Perawan Lembah Wilis; Bagian 135


Sang prabu mengangguk-angguk dan merasa kagum akan keluasan pandangan selirnya ini yang selalu mendahulukan kepentingan kerajaan dan kepentingan dia sebagai rajanya.
"Jangan khawatir. Suruh dia menghadap" Sama sekali raja yang tua dan pikun ini tidak tahu betapa sesungguhnya bukan Endang Patibroto yang menaruh dendam atas kematian Pangeran Panjirawit karena wanita perkasa itu sudah melihat kenyataan dari sebab-sebab kematian suaminya adalah akibat fitnah yang dilakukan oleh kaki tangan Blambangan. Tidak tahu bahwa sebetulnya Sumintenlah yang menaruh dendam itu! Pangeran Panjirawit adalah pria pertama yang dirindukan hati Suminten ketika wanita itu masih seorang perawan dahulu, cinta yang tulus. Karena kematian itu, Suminten menaruh dendam kepada Sang Prabu Jenggala sendiri yang menyebabkan kematian pangeran itu, dan menaruh dendam kepada Endang Patibroto yang memonopoli cinta kasih Pangeran Panjirawit.

Demikianlah, raja yang tua ini pun tidak membantah ketika ia menerima kedatangan putera yang dikasihinya itu dalam ruangan yang dihadiri pula oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama! Sang prabu memandang dengan wajah berseri ketika Pangeran Panji Sigit datang menghadap bersama Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono. Pandang matanya melekat pada wajah puteranya, dan kepada tiga orang lain yang berlutut dan menyembah, ia hanya memandang sekilas saja.
"Kanjeng Rama, hamba Panji Sigit menghaturkan sembah sujud .."
"Sigit, Puteraku ...., kenapa lama benar kau pergi? Ke mana saja engkau pergi?"
Mendengar suara ramandanya yang gemetar, melihat wajah yang tua dan pucat, hati Pangeran Panji Sigit seperti disayat.
"Hamba pergi merantau, mencari pengalaman....”
"Puteraku wong bagus, majulah Panji Sigit, mendekatlah ke sini .....”
Pangeran Panji Sigit bergerak maju sampai di depan ramandanya. Sang prabu menyentuh rambut puteranya, kemudian rasa girang dan haru menyelimuti hatinya sehingga raja tua itu membungkuk dan merangkul. Panji Sigit tak dapat menahan keharuannya dan ia memeluk kaki ramandanya, menitikkan air mata dan berkata lirih,
"Kanjeng Rama ...apakah yang telah terjadi? Hamba mendengar hal-hal yang amat hebat terjadi di sini... dan ... dan ...”
"Husssshhh ..... jangan menyebut-nyebut tentang itu, Puteraku. Engkau tidak tahu betapa banyaknya orang-orang yang kelihatan setia namun sesungguhnya berhati palsu. Masih untung bahwa sampai sekarang ramandamu dapat mengalahkan mereka semua. Engkau tidak boleh mendengarkan bisikan-bisikan fitnah yang bukan-bukan, Puteraku. Percayalah bahwa semua yang terjadi di sini adalah sudah seadil-adilnya dan semestinya. Memang sepintas lalu kelihatan hebat, akan tetapi engkau belum tahu betapa sukar menjenguk isi hati manusia.....”
Pangeran Panji Sigit mengerling ke arah Suminten yang duduk anteng di sebelah kiri sang prabu. Wanita itu kelihatan makin cantik jelita, dengan tubuh yang matang menggairahkan. Timbul rasa muak dan benci di hati Panji Sigit, akan tetapi ia hanya mundur dan berkata,
"Paduka benar, Kanjeng Rama. Sukar sekali menjenguk isi hati manusia. Orang yang kelihatan sebaik-baiknya, yang di luarnya manis budi dan menyenangkan, belum tentu memiliki hati yang beriktikad baik terhadap kita. Karena itu, sebaiknya Kanjeng Rama juga jangan terlalu mudah menjatuhkan kepercayaan kepada seseorang ....“
"Waduh, Adimas Pangeran! Masa benar demikian? Kurasa harus melihat orangnya! Seperti aku ini terhadapmu, Dimas, apakah Andika juga mempunyai anggapan bahwa mungkin hatiku terhadapmu palsu?" Tiba-tiba Pangeran Kukutan mencela sambil tersenyum.
Panji Sigit mengerling ke arah kakak tirinya itu, pandang matanya tajam menusuk.
"Biarpun saudara, tetap saja kita tidak dapat saling menjenguk isi hati masing-masing, Rakanda Pangeran. Hanya diri sendiri dan Hyang Maha Agung sajalah yang mengetahui akan isi hati sendiri!” Sang prabu tersenyum.
"Cukup kiranya tentang filsafat dan prasangka yang bukan-bukan. Kita di antara keluarga sendiri. Eh, Panji Sigit, aku mendengar bahwa engkau pulang bersama isterimu. Mana dia? Mana mantuku?" Setyaningsih menyembah,
"Hamba Setyaningsih menghaturkan sembah bakti kepada Paduka, Gusti…….”
"Engkaukah isterinya? Wah, cantik jelita dan gagah perkasa .... aku mendengar bahwa engkau adik kandung mantuku Endang Patibroto. Betulkah?"
"Sesungguhnyalah, Gusti....”
"Setyaningsih, engkau mantuku, jangan menyebut gusti kepadaku. Aku ramandamu juga! Panji Sigit, senang sekali hatiku melihat isterimu. Mulai sekarang, jangan engkau pergi-pergi lagi meninggalkan Jenggala. Engkau sudah dewasa, sudah beristeri, seharusnya tinggal di sini dan melakukan tugasmu sebagai seorang pangeran, membantu kakakmu Pangeran Kukutan demi ketenteraman Jenggala. Aku sudah tua, kalau bukan putera-puteraku seperti Kukutan dan engkau yang mewakili aku memegang kendali pemerintahan, habis siapa lagi?? Bukankah benar begitu, Patih?"

Semua mata memandang kepada Ki Path Warutama yang duduk di sebelah kiri dan yang sejak tadi seperti halnya Suminten, duduk dengan anteng dan penuh hormat sebagai seorang ponggawa yang baik. Ki Patih Warutama dengan tenang menyembah, sedikitpun tidak memperlihatkan reaksi terhadap pandang mata penuh selidik dari empat orang muda itu, kemudian terdengar suaranya yang tenang dan penuh pengertian,
"Tiada seujung rambut pun selisihnya kebenaran wawasan dan sabda Paduka yang amat bijaksana, Gusti! Seorang pangeran muda sudah seyogyanya memperluas pengalaman dan mengejar ilmu dalam tapa brata, akan tetapi semua itu dilakukan dengan cita-cita agar kelak semua ilmunya dapat dipergunakan untuk berdharma bakti kepada orang tua dan negara! Hamba merasa girang sekali mendengar bahwa Gusti Pangeran Panji Sigit membantu tugas Gusti Pangeran Mahkota, ada pun hamba hanya siap untuk melayani dan membantu."
"Ha-ha-ha-ha, kau lihat sendiri, Panji Sigit. Bukankah patihku ini hebat? Engkau akan senang sekali mendapat bantuan seorang yang setia, cerdik pandai, dan memiliki kesaktian yang amat hebat seperti Ki Patih Warutama ini." Pandang mata Panji Sigit bertemu dengan pandang mata Warutama dan pangeran muda ini tertegun. Alangkah hebatnya orang ini! alangkah berbahayanya. Sudah jelas baginya bahwa orang yang menjadi patih ramandanya ini adalah penjahat busuk yang pernah menyelundup ke Wilis dan yang pernah menculik Retna Wilis bersama dua orang kawannya yang mengerikan, yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Kalau dahulu tidak ada gurunya, Ki Datujiwa yang menolong dan merampas kembali Retna Wilis, tentu anak ayundanya itu telah dibawa pergi. Patih ini adalah seorang jahat, dan tentu saja tahu bahwa dia mengenalnya. Akan tetapi patih itu masih bersikap begitu tenang seolah-olah merasa belum pernah bertemu sebelumnya! Alangkah beraninya! Namun, apa yang dapat ia lakukan? Dia berada di sarang harimau, sungguhpun hal ini aneh kalau diingat bahwa dia berada di istana ramandanya sendiri! Pula, urusan penculikan Retna Wilis adalah urusan pribadi yang tidak ada sangku-pautnya dengan ramandanya, maka tentu saja tidak perlu baginya untuk membeberkan persoalan itu di depan ramandanya. Sungguhpun ia mempunyai keyakinan bahwa Nini Bumigarba yang kini berhasil menculik Retna Wilis dan membunuh Ki Datujiwa itu tentulah mempunyai hubungan dengan Patih Warutama, namun tentu saja ia tidak dapat menanyakannya begitu saja. Adanya Ki Patih Warutama di istana itu, di samping Pangeran Kukutan dan Suminten, membuat Pangeran Panji Sigit menjadi lebih hati-hati lagi. Untuk beberapa detik lamanya, perasaan yang sama mengaduk hati Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini kagum. Pantas saja kalau Warutama dapat menyelundup dan menjadi patih. Orang itu amat cerdik dan berbahaya melebihi seekor ular welang! Hanya ada dua kemungkinan. Ki Patih Warutama ini seorang cerdik yang amat berbahaya kalau benar apa yang diceritakan oleh Ki Wiraman, atau sebaliknya, dia seorang yang gagah perkasa dan bijaksana kalau cerita Ki Wiraman itu tidak betul. Terhadap orang seperti ini, mereka harus berhati-hati sekali.
"Hamba merasa girang sekali bahwa Paduka telah mendapatkan seorang patih yang pandai dan bijaksana, Kanjeng Rama. Semoga dengan adanya Paman Patih ini, kerajaan Paduka akan terbebas daripada orang-orang munafik yang hanya di luarnya saja baik namun di sebelah dalam dadanya mengandung niat yang laknat, seperti ular- ular berkedok domba."

Sambil berkata demikian, dengan pandang mata tajam penuh selidik Pangeran Panji Sigit memandang wajah ki patih itu. Namun tusukan yang terkandung dalam ucapan ini agaknya sama sekali tidak dirasai oleh Ki Patih Warutama. Wajah yang sudah matang dan masih tampan menarik itu tetap tenang dan bersih, seperti wajah orang yang tidak mempunyai dosa apa-apa, bahkan mulut itu tersenyum dan pandang matanya tenang lembut.
"Harap Paduka jangan khawatir, Gusti Pangeran. Hamba akan membela Jenggala dengan taruhan jiwa raga hamba sebagai imbalan atas kebijaksanaan dan segala anugerah yang telah dilimpahkan oleh Gusti Sinuwun kepada hamba."
Kalau saja Pangeran Panji Sigit belum pernah mendengar cerita ratu, dan Joko Pramono belum mendengar cerita Ki Wiraman, tentu mereka itu akan dapat terbujuk oleh sikap dan kata-kata patih ini. Hanya Setyaningsih dan Pusporini dengan perasaan wanitanya dapat menangkap sifat-sifat yang jauh lebih buas dan keji terhadap wanita dalam pribadi patih ini, dibandingkan dengan Pangeran Kukutan. Ketampanan dan kematangan sifat jantan ki patih ini benar-benar membuat mereka berdebar dan penuh kengerian, juga menimbulkan kemuakan yang mendatangkan benci tanpa sebab.
"Kanjeng Rama, perkenankan hamba memperkenalkan dua orang sahabat yang datang menghadap bersama hamba. Gadis ini bukan orang lain, melainkan adik tiri Diajeng Setyaningsih, bernama Pusporini. Adapun sahabat ini bernama Joko Pramono, saudara seperguruan Adinda Pusporini. Hamba mohon agar mereka ini diperkenankan tinggal di sini dan diberi tugas pekerjaan membantu hamba."
"Ah, gadis yang cantik dan pemuda yang perkasa. Tentu saja boleh, Puteraku, dan biarlah tentang tugas mereka ini kuserahkan kepada Patih Warutama yang akan mengaturnya."
Setelah bercakap-cakap sebentar dan Pangeran Panji Sigit menceritakan pengalamannya semenjak meninggalkan istana tanpa menyinggung-nyinggung persoalan yang didengarnya tentang Jenggala, pertemuan dibubarkan dan selanjutnya, Pangeran Panji Sigit dan isterinya mendapat tempat tinggal di lingkungan istana, adapun Joko Pramono dan Pusporini untuk sementara tinggal di padepokan tamu istana sehingga mereka berempat sewaktu-waktu dapat mengadakan pertemuan karena tempat mereka itu hanya terpisah oleh taman sari yang luas dan indah. Tanpa mereka sangka sama sekali, semua ini telah direncanakan oleh Suminten yang menghendaki empat orang itu dekat dengannya, tidak saja untuk pelaksanaan siasatnya, akan tetapi juga agar lebih mudah kaki tangannya mengadakan pengawasan. Dengan hati-hati sekali empat orang muda yang sudah berhasil menyelundup dan diterima di istana Jenggala itu berusaha untuk menyelidiki keadaan Nini Bumigarba. Namun ternyata sama sekali tidak berhasil. Bahkan ketika Pangeran Panji Sigit mendapat kesempatan menyinggung nama ini di depan sang prabu, ramandanya juga mengerutkan alisnya dan menyatakan tidak mengenal nama itu. sama sekali. Juga Ki Patih Warutama menyatakan tidak mengenal nama itu. Hanya Pangeran Kukutan ketika ditanya oleh Pangeran Panji Sigit, membelalakkan matanya dan berkata,
"Aku hanya pernah mendengar nama itu, nama seorang nenek yang sakti mandraguna seperti dewi katon, tiada lawannya di dunia ini. Akan tetapi aku belum pernah melihatnya dan tentu saja tidak tahu di mana tempat tinggalnya."
Pangeran Panji Sigit menjadi bingung dan gelisah, karena agaknya tidak ada harapan untuk mencari keterangan tentang Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis. Di samping menyelidiki tentang Nini Bumigarba, tentu saja mereka juga menyelidiki tentang keadaan Kerajaan Jenggala dan apa yang mereka dapatkan membuat Pangeran Panji Sigit menarik napas panjang berkali-kali dengan hati penuh duka dan gelisah. Ternyata bahwa para ponggawa yang setia dari ramandanya, kalau tidak "hilang" tanpa bekas tentu telah berubah seratus prosen dan kini menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan. Para ponggawa yang dahulunya setia kepada ramandanya, kini telah habis. Yang jiwanya gagah perkasa dan satria sejati, sudah hilang atau tewas secara aneh dalam pertempuran-pertempuran. Adapun mereka yang kini menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan dan menduduki tempat-tempat penting, adalah orang-orang baru dari luar daerah, atau mereka yang dahulunya setia akan tetapi berjiwa plin-plan yang menunjukkan pribadi orang-orang yang rendah budi, yang tidak segan-segan dan malu-malu menjadi penjilat demi untuk kesenangan diri pribadi. Orang-orang seperti inilah yang paling berbahaya.

Akan tetapi, diam-diam Pangeran Panji Sigit menjadi girang melihat bahwa betapapun juga masih ada di antara mereka yang benar-benar masih setia kepada ramandanya, dan bukan merupakan kaki tangan Pangeran Kukutan, sungguh-pun mereka ini menentang Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di dalam hati mereka saja karena sama sekali tidak berdaya.

<<< Bagian 134                                                                                     Bagian 136 >>>

No comments:

Post a Comment