Perawan Lembah Wilis; Bagian 134


Akhirnya, mereka berempat ini dapat juga sampai di Istana, akan tetapi setibanya di pintu gerbang istana setelah melewati alun-alun yang lebar, mereka terpaksa berhenti di depan ujung tombak para penjaga pintu gerbang luar.
"Tidak ada orang yang boleh melalui pintu gerbang ini tanpa izin! Andika berempat telah mendapat izin siapakah hendak memasuki daerah istana?" bentak seorang di antara para penjaga itu. Pangeran Panji Sigit menahan kemarahannya. Dia melangkah maju dan memandang mereka dengan sinar mata tajam, kemudian berkata,
"Benarkah ucapan tadi keluar dari mulut penjaga pintu gerbang luar istana Jenggala? Ataukah kalian ini prajurit penjaga yang palsu? Karena kalau prajurit-prajurit Jenggala pasti akan mengenal Pangeran Panji Sigit!"
Memang, semua penjaga dan pengawal istana kini telah diganti oleh orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama. Semua petugas lama telah dienyahkan dan diganti orang-orang baru. Karena sebagian besar di antara penjaga dan pengawal baru adalah orang-orang luar, maka tentu saja mereka ini tidak mengenal Pangeran Panji Sigit. Para penjaga itu terkejut dan saling pandang, ragu-ragu menghadapi pemuda tampan yang memandang mereka penuh wibawa itu. Pada saat itu, terdengar bentakan,
"Eh, para penjaga tolol! Tidak lekas membuka pintu gerbang untuk junjungan kalian Pangeran Panji Sigit? Kalian benar-benar minta dihukum picis!"
Para penjaga itu menjadi pucat wajahnya karena yang membentak dan menegur mereka itu adalah Pangeran Kukutan sendiri! Pintu gerbang segera dibuka dan Pangeran Kukutan menyambut adik tirinya dengan penuh kegembiraan.
"Duhai Adinda Pangeran ....., betapa besar rasa bahagia di hatiku mendengar sorak-sorai rakyat yang mengabarkan akan kembalimu! Ah, betapa Adinda telah menyusahkan hati seluruh keluarga istana karena kepergian Adinda tanpa sebab dan tanpa pamit ... !" Sambil berkata demikian, Pangeran Kukutan merangkul pundak adik tirinya itu dengan wajah berseri-seri. Pusporini dan Joko Pramono saling bertukar pandang. Kelirukah cerita yang mereka dengar dari Pangeran Panji Sigit tentang Pangeran Kukutan yang dikatakannya berhati palsu? Ketika pangeran itu muncul, tadi Panji Sigit telah membisikkan bahwa itulah Pangeran Kukutan yang kini menjadi putera mahkota. Ataukah cerita Pangeran Panji Sigit hanya merupakan fitnah yang timbul dari hati yang iri? Buktinya, kini Pangeran Kukutan yang tampan dan kelihatan gagah itu menyambut adiknya dengan sikap begitu riang. Tampak oleh mereka betapa jauh bedanya wajah kedua orang pangeran putera Raja Jenggala itu.
"Adinda Panji Sigit, mengapa tidak mengabarkan lebih dulu kalau hendak pulang? Tentu akan kami sambut dengan pesta! Ah, sekarang pun belum terlambat. Kepulangan Adinda akan kita rayakan dengan pesta yang meriah!"
"Terima kasih, Kakanda Pangeran, akan keramahan Kakanda. Akan tetapi tidak perlu kiranya diadakan penyambutan dengan pesta. Saya pulang hanya untuk menghadap kanjeng rama, untuk memperkenalkan isteri saya dan untuk mendekati beliau yang sudah sepuh."
"Garwamu (isterimu)? Ah.....betapa menggembirakan! Yang manakah garwamu, Adinda?" Pangeran Kukutan berseru girang sambil memandang berganti-ganti kepada Pusporini dan Setyaningsih.

Kalau Joko Pramono menganggap pangeran itu amat ramah dan sikapnya wajar, adalah kedua orang wanita ini yang dapat menangkap pandang mata penuh gairah menyinar dari balik wajah berseri itu. Pandang mata yang seolah-olah dapat menelanjangi pakaian mereka! Adapun Pangeran Kukutan yang memandang dua orang wanita muda itu, diam-diam menelan ludah dan mengilar karena sukar baginya memilih mana yang lebih denok dan jelita di antara kedua orang wanita itu. Yang seorang ayu kuning dan yang ke dua hitam manis, namun keduannya memiliki daya penarik yang khas! Dia hanya pura-pura saja tidak tahu karena sesungguhnya, pandang mata yang sudah berpengalaman sebagai seorang pelahap wanita itu sekilas pandang saja sudah mengenal mana gadis yang bersuami dan mana yang belum. Pangeran Panji Sigit tidak heran menyaksikan penyambutan manis dari Pangeran Kukutan karena dia sudah mngenal kepalsuan kakak tirinya ini. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan bahwa kakak tirinya akan bersikap semanis itu, padahal tadinya ia mengira bahwa tentu dia akan disambut dengan ujung senjata. Betapapun juga, karena mengenal watak Pangeran Kukutan, ia tetap waspada dan menduga bahwa tentu ada maksud-maksud tersembunyi di balik penyambutan manis ini. Terpaksa iapun lalu memperkenalkan Setyaningsih.
"Dia inilah isteriku, Kakanda Pangeran. Namanya Setyaningsih dan dia adalah adik kandung Ayunda Endang Patibroto“
"Apa ..??" Sepasang mata yang maniknya agak kebiruan itu membelalak. Pangeran Kukutan memiliki manik mata yang agak kebiruan dan hal ini bagi sebagian besar wanita yang bertemu dengannya menjadi sebuah daya penarik yang kuat, sebaliknya bagi yang mengerti, warna itu menjadi tanda akan watak seorang pria yang gila wanita.

Diam-diam Pangeran Kukutan terkejut dan gentar karena dia sesungguhnya tidak tahu bahwa isteri Pangeran Panji Sigit adalah adik kandung Endang Patibroto. Meremang bulu tengkuknya kalau ia teringat akan isteri mendiang Pangeran Panjirawit itu!
"Adik kandung Ayunda Endang Patibroto isteri mendiang Kakanda Pangeran Panjirawit yang sakti mandraguna? Ah, betapa menggirangkan hal ini.... !" Ia cepat-cepat membungkuk untuk membalas penghormatan Setyaningsih, dan pada saat itu hanya dia sendiri yang tahu bahwa hatinya tidaklah segirang ucapan mulutnya.
"Dinda Pusporini ini pun adik tiri Ayunda Endang Patibroto, sedangkan Adimas Joko Pramono ini adalah sahabat baiknya tunggal guru." Pangeran Panji Sigit memperkenalkan dua orang pemuda itu dan sejenak pandang mata Pangeran Kukutan menatap kedua orang muda itu penuh selidik. Hemm, pikirnya. Jadi mereka berdua inikah yang oleh Cekel Wisangkoro dikatakan sebagai dua orang muda yang amat sakti? Kelihatannya tidak seberapa.
"Marilah, Adinda Pangeran, marilah beristirahat di tempatku. Sudah kusediakan kamar-kamar untuk kalian berempat. Tentu Adinda lelah karena perjalanan jauh dan perlu istirahat."
Mereka berlima lalu memasuki halaman istana yang lebar.
"Kakanda, saya ingin segera pergi menghadap kanjeng rama. Sudah amat rindu hati saya karena lama tidak menghadap.... “
"Ah, sayang sekali, Dimas. Kanjeng rama kini sudah sepuh dan kesehatan beliau banyak mundur. Kanjeng rama banyak beristirahat dan kalau tidak beliau kehendaki, siapa pun juga dilarang mengganggu. Akan tetapi, tentu saja aku akan segera menyampaikan berita kedatangan Adinda ini melalui ibunda selir. Ketahuilah bahwa kini kanjeng rama tidak suka diganggu oleh siapa juga kecuali Ibunda selir, satu-satunya orang yang diperkenankan memasuki kamar peraduannya tanpa izin. Hanya ibunda selir saja yang kini siang malam melayani dan merawat kanjeng rama."
Diam-diam hati Pangeran Panji Sigit tertusuk karena ia dapat menduga bahwa tentu Suminten itulah yang dimaksudkan ibunda selir. Dia pun tahu bahwa sebetulnya keadaan ramandanya seperti seorang tawanan sungguhpun hal ini tidak diketahui oleh siapa pun juga, oleh ramandanya pun tidak. Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan pengetahuannya ini dan bertanya,
"Ah, sampai begitu memelas keadaan rama? Ibunda selir yang manakah yang begitu setia dan baik hati terhadap kanjeng rama?"
"Siapa lagi kalau bukan ibunda selir Suminten, Dimas Pangeran. Kiranya saya tidak berlebihan kalau mengatakan, seperti diketahui oleh semua orang, bahwa kalau tidak mendapat perawatan yang amat baik dari ibunda selir... ah, entah bagaimana jadinya dengan kanjeng rama! Sudahlah, mari kita beristirahat di sana dan kita dapat bercengkerama seenaknya."
"Akan tetapi, mendengar keadaan kanjeng rama, saya makin tak kuat bertahan lama-lama untuk segera menghadap."
"Jangan khawatir, sebentar akan kusampaikan kepada ibunda selir agar dilaporkan kedatangan dan kehendak Adinda itu kepada kanjeng rama prabu."

Demikianlah Pangeran Kukutan mulai menjalankan siasat yang telah direncanakan oleh Suminten. Empat orang muda itu diterima dengan sambutan ramah, ditempatkan di gedung tempat tinggal Pangeran Kukutan sendiri karena keadaan di istana telah mengalami banyak perombakan sehingga tempat yang dahulu ditinggali Pangeran Panji Sigit telah lenyap pula. Mereka dijamu dengan hidangan-hidangan lezat dan dihibur dengan pertunjukan tari-tarian dan tembang-tembang yang dilakukan para seniwati pilihan di Jenggala. Sementara itu, Suminten juga tidak tinggal diam, melainkan melaksanakan bagiannya dalam siasat itu. Suminten mengunjungi sang prabu di dalam kamarnya, seperti biasanya merayu raja tua ini dan untuk kesekian kalinya sang prabu terbuai mabuk dalam pelukan wanita ini yang merupakan tempat ia menikmati hidup terakhir, tempat ia mencurahkan kasih sayangnya dan sumber satu-satunya yang dapat menghibur segala duka nestapa dan kekosongan usia tua. Berkat rayuan-rayuan Suminten, sang prabu yang tua itu seolah-olah menjadi boneka yang semata-mata hidup untuk mengabdi nafsu berahinya terhadap Suminten, tidak ada kemauan dan semangat sedikit pun juga untuk memikirkan hal-hal lain, siang malam hanya terlena dalam buaian cinta nafsu yang tak kunjung padam, yang sengaja selalu dikobarkan dan dinyalakan oleh Suminten. Sedemikian hebat pengaruh nafsu ini bagaikan api bernyala-nyala selalu karena mendapat makanan bahan bakar berupa tubuh Suminten dan sikapnya yang merayu mesra, sehingga sudah berbulan-bulan sang prabu tidak lagi mau memperdulikan urusan lain, bahkan jarang keluar dari dalam kamarnya yang seolah-olah disulap berubah menjadi surga dunia oleh Suminten! Setelah untuk kesekian kalinya sang prabu terlena mabuk, penuh kepuasan dan kenikmatan, rebah berbantal paha selir yang dicintanya itu, seperti seorang pemadatan kekenyangan menghisap madat, dalam keadaan setengah sadar setengah pulas, Suminten membelai rambut penuh ubah yang panjang terurai itu sambil berkata manis,
"Gusti junjungan hamba, Paduka yang menjadi sumber kebahagiaan hamba, ada sebuah berita yang amat menyenangkan dan hamba yakin Paduka tentu akan gembira sekali mendengar berita yang hamba bawa ini... “
Kedua lengan raja tua itu merangkul pinggang yang ramping dan dengan mata terpejam mukanya dibenamkan ke perut,
"Tidak ada berita lebih bahagia daripada kehadiranmu di dekatku, Suminten ..“ Suminten tersenyum.
"Ah, Paduka selalu melimpahkan cinta kasih Paduka kepada hamba dengan perbuatan dan kata-kata, untuk itu hamba berterima kasih dan bersyukur kepada para dewata. Akan tetapi berita ini benar-benar akan menambah kebahagiaan di hati Paduka, yaitu bahwa putera kita Pangeran Panji Sigit telah pulang ....” Sepasang mata tua itu dan wajah yang keriputan berseri. Sang prabu bangkit perlahan dari paha selirnya.
"Benarkah? Di mana dia ...Puteraku Panji Sigit, di mana dia? Suruh dia datang menghadap ...“
"Nah, bukankah Paduka menjadi bahagia sekali?"
"Benar! Terima kasih, Suminten. Memang berita ini amat menggembirakan ...“
"Akan tetapi, sebelum puteranda pangeran diminta menghadap, hendaknya Paduka mengerti pula akan hal-hal yang tidak menyedapkan hati“
"Apakah maksudmu?"
"Sebelum pulang, dia telah menghadap ....sang ratu..... “
"Hemmm ....“
"Bukan itu saja, malah baru saja dia pulang dari Panjalu."
"Hemm ....., kalau begitu, mengapa? Apa salahnya dia menghadap rakanda prabu di Panjalu?"
"Bukan itu persoalannya. Akan tetapi .....agaknya dia telah mendengarkan banyak bisik-bisik fitnah tentang Paduka, tentang hamba .....dan agaknya dia pulang membawa hati yang penasaran dan dendam. Hamba sungguh tidak menghendaki puteranda Pangeran Panji Sigit memusuhi kita, Gusti, karena hamba tahu betapa sayang hati Paduka terhadapnya. Karena itu.... , sebaiknya kalau Paduka melarang dia bicara tentang masa lampau, bahkan memberi kedudukan kepadanya, memerintahkan dia menjadi pembantu puteranda Pangeran Kukutan untuk menjaga ketenteraman kerajaan Paduka yang memang sudah menjadi kewajibannya."

Raja tua itu mengangguk-angguk.
"Tidak aneh kalau dia yang masih muda itu dapat terpengaruh. Dan ucapanmu memang tepat sekali. Seorang muda harus diberi tugas kewajiban sehingga tertanam jiwa setia dan patuh akan perintah."
"Ada yang menggembirakan lagi akan tetapi juga mengkhawatirkan .....“
"Apa lagi?"
"Dia pulang dengan .....isterinya”
"Isterinya? Dia sudah beristeri? Wahh ..akan tetapi hal ini menggembirakan, mengapa mengkhawatirkan?"
"Karena isterinya adalah adik kandung Endang Patibroto...."
"Haa.......??” Sang prabu benar-benar terkejut dan tidak tahu apakah dia harus bergirang ataukah berkhawatir.
"Paduka tentu masih ingat akan kematian Pangeran Panjirawit, tentu dapat menyelami perasaan Endang Patibroto yang teringat akan kematian suaminya di tangan Paduka .....dan ....isteri Pangeran Panji Sigit adalah adik kandung Endang Patibroto, maka tidak akan terlalu aneh kalau dia pun mempunyal perasaan tidak manis terhadap Jenggala. Karena ini, hamba harap Paduka dapat berhati-hati dan jangan terlalu percaya akan kata-kata mereka sebelum kelak terbukti bahwa mereka ini benar-benar mempunyai niat hati yang bersih terhadap kerajaan Paduka."

<<< Bagian 133                                                                                      Bagian 135 >>>

No comments:

Post a Comment