Akhirnya, mereka berempat ini dapat juga sampai di Istana, akan tetapi setibanya di pintu gerbang istana setelah melewati alun-alun yang lebar, mereka terpaksa berhenti di depan ujung tombak para penjaga pintu gerbang luar.
"Tidak ada orang yang
boleh melalui pintu gerbang ini tanpa izin! Andika berempat telah mendapat izin
siapakah hendak memasuki daerah istana?" bentak seorang di antara para
penjaga itu. Pangeran Panji Sigit menahan kemarahannya. Dia melangkah maju dan
memandang mereka dengan sinar mata tajam, kemudian berkata,
"Benarkah ucapan tadi
keluar dari mulut penjaga pintu gerbang luar istana Jenggala? Ataukah kalian
ini prajurit penjaga yang palsu? Karena kalau prajurit-prajurit Jenggala pasti
akan mengenal Pangeran Panji Sigit!"
Memang, semua penjaga dan
pengawal istana kini telah diganti oleh orang-orang kepercayaan Pangeran
Kukutan dan Ki Patih Warutama. Semua petugas lama telah dienyahkan dan diganti
orang-orang baru. Karena sebagian besar di antara penjaga dan pengawal baru
adalah orang-orang luar, maka tentu saja mereka ini tidak mengenal Pangeran
Panji Sigit. Para penjaga itu terkejut dan saling pandang, ragu-ragu menghadapi
pemuda tampan yang memandang mereka penuh wibawa itu. Pada saat itu, terdengar bentakan,
"Eh, para penjaga
tolol! Tidak lekas membuka pintu gerbang untuk junjungan kalian Pangeran Panji
Sigit? Kalian benar-benar minta dihukum picis!"
Para penjaga itu menjadi
pucat wajahnya karena yang membentak dan menegur mereka itu adalah Pangeran Kukutan
sendiri! Pintu gerbang segera dibuka dan Pangeran Kukutan menyambut adik
tirinya dengan penuh kegembiraan.
"Duhai Adinda Pangeran
....., betapa besar rasa bahagia di hatiku mendengar sorak-sorai rakyat yang
mengabarkan akan kembalimu! Ah, betapa Adinda telah menyusahkan hati seluruh
keluarga istana karena kepergian Adinda tanpa sebab dan tanpa pamit ... !"
Sambil berkata demikian, Pangeran Kukutan merangkul pundak adik tirinya itu
dengan wajah berseri-seri. Pusporini dan Joko Pramono saling bertukar pandang.
Kelirukah cerita yang mereka dengar dari Pangeran Panji Sigit tentang Pangeran
Kukutan yang dikatakannya berhati palsu? Ketika pangeran itu muncul, tadi Panji
Sigit telah membisikkan bahwa itulah Pangeran Kukutan yang kini menjadi putera
mahkota. Ataukah cerita Pangeran Panji Sigit hanya merupakan fitnah yang timbul
dari hati yang iri? Buktinya, kini Pangeran Kukutan yang tampan dan kelihatan
gagah itu menyambut adiknya dengan sikap begitu riang. Tampak oleh mereka
betapa jauh bedanya wajah kedua orang pangeran putera Raja Jenggala itu.
"Adinda Panji Sigit,
mengapa tidak mengabarkan lebih dulu kalau hendak pulang? Tentu akan kami
sambut dengan pesta! Ah, sekarang pun belum terlambat. Kepulangan Adinda akan
kita rayakan dengan pesta yang meriah!"
"Terima kasih, Kakanda
Pangeran, akan keramahan Kakanda. Akan tetapi tidak perlu kiranya diadakan
penyambutan dengan pesta. Saya pulang hanya untuk menghadap kanjeng rama, untuk
memperkenalkan isteri saya dan untuk mendekati beliau yang sudah sepuh."
"Garwamu (isterimu)?
Ah.....betapa menggembirakan! Yang manakah garwamu, Adinda?" Pangeran
Kukutan berseru girang sambil memandang berganti-ganti kepada Pusporini dan
Setyaningsih.
Kalau Joko Pramono
menganggap pangeran itu amat ramah dan sikapnya wajar, adalah kedua orang
wanita ini yang dapat menangkap pandang mata penuh gairah menyinar dari balik
wajah berseri itu. Pandang mata yang seolah-olah dapat menelanjangi pakaian
mereka! Adapun Pangeran Kukutan yang memandang dua orang wanita muda itu,
diam-diam menelan ludah dan mengilar karena sukar baginya memilih mana yang
lebih denok dan jelita di antara kedua orang wanita itu. Yang seorang ayu
kuning dan yang ke dua hitam manis, namun keduannya memiliki daya penarik yang
khas! Dia hanya pura-pura saja tidak tahu karena sesungguhnya, pandang mata
yang sudah berpengalaman sebagai seorang pelahap wanita itu sekilas pandang
saja sudah mengenal mana gadis yang bersuami dan mana yang belum. Pangeran
Panji Sigit tidak heran menyaksikan penyambutan manis dari Pangeran Kukutan
karena dia sudah mngenal kepalsuan kakak tirinya ini. Akan tetapi, sungguh di
luar dugaan bahwa kakak tirinya akan bersikap semanis itu, padahal tadinya ia
mengira bahwa tentu dia akan disambut dengan ujung senjata. Betapapun juga,
karena mengenal watak Pangeran Kukutan, ia tetap waspada dan menduga bahwa
tentu ada maksud-maksud tersembunyi di balik penyambutan manis ini. Terpaksa
iapun lalu memperkenalkan Setyaningsih.
"Dia inilah isteriku,
Kakanda Pangeran. Namanya Setyaningsih dan dia adalah adik kandung Ayunda
Endang Patibroto“
"Apa ..??"
Sepasang mata yang maniknya agak kebiruan itu membelalak. Pangeran Kukutan
memiliki manik mata yang agak kebiruan dan hal ini bagi sebagian besar wanita
yang bertemu dengannya menjadi sebuah daya penarik yang kuat, sebaliknya bagi
yang mengerti, warna itu menjadi tanda akan watak seorang pria yang gila
wanita.
Diam-diam Pangeran Kukutan
terkejut dan gentar karena dia sesungguhnya tidak tahu bahwa isteri Pangeran
Panji Sigit adalah adik kandung Endang Patibroto. Meremang bulu tengkuknya
kalau ia teringat akan isteri mendiang Pangeran Panjirawit itu!
"Adik kandung Ayunda
Endang Patibroto isteri mendiang Kakanda Pangeran Panjirawit yang sakti
mandraguna? Ah, betapa menggirangkan hal ini.... !" Ia cepat-cepat
membungkuk untuk membalas penghormatan Setyaningsih, dan pada saat itu hanya
dia sendiri yang tahu bahwa hatinya tidaklah segirang ucapan mulutnya.
"Dinda Pusporini ini
pun adik tiri Ayunda Endang Patibroto, sedangkan Adimas Joko Pramono ini adalah
sahabat baiknya tunggal guru." Pangeran Panji Sigit memperkenalkan dua
orang pemuda itu dan sejenak pandang mata Pangeran Kukutan menatap kedua orang
muda itu penuh selidik. Hemm, pikirnya. Jadi mereka berdua inikah yang oleh
Cekel Wisangkoro dikatakan sebagai dua orang muda yang amat sakti? Kelihatannya
tidak seberapa.
"Marilah, Adinda
Pangeran, marilah beristirahat di tempatku. Sudah kusediakan kamar-kamar untuk
kalian berempat. Tentu Adinda lelah karena perjalanan jauh dan perlu
istirahat."
Mereka berlima lalu memasuki
halaman istana yang lebar.
"Kakanda, saya ingin
segera pergi menghadap kanjeng rama. Sudah amat rindu hati saya karena lama
tidak menghadap.... “
"Ah, sayang sekali,
Dimas. Kanjeng rama kini sudah sepuh dan kesehatan beliau banyak mundur.
Kanjeng rama banyak beristirahat dan kalau tidak beliau kehendaki, siapa pun
juga dilarang mengganggu. Akan tetapi, tentu saja aku akan segera menyampaikan
berita kedatangan Adinda ini melalui ibunda selir. Ketahuilah bahwa kini
kanjeng rama tidak suka diganggu oleh siapa juga kecuali Ibunda selir,
satu-satunya orang yang diperkenankan memasuki kamar peraduannya tanpa izin.
Hanya ibunda selir saja yang kini siang malam melayani dan merawat kanjeng
rama."
Diam-diam hati Pangeran
Panji Sigit tertusuk karena ia dapat menduga bahwa tentu Suminten itulah yang
dimaksudkan ibunda selir. Dia pun tahu bahwa sebetulnya keadaan ramandanya
seperti seorang tawanan sungguhpun hal ini tidak diketahui oleh siapa pun juga,
oleh ramandanya pun tidak. Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan pengetahuannya
ini dan bertanya,
"Ah, sampai begitu
memelas keadaan rama? Ibunda selir yang manakah yang begitu setia dan baik hati
terhadap kanjeng rama?"
"Siapa lagi kalau bukan
ibunda selir Suminten, Dimas Pangeran. Kiranya saya tidak berlebihan kalau mengatakan,
seperti diketahui oleh semua orang, bahwa kalau tidak mendapat perawatan yang
amat baik dari ibunda selir... ah, entah bagaimana jadinya dengan kanjeng rama!
Sudahlah, mari kita beristirahat di sana dan kita dapat bercengkerama
seenaknya."
"Akan tetapi, mendengar
keadaan kanjeng rama, saya makin tak kuat bertahan lama-lama untuk segera
menghadap."
"Jangan khawatir,
sebentar akan kusampaikan kepada ibunda selir agar dilaporkan kedatangan dan
kehendak Adinda itu kepada kanjeng rama prabu."
Demikianlah Pangeran Kukutan
mulai menjalankan siasat yang telah direncanakan oleh Suminten. Empat orang
muda itu diterima dengan sambutan ramah, ditempatkan di gedung tempat tinggal
Pangeran Kukutan sendiri karena keadaan di istana telah mengalami banyak perombakan
sehingga tempat yang dahulu ditinggali Pangeran Panji Sigit telah lenyap pula.
Mereka dijamu dengan hidangan-hidangan lezat dan dihibur dengan pertunjukan
tari-tarian dan tembang-tembang yang dilakukan para seniwati pilihan di
Jenggala. Sementara itu, Suminten juga tidak tinggal diam, melainkan
melaksanakan bagiannya dalam siasat itu. Suminten mengunjungi sang prabu di
dalam kamarnya, seperti biasanya merayu raja tua ini dan untuk kesekian kalinya
sang prabu terbuai mabuk dalam pelukan wanita ini yang merupakan tempat ia
menikmati hidup terakhir, tempat ia mencurahkan kasih sayangnya dan sumber
satu-satunya yang dapat menghibur segala duka nestapa dan kekosongan usia tua.
Berkat rayuan-rayuan Suminten, sang prabu yang tua itu seolah-olah menjadi
boneka yang semata-mata hidup untuk mengabdi nafsu berahinya terhadap Suminten,
tidak ada kemauan dan semangat sedikit pun juga untuk memikirkan hal-hal lain,
siang malam hanya terlena dalam buaian cinta nafsu yang tak kunjung padam, yang
sengaja selalu dikobarkan dan dinyalakan oleh Suminten. Sedemikian hebat
pengaruh nafsu ini bagaikan api bernyala-nyala selalu karena mendapat makanan
bahan bakar berupa tubuh Suminten dan sikapnya yang merayu mesra, sehingga
sudah berbulan-bulan sang prabu tidak lagi mau memperdulikan urusan lain,
bahkan jarang keluar dari dalam kamarnya yang seolah-olah disulap berubah
menjadi surga dunia oleh Suminten! Setelah untuk kesekian kalinya sang prabu
terlena mabuk, penuh kepuasan dan kenikmatan, rebah berbantal paha selir yang
dicintanya itu, seperti seorang pemadatan kekenyangan menghisap madat, dalam
keadaan setengah sadar setengah pulas, Suminten membelai rambut penuh ubah yang
panjang terurai itu sambil berkata manis,
"Gusti junjungan hamba,
Paduka yang menjadi sumber kebahagiaan hamba, ada sebuah berita yang amat
menyenangkan dan hamba yakin Paduka tentu akan gembira sekali mendengar berita
yang hamba bawa ini... “
Kedua lengan raja tua itu
merangkul pinggang yang ramping dan dengan mata terpejam mukanya dibenamkan ke
perut,
"Tidak ada berita lebih
bahagia daripada kehadiranmu di dekatku, Suminten ..“ Suminten tersenyum.
"Ah, Paduka selalu
melimpahkan cinta kasih Paduka kepada hamba dengan perbuatan dan kata-kata,
untuk itu hamba berterima kasih dan bersyukur kepada para dewata. Akan tetapi
berita ini benar-benar akan menambah kebahagiaan di hati Paduka, yaitu bahwa
putera kita Pangeran Panji Sigit telah pulang ....” Sepasang mata tua itu dan
wajah yang keriputan berseri. Sang prabu bangkit perlahan dari paha selirnya.
"Benarkah? Di mana dia
...Puteraku Panji Sigit, di mana dia? Suruh dia datang menghadap ...“
"Nah, bukankah Paduka
menjadi bahagia sekali?"
"Benar! Terima kasih,
Suminten. Memang berita ini amat menggembirakan ...“
"Akan tetapi, sebelum
puteranda pangeran diminta menghadap, hendaknya Paduka mengerti pula akan
hal-hal yang tidak menyedapkan hati“
"Apakah maksudmu?"
"Sebelum pulang, dia
telah menghadap ....sang ratu..... “
"Hemmm ....“
"Bukan itu saja, malah
baru saja dia pulang dari Panjalu."
"Hemm ....., kalau
begitu, mengapa? Apa salahnya dia menghadap rakanda prabu di Panjalu?"
"Bukan itu
persoalannya. Akan tetapi .....agaknya dia telah mendengarkan banyak
bisik-bisik fitnah tentang Paduka, tentang hamba .....dan agaknya dia pulang
membawa hati yang penasaran dan dendam. Hamba sungguh tidak menghendaki
puteranda Pangeran Panji Sigit memusuhi kita, Gusti, karena hamba tahu betapa
sayang hati Paduka terhadapnya. Karena itu.... , sebaiknya kalau Paduka
melarang dia bicara tentang masa lampau, bahkan memberi kedudukan kepadanya,
memerintahkan dia menjadi pembantu puteranda Pangeran Kukutan untuk menjaga
ketenteraman kerajaan Paduka yang memang sudah menjadi kewajibannya."
Raja tua itu
mengangguk-angguk.
"Tidak aneh kalau dia
yang masih muda itu dapat terpengaruh. Dan ucapanmu memang tepat sekali.
Seorang muda harus diberi tugas kewajiban sehingga tertanam jiwa setia dan
patuh akan perintah."
"Ada yang
menggembirakan lagi akan tetapi juga mengkhawatirkan .....“
"Apa lagi?"
"Dia pulang dengan
.....isterinya”
"Isterinya? Dia sudah
beristeri? Wahh ..akan tetapi hal ini menggembirakan, mengapa
mengkhawatirkan?"
"Karena isterinya
adalah adik kandung Endang Patibroto...."
"Haa.......??” Sang
prabu benar-benar terkejut dan tidak tahu apakah dia harus bergirang ataukah
berkhawatir.
"Paduka tentu masih
ingat akan kematian Pangeran Panjirawit, tentu dapat menyelami perasaan Endang
Patibroto yang teringat akan kematian suaminya di tangan Paduka .....dan
....isteri Pangeran Panji Sigit adalah adik kandung Endang Patibroto, maka tidak
akan terlalu aneh kalau dia pun mempunyal perasaan tidak manis terhadap
Jenggala. Karena ini, hamba harap Paduka dapat berhati-hati dan jangan terlalu
percaya akan kata-kata mereka sebelum kelak terbukti bahwa mereka ini
benar-benar mempunyai niat hati yang bersih terhadap kerajaan Paduka."
No comments:
Post a Comment