Sang prabu mengangguk-angguk dan merasa kagum akan keluasan pandangan selirnya ini yang selalu mendahulukan kepentingan kerajaan dan kepentingan dia sebagai rajanya.
"Jangan khawatir. Suruh
dia menghadap" Sama sekali raja yang tua dan pikun ini tidak tahu betapa
sesungguhnya bukan Endang Patibroto yang menaruh dendam atas kematian Pangeran
Panjirawit karena wanita perkasa itu sudah melihat kenyataan dari sebab-sebab
kematian suaminya adalah akibat fitnah yang dilakukan oleh kaki tangan
Blambangan. Tidak tahu bahwa sebetulnya Sumintenlah yang menaruh dendam itu!
Pangeran Panjirawit adalah pria pertama yang dirindukan hati Suminten ketika
wanita itu masih seorang perawan dahulu, cinta yang tulus. Karena kematian itu,
Suminten menaruh dendam kepada Sang Prabu Jenggala sendiri yang menyebabkan
kematian pangeran itu, dan menaruh dendam kepada Endang Patibroto yang
memonopoli cinta kasih Pangeran Panjirawit.
Demikianlah, raja yang tua
ini pun tidak membantah ketika ia menerima kedatangan putera yang dikasihinya
itu dalam ruangan yang dihadiri pula oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki
Patih Warutama! Sang prabu memandang dengan wajah berseri ketika Pangeran Panji
Sigit datang menghadap bersama Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono.
Pandang matanya melekat pada wajah puteranya, dan kepada tiga orang lain yang
berlutut dan menyembah, ia hanya memandang sekilas saja.
"Kanjeng Rama, hamba
Panji Sigit menghaturkan sembah sujud .."
"Sigit, Puteraku ....,
kenapa lama benar kau pergi? Ke mana saja engkau pergi?"
Mendengar suara ramandanya
yang gemetar, melihat wajah yang tua dan pucat, hati Pangeran Panji Sigit
seperti disayat.
"Hamba pergi merantau,
mencari pengalaman....”
"Puteraku wong bagus,
majulah Panji Sigit, mendekatlah ke sini .....”
Pangeran Panji Sigit
bergerak maju sampai di depan ramandanya. Sang prabu menyentuh rambut
puteranya, kemudian rasa girang dan haru menyelimuti hatinya sehingga raja tua
itu membungkuk dan merangkul. Panji Sigit tak dapat menahan keharuannya dan ia
memeluk kaki ramandanya, menitikkan air mata dan berkata lirih,
"Kanjeng Rama ...apakah
yang telah terjadi? Hamba mendengar hal-hal yang amat hebat terjadi di sini...
dan ... dan ...”
"Husssshhh ..... jangan
menyebut-nyebut tentang itu, Puteraku. Engkau tidak tahu betapa banyaknya
orang-orang yang kelihatan setia namun sesungguhnya berhati palsu. Masih untung
bahwa sampai sekarang ramandamu dapat mengalahkan mereka semua. Engkau tidak
boleh mendengarkan bisikan-bisikan fitnah yang bukan-bukan, Puteraku. Percayalah
bahwa semua yang terjadi di sini adalah sudah seadil-adilnya dan semestinya.
Memang sepintas lalu kelihatan hebat, akan tetapi engkau belum tahu betapa
sukar menjenguk isi hati manusia.....”
Pangeran Panji Sigit
mengerling ke arah Suminten yang duduk anteng di sebelah kiri sang prabu.
Wanita itu kelihatan makin cantik jelita, dengan tubuh yang matang
menggairahkan. Timbul rasa muak dan benci di hati Panji Sigit, akan tetapi ia
hanya mundur dan berkata,
"Paduka benar, Kanjeng
Rama. Sukar sekali menjenguk isi hati manusia. Orang yang kelihatan
sebaik-baiknya, yang di luarnya manis budi dan menyenangkan, belum tentu
memiliki hati yang beriktikad baik terhadap kita. Karena itu, sebaiknya Kanjeng
Rama juga jangan terlalu mudah menjatuhkan kepercayaan kepada seseorang ....“
"Waduh, Adimas
Pangeran! Masa benar demikian? Kurasa harus melihat orangnya! Seperti aku ini
terhadapmu, Dimas, apakah Andika juga mempunyai anggapan bahwa mungkin hatiku
terhadapmu palsu?" Tiba-tiba Pangeran Kukutan mencela sambil tersenyum.
Panji Sigit mengerling ke
arah kakak tirinya itu, pandang matanya tajam menusuk.
"Biarpun saudara, tetap
saja kita tidak dapat saling menjenguk isi hati masing-masing, Rakanda
Pangeran. Hanya diri sendiri dan Hyang Maha Agung sajalah yang mengetahui akan
isi hati sendiri!” Sang prabu tersenyum.
"Cukup kiranya tentang
filsafat dan prasangka yang bukan-bukan. Kita di antara keluarga sendiri. Eh,
Panji Sigit, aku mendengar bahwa engkau pulang bersama isterimu. Mana dia? Mana
mantuku?" Setyaningsih menyembah,
"Hamba Setyaningsih
menghaturkan sembah bakti kepada Paduka, Gusti…….”
"Engkaukah isterinya?
Wah, cantik jelita dan gagah perkasa .... aku mendengar bahwa engkau adik
kandung mantuku Endang Patibroto. Betulkah?"
"Sesungguhnyalah,
Gusti....”
"Setyaningsih, engkau
mantuku, jangan menyebut gusti kepadaku. Aku ramandamu juga! Panji Sigit,
senang sekali hatiku melihat isterimu. Mulai sekarang, jangan engkau
pergi-pergi lagi meninggalkan Jenggala. Engkau sudah dewasa, sudah beristeri,
seharusnya tinggal di sini dan melakukan tugasmu sebagai seorang pangeran,
membantu kakakmu Pangeran Kukutan demi ketenteraman Jenggala. Aku sudah tua,
kalau bukan putera-puteraku seperti Kukutan dan engkau yang mewakili aku
memegang kendali pemerintahan, habis siapa lagi?? Bukankah benar begitu,
Patih?"
Semua mata memandang kepada
Ki Path Warutama yang duduk di sebelah kiri dan yang sejak tadi seperti halnya
Suminten, duduk dengan anteng dan penuh hormat sebagai seorang ponggawa yang
baik. Ki Patih Warutama dengan tenang menyembah, sedikitpun tidak
memperlihatkan reaksi terhadap pandang mata penuh selidik dari empat orang muda
itu, kemudian terdengar suaranya yang tenang dan penuh pengertian,
"Tiada seujung rambut
pun selisihnya kebenaran wawasan dan sabda Paduka yang amat bijaksana, Gusti!
Seorang pangeran muda sudah seyogyanya memperluas pengalaman dan mengejar ilmu
dalam tapa brata, akan tetapi semua itu dilakukan dengan cita-cita agar kelak
semua ilmunya dapat dipergunakan untuk berdharma bakti kepada orang tua dan negara!
Hamba merasa girang sekali mendengar bahwa Gusti Pangeran Panji Sigit membantu
tugas Gusti Pangeran Mahkota, ada pun hamba hanya siap untuk melayani dan
membantu."
"Ha-ha-ha-ha, kau lihat
sendiri, Panji Sigit. Bukankah patihku ini hebat? Engkau akan senang sekali
mendapat bantuan seorang yang setia, cerdik pandai, dan memiliki kesaktian yang
amat hebat seperti Ki Patih Warutama ini." Pandang mata Panji Sigit
bertemu dengan pandang mata Warutama dan pangeran muda ini tertegun. Alangkah
hebatnya orang ini! alangkah berbahayanya. Sudah jelas baginya bahwa orang yang
menjadi patih ramandanya ini adalah penjahat busuk yang pernah menyelundup ke
Wilis dan yang pernah menculik Retna Wilis bersama dua orang kawannya yang
mengerikan, yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Kalau dahulu tidak ada
gurunya, Ki Datujiwa yang menolong dan merampas kembali Retna Wilis, tentu anak
ayundanya itu telah dibawa pergi. Patih ini adalah seorang jahat, dan tentu
saja tahu bahwa dia mengenalnya. Akan tetapi patih itu masih bersikap begitu
tenang seolah-olah merasa belum pernah bertemu sebelumnya! Alangkah beraninya!
Namun, apa yang dapat ia lakukan? Dia berada di sarang harimau, sungguhpun hal
ini aneh kalau diingat bahwa dia berada di istana ramandanya sendiri! Pula,
urusan penculikan Retna Wilis adalah urusan pribadi yang tidak ada
sangku-pautnya dengan ramandanya, maka tentu saja tidak perlu baginya untuk
membeberkan persoalan itu di depan ramandanya. Sungguhpun ia mempunyai
keyakinan bahwa Nini Bumigarba yang kini berhasil menculik Retna Wilis dan
membunuh Ki Datujiwa itu tentulah mempunyai hubungan dengan Patih Warutama,
namun tentu saja ia tidak dapat menanyakannya begitu saja. Adanya Ki Patih
Warutama di istana itu, di samping Pangeran Kukutan dan Suminten, membuat Pangeran
Panji Sigit menjadi lebih hati-hati lagi. Untuk beberapa detik lamanya,
perasaan yang sama mengaduk hati Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono,
Setyaningsih, dan Pusporini kagum. Pantas saja kalau Warutama dapat menyelundup
dan menjadi patih. Orang itu amat cerdik dan berbahaya melebihi seekor ular
welang! Hanya ada dua kemungkinan. Ki Patih Warutama ini seorang cerdik yang
amat berbahaya kalau benar apa yang diceritakan oleh Ki Wiraman, atau
sebaliknya, dia seorang yang gagah perkasa dan bijaksana kalau cerita Ki
Wiraman itu tidak betul. Terhadap orang seperti ini, mereka harus berhati-hati
sekali.
"Hamba merasa girang
sekali bahwa Paduka telah mendapatkan seorang patih yang pandai dan bijaksana,
Kanjeng Rama. Semoga dengan adanya Paman Patih ini, kerajaan Paduka akan
terbebas daripada orang-orang munafik yang hanya di luarnya saja baik namun di
sebelah dalam dadanya mengandung niat yang laknat, seperti ular- ular berkedok
domba."
Sambil berkata demikian,
dengan pandang mata tajam penuh selidik Pangeran Panji Sigit memandang wajah ki
patih itu. Namun tusukan yang terkandung dalam ucapan ini agaknya sama sekali
tidak dirasai oleh Ki Patih Warutama. Wajah yang sudah matang dan masih tampan
menarik itu tetap tenang dan bersih, seperti wajah orang yang tidak mempunyai
dosa apa-apa, bahkan mulut itu tersenyum dan pandang matanya tenang lembut.
"Harap Paduka jangan
khawatir, Gusti Pangeran. Hamba akan membela Jenggala dengan taruhan jiwa raga
hamba sebagai imbalan atas kebijaksanaan dan segala anugerah yang telah dilimpahkan
oleh Gusti Sinuwun kepada hamba."
Kalau saja Pangeran Panji
Sigit belum pernah mendengar cerita ratu, dan Joko Pramono belum mendengar
cerita Ki Wiraman, tentu mereka itu akan dapat terbujuk oleh sikap dan
kata-kata patih ini. Hanya Setyaningsih dan Pusporini dengan perasaan wanitanya
dapat menangkap sifat-sifat yang jauh lebih buas dan keji terhadap wanita dalam
pribadi patih ini, dibandingkan dengan Pangeran Kukutan. Ketampanan dan
kematangan sifat jantan ki patih ini benar-benar membuat mereka berdebar dan
penuh kengerian, juga menimbulkan kemuakan yang mendatangkan benci tanpa sebab.
"Kanjeng Rama,
perkenankan hamba memperkenalkan dua orang sahabat yang datang menghadap
bersama hamba. Gadis ini bukan orang lain, melainkan adik tiri Diajeng Setyaningsih,
bernama Pusporini. Adapun sahabat ini bernama Joko Pramono, saudara seperguruan
Adinda Pusporini. Hamba mohon agar mereka ini diperkenankan tinggal di sini dan
diberi tugas pekerjaan membantu hamba."
"Ah, gadis yang cantik
dan pemuda yang perkasa. Tentu saja boleh, Puteraku, dan biarlah tentang tugas
mereka ini kuserahkan kepada Patih Warutama yang akan mengaturnya."
Setelah bercakap-cakap
sebentar dan Pangeran Panji Sigit menceritakan pengalamannya semenjak
meninggalkan istana tanpa menyinggung-nyinggung persoalan yang didengarnya
tentang Jenggala, pertemuan dibubarkan dan selanjutnya, Pangeran Panji Sigit
dan isterinya mendapat tempat tinggal di lingkungan istana, adapun Joko Pramono
dan Pusporini untuk sementara tinggal di padepokan tamu istana sehingga mereka
berempat sewaktu-waktu dapat mengadakan pertemuan karena tempat mereka itu
hanya terpisah oleh taman sari yang luas dan indah. Tanpa mereka sangka sama
sekali, semua ini telah direncanakan oleh Suminten yang menghendaki empat orang
itu dekat dengannya, tidak saja untuk pelaksanaan siasatnya, akan tetapi juga
agar lebih mudah kaki tangannya mengadakan pengawasan. Dengan hati-hati sekali
empat orang muda yang sudah berhasil menyelundup dan diterima di istana
Jenggala itu berusaha untuk menyelidiki keadaan Nini Bumigarba. Namun ternyata
sama sekali tidak berhasil. Bahkan ketika Pangeran Panji Sigit mendapat
kesempatan menyinggung nama ini di depan sang prabu, ramandanya juga
mengerutkan alisnya dan menyatakan tidak mengenal nama itu. sama sekali. Juga
Ki Patih Warutama menyatakan tidak mengenal nama itu. Hanya Pangeran Kukutan
ketika ditanya oleh Pangeran Panji Sigit, membelalakkan matanya dan berkata,
"Aku hanya pernah
mendengar nama itu, nama seorang nenek yang sakti mandraguna seperti dewi katon,
tiada lawannya di dunia ini. Akan tetapi aku belum pernah melihatnya dan tentu
saja tidak tahu di mana tempat tinggalnya."
Pangeran Panji Sigit menjadi
bingung dan gelisah, karena agaknya tidak ada harapan untuk mencari keterangan
tentang Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis. Di samping menyelidiki
tentang Nini Bumigarba, tentu saja mereka juga menyelidiki tentang keadaan
Kerajaan Jenggala dan apa yang mereka dapatkan membuat Pangeran Panji Sigit
menarik napas panjang berkali-kali dengan hati penuh duka dan gelisah. Ternyata
bahwa para ponggawa yang setia dari ramandanya, kalau tidak "hilang"
tanpa bekas tentu telah berubah seratus prosen dan kini menjadi kaki tangan
Pangeran Kukutan. Para ponggawa yang dahulunya setia kepada ramandanya, kini
telah habis. Yang jiwanya gagah perkasa dan satria sejati, sudah hilang atau
tewas secara aneh dalam pertempuran-pertempuran. Adapun mereka yang kini
menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan dan menduduki tempat-tempat penting,
adalah orang-orang baru dari luar daerah, atau mereka yang dahulunya setia akan
tetapi berjiwa plin-plan yang menunjukkan pribadi orang-orang yang rendah budi,
yang tidak segan-segan dan malu-malu menjadi penjilat demi untuk kesenangan
diri pribadi. Orang-orang seperti inilah yang paling berbahaya.
Akan tetapi,
diam-diam Pangeran Panji Sigit menjadi girang melihat bahwa betapapun juga
masih ada di antara mereka yang benar-benar masih setia kepada ramandanya, dan
bukan merupakan kaki tangan Pangeran Kukutan, sungguh-pun mereka ini menentang
Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di dalam hati mereka saja karena sama
sekali tidak berdaya.
No comments:
Post a Comment