Dari dalam lingkaran ini menyambar keluar hawa pukulan yang mengandung daya ampuh dan berbau amis, tanda bahwa pukulan ini adalah aji kesaktian yang mengandung hawa beracun!
"Dukun keji!!"
Joko Pramono berseru keras sekali dan tubuh pemuda ini agak merendah, setengah
berjongkok, kemudian ia mendorongkan kedua tangannya ke depan. Itulah aji
pukulan Cantuko Sakti yang menjadi ilmunya yang khas! Bukan main dahsyatnya
dorongan ini dan Joko Pramono mempergunakannya karena makIum bahwa lawannya tak
boleh dipandang ringan.
"Auuggghhhh
.....!" Tubuh pendeta itu terlempar ke belakang seperti disambar angin
puyuh. Biarpun ia berusaha untuk mempertahankan diri dengan tongkat yang ia
dorong-dorongkan ke tanah, tetap saja ia terjengkang dan dari mulutnya
menyembur darah segar! Cekel Wisangkoro yang sudah banyak pengalamannya itu
maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang benar-benar luar biasa,
maka cepat ia merogoh sakunya dan ....melarikan diri secepat kedua kakinya mampu
meloncat!
"Dukun lepus hendak
lari ke mana?" Joko Pramono meloncat pula melakukan pengejaran.
Pangeran Panji Sigit yang
menonton sepak terjang Joko Pramono, menjadi kagum bukan main. Akan tetapi kini
pemuda perkasa itu mengejar si pendeta yang melarikan diri, maka kembali ia
memperhatikan sepak terjang isterinya dan wanita muda itu yang tadi membuatnya
bengong terlongong. Dua orang wanita itu seperti dua orang kembar, sama-sama
tangkas dan dahsyat, sama-sama mengeluarkan pekik, dan pukulan-pukulan mereka
adalah Aji Pethit Nogo yang sudah ia kenal gerakannya. Akan tetapi ia dapat
menilai bahwa hawa pukulan Aji Pethit Nogo wanita hitam manis itu jauh lebih
kuat daripada isterinya. Ia melihat betapa dua orang kakek itu kini melakukan
perlawanan hanya untuk mempertahankan nyawa. Beberapa kali mereka terpelanting
hanya terkena hawa pukulan Pethit Nogo, bergulingan dan berusaha lari. Namun
selalu lawannya telah menantinya untuk menyambut dengan pukulan lain. Gagak
Kroda sudah tak dapat tahan lagi menghadapi desakan-desakan Setyaningsih. Ia
hendak melarikan diri, namun Setyaningsih yang marah sekali melihat betapa
suaminya tadi terancam bahaya di tangan kakek ini, menyambutnya dengan
pukulan-pukulan dahsyat. Ketika untuk kesekian kalinya Gagak Kroda berusa menangkap
tangan wanita itu untuk digelutnya, untuk dihancurkan dengan kedua lengannya
yang kuat, Setyaningsih sengaja membiarkan pergelangan tangan kirinya
ditangkap. Pangeran Panji Sigit menahan teriakan kaget melihat isterinya dapat
ditangkap lengannya, akan tetap pada saat itu terdengar suara
"prakk"!' disusul robohnya tubuh Gagak Kroda yan pecah kepalanya
terkena tamparan tangan kanan Setyaningsih!
"Prakkk!" Pada
detik berikutnya, Gagak Dwipa juga roboh dengan kepala remuk terkena tamparan
tangan Pusporini. Kiranya tadi Setyaningsih sengaja membiarkan tangan kirinya
tertangkap lawan sehingga ia dapat kesempatan untuk melancarkan tamparan Pethit
Nogo dari dekat yang akibatnya memecahkan kepala Gagak Kroda. Adapun Pusporini
agaknya hendak menjaga perasaan saudaranya sehingga ia sengaja
"menanti" dan baru menurunkan tangan maut kepada Gagak Dwipa setelah
Setyaningsih berhasil merobohkan lawannya.
"Bagus sekali! Kalian
telah berhasil! Sayang dukun lepus itu tak dapat tertangkap. Ia menghilang
menggunakan asap hitam, si keparat!" Ucapan ini keluar dari mulut Joko
Pramono yang sudah tiba kembali dengan tangan kosong. Tadi ia mengejar Cekel
Wisangkoro, akan tetapi tiba-tiba kakek pendeta itu membanting beberapa buah
benda yang meledak dan menimbulkan asap hitam tebal sehingga Joko Pramono yang
khawatir kalau-kalau asap hitam itu beracun, cepat menghindar dan setelah asap
membuyar, ia telah kehilangan jejak pendeta itu. Akan tetapi hanya Pangeran
Panji Sigit yang memandang dan memperhatikannya, karena. Pusporini dan Setyaningsih
yang kini berdiri saling pandang dan merasa seperti dalam mimpi, dengan wajah
penuh keharuan dan air mata menitik turun melalui pipi mereka yang masih
kemerahan karena pertempuran tadi, tidak memperhatikan hal lain di sekeliling
mereka.
"Yunda Setyaningsih.....!"
"Dinda Pusporini....!”
Dua orang wanita muda itu
berlari maju dan saling menubruk, berpelukan dan menangis penuh kebahagiaan dan
keharuan. Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono hanya berdiri memandang. Mereka
ini dapat merasakan keharuan yang menguasai kedua orang wanita yang mereka
cinta itu, maka mereka hanya menonton saja, bahkan Joko Pramono yang biasanya
gembira itu pun tak berani membuka mulut. Setelah keharuan mereka mereda, dua
orang wanita itu lalu melepaskan rangkulan, saling berpandangan dengan mulut
tersenyum akan tetapi mata masih berlinang air mata. Barulah Joko Pramono
membuka mulut dengan suara gembira.
"Pusporini, apakah
engkau sudah lupa kepadaku? Mengapa aku tidak diperkenalkan?"
Mereka semua tersenyum.
Ucapan Joko Pramono yang mengandung kegembiraan itu sekaligus membuyarkan
keharuan yang mencekam dan menimbulkan kegembiraan yang timbul dari kebahagiaan
perempuan itu.
"Ayunda Setyaningsih,
dia ini adalah ....saudara seperguruanku, namanya Joko Pramono. Sebetulnya
bukan orang lain karena dia adalah keponakan mendiang Ki Adibroto ayah Ayunda
Ayu Candra."
"Oohh ....."
Setyaningsih terkejut juga akan tetapi melihat betapa pandang mata pemuda
tampan itu periang dan sama sekali tidak membayangkan permusuhan, hatinya
menjadi lega. Tentu saja Setyaningsih sudah tahu akan riwayat keluarganya dan
tahu bahwa di antara keluarganya dan keluarga Ayu Candra pernah terjadi
pertentangan yang hebat.
"Engkau sudah tahu, dia
ini Ayunda Setyaningsih, kakak tiriku, adik kandung Ayunda Endang Patibroto."
Pusporini melanjutkan perkenalannya kepada Joko Pramono yang segera menjura
dengan hormat kepada Setyaningsih.
"Dan ini adalah
suamiku, Pangeran Panji Sigit dari Jenggala," Setyaningsih memperkenalkan
suaminya kepada dua orang muda itu, kemudian sambil menoleh kepada suaminya ia
berkata,
"Kakangmas, ini adalah
adikku Pusporini yang sering kuceritakan, sungguh tak terduga dapat kita jumpai
di sini, malah, bersama saudara seperguruannya menjadi penolong kita."
Sebagai orang-orang yang
mengerti akan tata susila, Joko Pramono dan Pusporini berlutut dengan hormat
dan hendak menghaturkan sembah, akan tetapi Pangeran Panji Sigit cepat-cepat
membangunkan mereka dan berkata,
"Ah, harap jangan
banyak menggunakan peradatan. Kita adalah orang-orang sendiri, keluarga
sendiri. Bahkan kami berdua yang merasa bersyukur dan berteima kasih kepada
andika yang telah menyelamatkan nyawa kami daripada ancaman bahaya maut."
Kemudian memandang ke sekelilingnya. Gagak Kroda dan Gagak Dwipa telah menjadi
mayat, dan bukan hanya dua orang itu saja, bahkan tujuh orang prajurit pengawal
yang tadi ia robohkan bersama isterinya telah tewas. Ia menghela napas dan
berkata,
"Mari kita mencari
tempat yang bersih dan di sana kita bercakap-cakap."
Mereka berempat meninggalkan
tempat yang mengerikan karena penuh mayat orang itu, memasuki hutan dan
berhenti di bagian hutan yang bersih dan teduh, juga sinar bulan dapat
menerangi tempat itu karena pohon- pohonnya tidaklah amat rapat. Mereka
berempat duduk di atas akar-akar pohon, kemudian dengan gembira mereka
bercakap-cakap menuturkan riwayat masing-masing. Sebetulnya yang bicara hanya
dua orang wanita itu yang menceritakan pengalaman masing-masing semenjak mereka
berpisah, sepuluh tahun yang lalu ketika Setyaningsih diajak pergi meninggalkan
Selopenangkep oleh Endang Patibroto. Ketika Setyaningsih menceritakan keadaan
keluarga mereka, apalagi ketika menceritakan betapa ibu Pusporini, yaitu Roro
Luhito, tewas di tangan musuh yang mengepung Selopenangkep, Pusporini menjerit
lirih dan terguling pingsan!
Tiga orang itu menjadi
terharu dan sibuk. Sambil menangis Setyaningsih memeluk tubuh Pusporini,
mengguncang-guncangnya dan
memanggil-manggil namanya.
Pangeran Panji Sigit hanya menarik napas panjang dan berdiam diri karena ia
maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia tidak dapat berdaya. Joko Pramono
merasa kasihan sekali kepada gadis yang dicintanya, maka ia berjongkok dan
berbisik kepada Setyaningsih,
"Perkenankanlah saya
menyadarkannya.” Setyaningsih maklum akan kesaktian pemuda teman adik tirinya
itu, maka ia lalu melepaskan Pusporini lalu mundur. Bersama suaminya ia melihat
Joko Pramono menyentuh punggung Pusporini, menekannya dan menempelkan telapa
tangan kini ke ubun-ubun gadis itu. Pusporini mengeluarkan rintihan perlahan
lalu membuka matanya dan bangkit duduk. Begitu melihat Joko Pramono, lalu
tersedu dan merangkul, mulutnya menjerit lirih,
"Ibu ....Ah, Joko
Pramono ....ibuku ...ibuku“
Joko Pramono terharu,
mengelus rambut kepala gadis yang dicintanya itu. Dalam keadaan berduka seperti
itu, Pusporini tanpa disadarinya jelas memperlihatkan perasaan hatinya kepada
Joko Pramono sehingga Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit memaklumi keadaan
dua orang muda itu dan mereka hanya saling pandang penuh rasa haru. Setelah
sadar kembali, Pusporini cepat melepaskan pelukannya dan mukanya menjadi merah.
Setyaningsih cepat memegang tangannya dan berkata,
"Adikku yang baik,
teguhkanlah hatimu. Ibuku dan ibumu telah gugur dalam perang, gugur sebagai
kusuma bangsa, sebagai wanita-wanita berjiwa satria yang gagah perkasa. Kita
patut merasa bangga dan kita harus mencontoh mereka. Musuh-musuh yang
menewaskan ibu-ibu kita adalah musuh-musuh kita yang sekarang juga."
Pusporini mengangguk. Dengan kekuatan batinnya ia sudah dapat mengatasi
kedukaannya dan dengan tenang ia mendengarkan cerita Setyaningsih lebih Ianjut
tentang keadaan keluarganya.
"Sekarang Kakangmas
Tejolaksono telah menjadi patih muda di Panjalu dan tinggal di kota raja
bersama Ayunda Ayu Candra. Mereka hanya berdua saja di sana karena sampai sekarang,
Bagus Seta belum juga pulang" Setyaningsih menarik napas panjang mengingat
akan nasib buruk Tejolaksono.
"Untung bahwa belum
lama ini Ayunda Endang Patibroto juga datang ke Panjalu dan sekarang telah
bersatu dengan Rakanda Patih Tejolaksono."
Pusporini menjadi girang
mendengar ini, wajahnya mulai berseri kembali.
"Syukurlah. Hanya
sayang bahwa Bagus Seta masih belum juga pulang. Ke mana sajakah perginya bocah
itu?"
"Menurut penuturan
rakanda patih Bagus Seta diambil murid oleh seorang maha sakti yang berjuluk
Bhagawan Ekadenta, entah dibawa pergi ke mana oleh gurunya itu." Mendengar
ini, Pusporini dan Joko Pramono saling pandang sejenak karena mereka teringat
akan pesan guru mereka bahwa kelak mereka akan membantu seorang pemuda sakti
mandraguna. Jangan-jangan Bagus Seta anak yang disebut-sebut guru mereka itu!
"Selanjutnya bagaimana,
Yunda?" Pusporini kembali menghadapi Setyaningsih yang kini mulai
menceritakan pengalamannya semenjak ia meninggalkan Selopenangkep. Ketika
mendengar bahwa Endang Patibroto melahirkan seorang anak perempuan, Pusporini
girang sekali.
"Wah, sekarang sudah
berapa usianya keponakanku itu? Siapa namanya?"
"Namanya Retna Wilis
dan sekarang usianya sudah lebih sepuluh tahun. Akan tetapi ....ah, sungguh
menyedihkan kalau diingat nasib Rakanda Patih Tejolaksono. Bagus Seta belum
pulang dan tidak diketahui berada di mana, sedangkan puterinya yang belum
pernah dilihatnya itu, Retna Wilis keponakan kita ..."
"Mengapa dia? Mengapa
...?" Pusporini bertanya penuh kekhawatiran.
"Dia baru-baru ini
terculik oleh Nini Bumigarba ....“
"Apa ....? Terculik?
Dari tangan Ayunda Endang Patibroto? Sungguh mengherankan! Siapa berani
melakukan hal itu? Siapakah itu Nini Bumigarba?"
Pusporini terkejut, heran,
dan marah sekali mendengar ada orang berani menculik puteri ayundanya yang
demikian sakti mandraguna!
"Aku pun hanya
mendengar penuturan Ayunda Endang Patibroto. Penculiknya bukan manusia biasa.
Yang bernama Nini Bumigarba itu memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia.
Jangankan Ayunda Endang Patibroto yang sama sekali tidak mampu melawannya,
bahkan Eyang Datujiwa yang sakti mandraguna dan sudah menjadi guru Retna Wilis
sekali pun tidak mampu melawannya, bahkan tewas di tangan Nini Bumigarba yang
menggiriskan itu."
Pusporini dan Joko Pramono
terkejut sekali. Mereka itu melongo ketika mendengarkan penuturan Setyaningsih
tentang kehebatan Nini Bumigarba, dan diam-diam mereka ikut prihatin dan marah
sekali.
"Kami berdua sedang
bertugas menyelidiki ke mana dibawanya Retna Wilis oleh Nini Bumigarba, namun
semua penyelidikan kami tidak ada hasilnya. Nenek itu seperti lenyap ditelan
bumi," kata Pangeran Panji Sigit setelah isterinya menuturkan tentang
pasukan rahasia yang dibentuk dan dipimpin oleh Pangeran Darmokusumo sendiri,
bersama Patih Tejolaksono.
"Karena itu, tidak ada
jalan lain bagiku untuk kembali ke Jenggala, menghadap ramanda prabu dan kurasa
di Istana aku akan dapat mendengar tentang Nini Bumigarba yang melarikan Retna
Wilis. Dalam perjalanan ke Jenggala, kami bertemu dengan Gagak Dwipa dan Gagak
Kroda sehingga hampir saja kami tertimpa malapetaka."
No comments:
Post a Comment