Mendengar disebutnya nama Endang Patibroto, kedua orang pentolan Gagak Serayu itu saling pandang dengan mata terbelalak dan
muka berubah. Tentu saja
mereka sudah mendengar akan kehebatan sepak terjang wanita sakti yang bernama
Endang Patibroto dan
kini mereka berhadapan
dengan adik kandung wanita sakti itu! Pantas saja tandangnya begini hebat!
Selama, petualangan mereka, dua orang bersaudara ini baru satu kali berhadapan
dengan orang yang sakti dan yang telah merobohkan mereka, bahkan telah
menghancurkan kesatuan Lima Gagak Serayu sehingga tiga orang adik mereka roboh
tewas, yaitu Tejolaksono. Dan mereka sudah mendengar bahwa Endang Patlbroto
memiliki kedigdayaan yang setingkat dengan Tejolaksono! Maka begitu mendengar bahwa
gadis yang cantik jelita dan berkulit kuning langsat, yang menjadi isteri
Pangeran Panji Sigit ini adalah adik kandung Endang Patibroto, tentu saja
mereka terkejut dan gentar.
"Gagak Dwipa dan Gagak
Kroda, kenapa kalian tidak lekas menangkap dua orang ini? Perlukah aku
melaporkan kepada Gusti Pangeran Kukutan bahwa kalian jerih terhadap seorang
gadis” Terdengar Cekel Wisangkoro berkata mengejek.
Mendengar ini, dua orang
kakek tinggi besar itu menjadi merah mukanya. Mereka hanya terkejut mendengar
disebutnya Endang Patibroto, akan tetapi tentu saja mereka tidak takut
menghadapi pangeran muda itu dan isterinya yang hanya merupakan seorang gadis
muda. Serempak mereka berdua lalu menerjang maju dengan suara gerengan mereka.
Karena maklum bahwa suami isteri muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tak
boleh dipandang ringan, maka Gagak Dwipa sudah mengerjakan bedok atau pedangnya
yang panjang dan kuat itu untuk menerjang Setyaningsih, sedangkan Gagak Kroda
sudah menubruk Pangeran Panji Sight untuk menggelut dan menangkapnya. Perintah
yang mereka terima adalah menangkap Pangeran Panji Sigit, maka tentu saja
mereka tidak berani membunuh pangeran ini. Karena ini, maka Gagak Kroda yang
kuat dan kebal tubuhnya itulah yang menghadapi Pangeran Panji Sigit dengan
tangan kosong, adapun Gagak Dwipa menerjang Setyaningsih dengan senjata tajam
untuk merobohkannya, kalau perlu membunuhnya! Membunuh wanita ini tidak menjadi
larang bagi mereka. Dua orang kakek itu adalah kepala-kepala perampok yang
semenjak muda sudah berkecimpung dalam dunia kekerasan. Mereka dahulunya
menjadi pimpinan gerombolan Gagak Serayu dan selain kepandaian mereka cukup
tinggi, juga pengalaman mereka dalam bertempur sudah matang. Apalagi semenjak
kesatuan mereka, Lima Gagak Serayu dihancurkan oleh Tejolaksono dan tinggal
mereka berdua yang hidup, dua orang ini sudah menggembleng dirinya lebih rajin
lagi dan kini mereka merupakan lawan yang tangguh bagi suami isteri muda itu.
Apalagi Pangeran Panji Sigit yang biarpun sejak kecil mempelajari olah
keprajuritan, namun tidaklah sesakti Setyaningsih yang memang terlahir dalam
keluarga sakti. Pangeran ini yang mempergunakan kerisnya, didesak hebat oleh
Gagak Kroda yang tandangnya seperti sang raksasa Kumbokarno, menubruk sambil
menggereng, kedua lengannya yang besar panjang berbulu itu menyambar-nyambar
dengan cengkeraman-cengkeraman kuat, kalau tubrukannya dielakkan sehingga
tubuhnya terdorong ke depan, ia terus menggulingkan tubuhnya dan sambil
bergulingan ini ia mengejar terus hendak menangkap kaki pangeran muda itu!
Pangeran Panji Sigit
terdesak hebat dan menjadi agak ngeri dan jijik melihat cara berkelahi yang
tidak pakai aturan ini. Beberapa kali ujung kerisnya berhasil mencium kulit
lawan, bahkan dua kali ia berhasil menusuk dada kanan dan lambung kiri, akan tetapi
tusukan kerisnya mental, seolah-olah ia menusuk segumpal karet tebal yang amat
ulet dan keras! Tentu saja pangeran ini terkejut sekali dan maklum bahwa
lawannya memiliki kekebalan yang amat kuat, maka ia berlaku hati-hati sekali
dan menujukan serangan kerisnya pada bagian-bagian yang berbahaya dan tidak
dilindungi kekebalan. Namun, ia tidak diberi kesempatan karena Gagak Kroda
sudah mendesaknya dengan rangsekan bertubi-tubi dan pangeran ini pun maklum
bahwa sekali tubuhnya kena dicengkeram jari-jari tangan yang sebesar buah
pisang ambon itu, tentu sukar baginya untuk dapat meloloskan diri! Maka ia kini
hanya mengandalkan kelincahan gerak tubuhnya untuk menghindar dengan loncatan
ke sana ke mari dan karena tubuh Gagak Kroda yang tinggi besar itu tidak dapat
bergerak segesit dia, maka untuk sementara waktu Pangeran Panji Sigit masih
dapat bertahan.
Pertandingan antara
Setyaningsih melawan Gagak Dwipa lebih hebat lagi karena Gagak Dwipa sepak
terjangnya dalam penyerangan tidak seoerti Gagak Kroda yang berusaha menangkap
hidup-hidup Pangeran Panji Sigit. Gagak Dwipa yang mempergunakan pedangnya
berusaha untuk mengalahkan wanita muda yang sakti mandraguna itu dengan
bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mematikan. Akan tetapi Setyaningsih yang
memegang keris melakukan perlawanan gigih dan gerakan-gerakannya amat cepat
memusingkan kepala Gagak Dwipa. Setiap serbuan pedang dapat dielakkan atau
ditangkis dengan tenaga yang kuat, dan di samping membalas dengan tusukan
kerisnya, juga tangan kiri Setyaningsih kadang-kadang mengirim pukulan-pukulan
sakti yang amat ampuh. Biarpun pukulan tangan kiri belum ada yang mengenai
tubuh Gagak Dwipa, akan tetapi angin pukulannya itu saja sudah membuat Gagak
Dwipa terdesak dan kadang-kadang terhuyung mundur. Sayang bahwa perhatian
Setyaningsih terpecah kepada pertandingan suaminya. Ia tahu bahwa suaminya
terdesak oleh lawannya, maka kadang-kadang ia meninggalkan Gagak Dwipa yang
sedang terhuyung, menggunakan kesempatan itu untuk menerjang ke arah Gagak
Kroda yang sudah mendesak suaminya. Inilah yang menyebabkan Gagak Dwipa belum
juga dapat dikalahkannya.
Pangeran Panji Sigit makin
terdesak. Gagak Kroda terlalu kebal dan kuat sehingga tusukan kerisnya tidak
melukai kulit raksasa itu. Dengan penasaran dan juga marah karena isterinya
yang terpaksa membantunya itu kadang-kadang bahkan terancam keselamatannya oleh
Gagak Dwipa, pangeran ini berseru keras dan membalas serangan lawan dengan
menujukan kerisnya ke arah mata. Kemarahan pangeran ini memperlipatgandakan
kekuatannya sehingga sesaat lamanya Gagak Kroda terdesak dan mundur karena
matanya selalu terancam ujung keris yang runcing. Juga Setyaningsih menjadi
marah karena kegelisahannya melihat suaminya yang terdesak. Biarpun belum
sempurna karena hawa sakti di tubuhnya belum kuat benar, Setyaningsih pernah
belajar aji kesaktian yang hebat dari Endang Patibroto, yaitu pekik sakti
Sardulo Bairowo. Mulailah ia mengeluarkan pekik sakti ini dan suaranya membuat
Gagak Dwipa menjadi terkejut sekali dan ketika ia terhuyung, tamparan tangan kiri
Setyaningsih mampir di pundaknya, membuat tubuh raksasa ini terpelanting. Kalau
saja pada saat itu Pangeran Panji Sigit tidak sedang terdesak dan Setyaningsih
mengirim serangan susulan, pasti Gagak Dwipa akan terpukul tewas. Akan tetapi
kembaii Setyaningsih meloncat ke arah lawan suaminya, dengan pekik
pendek-pendek melengking tinggi ia menerjang Gagak Kroda. Sebuah tamparan
tangan kirinya mengenai dada kanan Gagak Kroda. Tubuh raksasa ini amat kebal,
apalagi dadanya yang setiap hari "sarapan" bacokan golok dan tusukan
ujung tombak. Tadi pun tusukan-tusukan keris di tangan Pangeran Panji Sigit tak
pernah dapat menggores kulit dadanya. Akan tetapi kini kena diserempet tamparan
Pethit Nogo tangan kiri Setyaningsih, raksasa ini mengaduh dan terhuyung ke
belakang sambil memegang dadanya yang serasa panas terbakar.
Akan tetapi pada saat itu,
terdengar suara terkekeh dan bagaikan menyambarnya halilintar, tampak sinar
hitam seperti ular hidup menyambar ke arah kepala Setyaningsih. Wanita muda ini
terkejut sekali karena hawa pukulan yang keluar dari sinar hitam ini amat
kuatnya. Ia menangkis dengan kerisnya, terdengar suara nyaring dan kerisnya
terpental dari tangannya! Setyaningsih memekik nyaring, pekik Sardulo Bairowo,
tubuhnya mencelat ke samping ketika sinar hitam itu terus mengejarnya. Alangkah
kagetnya ketika ia melihat bahwa sinar hitam itu adalah tongkat di tangan kakek
yang berpakaian pendeta dan bernama Cekel Wisangkoro! Kiranya kakek itu seorang
yang amat sakti. Hatinya penuh kekhawatiran, apalagi ketika ia melirik dan
melihat betapa suaminya kini telah kena diringkus oleh kedua lengan Gagak Kroda
yang amat kuat. Suaminya meronta-ronta namun tak dapat terlepas. Tentu suaminya
dikalahkan karena pengeroyokan Gagak Kroda dan Gagak Dwipa selagi dia terdesak sinar
hitam itu. Karena kini ia mengerahkan perhatian kepada suaminya, ketika
tiba-tiba sinar hitam kembali menyambar, Setyaningsih agak terlambat melompat
dan pundaknya kena diserempet tongkat ular, membuat wanita ini terhuyung. Dan
pada saat itu Gagak Dwipa sudah melompat maju dan mengirim tusukan dengan
pedangnya ke arah dada Setyaningsih, tusukan yang agaknya sukar untuk dapat ia
hindarkan dalam keadaan terhuyung seperti itu.
Pada saat yang amat gawat
bagi keselamatan Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih itu, tiba-tiba terdengar
pekik melengking tinggi yang hampir sama dengan pekik Setyaningsih akan tetapi
jauh lebih kuat dan sebuah lengan yang halus melayang, menampar ke arah kepala
Gagak Dwipa. Angin pukulannya. amat kuat sehingga Gagak Dwipa terkejut bukan
main. Namun bekas pimpinan Gagak Serayu ini cepat menarik kembali pedangnya
yang tadi menusuk Setyaningsih dan terus ia babatkan ke atas menangkis lengan
halus itu.
"Krakkk!" Pedang
itu patah menjadi tiga potong bertemu dengan tangan Pusporini yang mengandung
tenaga mujijat Pethit Nogo, bahkan tangan itu masih dapat mendorong pundak
Gagak Dwip yang terpental ke belakang. Setyaningsih hanya sekelebatan saja
melihat datangnya seorang wanita cantik yang menolongnya, akan tetapi pada saat
itu perhatiannya terpusat kepada suaminya, maka tubuhnya berkelebat ke depan
dan tangannya menampar ke arah Gagak Kroda yang masih mendekap tubuh suaminya
yang tak mampu bergerak. Gagak Kroda yang maklum akan keampuhan pukulan
Setyaningsih, yang tadi membuat dadanya terasa seperti pecah, cepat melepaskan
dekapannya dan menjatuhkan diri ke belakang lalu bergulingan menjauh sehingga
ia terbebas daripada pukulan maut. Dua orang saudara Gagak itu benar-benar amat
kuat. Mereka sudah bangkit lagi dan bersiap-siap. Akan tetapi pada saat itu,
dua orang wanita yang sama muda sama cantik rupawan, akan tetapi sama-sama
ganas dan penuh kemarahan telah menerjang mereka dan keduanya mengeluarkan
pekik-pekik melengking yang dahsyat. Gagak Kroda menjadi pucat ketika ia
melihat Setyaningsih menerjangnya dengan
tamparan-tamparan sakti, dan ia berusaha mengelak dan menangkis sambil
terhuyung mundur. Di lain pihak, Gagak Dwipa juga merasa ngeri ketika melihat
wanita muda yang cantik dan berkulit hitam manis itu sambil tersenyum-senyum
manis sekali menerjangnya dengan tamparan yang seolah-olah menghembuskan api
kawah Gunung Bromo! Yang membuat kedua orang raksasa ini merasa ngeri adalah
pekik-pekik melengking yang keluar dari mulut mereka. Kedua orang tokoh Serayu
ini mundur-mundur dan wajah mereka membayangkan ketakutan hebat.
Cekel Wisangkoro yang
melihat para pembantunya terdesak dan terancam, segera berkelebat maju dengan
tongkat hitamnya, akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang dan
seorang pemuda tampan gagah perkasa yang datang bersama wanita cantik itu telah
berdiri menghadapinya sambil tersenyum-senyum.
"Pendeta palsu, dua
orang kawanmu itu adalah laki-laki raksasa yang melawan dua orang wanita muda,
sesungguhnya mereka itu sudah tak tahu malu sekali. Masa masih akan kaubantu lagi?
Engkau ini pendeta dukun lepus sungguh tak tahu malu!"
Cekel Wisangkoro adalah
murid Wasi Bagaspati yang amat sakti, tentu saja menjadi marah dan tidak
memandang sebelah mata kepada pemuda ini. Ia menyeringai, memperlihatkan mulut
ompong dan berkata,
"Hemm, biarlah kubunuh
engkau lebih dulu sebelum menundukkan dua orang wanita galak itu!" Sambil
berkata demikian, Cekel Wisangkoro berteriak keras dan tongkatnya menyambar,
berubah menjadi sinar hitam yang amat kuat dan cepat gerakannya. Akan tetapi
Joko Pramono, pemuda itu, dengan mudah mengelak sambil mengejek,
"Luput! Engkau ini
pendeta manakah? Rambutmu sudah penuh uban akan tetapi kaubiarkan panjang
terurai dan mengkilap oleh minyak, tanda bahwa pada lahirnya engkau sudah tua
bangka, akan tetapi hatimu masih ingin bersolek! Badanmu kurus kering seperti
cecak mati pada usia tua, akan tetapi mukamu menyinarkan nafsu duniawi, jubahmu
kuning berhiaskan benang emas akan tetapi kakimu telanjang, tanda bahwa engkau
suka akan kemuliaan dan kemewahan akan tetapi tidak tahu akan tata susila
seorang pendeta! Bicaramu seperti pribumi akan tetapi hidungmu seperti kakatua,
tanda bahwa engkau bukanlah orang tanah Jawa. Eh, dukun lepus, engkau siapa dan
orang mana?" Muka kakek itu memang kemerahan, akan tetapi sekarang menjadi
lebih merah karena marah.
"Bocah bermulut
lancang! Mampuslah di tangan Cekel Wisangkoro!" bentaknya sambil menyerang
kembali, menusukkan tongkatnya ke arah tenggorokan Joko Pramono. Namun kembali
pemuda ini miringkan tubuh dan dari samping tangannya menangkis.
"Plakk!" Cekel
Wisangkoro terkejut bukan main dan mengeluarkan teriakan nyaring karena
tongkatnya itu terpukul miring dan telapak tangannya menjadi perih. Hal ini
hanya menandakan bahwa pemuda itu memiliki hawa sakti yang luar biasa kuatnya.
Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang pemuda yang usianya paling banyak dua
puluh dua tahun itu dapat menangkis tongkatnya sampai miring!
"Heh
keparat, rasakan kesaktiankul" katanya dan kini ia memutar tongkatnya
seperti kitiran sehingga tongkat itu berubah menjadi sinar hitam yang
bergulung-gulung dan membentuk lingkaran lebar.
No comments:
Post a Comment