"Hampir aku lupa akan tugas kita ....." kata Pusporini sambil membuang dua batang tombak itu, kemudian memandang ke arah mayat-mayat yang berserakan memenuhi tempat itu. Tujuh belas orang mati, termasuk si jenggot panjang dan si hidung besar, dan keadaan di situ sunyi sekali, sunyi yang mengerikan.
"Mari kita ikuti
mereka!"
Sepasang orang muda yang
perkasa ini lalu berkelebat meninggalkan tempat itu, mengikuti bayangan dua
orang sisa pasukan Pasopati yang melarikan diri pontang-panting itu. Dari jauh
mereka melihat dua orang itu lari terus, biarpun napas mereka telah kerenggosan
hampir putus, dua orang itu tidak berani berhenti dan lari terus. Menjelang
senja, barulah dua orang itu sampai di tempat tujuan dan ternyata mereka itu
tidak lari ke induk pasukan seperti yang mereka sangka, melainkan lari memasuki
sebuah rumah gedung yang berada di sebuah dusun, letaknya di pinggir. Melihat
adanya empat orang penjaga di pintu gerbang, Joko Pramono dan Pusporini dapat
menduga bahwa rumah itu tentulah rumah seorang pembesar yang berkuasa, karena
kalau hanya rumah seorang kepala dusun saja tidak mungkin dijaga empat orang
pengawal yang pakaiannya indah seperti pengawal istana. Di pendopo luar tampak
pondok sesajen yang seperti juga di dusun-dusun lain, dua orang muda itu
melihat bahwa yang dipuja-puja oleh penghuni rumah gedung ini adalah Sang
Bathara Shiwa. Dengan hati-hati mereka melompati pagar tembok yang mengelilingi
rumah itu, dan dengan hati-hati mereka menyelinap dan mengintai.
"Apa kau bilang?
Pasukan Pasopati binasa semua oleh dua orang laki-laki dan wanita? Sungguh
menggelikan!" bentak seorang laki-laki tinggi besar dan dengan sikap marah
laki-laki ini mengelebatkan pedangnya yang panjang dan ....."capp!"
pedang itu amblas setengahnya ke dalam tiang rumah itu. Laki-laki ke dua, yang
juga tinggi besar, berdiri pula dari tempat duduknya, memandang penuh
penghinaan kepada dua orang pelarian yang kini berlutut di lantai, lalu
membentak,
"Dan kalian tidak tahu
nama mereka? Bahkan kalian berani meninggalkan pasukan membiarkan kawan-kawan
tewas sedangkan kalian sendiri melarikan diri? Pengecut tak tahu malu!
Beginikah prajurit-prajurit pilihan yang menjadi anggota pasukan
Pasopati?"
Joko Pramono dan Pusporini
yang mengintai, melihat bahwa dua orang laki-laki setengah tua yang marah-marah
itu benar-benar kelihatan amat kuat, tidak saja hal ini terbayang pada tubuh
mereka yang tinggi besar, akan tetapi juga gerak-gerik dan sikap mereka jelas
menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan ilmu
kepandaian.
"Hamba ...hamba berdua
.....bukan melarikan diri karena takut ....hanya ingin melaporkan hal itu
kepada paduka .. " kata seorang di antara mereka.
"Pengecut! Sama saja
dengan menunjukkan tempat ini kepada musuh!" bentak orang yang berpedang
dan cepat sekali tangannya sudah mencabut pedang di tiang tadi dan sekali
pedang berkelebat, leher kedua orang itu telah terbabat putus! Gerakan pedang
ini amat cepat dan mahir sekali, juga sekali babat membuntungi dua buah kepala
menunjukkan tenaga yang amat kuat.
"Adi Kroda, kita harus
cepat-cepat mengajak mereka berangkat dari sin!! Lekas kau persiapkan kuda dan
memberi tahu Eyang Cekel Wisangkoro agar kita dapat cepat membawa pergi mereka.
Karena dua orang itu adalah orang-orang Panjalu yang hendak merampas kedua
orang tamu kita!"
"Engkau benar, Kakang
Dwipa. Aku pergi!" kata kakek tinggi besar ke dua yang melangkah cepat
keluar dari dalam ruangan itu. Kakek pertama juga meninggalkan ruangan setelah
memanggil dua orang pengawal dan memberi perintah menyingkirkan dua mayat tadi,
dan tanpa diketahui kakek yang ahli bermain pedang ini, yang pergi sambil
membawa pedang disarungkan di pinggang, Joko Pramono dan Pusporini mengikuti
dengan jalan menyelinap dan berindap-indap melalui taman di luar gedung,
dilindungi oleh kegelapan malam yang mulai tiba.
Dua orang kakek tinggi besar
itu adalah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, dua di antara Lima Gagak Serayu, yaitu
sisa dari tiga orang saudara mereka yang tewas ketika berperang melawan pasukan
Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono yang kini telah menjadi patih muda di
Panjalu. Dua orang Gagak Serayu ini masih mendendam kepada Panjalu dan telah
mengumpulkan sisa gerombolan mereka kemudian mengabdikan dirinya kepada Wasi
Bagaspati dan akhirnya memperoleh "kedudukan" sebagai kepala-kepala
pasukan pengawal, menjadi hamba-hamba setia dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih
Warutama di Jenggala! Seperti telah diketahui, Gagak Dwipa adalah seorang ahli
pedang yang kuat sedangkan Gagak Kroda memiliki tubuh yang kebal. Mereka ini
sama sekali tidak tahu bahwa mereka kini sedang dibayangi oleh seorang muda
yang sakti mandraguna, yang telah membasmi pasukan Pasopati yang menjadi anak
buah mereka. Gagak Dwipa memasuki ruangan dalam gedung itu dan dua orang muda yang
elok bangkit berdiri menyambut kedatangannya. Gagak Dwipa segera menjura dengan
penuh hormat kepada laki-laki muda yang tampan itu, juga kepada wanita cantik
yang berdiri di sebelah kirinya lalu berkata,
"Mohon maaf, Gusti
Pangeran, kalau hamba datang mengganggu Paduka berdua yang sedang beristirahat.
Akan tetapi terpaksa hamba memberitahukan bahwa sekarang juga perjalanan harus
dilanjutkan, harap Paduka berdua suka mempersiapkan diri."
Sementara itu, Pusporini
yang mengintai di luar bersama Joko Pramono, tiba-tiba memegang lengan temannya
itu. Ketika Joko Pramono merasa betapa jari tangan Pusporini yang memegang
lengannya gemetar, ia cepat menengok dan alangkah terkejut hatinya ketika
melihat wajah yang cantik itu menjadi pucat. Biarpun wajah itu hanya menerima
penerangan suram-suram yang menyorot dari dalam gedung, namun Joko Pramono
sudah mengenal betul wajah wanita ini dan ia segera memandang penuh pertanyaan.
Pusporini mendekatkan mulutnya ke telinga temannya dan berbisik,
"Dia ...Setyaningsih
....“
“Joko Pramono terkejut dan
merasa heran sekali. Tentu saja ia sudah banyak mendengar penuturan gadis ini
tentang keluarganya, maka nama Setyaningsih sudah dikenalnya baik-baik sebagai
saudara tiri gadis ini dan adik kandung Endang Patibroto. Maka ia cepat memandang
kembali ke sebelah dalam dan kini ia memandang wanita muda itu penuh perhatian.
Ia melihat bahwa wanita itu sebaya dengan Pusporini dan amat cantik jelita,
berkulit kuning langsat dan sinar matanya tajam. berpengaruh, membayangkan
kekerasan hati. Diam-diam ia menjadi kagum akan tetapi juga terheran-heran
seperti Pusporini mendapatkan wanita itu berada di tempat ini dan seakan-akan
menjadi tokoh penting yang dihormati kakek tinggi besar itu. Bahkan pemuda
tampan yang berdiri di sebelah kanannya itu disebut gusti pangeran! Melihat
Pusporini seakan-akan tak dapat menahan kerinduan hatinya dan seperti hendak
berseru memanggil, Joko Pramono cepat menyentuh lengan gadis itu dan
menggelengkan kepala sambil member! isyarat dengan telunjuk di depan mulut, minta
gadis itu agar jangan mengeluarkan suara.
"Paman Dwipa, apa pula
artinya ini?" Pemuda tampan yang disebut gusti pangeran itu berkata,
alisnya yang hitam berkerut. "Telah dua hari kita mengadakan perjalanan
dan isteriku lelah sekali, ingin beristirahat malam ini. Kita telah berada di
wilayah Jenggala, di tempat sendiri, mengapa tergesa-gesa? Bukankah besok kita
dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dan sore hatinya dapat tiba di kota
raja?"
"Mohon maaf, Gusti.
Sesungguhnyalah apa yang Paduka katakan, akan tetapi telah terjadi hal-hal yang
gawat. Hendaknya Paduka ketahui bahwa pada masa ini kita menghadapi banyak
musuh yang dikirim oleh Panjalu”
"Ah, betapa mungkin?
Uwa Prabu di Panjalu“
"Mungkin bukan oleh
gusti sinuwun di Panjalu, akan tetapi semenjak pengkhianatan mendiang Patih
Brotomenggala, kaki tangannya masih selalu berusaha mengacaukan Jenggala. Baru
saja hamba mendapat keterangan bahwa ada beberapa orang mata-mata musuh yang
akan menangkap Paduka berdua“
"Eh? Aneh sekali! Aku
dan isteriku berpakaian menyamar sebagai penduduk biasa, siapa mengetahui bahwa
aku adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala dan ini isteriku?"
Ucapan ini kembali
mengejutkan hati Pusporini sehingga di luar kesadarannya gadis ini memegang
lengan Joko Pramono dan mencubitnya keras-keras! Untung Joko Pramono dapat
menahan diri, kalau tidak tentu ia akan memekik, bukan karena nyeri melainkan
karena ..... girang. Cubitan seorang gadis yang dicinta mendatangkan rasa nyeri
yang sedap di hati!
"Ah, Paduka tidak tahu
betapa pandai mendiang Patih Brotomenggala sehingga banyak kaki tangannya
mendapat dukungan tokoh-tokoh di Panjalu. Maafkan hamba, demi keselamatan
Paduka sendirilah terpaksa malam ini juga hamba akan mengiringkan Paduka berdua
menuju ke kota raja. Setelah Paduka tiba di sana menghadap gusti sinuwun, baru
akan legalah hati hamba dan akan bebas hamba daripada tanggung jawab yang berat
...“ Pusporini dan Joko Pramono dapat menangkap isyarat yang terpancar keluar
dari pandang mata Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit. Pangeran itu menarik
napas panjang dan akhirnya berkata kepada Gagak Dwipa yang menundukkan muka
dengan hormat,
"Baiklah kalau begitu,
Paman. Engkau sudah begitu baik untuk mengantar kami, tentu saja kami akan
menurut segala langkah yang kau ambil demi keselamatan kami."
Pada saat itu, masuklah
Gagak Kroda. Setelah memberi hormat kepada pangeran muda bersama isterinya itu,
ia lalu berkata kepada Gagak Dwipa,
"Kakang Dwipa, kereta
telah siap di luar."
Pangeran muda itu dan
isterinya melangkah keluar dari gedung diikuti oleh kedua orang kakek tinggi
besar. Sebuah kereta yang indah telah menanti di luar, dan berangkatlah suami
isteri itu, dikawal oleh kedua orang kakek itu sendiri bersama tiga orang
pengawal yang kelihatannya memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Joko Pramono
dan Pusporini tetap mengikuti dari jauh. Mereka menggunakan aji kesaktian
mereka sehingga lari mereka cepat sekali, tidak tertinggal oleh larinya kuda
yang menarik kereta di sebelah depan. Sambil membayangi kereta itu dari jauh
mereka bercakap-cakap.
"Sungguh aneh luar
biasa!" kata Pusporini kemudian mengomel.
"Mengapa kau melarang
aku menjumpai Setyaningsih? Kau tidak tahu betapa rinduku kepadanya! Ingin
sekali aku mendengar dari mulutnya sendiri bagaimana dia sampai bisa menjadi
isteri seorang Pangeran Jenggala. Luar biasa..!"
"Hemm, suaminya memang
hebat. Seorang pangeran! Begitu tampan dan gagah! Wah, tentu kau akan dapat
belajar dari dia bagaimana untuk dapat memancing hati seorang pangeran. Aku
berani bertaruh, tentu akan banyak pangeran yang akan tergila-gila
kepadamu!"
Tiba-tiba Pusporini berhenti
dan memandang pemuda itu dengan pandang mata bersinar-sinar penuh kemarahan.
"Kau ....mendem
(mabuk)!! Siapa ingin memancing hati pangeran? Apa maksudmu dengan ucapan gila
itu?"
Joko Pramono terkejut dan
merasa betapa rasa cemburu membuat ia kelepasan bicara.
"Eh ...ohh .... maaf...
aku ... aku hanya bermaksud bahwa amat terhormat menjadi isteri pangeran ...
bahwa .... bahwa aku seperti batu kerikil kalau dibandingkan dengan seorang
pangeran yang seperti batu intan.... “
"Wah, lebih gila lagi.
Kaukira aku perempuan macam apa yang silau oleh ketampanan seorang pangeran?
Jadi kau .. kau cemburu? Ceriwis kau! Genit kau! Cih, aku jemu! Sudahlah, aku
tidak sudi bertemu dengan Setyaningsih” Gadis itu terisak, membalikkan tubuhnya
dan lari pergi.
Sejenak Joko Pramono
melongo, kemudian ia mengerahkan tenaga berlari cepat mengejar Pusporini.
"Pusporini
...berhentilah ..ampunkanlah aku.. berhenti.. !”
Akan tetapi gadis itu
berlari cepat sekali dan Joko Pramono menjadi bingung karena ia maklum bahwa
kalau Pusporini tidak mau memperlambat larinya, tentu akan sukar baginya untuk
menyusul dan tentu mereka tidak akan dapat mengikuti suami isteri dalam kereta
itu.
"Pusporini....! Aku
tobat minta ampun...! Tunggulah aku, mari kita mengejar mereka. Setyaningsih
dan suaminya dalam bahaya!!”
Mendengar kalimat terakhir
itu, tiba-tiba Pusporini berhenti dan membalikkan tubuhnya. Pandang matanya
berkilat dan pipinya basah air mata. Joko Pramono terkejut dan merasa menyesal
sekali. Belum pernah ia melihat gadis itu menangis. Ia lalu melompat dekat dan
serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu!
"Pusporini ... aku
mengaku salah .... aku telah gila, ampunkan aku! Ampunkan mulutku yang lancang,
betapa gila aku pernah meragukan perasaanmu yang suci." Pusporini tadinya
marah sekali, akan tetapi melihat laki-laki yang dicintanya itu berlutut di
depannya, ia menjadi terharu sekali.
"Joko Pramono,
bangkitlah. Tidak layak seorang pria berlutut di depan wanita. Kumaafkan
engkau, akan tetapi jangan sekali-kali lagi bicara seperti tadi ... kau telah
menyayat hatiku."
Joko Pramono bangkit berdiri
dan mereka berpandangan, penuh maaf dan penuh pengertian sehingga pandang mata
mereka berubah mesra. Akhirnya Pusporini yang lebih dahulu menunduk dengan muka
kemerahan.
"Apa maksudmu bahwa
Setyaningsih terancam bahaya?"
"Aku
tidak main-main. Aku mencurigai dua orang kakek itu.
No comments:
Post a Comment