Perawan Lembah Wilis; Bagian 126


Dia maklum betapa besar artinya sikapnya dalam peristiwa itu bagi seorang wanita, apalagi seorang wanita seperti Endang Patibroto. Diam-diam dia merasa kagum akan sikap Endang Patibroto yang tidak ragu-ragu menceritakan hal itu kepadanya dalam kesempatan pertama. Hanya seorang wanita yang berhati murni saja yang akan mengaku secara terus terang seperti ini. Hanya wanita yang menghendaki agar di antara cinta kasih mereka tidak terdapat penghalang dalam bentuk apa pun juga, yang menghendaki cinta kasih yang murni, yang akan berani menceritakan pemerkosaan terhadap dirinya dengan resiko patahnya rantai kasih itu sendiri. Ia membiarkan Endang Patibroto melampiaskan kelegaan hatinya dalam tangis, dan dengan belaian kasih mesra ia mengusap-usap rambut yang kusut itu. Peristiwa pemerkosaan itu sama sekali tidak mempengaruhi cintanya, bahkan memperdalam cintanya yang kini dilengkapi dengan perasaan kasihan yang mendalam. Dan Tejolaksono tidak sadar bahwa kalau di dunia ini jarang terdapat wanita yang begitu murni cintanya seperti Endang Patibroto, lebih jarang lagi terdapat pria yang dapat menerima peristiwa pemerkosaan dengan dada begitu lapang, dengan pengertian begitu mendalam seperti perasaan hatinya terhadap Endang Patibroto!
"Diajeng, sudahlah jangan menangis. Percayalah, aku sudah lupa lagi akan peristiwa yang menimpa dirimu sungguh pun aku takkan dapat melupakan Warutama yang jahat itu. Tenangkan hatimu karena peristiwa keji itu takkan diketahui orang lain, tidak akan diketahui oleh Ayu Candra, oleh siapa pun juga, bahkan tidak akan diketahui oleh anak kita .... eh, di mana Retna Wilis, anak kita itu? Diajeng, aku sudah banyak mendengar tentang dia dari Adinda Setyaningsih, kenapa kau tidak membawa dia ke sini?"

Wajah Endang Patibroto yang tadinya merah berseri karena bahagia mendengar ucapan penerimaan Tejolaksono mengenai malapetaka yang menimpa dirinya, kini menjadi muram dan ia menghela napas panjang, lalu mengangkat mukanya dari dada suaminya.
"Kakangmas, memang nasibku selalu malang, dirundung malapetaka. Anak kita itu, Retna Wilis, sudah baik-baik mendapatkan seorang guru yang sakti mandraguna, yaitu Ki Datujiwa, akan tetapi tiba-tiba muncul nenek iblis Nini Bumigraba yang membunuh Ki Datujiwa dan menculik Retna Wilis“
"Duh para Dewata ..., mengapa begini?" Tejolaksono mengeluh dengan hati pedih. Puteranya, Bagus Seta, sampai kini belum juga pulang. Kemudian, puterinya yang belum pernah dilihatnya, Retna Wilis, diculik orang pula!
"Diajeng, bagaimana bisa terjadi hal itu? Mengapa Diajeng tidak melindunginya dan melawan mati-matian?" Tejolaksono memang belum pernah mendengar nama Nini Bumigarba sehingga ia merasa terheran-heran mengapa isterinya ini yang amat sakti, ditambah lagi dengan Ki Datujiwa yang menurut keterangan Setyaningsih amat sakti sehingga dalam sayembara dapat menandingi dan mengalahkan Endang Patibroto, tidak mampu melindungi Retna Wilis.
Endang Patibroto lalu menceritakan dengan suara duka namun dengan sejelasnya tentang kedatangan Nini Bumigarba yang menyeramkan. Sebagai penutup ceritanya ia berkata,
"Nenek iblis itu luar biasa sekali, Kakangmas. Jangankan hanya aku, sedangkan Ki Datujiwa yang sakti itu pun sama sekali bukan tandingannya. Nenek itu bukan seperti manusia, mukanya pun tidak dapat tampak nyata, tertutup semacam halimun kehitaman. Ahh, Kakangmas bagaimana kita harus mencari dan menolong anak kita itu?" Endang Patibroto berduka sekali sehingga suaminya segera merangkulnya untuk menghibur.
"Betapapun sakti mandraguna nenek itu, namun kalau dia hanya menghendak Retna Wilis menjadi muridnya, puter kita akan selamat. Hanya aku khawatir ...nenek itu begitu kejam dan seperti iblis, bagaimana puteri kita dapat menjadi muridnya? Kita harus berusaha mencarinya, dan mencegahnya menjadi murid nenek itu. Akan tetapi .... ah, aku teringat..... kau bilang nenek itu mukanya tidak tampak karena tertutup halimun hitam? Aneh sekali ... “
"Apa maksudmu, Kakangmas? Apakah Paduka pernah bertemu dengan dia?"
"Bukan dengan dia, bahkan mendengar namanya pun belum pernah. Akan tetapi aku pernah berjumpa dengan seorang maha sakti yang juga wajahnya selalu tertutup semacam halimun, akan tetapi halimun putih dan kakek sakti mandraguna itu adalah seorang suci yang membawa putera kita Bagus Seta menjadi muridnya .." Tejolaksono lalu menuturkan semua pengalamannya semenjak mereka berpisah. Banyak suka-dukanya dalam pertemuan antara dua orang yang saling mencinta ini, banyak hal-hal yang mengharukan dan menimbulkan gelisah, akan tetapi kebahagiaan karena mereka dapat berkumpul kembali merupakan hiburan yang amat besar.

Setelah berkumpul kembali, mereka menjadi besar hati dan akan sanggup memikul semua beban dan derita hidup bersama-sama. Ayu Candra yang bijaksana membiarkan mereka itu saling menuturkan semua pengalaman, tidak mengganggu mereka dan hanya mengirimkan pengganti pakaian yang baru dan bersih untuk Endang Patibroto, menyuruh abdi-abdi wanita untuk mengirim hidangan, dan baru pada keesokan harinya Ayu Candra menghadap suaminya dan bertemu dengan madunya bersama-sama Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit. Pertemuan yang mengharukan, apalagi ketika Setyaningsih mendengar bahwa Retna Wilis diculik orang. Mukanya yang berkulit kuning bersih dan cantik jelita itu mengeras, alisnya berkerut dan matanya memancarkan api kemarahan. Ia menoleh kepada suaminya dan berkata,
"Bagaimana pendapat Kakanda akan hal itu? Bukankah semua itu termasuk rencana persekutuan iblis yang sedang berusaha mencengkeram kedua kerajaan keturunan Mataram? Saya merasa yakin bahwa nenek iblis yang bernama Nini Bumigarba itu tentu mempunyai hubungan dengan tokoh-tokoh jahat seperti yang telah diceritakan rakanda patih kepada kita, tokoh-tokoh dari Sriwijaya dan Cola."
Pangeran Panji Sigit mengangguk-angguk.
"Uwa Prabu telah mengirimkan banyak penyelidik ke Jenggala, mempelajari keadaan di sana. Dan sebaiknya kalau kita sendiri tidak tinggal diam, menyelidiki ke mana Retna Wilis adik kita itu dibawa pergi. Rakanda Patih, biarlah saya sendiri bersama Setyaningsih pergi melakukan penyelidikan, mencari jejak nenek yang jahat itu." Tejolaksono termenung.
"Menurut penuturan ayundamu Endang Patibroto, nenek itu amatlah saktinya, bukan merupakan lawan kita. Memang seharusnya kita melakukan penyelidikan dan kami percaya penuh akan kemampuan Adinda Pangeran dan Setyaningsih, akan tetapi harap jangan sembrono dan jangan sekali-kali mencoba untuk melawan nenek itu. Cukup kalau bisa mendapatkan jejaknya dan bisa mengetahui di mana adanya anakku Retna Wilis, kemudian melaporkan kepada kami."
"Jangan khawatir, Rakanda Patih. Kami akan bersikap hati-hati sekali dan tidak hanya kami berdua yang menyelidik, melainkan kami akan berusaha menyebar barisan penyelidik ..." Ucapan Pangeran Panji Sigit ini terhenti karena pengawal memberi tahu akan kedatangan Pangeran Darmokusumo bersama isterinya. Mereka ini datang berkunjung setelah mendengar bahwa Endang Patibroto telah "pulang" ke rumah suaminya yang baru, yaitu Patih Tejolaksono. Seperti telah diketahui, baik Pangeran Darmokusumo maupun isterinya keduanya adalah sahabat-sahabat baik Endang Patibroto. Di waktu mudanya, isteri pangeran ini yang bernama Puteri Mayagaluh adalah sahabat baik Endang Patibroto, bahkan puteri ini adalah adik kandung mendiang Pangeran Panjirawit. Adapun Pangeran Darmokusumo sendiri, seorang pangeran terkemuka dari Panjalu, pernah bekerja sama dengan Endang Patibroto ketika mereka berdua memimpin pasukan menyerbu Blambangan beberapa tahun yang lalu. Pertemuan inipun mengharukan, juga amat menggembirakan. Percakapan mengenai pengalaman mereka masing-masing membawa ke persoalan negara, yaitu Kerajaan Jenggala yang sedang diliputi mendung gelap. Terutama sekali Puteri Mayagaluh dan adik tirinya, Pangeran Panji Sigit, keduanya menundukkan muka dan merasa prihatin sekali kalau memikirkan keadaan ayah mereka, sang prabu di Jenggala yang sudah sepuh itu, yang kini seolah-olah berada dalam cengkeraman iblis jahat! Ketika percakapan tiba pada persoalan diculiknya Retna Wilis, Pangeran Darmokusumo yang sudah kurang lebih lima puluh tahun usianya itu berkata sambil mengerutkan alisnya,
"Nini Bumigarba? Wajahnya tertutup halimun kehitaman? pernah aku mendengar dongeng wanita sakti yang mukanya selalu tertutup halimun, namanya Dewi Sarilangking“
"Itulah dia!!" Endang Patibroto berseru.
"Dewi Sarilangking yang sekarang bernama Nini Bumigarba, kepandaiannya hebat!"
Pangeran Darmokusumo mengangguk-angguk. Ketika ia mendengar niat Pangeran Panji Sigit untuk bersama isterinya pergi mencari jejak, ia berkata.
"Memang seharusnya dilakukan penyelidikan. Kurasa masih ada hubungannya peristiwa ini dengan kekacauan di Jenggala. Biarlah aku akan mengerahkan pasukan-pasukan istimewa bagian penyelidik yang sudah berpengalaman untuk meneliti dan mencari jejak ke mana dibawanya Retna Wilis."

Tiba-tiba Endang Patibroto berkata dengan muka merah,
"Kita semua sudah mendengar dan melihat kenyataan bahwa Jenggala berada dalam cengkeraman iblis-iblis laknat, bahkan pihak mereka telah berhasil menyelundupkan seorang manusia terkutuk seperti Warutama menjadi patih di Jenggala. Mau tunggu kapan lagi? Sebaiknya kita langsung menyerbu Jenggala dan membersihkan oknum-oknum pengacau itu, membinasakan dan membasmi mereka. Biarlah aku sendiri yang akan menghadap sang prabu di Panjalu untuk memimpin pasukan menghancur leburkan mereka itu!!"
Tejolaksono bertukar pandang dengan Pangeran Darmokusumo. Mereka berdua menahan senyum karena mereka telah mengenal watak wanita ini yang ternyata tidak berubah banyak. Dan mereka yakin bahwa kalau wanita ini memimpin pasukan menyerang ke Jenggala, pasti akan terjadi geger, sungguhpun sekali ini hasilnya belum dapat dipastikan mengingat betapa musuh menggunakan banyak orang-orang yang sakti.
"Aku sendiri pun telah mengajukan usul seperti itu, akan tetapi tidak diterima oleh gusti sinuwun. Dan memang kalau dipikir secara mendalam, penyerbuan dengan pasukan itu bisa menimbulkan salah duga, disangka Panjalu menyerang Jenggala. Musuh telah mempergunakan siasat halus, dan jalan satu-satunya menghadapi mereka dengan diam-diam pula," kata Tejolaksono.
"Tepat seperti yang dikatakan Adinda Patih Tejolaksono, biarlah saya yang menghadap Ramanda Prabu dan mohon perkenan beliau untuk membentuk pasukan rahasia yang tugasnya menentang para pengacau di Jenggala dengan secara rahasia dan diam-diam. Dan kita harus mengadakan kontak dengan orang-orang Jenggala sendiri yang masih setia kepada paman prabu dan bibi ratu di Jenggala agar perjuangan pasukan rahasia ini akan dapat berhasil." Keluarga yang terdiri dari orang-orang sakti mandraguna ini mengadakan perundingan dan akhirnya diambil keputusan mengangkat Pangeran Darmokusumo sebagai pemimpin pasukan rahasia yang akan dibentuk, sedangkan Patih Tejolaksono menjadi komandan pasukannya dibantu oleh Endang Patibroto.
Akhirnya, keluarga Tejolaksono yang cerai-berai tidak karuan itu kini dapat berkumpul kembali, sungguhpun belum lengkap. Pusporini masih belum ada kabarnya, Bagus Seta masih belum diketahui berada di mana, sedangkan Retna Wilis pun lenyap digondol nenek iblis tanpa diketahui ke mana dibawanya. Akan tetapi, berkumpulnya kembali Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan hal yang selain menggembirakan semua orang termasuk Ayu Candra, juga mendatangkan semangat dan kelegaan hati. Semua orang, termasuk Pangeran Darmokusumo sendiri, merasa bahwa kalau kedua orang sakti yang saling mencinta ini bersatu, tidak akan ada kesulitan yang takkan dapat mereka atasi! Dan buktinya, begitu Endang Patibroto tiba, terus saja terbentuk pasukan rahasia yang tadinya tak pernah disinggung-singgung oleh Tejolaksono yang agaknya kehilangan semangat. Kini, dengan hati girang Ayu Candra mendapat kenyataan betapa suaminya telah pulih kembali semangatnya, tidak pernah melamun, wajahnya selalu berseri, bahkan kalau menyinggung soal belum kembalinya Pusporini, Bagus Seta, dan Retna Wilis, ia kini penuh harapan seolah-olah kehadiran Endang Patibroto telah mempertebal keyakinan dan kepercayaan akan diri sendiri!
Sebagai langkah pertama dari pasukan rahasia ini, Pangeran Darmokusumo mengutus lima belas orang ahli-ahli penyelidik pilihan yang gagah perkasa untuk menyelundup ke Kota Raja Jenggala melakukan penyelidikan akan keadaan pengaruh jahat yang mencengkeram Jenggala, sedangkan Pangeran Panji Sigit bersama isterinya, Setyaningsih, menyamar sebagal rakyat biasa, memimpin selusin orang prajurit pilihan untuk mulai dengan tugas mereka mencari jejak Nini Bumigarba yang membawa lari Retna Wilis.

Pada waktu itu, telah genap lima tahun Pusporini dan Joko Pramono menjadi murid sang sakti Resi Mahesapati. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu, Wiraman dan Widawati yang menjadi korban racun ular Puspo Wilis sehingga di luar kesadaran mereka telah melakukan hubungan sanggama sehingga terpaksa Widawati semenjak saat itu menyerahkan jiwa raganya menjadi isteri Wiraman, juga diterima oleh Resi Mahesapati sebagai murid-muridnya. Biarpun hanya menerima gemblengan selama dua tahun, namun Wiraman yang tadinya adalah seorang pengawal yang gagah perkasa itu mendapatkan kemajuan yang luar biasa, sedangkan Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala itu pun kini menjadi seorang wanita yang kosen.

<<< Bagian 125                                                                                      Bagian 127 >>>

No comments:

Post a Comment