dalam dan
tidak akan terlihat orang lain, sudah menjatuhkan diri bersila kembali,
kemudian berkata dengan sikap penuh hormat,
"Hamba dahulu melarikan
cucu puteri mendiang gusti patih yang malang, dan setelah berhasil menyerahkan
puteri itu kepada Ki Wiraman, hamba segera pulang ke sini dan tetap bekerja
sebagai juru taman di rumah guru seni tari. Hamba yang banyak melihat dan
mendengar keadaan di kota raja umumnya dan di istana khususnya, yang bersumpah
di dalam hati untuk bersetia kepada gusti sinuwun sampai mati, tentu saja hamba
dapat merasa bahwa Paduka Gusti Pangeran Panji Sigit sependapat dengan hamba
dan karena itu hamba memberanikan diri lancang menghadap Paduka. Hamba siap
melakukan segala perintah Paduka, Gusti."
"Bagus sekali kalau
begitu!?” Pangeran muda itu berseru girang.
"Mari kau ikut
bersamaku ke taman sari, Paman Mitra."
"Mengapa tidak bicara
di sini saja, Gusti?"
"Hush, jangan
membantah. Kau tidak tahu, di sini pun mungkin tidak aman. Aku mulai curiga
karena tadi aku mendapatkan lubang-lubang di dinding kamar itu dan mungkin
telingaku salah dengar, akan tetapi aku seperti mendengar napas orang di balik
dinding. Mari kita bicara di taman sari. Di tempat terbuka itu takkan mungkin
ada yang mengintai atau mendengarkan pembicaraan kita. Engkau adalah seorang
abdi ponggawa istana, dan kenalanku di luar istana amat banyaknya sehingga
tidak akan mengherankan hati orang kalau engkau menghadap dan bercakap-cakap
denganku di taman sari, apalagi karena engkau adalah seorang ahli juru
taman."
"Baiklah, Gusti."
Keluarlah suami isteri muda
itu diikuti si juru taman tua dan mereka berjalan ke taman sari seenaknya
sambil bercakap-cakap, menuding-nuding ke arah pelbagai tanaman sehingga
kelihatan dari jauh seperti bercakap-cakap tentang tanaman. Padahal Pangeran
Panji Sigit bertanya tentang keadaan di Jenggala.
"Bagaimana pendapatmu
tentang peristiwa yang menimpa keluarga Paman Patih Brotomenggala, Paman?"
Sambil menuding ke arah sekumpulan kembang menur, Pangeran Panji Sigit bertanya
dan mereka berhenti di depan kelompok kembang menur itu. Ki Mitra menjawab,
"Peristiwa itu patut
disesalkan, Gusti. Hamba sendiri masih merasa heran mengapa gusti patih yang
semenjak dahulu terkenal setia itu tiba-tiba saja dapat melakukan hal yang amat
keji itu, berusaha hendak membunuh gusti sinuwun."
Pangeran Panji Sigit
menghela napas. Kakek juru taman ini tentu saja banyak melihat dan mendengar,
akan tetapi tentu saja tidak dapat mengetahui rahasia apa yang mungkin
tersembunyi di balik semua peristiwa mengerikan yang terjadi dl Jenggala.
"Bagaimana dengan
dibuangnya Ibu Ratu?"
"Wah, tentang itu
......., Paduka tentu dapat memaklumi perasaan wanita-anita yang bersaing dan
bertentangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat perang dingin antara
gusti ratu dan gusti selir muda sehingga tentu saja keduanya berusaha saling
menjatuhkan. Paduka tentu mengerti pula betapa kejamnya hati yang sudah
dipenuhi oleh cemburu dan iri hati sehingga mungkin saja kalau gusti ratu
menjadi lupa sehingga menjatuhkan fitnah. Justeru pertentangan antara kedua
wanita itulah yang menimbulkan perpecahan sehingga timbul dua pihak."
Setyaningsih mengerutkan keningnya, akan tetapi Pangeran Panji Sigit hanya
menarik napas panjang. Seorang juru taman seperti Ki Mitra ini boleh jadi
memiliki kesetiaan besar sehingga untuk membela junjungannya bersedia mengorbankan
nyawa, bahkan sudah berjasa menyelundupkan cucu puteri Ki Patih Brotomenggala
dari kota raja. Akan tetapi mana mungkin dapat berpemandangan luas dan dapat
mengerti akan persoalan-persoalan yang pelik dan penuh rahasia yang menimpa
istana?
"Begini, Ki Mitra. Yang
penting sekarang, engkau ini setia kepada pihak mana? Kepada siapa?"
"Tentu saja kepada
gusti sinuwun dan kepada Paduka Gusti Pangeran. Paduka boleh memerintahkan
tugas apa saja dan hamba akan melaksanakannya dengan taruhan nyawa!"
Makin yakin hati Pangeran
Panji Sigit bahwa kakek ini hanyalah seorang pelaksana yang setia, akan tetapi
hanya terbatas pada tugas-tugas yang kasar dan ringan saja. Betapapun juga,
kesetiaan seorang dipercaya yang bodoh dan jujur seperti ini boleh
"Baiklah, Ki Mitra.
Engkau tentu mehgenal atau tahu akan ponggawa-ponggawa baru yang telah diangkat
oleh paman patih dan rakanda pangeran mahkota, yang kabarnya memiliki kesaktian
hebat."
"Tentu saja, Gusti.
Hamba mendengar berita bahwa gusti patih sendiri memiliki ilmu kesaktian yang
tidak lumrah manusia. Ketika gusti sinuwun dahulu diserang perampok, dengan
tangan kosong saja gusti patih merobohkan mereka semua. Kemudian, ketika kota
raja diserang angin taufan, nyaris bagian kiri istana hancur tertimpa pohon
beringin yang roboh tumbang oleh angin, gusti patih pula yang membuktikan
kesaktiannya yang luar biasa dengan menahan batang pohon raksasa itu dan
mendorongnya sehingga pohon itu roboh di bagian lain, tidak menimpa bangunan
istana! Tentu masih banyak ponggawa yang sakti, sungguhpun tidak sehebat gusti
patih, seperti misalnya Gusti Tumenggung Wirokeling, Gusti Tumenggung Sosrogali
dan masih banyak lagi yang hamba tidak ketahui sampai di mana kedigdayaan
mereka. Akan tetapi yang jelas, para ponggawa sekarang ini terdiri dari orang
sakti yang dapat dikumpulkan oleh gusti patih dan gusti pangeran mahkota."
"Ki Mitra, pernahkah
kau mendengar akan nama Nini Bumigarba?"
Kakek itu kelihatan
terkejut.
"Pernah Gusti dan ...
huhh, masih meremang bulu tengkuk hamba kalau mendengar nama itu. Hamba
mendengar berita angin di antara para ponggawa yang dahulu pernah
bercakap-cakap sambil menonton latihan seni tari para puteri istana di tempat
kediaman majikan hamba. Kabarnya pada suatu malam Jum'at, manusia sakti seperti
dewi yang berjuluk Nini Bumigarba, atau juga Dewi Sarilangking itu, yang pandai
menghilang, muncul dan menemui gusti patih yang kabarnya masih menjadi buyut
muridnya...”
"Betulkah itu?"
Pangeran Panji Sigit terkejut dan girang.
"Entahlah, Gusti. Hanya
kabarnya, kedatangan nenek sakti itu adalah untuk mengusir dan melenyapkan hawa
siluman yang kabarnya mengotorkan angkasa di atas kota raja."
"Tahukah engkau, di
mana tempat tinggal nenek itu?" Ki Mitra menggeleng kepalanya.
"Hamba rasa tidak ada
seorang pun yang tahu. Kabarnya, kalau tidak dikehendaki tak seorang pun dapat
melihatnya karena dia pandai menghilang atau terbang ke angkasa ...” Pangeran
Panji Sigit kecewa.
"Kiranya cukuplah,
Paman. Engkau kembalilah ke tempat kerjamu. Sewaktu-waktu kalau aku
memerlukanmu, akan kupanggil engkau."
Ki Mitra menyembah.
"Hamba siap
melaksanakan segala perintah Paduka. Andaikata Paduka hendak mengirim
berita-berita rahasia ke Panjalu atau ke mana saja, hamba sanggup
melaksanakannya."
"Baiklah, akan tetapi
untuk sekarang belum ada tugas untukmu. Pergilah."
Setelah kakek itu pergi,
Pangeran Panji Sigit saling pandang dengan isterinya dan pangeran itu menarik
napas panjang, agaknya merasa kecewa akan keterangan-keterangan yang ia dapat
dari Ki Mitra. Isterinya maklum akan isi hati suaminya, maka segera mendekati
dan berkata halus,
"Memang tidak mudah
menyelidiki keadaan seorang nenek yang sifatnya tidak seperti manusia biasa
Kakanda. Akan tetapi hal ini memerlukan kesabaran besar sekali. Kita tahu bahwa
dia adalah di pihak musuh, dan saya kira, dia pun sudah tahu akan keadaan kita.
Karena dia selalu menyembunyikan diri, maka sebaliknya kita menanti sampai dia
dan kaki tangannya turun tangan terhadap kita. Nah, di saat itulah, pasti
musuh-musuh kita takkan mampu menyembunyikan diri lagi."
Pangeran muda itu
mengangguk-angguk, lalu merangkul pinggang isterinya yang ramping dan
mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka.
"Engkau benar, dan
memang kita harus berani menghadapi bahaya. Mereka itu ternyata amat pandai dan
halus, biarpun mereka telah berhasil menguasai kerajaan dan menancapkan
kuku-kuku mereka di mana-mana, mengganti para ponggawa dengan orang-orang
mereka, namun pada lahirnya tidak tampak sedikit pun kesalahan mereka, bahkan
kelihatannya seolah-olah mereka itu merupakan abdi-abdi yang amat setia dan
baik dari kanjeng rama!"
Dan memang tepat sekali
pendapat Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi pangeran ini pun hanya tahu satu
tidak tahu banyak hal lain, hanya melihat belangnya kulit harimau saja, tidak
melihat seluruh tubuh, kepala dan ekornya! Dia sama sekali tidak pernah menduga
bahwa bahaya hebat bukan disebabkan semata karena pengkhianatan beberapa
gelintir manusia yang menginginkan kedudukan. Sama sekali bukan! Melainkan
diatur dan dikemudikan secara halus dan pandai oleh dua orang tokoh dari Sriwijaya
dan Cola, yaitu Sang Biku Janapati utusan Sriwijaya yang halus dan sakti
mandraguna, dan Sang Wasi Bagaspati yang kasar dan amat cerdik pandai lagi
sakti. Mereka berdua inillah, dibantu oleh orang-orang sakti yang menjadi kaki
tangan mereka, yang sebetulnya mengemudikan segala macam peristiwa yang terjadi
di Jenggala, dengan mempergunakan kesempatan baik selagi di situ terdapat
seorang seperti Suminten, dan muncul pula seorang seperti Warutama dan seorang
seperti Pangeran Kukutan. Dan di atas dari semua pembantu-pembantu ini, kedua
orang pendeta dari Sriwijaya dan Cola itu masih mempunyai seorang yang mereka
andalkan, yang memiliki kesaktian yang amat hebat, jauh melampaui kesaktian
mereka sendiri, yaitu Nini Bumigarba. Mereka maklum bahwa ada orang-orang sakti
bermunculan dan berusaha menentang mereka membela Jenggala, dan bahwa di antara
lawan-lawan sakti itu terdapat seorang yang amat mereka segani dan takuti,
yaitu Sang Bhagawan Ekadenta atau Sang Sakti Jitendrya, juga Sang Bhagawan
Sirnasarira. Maka mereka berdua lalu mohon bantuan Nini Bumigarba untuk
mengimbangi pihak lawan.
Pangeran Panji
Sigit tidak mengetahui akan hal ini semua, hanya mengira bahwa semua itu
digerakkan oleh Suminten dan Pangeran Kukutan yang menginginkan kedudukan dan
kekuasaan, dibantu oleh Warutama yang ia anggap seorang petualang yang haus
kedudukan dan kemuliaan.
No comments:
Post a Comment