Perawan Lembah Wilis; Bagian 133


"Akan tetapi hal itu sama saja seperti menyerahkan diri ke tangan musuh!" Joko Pramono berseru.
"Paduka sudah dikenal oleh semua orang dan agaknya kini para prajurit dan petugas Jenggala telah dikuasai oleh mereka yang mencengkeram Jenggala dan yang memusuhi Paduka. Sebaiknya, kami berdua saja yang pergi menyelidik ke sana karena kami tidak dikenal."
"Benar sekali apa yang dikatakan Joko Pramono. Ayunda Setyaningsih dan Rakanda Pangeran lebih baik jangan memasuki Jenggala karena hal itu akan berbahaya sekali." kata pula Pusporini. Akan tetapi Setyaningsih tidak menjawab, hanya menoleh kepada suaminya dan menanti jawaban dan keputusan dari mulut suaminya. Pangeran Panji Sigit tersenyum akan tetapi menggelengkan kepalanya, menarik napas panjang dan berkata,
"Sungguh tepat pendapat Adimas Joko Pramono. Akan tetapi, aku ingin bertanya pendapat Adimas Joko Pramono. Bagaimana andaikata Adimas yang menjadi aku, melihat ramanda prabu di Jenggala dicengkeram pengaruh jahat, terancam keselamatan beliau oleh anasir-anasir yang menguasai kerajaan? Apa yang akan Adimas lakukan? Apakah hanya akan memandang dari jauh saja?" Joko Pramono menghela napas panjang dan mengangguk maklum.
"Maaf bukan sekali-kali saya tadi tidak percaya akan jiwa kepahlawanan Paduka, melainkan tadi saya hanya berpikir tentang bahaya-bahaya yang mengancam Paduka. Tentu saja, kalau saya menjadi Paduka, saya akan mendekati sang prabu dan akan membelanya dengan seluruh jiwa raga saya, sesuai dengan tugas dharma bakti seorang satria terhadap negaranya." Pangeran muda itu tertawa dan memandang Joko Pramono dengan sinar mata kagum.
"Sudah kuduga, takkan ada bedanya antara orang-orang yang menjunjung tinggi dharma bakti sebagai seorang manusia yang tahu akan kebesaran dan keadilan, yang tahu akan tugas-tugas kewajibannya sebagai seorang manusia, tugas di dalam mengisi hidup yang tak lama ini. Karena persamaan pendapat ini, maka makin yakinlah hatiku bahwa aku bersama isteriku harus kembali ke Jenggala, apa pun yang akan kami hadapi kelak. Tugaskulah untuk membela beliau, tugasku pula untuk mengingatkan beliau akan kelalaian dan kekhilafan beliau. Setyaningsih, isteriku, beranikah engkau mengunjungi istana Jenggala di mana banyak menanti musuh-musuh berilmu tinggi untuk mencelakakan kita?"
Setyaningsih memandang suaminya dengan pandang mata mesra dan wajah berseri.
"Sudah menjadi tugas mutlak seorang isteri untuk mengabdi suaminya, mengikuti suaminya ke mana pun juga junjungannya itu pergi. Tiada kesenangan dunia yang akan dapat menyelewengkan kesetiaannya, tiada pula kesengsaraan yang akan dapat membuat ia meninggalkan sisi suaminya!"

Pangeran muda itu tertawa terbahak, makin girang dan besar hatinya.
"Tepat sekali. Engkau Setyaningsih (Kesetiaan Kasih) bukan hanya nama belaka, namun menjadi watak lahir batin!"
Pusporini dan Joko Pramono melihat dan mendengar dengan hati penuh rasa kagum dan terharu. Pusporini memeluk kakak tirinya dan berkata,
"Betapa aku dapat membiarkan Ayunda pergi bersama Rakanda Pangeran menghadapi bahaya hebat di Jenggala? Tidak, Ayunda, aku tidak dapat berdiam diri saja. Aku akan menemanimu dan membantumu mencari jejak Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wills!"
"Benar sekali! Aku pun siap membantu dan biarlah hamba menjadi pembantu Paduka, Rakanda Pangeran!" kata pula Joko Pramono dengan sikap gagah.
Pangeran Panji Sigit girang bukan main dan memegang pundak pemuda perkasa itu.
"Hati kami menjadi lebih mantap, lebih besar dan tabah dengan bantuan kalian berdua yang sakti mandraguna. Sungguh bahagia hatiku dapat menjadi suami seorang seperti Adinda Setyaningsih yang memiliki keluarga gagah perkasa, dan ....aku yakin bahwa engkau pun akan menjadi keluarga kami... Adimas Joko Pramono!"
Wajah pemuda itu menjadi merah akan tetapi lebih merah lagi kedua pipi Pusporini ketika ia bertemu pandang dengan Joko Pramono. Melihat ini, Pageran Panji Sigit tertawa bergelak dan Setyaningsih ikut tertawa sambil merangkul pundak adik tirinya. Dengan semangat tinggi dan hati besar, empat orang muda perkasa ini lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kota Raja Jenggaia, menentang bahaya yang mereka tahu sedang menantinya di kora raja itu, bagaikan mulut lebar seorang raksasa yang siap untuk mencaplok mereka! Ketika empat orang muda ini memasuki kota raja, semua mata memandang mereka penuh takjub dan keheranan. Akan tetapi masih banyak pula rakyat yang mengenal Pangeran Panji Sigit dan tak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan girang mereka dan setelah beberapa orang penduduk tua menjatuhkan, diri berlutut di pinggir jalan, semua orang lalu berlutut menyembah dan berderet-deret di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Gusti Pangeran Panji Sigit datang.....!”
"Gusti Pangeran yang kita cinta telah kembali .....!” Teriakan-teriakan ini cepat sekali sampai ke istana mendahului mereka sehingga mengejutkan hati Pangeran Kukutan yang mendengar akan datangnya adik tirinya itu.

Kalau Pangeran Kukutan terkejut dan khawatir, adalah Suminten yang cepat bangkit dari tempat duduknya dengan muka merah padam. Wanita itu telah menjadi seorang wanita yang masak, berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun, bertubuh padat yang tertutup pakaian yang serba indah dan ketat, wajahnya manis dan terutama sekali sepasang matanya membayangkan kecerdikan dan wibawa, dengan kerling tajam mengiris jantung, dan mulutnya yang membayangkan hamba nafsu berahi, bibir yang dapat bergerak-gerak menantang. Begitu mendengar disebutnya nama Pangeran Panji Sigit, di dalam pandang matanya timbul api gairah yang menyala-nyala, dadanya yang membusung itu agak berombak dan ia cepat memerintahkan abdinya untuk memanggil Pangeran Kukutan. Kemudian ia mengundurkan memasuki ruangan belakang, sebuah ruangan rahasia yang khusus ia pergunakan untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan sekutu-sekutunya, tempat yang rahasia dan aman daripada gangguan orang luar yang tidak dikehendaki kehadirannya. Di sinilah ia menanti kedatangan pembantunya yang paling setia, juga kekasihnya yang terdekat di antara sekian banyaknya pria-pria muda yang menjadi kekasihnya, atau lebih tepat menjadi alat-alat permainannya menurutkan hawa nafsu. Wanita ini duduk termenung, menanti kedatangan Pangeran Kukutan dengan mata setengah dipejamkan, suatu kebiasaan jika wanita itu sedang memutar otaknya mencari siasat. Tak lama kemudian, daun pintu didorong dari luar dan masuklah Pangeran Kukutan yang langsung menghampiri wanita yang masih duduk menyandarkan punggung dan lehernya ke sandaran kursinya. Pangeran yang sudah biasa memasuki ruangan ini, yakin bahwa ruangan itu merupakan tempat yang aman, tak perlu menutupkan daun pintu karena takkan ada seorang pun manusia berani mengintai atau mendengarkan, dan di sekeliling tempat itu telah terjaga kuat sekali oleh pengawal-pengawal pilihannya. Ia langsung menghampiri Suminten yang untuk kesekian kalinya ia terpesona menyaksikan wanita ini duduk dengan kepala menengadah, mukanya yang cantik itu tampak nyata, mata yang berbulu lentik setengah terkatup, mulut yang manis itu setengah terbuka sehingga di antara sepasang bibir yang penuh, merah dan merupakan sumber kehangatan nafsu itu tampaklah ujung deretan gigi hampir menjepit ujung lidah yang kecil merah, tampak sebagian rongga mulut yang merah gelap. Biarpun Pangeran Kukutan itu bukan seorang laki-laki alim, bahkan sebaliknya dia seorang pria yang selalu mengejar dan mendapatkan wanita-wanita cantik mempergunakan kekuasaan, kedudukan, dan ketampanannya, namun setiap kali bertemu dengan Suminten, selalu gelora darahnya dipanaskan nafsu berahi.
"Duhai, Adinda Suminten ..... alangkah cantik jelita engkau ....! Siang hari engkau memanggilku, apakah tidak dapat menahan lagi ....?" Ia membungkuk dan mencium bibir ternganga itu. Suminten baru sadar dari lamunannya, dan sejenak ia membiarkan pria yang menjadi pembantunya itu menikmati ciumannya. Akan tetapi ketika tangan pangeran itu mulai menggerayang, ia cepat memegang tangan itu, merenggutkan dirinya secara halus dan berkata lirih,
"Duduklah, Pangeran. Aku memanggilmu karena urusan penting. Bukan saatnya untuk bermain cinta."

Sesuatu dalam suara wanita yang sudah amat dikenalnya ini membuat Pangeran Kukutan cepat melangkah mundur. Seluruh gairah nafsunya lenyap seperti asap dihembus, angin. Ia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, Suminten mempunyai persoalan pelik yang harus ia tanggapi dengan kepala dingin dan dengan penuh kesungguhan. Akan tetapi dia pun dapat menduga bahwa tentu wanita yang amat cerdik ini yang sesungguhnya telah mengangkat dirinya menjadi pangeran mahkota, calon raja, yang sesungguhnya merupakan pucuk pimpinan dalam persekutuan mereka yang kini telah menjadi kuat sekali, mencengkeram seluruh Jenggala dalam kekuasaan mereka, telah mendengar akan munculnya Pangeran Panji Sigit di kota raja.
"Pangeran, apakah engkau sudah mendengar akan munculnya ancaman bagi ketenteraman kita?" Pangeran Kukutan tersenyum.
"Apakah engkau maksudkan munculnya Panji Sigit dan tiga orang temannya di kota raja?"
Suminten mengangguk dan mengerutkan alisnya yang kecil panjang menghitam.
"Pangeran, mengapa engkau memandang rendah dan menganggap hal ini sepele saja? Bukankah kemarin dulu engkau sendiri yang melaporkan akan kedatangan Paman Cekel Wisangkoro yang menceritakan betapa anak buahnya tewas oleh kesaktian Pangeran Panji Sigit dan terutama tiga orang temannya itu?"
"Harap tenangkan hatimu, Diajeng. Telah kuselidiki dan dengar dari Paman Cekel Wisangkoro bahwa Panji Sigit datang bersama isterinya yang bernama Setyaningsih dan dua orang muda laki-laki dan wanita yang tak dikenal. Memang, menurut penuturan Paman Cekel Wisangkoro, laki-laki dan wanita yang tak dikenal itu memiliki kepandaian yang lumayan sehingga Paman Cekel sendiri terdesak, akan tetapi hal ini tak perlu dikhawatirkan. Kami sudah siap sedia dan Paman Cekel Wisangkoro telah mendatangkan bantuan orang-orang sakti dan aku tanggung bahwa sebelum Panji Sigit dan teman-temannya sempat menghadap ramanda prabu, mereka berempat sudah akan menjadi mayat yang tak dikenal orang lain di mana kuburnya. Ha-ha-hal Aku hanya mengharap agar engkau dapat menahan ramanda prabu supaya tidak berkesempatan mendengar akan munculnya Panji Sigit, apalagi menemuinya."
Tiba-tiba Suminten menepukkan telapak tangannya pada lengan kursinya dan berseru marah,
"Bodoh sekali rencana itu!"
Pangeran Kukutan berubah air mukanya. Ia maklum betapa bahayanya kalau wanita yang cumbu rayunya dapat membuat ia lupa akan segala itu sedang marah. Cepat ia bertanya,
"Apakah yang salah? Harap suka cepat memberi tahu agar aku dapat mengatur."
"Engkau merencanakan untuk menggunakan kekerasan membunuh mereka sebelum mereka bertemu sang prabu? Dengan demikian rakyat yang telah mengetahui kedatangan Pangeran Panji Sigit akan menjadi curiga! Alangkah bodohnya! Tidak! Hal ini, kemunculannya ini tentu merupakan siasat dari tokoh-tokoh Panjalu dan kalau kita menggunakan kekerasan membunuhnya, tentu akan mereka pergunakan untuk mengusik hati sang prabu sehingga timbul kebenciannya kepada kita. Engkau tahu betapa besar kasih sayang sang prabu kepada Pangeran Panji Sigit!"
"Apa salahnya kalau ramanda prabu mengetahuinya? Keadaan ramanda prabu sudah sedemikian lemahnya, tinggal menggencet sedikit saja tentu mati"
"Ah, engkau ternyata masih dikuasai hatimu yang penuh rencana kekerasan. Apakah yang menjadikan kita berhasil sampai begini jauh kalau bukan karena siasat halusku? Dan kini hendak kau rusak dengan siasat yang kasar dan liar seperti siasat orang-orang hutan?"
Pangeran Kukutan menunduk.
"Baiklah, saya akan melakukan segala petunjukmu. Sekarang bagaimana baiknya untuk menghadapi Panji Sigit dan teman-temannya itu?"
"Siasat lawan yang halus harus kita balas dengan siasat lebih halus lagi. Kalau memang Panji Sigit dan teman-temannya itu memiliki kedigdayaan, mengapa kita tidak bersiasat untuk memperalat mereka demi keuntungan kita? Mendekatlah, dan dengarkan baik-baik rencana siasatku, kemudian rundingkan masak masak dengan para sakti yang membantu kita“

Dengan penuh gairah Pangeran Kukutan melangkah maju, lalu berlutut dekat kursi wanita itu agar mulut wanita itu yang berbisik-bisik dapat mendekat, telinganya. Terdengar bisikan-bisikan lirih dan hawa mulut itu meniup-niup telinganya. Kalau saja urusan itu tidak amat penting, tentu Pangeran Kukutan sudah lupa diri karena tidak dapat menahan gelora hatinya. Akan tetapi ia melawan desakan nafsu ini dan mendengarkan penuh perhatian. Sampai beberapa lama ia di ruangan itu tidak terdengar apa-apa lagi kecuali suara berbisik-bisik yang keluar dari mulut Suminten dan didengar oleh Pangeran Kukutan yang kadang-kadang mengangguk-angguk dengan sinar mata penuh kekaguman.
Sementara itu, dua pasang orang muda yang memasuki kota raja, Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono dan Pusporini, sibuk menerima sambutan penduduk yang memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit. Sambil tersenyum-senyum sang pangeran terpaksa memperlambat langkahnya, bahkan kadang-kadang berhenti untuk menyapa seorang dua orang penduduk tua yang telah dikenalnya.

<<< Bagian 132                                                                                     Bagian 134 >>>

No comments:

Post a Comment