Perawan Lembah Wilis; Bagian 130


Tidak melihatkah engkau tadi Setyaningsih dan suaminya bertukar isyarat pandang mata? Tentu mereka itu tidak menjadi sekutu mereka, entah apa yang telah terjadi. Akan tetapi ada perasaan di hatiku seolah-olah mereka masuk perangkap."
"Ah, kalau begitu, kejar .....!" Pusporini mendahului Joko Pramono dan berlari cepat sekali mengejar ke arah larinya kereta yang kini sudah tak tampak lagi. Joko Pramono juga mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat. Di dalam hatinya terasa lega sekali karena ia merasa seolah-olah baru saja terhindar daripada malapetaka terbesar selama hidupnya!

Sebetulnya apa yang terjadi dengan Setyaningsih dan suaminya? Seperti telah kita ketahui, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih merupakan dua orang tokoh pasukan rahasia yang dipimpin Pangeran Darmokusumo dari Panjalu. Mereka ini bersama beberapa orang pengawal yang merupakan ahli-ahli penyelidik, menyelundup memasuki daerah Jenggala dan tugas mereka adalah mencari jejak Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis. Lama mereka itu bersama anak buah mereka melakukan penyelidikan, namun tak seorang pun pernah mendengar nama Nini Bumigarba, apa lagi melihat nenek menyeramkan itu. Jejak nenek itu lenyap sama sekali dan mereka menjadi bingung karena tidak berhasil sedikit pun juga. Karena itu, Pangeran Panji Sigit dan isterinya lalu memisahkan diri dari para penyelidik dengan niat untuk memasuki Kota Raja Jenggala. Pangeran itu bertekad untuk menghadap ramandanya dengan resiko menghadapi musuh-musuh rahasia Kerajaan Jenggala. Akan tetapi dia merasa yakin bahwa hanya di istana sajalah ia akan dapat mendengar tentang nenek itu. Dua hari yang lalu, ketika mereka sedang berjalan memasuki sebuah dusun, mereka bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Di antara anak buah pasukan ini terdapat pula seorang prajurit Jenggala yang tentu saja segera mengenal Pangeran Panji Sigit, sungguhpun pangeran itu menyamar dalam pakaian penduduk biasa. Ia cepat memberitahukan hal ini kepada kedua orang kakek itu yang cepat mengatur siasat. Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah mendengar tugas rahasia dari Pangeran Kukutan bahwa kalau mereka mendengar akan adanya Pangeran Panji Sigit, mereka harus membawanya ke istana! Kiranya Pangeran Kukutan telah mendengar bahwa adik tirinya itu pernah datang menghadap ratu yang diasingkan, maka timbul rasa khawatir di hatinya. Ia merundingkan hal ini dengan Suminten yang segera bangkit seleranya, bangun nafsunya mendengar akan kembalinya Pangeran Panji Sigit. Seorang wanita seperti Suminten ini, yang setiap hari berganti kekasih, akan menjadi bosan dengan pria-pria tampan yang dengan senang hati melayani segala kehendak dan nafsunya. Sebaliknya, ia akan merasa tersiksa dan menderita penyakit wuyung (rindu asmara) kalau ada pria yang menolak cintanya! Dan pria yang menolaknya, satu-satunya pria tampan yang menolaknya adalah Pangeran Panji Sigit. Bukan ini saja. Orang pertama yang membangkitkan berahinya, yang menjadi cinta pertamanya namun yang tak sudi melayaninya adalah Pangeran Panjirawit, suami Endang Patibroto yang pertama. Bahkan kasih tak terbalas inilah yang sesungguhnya membuat perubahan besar dalam hidup Suminten, yang membuat dia dari seorang abdi menjadi wanita yang paling berkuasa di seluruh Jenggala. Cinta kasihnya yang gagal terhadap Pangeran Panjirawit ini pulalah yang menjadikan dia seorang wanita pengabdi nafsu berahi yang keranjingan, seorang wanita yang haus akan cinta kasih yang tak pernah dapat memenuhi hatinya. Dan Pangeran Panji Sigit mempunyai wajah yang mirip dengan kakak tirinya itu! Gagak Dwipa dan Gagak Kroda menjadi girang sekali dan cepat-cepat dia bersama pasukannya bersembah sujut memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit. Tentu saja pangeran muda ini menjadi terkejut sekali. Dia bersama isterinya sudah menyamar dengan pakaian penduduk biasa, namun ternyata pasukan itu mengenalnya. Terpaksa, untuk menyembunyikan tugas rahasianya yang berbahaya, ia pun menyatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang ke kota raja untuk menghadap ramandanya sang prabu di Jenggala. Demikianlah, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih dikawal oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, naik sebuah kereta dan sampai di dusun itu di mana mereka beristirahat di sebuah gedung besar yang menjadi tempat peristirahatan para petugas Kerajaan Jenggala yang melakukan tugas berjaga dan menyelidili wilayah perbatasan. Ketika dua orang kakek itu memaksa mereka melanjutkan perjalanan di waktu malam, hati Pangeran Panji Sigit dan isterinya menjadi curiga. Akan tetapi kalau mereka menolak, tentu kedua orang kakek itu mencurigai mereka, maka mereka menurut dan diam-diam mereka bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama bersinar di angkasa yang bersih dan cerah sehingga kalau saja tidak digoda oleh kecurigaan yang membuat hati mereka tidak nyaman, tentu perjalanan itu merupakan perjalanan yang amat menyenangkan. Kanan kiri jalan yang bermandikan cahaya bulan keemasan amatlah sedap dipandang. Sudah hampir dua jam kereta berjalan cepat dan tiba-tiba, di sebuah jalan perempatan, kereta berhenti. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih saling berpandangan kemudian mereka menyingkap tenda sutera penutup jendela kereta dan memandang keluar. Di bawah sinar bulan yang terang, tampak tiga orang penunggang kuda menghadang di depan kereta yang dihentikan. Sejenak Pangeran Panji Sigit tertegun dan memandang penuh perhatian. Benarkah ucapan Gagak Dwipa bahwa ada orang-orang Panjalu yang hendak mengganggunya? Tidak mungkin! Kalau toh ada utusan dari Panjalu, tentu utusan itu adalah anggauta pasukan rahasia atau anak buah Pangeran Darmokusumo, atau juga anak buah Patih Tejolaksono.

Akan tetapi dia tidak mengenal mereka itu dan tampak olehnya bahwa tiga orang itu dipimpin oleh seorang kakek yang usianya sudah empat puluh tahun, berjubah kuning seperti pakaian pendeta, kakinya telanjang, rambutnya putih terurai sampai ke pinggang, mukanya kehitaman dengan hidungnya yang panjang berbentuk paruh burung kakatua, tubuhnya kurus tinggi.
"Pangeran Panji Sigit, kami atas nama kerajaan dan atas perintah gusti patih di Jenggala, ditugaskan menangkap Andika bersama wanita yang datang bersama Andika!"
Kakek itu berkata, suaranya nyaring dan serak. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih cepat meloncat keluar dari kereta itu, berdiri dengan sikap siap. Sedikit pun mereka tidak menjadi gentar, apalagi Setyaningsih, dengan muka angkuh memandang kepada kakek itu, sinar matanya memancarkan kemarahan.
"Tidak mungkin! Mengapa pula Patih Jenggala hendak menangkap aku? Paman Dwipa dan Paman Kroda, apa artinya ini?" bentak Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi, dengan heran dan marah pangeran itu melihat betapa kedua orang kakek tinggi besar itu pun sudah melompat turun dan bergabung dengan tiga orang itu yang sudah melompat turun dari kuda masing-masing. Bahkan Gagak Dwipa tertawa mengejek lalu berkata,
"Pangeran Panji Sigit, ketahuilah bahwa paman ini adalah Paman Cekel Wisangkoro, kepercayaan dari Gusti Pangeran Kukutan. Sebaiknya Andika berdua menyerah saja agar dapat ditangkap secara terhormat, daripada harus dipergunakan kekerasan. Kalau gusti patih memerintah agar Andika ditangkap, tentu ada alasannya yang kuat!"
"Hemm, kiranya kalian berdua adalah orang-orang jahat yang sengaja hendak mencelakakan kami!" Tiba-tiba Setyaningsih berkata, suaranya dingin dan mengandung ancaman mengerikan.
"Kakangmas Pangeran adalah putera gusti sinuwun di Jenggala yang hendak pulang ke istana ramandanya sendiri. Siapa pun tidak berhak menangkapnya!"
"Hemm, galak benar isteri pangeran ini! Kalian hendak melawan kami?" bentak Gagak Kroda yang wataknya berangasan. Adapun lima orang yang tadi mengawal kereta, bersama dua orang perajurit yang bertugas memanggil Cekel Wisangkoro dan kini datang bersama kakek pendeta itu, telah maju mengurung Pangeran Panji Sigit dan isterinya.
"Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, memang tadinya aku sudah curiga terhadap kalian. Semenjak kecil aku berada di Jenggala dan selalu aku melihat perwira-perwira dan pengawal-pengawal yang berjiwa satria, tidak seperti kalian orang-orang kasar melebihi gerombolan perampok. Kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak yang mengatur siasat untuk mencelakakan kami! Tunggu saja sampai aku menghadap ramanda prabu, pasti pengawal-pengawal palsu macam kalian ini akan dijatuhi hukuman mati!"
"Bodoh! Kenapa kalian melayani mereka bicara? Lekas tangkap!" Cekel Wisangkoro tak sabar lagi.
"Gusti Pangeran Kukutan sudah tak sabar menanti!"
"Hayo tangkap mereka!" Gagak Dwipa memberi aba-aba kepada tujuh orang prajurit pengawal yang menjadi anak buahnya. Dia memandang rendah kepada pangeran yang halus sikapnya itu, juga isterinya yang cantik jelita dan lemah lembut, oleh karena itu ia memerintahkan anak buahnya untuk turun tangan menangkap suami isteri itu. Tujuh orang prajurit itu dengan penuh gairah lalu menubruk maju. Hanya dua orang yang menerjang Pangeran Panji Sigit, sedangkan yang lima orang lagi, yaitu mereka yang tadi mengawal kereta, seperti anjing-anjing kelaparan berebut tulang, telah berlomba menerkam Setyaningsih. Mereka adalah orang-orang kasar, bekas anak buah gerombolan Gagak Serayu, orang-orang yang sudah biasa menjadi hamba nafsunya sendiri sehingga sejak melihat Setyaningsih, sudah bergelora nafsu berahi mereka. Kini, mereka memperoleh kesempatan untuk menangkap,
tentu saja mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sekedar menggerayang dan meremas tubuh yang menggairahkan hati mereka itu.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan mereka bahwa wanita muda cantik jelita itu bukanlah makanan empuk seperti yang mereka kira. Bahkan sebaliknya! Begitu mereka menubruk, Setyaningsih yang sejak tadi sudah menahan-nahan kemarahannya, sama sekali tidak mengelak, bahkan menyambar mereka dengan tamparan-tamparan sakti.
"Wuut-wuut.....plak-plak-plak ....!" Tiga di antara lima orang itu terpelanting dan memegangi kepala yang serasa akan pecah! Muka mereka bengkak-bengkak membiru akibat pukulan yang dikerahkan dengan Aji Gelap Musti yang pernah dipelajari dari ayundanya, yaitu Endang Patibroto ketika ia berada di puncak Wilis! Mereka semua terkejut setengah mati. Lima orang itu adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, bertubuh kebal, namun sekali gebrakan saja Setyaningsih telah merobohkan tiga orang yang agaknya takkan dapat bangkit lagi cepat-cepat. Mereka ini, dua orang prajurit yang lain menjadi gentar, akan tetapi juga marah. Mereka ini menerjang maju, tidak untuk menggerayang tubuh, melainkan untuk memukul roboh dan menangkap wanita perkasa itu dengan kekerasan. Pangeran Panji Sigit mungkin tidak seganas isterinya, juga tidak sesakti isterinya. Akan tetapi, pangeran ini telah pula menerima gemblengan dan petunjuk Ki Datujiwa, maka menghadapi dua orang prajurit pengawal itu tentu saja bukan merupakan lawan berat baginya. Dengan cekatan sekali pangeran muda ini mengelak dari setiap sergapan, cengkeraman atau pukulan, kemudian ia pun membalas dengan pukulan-pukulannya yang cukup ampuh. Berbeda dengan Pangeran Panji Sigit yang sifatnya memang pemurah dan betapapun juga tidak ingin membunuh ponggawa kerajaan ramandanya sendiri, Setyaningsih
yang sudah marah sekali itu kini mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dan terjangan kedua orang perajurit itu pun ia sambut dengan pukulan-pukulan Pethit Nogo!
"Werrr .....plak-plak ....!" Dua orang prajurit itu roboh terjengkang dan tubuh mereka berkelojotan, tak mampu bangkit kembali.
Sesungguhnya, di antara ilmu-ilmu yang dimiliki Endang Patibroto, ilmu pukulan Gelap Musti amatlah hebat. Akan tetapi bagi Setyaningsih, Aji Pethit Nogo-nya lebih ampuh karena sejak kecil ia telah dilatih ibunya dengan aji pukulan ini, sedangkan Aji Gelap Musti hanya ia pelajari beberapa tahun saja ketika ia tinggal bersama ayundanya. Kalau tiga orang yang pertama kali dirobohkan dengan Gelap Musti tadi hanya merasa kepalanya pecah dan sukar dapat bangkit kembali, adalah dua orang korban Aji Pethit Nogo ini tak mungkin dapat hidup lagi karena mengalami gegar otak yang amat hebat! Pada saat yang hampir bersamaan, Pangeran Panji Sigit juga sudah berhasil memukul roboh seorang pengeroyok dengan tulang pundak remuk, dan membanting seorang pengeroyok lain sehingga kedua orang itu pun tidak mampu bertanding lagi.
"Wah, kiranya kalian juga memiliki sedikit kepandaian?" bentak Gagak Kroda, benar-benar terkejut karena tak disangkanya sama sekali bahwa suami isteri itu akan dapat merobohkan tujuh orang anak buahnya, terutama isteri pangeran itu yang telah merobohkan lima orang sedemikian mudahnya.
"Majulah, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda! Inilah Setyaningsih dan ketahuilah bahwa aku adalah adik kandung Endang Patibroto! Suami ayundaku, Pangeran Panjirawit tewas oleh para prajurit Jenggala sendiri, dan kini suamiku, juga seorang Pangeran Jenggala, kini hendak ditangkap oleh prajurit-prajurit Jenggala sendiri! Akan tetapi, kalian hanya akan dapat melakukan hal itu melalui mayatku! Benar ucapan Ayunda Endang Patibroto bahwa di Jenggala banyak terdapat iblis-iblis menyamar sebagai ponggawa kerajaan!" Setyaningsih biasanya pendiam dan tidak banyak cakap, akan tetapi kini kemarahannya memuncak ketika ia melihat suaminya hendak diganggu orang.

<<< Bagian 129                                                                                      Bagian 131 >>>

No comments:

Post a Comment