Akan, tetapi yang tinggi sekali tingkat ilmu kepandaiannya adalah Pusporini dan Joko Pramono. Berkat sifat kedua orang muda ini yang selalu bersaing sampai tiga tahun lamanya, mereka memperoleh kemajuan pesat. Baru setelah terjadi peristiwa penaklukan ular Puspo Wilis dan mereka itu hampir saja menjadi korban pengaruh hawa beracun ular itu, keduanya saling menginsyafi dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya mereka itu saling mencinta. Bahwa semua persaingan mereka itu sama sekali bukan berdasarkan iri dan benci, melainkan berdasarkan cinta kasih sehingga mereka selalu ingin menonjolkan diri di mata masing-masing orang yang dicintanya dengan dasar niat ingin dikagumi dan ingin dihargai atau lebih tepat lagi ingin dicinta! Semenjak peristiwa itu, mereka tidak lagi bersaing, bahkan sering mereka itu memperlihatkan sikap mengalah, terutama sekali Joko Pramono, dan biarpun mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, namun pandang mata mereka sudah terang-terangan menyatakan isi hati yang penuh cinta. Namun, tiadanya persaingan bukan berarti bahwa ketekunan mereka mengendur. Sama sekali tidak. Setelah mendengar penuturan Wiraman akan keadaan di Jenggala, kemudian mendengar wejangan Resi Mahesapati, mereka belajar makin rajin dan kini mereka mempunyai cita-cita dalam belajar, yaitu untuk kelak dipergunakan menolong Jenggala, membersihkan kerajaan itu dari manusia-manusia iblis yang berusaha mencengkeramnya.
Pagi hari itu Resi
Mahesapati memanggil keempat orang muridnya itu menghadap. Dengan suara halus
ia berkata,
"Tugasku telah selesai
memberi bimbingan kepada kalian mengejar ilmu. Joko Pramono dan Pusporini,
telah genap lima tahun kalian mempelajari ilmu dan sudah tiba saatnya kalian
turun gunung memanfaatkan segala yang kalian telah pelajari. Seperti telah
berkali-kali kutekankan adalah menjadi tugas kalian untuk berdarma bakti kepada
kebajikan, kebenaran dan keadilan. Dan karena pada saat ini mendung telah
meliputi Jenggala dan sebagian dari Panjalu, maka kalian harus turun gunung dan
membantu
usaha membersihkan mendung
yang mengancam keselamatan rakyat kerajaan-kerajaan keturunan Mataram. Ingat
bahwa mereka yang mengancam keselamatan itu adalah orang-orang yang memiliki
ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan ada di antara mereka yang lebih sakti daripada
tokoh-tokoh kedua kerajaan, bahkan aku sendiri tidak akan mampu melawannya.
Akan tetapi, untuk menghadapi
mereka yang sakti mandraguna
ini akan muncul seorang pendekar muda dan kepadanyalah kalian akan membantu.
Apa yang akan kalian lakukan di hari depan, terserah kepada kebijaksanaan
kalian, aku orang tua hanya dapat membekali doa restu. Juga engkau Ki Wiraman,
dan Widawati tidak terlepas pula daripada kewajiban untuk membantu usaha
menentang pengaruh buruk itu. Pergilah kalian berempat dan aku dapat memandang
kepergian kalian berempat dengan hati lapang karena kurasa, usahaku selama ini
tidak akan sia-sia."
"Akan tetapi, Eyang
resi. Kemanakah hamba berdua harus menuju?" tanya Pusporini yang
sebetulnya ingin sekali kembali ke Selopenangkep mencari keluarganya.
"Rundingkanlah nanti
bersama Joko Pramono, dan terutama sekali, dengarkan nasehat Ki Wiraman. Dia
ini lebih berpengalaman dalam hal perjuangan dibandingkan dengan kalian berdua.
Nah, berangkatlah tanpa ragu-ragu, karena setiap cita-cita harus dimulai dengan
tekad bulat. Sedikit saja keraguan akan menghambat tercapainya cita-cita."
Setelah berkata demikian, Resi Mahesapati yang duduk bersila itu meramkan mata,
tanda bahwa dia mulai bersamadhi dan tidak mau diganggu lagi. Empat orang itu
lalu menyembah dan berpamit dengan hati terharu, teringat akan kebaikan budi
kakek ini selama mereka berada di situ. Kemudian berangkatlah mereka
meninggalkan tempat di mana mereka digembleng itu. Adapun batu mustika ular
Puspo Wilis sejak lama telah diberikan kepada Pusporini dan kini menjadi
penghias leher Pusporini sebagai sebuah mata kalung yang indah sekali,
mengeluarkan sinar kehijauan. Karena masih terpengaruh oleh rasa duka harus
berpisah meninggalkan guru yang mereka cinta itu seorang diri di puncak gunung,
empat orang itu menuruni gunung tanpa bicara dan baru setelah mereka tiba di
kaki gunung dan untuk penghabisan kali menengadah ke puncak seolah-olah
merupakan pandang penuh harapan dan permintaan doa restu, baru mereka
berunding.
"Menurut pendapat saya,
lebih baik kalau Andika berdua dari sini langsung memasuki Jenggala untuk
melakukan penyelidikan tentang keadaan kerajaan itu sekarang. Andika berdua
tidak dikenal, tentu saja akan lebih mudah melakukan perjalanan ke daerah yang
kacau itu. Sedangkan saya sendiri bersama diajeng Widawati akan langsung menuju
ke Panjalu, melaporkan segala keadaan dua tahun yang lalu kepada sang prabu di
Panjalu." Demikian Wiraman menyatakan pendapatnya. Joko Pramono dan
Pusporini tak dapat membantah kebenaran pendapat ini dan mereka mengangguk.
"Benar sekali pendapat
Paman. Kami akan menyelidiki keadaan Kota Raja Jenggala, kemudian kami akan
pergi menyusul Paman ke Panjalu," kata Joko Pramono.
"Kalau Paman tiba di
Panjalu, harap Paman kunjungi kediaman Kakangmas Tejolaksono dan ceritakan
keadaanku kepada keluargaku. Akan tetapi, betulkah Kakangmas Tejolaksono kini
telah menjadi patih muda di Panjalu seperti yang Paman ceritakan dahulu?"
Wiraman mengangguk.
"Saya pun hanya
mendengar beritanya saja bahwa setelah berhasil mengamankan kekacauan kekacauan
yang timbul di wilayah barat Adipati Tejolaksono diangkat menjadi patih muda.
Tentu akan saya selidiki tentang keluarga Andika, dan saya akan menghadap Gusti
Patih Tejolaksono."
Dari kaki gunung itu,
rombongan mereka dipecah menjadi dua, Wiraman dan Widawati menuju ke Panjalu,
sedangkan Joko Pramono dan Pusporini melanjutkan perjalanan mereka ke Jenggala
untuk melakukan tugas menyelidiki sebelum mereka menyusul pula ke Panjalu.
Kedua orang muda murid Sang Resi Mahesapati itu melanjutkan perjalanan dengan
gembira. Setelah lima tahun 1amanya mereka mengejar ilmu di puncak gunung, kini
mereka menghadapi dunia ramai dengan hati penuh ketegangan, apalagi kalau
mereka mengingat akan cerita Ki Wiraman tentang keadaan Jenggala yang
kacau-balau dan akan kekuasaan-kekuasaan jahat yang mencengkeram kerajaan itu.
Namun ketegangan ini hanya timbul karena mereka ingat akan tugas mereka sebagai
orang-orang berkepandaian yang melaksanakan tugas menentang kejahatan, bukan
sekali-kali karena rasa takut. Hati mereka besar dan mereka mempunyai penuh
kepercayaan kepada diri sendiri. Selama lima tahun digembleng oleh Sang Resi
Mahesapati yang sakti mandraguna, kedua orang muda ini memperoleh kemajuan yang
hebat. Mereka bukan lagi orang-orang muda remaja lima tahun yang lalu. Biarpun
lima tahun yang lalu mereka telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, namun
semua aji kesaktian mereka masih mentah, sama sekali berbeda dengan keadaan
mereka sekarang yang telah menyempurnakan semua aji itu di bawah bimbingan Sang
Resi Mahesapati. Pusporini telah berusia dua puluh satu tahun, sedangka Joko
Pramono telah berusia dua puluh dua tahun, dan mereka berdua telah memiliki
kedigdayaan yang matang.
"Mudah-mudahan saja
tugas kita akan berjalan lancar sehingga kita dapat segera pergi ke Panjalu
untuk mencari rakandamu Gusti Patih Tejolaksono," terdengar Joko Pramono
berkata ketika mereka berdua berjalan seenaknya memasuki hutan belantara yang
sudah dekat dengan Kota Raja Jenggala. Mereka telah melakukan perjalanan selama
tujuh hari dan tidak pernah mereka menemui halangan. Di sepanjang perjalanan
mereka melalui dusun-dusun dan mendengar akan keadaan di Jenggala yang
mengecilkan hati. Para penduduk dusun menceritakan betapa kini kekacauan dari
kota raja itu menular menjalar ke dusun-dusun, di mana para ponggawa yang
diangkat oleh petugas kerajaan, diganti secara paksa oleh ponggawa-ponggawa
baru yang memerintahkan agar rakyat memuja-muja Sang Bathari Shiwa. Berita ini
hanya dicatat dalam hati oleh kedua orang muda itu untuk kelak mereka laporkan
ke Panjalu. Akan tetapi karena mereka bertugas menyelidik, mereka tidak mau
melibatkan diri dengan para ponggawa baru itu dan selalu menjauhkan diri dari
pertentangan yang tidak ada artinya dan hanya akan mengganggu tugas
penyelidikan mereka. Tujuan utama mereka adalah kota raja untuk menyelidiki
keadaan di sana karena mereka tahu bahwa yang menjadi pusat biang keladi semua
kekacauan adalah kota raja.
"Kenapa sih engkau
ingin tergesa-gesa pergi ke Panjalu dan menemui Rakanda Patih
Tejolaksono?" tanya Pusporini, di dalam hatinya mentertawakan pemuda itu
karena tentu saja ia sudah dapat menduga sebabnya.
"Kenapa? Tentu saja
untuk meminang adiknya yang cantik manis, galak, sakti mandraguna dan ...
merupakan wanita paling mulia di dunia ini bagiku, puteri yang bernama Dyah
Pusporini ...!”
Pusporini meruncingkan
bibirnya, mengejek.
"Aku tidak mau bicara
tentang perjodohan sebelum tugas kita selesai, sebelum semua anasir jahat
dibasmi habis dari Jenggala dan Panjalu!"
"Wah, bagaimana kalau
sampai belasan tahun belum selesai?" Joko Pramono mencela dan memandang
gadis di samping kirinya dengan mata terbelalak lebar. Pusporini mengerling ke
kanan dan tersenyum.
"Kalau sampai belasan
tahun mengapa? Siapa sih yang tergesa-gesa?"
"Wah, aku akan menjadi
jejaka tua dan engkau akan menjadi perawan tua!” kata Joko Pramono setengah
berkelakar akan tetapi juga setengah bersungguh. sungguh.
"Kalau bertemu dengan
rakandamu itu, aku akan nekat meminangmu hendak kulihat kalau keluargamu
menetapkannya dan mendesakmu, engkau akan dapat berkata apa lagi!"
"Engkau memang orang
nekat, lebih baik namamu dirubah menjadi Joko Nekat saja!" Pusporini
menggoda sambil tertawa.
Sesungguhnya di dalam
hatinya ia pun tidak sabar lagi menanti pinangan pemuda yang dicintanya ini.
Usianya sudah dua puluh satu tahun dan pada jaman itu, seorang wanita berusia
dua puluh satu tahun biasanya tentu telah menjadi seorang ibu dari dua tiga
orang anak!
"Sstttt ....di depan
ada orang ...” Joko Pramono berbisik dan gadis itu sudah dalam keadaan siap,
hilang sikapnya berkelakar. Kedua orang muda itu berjalan terus dengan langkah
tenang, namun pandang mata mereka waspada dan penuh perhatian karena mereka
maklum bahwa di dalam gerombolan alang-alang dan pohon di sebelah depan terdapat
banyak orang bersembunyi. Ketika mereka tiba di tempat terbuka yang agak luas,
dikelilingi pohon-pohon dan alang-alang, tiba-tiba terdengar bentakan keras,
"Kisanak yang lewat,
berhenti dulu!!"
Dari balik semak-semak di
sekeliling tempat itu berloncatan keluar banyak orang laki-laki yang memakai
kain dan celana seragam, bertubuh tinggi besar dan melihat betapa mereka itu
lalu serempak membuat gerakan mengurung secara teratur, mudah diduga bahwa
mereka itu bukanlah perampok, melainkan sebuah pasukan yang terlatih, akan
tetapi sikap mereka tiada bedanya dengan perampok-perampok. Pandang mata mereka
kini menjalari wajah dan tubuh Pusporini dan gadis ini menghitung sembilan
belas mulut yang menyeringai penuh nafsu kurang ajar terhadap dirinya. Hanya
sebuah pasukan kecil yang terdiri dari tujuh belas orang yang dikepalai dua
orang laki-laki tinggi besar yang dapat dibedakan dari para anak buahnya
melihat pakaiannya yang lebih mewah. Pusporini dan Joko Pramono yang terkurung
di tengah-tengah itu berdiri dengan sikap tenang-tenang saja. Dua orang
pimpinan pasukan itu lalu melangkah maju. Sejenak mereka memandang pemuda dan
pemudi itu penuh selidik, dan seorang di antara mereka berdua, yang hidungnya
besar mbengol yang menandakan bahwa dia seorang yang gila wanita, tertawa dan
berkata,
"Kakang Maruto, aku
tetap tidak percaya kalau perawan denok seperti ini menjadi mata-mata!
Huah-ha-ha, kalau mereka mengirim mata-mata sedenok sungguh menyenangkan
sekali. Biar dikirim empat losin pun aku masih kurang!"
"Adi Saru, jangan
sembrono. Orang-orang Panjalu amat cerdik, tentu mengirim mata-mata yang pandai
menyamar. Heh, kisanak!" kata orang ke dua itu yang jenggotnya berjuntai
panjang sampai dua kilan.
"Kalian berdua siapakah
dan dari mana hendak ke mana?"
Joko Pramono yang selalu
bersikap hati-hati tetap tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran sebelum
mereka tiba di Kota Raja Jenggala menyelidiki keadaan dan dapat mencari Ki
Mitra yang menjadi juru taman di rumah guru kesenian seperti yang mereka
ketahui dari pesan Ki Wiraman, menjawab,
"Kami kakak beradik
penghuni di kaki Gunung Kawi, hendak pergi ke kota raja mencari paman kami yang
bekerja di sana."
"Hemm, Andika terlalu
gagah dan tampan untuk menjadi seorang pemuda dusun biasa!" kata si
jenggot panjang.
"Dan perawan ini
terlalu denok untuk menjadi perawan gunung. Lihat kulitnya putih kuning dan
halus, matanya yang masih membayangkan keturunan menak, jeli dan tajam
pandangannya, bulu mata yang lentik, ha-ha-ha, perawan denok ini lebih cantik
daripada puteri di istana! Kalian baru boleh lewat kalau aku sudah memeriksa
dara ini!" kata si hidung besar sambil menyeringai kepada Pusporini.
"Memeriksa bagaimana
maksudmu?" tanya Joko Pramono, suaranya dingin dan sinar matanya
mengandung kemarahan yang ditahan-tahan. Hatinya panas sekali melihat
kekasihnya hendak diperlakukan secara kurang ajar, dan kalau menurutkan
panasnya hati, ingin ia memukul remuk kepala si hidung besar saat itu juga.
Akan tetapi pemuda ini masih menekan hatinya, ingin mencari penyelesaian secara
damai agar tugas mereka tidak terganggu.
No comments:
Post a Comment