Perawan Lembah Wilis; Bagian 129


"Hampir aku lupa akan tugas kita ....." kata Pusporini sambil membuang dua batang tombak itu, kemudian memandang ke arah mayat-mayat yang berserakan memenuhi tempat itu. Tujuh belas orang mati, termasuk si jenggot panjang dan si hidung besar, dan keadaan di situ sunyi sekali, sunyi yang mengerikan.
"Mari kita ikuti mereka!"
Sepasang orang muda yang perkasa ini lalu berkelebat meninggalkan tempat itu, mengikuti bayangan dua orang sisa pasukan Pasopati yang melarikan diri pontang-panting itu. Dari jauh mereka melihat dua orang itu lari terus, biarpun napas mereka telah kerenggosan hampir putus, dua orang itu tidak berani berhenti dan lari terus. Menjelang senja, barulah dua orang itu sampai di tempat tujuan dan ternyata mereka itu tidak lari ke induk pasukan seperti yang mereka sangka, melainkan lari memasuki sebuah rumah gedung yang berada di sebuah dusun, letaknya di pinggir. Melihat adanya empat orang penjaga di pintu gerbang, Joko Pramono dan Pusporini dapat menduga bahwa rumah itu tentulah rumah seorang pembesar yang berkuasa, karena kalau hanya rumah seorang kepala dusun saja tidak mungkin dijaga empat orang pengawal yang pakaiannya indah seperti pengawal istana. Di pendopo luar tampak pondok sesajen yang seperti juga di dusun-dusun lain, dua orang muda itu melihat bahwa yang dipuja-puja oleh penghuni rumah gedung ini adalah Sang Bathara Shiwa. Dengan hati-hati mereka melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah itu, dan dengan hati-hati mereka menyelinap dan mengintai.
"Apa kau bilang? Pasukan Pasopati binasa semua oleh dua orang laki-laki dan wanita? Sungguh menggelikan!" bentak seorang laki-laki tinggi besar dan dengan sikap marah laki-laki ini mengelebatkan pedangnya yang panjang dan ....."capp!" pedang itu amblas setengahnya ke dalam tiang rumah itu. Laki-laki ke dua, yang juga tinggi besar, berdiri pula dari tempat duduknya, memandang penuh penghinaan kepada dua orang pelarian yang kini berlutut di lantai, lalu membentak,
"Dan kalian tidak tahu nama mereka? Bahkan kalian berani meninggalkan pasukan membiarkan kawan-kawan tewas sedangkan kalian sendiri melarikan diri? Pengecut tak tahu malu! Beginikah prajurit-prajurit pilihan yang menjadi anggota pasukan Pasopati?"

Joko Pramono dan Pusporini yang mengintai, melihat bahwa dua orang laki-laki setengah tua yang marah-marah itu benar-benar kelihatan amat kuat, tidak saja hal ini terbayang pada tubuh mereka yang tinggi besar, akan tetapi juga gerak-gerik dan sikap mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan ilmu kepandaian.
"Hamba ...hamba berdua .....bukan melarikan diri karena takut ....hanya ingin melaporkan hal itu kepada paduka .. " kata seorang di antara mereka.
"Pengecut! Sama saja dengan menunjukkan tempat ini kepada musuh!" bentak orang yang berpedang dan cepat sekali tangannya sudah mencabut pedang di tiang tadi dan sekali pedang berkelebat, leher kedua orang itu telah terbabat putus! Gerakan pedang ini amat cepat dan mahir sekali, juga sekali babat membuntungi dua buah kepala menunjukkan tenaga yang amat kuat.
"Adi Kroda, kita harus cepat-cepat mengajak mereka berangkat dari sin!! Lekas kau persiapkan kuda dan memberi tahu Eyang Cekel Wisangkoro agar kita dapat cepat membawa pergi mereka. Karena dua orang itu adalah orang-orang Panjalu yang hendak merampas kedua orang tamu kita!"
"Engkau benar, Kakang Dwipa. Aku pergi!" kata kakek tinggi besar ke dua yang melangkah cepat keluar dari dalam ruangan itu. Kakek pertama juga meninggalkan ruangan setelah memanggil dua orang pengawal dan memberi perintah menyingkirkan dua mayat tadi, dan tanpa diketahui kakek yang ahli bermain pedang ini, yang pergi sambil membawa pedang disarungkan di pinggang, Joko Pramono dan Pusporini mengikuti dengan jalan menyelinap dan berindap-indap melalui taman di luar gedung, dilindungi oleh kegelapan malam yang mulai tiba.
Dua orang kakek tinggi besar itu adalah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, dua di antara Lima Gagak Serayu, yaitu sisa dari tiga orang saudara mereka yang tewas ketika berperang melawan pasukan Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono yang kini telah menjadi patih muda di Panjalu. Dua orang Gagak Serayu ini masih mendendam kepada Panjalu dan telah mengumpulkan sisa gerombolan mereka kemudian mengabdikan dirinya kepada Wasi Bagaspati dan akhirnya memperoleh "kedudukan" sebagai kepala-kepala pasukan pengawal, menjadi hamba-hamba setia dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di Jenggala! Seperti telah diketahui, Gagak Dwipa adalah seorang ahli pedang yang kuat sedangkan Gagak Kroda memiliki tubuh yang kebal. Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka kini sedang dibayangi oleh seorang muda yang sakti mandraguna, yang telah membasmi pasukan Pasopati yang menjadi anak buah mereka. Gagak Dwipa memasuki ruangan dalam gedung itu dan dua orang muda yang elok bangkit berdiri menyambut kedatangannya. Gagak Dwipa segera menjura dengan penuh hormat kepada laki-laki muda yang tampan itu, juga kepada wanita cantik yang berdiri di sebelah kirinya lalu berkata,
"Mohon maaf, Gusti Pangeran, kalau hamba datang mengganggu Paduka berdua yang sedang beristirahat. Akan tetapi terpaksa hamba memberitahukan bahwa sekarang juga perjalanan harus dilanjutkan, harap Paduka berdua suka mempersiapkan diri."

Sementara itu, Pusporini yang mengintai di luar bersama Joko Pramono, tiba-tiba memegang lengan temannya itu. Ketika Joko Pramono merasa betapa jari tangan Pusporini yang memegang lengannya gemetar, ia cepat menengok dan alangkah terkejut hatinya ketika melihat wajah yang cantik itu menjadi pucat. Biarpun wajah itu hanya menerima penerangan suram-suram yang menyorot dari dalam gedung, namun Joko Pramono sudah mengenal betul wajah wanita ini dan ia segera memandang penuh pertanyaan. Pusporini mendekatkan mulutnya ke telinga temannya dan berbisik,
"Dia ...Setyaningsih ....“
“Joko Pramono terkejut dan merasa heran sekali. Tentu saja ia sudah banyak mendengar penuturan gadis ini tentang keluarganya, maka nama Setyaningsih sudah dikenalnya baik-baik sebagai saudara tiri gadis ini dan adik kandung Endang Patibroto. Maka ia cepat memandang kembali ke sebelah dalam dan kini ia memandang wanita muda itu penuh perhatian. Ia melihat bahwa wanita itu sebaya dengan Pusporini dan amat cantik jelita, berkulit kuning langsat dan sinar matanya tajam. berpengaruh, membayangkan kekerasan hati. Diam-diam ia menjadi kagum akan tetapi juga terheran-heran seperti Pusporini mendapatkan wanita itu berada di tempat ini dan seakan-akan menjadi tokoh penting yang dihormati kakek tinggi besar itu. Bahkan pemuda tampan yang berdiri di sebelah kanannya itu disebut gusti pangeran! Melihat Pusporini seakan-akan tak dapat menahan kerinduan hatinya dan seperti hendak berseru memanggil, Joko Pramono cepat menyentuh lengan gadis itu dan menggelengkan kepala sambil member! isyarat dengan telunjuk di depan mulut, minta gadis itu agar jangan mengeluarkan suara.
"Paman Dwipa, apa pula artinya ini?" Pemuda tampan yang disebut gusti pangeran itu berkata, alisnya yang hitam berkerut. "Telah dua hari kita mengadakan perjalanan dan isteriku lelah sekali, ingin beristirahat malam ini. Kita telah berada di wilayah Jenggala, di tempat sendiri, mengapa tergesa-gesa? Bukankah besok kita dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dan sore hatinya dapat tiba di kota raja?"
"Mohon maaf, Gusti. Sesungguhnyalah apa yang Paduka katakan, akan tetapi telah terjadi hal-hal yang gawat. Hendaknya Paduka ketahui bahwa pada masa ini kita menghadapi banyak musuh yang dikirim oleh Panjalu”
"Ah, betapa mungkin? Uwa Prabu di Panjalu“
"Mungkin bukan oleh gusti sinuwun di Panjalu, akan tetapi semenjak pengkhianatan mendiang Patih Brotomenggala, kaki tangannya masih selalu berusaha mengacaukan Jenggala. Baru saja hamba mendapat keterangan bahwa ada beberapa orang mata-mata musuh yang akan menangkap Paduka berdua“
"Eh? Aneh sekali! Aku dan isteriku berpakaian menyamar sebagai penduduk biasa, siapa mengetahui bahwa aku adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala dan ini isteriku?"

Ucapan ini kembali mengejutkan hati Pusporini sehingga di luar kesadarannya gadis ini memegang lengan Joko Pramono dan mencubitnya keras-keras! Untung Joko Pramono dapat menahan diri, kalau tidak tentu ia akan memekik, bukan karena nyeri melainkan karena ..... girang. Cubitan seorang gadis yang dicinta mendatangkan rasa nyeri yang sedap di hati!
"Ah, Paduka tidak tahu betapa pandai mendiang Patih Brotomenggala sehingga banyak kaki tangannya mendapat dukungan tokoh-tokoh di Panjalu. Maafkan hamba, demi keselamatan Paduka sendirilah terpaksa malam ini juga hamba akan mengiringkan Paduka berdua menuju ke kota raja. Setelah Paduka tiba di sana menghadap gusti sinuwun, baru akan legalah hati hamba dan akan bebas hamba daripada tanggung jawab yang berat ...“ Pusporini dan Joko Pramono dapat menangkap isyarat yang terpancar keluar dari pandang mata Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit. Pangeran itu menarik napas panjang dan akhirnya berkata kepada Gagak Dwipa yang menundukkan muka dengan hormat,
"Baiklah kalau begitu, Paman. Engkau sudah begitu baik untuk mengantar kami, tentu saja kami akan menurut segala langkah yang kau ambil demi keselamatan kami."
Pada saat itu, masuklah Gagak Kroda. Setelah memberi hormat kepada pangeran muda bersama isterinya itu, ia lalu berkata kepada Gagak Dwipa,
"Kakang Dwipa, kereta telah siap di luar."
Pangeran muda itu dan isterinya melangkah keluar dari gedung diikuti oleh kedua orang kakek tinggi besar. Sebuah kereta yang indah telah menanti di luar, dan berangkatlah suami isteri itu, dikawal oleh kedua orang kakek itu sendiri bersama tiga orang pengawal yang kelihatannya memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Joko Pramono dan Pusporini tetap mengikuti dari jauh. Mereka menggunakan aji kesaktian mereka sehingga lari mereka cepat sekali, tidak tertinggal oleh larinya kuda yang menarik kereta di sebelah depan. Sambil membayangi kereta itu dari jauh mereka bercakap-cakap.
"Sungguh aneh luar biasa!" kata Pusporini kemudian mengomel.
"Mengapa kau melarang aku menjumpai Setyaningsih? Kau tidak tahu betapa rinduku kepadanya! Ingin sekali aku mendengar dari mulutnya sendiri bagaimana dia sampai bisa menjadi isteri seorang Pangeran Jenggala. Luar biasa..!"
"Hemm, suaminya memang hebat. Seorang pangeran! Begitu tampan dan gagah! Wah, tentu kau akan dapat belajar dari dia bagaimana untuk dapat memancing hati seorang pangeran. Aku berani bertaruh, tentu akan banyak pangeran yang akan tergila-gila kepadamu!"

Tiba-tiba Pusporini berhenti dan memandang pemuda itu dengan pandang mata bersinar-sinar penuh kemarahan.
"Kau ....mendem (mabuk)!! Siapa ingin memancing hati pangeran? Apa maksudmu dengan ucapan gila itu?"
Joko Pramono terkejut dan merasa betapa rasa cemburu membuat ia kelepasan bicara.
"Eh ...ohh .... maaf... aku ... aku hanya bermaksud bahwa amat terhormat menjadi isteri pangeran ... bahwa .... bahwa aku seperti batu kerikil kalau dibandingkan dengan seorang pangeran yang seperti batu intan.... “
"Wah, lebih gila lagi. Kaukira aku perempuan macam apa yang silau oleh ketampanan seorang pangeran? Jadi kau .. kau cemburu? Ceriwis kau! Genit kau! Cih, aku jemu! Sudahlah, aku tidak sudi bertemu dengan Setyaningsih” Gadis itu terisak, membalikkan tubuhnya dan lari pergi.
Sejenak Joko Pramono melongo, kemudian ia mengerahkan tenaga berlari cepat mengejar Pusporini.
"Pusporini ...berhentilah ..ampunkanlah aku.. berhenti.. !”
Akan tetapi gadis itu berlari cepat sekali dan Joko Pramono menjadi bingung karena ia maklum bahwa kalau Pusporini tidak mau memperlambat larinya, tentu akan sukar baginya untuk menyusul dan tentu mereka tidak akan dapat mengikuti suami isteri dalam kereta itu.
"Pusporini....! Aku tobat minta ampun...! Tunggulah aku, mari kita mengejar mereka. Setyaningsih dan suaminya dalam bahaya!!”
Mendengar kalimat terakhir itu, tiba-tiba Pusporini berhenti dan membalikkan tubuhnya. Pandang matanya berkilat dan pipinya basah air mata. Joko Pramono terkejut dan merasa menyesal sekali. Belum pernah ia melihat gadis itu menangis. Ia lalu melompat dekat dan serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu!
"Pusporini ... aku mengaku salah .... aku telah gila, ampunkan aku! Ampunkan mulutku yang lancang, betapa gila aku pernah meragukan perasaanmu yang suci." Pusporini tadinya marah sekali, akan tetapi melihat laki-laki yang dicintanya itu berlutut di depannya, ia menjadi terharu sekali.
"Joko Pramono, bangkitlah. Tidak layak seorang pria berlutut di depan wanita. Kumaafkan engkau, akan tetapi jangan sekali-kali lagi bicara seperti tadi ... kau telah menyayat hatiku."
Joko Pramono bangkit berdiri dan mereka berpandangan, penuh maaf dan penuh pengertian sehingga pandang mata mereka berubah mesra. Akhirnya Pusporini yang lebih dahulu menunduk dengan muka kemerahan.
"Apa maksudmu bahwa Setyaningsih terancam bahaya?"
"Aku tidak main-main. Aku mencurigai dua orang kakek itu.

<<< Bagian 128                                                                                     Bagian 130 >>>

No comments:

Post a Comment