Perawan Lembah Wilis; Bagian 127


Akan, tetapi yang tinggi sekali tingkat ilmu kepandaiannya adalah Pusporini dan Joko Pramono. Berkat sifat kedua orang muda ini yang selalu bersaing sampai tiga tahun lamanya, mereka memperoleh kemajuan pesat. Baru setelah terjadi peristiwa penaklukan ular Puspo Wilis dan mereka itu hampir saja menjadi korban pengaruh hawa beracun ular itu, keduanya saling menginsyafi dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya mereka itu saling mencinta. Bahwa semua persaingan mereka itu sama sekali bukan berdasarkan iri dan benci, melainkan berdasarkan cinta kasih sehingga mereka selalu ingin menonjolkan diri di mata masing-masing orang yang dicintanya dengan dasar niat ingin dikagumi dan ingin dihargai atau lebih tepat lagi ingin dicinta! Semenjak peristiwa itu, mereka tidak lagi bersaing, bahkan sering mereka itu memperlihatkan sikap mengalah, terutama sekali Joko Pramono, dan biarpun mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, namun pandang mata mereka sudah terang-terangan menyatakan isi hati yang penuh cinta. Namun, tiadanya persaingan bukan berarti bahwa ketekunan mereka mengendur. Sama sekali tidak. Setelah mendengar penuturan Wiraman akan keadaan di Jenggala, kemudian mendengar wejangan Resi Mahesapati, mereka belajar makin rajin dan kini mereka mempunyai cita-cita dalam belajar, yaitu untuk kelak dipergunakan menolong Jenggala, membersihkan kerajaan itu dari manusia-manusia iblis yang berusaha mencengkeramnya.

Pagi hari itu Resi Mahesapati memanggil keempat orang muridnya itu menghadap. Dengan suara halus ia berkata,
"Tugasku telah selesai memberi bimbingan kepada kalian mengejar ilmu. Joko Pramono dan Pusporini, telah genap lima tahun kalian mempelajari ilmu dan sudah tiba saatnya kalian turun gunung memanfaatkan segala yang kalian telah pelajari. Seperti telah berkali-kali kutekankan adalah menjadi tugas kalian untuk berdarma bakti kepada kebajikan, kebenaran dan keadilan. Dan karena pada saat ini mendung telah meliputi Jenggala dan sebagian dari Panjalu, maka kalian harus turun gunung dan membantu
usaha membersihkan mendung yang mengancam keselamatan rakyat kerajaan-kerajaan keturunan Mataram. Ingat bahwa mereka yang mengancam keselamatan itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan ada di antara mereka yang lebih sakti daripada tokoh-tokoh kedua kerajaan, bahkan aku sendiri tidak akan mampu melawannya. Akan tetapi, untuk menghadapi
mereka yang sakti mandraguna ini akan muncul seorang pendekar muda dan kepadanyalah kalian akan membantu. Apa yang akan kalian lakukan di hari depan, terserah kepada kebijaksanaan kalian, aku orang tua hanya dapat membekali doa restu. Juga engkau Ki Wiraman, dan Widawati tidak terlepas pula daripada kewajiban untuk membantu usaha menentang pengaruh buruk itu. Pergilah kalian berempat dan aku dapat memandang kepergian kalian berempat dengan hati lapang karena kurasa, usahaku selama ini tidak akan sia-sia."
"Akan tetapi, Eyang resi. Kemanakah hamba berdua harus menuju?" tanya Pusporini yang sebetulnya ingin sekali kembali ke Selopenangkep mencari keluarganya.
"Rundingkanlah nanti bersama Joko Pramono, dan terutama sekali, dengarkan nasehat Ki Wiraman. Dia ini lebih berpengalaman dalam hal perjuangan dibandingkan dengan kalian berdua. Nah, berangkatlah tanpa ragu-ragu, karena setiap cita-cita harus dimulai dengan tekad bulat. Sedikit saja keraguan akan menghambat tercapainya cita-cita." Setelah berkata demikian, Resi Mahesapati yang duduk bersila itu meramkan mata, tanda bahwa dia mulai bersamadhi dan tidak mau diganggu lagi. Empat orang itu lalu menyembah dan berpamit dengan hati terharu, teringat akan kebaikan budi kakek ini selama mereka berada di situ. Kemudian berangkatlah mereka meninggalkan tempat di mana mereka digembleng itu. Adapun batu mustika ular Puspo Wilis sejak lama telah diberikan kepada Pusporini dan kini menjadi penghias leher Pusporini sebagai sebuah mata kalung yang indah sekali, mengeluarkan sinar kehijauan. Karena masih terpengaruh oleh rasa duka harus berpisah meninggalkan guru yang mereka cinta itu seorang diri di puncak gunung, empat orang itu menuruni gunung tanpa bicara dan baru setelah mereka tiba di kaki gunung dan untuk penghabisan kali menengadah ke puncak seolah-olah merupakan pandang penuh harapan dan permintaan doa restu, baru mereka berunding.
"Menurut pendapat saya, lebih baik kalau Andika berdua dari sini langsung memasuki Jenggala untuk melakukan penyelidikan tentang keadaan kerajaan itu sekarang. Andika berdua tidak dikenal, tentu saja akan lebih mudah melakukan perjalanan ke daerah yang kacau itu. Sedangkan saya sendiri bersama diajeng Widawati akan langsung menuju ke Panjalu, melaporkan segala keadaan dua tahun yang lalu kepada sang prabu di Panjalu." Demikian Wiraman menyatakan pendapatnya. Joko Pramono dan Pusporini tak dapat membantah kebenaran pendapat ini dan mereka mengangguk.
"Benar sekali pendapat Paman. Kami akan menyelidiki keadaan Kota Raja Jenggala, kemudian kami akan pergi menyusul Paman ke Panjalu," kata Joko Pramono.
"Kalau Paman tiba di Panjalu, harap Paman kunjungi kediaman Kakangmas Tejolaksono dan ceritakan keadaanku kepada keluargaku. Akan tetapi, betulkah Kakangmas Tejolaksono kini telah menjadi patih muda di Panjalu seperti yang Paman ceritakan dahulu?"
Wiraman mengangguk.
"Saya pun hanya mendengar beritanya saja bahwa setelah berhasil mengamankan kekacauan kekacauan yang timbul di wilayah barat Adipati Tejolaksono diangkat menjadi patih muda. Tentu akan saya selidiki tentang keluarga Andika, dan saya akan menghadap Gusti Patih Tejolaksono."

Dari kaki gunung itu, rombongan mereka dipecah menjadi dua, Wiraman dan Widawati menuju ke Panjalu, sedangkan Joko Pramono dan Pusporini melanjutkan perjalanan mereka ke Jenggala untuk melakukan tugas menyelidiki sebelum mereka menyusul pula ke Panjalu. Kedua orang muda murid Sang Resi Mahesapati itu melanjutkan perjalanan dengan gembira. Setelah lima tahun 1amanya mereka mengejar ilmu di puncak gunung, kini mereka menghadapi dunia ramai dengan hati penuh ketegangan, apalagi kalau mereka mengingat akan cerita Ki Wiraman tentang keadaan Jenggala yang kacau-balau dan akan kekuasaan-kekuasaan jahat yang mencengkeram kerajaan itu. Namun ketegangan ini hanya timbul karena mereka ingat akan tugas mereka sebagai orang-orang berkepandaian yang melaksanakan tugas menentang kejahatan, bukan sekali-kali karena rasa takut. Hati mereka besar dan mereka mempunyai penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Selama lima tahun digembleng oleh Sang Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedua orang muda ini memperoleh kemajuan yang hebat. Mereka bukan lagi orang-orang muda remaja lima tahun yang lalu. Biarpun lima tahun yang lalu mereka telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, namun semua aji kesaktian mereka masih mentah, sama sekali berbeda dengan keadaan mereka sekarang yang telah menyempurnakan semua aji itu di bawah bimbingan Sang Resi Mahesapati. Pusporini telah berusia dua puluh satu tahun, sedangka Joko Pramono telah berusia dua puluh dua tahun, dan mereka berdua telah memiliki kedigdayaan yang matang.
"Mudah-mudahan saja tugas kita akan berjalan lancar sehingga kita dapat segera pergi ke Panjalu untuk mencari rakandamu Gusti Patih Tejolaksono," terdengar Joko Pramono berkata ketika mereka berdua berjalan seenaknya memasuki hutan belantara yang sudah dekat dengan Kota Raja Jenggala. Mereka telah melakukan perjalanan selama tujuh hari dan tidak pernah mereka menemui halangan. Di sepanjang perjalanan mereka melalui dusun-dusun dan mendengar akan keadaan di Jenggala yang mengecilkan hati. Para penduduk dusun menceritakan betapa kini kekacauan dari kota raja itu menular menjalar ke dusun-dusun, di mana para ponggawa yang diangkat oleh petugas kerajaan, diganti secara paksa oleh ponggawa-ponggawa baru yang memerintahkan agar rakyat memuja-muja Sang Bathari Shiwa. Berita ini hanya dicatat dalam hati oleh kedua orang muda itu untuk kelak mereka laporkan ke Panjalu. Akan tetapi karena mereka bertugas menyelidik, mereka tidak mau melibatkan diri dengan para ponggawa baru itu dan selalu menjauhkan diri dari pertentangan yang tidak ada artinya dan hanya akan mengganggu tugas penyelidikan mereka. Tujuan utama mereka adalah kota raja untuk menyelidiki keadaan di sana karena mereka tahu bahwa yang menjadi pusat biang keladi semua kekacauan adalah kota raja.
"Kenapa sih engkau ingin tergesa-gesa pergi ke Panjalu dan menemui Rakanda Patih Tejolaksono?" tanya Pusporini, di dalam hatinya mentertawakan pemuda itu karena tentu saja ia sudah dapat menduga sebabnya.
"Kenapa? Tentu saja untuk meminang adiknya yang cantik manis, galak, sakti mandraguna dan ... merupakan wanita paling mulia di dunia ini bagiku, puteri yang bernama Dyah Pusporini ...!”
Pusporini meruncingkan bibirnya, mengejek.
"Aku tidak mau bicara tentang perjodohan sebelum tugas kita selesai, sebelum semua anasir jahat dibasmi habis dari Jenggala dan Panjalu!"
"Wah, bagaimana kalau sampai belasan tahun belum selesai?" Joko Pramono mencela dan memandang gadis di samping kirinya dengan mata terbelalak lebar. Pusporini mengerling ke kanan dan tersenyum.
"Kalau sampai belasan tahun mengapa? Siapa sih yang tergesa-gesa?"
"Wah, aku akan menjadi jejaka tua dan engkau akan menjadi perawan tua!” kata Joko Pramono setengah berkelakar akan tetapi juga setengah bersungguh. sungguh.
"Kalau bertemu dengan rakandamu itu, aku akan nekat meminangmu hendak kulihat kalau keluargamu menetapkannya dan mendesakmu, engkau akan dapat berkata apa lagi!"
"Engkau memang orang nekat, lebih baik namamu dirubah menjadi Joko Nekat saja!" Pusporini menggoda sambil tertawa.

Sesungguhnya di dalam hatinya ia pun tidak sabar lagi menanti pinangan pemuda yang dicintanya ini. Usianya sudah dua puluh satu tahun dan pada jaman itu, seorang wanita berusia dua puluh satu tahun biasanya tentu telah menjadi seorang ibu dari dua tiga orang anak!
"Sstttt ....di depan ada orang ...” Joko Pramono berbisik dan gadis itu sudah dalam keadaan siap, hilang sikapnya berkelakar. Kedua orang muda itu berjalan terus dengan langkah tenang, namun pandang mata mereka waspada dan penuh perhatian karena mereka maklum bahwa di dalam gerombolan alang-alang dan pohon di sebelah depan terdapat banyak orang bersembunyi. Ketika mereka tiba di tempat terbuka yang agak luas, dikelilingi pohon-pohon dan alang-alang, tiba-tiba terdengar bentakan keras,
"Kisanak yang lewat, berhenti dulu!!"
Dari balik semak-semak di sekeliling tempat itu berloncatan keluar banyak orang laki-laki yang memakai kain dan celana seragam, bertubuh tinggi besar dan melihat betapa mereka itu lalu serempak membuat gerakan mengurung secara teratur, mudah diduga bahwa mereka itu bukanlah perampok, melainkan sebuah pasukan yang terlatih, akan tetapi sikap mereka tiada bedanya dengan perampok-perampok. Pandang mata mereka kini menjalari wajah dan tubuh Pusporini dan gadis ini menghitung sembilan belas mulut yang menyeringai penuh nafsu kurang ajar terhadap dirinya. Hanya sebuah pasukan kecil yang terdiri dari tujuh belas orang yang dikepalai dua orang laki-laki tinggi besar yang dapat dibedakan dari para anak buahnya melihat pakaiannya yang lebih mewah. Pusporini dan Joko Pramono yang terkurung di tengah-tengah itu berdiri dengan sikap tenang-tenang saja. Dua orang pimpinan pasukan itu lalu melangkah maju. Sejenak mereka memandang pemuda dan pemudi itu penuh selidik, dan seorang di antara mereka berdua, yang hidungnya besar mbengol yang menandakan bahwa dia seorang yang gila wanita, tertawa dan berkata,
"Kakang Maruto, aku tetap tidak percaya kalau perawan denok seperti ini menjadi mata-mata! Huah-ha-ha, kalau mereka mengirim mata-mata sedenok sungguh menyenangkan sekali. Biar dikirim empat losin pun aku masih kurang!"
"Adi Saru, jangan sembrono. Orang-orang Panjalu amat cerdik, tentu mengirim mata-mata yang pandai menyamar. Heh, kisanak!" kata orang ke dua itu yang jenggotnya berjuntai panjang sampai dua kilan.
"Kalian berdua siapakah dan dari mana hendak ke mana?"
Joko Pramono yang selalu bersikap hati-hati tetap tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran sebelum mereka tiba di Kota Raja Jenggala menyelidiki keadaan dan dapat mencari Ki Mitra yang menjadi juru taman di rumah guru kesenian seperti yang mereka ketahui dari pesan Ki Wiraman, menjawab,
"Kami kakak beradik penghuni di kaki Gunung Kawi, hendak pergi ke kota raja mencari paman kami yang bekerja di sana."
"Hemm, Andika terlalu gagah dan tampan untuk menjadi seorang pemuda dusun biasa!" kata si jenggot panjang.
"Dan perawan ini terlalu denok untuk menjadi perawan gunung. Lihat kulitnya putih kuning dan halus, matanya yang masih membayangkan keturunan menak, jeli dan tajam pandangannya, bulu mata yang lentik, ha-ha-ha, perawan denok ini lebih cantik daripada puteri di istana! Kalian baru boleh lewat kalau aku sudah memeriksa dara ini!" kata si hidung besar sambil menyeringai kepada Pusporini.
"Memeriksa bagaimana maksudmu?" tanya Joko Pramono, suaranya dingin dan sinar matanya mengandung kemarahan yang ditahan-tahan. Hatinya panas sekali melihat kekasihnya hendak diperlakukan secara kurang ajar, dan kalau menurutkan panasnya hati, ingin ia memukul remuk kepala si hidung besar saat itu juga. Akan tetapi pemuda ini masih menekan hatinya, ingin mencari penyelesaian secara damai agar tugas mereka tidak terganggu.

<<< Bagian 126                                                                                     Bagian 128 >>>

No comments:

Post a Comment