"Huah-ha-ha-ha,
memeriksa bagaimana? Jangan khawatir, kisanak. Aku tidak akan menyusahkan
adikmu, bahkan sebaliknya, dia akan senang sekali setelah kuperiksa nanti. Aku
harus menggeledahnya, siapa tahu dia membawa surat-surat rahasia, membawa
benda-benda rahasia yang disembunyikan di balik pakaiannya. Mari, manis, mari
ikut bersamaku ke balik semak-semak tebal agar jangan ada mata lain melihatmu
sehingga engkau akan menjadi malu, denok !" Si hidung besar mengulurkan
tangan hendak memegang lengan Pusporini, akan tetapi gadis itu melangkah mundur
sambil tersenyum manis sehingga si hidung besar yang melihat senyum yang
mencipta lesung pipit di
pipi yang manis sekali terpesona.
"Nanti dulu,
kisanak!" Joko Pramono melangkah maju di depan Pusporini, memandang mereka
berdua, tidak memperdulikan anak buah pasukan yang tertawa-tawa melihat lagak
seorang di antara pemimpinnya tadi.
"Sebelum Andika berdua
mengambil tindakan, ingin kami bertanya, siapakah Andika berdua dan pasukan ini
pasukan apa? Mengapa Andika hendak memeriksa kami dan dengan hak apakah?"
Si jenggot panjang tertawa
bergelak.
“Ha-ha-ha, melihat wajah dan
dandananmu, engkau seperti bukan bocah gunung, akan tetapi pertanyaanmu ini
menyatakan bahwa engkau benar seorang dusun yang tidak tahu apa-apa. Dengarlah
baik-baik, aku Maruto dan Adi Sarudigdo ini adalah dua orang perwira Jenggala
yang sudah kondang kaonang-onang (terkenal), pemimpin pasukan Pasopati yang
tidak mengenal takut atau mundur atau kalah. Pasukan kami merupakan pasukan
yang paling jagoan di Jenggala, menjadi kembang di antara pasukan pengawal di
luar istana. Kini banyak berkeliaran mata-mata yang dikirim oleh Panjalu dan
entah sudah berapa banyak mata-mata yang kami bunuh. Karena itu, kami berhak
untuk memeriksa setiap orang yang kami curigai dan sudah menjadi hak Adi
Sarudigdo yang memang mempunyai kepandaian khusus untuk menggeledah wanita
untuk memeriksa adikmu ini. Nah, sudah jelaskah? Kalau kalian melawan, berarti
kalian akan mati tanpa diperiksa lagi!" Joko Pramono sudah menjadi marah
sekali. Jelas olehnya sekarang betapa rendah watak pasukan ini dan dari sikap
mereka ini saja ia sudah dapat menilai bahwa mereka ini tentulah bukan
prajurit-prajurit sejati dari Jenggala yang dahulu terkenal sebagai prajurit-prajurit
dan satria-satria utama. Kini pasukan ini tiada bedanya dengan segerombolan
penjahat yang kasar dan liar dan sudah dapat diduga bahwa mereka ini tentulah
menjadi anak buah daripada mereka yang kini menguasai Jenggala.
Kesabarannya lenyap dan hal
ini tampak dari sinar matanya yang berkilat. Melihat keadaan pemuda in!,
Pusporini lalu berkata lirih,
"Biarkan aku menghadapi
mereka." Joko Pramono melangkah mundur karena ia tahu bahwa gadis yang
dikasihinya itu tentu sudah marah luar biasa melihat sikap dan mendengar ucapan
dua orang pemimpin pasukan Pasopati ini dan hendak turun tangan sendiri. Ia
mengalah dan mundur. Pusporini tersenyum-senyum dan melangkah maju, memandang
kepada perwira yang tinggi besar yang berhidung besar, lalu berkata, suaranya
merdu dan halus, matanya bersinar-sinar sehingga wajahnya menjadi makin jelita,
"Andika ini seorang perwira gagah perkasa dari Jenggala dan sudah lama aku
mendengar bahwa perwira-perwira Jenggala adalah satria-satria perkasa. Apakah
Andika ini juga menjadl anak buah Ki Patih Warutama yang kabarnya sakti
mandraguna itu?" Si hidung besar mengangkat dadanya sampai membusung,
hidungnya berkembang-kempis mendenguskan hawa kebanggaan dan kesombongan.
"Heh-heh, tidak salah
dugaanmu, puteri yang jelita seperti bidadari kahyangan! Aku Sarudigdo, perwira
digdaya, sakti mandraguna dan menjadi tangan kanan gusti patih di Jenggala!
Dengan kepalan tangan kiri aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau
kumbang, dengan tangan kanan aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau
gembong, dengan kedua kakiku aku sanggup menjegal roboh seekor gajah. Dengan
golokku si dukun peminum darah aku sanggup.....“
"Menyembelih
ayam." Pusporini melanjutkan.
"Cukuplah, yang penting
sekarang engkau tadi mengatakan hendak menggeledah aku. Benarkah engkau ini
seorang ahli menggeledah wanita?"
"Ha-ha-ha, Kakang
Maruto hanya berkelakar! Akan tetapi yang jelas, setiap orang wanita yang kena
kugerayang tubuhnya tentu akan bertekuk lutut, akan gandrung-gandrung kepadaku,
karena aku memiliki Aji Asmaragama dan setiap orang dara, termasuk engkau,
Manis, kalau sudah ku ...“
"Cukup sudah! Dengan
cara bagaimana engkau hendak menggeledahku?" Pusporini menahan
kemarahannya.
"Heh-heh, tak perlu
kukatakan, engkau nanti akan menikmatinya sendiri. Marilah, denok, kita
bersembunyi di balik semak-semak yang tebal sana ....heh-heh .....“
"Seorang gagah tidak
perlu sembunyi-sembunyi. Di sini pun mengapa?"
Perwira itu membelalakkan
matanya sehingga hidungnya yang besar kelihatan makin mbengol.
"Di sini? Dilihat semua
orang?"
"Mengapa tidak?
Bagaimana sih caranya?" Pusporini tetap menggoda.
"Wah, sayang dong kalau
banyak yang lihat. Pertama-tama kau harus membuka kembenmu (ikat pinggang),
kemudian ...bajumu dan kutangmu dan....... “
"Begini?"
Pusporini mengudar (melepaskan) ujung kembennya sepanjang satu meter. Kembennya
yang dari sutera merah berkembang itu dibuka sedikit dan semua mata, terutama
mata si hidung besar sudah membelalak penuh gairah. Akan tetapi tiba-tiba
Pusporini dengan gerakan yang cepat sekali mengebutkan ujung kemben itu ke arah
muka si hidung besar.
"Tarr ...
plakkkk!"
"Waduhhhh ..Aduh
biyung....!!” Sarudigdo si hidung besar itu mendekap hidungnya dengan tangan
sambil mengaduh-aduh. Hidungnya yang besar terkena sambaran ujung kemben menjadi
remuk dan berubah menjadi segumpal daging yang berdarah. Pusporini sambil
tersenyum menyelipkan lagi ujung kembennya di pinggang.
"Iblisss ....jahanam
........... kurang ajang ....!" Sarudigdo memaki-maki dengan suara
bindeng, kemudian ia menubruk dengan kedua lengan dipentang, seperti seekor
harimau buas menubruk seekor domba. Namun Pusporini bukanlah domba betina yang
lemah. Tubrukan itu mudah saja dielakkan dengan miringkan tubuhnya ke kiri, dan
pada saat itu kakinya melayang naik sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti
oleh pandangan mata.
"Siuuuuttt
.....ngekkkk!!" Ujung kakinya sudah bersarang ke dalam perut Sarudigdo.
Tubuh perwira ini memang kebal dan di antara kawan-kawannya ia terkenal sebagai
seorang yang otot kawat balung wesi (urat kawat tulang besi), kulitnya juga
tebal sekali. Akan tetapi karena tendangan itu amat kuatnya, biarpun kulitnya
tidak apa-apa, akan tetapi isi perutnya terasa melilit-lilit seperti digiling
atau ditusuk-tusuk seribu batang jarum karatan. Ia meringis-ringis mendekap
perut dengan kedua tangan, terengah-engah dengan lidah terjulur keluar seperti
seekor anjing kehausan, matanya mendelik dan sejenak ia lupa akan hidung
besarnya yang remuk karena perutnya terasa lebih nyeri daripada hidungnya. Kini
ia tidak dapat memaki-maki dengan suara bindeng seperti tadi, melainkan hanya
dapat mengeluarkan suara "nguuukkk ...nguuukkk ..." seperti lutung
ketakutan.
Maruto dan para anak buah
pasukan yang disebut dengan nama garang "Pasopati" itu terbelalak.
Hampir mereka tak dapat percaya bahwa seorang gadis cantik jelita seperti itu
dapat merobohkan Sarudigdo dalam dua gebrakan saja. Padahal kedua orang itu,
Sarudigdo dan Maruto, adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan Ki Patih
Warutama sendiri, dan keduanya adalah bekas pentolan dari gerombolan Gagak
Serayu!
"Perempuan iblis!"
Maruto yang tadinya terbelalak itu membentak marah, golok besarnya terhunus dan
cepat seperti angin menyambar ia telah menerjang maju, membacokkan goloknya ke
leher Pusporini.
“... jangan... jangan.....
bunuh, tangkap dan untuk ..... untukku..... " Sarudigdo masih dapat
mengeluarkan kata-kata setelah mulas perutnya agak mereda. Melihat kesaktian
Puspirini, nafsunya makin menggelora dan dia ingin memiliki wanita itu sebelum
menyiksanya sekeji mungkin! Akan tetapi Maruto tidaklah semata keranjang
temannya dan dia sudah marah sekali, maka bacokannya itu dilakukan sepenuh
tenaga dan tujuannya hanya satu, yaitu membunuh wanita ini. Joko Pramono hanya
tersenyum memandang, siap menyerang apabila anggota-anggota pasukan itu maju
mengeroyok. Akan tetapi para prajurit itu tidak berani maju tanpa komando.
Biasanya, kedua orang pemimpin mereka itu tidak pernah terkalahkan, maka sekali
ini pun mereka percaya bahwa Maruto tentu akan dapat membunuh gadis itu.
Pusporini tenang-tenang saja. Melihat golok berkelebat menyambar, ia hanya
miringkan tubuhnya sehingga golok menyambar dekat pundak, kemudian ia
merendahkan diri secara otomatis dan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya
menyodok ke depan, menggunakan Ajinya Pethit Nogo! Terdengar bunyi bercuit
saking hebatnya tusukan jari dengan Aji Pethit Nogo yang kini telah mencapai
kesempurnaannya berkat gemblengan Sang Resi Mahesapati. Di dalam latihannya,
dengan Aji Pethit Nogo ini, dari jarak satu meter Pusporini sanggup menggunakan
angin pukulannya membuat air sungai terpecah dan muncrat-muncrat, dan sentuhan
jari tangannya dapat membuat batu-batu gunung remuk menjadi bubuk! Batang pohon
jati tua yang sudah keras seperti besi menjadi bolong-bolong kalau tercium
jari-jarinya yang halus kecil dengan bentuk mucukbung itu. Pusporini menyerang
dengan Aji Pethit Nogo dari jarak satu meter sehingga jari-jari tangannya tidak
menyentuh tubuh lawan. Memang ia tidak sudi menyentuhkan jari-jari tangannya
pada tubuh laki-laki macam Maruto dan tadi pun ia menghajar hidung Sarudigdo
yang baginya menjijikkan itu dengan tungkak kakinya! Akan tetapi, pukulan yang
mengandung hawa sakti itu telah mengenai dada Maruto dan terdengarlah Maruto
memekik keras, goloknya terlepas, tangan kirinya mendekap dada dan ia
terjengkang roboh, berkelojotan dengan mata, hidung, mulut dan telinganya
mengucurkan darah dan tewas seketika! Gegerlah para anak buah pasukan itu!
Melihat kematian kawannya, Sarudigdo terkejut sampai lupa akan rasa nyeri di
hidung dan perutnya.
"Serbu.....!
Bunguh.....! Habiskang mereka.. !!" teriaknya bindeng dan ia sendiri sudah
menerjang dengan goloknya. Karena sedikit banyak ia merasa gentar dan ngeri
terhadap Pusporini, sekarang dia membacokkan goloknya kepada Joko Pramono yang
masih berdiri tenang-tenang saja sambil tersenyum. Melihat datangnya golok ini,
Joko Pramono sama sekali tidak mengelak dan setelah golok menyambar dekat, ia
mengangkat tangannya memapaki golok dengan telapak tangan kosong! Sarudigdo
girang sekali, mengira bahwa tangan pemuda itu pasti akan terbabat goloknya si
dukun sampai putus. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika golok itu dapat
dicengkeram tangan Joko Pramono yang dengan enaknya meremas golok itu menjadi
patah-patah dan hancur berkeping-keping seperti orang meremas kerupuk saja!
Muka Sarudigdo yang sudah
buruk sekali akibat hidungnya remuk itu, terbelalak dengan mata lebar dan pada
saat itu, Joko Pramono menyambitkan remukan golok di tangannya yang seperti
hujan menyambar ke arah muka yang buruk itu, amblas dan menancap masuk ke dalam
dahi, mata, pipi dan mulut. Sarudigdo mengeluarkan suara seperti seekor kerbau
disembelih, tubuhnya roboh dan kedua tangannya mencakar-cakar mukanya sendiri
yang sudah penuh darah, kemudian berkelojotan dan mati dekat mayat Maruto.
"Rini, sudah kepalang
tanggung, habiskan saja bedebah-bedebah ini!" kata Joko Pramono dan dua
orang muda itu kini kembali berlomba. Mereka berdiri saling membelakangi dan
bersicepat merobohkan semua pengeroyok yang bersenjata golok dan tombak. Sepak
terjang mereka seperti sepasang burung garuda menyambar-nyambar dan dari kedua
telapak tangan mereka tersebar maut karena setiap kali telapak tangan bergerak
menampar atau kaki berkelebat menendang, tentu ada pengeroyok yang roboh dan
tewas! Pasukan itu tadi disombongkan oleh dua orang pemimpinnya sebagai pasukan
yang pantang mundur dan tidak mengenal takut, akan tetapi kini melihat betapa
kawan-kawan mereka seperti mentimun melawan durian, ada dua orang di antara
mereka yang terbirit-birit dan terkencing-kencing melarikan diri.
"Hemm, kalian hendak
lari ke mana?" Pusporini berkata mengejek dan cepat memungut dua batang
tombak yang berserakan di tanah, lalu bergerak hendak melontarkan dua. batang
tombak itu ke arah dua orang yang hendak melarikan diri. Akan tetapi lengannya
dipegang olehJoko Pramono dengan halus dan pemuda ini berkata,
"Jangan, Rini! Mereka
tentu lari ke induk pasukan dan lebih baik kita mengikuti mereka. Kita sudah
kelepasan tangan melibatkan diri dalam pertempuran dan sudah banyak membunuh
anak buah para pengacau, tidak baik bekerja setengah-setengah kepalang
tanggung. Mari kita selidiki keadaan induk pasukan mereka!"
Pusporini menoleh dan
sejenak mereka berpandangan. Baru sekali ini selama mereka berkumpul, mereka
melakukan pertempuran bersama-sama dan hasil pertandingan ini membuat mereka
lebih dekat satu sama lain. Perlahan-lahan sinar kemerahan yang membayangi
wajah cantik itu dan memancar keluar dari sinar matanya, melunak dan akhirnya
gadis itu tersenyum, senyum manis yang timbul dari lubuk hatinya, bukan seperti
senyumnya kepada perwira Jenggala tadi yang merupakan senyum buatan untuk
menyembunyikan kemarahan yang meluap-luap.
No comments:
Post a Comment