Perawan Lembah Wilis; Bagian 128



"Huah-ha-ha-ha, memeriksa bagaimana? Jangan khawatir, kisanak. Aku tidak akan menyusahkan adikmu, bahkan sebaliknya, dia akan senang sekali setelah kuperiksa nanti. Aku harus menggeledahnya, siapa tahu dia membawa surat-surat rahasia, membawa benda-benda rahasia yang disembunyikan di balik pakaiannya. Mari, manis, mari ikut bersamaku ke balik semak-semak tebal agar jangan ada mata lain melihatmu sehingga engkau akan menjadi malu, denok !" Si hidung besar mengulurkan tangan hendak memegang lengan Pusporini, akan tetapi gadis itu melangkah mundur sambil tersenyum manis sehingga si hidung besar yang melihat senyum yang
mencipta lesung pipit di pipi yang manis sekali terpesona.
"Nanti dulu, kisanak!" Joko Pramono melangkah maju di depan Pusporini, memandang mereka berdua, tidak memperdulikan anak buah pasukan yang tertawa-tawa melihat lagak seorang di antara pemimpinnya tadi.
"Sebelum Andika berdua mengambil tindakan, ingin kami bertanya, siapakah Andika berdua dan pasukan ini pasukan apa? Mengapa Andika hendak memeriksa kami dan dengan hak apakah?"
Si jenggot panjang tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, melihat wajah dan dandananmu, engkau seperti bukan bocah gunung, akan tetapi pertanyaanmu ini menyatakan bahwa engkau benar seorang dusun yang tidak tahu apa-apa. Dengarlah baik-baik, aku Maruto dan Adi Sarudigdo ini adalah dua orang perwira Jenggala yang sudah kondang kaonang-onang (terkenal), pemimpin pasukan Pasopati yang tidak mengenal takut atau mundur atau kalah. Pasukan kami merupakan pasukan yang paling jagoan di Jenggala, menjadi kembang di antara pasukan pengawal di luar istana. Kini banyak berkeliaran mata-mata yang dikirim oleh Panjalu dan entah sudah berapa banyak mata-mata yang kami bunuh. Karena itu, kami berhak untuk memeriksa setiap orang yang kami curigai dan sudah menjadi hak Adi Sarudigdo yang memang mempunyai kepandaian khusus untuk menggeledah wanita untuk memeriksa adikmu ini. Nah, sudah jelaskah? Kalau kalian melawan, berarti kalian akan mati tanpa diperiksa lagi!" Joko Pramono sudah menjadi marah sekali. Jelas olehnya sekarang betapa rendah watak pasukan ini dan dari sikap mereka ini saja ia sudah dapat menilai bahwa mereka ini tentulah bukan prajurit-prajurit sejati dari Jenggala yang dahulu terkenal sebagai prajurit-prajurit dan satria-satria utama. Kini pasukan ini tiada bedanya dengan segerombolan penjahat yang kasar dan liar dan sudah dapat diduga bahwa mereka ini tentulah menjadi anak buah daripada mereka yang kini menguasai Jenggala.

Kesabarannya lenyap dan hal ini tampak dari sinar matanya yang berkilat. Melihat keadaan pemuda in!, Pusporini lalu berkata lirih,
"Biarkan aku menghadapi mereka." Joko Pramono melangkah mundur karena ia tahu bahwa gadis yang dikasihinya itu tentu sudah marah luar biasa melihat sikap dan mendengar ucapan dua orang pemimpin pasukan Pasopati ini dan hendak turun tangan sendiri. Ia mengalah dan mundur. Pusporini tersenyum-senyum dan melangkah maju, memandang kepada perwira yang tinggi besar yang berhidung besar, lalu berkata, suaranya merdu dan halus, matanya bersinar-sinar sehingga wajahnya menjadi makin jelita, "Andika ini seorang perwira gagah perkasa dari Jenggala dan sudah lama aku mendengar bahwa perwira-perwira Jenggala adalah satria-satria perkasa. Apakah Andika ini juga menjadl anak buah Ki Patih Warutama yang kabarnya sakti mandraguna itu?" Si hidung besar mengangkat dadanya sampai membusung, hidungnya berkembang-kempis mendenguskan hawa kebanggaan dan kesombongan.
"Heh-heh, tidak salah dugaanmu, puteri yang jelita seperti bidadari kahyangan! Aku Sarudigdo, perwira digdaya, sakti mandraguna dan menjadi tangan kanan gusti patih di Jenggala! Dengan kepalan tangan kiri aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau kumbang, dengan tangan kanan aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau gembong, dengan kedua kakiku aku sanggup menjegal roboh seekor gajah. Dengan golokku si dukun peminum darah aku sanggup.....“
"Menyembelih ayam." Pusporini melanjutkan.
"Cukuplah, yang penting sekarang engkau tadi mengatakan hendak menggeledah aku. Benarkah engkau ini seorang ahli menggeledah wanita?"
"Ha-ha-ha, Kakang Maruto hanya berkelakar! Akan tetapi yang jelas, setiap orang wanita yang kena kugerayang tubuhnya tentu akan bertekuk lutut, akan gandrung-gandrung kepadaku, karena aku memiliki Aji Asmaragama dan setiap orang dara, termasuk engkau, Manis, kalau sudah ku ...“
"Cukup sudah! Dengan cara bagaimana engkau hendak menggeledahku?" Pusporini menahan kemarahannya.
"Heh-heh, tak perlu kukatakan, engkau nanti akan menikmatinya sendiri. Marilah, denok, kita bersembunyi di balik semak-semak yang tebal sana ....heh-heh .....“
"Seorang gagah tidak perlu sembunyi-sembunyi. Di sini pun mengapa?"
Perwira itu membelalakkan matanya sehingga hidungnya yang besar kelihatan makin mbengol.
"Di sini? Dilihat semua orang?"
"Mengapa tidak? Bagaimana sih caranya?" Pusporini tetap menggoda.
"Wah, sayang dong kalau banyak yang lihat. Pertama-tama kau harus membuka kembenmu (ikat pinggang), kemudian ...bajumu dan kutangmu dan....... “
"Begini?" Pusporini mengudar (melepaskan) ujung kembennya sepanjang satu meter. Kembennya yang dari sutera merah berkembang itu dibuka sedikit dan semua mata, terutama mata si hidung besar sudah membelalak penuh gairah. Akan tetapi tiba-tiba Pusporini dengan gerakan yang cepat sekali mengebutkan ujung kemben itu ke arah muka si hidung besar.
"Tarr ... plakkkk!"
"Waduhhhh ..Aduh biyung....!!” Sarudigdo si hidung besar itu mendekap hidungnya dengan tangan sambil mengaduh-aduh. Hidungnya yang besar terkena sambaran ujung kemben menjadi remuk dan berubah menjadi segumpal daging yang berdarah. Pusporini sambil tersenyum menyelipkan lagi ujung kembennya di pinggang.
"Iblisss ....jahanam ........... kurang ajang ....!" Sarudigdo memaki-maki dengan suara bindeng, kemudian ia menubruk dengan kedua lengan dipentang, seperti seekor harimau buas menubruk seekor domba. Namun Pusporini bukanlah domba betina yang lemah. Tubrukan itu mudah saja dielakkan dengan miringkan tubuhnya ke kiri, dan pada saat itu kakinya melayang naik sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata.
"Siuuuuttt .....ngekkkk!!" Ujung kakinya sudah bersarang ke dalam perut Sarudigdo. Tubuh perwira ini memang kebal dan di antara kawan-kawannya ia terkenal sebagai seorang yang otot kawat balung wesi (urat kawat tulang besi), kulitnya juga tebal sekali. Akan tetapi karena tendangan itu amat kuatnya, biarpun kulitnya tidak apa-apa, akan tetapi isi perutnya terasa melilit-lilit seperti digiling atau ditusuk-tusuk seribu batang jarum karatan. Ia meringis-ringis mendekap perut dengan kedua tangan, terengah-engah dengan lidah terjulur keluar seperti seekor anjing kehausan, matanya mendelik dan sejenak ia lupa akan hidung besarnya yang remuk karena perutnya terasa lebih nyeri daripada hidungnya. Kini ia tidak dapat memaki-maki dengan suara bindeng seperti tadi, melainkan hanya dapat mengeluarkan suara "nguuukkk ...nguuukkk ..." seperti lutung ketakutan.

Maruto dan para anak buah pasukan yang disebut dengan nama garang "Pasopati" itu terbelalak. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa seorang gadis cantik jelita seperti itu dapat merobohkan Sarudigdo dalam dua gebrakan saja. Padahal kedua orang itu, Sarudigdo dan Maruto, adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama sendiri, dan keduanya adalah bekas pentolan dari gerombolan Gagak Serayu!
"Perempuan iblis!" Maruto yang tadinya terbelalak itu membentak marah, golok besarnya terhunus dan cepat seperti angin menyambar ia telah menerjang maju, membacokkan goloknya ke leher Pusporini.
“... jangan... jangan..... bunuh, tangkap dan untuk ..... untukku..... " Sarudigdo masih dapat mengeluarkan kata-kata setelah mulas perutnya agak mereda. Melihat kesaktian Puspirini, nafsunya makin menggelora dan dia ingin memiliki wanita itu sebelum menyiksanya sekeji mungkin! Akan tetapi Maruto tidaklah semata keranjang temannya dan dia sudah marah sekali, maka bacokannya itu dilakukan sepenuh tenaga dan tujuannya hanya satu, yaitu membunuh wanita ini. Joko Pramono hanya tersenyum memandang, siap menyerang apabila anggota-anggota pasukan itu maju mengeroyok. Akan tetapi para prajurit itu tidak berani maju tanpa komando. Biasanya, kedua orang pemimpin mereka itu tidak pernah terkalahkan, maka sekali ini pun mereka percaya bahwa Maruto tentu akan dapat membunuh gadis itu. Pusporini tenang-tenang saja. Melihat golok berkelebat menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya sehingga golok menyambar dekat pundak, kemudian ia merendahkan diri secara otomatis dan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya menyodok ke depan, menggunakan Ajinya Pethit Nogo! Terdengar bunyi bercuit saking hebatnya tusukan jari dengan Aji Pethit Nogo yang kini telah mencapai kesempurnaannya berkat gemblengan Sang Resi Mahesapati. Di dalam latihannya, dengan Aji Pethit Nogo ini, dari jarak satu meter Pusporini sanggup menggunakan angin pukulannya membuat air sungai terpecah dan muncrat-muncrat, dan sentuhan jari tangannya dapat membuat batu-batu gunung remuk menjadi bubuk! Batang pohon jati tua yang sudah keras seperti besi menjadi bolong-bolong kalau tercium jari-jarinya yang halus kecil dengan bentuk mucukbung itu. Pusporini menyerang dengan Aji Pethit Nogo dari jarak satu meter sehingga jari-jari tangannya tidak menyentuh tubuh lawan. Memang ia tidak sudi menyentuhkan jari-jari tangannya pada tubuh laki-laki macam Maruto dan tadi pun ia menghajar hidung Sarudigdo yang baginya menjijikkan itu dengan tungkak kakinya! Akan tetapi, pukulan yang mengandung hawa sakti itu telah mengenai dada Maruto dan terdengarlah Maruto memekik keras, goloknya terlepas, tangan kirinya mendekap dada dan ia terjengkang roboh, berkelojotan dengan mata, hidung, mulut dan telinganya mengucurkan darah dan tewas seketika! Gegerlah para anak buah pasukan itu! Melihat kematian kawannya, Sarudigdo terkejut sampai lupa akan rasa nyeri di hidung dan perutnya.
"Serbu.....! Bunguh.....! Habiskang mereka.. !!" teriaknya bindeng dan ia sendiri sudah menerjang dengan goloknya. Karena sedikit banyak ia merasa gentar dan ngeri terhadap Pusporini, sekarang dia membacokkan goloknya kepada Joko Pramono yang masih berdiri tenang-tenang saja sambil tersenyum. Melihat datangnya golok ini, Joko Pramono sama sekali tidak mengelak dan setelah golok menyambar dekat, ia mengangkat tangannya memapaki golok dengan telapak tangan kosong! Sarudigdo girang sekali, mengira bahwa tangan pemuda itu pasti akan terbabat goloknya si dukun sampai putus. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika golok itu dapat dicengkeram tangan Joko Pramono yang dengan enaknya meremas golok itu menjadi patah-patah dan hancur berkeping-keping seperti orang meremas kerupuk saja!

Muka Sarudigdo yang sudah buruk sekali akibat hidungnya remuk itu, terbelalak dengan mata lebar dan pada saat itu, Joko Pramono menyambitkan remukan golok di tangannya yang seperti hujan menyambar ke arah muka yang buruk itu, amblas dan menancap masuk ke dalam dahi, mata, pipi dan mulut. Sarudigdo mengeluarkan suara seperti seekor kerbau disembelih, tubuhnya roboh dan kedua tangannya mencakar-cakar mukanya sendiri yang sudah penuh darah, kemudian berkelojotan dan mati dekat mayat Maruto.
"Rini, sudah kepalang tanggung, habiskan saja bedebah-bedebah ini!" kata Joko Pramono dan dua orang muda itu kini kembali berlomba. Mereka berdiri saling membelakangi dan bersicepat merobohkan semua pengeroyok yang bersenjata golok dan tombak. Sepak terjang mereka seperti sepasang burung garuda menyambar-nyambar dan dari kedua telapak tangan mereka tersebar maut karena setiap kali telapak tangan bergerak menampar atau kaki berkelebat menendang, tentu ada pengeroyok yang roboh dan tewas! Pasukan itu tadi disombongkan oleh dua orang pemimpinnya sebagai pasukan yang pantang mundur dan tidak mengenal takut, akan tetapi kini melihat betapa kawan-kawan mereka seperti mentimun melawan durian, ada dua orang di antara mereka yang terbirit-birit dan terkencing-kencing melarikan diri.
"Hemm, kalian hendak lari ke mana?" Pusporini berkata mengejek dan cepat memungut dua batang tombak yang berserakan di tanah, lalu bergerak hendak melontarkan dua. batang tombak itu ke arah dua orang yang hendak melarikan diri. Akan tetapi lengannya dipegang olehJoko Pramono dengan halus dan pemuda ini berkata,
"Jangan, Rini! Mereka tentu lari ke induk pasukan dan lebih baik kita mengikuti mereka. Kita sudah kelepasan tangan melibatkan diri dalam pertempuran dan sudah banyak membunuh anak buah para pengacau, tidak baik bekerja setengah-setengah kepalang tanggung. Mari kita selidiki keadaan induk pasukan mereka!"
Pusporini menoleh dan sejenak mereka berpandangan. Baru sekali ini selama mereka berkumpul, mereka melakukan pertempuran bersama-sama dan hasil pertandingan ini membuat mereka lebih dekat satu sama lain. Perlahan-lahan sinar kemerahan yang membayangi wajah cantik itu dan memancar keluar dari sinar matanya, melunak dan akhirnya gadis itu tersenyum, senyum manis yang timbul dari lubuk hatinya, bukan seperti senyumnya kepada perwira Jenggala tadi yang merupakan senyum buatan untuk menyembunyikan kemarahan yang meluap-luap.

<<< Bagian 127                                                                                      Bagian 129 >>>

No comments:

Post a Comment