Tidak melihatkah engkau tadi Setyaningsih dan suaminya bertukar isyarat pandang mata? Tentu mereka itu tidak menjadi sekutu mereka, entah apa yang telah terjadi. Akan tetapi ada perasaan di hatiku seolah-olah mereka masuk perangkap."
"Ah, kalau begitu,
kejar .....!" Pusporini mendahului Joko Pramono dan berlari cepat sekali
mengejar ke arah larinya kereta yang kini sudah tak tampak lagi. Joko Pramono
juga mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat. Di dalam hatinya terasa
lega sekali karena ia merasa seolah-olah baru saja terhindar daripada
malapetaka terbesar selama hidupnya!
Sebetulnya apa yang terjadi
dengan Setyaningsih dan suaminya? Seperti telah kita ketahui, Pangeran Panji
Sigit dan Setyaningsih merupakan dua orang tokoh pasukan rahasia yang dipimpin
Pangeran Darmokusumo dari Panjalu. Mereka ini bersama beberapa orang pengawal
yang merupakan ahli-ahli penyelidik, menyelundup memasuki daerah Jenggala dan
tugas mereka adalah mencari jejak Nini Bumigarba yang telah menculik Retna
Wilis. Lama mereka itu bersama anak buah mereka melakukan penyelidikan, namun
tak seorang pun pernah mendengar nama Nini Bumigarba, apa lagi melihat nenek
menyeramkan itu. Jejak nenek itu lenyap sama sekali dan mereka menjadi bingung
karena tidak berhasil sedikit pun juga. Karena itu, Pangeran Panji Sigit dan
isterinya lalu memisahkan diri dari para penyelidik dengan niat untuk memasuki
Kota Raja Jenggala. Pangeran itu bertekad untuk menghadap ramandanya dengan
resiko menghadapi musuh-musuh rahasia Kerajaan Jenggala. Akan tetapi dia merasa
yakin bahwa hanya di istana sajalah ia akan dapat mendengar tentang nenek itu.
Dua hari yang lalu, ketika mereka sedang berjalan memasuki sebuah dusun, mereka
bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Di
antara anak buah pasukan ini terdapat pula seorang prajurit Jenggala yang tentu
saja segera mengenal Pangeran Panji Sigit, sungguhpun pangeran itu menyamar
dalam pakaian penduduk biasa. Ia cepat memberitahukan hal ini kepada kedua
orang kakek itu yang cepat mengatur siasat. Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah
mendengar tugas rahasia dari Pangeran Kukutan bahwa kalau mereka mendengar akan
adanya Pangeran Panji Sigit, mereka harus membawanya ke istana! Kiranya
Pangeran Kukutan telah mendengar bahwa adik tirinya itu pernah datang menghadap
ratu yang diasingkan, maka timbul rasa khawatir di hatinya. Ia merundingkan hal
ini dengan Suminten yang segera bangkit seleranya, bangun nafsunya mendengar
akan kembalinya Pangeran Panji Sigit. Seorang wanita seperti Suminten ini, yang
setiap hari berganti kekasih, akan menjadi bosan dengan pria-pria tampan yang
dengan senang hati melayani segala kehendak dan nafsunya. Sebaliknya, ia akan
merasa tersiksa dan menderita penyakit wuyung (rindu asmara) kalau ada pria
yang menolak cintanya! Dan pria yang menolaknya, satu-satunya pria tampan yang
menolaknya adalah Pangeran Panji Sigit. Bukan ini saja. Orang pertama yang
membangkitkan berahinya, yang menjadi cinta pertamanya namun yang tak sudi
melayaninya adalah Pangeran Panjirawit, suami Endang Patibroto yang pertama.
Bahkan kasih tak terbalas inilah yang sesungguhnya membuat perubahan besar
dalam hidup Suminten, yang membuat dia dari seorang abdi menjadi wanita yang
paling berkuasa di seluruh Jenggala. Cinta kasihnya yang gagal terhadap
Pangeran Panjirawit ini pulalah yang menjadikan dia seorang wanita pengabdi
nafsu berahi yang keranjingan, seorang wanita yang haus akan cinta kasih yang
tak pernah dapat memenuhi hatinya. Dan Pangeran Panji Sigit mempunyai wajah
yang mirip dengan kakak tirinya itu! Gagak Dwipa dan Gagak Kroda menjadi girang
sekali dan cepat-cepat dia bersama pasukannya bersembah sujut memberi hormat
kepada Pangeran Panji Sigit. Tentu saja pangeran muda ini menjadi terkejut
sekali. Dia bersama isterinya sudah menyamar dengan pakaian penduduk biasa,
namun ternyata pasukan itu mengenalnya. Terpaksa, untuk menyembunyikan tugas
rahasianya yang berbahaya, ia pun menyatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan
pulang ke kota raja untuk menghadap ramandanya sang prabu di Jenggala.
Demikianlah, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih dikawal oleh Gagak Dwipa dan
Gagak Kroda, naik sebuah kereta dan sampai di dusun itu di mana mereka
beristirahat di sebuah gedung besar yang menjadi tempat peristirahatan para petugas
Kerajaan Jenggala yang melakukan tugas berjaga dan menyelidili wilayah
perbatasan. Ketika dua orang kakek itu memaksa mereka melanjutkan perjalanan di
waktu malam, hati Pangeran Panji Sigit dan isterinya menjadi curiga. Akan
tetapi kalau mereka menolak, tentu kedua orang kakek itu mencurigai mereka,
maka mereka menurut dan diam-diam mereka bersiap-siap menghadapi segala
kemungkinan. Malam itu bulan purnama bersinar di angkasa yang bersih dan cerah
sehingga kalau saja tidak digoda oleh kecurigaan yang membuat hati mereka tidak
nyaman, tentu perjalanan itu merupakan perjalanan yang amat menyenangkan. Kanan
kiri jalan yang bermandikan cahaya bulan keemasan amatlah sedap dipandang.
Sudah hampir dua jam kereta berjalan cepat dan tiba-tiba, di sebuah jalan perempatan,
kereta berhenti. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih saling berpandangan
kemudian mereka menyingkap tenda sutera penutup jendela kereta dan memandang
keluar. Di bawah sinar bulan yang terang, tampak tiga orang penunggang kuda
menghadang di depan kereta yang dihentikan. Sejenak Pangeran Panji Sigit
tertegun dan memandang penuh perhatian. Benarkah ucapan Gagak Dwipa bahwa ada
orang-orang Panjalu yang hendak mengganggunya? Tidak mungkin! Kalau toh ada
utusan dari Panjalu, tentu utusan itu adalah anggauta pasukan rahasia atau anak
buah Pangeran Darmokusumo, atau juga anak buah Patih Tejolaksono.
Akan tetapi dia tidak
mengenal mereka itu dan tampak olehnya bahwa tiga orang itu dipimpin oleh
seorang kakek yang usianya sudah empat puluh tahun, berjubah kuning seperti
pakaian pendeta, kakinya telanjang, rambutnya putih terurai sampai ke pinggang,
mukanya kehitaman dengan hidungnya yang panjang berbentuk paruh burung kakatua,
tubuhnya kurus tinggi.
"Pangeran Panji Sigit,
kami atas nama kerajaan dan atas perintah gusti patih di Jenggala, ditugaskan
menangkap Andika bersama wanita yang datang bersama Andika!"
Kakek itu berkata, suaranya
nyaring dan serak. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih cepat meloncat keluar
dari kereta itu, berdiri dengan sikap siap. Sedikit pun mereka tidak menjadi
gentar, apalagi Setyaningsih, dengan muka angkuh memandang kepada kakek itu,
sinar matanya memancarkan kemarahan.
"Tidak mungkin! Mengapa
pula Patih Jenggala hendak menangkap aku? Paman Dwipa dan Paman Kroda, apa
artinya ini?" bentak Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi, dengan heran dan
marah pangeran itu melihat betapa kedua orang kakek tinggi besar itu pun sudah
melompat turun dan bergabung dengan tiga orang itu yang sudah melompat turun
dari kuda masing-masing. Bahkan Gagak Dwipa tertawa mengejek lalu berkata,
"Pangeran Panji Sigit,
ketahuilah bahwa paman ini adalah Paman Cekel Wisangkoro, kepercayaan dari
Gusti Pangeran Kukutan. Sebaiknya Andika berdua menyerah saja agar dapat
ditangkap secara terhormat, daripada harus dipergunakan kekerasan. Kalau gusti
patih memerintah agar Andika ditangkap, tentu ada alasannya yang kuat!"
"Hemm, kiranya kalian
berdua adalah orang-orang jahat yang sengaja hendak mencelakakan kami!"
Tiba-tiba Setyaningsih berkata, suaranya dingin dan mengandung ancaman
mengerikan.
"Kakangmas Pangeran
adalah putera gusti sinuwun di Jenggala yang hendak pulang ke istana ramandanya
sendiri. Siapa pun tidak berhak menangkapnya!"
"Hemm, galak benar
isteri pangeran ini! Kalian hendak melawan kami?" bentak Gagak Kroda yang
wataknya berangasan. Adapun lima orang yang tadi mengawal kereta, bersama dua
orang perajurit yang bertugas memanggil Cekel Wisangkoro dan kini datang
bersama kakek pendeta itu, telah maju mengurung Pangeran Panji Sigit dan
isterinya.
"Gagak Dwipa dan Gagak
Kroda, memang tadinya aku sudah curiga terhadap kalian. Semenjak kecil aku
berada di Jenggala dan selalu aku melihat perwira-perwira dan pengawal-pengawal
yang berjiwa satria, tidak seperti kalian orang-orang kasar melebihi gerombolan
perampok. Kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak yang mengatur siasat
untuk mencelakakan kami! Tunggu saja sampai aku menghadap ramanda prabu, pasti
pengawal-pengawal palsu macam kalian ini akan dijatuhi hukuman mati!"
"Bodoh! Kenapa kalian
melayani mereka bicara? Lekas tangkap!" Cekel Wisangkoro tak sabar lagi.
"Gusti Pangeran Kukutan
sudah tak sabar menanti!"
"Hayo tangkap
mereka!" Gagak Dwipa memberi aba-aba kepada tujuh orang prajurit pengawal
yang menjadi anak buahnya. Dia memandang rendah kepada pangeran yang halus
sikapnya itu, juga isterinya yang cantik jelita dan lemah lembut, oleh karena
itu ia memerintahkan anak buahnya untuk turun tangan menangkap suami isteri
itu. Tujuh orang prajurit itu dengan penuh gairah lalu menubruk maju. Hanya dua
orang yang menerjang Pangeran Panji Sigit, sedangkan yang lima orang lagi,
yaitu mereka yang tadi mengawal kereta, seperti anjing-anjing kelaparan berebut
tulang, telah berlomba menerkam Setyaningsih. Mereka adalah orang-orang kasar,
bekas anak buah gerombolan Gagak Serayu, orang-orang yang sudah biasa menjadi
hamba nafsunya sendiri sehingga sejak melihat Setyaningsih, sudah bergelora
nafsu berahi mereka. Kini, mereka memperoleh kesempatan untuk menangkap,
tentu saja mereka tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sekedar menggerayang dan meremas tubuh yang
menggairahkan hati mereka itu.
Akan tetapi sungguh di luar
dugaan mereka bahwa wanita muda cantik jelita itu bukanlah makanan empuk
seperti yang mereka kira. Bahkan sebaliknya! Begitu mereka menubruk, Setyaningsih
yang sejak tadi sudah menahan-nahan kemarahannya, sama sekali tidak mengelak,
bahkan menyambar mereka dengan tamparan-tamparan sakti.
"Wuut-wuut.....plak-plak-plak
....!" Tiga di antara lima orang itu terpelanting dan memegangi kepala
yang serasa akan pecah! Muka mereka bengkak-bengkak membiru akibat pukulan yang
dikerahkan dengan Aji Gelap Musti yang pernah dipelajari dari ayundanya, yaitu
Endang Patibroto ketika ia berada di puncak Wilis! Mereka semua terkejut
setengah mati. Lima orang itu adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan,
bertubuh kebal, namun sekali gebrakan saja Setyaningsih telah merobohkan tiga
orang yang agaknya takkan dapat bangkit lagi cepat-cepat. Mereka ini, dua orang
prajurit yang lain menjadi gentar, akan tetapi juga marah. Mereka ini menerjang
maju, tidak untuk menggerayang tubuh, melainkan untuk memukul roboh dan
menangkap wanita perkasa itu dengan kekerasan. Pangeran Panji Sigit mungkin
tidak seganas isterinya, juga tidak sesakti isterinya. Akan tetapi, pangeran
ini telah pula menerima gemblengan dan petunjuk Ki Datujiwa, maka menghadapi
dua orang prajurit pengawal itu tentu saja bukan merupakan lawan berat baginya.
Dengan cekatan sekali pangeran muda ini mengelak dari setiap sergapan,
cengkeraman atau pukulan, kemudian ia pun membalas dengan pukulan-pukulannya
yang cukup ampuh. Berbeda dengan Pangeran Panji Sigit yang sifatnya memang
pemurah dan betapapun juga tidak ingin membunuh ponggawa kerajaan ramandanya
sendiri, Setyaningsih
yang sudah marah sekali itu
kini mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dan
terjangan kedua orang perajurit itu pun ia sambut dengan pukulan-pukulan Pethit
Nogo!
"Werrr .....plak-plak
....!" Dua orang prajurit itu roboh terjengkang dan tubuh mereka
berkelojotan, tak mampu bangkit kembali.
Sesungguhnya, di antara
ilmu-ilmu yang dimiliki Endang Patibroto, ilmu pukulan Gelap Musti amatlah
hebat. Akan tetapi bagi Setyaningsih, Aji Pethit Nogo-nya lebih ampuh karena
sejak kecil ia telah dilatih ibunya dengan aji pukulan ini, sedangkan Aji Gelap
Musti hanya ia pelajari beberapa tahun saja ketika ia tinggal bersama
ayundanya. Kalau tiga orang yang pertama kali dirobohkan dengan Gelap Musti
tadi hanya merasa kepalanya pecah dan sukar dapat bangkit kembali, adalah dua
orang korban Aji Pethit Nogo ini tak mungkin dapat hidup lagi karena mengalami
gegar otak yang amat hebat! Pada saat yang hampir bersamaan, Pangeran Panji
Sigit juga sudah berhasil memukul roboh seorang pengeroyok dengan tulang pundak
remuk, dan membanting seorang pengeroyok lain sehingga kedua orang itu pun
tidak mampu bertanding lagi.
"Wah, kiranya kalian
juga memiliki sedikit kepandaian?" bentak Gagak Kroda, benar-benar
terkejut karena tak disangkanya sama sekali bahwa suami isteri itu akan dapat
merobohkan tujuh orang anak buahnya, terutama isteri pangeran itu yang telah
merobohkan lima orang sedemikian mudahnya.
"Majulah, Gagak Dwipa
dan Gagak Kroda! Inilah Setyaningsih dan ketahuilah bahwa aku adalah adik
kandung Endang Patibroto! Suami ayundaku, Pangeran Panjirawit tewas oleh para
prajurit Jenggala sendiri, dan kini suamiku, juga seorang Pangeran Jenggala,
kini hendak ditangkap oleh prajurit-prajurit Jenggala sendiri! Akan tetapi,
kalian hanya akan dapat melakukan hal itu melalui mayatku! Benar ucapan Ayunda
Endang Patibroto bahwa di Jenggala banyak terdapat iblis-iblis menyamar sebagai
ponggawa kerajaan!" Setyaningsih biasanya pendiam dan tidak banyak cakap,
akan tetapi kini kemarahannya memuncak ketika ia melihat suaminya hendak
diganggu orang.
No comments:
Post a Comment