Perawan Lembah Wilis; Bagian 131


Mendengar disebutnya nama Endang Patibroto, kedua orang pentolan Gagak Serayu itu saling pandang dengan mata terbelalak dan
muka berubah. Tentu saja mereka sudah mendengar akan kehebatan sepak terjang wanita sakti yang bernama Endang Patibroto dan
kini mereka berhadapan dengan adik kandung wanita sakti itu! Pantas saja tandangnya begini hebat! Selama, petualangan mereka, dua orang bersaudara ini baru satu kali berhadapan dengan orang yang sakti dan yang telah merobohkan mereka, bahkan telah menghancurkan kesatuan Lima Gagak Serayu sehingga tiga orang adik mereka roboh tewas, yaitu Tejolaksono. Dan mereka sudah mendengar bahwa Endang Patlbroto memiliki kedigdayaan yang setingkat dengan Tejolaksono! Maka begitu mendengar bahwa gadis yang cantik jelita dan berkulit kuning langsat, yang menjadi isteri Pangeran Panji Sigit ini adalah adik kandung Endang Patibroto, tentu saja mereka terkejut dan gentar.
"Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, kenapa kalian tidak lekas menangkap dua orang ini? Perlukah aku melaporkan kepada Gusti Pangeran Kukutan bahwa kalian jerih terhadap seorang gadis” Terdengar Cekel Wisangkoro berkata mengejek.
Mendengar ini, dua orang kakek tinggi besar itu menjadi merah mukanya. Mereka hanya terkejut mendengar disebutnya Endang Patibroto, akan tetapi tentu saja mereka tidak takut menghadapi pangeran muda itu dan isterinya yang hanya merupakan seorang gadis muda. Serempak mereka berdua lalu menerjang maju dengan suara gerengan mereka. Karena maklum bahwa suami isteri muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan, maka Gagak Dwipa sudah mengerjakan bedok atau pedangnya yang panjang dan kuat itu untuk menerjang Setyaningsih, sedangkan Gagak Kroda sudah menubruk Pangeran Panji Sight untuk menggelut dan menangkapnya. Perintah yang mereka terima adalah menangkap Pangeran Panji Sigit, maka tentu saja mereka tidak berani membunuh pangeran ini. Karena ini, maka Gagak Kroda yang kuat dan kebal tubuhnya itulah yang menghadapi Pangeran Panji Sigit dengan tangan kosong, adapun Gagak Dwipa menerjang Setyaningsih dengan senjata tajam untuk merobohkannya, kalau perlu membunuhnya! Membunuh wanita ini tidak menjadi larang bagi mereka. Dua orang kakek itu adalah kepala-kepala perampok yang semenjak muda sudah berkecimpung dalam dunia kekerasan. Mereka dahulunya menjadi pimpinan gerombolan Gagak Serayu dan selain kepandaian mereka cukup tinggi, juga pengalaman mereka dalam bertempur sudah matang. Apalagi semenjak kesatuan mereka, Lima Gagak Serayu dihancurkan oleh Tejolaksono dan tinggal mereka berdua yang hidup, dua orang ini sudah menggembleng dirinya lebih rajin lagi dan kini mereka merupakan lawan yang tangguh bagi suami isteri muda itu. Apalagi Pangeran Panji Sigit yang biarpun sejak kecil mempelajari olah keprajuritan, namun tidaklah sesakti Setyaningsih yang memang terlahir dalam keluarga sakti. Pangeran ini yang mempergunakan kerisnya, didesak hebat oleh Gagak Kroda yang tandangnya seperti sang raksasa Kumbokarno, menubruk sambil menggereng, kedua lengannya yang besar panjang berbulu itu menyambar-nyambar dengan cengkeraman-cengkeraman kuat, kalau tubrukannya dielakkan sehingga tubuhnya terdorong ke depan, ia terus menggulingkan tubuhnya dan sambil bergulingan ini ia mengejar terus hendak menangkap kaki pangeran muda itu!
Pangeran Panji Sigit terdesak hebat dan menjadi agak ngeri dan jijik melihat cara berkelahi yang tidak pakai aturan ini. Beberapa kali ujung kerisnya berhasil mencium kulit lawan, bahkan dua kali ia berhasil menusuk dada kanan dan lambung kiri, akan tetapi tusukan kerisnya mental, seolah-olah ia menusuk segumpal karet tebal yang amat ulet dan keras! Tentu saja pangeran ini terkejut sekali dan maklum bahwa lawannya memiliki kekebalan yang amat kuat, maka ia berlaku hati-hati sekali dan menujukan serangan kerisnya pada bagian-bagian yang berbahaya dan tidak dilindungi kekebalan. Namun, ia tidak diberi kesempatan karena Gagak Kroda sudah mendesaknya dengan rangsekan bertubi-tubi dan pangeran ini pun maklum bahwa sekali tubuhnya kena dicengkeram jari-jari tangan yang sebesar buah pisang ambon itu, tentu sukar baginya untuk dapat meloloskan diri! Maka ia kini hanya mengandalkan kelincahan gerak tubuhnya untuk menghindar dengan loncatan ke sana ke mari dan karena tubuh Gagak Kroda yang tinggi besar itu tidak dapat bergerak segesit dia, maka untuk sementara waktu Pangeran Panji Sigit masih dapat bertahan.

Pertandingan antara Setyaningsih melawan Gagak Dwipa lebih hebat lagi karena Gagak Dwipa sepak terjangnya dalam penyerangan tidak seoerti Gagak Kroda yang berusaha menangkap hidup-hidup Pangeran Panji Sigit. Gagak Dwipa yang mempergunakan pedangnya berusaha untuk mengalahkan wanita muda yang sakti mandraguna itu dengan bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mematikan. Akan tetapi Setyaningsih yang memegang keris melakukan perlawanan gigih dan gerakan-gerakannya amat cepat memusingkan kepala Gagak Dwipa. Setiap serbuan pedang dapat dielakkan atau ditangkis dengan tenaga yang kuat, dan di samping membalas dengan tusukan kerisnya, juga tangan kiri Setyaningsih kadang-kadang mengirim pukulan-pukulan sakti yang amat ampuh. Biarpun pukulan tangan kiri belum ada yang mengenai tubuh Gagak Dwipa, akan tetapi angin pukulannya itu saja sudah membuat Gagak Dwipa terdesak dan kadang-kadang terhuyung mundur. Sayang bahwa perhatian Setyaningsih terpecah kepada pertandingan suaminya. Ia tahu bahwa suaminya terdesak oleh lawannya, maka kadang-kadang ia meninggalkan Gagak Dwipa yang sedang terhuyung, menggunakan kesempatan itu untuk menerjang ke arah Gagak Kroda yang sudah mendesak suaminya. Inilah yang menyebabkan Gagak Dwipa belum juga dapat dikalahkannya.
Pangeran Panji Sigit makin terdesak. Gagak Kroda terlalu kebal dan kuat sehingga tusukan kerisnya tidak melukai kulit raksasa itu. Dengan penasaran dan juga marah karena isterinya yang terpaksa membantunya itu kadang-kadang bahkan terancam keselamatannya oleh Gagak Dwipa, pangeran ini berseru keras dan membalas serangan lawan dengan menujukan kerisnya ke arah mata. Kemarahan pangeran ini memperlipatgandakan kekuatannya sehingga sesaat lamanya Gagak Kroda terdesak dan mundur karena matanya selalu terancam ujung keris yang runcing. Juga Setyaningsih menjadi marah karena kegelisahannya melihat suaminya yang terdesak. Biarpun belum sempurna karena hawa sakti di tubuhnya belum kuat benar, Setyaningsih pernah belajar aji kesaktian yang hebat dari Endang Patibroto, yaitu pekik sakti Sardulo Bairowo. Mulailah ia mengeluarkan pekik sakti ini dan suaranya membuat Gagak Dwipa menjadi terkejut sekali dan ketika ia terhuyung, tamparan tangan kiri Setyaningsih mampir di pundaknya, membuat tubuh raksasa ini terpelanting. Kalau saja pada saat itu Pangeran Panji Sigit tidak sedang terdesak dan Setyaningsih mengirim serangan susulan, pasti Gagak Dwipa akan terpukul tewas. Akan tetapi kembaii Setyaningsih meloncat ke arah lawan suaminya, dengan pekik pendek-pendek melengking tinggi ia menerjang Gagak Kroda. Sebuah tamparan tangan kirinya mengenai dada kanan Gagak Kroda. Tubuh raksasa ini amat kebal, apalagi dadanya yang setiap hari "sarapan" bacokan golok dan tusukan ujung tombak. Tadi pun tusukan-tusukan keris di tangan Pangeran Panji Sigit tak pernah dapat menggores kulit dadanya. Akan tetapi kini kena diserempet tamparan Pethit Nogo tangan kiri Setyaningsih, raksasa ini mengaduh dan terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya yang serasa panas terbakar.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara terkekeh dan bagaikan menyambarnya halilintar, tampak sinar hitam seperti ular hidup menyambar ke arah kepala Setyaningsih. Wanita muda ini terkejut sekali karena hawa pukulan yang keluar dari sinar hitam ini amat kuatnya. Ia menangkis dengan kerisnya, terdengar suara nyaring dan kerisnya terpental dari tangannya! Setyaningsih memekik nyaring, pekik Sardulo Bairowo, tubuhnya mencelat ke samping ketika sinar hitam itu terus mengejarnya. Alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa sinar hitam itu adalah tongkat di tangan kakek yang berpakaian pendeta dan bernama Cekel Wisangkoro! Kiranya kakek itu seorang yang amat sakti. Hatinya penuh kekhawatiran, apalagi ketika ia melirik dan melihat betapa suaminya kini telah kena diringkus oleh kedua lengan Gagak Kroda yang amat kuat. Suaminya meronta-ronta namun tak dapat terlepas. Tentu suaminya dikalahkan karena pengeroyokan Gagak Kroda dan Gagak Dwipa selagi dia terdesak sinar hitam itu. Karena kini ia mengerahkan perhatian kepada suaminya, ketika tiba-tiba sinar hitam kembali menyambar, Setyaningsih agak terlambat melompat dan pundaknya kena diserempet tongkat ular, membuat wanita ini terhuyung. Dan pada saat itu Gagak Dwipa sudah melompat maju dan mengirim tusukan dengan pedangnya ke arah dada Setyaningsih, tusukan yang agaknya sukar untuk dapat ia hindarkan dalam keadaan terhuyung seperti itu.
Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih itu, tiba-tiba terdengar pekik melengking tinggi yang hampir sama dengan pekik Setyaningsih akan tetapi jauh lebih kuat dan sebuah lengan yang halus melayang, menampar ke arah kepala Gagak Dwipa. Angin pukulannya. amat kuat sehingga Gagak Dwipa terkejut bukan main. Namun bekas pimpinan Gagak Serayu ini cepat menarik kembali pedangnya yang tadi menusuk Setyaningsih dan terus ia babatkan ke atas menangkis lengan halus itu.
"Krakkk!" Pedang itu patah menjadi tiga potong bertemu dengan tangan Pusporini yang mengandung tenaga mujijat Pethit Nogo, bahkan tangan itu masih dapat mendorong pundak Gagak Dwip yang terpental ke belakang. Setyaningsih hanya sekelebatan saja melihat datangnya seorang wanita cantik yang menolongnya, akan tetapi pada saat itu perhatiannya terpusat kepada suaminya, maka tubuhnya berkelebat ke depan dan tangannya menampar ke arah Gagak Kroda yang masih mendekap tubuh suaminya yang tak mampu bergerak. Gagak Kroda yang maklum akan keampuhan pukulan Setyaningsih, yang tadi membuat dadanya terasa seperti pecah, cepat melepaskan dekapannya dan menjatuhkan diri ke belakang lalu bergulingan menjauh sehingga ia terbebas daripada pukulan maut. Dua orang saudara Gagak itu benar-benar amat kuat. Mereka sudah bangkit lagi dan bersiap-siap. Akan tetapi pada saat itu, dua orang wanita yang sama muda sama cantik rupawan, akan tetapi sama-sama ganas dan penuh kemarahan telah menerjang mereka dan keduanya mengeluarkan pekik-pekik melengking yang dahsyat. Gagak Kroda menjadi pucat ketika ia melihat  Setyaningsih menerjangnya dengan tamparan-tamparan sakti, dan ia berusaha mengelak dan menangkis sambil terhuyung mundur. Di lain pihak, Gagak Dwipa juga merasa ngeri ketika melihat wanita muda yang cantik dan berkulit hitam manis itu sambil tersenyum-senyum manis sekali menerjangnya dengan tamparan yang seolah-olah menghembuskan api kawah Gunung Bromo! Yang membuat kedua orang raksasa ini merasa ngeri adalah pekik-pekik melengking yang keluar dari mulut mereka. Kedua orang tokoh Serayu ini mundur-mundur dan wajah mereka membayangkan ketakutan hebat.

Cekel Wisangkoro yang melihat para pembantunya terdesak dan terancam, segera berkelebat maju dengan tongkat hitamnya, akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang dan seorang pemuda tampan gagah perkasa yang datang bersama wanita cantik itu telah berdiri menghadapinya sambil tersenyum-senyum.
"Pendeta palsu, dua orang kawanmu itu adalah laki-laki raksasa yang melawan dua orang wanita muda, sesungguhnya mereka itu sudah tak tahu malu sekali. Masa masih akan kaubantu lagi? Engkau ini pendeta dukun lepus sungguh tak tahu malu!"
Cekel Wisangkoro adalah murid Wasi Bagaspati yang amat sakti, tentu saja menjadi marah dan tidak memandang sebelah mata kepada pemuda ini. Ia menyeringai, memperlihatkan mulut ompong dan berkata,
"Hemm, biarlah kubunuh engkau lebih dulu sebelum menundukkan dua orang wanita galak itu!" Sambil berkata demikian, Cekel Wisangkoro berteriak keras dan tongkatnya menyambar, berubah menjadi sinar hitam yang amat kuat dan cepat gerakannya. Akan tetapi Joko Pramono, pemuda itu, dengan mudah mengelak sambil mengejek,
"Luput! Engkau ini pendeta manakah? Rambutmu sudah penuh uban akan tetapi kaubiarkan panjang terurai dan mengkilap oleh minyak, tanda bahwa pada lahirnya engkau sudah tua bangka, akan tetapi hatimu masih ingin bersolek! Badanmu kurus kering seperti cecak mati pada usia tua, akan tetapi mukamu menyinarkan nafsu duniawi, jubahmu kuning berhiaskan benang emas akan tetapi kakimu telanjang, tanda bahwa engkau suka akan kemuliaan dan kemewahan akan tetapi tidak tahu akan tata susila seorang pendeta! Bicaramu seperti pribumi akan tetapi hidungmu seperti kakatua, tanda bahwa engkau bukanlah orang tanah Jawa. Eh, dukun lepus, engkau siapa dan orang mana?" Muka kakek itu memang kemerahan, akan tetapi sekarang menjadi lebih merah karena marah.
"Bocah bermulut lancang! Mampuslah di tangan Cekel Wisangkoro!" bentaknya sambil menyerang kembali, menusukkan tongkatnya ke arah tenggorokan Joko Pramono. Namun kembali pemuda ini miringkan tubuh dan dari samping tangannya menangkis.
"Plakk!" Cekel Wisangkoro terkejut bukan main dan mengeluarkan teriakan nyaring karena tongkatnya itu terpukul miring dan telapak tangannya menjadi perih. Hal ini hanya menandakan bahwa pemuda itu memiliki hawa sakti yang luar biasa kuatnya. Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang pemuda yang usianya paling banyak dua puluh dua tahun itu dapat menangkis tongkatnya sampai miring!
"Heh keparat, rasakan kesaktiankul" katanya dan kini ia memutar tongkatnya seperti kitiran sehingga tongkat itu berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung dan membentuk lingkaran lebar.

<<< Bagian 130                                                                                     Bagian 132 >>>

No comments:

Post a Comment