Perawan Lembah Wilis; Bagian 132


Dari dalam lingkaran ini menyambar keluar hawa pukulan yang mengandung daya ampuh dan berbau amis, tanda bahwa pukulan ini adalah aji kesaktian yang mengandung hawa beracun!
"Dukun keji!!" Joko Pramono berseru keras sekali dan tubuh pemuda ini agak merendah, setengah berjongkok, kemudian ia mendorongkan kedua tangannya ke depan. Itulah aji pukulan Cantuko Sakti yang menjadi ilmunya yang khas! Bukan main dahsyatnya dorongan ini dan Joko Pramono mempergunakannya karena makIum bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan.
"Auuggghhhh .....!" Tubuh pendeta itu terlempar ke belakang seperti disambar angin puyuh. Biarpun ia berusaha untuk mempertahankan diri dengan tongkat yang ia dorong-dorongkan ke tanah, tetap saja ia terjengkang dan dari mulutnya menyembur darah segar! Cekel Wisangkoro yang sudah banyak pengalamannya itu maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang benar-benar luar biasa, maka cepat ia merogoh sakunya dan ....melarikan diri secepat kedua kakinya mampu meloncat!
"Dukun lepus hendak lari ke mana?" Joko Pramono meloncat pula melakukan pengejaran.

Pangeran Panji Sigit yang menonton sepak terjang Joko Pramono, menjadi kagum bukan main. Akan tetapi kini pemuda perkasa itu mengejar si pendeta yang melarikan diri, maka kembali ia memperhatikan sepak terjang isterinya dan wanita muda itu yang tadi membuatnya bengong terlongong. Dua orang wanita itu seperti dua orang kembar, sama-sama tangkas dan dahsyat, sama-sama mengeluarkan pekik, dan pukulan-pukulan mereka adalah Aji Pethit Nogo yang sudah ia kenal gerakannya. Akan tetapi ia dapat menilai bahwa hawa pukulan Aji Pethit Nogo wanita hitam manis itu jauh lebih kuat daripada isterinya. Ia melihat betapa dua orang kakek itu kini melakukan perlawanan hanya untuk mempertahankan nyawa. Beberapa kali mereka terpelanting hanya terkena hawa pukulan Pethit Nogo, bergulingan dan berusaha lari. Namun selalu lawannya telah menantinya untuk menyambut dengan pukulan lain. Gagak Kroda sudah tak dapat tahan lagi menghadapi desakan-desakan Setyaningsih. Ia hendak melarikan diri, namun Setyaningsih yang marah sekali melihat betapa suaminya tadi terancam bahaya di tangan kakek ini, menyambutnya dengan pukulan-pukulan dahsyat. Ketika untuk kesekian kalinya Gagak Kroda berusa menangkap tangan wanita itu untuk digelutnya, untuk dihancurkan dengan kedua lengannya yang kuat, Setyaningsih sengaja membiarkan pergelangan tangan kirinya ditangkap. Pangeran Panji Sigit menahan teriakan kaget melihat isterinya dapat ditangkap lengannya, akan tetap pada saat itu terdengar suara "prakk"!' disusul robohnya tubuh Gagak Kroda yan pecah kepalanya terkena tamparan tangan kanan Setyaningsih!
"Prakkk!" Pada detik berikutnya, Gagak Dwipa juga roboh dengan kepala remuk terkena tamparan tangan Pusporini. Kiranya tadi Setyaningsih sengaja membiarkan tangan kirinya tertangkap lawan sehingga ia dapat kesempatan untuk melancarkan tamparan Pethit Nogo dari dekat yang akibatnya memecahkan kepala Gagak Kroda. Adapun Pusporini agaknya hendak menjaga perasaan saudaranya sehingga ia sengaja "menanti" dan baru menurunkan tangan maut kepada Gagak Dwipa setelah Setyaningsih berhasil merobohkan lawannya.
"Bagus sekali! Kalian telah berhasil! Sayang dukun lepus itu tak dapat tertangkap. Ia menghilang menggunakan asap hitam, si keparat!" Ucapan ini keluar dari mulut Joko Pramono yang sudah tiba kembali dengan tangan kosong. Tadi ia mengejar Cekel Wisangkoro, akan tetapi tiba-tiba kakek pendeta itu membanting beberapa buah benda yang meledak dan menimbulkan asap hitam tebal sehingga Joko Pramono yang khawatir kalau-kalau asap hitam itu beracun, cepat menghindar dan setelah asap membuyar, ia telah kehilangan jejak pendeta itu. Akan tetapi hanya Pangeran Panji Sigit yang memandang dan memperhatikannya, karena. Pusporini dan Setyaningsih yang kini berdiri saling pandang dan merasa seperti dalam mimpi, dengan wajah penuh keharuan dan air mata menitik turun melalui pipi mereka yang masih kemerahan karena pertempuran tadi, tidak memperhatikan hal lain di sekeliling mereka.
"Yunda Setyaningsih.....!"
"Dinda Pusporini....!”
Dua orang wanita muda itu berlari maju dan saling menubruk, berpelukan dan menangis penuh kebahagiaan dan keharuan. Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono hanya berdiri memandang. Mereka ini dapat merasakan keharuan yang menguasai kedua orang wanita yang mereka cinta itu, maka mereka hanya menonton saja, bahkan Joko Pramono yang biasanya gembira itu pun tak berani membuka mulut. Setelah keharuan mereka mereda, dua orang wanita itu lalu melepaskan rangkulan, saling berpandangan dengan mulut tersenyum akan tetapi mata masih berlinang air mata. Barulah Joko Pramono membuka mulut dengan suara gembira.
"Pusporini, apakah engkau sudah lupa kepadaku? Mengapa aku tidak diperkenalkan?"
Mereka semua tersenyum. Ucapan Joko Pramono yang mengandung kegembiraan itu sekaligus membuyarkan keharuan yang mencekam dan menimbulkan kegembiraan yang timbul dari kebahagiaan perempuan itu.
"Ayunda Setyaningsih, dia ini adalah ....saudara seperguruanku, namanya Joko Pramono. Sebetulnya bukan orang lain karena dia adalah keponakan mendiang Ki Adibroto ayah Ayunda Ayu Candra."
"Oohh ....." Setyaningsih terkejut juga akan tetapi melihat betapa pandang mata pemuda tampan itu periang dan sama sekali tidak membayangkan permusuhan, hatinya menjadi lega. Tentu saja Setyaningsih sudah tahu akan riwayat keluarganya dan tahu bahwa di antara keluarganya dan keluarga Ayu Candra pernah terjadi pertentangan yang hebat.
"Engkau sudah tahu, dia ini Ayunda Setyaningsih, kakak tiriku, adik kandung Ayunda Endang Patibroto." Pusporini melanjutkan perkenalannya kepada Joko Pramono yang segera menjura dengan hormat kepada Setyaningsih.
"Dan ini adalah suamiku, Pangeran Panji Sigit dari Jenggala," Setyaningsih memperkenalkan suaminya kepada dua orang muda itu, kemudian sambil menoleh kepada suaminya ia berkata,
"Kakangmas, ini adalah adikku Pusporini yang sering kuceritakan, sungguh tak terduga dapat kita jumpai di sini, malah, bersama saudara seperguruannya menjadi penolong kita."

Sebagai orang-orang yang mengerti akan tata susila, Joko Pramono dan Pusporini berlutut dengan hormat dan hendak menghaturkan sembah, akan tetapi Pangeran Panji Sigit cepat-cepat membangunkan mereka dan berkata,
"Ah, harap jangan banyak menggunakan peradatan. Kita adalah orang-orang sendiri, keluarga sendiri. Bahkan kami berdua yang merasa bersyukur dan berteima kasih kepada andika yang telah menyelamatkan nyawa kami daripada ancaman bahaya maut." Kemudian memandang ke sekelilingnya. Gagak Kroda dan Gagak Dwipa telah menjadi mayat, dan bukan hanya dua orang itu saja, bahkan tujuh orang prajurit pengawal yang tadi ia robohkan bersama isterinya telah tewas. Ia menghela napas dan berkata,
"Mari kita mencari tempat yang bersih dan di sana kita bercakap-cakap."
Mereka berempat meninggalkan tempat yang mengerikan karena penuh mayat orang itu, memasuki hutan dan berhenti di bagian hutan yang bersih dan teduh, juga sinar bulan dapat menerangi tempat itu karena pohon- pohonnya tidaklah amat rapat. Mereka berempat duduk di atas akar-akar pohon, kemudian dengan gembira mereka bercakap-cakap menuturkan riwayat masing-masing. Sebetulnya yang bicara hanya dua orang wanita itu yang menceritakan pengalaman masing-masing semenjak mereka berpisah, sepuluh tahun yang lalu ketika Setyaningsih diajak pergi meninggalkan Selopenangkep oleh Endang Patibroto. Ketika Setyaningsih menceritakan keadaan keluarga mereka, apalagi ketika menceritakan betapa ibu Pusporini, yaitu Roro Luhito, tewas di tangan musuh yang mengepung Selopenangkep, Pusporini menjerit lirih dan terguling pingsan!
Tiga orang itu menjadi terharu dan sibuk. Sambil menangis Setyaningsih memeluk tubuh Pusporini, mengguncang-guncangnya dan
memanggil-manggil namanya. Pangeran Panji Sigit hanya menarik napas panjang dan berdiam diri karena ia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia tidak dapat berdaya. Joko Pramono merasa kasihan sekali kepada gadis yang dicintanya, maka ia berjongkok dan berbisik kepada Setyaningsih,
"Perkenankanlah saya menyadarkannya.” Setyaningsih maklum akan kesaktian pemuda teman adik tirinya itu, maka ia lalu melepaskan Pusporini lalu mundur. Bersama suaminya ia melihat Joko Pramono menyentuh punggung Pusporini, menekannya dan menempelkan telapa tangan kini ke ubun-ubun gadis itu. Pusporini mengeluarkan rintihan perlahan lalu membuka matanya dan bangkit duduk. Begitu melihat Joko Pramono, lalu tersedu dan merangkul, mulutnya menjerit lirih,
"Ibu ....Ah, Joko Pramono ....ibuku ...ibuku“

Joko Pramono terharu, mengelus rambut kepala gadis yang dicintanya itu. Dalam keadaan berduka seperti itu, Pusporini tanpa disadarinya jelas memperlihatkan perasaan hatinya kepada Joko Pramono sehingga Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit memaklumi keadaan dua orang muda itu dan mereka hanya saling pandang penuh rasa haru. Setelah sadar kembali, Pusporini cepat melepaskan pelukannya dan mukanya menjadi merah. Setyaningsih cepat memegang tangannya dan berkata,
"Adikku yang baik, teguhkanlah hatimu. Ibuku dan ibumu telah gugur dalam perang, gugur sebagai kusuma bangsa, sebagai wanita-wanita berjiwa satria yang gagah perkasa. Kita patut merasa bangga dan kita harus mencontoh mereka. Musuh-musuh yang menewaskan ibu-ibu kita adalah musuh-musuh kita yang sekarang juga." Pusporini mengangguk. Dengan kekuatan batinnya ia sudah dapat mengatasi kedukaannya dan dengan tenang ia mendengarkan cerita Setyaningsih lebih Ianjut tentang keadaan keluarganya.
"Sekarang Kakangmas Tejolaksono telah menjadi patih muda di Panjalu dan tinggal di kota raja bersama Ayunda Ayu Candra. Mereka hanya berdua saja di sana karena sampai sekarang, Bagus Seta belum juga pulang" Setyaningsih menarik napas panjang mengingat akan nasib buruk Tejolaksono.
"Untung bahwa belum lama ini Ayunda Endang Patibroto juga datang ke Panjalu dan sekarang telah bersatu dengan Rakanda Patih Tejolaksono."
Pusporini menjadi girang mendengar ini, wajahnya mulai berseri kembali.
"Syukurlah. Hanya sayang bahwa Bagus Seta masih belum juga pulang. Ke mana sajakah perginya bocah itu?"
"Menurut penuturan rakanda patih Bagus Seta diambil murid oleh seorang maha sakti yang berjuluk Bhagawan Ekadenta, entah dibawa pergi ke mana oleh gurunya itu." Mendengar ini, Pusporini dan Joko Pramono saling pandang sejenak karena mereka teringat akan pesan guru mereka bahwa kelak mereka akan membantu seorang pemuda sakti mandraguna. Jangan-jangan Bagus Seta anak yang disebut-sebut guru mereka itu!
"Selanjutnya bagaimana, Yunda?" Pusporini kembali menghadapi Setyaningsih yang kini mulai menceritakan pengalamannya semenjak ia meninggalkan Selopenangkep. Ketika mendengar bahwa Endang Patibroto melahirkan seorang anak perempuan, Pusporini girang sekali.
"Wah, sekarang sudah berapa usianya keponakanku itu? Siapa namanya?"
"Namanya Retna Wilis dan sekarang usianya sudah lebih sepuluh tahun. Akan tetapi ....ah, sungguh menyedihkan kalau diingat nasib Rakanda Patih Tejolaksono. Bagus Seta belum pulang dan tidak diketahui berada di mana, sedangkan puterinya yang belum pernah dilihatnya itu, Retna Wilis keponakan kita ..."
"Mengapa dia? Mengapa ...?" Pusporini bertanya penuh kekhawatiran.
"Dia baru-baru ini terculik oleh Nini Bumigarba ....“
"Apa ....? Terculik? Dari tangan Ayunda Endang Patibroto? Sungguh mengherankan! Siapa berani melakukan hal itu? Siapakah itu Nini Bumigarba?"
Pusporini terkejut, heran, dan marah sekali mendengar ada orang berani menculik puteri ayundanya yang demikian sakti mandraguna!
"Aku pun hanya mendengar penuturan Ayunda Endang Patibroto. Penculiknya bukan manusia biasa. Yang bernama Nini Bumigarba itu memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Jangankan Ayunda Endang Patibroto yang sama sekali tidak mampu melawannya, bahkan Eyang Datujiwa yang sakti mandraguna dan sudah menjadi guru Retna Wilis sekali pun tidak mampu melawannya, bahkan tewas di tangan Nini Bumigarba yang menggiriskan itu."

Pusporini dan Joko Pramono terkejut sekali. Mereka itu melongo ketika mendengarkan penuturan Setyaningsih tentang kehebatan Nini Bumigarba, dan diam-diam mereka ikut prihatin dan marah sekali.
"Kami berdua sedang bertugas menyelidiki ke mana dibawanya Retna Wilis oleh Nini Bumigarba, namun semua penyelidikan kami tidak ada hasilnya. Nenek itu seperti lenyap ditelan bumi," kata Pangeran Panji Sigit setelah isterinya menuturkan tentang pasukan rahasia yang dibentuk dan dipimpin oleh Pangeran Darmokusumo sendiri, bersama Patih Tejolaksono.
"Karena itu, tidak ada jalan lain bagiku untuk kembali ke Jenggala, menghadap ramanda prabu dan kurasa di Istana aku akan dapat mendengar tentang Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wilis. Dalam perjalanan ke Jenggala, kami bertemu dengan Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sehingga hampir saja kami tertimpa malapetaka."

<<< Bagian 131                                                                                      Bagian 133 >>>

No comments:

Post a Comment