Perawan Lembah Wilis; Bagian 125


Tejolaksono memejamkan mata untuk menahan perasaan harunya mendengar suara wanita yang dicintanya ini menyebut namanya dengan getaran penuh duka dan penuh cinta kasih terpendam. Namun kemarahan hatinya yang sakit masih tidak mengijinkan dia menyambut ulur hati merindu, dan Tejolaksono kini bersidakap, sikapnya tak acuh.
"Kakangmas .., ampunkan semua kesalahanku“
Sejenak Tejolaksono tertegun dan hatinya yang penuh cinta itu diliputi rasa heran dan kasihan. Inikah Endang Patibroto yang dahulu? Wanita perkasa yang pantang mundur menghadapi segala bahaya dan kesukaran? Wanita yang tak kenal takut dan tak pernah meruntuhkan air mata?
"Sesungguhnyakah engkau merasa bersalah, Endang Patibroto? Tidakkah yang kau lakukan itu malah benar karena kalau engkau tidak meninggalkan kami engkau pun akan mengalami segala kesengsaraan dan derita seperti yang kami alami?" Ucapan ini halus dan tidak kedengaran seperti orang marah, namun mengandung sindiran yang lebih tajam dan menyakitkan hati daripada kata-kata keras.
"Aduh Kakangmas ....”. Endang Patibroto tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan tangisnya makin mengguguk. Teringat ia betapa dahulu meninggalkan Selopenangkep karena terpaksa, pergi dengan hati hancur karena tidak mau menyusahkan hati Tejolaksono dan terutama sekali Ayu Candra. Teringat ia betapa ia hidup terlunta-lunta, melakukan perjalanan yang amat sengsara dalam keadaan mengandung bersama Setyaningsi betapa kemudian ia rela menjadi kepala dari gerombolan Wilis, hidup mengasingkan diri dari dunia ramai. Kemudian, terutama sekali ia teringat betapa tertimpa malapetaka yang hebat, diperkosa yang berarti dihina oleh Sindupati. Dan kini, setelah ia kehilangan puterinya yang dilarikan Nini Bumigarba sehingga ia terpaksa harus mencari ayah puterinya untuk dimintai bantuan, ia diserang dengan ucapan-ucapan penyesalan, ditusuk-tusuk perasaan hatinya yang sudah luka-luka membutuhkan obat dan hiburan itu. Pada saat itu, Ayu Candra yang memasuki taman menyusul suaminya yang ia tahu seperti biasanya duduk bersunyi diri di dalam taman, melihat suaminya berdiri dengan muka marah dan seorang wanita menangis di depan kakinya. Ayu Candra heran dan terkejut sekali, akan tetapi ketika ia meneliti dari jauh dan melihat bahwa wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto, ia menjerit sambil lari menghampiri.
"Endang Patibroto....!!!"
Serta-merta ia menubruk dan memeluk wanita yang sedang menangis itu dengan hati penuh keharuan dan kegirangan. Menghadapi penyambutan yang sama sekali di luar dugaannya ini, hati Endang Patibroto seperti diremas dan ia hanya dapat sesenggukan sambil mambalas rangkulan wanita yang menjadi madunya. Sungguh dia tidak menyangka penyambutan ini, karena sesungguhnya sebelum tiba di sana, Ayu Candralah yang ia khawatirkan akan menyambutnya dengan sikap bermusuh.
“.... Ayunda .... aku datang untuk ...untuk minta maaf....Kakanda Tejolaksono tidak sudi mengampunkan aku ....kuharap ....Ayunda memaafkan segala kesalahanku“ Endang Patibroto terisak-isak dalam rangkulan Ayu Candra.

Dengan mata terbelalak Ayu Candra memandang ke atas, ke arah wajah suaminya yang masih bersedakap dengan muka muram dan keras. Ia lalu berkata dengan lengan masih merangkul leher madunya
“Apa...? Bukan engkau yang harus minta maaf, Adikku ..sebaliknya akulah yang harus minta maaf kepadamu! Karena akulah, karena kebodohanku, karena kehancuran hatiku kehilangan puteraku ... aku telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatimu ... tidak, Endang Patibroto, bukan kau yang salah, melainkan aku!" Ayu Candra juga menangis.
"Alangkah mulia hatimu, Ayunda ...dan kemuliaanmu membuat aku merasa makin berdosa ...sehingga patutlah kalau Kakanda Tejolaksono tidak sudi memaafkan aku ..., biarlah aku pergi saja“
"Jangan ..Tidak boleh kau pergi, Endang Patibroto" Ayu Candra yang kini menangis sampai merangkul erat-erat. Kemudian Ayu Candra menarik Endang Patibroto bangun berdiri, menghadapi suaminya dan berkatalah wanita ini dengan muka basah air mata.
"Kakangmas, mengapa Paduka begini kejam terhadap Adinda Endang Patibroto?" Suara ini penuh tuntutan dan penuh teguran karena wanita ini maklum dengan penuh keyakinan betapa suaminya banyak berduka karena rindu kepada Endang Patibroto, betapa sesungguhnya suaminya amat mencinta Endang Patibroto. Mengapa kini suaminya seolah-olah marah dan menolak Endang Patibroto?
"Siapakah yang kejam, Diajeng?" Kini Ki Patih Tejolaksono mendapat kesempatan untuk mengeluarkan isi hatinya yang penuh kemarahan dan penyesalan.
"Siapakah yang pergi meninggalkan kita tanpa pamit, bahkan membawa pergi adinda Setyaningsih, menimbulkan banyak kedukaan pada keluarga kita? Andaikata dia tidak minggat, belum tentu Bibi Roro Luhito tewas dan belum tentu Adinda Pusporini lenyap. Andaikata dia berada di Selopenangkep, belum tentu kadipaten itu mudah dihancurkan musuh. Andaikata dia tidak pergi minggat, tentu seorang anak tidak akan dipisahkan dari ayahnya, bahkan kelahirannya pun di luar tahu ayahnya! Andaikata dia tidak pergi, belum tentu begitu banyak malapetaka terjadi dan begitu banyak kedukaan batin diderita“
"Aduh, Kakangmas ..!" Kalimat demi kalimat merupakan ujung keris yang menusuk-nusuk hati Endang Patibroto sehingga wanita itu mengeluh panjang dan pingsan dalam rangkulan Ayu Candra!
"Endang Patibroto...! Adikku cah-ayu .., ingatlah .. sadarlah ...! Ah, Kakangmas, betapa kejam hatimu ...!" Ayu Candra menangis mengguguk ketika melihat wajah Endang Patibroto yang pucat itu. Sesungguhnya, di dalam hati Ki Patih Tejolaksono terdapat cinta kasih yang amat besar terhadap Endang Patibroto. Kalau tadi ia bersikap keras adalah karena hatinya sedang kusut, pikirannya sedang ruwet memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Kini melihat wanita yang dicintanya itu roboh pingsan, ia menjadi amat kasihan. Tanpa banyak kata lagi ia lalu meraih tubuh Endang Patibroto dari rangkulan Ayu Candra.

Tubuh Endang Patibroto amat kuat. Hanya sebentar saja ia tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, ia telah rebah di sebuah pembaringan yang bersih dan indah. Ia belum membuka matanya, akan tetapi telinganya telah dapat mendengar kata-kata Ayu Candra. Ia tahu bahwa ia berada dalam kamar, dijaga oleh Ayu Candra dan Tejolaksono.
"Kakangmas sendiri dahulu mengerti bahwa kepergiannya adalah karena ucapanku yang timbul dari kedukaanku kehilangan Bagus Seta. Memang kita telah banyak menderita, akan tetapi apakah Paduka tidak ingat bahwa dia pun telah mengalami banyak penderitaan? Ketika Setyaningsih datang, aku sudah minta kepadamu untuk menyusul dan memboyong dia dan puterinya ke sini, akan tetapi Paduka mengatakan bahwa kalau dia menghendaki, dia akan datang sendiri. Kini dia telah datang, akan tetapi Paduka sambut dengan kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati. Padahal aku yakin betapa besar cinta kasih Paduka kepadanya! Betapa selama bertahun-tahun ini Paduka mengenangnya dengan hati berdarah. Kita semua sudah sama-sama menderita, setelah berkumpul kembali semestinya saling menghibur untuk menghilangkan semua kenangan duka."
Terdengar oleh Endang Patibroto betapa Tejolaksono menghela napas panjang.
"Aku dikuasai kemarahan karena dia telah membuat aku banyak berduka selama ini, Diajeng. Dan aku pun hanya ingin menguji apakah benar-benar sekali ini dia ingin hidup bersama kita” Tiba-tiba Tejolaksono menghentikan kata-katanya karena dia tahu bahwa Endang Patibroto sudah mulai menggerak-gerakkan pelupuk matanya, tanda bahwa dia mulai sadar. Ayu Candra juga melihat ini, maka wanita ini bangkit lalu berkata,
"Karena dia datang dalam keadaan, begini, tanpa membawa bekal, aku akan menyediakan semua keperluannya, Kakangmas. Juga aku akan memberi kabar kepada Setyaningsih agar datang berkunjung." Tanpa menanti jawaban, wanita yang bijaksana ini lalu meninggalkan kamar itu. Tejolaksono duduk di tepi pembaringan, memandang wajah Endang Patibroto. Setelah kini kemarahannya hilang, ia memandang wajah itu dengan penuh kerinduan dan cinta kasih. Hatinya terharu, dan terpesona memandang bulu mata yang panjang melengkung itu mulai bergerak-gerak, kemudian kelopak mata itu perlahan-lahan terbuka. Dua pasang mata beradu dan saling melekat sampai lama. Tak perlu lagi kiranya mulut mengeluarkan kata-kata kalau dari dua pasang mata itu keluar begitu banyak pernyataan yang hanya dapat ditangkap oleh rasa. Mulut dapat mengeluarkan seribu satu macam kata-kata bohong, namun sinar mata mencerminkan isi perasaan hati dan keduanya yakin betapa dalam cinta kasih di antara mereka melalui pandang mata mereka.
Melihat betapa perlahan-lahan sepasang mata yang amat tajam dan selalu dikaguminya itu mengalirkan air mata, Tejolaksono berkata halus,
"Kau ...kau maafkan kekasaranku tadi ...Diajeng“
Endang Patibroto tersedak oleh isaknya sendiri, lalu ia pun bangkit duduk.
"Sudah sepatutnya kalau Paduka marah kepadaku, Kakangmas ...kuharap kini Kakangmas dapat mengampunkan aku....”
"Aku maafkan semua perbuatanmu yang telah lalu, Endang Patibroto ...” Tejolaksono memegang kedua tangan kekasihnya ini dan jari-jari tangan mereka mengeluarkan getaran cinta kasih yang amat besar.
"Terima kasih, Kakangmas Tejolaksono”
"Duhai Adinda, betapa rindu kepadamu ... betapa kering melayu hatiku selama kautinggalkan ...Diajeng Endang Patibroto .. betapa besar cinta kasihku kepadamu...!" Ki Patih Tejolaksono merangkul leher wanita itu dengan kasih mesra. Akan tetapi tiba-tiba Endang Patibroto tersedu dan melepaskan diri dari pelukan, lalu meloncat turun ke bawah pembaringan dan berlutut di situ, menangis terisak-isak dan berkata dengan suara terputus-putus.
“....aduh Kakangmas pujaan hamba .....aahh, harap jangan sentuh aku, Kakangmas .....jangan membelai Endang Patibroto yang hina ini ...aku . aku.... telah ternoda, tidak bersih lagi... aku manusia hina yang sudah cemar ... Kakangmas, kau bunuh saja aku!!”

Wajah Ki Patih Tejolaksono menjadi pucat sekali. Ia cepat mengangkat bangun Endang Patibroto, ditariknya wanita itu duduk di tepi pembaringan menghadapinya dengan pandang mata tajam ia berkata,
"Diajeng Endang Patibroto. Apa artinya semua ini? Ceritakanlah apa yang telah terjadi sehingga Adinda bersikap seperti ini! Kita telah menjadi suami isteri, tidak boleh ada rahasia lagi di antara kita, Diajeng."
"Kakangmas ...malapetaka hebat telah menimpa diriku... membuat aku terhina, tercemar dan ternoda!!
"Ceritakanlah, ceritakanlah“ Tejolaksono mendesak tidak sabar lagi.
"Terjadinya di waktu aku mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan jodoh Setyaningsih" Endang Patibroto lalu bercerita tentang pertemuannya dengan orang yang mengaku bernama Warutama, kemudian betapa dalam keadaan pingsan dia diperkosa oleh Warutama. Semua dia ceritakan tanpa tedeng aling-aling dengan persiapan menghadapi segala akibatnya. Wanita perkasa ini maklum bahwa kalau hal itu tidak ceritakan kepada Tejolaksono, selalu akan ada jurang pemisah yang lebar terasa olehnya antara dia dan kekasihnya.
"Demikianlah, Kakangmas ... setelah dia pergi barulah teringat olehku bahwa orang yang wajahnya sudah berubah itu sebetulnya adalah si keparat Sindupati ..“
Ki Patih Tejolaksono bangkit berdiri, mukanya menjadi merah sekali, matanya terbelalak, kedua tangannya terkepal dan ia berkerot-kerot saking marahnya, mulutnya membisikkan kutukan hebat,
"Bedebah ……..!!!” Jantung Endang Patibroto serasa dirobek-robek dan wanita ini menjatuhkan diri berlutut di depan pria itu. "Duh Kakangmas ...aku rela kauhina, bahkan aku siap kaubunuh sekali pun .... memang aku wanita hina.... duh Ibunda ...... mengapa malapetaka yang menimpa Ibu dahulu kini menimpa anakmu pula?”
Tejolaksono membungkuk dan mengangkat bangun Endang Patibroto dengan memondongnya dan dengan penuh kasih sayang mendudukkan wanita itu kembali ke atas pembaringan, merangkul dan menciuminya.
"Tidak, kekasihku. Engkau sama sekali tidak hina! Aku tidak akan mengulang apa yang dahulu salah dilakukan oleh mendiang ayahmu. Dahulu pun, seperti engkau telah tahu, ibumu diperkosa orang .... ayahmu menyesal dan menyalahkannya, sehingga terjadilah ekor atau akibat yang amat hebat. Kini peristiwa seperti itu menimpa dirimu, Diajeng. Aku sama sekali tidak menyalahkan engkau, Diajeng yang bernasib malang ..... bukan kehendakmu terjadi hal seperti itu. Namun kita harus membalas kekejian Sindupati ....eh, kau bilang dia bernama Warutama sekarang? Si keparat! Dan dia menjadi Patih Jenggala! Celaka………!”

Endang Patibroto seolah-olah Gunung Semeru yang tadinya menindih perasaan hatinya kini telah lenyap, dadanya lapang hatinya merasa bahagia sekali. Dia tidak perduli apakah Warutama sekarang menjadi Patih Jenggala atau menjadi setan. Kegirangan hatinya mendapat kenyataan bahwa pria yang dicintanya ini tidak marah dan tidak menyalahkannya dalam peristiwa pemerkosaan itu membuat ia lupa segala. Dipeluknya Tejolaksono dan dengan sedu-sedan ia berbisik di dada suami itu,
"Aduh, terima kasih, Kakangmas .....terima kasih.... terima kasih..... !” Tejolaksono dapat memahami keharuan hati Endang Patibroto.

<<< Bagian 124                                                                                     Bagian 126 >>>

No comments:

Post a Comment