Dia maklum betapa besar artinya sikapnya dalam peristiwa itu bagi seorang wanita, apalagi seorang wanita seperti Endang Patibroto. Diam-diam dia merasa kagum akan sikap Endang Patibroto yang tidak ragu-ragu menceritakan hal itu kepadanya dalam kesempatan pertama. Hanya seorang wanita yang berhati murni saja yang akan mengaku secara terus terang seperti ini. Hanya wanita yang menghendaki agar di antara cinta kasih mereka tidak terdapat penghalang dalam bentuk apa pun juga, yang menghendaki cinta kasih yang murni, yang akan berani menceritakan pemerkosaan terhadap dirinya dengan resiko patahnya rantai kasih itu sendiri. Ia membiarkan Endang Patibroto melampiaskan kelegaan hatinya dalam tangis, dan dengan belaian kasih mesra ia mengusap-usap rambut yang kusut itu. Peristiwa pemerkosaan itu sama sekali tidak mempengaruhi cintanya, bahkan memperdalam cintanya yang kini dilengkapi dengan perasaan kasihan yang mendalam. Dan Tejolaksono tidak sadar bahwa kalau di dunia ini jarang terdapat wanita yang begitu murni cintanya seperti Endang Patibroto, lebih jarang lagi terdapat pria yang dapat menerima peristiwa pemerkosaan dengan dada begitu lapang, dengan pengertian begitu mendalam seperti perasaan hatinya terhadap Endang Patibroto!
"Diajeng, sudahlah
jangan menangis. Percayalah, aku sudah lupa lagi akan peristiwa yang menimpa
dirimu sungguh pun aku takkan dapat melupakan Warutama yang jahat itu.
Tenangkan hatimu karena peristiwa keji itu takkan diketahui orang lain, tidak
akan diketahui oleh Ayu Candra, oleh siapa pun juga, bahkan tidak akan
diketahui oleh anak kita .... eh, di mana Retna Wilis, anak kita itu? Diajeng,
aku sudah banyak mendengar tentang dia dari Adinda Setyaningsih, kenapa kau
tidak membawa dia ke sini?"
Wajah Endang Patibroto yang
tadinya merah berseri karena bahagia mendengar ucapan penerimaan Tejolaksono
mengenai malapetaka yang menimpa dirinya, kini menjadi muram dan ia menghela
napas panjang, lalu mengangkat mukanya dari dada suaminya.
"Kakangmas, memang
nasibku selalu malang, dirundung malapetaka. Anak kita itu, Retna Wilis, sudah
baik-baik mendapatkan seorang guru yang sakti mandraguna, yaitu Ki Datujiwa,
akan tetapi tiba-tiba muncul nenek iblis Nini Bumigraba yang membunuh Ki
Datujiwa dan menculik Retna Wilis“
"Duh para Dewata ...,
mengapa begini?" Tejolaksono mengeluh dengan hati pedih. Puteranya, Bagus
Seta, sampai kini belum juga pulang. Kemudian, puterinya yang belum pernah
dilihatnya, Retna Wilis, diculik orang pula!
"Diajeng, bagaimana
bisa terjadi hal itu? Mengapa Diajeng tidak melindunginya dan melawan
mati-matian?" Tejolaksono memang belum pernah mendengar nama Nini
Bumigarba sehingga ia merasa terheran-heran mengapa isterinya ini yang amat
sakti, ditambah lagi dengan Ki Datujiwa yang menurut keterangan Setyaningsih
amat sakti sehingga dalam sayembara dapat menandingi dan mengalahkan Endang
Patibroto, tidak mampu melindungi Retna Wilis.
Endang Patibroto lalu
menceritakan dengan suara duka namun dengan sejelasnya tentang kedatangan Nini
Bumigarba yang menyeramkan. Sebagai penutup ceritanya ia berkata,
"Nenek iblis itu luar
biasa sekali, Kakangmas. Jangankan hanya aku, sedangkan Ki Datujiwa yang sakti
itu pun sama sekali bukan tandingannya. Nenek itu bukan seperti manusia,
mukanya pun tidak dapat tampak nyata, tertutup semacam halimun kehitaman. Ahh,
Kakangmas bagaimana kita harus mencari dan menolong anak kita itu?" Endang
Patibroto berduka sekali sehingga suaminya segera merangkulnya untuk menghibur.
"Betapapun sakti
mandraguna nenek itu, namun kalau dia hanya menghendak Retna Wilis menjadi
muridnya, puter kita akan selamat. Hanya aku khawatir ...nenek itu begitu kejam
dan seperti iblis, bagaimana puteri kita dapat menjadi muridnya? Kita harus
berusaha mencarinya, dan mencegahnya menjadi murid nenek itu. Akan tetapi ....
ah, aku teringat..... kau bilang nenek itu mukanya tidak tampak karena tertutup
halimun hitam? Aneh sekali ... “
"Apa maksudmu,
Kakangmas? Apakah Paduka pernah bertemu dengan dia?"
"Bukan dengan dia,
bahkan mendengar namanya pun belum pernah. Akan tetapi aku pernah berjumpa
dengan seorang maha sakti yang juga wajahnya selalu tertutup semacam halimun,
akan tetapi halimun putih dan kakek sakti mandraguna itu adalah seorang suci
yang membawa putera kita Bagus Seta menjadi muridnya .." Tejolaksono lalu
menuturkan semua pengalamannya semenjak mereka berpisah. Banyak suka-dukanya
dalam pertemuan antara dua orang yang saling mencinta ini, banyak hal-hal yang
mengharukan dan menimbulkan gelisah, akan tetapi kebahagiaan karena mereka
dapat berkumpul kembali merupakan hiburan yang amat besar.
Setelah berkumpul kembali,
mereka menjadi besar hati dan akan sanggup memikul semua beban dan derita hidup
bersama-sama. Ayu Candra yang bijaksana membiarkan mereka itu saling menuturkan
semua pengalaman, tidak mengganggu mereka dan hanya mengirimkan pengganti
pakaian yang baru dan bersih untuk Endang Patibroto, menyuruh abdi-abdi wanita
untuk mengirim hidangan, dan baru pada keesokan harinya Ayu Candra menghadap
suaminya dan bertemu dengan madunya bersama-sama Setyaningsih dan Pangeran
Panji Sigit. Pertemuan yang mengharukan, apalagi ketika Setyaningsih mendengar
bahwa Retna Wilis diculik orang. Mukanya yang berkulit kuning bersih dan cantik
jelita itu mengeras, alisnya berkerut dan matanya memancarkan api kemarahan. Ia
menoleh kepada suaminya dan berkata,
"Bagaimana pendapat
Kakanda akan hal itu? Bukankah semua itu termasuk rencana persekutuan iblis
yang sedang berusaha mencengkeram kedua kerajaan keturunan Mataram? Saya merasa
yakin bahwa nenek iblis yang bernama Nini Bumigarba itu tentu mempunyai
hubungan dengan tokoh-tokoh jahat seperti yang telah diceritakan rakanda patih
kepada kita, tokoh-tokoh dari Sriwijaya dan Cola."
Pangeran Panji Sigit
mengangguk-angguk.
"Uwa Prabu telah
mengirimkan banyak penyelidik ke Jenggala, mempelajari keadaan di sana. Dan
sebaiknya kalau kita sendiri tidak tinggal diam, menyelidiki ke mana Retna
Wilis adik kita itu dibawa pergi. Rakanda Patih, biarlah saya sendiri bersama
Setyaningsih pergi melakukan penyelidikan, mencari jejak nenek yang jahat
itu." Tejolaksono termenung.
"Menurut penuturan
ayundamu Endang Patibroto, nenek itu amatlah saktinya, bukan merupakan lawan
kita. Memang seharusnya kita melakukan penyelidikan dan kami percaya penuh akan
kemampuan Adinda Pangeran dan Setyaningsih, akan tetapi harap jangan sembrono
dan jangan sekali-kali mencoba untuk melawan nenek itu. Cukup kalau bisa
mendapatkan jejaknya dan bisa mengetahui di mana adanya anakku Retna Wilis,
kemudian melaporkan kepada kami."
"Jangan khawatir,
Rakanda Patih. Kami akan bersikap hati-hati sekali dan tidak hanya kami berdua
yang menyelidik, melainkan kami akan berusaha menyebar barisan penyelidik
..." Ucapan Pangeran Panji Sigit ini terhenti karena pengawal memberi tahu
akan kedatangan Pangeran Darmokusumo bersama isterinya. Mereka ini datang
berkunjung setelah mendengar bahwa Endang Patibroto telah "pulang" ke
rumah suaminya yang baru, yaitu Patih Tejolaksono. Seperti telah diketahui,
baik Pangeran Darmokusumo maupun isterinya keduanya adalah sahabat-sahabat baik
Endang Patibroto. Di waktu mudanya, isteri pangeran ini yang bernama Puteri
Mayagaluh adalah sahabat baik Endang Patibroto, bahkan puteri ini adalah adik
kandung mendiang Pangeran Panjirawit. Adapun Pangeran Darmokusumo sendiri,
seorang pangeran terkemuka dari Panjalu, pernah bekerja sama dengan Endang
Patibroto ketika mereka berdua memimpin pasukan menyerbu Blambangan beberapa
tahun yang lalu. Pertemuan inipun mengharukan, juga amat menggembirakan.
Percakapan mengenai pengalaman mereka masing-masing membawa ke persoalan
negara, yaitu Kerajaan Jenggala yang sedang diliputi mendung gelap. Terutama
sekali Puteri Mayagaluh dan adik tirinya, Pangeran Panji Sigit, keduanya
menundukkan muka dan merasa prihatin sekali kalau memikirkan keadaan ayah
mereka, sang prabu di Jenggala yang sudah sepuh itu, yang kini seolah-olah
berada dalam cengkeraman iblis jahat! Ketika percakapan tiba pada persoalan
diculiknya Retna Wilis, Pangeran Darmokusumo yang sudah kurang lebih lima puluh
tahun usianya itu berkata sambil mengerutkan alisnya,
"Nini Bumigarba?
Wajahnya tertutup halimun kehitaman? pernah aku mendengar dongeng wanita sakti
yang mukanya selalu tertutup halimun, namanya Dewi Sarilangking“
"Itulah dia!!"
Endang Patibroto berseru.
"Dewi Sarilangking yang
sekarang bernama Nini Bumigarba, kepandaiannya hebat!"
Pangeran Darmokusumo
mengangguk-angguk. Ketika ia mendengar niat Pangeran Panji Sigit untuk bersama
isterinya pergi mencari jejak, ia berkata.
"Memang seharusnya
dilakukan penyelidikan. Kurasa masih ada hubungannya peristiwa ini dengan
kekacauan di Jenggala. Biarlah aku akan mengerahkan pasukan-pasukan istimewa
bagian penyelidik yang sudah berpengalaman untuk meneliti dan mencari jejak ke
mana dibawanya Retna Wilis."
Tiba-tiba Endang Patibroto
berkata dengan muka merah,
"Kita semua sudah
mendengar dan melihat kenyataan bahwa Jenggala berada dalam cengkeraman
iblis-iblis laknat, bahkan pihak mereka telah berhasil menyelundupkan seorang
manusia terkutuk seperti Warutama menjadi patih di Jenggala. Mau tunggu kapan
lagi? Sebaiknya kita langsung menyerbu Jenggala dan membersihkan oknum-oknum
pengacau itu, membinasakan dan membasmi mereka. Biarlah aku sendiri yang akan
menghadap sang prabu di Panjalu untuk memimpin pasukan menghancur leburkan
mereka itu!!"
Tejolaksono bertukar pandang
dengan Pangeran Darmokusumo. Mereka berdua menahan senyum karena mereka telah
mengenal watak wanita ini yang ternyata tidak berubah banyak. Dan mereka yakin
bahwa kalau wanita ini memimpin pasukan menyerang ke Jenggala, pasti akan
terjadi geger, sungguhpun sekali ini hasilnya belum dapat dipastikan mengingat
betapa musuh menggunakan banyak orang-orang yang sakti.
"Aku sendiri pun telah
mengajukan usul seperti itu, akan tetapi tidak diterima oleh gusti sinuwun. Dan
memang kalau dipikir secara mendalam, penyerbuan dengan pasukan itu bisa
menimbulkan salah duga, disangka Panjalu menyerang Jenggala. Musuh telah
mempergunakan siasat halus, dan jalan satu-satunya menghadapi mereka dengan
diam-diam pula," kata Tejolaksono.
"Tepat seperti yang
dikatakan Adinda Patih Tejolaksono, biarlah saya yang menghadap Ramanda Prabu
dan mohon perkenan beliau untuk membentuk pasukan rahasia yang tugasnya
menentang para pengacau di Jenggala dengan secara rahasia dan diam-diam. Dan
kita harus mengadakan kontak dengan orang-orang Jenggala sendiri yang masih
setia kepada paman prabu dan bibi ratu di Jenggala agar perjuangan pasukan
rahasia ini akan dapat berhasil." Keluarga yang terdiri dari orang-orang
sakti mandraguna ini mengadakan perundingan dan akhirnya diambil keputusan mengangkat
Pangeran Darmokusumo sebagai pemimpin pasukan rahasia yang akan dibentuk,
sedangkan Patih Tejolaksono menjadi komandan pasukannya dibantu oleh Endang
Patibroto.
Akhirnya, keluarga
Tejolaksono yang cerai-berai tidak karuan itu kini dapat berkumpul kembali,
sungguhpun belum lengkap. Pusporini masih belum ada kabarnya, Bagus Seta masih
belum diketahui berada di mana, sedangkan Retna Wilis pun lenyap digondol nenek
iblis tanpa diketahui ke mana dibawanya. Akan tetapi, berkumpulnya kembali
Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan hal yang selain menggembirakan semua
orang termasuk Ayu Candra, juga mendatangkan semangat dan kelegaan hati. Semua
orang, termasuk Pangeran Darmokusumo sendiri, merasa bahwa kalau kedua orang
sakti yang saling mencinta ini bersatu, tidak akan ada kesulitan yang takkan
dapat mereka atasi! Dan buktinya, begitu Endang Patibroto tiba, terus saja
terbentuk pasukan rahasia yang tadinya tak pernah disinggung-singgung oleh
Tejolaksono yang agaknya kehilangan semangat. Kini, dengan hati girang Ayu
Candra mendapat kenyataan betapa suaminya telah pulih kembali semangatnya,
tidak pernah melamun, wajahnya selalu berseri, bahkan kalau menyinggung soal
belum kembalinya Pusporini, Bagus Seta, dan Retna Wilis, ia kini penuh harapan
seolah-olah kehadiran Endang Patibroto telah mempertebal keyakinan dan
kepercayaan akan diri sendiri!
Sebagai langkah pertama dari
pasukan rahasia ini, Pangeran Darmokusumo mengutus lima belas orang ahli-ahli
penyelidik pilihan yang gagah perkasa untuk menyelundup ke Kota Raja Jenggala
melakukan penyelidikan akan keadaan pengaruh jahat yang mencengkeram Jenggala,
sedangkan Pangeran Panji Sigit bersama isterinya, Setyaningsih, menyamar
sebagal rakyat biasa, memimpin selusin orang prajurit pilihan untuk mulai
dengan tugas mereka mencari jejak Nini Bumigarba yang membawa lari Retna Wilis.
Pada waktu
itu, telah genap lima tahun Pusporini dan Joko Pramono menjadi murid sang sakti
Resi Mahesapati. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang
lalu, Wiraman dan Widawati yang menjadi korban racun ular Puspo Wilis sehingga
di luar kesadaran mereka telah melakukan hubungan sanggama sehingga terpaksa
Widawati semenjak saat itu menyerahkan jiwa raganya menjadi isteri Wiraman,
juga diterima oleh Resi Mahesapati sebagai murid-muridnya. Biarpun hanya
menerima gemblengan selama dua tahun, namun Wiraman yang tadinya adalah seorang
pengawal yang gagah perkasa itu mendapatkan kemajuan yang luar biasa, sedangkan
Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala itu pun kini menjadi seorang wanita yang
kosen.
No comments:
Post a Comment