"Akan tetapi hal itu sama saja seperti menyerahkan diri ke tangan musuh!" Joko Pramono berseru.
"Paduka sudah dikenal
oleh semua orang dan agaknya kini para prajurit dan petugas Jenggala telah
dikuasai oleh mereka yang mencengkeram Jenggala dan yang memusuhi Paduka.
Sebaiknya, kami berdua saja yang pergi menyelidik ke sana karena kami tidak
dikenal."
"Benar sekali apa yang
dikatakan Joko Pramono. Ayunda Setyaningsih dan Rakanda Pangeran lebih baik
jangan memasuki Jenggala karena hal itu akan berbahaya sekali." kata pula
Pusporini. Akan tetapi Setyaningsih tidak menjawab, hanya menoleh kepada
suaminya dan menanti jawaban dan keputusan dari mulut suaminya. Pangeran Panji
Sigit tersenyum akan tetapi menggelengkan kepalanya, menarik napas panjang dan
berkata,
"Sungguh tepat pendapat
Adimas Joko Pramono. Akan tetapi, aku ingin bertanya pendapat Adimas Joko
Pramono. Bagaimana andaikata Adimas yang menjadi aku, melihat ramanda prabu di
Jenggala dicengkeram pengaruh jahat, terancam keselamatan beliau oleh
anasir-anasir yang menguasai kerajaan? Apa yang akan Adimas lakukan? Apakah
hanya akan memandang dari jauh saja?" Joko Pramono menghela napas panjang
dan mengangguk maklum.
"Maaf bukan sekali-kali
saya tadi tidak percaya akan jiwa kepahlawanan Paduka, melainkan tadi saya
hanya berpikir tentang bahaya-bahaya yang mengancam Paduka. Tentu saja, kalau
saya menjadi Paduka, saya akan mendekati sang prabu dan akan membelanya dengan
seluruh jiwa raga saya, sesuai dengan tugas dharma bakti seorang satria
terhadap negaranya." Pangeran muda itu tertawa dan memandang Joko Pramono
dengan sinar mata kagum.
"Sudah kuduga, takkan
ada bedanya antara orang-orang yang menjunjung tinggi dharma bakti sebagai
seorang manusia yang tahu akan kebesaran dan keadilan, yang tahu akan
tugas-tugas kewajibannya sebagai seorang manusia, tugas di dalam mengisi hidup
yang tak lama ini. Karena persamaan pendapat ini, maka makin yakinlah hatiku
bahwa aku bersama isteriku harus kembali ke Jenggala, apa pun yang akan kami
hadapi kelak. Tugaskulah untuk membela beliau, tugasku pula untuk mengingatkan
beliau akan kelalaian dan kekhilafan beliau. Setyaningsih, isteriku, beranikah
engkau mengunjungi istana Jenggala di mana banyak menanti musuh-musuh berilmu
tinggi untuk mencelakakan kita?"
Setyaningsih memandang
suaminya dengan pandang mata mesra dan wajah berseri.
"Sudah menjadi tugas
mutlak seorang isteri untuk mengabdi suaminya, mengikuti suaminya ke mana pun
juga junjungannya itu pergi. Tiada kesenangan dunia yang akan dapat
menyelewengkan kesetiaannya, tiada pula kesengsaraan yang akan dapat membuat ia
meninggalkan sisi suaminya!"
Pangeran muda itu tertawa
terbahak, makin girang dan besar hatinya.
"Tepat sekali. Engkau
Setyaningsih (Kesetiaan Kasih) bukan hanya nama belaka, namun menjadi watak
lahir batin!"
Pusporini dan Joko Pramono
melihat dan mendengar dengan hati penuh rasa kagum dan terharu. Pusporini
memeluk kakak tirinya dan berkata,
"Betapa aku dapat
membiarkan Ayunda pergi bersama Rakanda Pangeran menghadapi bahaya hebat di
Jenggala? Tidak, Ayunda, aku tidak dapat berdiam diri saja. Aku akan menemanimu
dan membantumu mencari jejak Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wills!"
"Benar sekali! Aku pun
siap membantu dan biarlah hamba menjadi pembantu Paduka, Rakanda Pangeran!"
kata pula Joko Pramono dengan sikap gagah.
Pangeran Panji Sigit girang
bukan main dan memegang pundak pemuda perkasa itu.
"Hati kami menjadi
lebih mantap, lebih besar dan tabah dengan bantuan kalian berdua yang sakti
mandraguna. Sungguh bahagia hatiku dapat menjadi suami seorang seperti Adinda
Setyaningsih yang memiliki keluarga gagah perkasa, dan ....aku yakin bahwa
engkau pun akan menjadi keluarga kami... Adimas Joko Pramono!"
Wajah pemuda itu menjadi
merah akan tetapi lebih merah lagi kedua pipi Pusporini ketika ia bertemu
pandang dengan Joko Pramono. Melihat ini, Pageran Panji Sigit tertawa bergelak
dan Setyaningsih ikut tertawa sambil merangkul pundak adik tirinya. Dengan
semangat tinggi dan hati besar, empat orang muda perkasa ini lalu melanjutkan
perjalanan mereka menuju ke Kota Raja Jenggaia, menentang bahaya yang mereka
tahu sedang menantinya di kora raja itu, bagaikan mulut lebar seorang raksasa
yang siap untuk mencaplok mereka! Ketika empat orang muda ini memasuki kota
raja, semua mata memandang mereka penuh takjub dan keheranan. Akan tetapi masih
banyak pula rakyat yang mengenal Pangeran Panji Sigit dan tak lama kemudian
terdengar teriakan-teriakan girang mereka dan setelah beberapa orang penduduk
tua menjatuhkan, diri berlutut di pinggir jalan, semua orang lalu berlutut
menyembah dan berderet-deret di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Gusti Pangeran Panji
Sigit datang.....!”
"Gusti Pangeran yang
kita cinta telah kembali .....!” Teriakan-teriakan ini cepat sekali sampai ke
istana mendahului mereka sehingga mengejutkan hati Pangeran Kukutan yang
mendengar akan datangnya adik tirinya itu.
Kalau Pangeran Kukutan
terkejut dan khawatir, adalah Suminten yang cepat bangkit dari tempat duduknya
dengan muka merah padam. Wanita itu telah menjadi seorang wanita yang masak,
berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun, bertubuh padat yang tertutup
pakaian yang serba indah dan ketat, wajahnya manis dan terutama sekali sepasang
matanya membayangkan kecerdikan dan wibawa, dengan kerling tajam mengiris jantung,
dan mulutnya yang membayangkan hamba nafsu berahi, bibir yang dapat
bergerak-gerak menantang. Begitu mendengar disebutnya nama Pangeran Panji
Sigit, di dalam pandang matanya timbul api gairah yang menyala-nyala, dadanya
yang membusung itu agak berombak dan ia cepat memerintahkan abdinya untuk
memanggil Pangeran Kukutan. Kemudian ia mengundurkan memasuki ruangan belakang,
sebuah ruangan rahasia yang khusus ia pergunakan untuk mengadakan pertemuan
rahasia dengan sekutu-sekutunya, tempat yang rahasia dan aman daripada gangguan
orang luar yang tidak dikehendaki kehadirannya. Di sinilah ia menanti
kedatangan pembantunya yang paling setia, juga kekasihnya yang terdekat di
antara sekian banyaknya pria-pria muda yang menjadi kekasihnya, atau lebih
tepat menjadi alat-alat permainannya menurutkan hawa nafsu. Wanita ini duduk
termenung, menanti kedatangan Pangeran Kukutan dengan mata setengah dipejamkan,
suatu kebiasaan jika wanita itu sedang memutar otaknya mencari siasat. Tak lama
kemudian, daun pintu didorong dari luar dan masuklah Pangeran Kukutan yang
langsung menghampiri wanita yang masih duduk menyandarkan punggung dan lehernya
ke sandaran kursinya. Pangeran yang sudah biasa memasuki ruangan ini, yakin
bahwa ruangan itu merupakan tempat yang aman, tak perlu menutupkan daun pintu
karena takkan ada seorang pun manusia berani mengintai atau mendengarkan, dan
di sekeliling tempat itu telah terjaga kuat sekali oleh pengawal-pengawal
pilihannya. Ia langsung menghampiri Suminten yang untuk kesekian kalinya ia
terpesona menyaksikan wanita ini duduk dengan kepala menengadah, mukanya yang
cantik itu tampak nyata, mata yang berbulu lentik setengah terkatup, mulut yang
manis itu setengah terbuka sehingga di antara sepasang bibir yang penuh, merah
dan merupakan sumber kehangatan nafsu itu tampaklah ujung deretan gigi hampir
menjepit ujung lidah yang kecil merah, tampak sebagian rongga mulut yang merah
gelap. Biarpun Pangeran Kukutan itu bukan seorang laki-laki alim, bahkan
sebaliknya dia seorang pria yang selalu mengejar dan mendapatkan wanita-wanita
cantik mempergunakan kekuasaan, kedudukan, dan ketampanannya, namun setiap kali
bertemu dengan Suminten, selalu gelora darahnya dipanaskan nafsu berahi.
"Duhai, Adinda Suminten
..... alangkah cantik jelita engkau ....! Siang hari engkau memanggilku, apakah
tidak dapat menahan lagi ....?" Ia membungkuk dan mencium bibir ternganga
itu. Suminten baru sadar dari lamunannya, dan sejenak ia membiarkan pria yang
menjadi pembantunya itu menikmati ciumannya. Akan tetapi ketika tangan pangeran
itu mulai menggerayang, ia cepat memegang tangan itu, merenggutkan dirinya
secara halus dan berkata lirih,
"Duduklah, Pangeran.
Aku memanggilmu karena urusan penting. Bukan saatnya untuk bermain cinta."
Sesuatu dalam suara wanita
yang sudah amat dikenalnya ini membuat Pangeran Kukutan cepat melangkah mundur.
Seluruh gairah nafsunya lenyap seperti asap dihembus, angin. Ia maklum bahwa
dalam keadaan seperti itu, Suminten mempunyai persoalan pelik yang harus ia
tanggapi dengan kepala dingin dan dengan penuh kesungguhan. Akan tetapi dia pun
dapat menduga bahwa tentu wanita yang amat cerdik ini yang sesungguhnya telah
mengangkat dirinya menjadi pangeran mahkota, calon raja, yang sesungguhnya
merupakan pucuk pimpinan dalam persekutuan mereka yang kini telah menjadi kuat
sekali, mencengkeram seluruh Jenggala dalam kekuasaan mereka, telah mendengar
akan munculnya Pangeran Panji Sigit di kota raja.
"Pangeran, apakah
engkau sudah mendengar akan munculnya ancaman bagi ketenteraman kita?"
Pangeran Kukutan tersenyum.
"Apakah engkau
maksudkan munculnya Panji Sigit dan tiga orang temannya di kota raja?"
Suminten mengangguk dan
mengerutkan alisnya yang kecil panjang menghitam.
"Pangeran, mengapa
engkau memandang rendah dan menganggap hal ini sepele saja? Bukankah kemarin
dulu engkau sendiri yang melaporkan akan kedatangan Paman Cekel Wisangkoro yang
menceritakan betapa anak buahnya tewas oleh kesaktian Pangeran Panji Sigit dan
terutama tiga orang temannya itu?"
"Harap tenangkan
hatimu, Diajeng. Telah kuselidiki dan dengar dari Paman Cekel Wisangkoro bahwa
Panji Sigit datang bersama isterinya yang bernama Setyaningsih dan dua orang
muda laki-laki dan wanita yang tak dikenal. Memang, menurut penuturan Paman
Cekel Wisangkoro, laki-laki dan wanita yang tak dikenal itu memiliki kepandaian
yang lumayan sehingga Paman Cekel sendiri terdesak, akan tetapi hal ini tak
perlu dikhawatirkan. Kami sudah siap sedia dan Paman Cekel Wisangkoro telah
mendatangkan bantuan orang-orang sakti dan aku tanggung bahwa sebelum Panji
Sigit dan teman-temannya sempat menghadap ramanda prabu, mereka berempat sudah
akan menjadi mayat yang tak dikenal orang lain di mana kuburnya. Ha-ha-hal Aku
hanya mengharap agar engkau dapat menahan ramanda prabu supaya tidak
berkesempatan mendengar akan munculnya Panji Sigit, apalagi menemuinya."
Tiba-tiba Suminten
menepukkan telapak tangannya pada lengan kursinya dan berseru marah,
"Bodoh sekali rencana
itu!"
Pangeran Kukutan berubah air
mukanya. Ia maklum betapa bahayanya kalau wanita yang cumbu rayunya dapat membuat
ia lupa akan segala itu sedang marah. Cepat ia bertanya,
"Apakah yang salah?
Harap suka cepat memberi tahu agar aku dapat mengatur."
"Engkau merencanakan
untuk menggunakan kekerasan membunuh mereka sebelum mereka bertemu sang prabu?
Dengan demikian rakyat yang telah mengetahui kedatangan Pangeran Panji Sigit
akan menjadi curiga! Alangkah bodohnya! Tidak! Hal ini, kemunculannya ini tentu
merupakan siasat dari tokoh-tokoh Panjalu dan kalau kita menggunakan kekerasan
membunuhnya, tentu akan mereka pergunakan untuk mengusik hati sang prabu
sehingga timbul kebenciannya kepada kita. Engkau tahu betapa besar kasih sayang
sang prabu kepada Pangeran Panji Sigit!"
"Apa salahnya kalau
ramanda prabu mengetahuinya? Keadaan ramanda prabu sudah sedemikian lemahnya,
tinggal menggencet sedikit saja tentu mati"
"Ah, engkau ternyata
masih dikuasai hatimu yang penuh rencana kekerasan. Apakah yang menjadikan kita
berhasil sampai begini jauh kalau bukan karena siasat halusku? Dan kini hendak
kau rusak dengan siasat yang kasar dan liar seperti siasat orang-orang
hutan?"
Pangeran Kukutan menunduk.
"Baiklah, saya akan
melakukan segala petunjukmu. Sekarang bagaimana baiknya untuk menghadapi Panji
Sigit dan teman-temannya itu?"
"Siasat lawan yang
halus harus kita balas dengan siasat lebih halus lagi. Kalau memang Panji Sigit
dan teman-temannya itu memiliki kedigdayaan, mengapa kita tidak bersiasat untuk
memperalat mereka demi keuntungan kita? Mendekatlah, dan dengarkan baik-baik
rencana siasatku, kemudian rundingkan masak masak dengan para sakti yang
membantu kita“
Dengan penuh gairah Pangeran
Kukutan melangkah maju, lalu berlutut dekat kursi wanita itu agar mulut wanita
itu yang berbisik-bisik dapat mendekat, telinganya. Terdengar bisikan-bisikan
lirih dan hawa mulut itu meniup-niup telinganya. Kalau saja urusan itu tidak
amat penting, tentu Pangeran Kukutan sudah lupa diri karena tidak dapat menahan
gelora hatinya. Akan tetapi ia melawan desakan nafsu ini dan mendengarkan penuh
perhatian. Sampai beberapa lama ia di ruangan itu tidak terdengar apa-apa lagi
kecuali suara berbisik-bisik yang keluar dari mulut Suminten dan didengar oleh
Pangeran Kukutan yang kadang-kadang mengangguk-angguk dengan sinar mata penuh
kekaguman.
Sementara itu,
dua pasang orang muda yang memasuki kota raja, Pangeran Panji Sigit,
Setyaningsih, Joko Pramono dan Pusporini, sibuk menerima sambutan penduduk yang
memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit. Sambil tersenyum-senyum sang
pangeran terpaksa memperlambat langkahnya, bahkan kadang-kadang berhenti untuk
menyapa seorang dua orang penduduk tua yang telah dikenalnya.
No comments:
Post a Comment