Tejolaksono memejamkan mata untuk menahan perasaan harunya mendengar suara wanita yang dicintanya ini menyebut namanya dengan getaran penuh duka dan penuh cinta kasih terpendam. Namun kemarahan hatinya yang sakit masih tidak mengijinkan dia menyambut ulur hati merindu, dan Tejolaksono kini bersidakap, sikapnya tak acuh.
"Kakangmas .., ampunkan
semua kesalahanku“
Sejenak Tejolaksono tertegun
dan hatinya yang penuh cinta itu diliputi rasa heran dan kasihan. Inikah Endang
Patibroto yang dahulu? Wanita perkasa yang pantang mundur menghadapi segala
bahaya dan kesukaran? Wanita yang tak kenal takut dan tak pernah meruntuhkan
air mata?
"Sesungguhnyakah engkau
merasa bersalah, Endang Patibroto? Tidakkah yang kau lakukan itu malah benar
karena kalau engkau tidak meninggalkan kami engkau pun akan mengalami segala
kesengsaraan dan derita seperti yang kami alami?" Ucapan ini halus dan
tidak kedengaran seperti orang marah, namun mengandung sindiran yang lebih
tajam dan menyakitkan hati daripada kata-kata keras.
"Aduh Kakangmas ....”.
Endang Patibroto tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan tangisnya makin
mengguguk. Teringat ia betapa dahulu meninggalkan Selopenangkep karena
terpaksa, pergi dengan hati hancur karena tidak mau menyusahkan hati
Tejolaksono dan terutama sekali Ayu Candra. Teringat ia betapa ia hidup
terlunta-lunta, melakukan perjalanan yang amat sengsara dalam keadaan
mengandung bersama Setyaningsi betapa kemudian ia rela menjadi kepala dari
gerombolan Wilis, hidup mengasingkan diri dari dunia ramai. Kemudian, terutama
sekali ia teringat betapa tertimpa malapetaka yang hebat, diperkosa yang
berarti dihina oleh Sindupati. Dan kini, setelah ia kehilangan puterinya yang
dilarikan Nini Bumigarba sehingga ia terpaksa harus mencari ayah puterinya
untuk dimintai bantuan, ia diserang dengan ucapan-ucapan penyesalan,
ditusuk-tusuk perasaan hatinya yang sudah luka-luka membutuhkan obat dan
hiburan itu. Pada saat itu, Ayu Candra yang memasuki taman menyusul suaminya
yang ia tahu seperti biasanya duduk bersunyi diri di dalam taman, melihat
suaminya berdiri dengan muka marah dan seorang wanita menangis di depan
kakinya. Ayu Candra heran dan terkejut sekali, akan tetapi ketika ia meneliti
dari jauh dan melihat bahwa wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto, ia
menjerit sambil lari menghampiri.
"Endang
Patibroto....!!!"
Serta-merta ia menubruk dan
memeluk wanita yang sedang menangis itu dengan hati penuh keharuan dan
kegirangan. Menghadapi penyambutan yang sama sekali di luar dugaannya ini, hati
Endang Patibroto seperti diremas dan ia hanya dapat sesenggukan sambil mambalas
rangkulan wanita yang menjadi madunya. Sungguh dia tidak menyangka penyambutan
ini, karena sesungguhnya sebelum tiba di sana, Ayu Candralah yang ia
khawatirkan akan menyambutnya dengan sikap bermusuh.
“.... Ayunda .... aku datang
untuk ...untuk minta maaf....Kakanda Tejolaksono tidak sudi mengampunkan aku
....kuharap ....Ayunda memaafkan segala kesalahanku“ Endang Patibroto
terisak-isak dalam rangkulan Ayu Candra.
Dengan mata terbelalak Ayu
Candra memandang ke atas, ke arah wajah suaminya yang masih bersedakap dengan
muka muram dan keras. Ia lalu berkata dengan lengan masih merangkul leher
madunya
“Apa...? Bukan engkau yang
harus minta maaf, Adikku ..sebaliknya akulah yang harus minta maaf kepadamu!
Karena akulah, karena kebodohanku, karena kehancuran hatiku kehilangan puteraku
... aku telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatimu ... tidak, Endang
Patibroto, bukan kau yang salah, melainkan aku!" Ayu Candra juga menangis.
"Alangkah mulia hatimu,
Ayunda ...dan kemuliaanmu membuat aku merasa makin berdosa ...sehingga patutlah
kalau Kakanda Tejolaksono tidak sudi memaafkan aku ..., biarlah aku pergi saja“
"Jangan ..Tidak boleh
kau pergi, Endang Patibroto" Ayu Candra yang kini menangis sampai
merangkul erat-erat. Kemudian Ayu Candra menarik Endang Patibroto bangun
berdiri, menghadapi suaminya dan berkatalah wanita ini dengan muka basah air
mata.
"Kakangmas, mengapa
Paduka begini kejam terhadap Adinda Endang Patibroto?" Suara ini penuh
tuntutan dan penuh teguran karena wanita ini maklum dengan penuh keyakinan
betapa suaminya banyak berduka karena rindu kepada Endang Patibroto, betapa
sesungguhnya suaminya amat mencinta Endang Patibroto. Mengapa kini suaminya
seolah-olah marah dan menolak Endang Patibroto?
"Siapakah yang kejam,
Diajeng?" Kini Ki Patih Tejolaksono mendapat kesempatan untuk mengeluarkan
isi hatinya yang penuh kemarahan dan penyesalan.
"Siapakah yang pergi
meninggalkan kita tanpa pamit, bahkan membawa pergi adinda Setyaningsih,
menimbulkan banyak kedukaan pada keluarga kita? Andaikata dia tidak minggat,
belum tentu Bibi Roro Luhito tewas dan belum tentu Adinda Pusporini lenyap.
Andaikata dia berada di Selopenangkep, belum tentu kadipaten itu mudah
dihancurkan musuh. Andaikata dia tidak pergi minggat, tentu seorang anak tidak
akan dipisahkan dari ayahnya, bahkan kelahirannya pun di luar tahu ayahnya!
Andaikata dia tidak pergi, belum tentu begitu banyak malapetaka terjadi dan
begitu banyak kedukaan batin diderita“
"Aduh, Kakangmas
..!" Kalimat demi kalimat merupakan ujung keris yang menusuk-nusuk hati
Endang Patibroto sehingga wanita itu mengeluh panjang dan pingsan dalam
rangkulan Ayu Candra!
"Endang Patibroto...!
Adikku cah-ayu .., ingatlah .. sadarlah ...! Ah, Kakangmas, betapa kejam hatimu
...!" Ayu Candra menangis mengguguk ketika melihat wajah Endang Patibroto
yang pucat itu. Sesungguhnya, di dalam hati Ki Patih Tejolaksono terdapat cinta
kasih yang amat besar terhadap Endang Patibroto. Kalau tadi ia bersikap keras
adalah karena hatinya sedang kusut, pikirannya sedang ruwet memikirkan hal-hal
yang tidak menyenangkan hatinya. Kini melihat wanita yang dicintanya itu roboh
pingsan, ia menjadi amat kasihan. Tanpa banyak kata lagi ia lalu meraih tubuh
Endang Patibroto dari rangkulan Ayu Candra.
Tubuh Endang Patibroto amat
kuat. Hanya sebentar saja ia tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, ia telah
rebah di sebuah pembaringan yang bersih dan indah. Ia belum membuka matanya,
akan tetapi telinganya telah dapat mendengar kata-kata Ayu Candra. Ia tahu
bahwa ia berada dalam kamar, dijaga oleh Ayu Candra dan Tejolaksono.
"Kakangmas sendiri
dahulu mengerti bahwa kepergiannya adalah karena ucapanku yang timbul dari
kedukaanku kehilangan Bagus Seta. Memang kita telah banyak menderita, akan
tetapi apakah Paduka tidak ingat bahwa dia pun telah mengalami banyak
penderitaan? Ketika Setyaningsih datang, aku sudah minta kepadamu untuk
menyusul dan memboyong dia dan puterinya ke sini, akan tetapi Paduka mengatakan
bahwa kalau dia menghendaki, dia akan datang sendiri. Kini dia telah datang,
akan tetapi Paduka sambut dengan kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati.
Padahal aku yakin betapa besar cinta kasih Paduka kepadanya! Betapa selama
bertahun-tahun ini Paduka mengenangnya dengan hati berdarah. Kita semua sudah
sama-sama menderita, setelah berkumpul kembali semestinya saling menghibur
untuk menghilangkan semua kenangan duka."
Terdengar oleh Endang
Patibroto betapa Tejolaksono menghela napas panjang.
"Aku dikuasai kemarahan
karena dia telah membuat aku banyak berduka selama ini, Diajeng. Dan aku pun
hanya ingin menguji apakah benar-benar sekali ini dia ingin hidup bersama kita”
Tiba-tiba Tejolaksono menghentikan kata-katanya karena dia tahu bahwa Endang
Patibroto sudah mulai menggerak-gerakkan pelupuk matanya, tanda bahwa dia mulai
sadar. Ayu Candra juga melihat ini, maka wanita ini bangkit lalu berkata,
"Karena dia datang
dalam keadaan, begini, tanpa membawa bekal, aku akan menyediakan semua
keperluannya, Kakangmas. Juga aku akan memberi kabar kepada Setyaningsih agar
datang berkunjung." Tanpa menanti jawaban, wanita yang bijaksana ini lalu
meninggalkan kamar itu. Tejolaksono duduk di tepi pembaringan, memandang wajah
Endang Patibroto. Setelah kini kemarahannya hilang, ia memandang wajah itu
dengan penuh kerinduan dan cinta kasih. Hatinya terharu, dan terpesona
memandang bulu mata yang panjang melengkung itu mulai bergerak-gerak, kemudian
kelopak mata itu perlahan-lahan terbuka. Dua pasang mata beradu dan saling
melekat sampai lama. Tak perlu lagi kiranya mulut mengeluarkan kata-kata kalau
dari dua pasang mata itu keluar begitu banyak pernyataan yang hanya dapat
ditangkap oleh rasa. Mulut dapat mengeluarkan seribu satu macam kata-kata
bohong, namun sinar mata mencerminkan isi perasaan hati dan keduanya yakin
betapa dalam cinta kasih di antara mereka melalui pandang mata mereka.
Melihat betapa
perlahan-lahan sepasang mata yang amat tajam dan selalu dikaguminya itu
mengalirkan air mata, Tejolaksono berkata halus,
"Kau ...kau maafkan
kekasaranku tadi ...Diajeng“
Endang Patibroto tersedak
oleh isaknya sendiri, lalu ia pun bangkit duduk.
"Sudah sepatutnya kalau
Paduka marah kepadaku, Kakangmas ...kuharap kini Kakangmas dapat mengampunkan
aku....”
"Aku maafkan semua
perbuatanmu yang telah lalu, Endang Patibroto ...” Tejolaksono memegang kedua
tangan kekasihnya ini dan jari-jari tangan mereka mengeluarkan getaran cinta
kasih yang amat besar.
"Terima kasih,
Kakangmas Tejolaksono”
"Duhai Adinda, betapa
rindu kepadamu ... betapa kering melayu hatiku selama kautinggalkan ...Diajeng
Endang Patibroto .. betapa besar cinta kasihku kepadamu...!" Ki Patih
Tejolaksono merangkul leher wanita itu dengan kasih mesra. Akan tetapi
tiba-tiba Endang Patibroto tersedu dan melepaskan diri dari pelukan, lalu
meloncat turun ke bawah pembaringan dan berlutut di situ, menangis terisak-isak
dan berkata dengan suara terputus-putus.
“....aduh Kakangmas pujaan
hamba .....aahh, harap jangan sentuh aku, Kakangmas .....jangan membelai Endang
Patibroto yang hina ini ...aku . aku.... telah ternoda, tidak bersih lagi...
aku manusia hina yang sudah cemar ... Kakangmas, kau bunuh saja aku!!”
Wajah Ki Patih Tejolaksono
menjadi pucat sekali. Ia cepat mengangkat bangun Endang Patibroto, ditariknya
wanita itu duduk di tepi pembaringan menghadapinya dengan pandang mata tajam ia
berkata,
"Diajeng Endang
Patibroto. Apa artinya semua ini? Ceritakanlah apa yang telah terjadi sehingga
Adinda bersikap seperti ini! Kita telah menjadi suami isteri, tidak boleh ada
rahasia lagi di antara kita, Diajeng."
"Kakangmas
...malapetaka hebat telah menimpa diriku... membuat aku terhina, tercemar dan
ternoda!!
"Ceritakanlah,
ceritakanlah“ Tejolaksono mendesak tidak sabar lagi.
"Terjadinya di waktu
aku mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan jodoh Setyaningsih"
Endang Patibroto lalu bercerita tentang pertemuannya dengan orang yang mengaku
bernama Warutama, kemudian betapa dalam keadaan pingsan dia diperkosa oleh
Warutama. Semua dia ceritakan tanpa tedeng aling-aling dengan persiapan
menghadapi segala akibatnya. Wanita perkasa ini maklum bahwa kalau hal itu
tidak ceritakan kepada Tejolaksono, selalu akan ada jurang pemisah yang lebar
terasa olehnya antara dia dan kekasihnya.
"Demikianlah, Kakangmas
... setelah dia pergi barulah teringat olehku bahwa orang yang wajahnya sudah
berubah itu sebetulnya adalah si keparat Sindupati ..“
Ki Patih Tejolaksono bangkit
berdiri, mukanya menjadi merah sekali, matanya terbelalak, kedua tangannya
terkepal dan ia berkerot-kerot saking marahnya, mulutnya membisikkan kutukan
hebat,
"Bedebah ……..!!!”
Jantung Endang Patibroto serasa dirobek-robek dan wanita ini menjatuhkan diri
berlutut di depan pria itu. "Duh Kakangmas ...aku rela kauhina, bahkan aku
siap kaubunuh sekali pun .... memang aku wanita hina.... duh Ibunda ......
mengapa malapetaka yang menimpa Ibu dahulu kini menimpa anakmu pula?”
Tejolaksono membungkuk dan
mengangkat bangun Endang Patibroto dengan memondongnya dan dengan penuh kasih
sayang mendudukkan wanita itu kembali ke atas pembaringan, merangkul dan
menciuminya.
"Tidak, kekasihku.
Engkau sama sekali tidak hina! Aku tidak akan mengulang apa yang dahulu salah
dilakukan oleh mendiang ayahmu. Dahulu pun, seperti engkau telah tahu, ibumu
diperkosa orang .... ayahmu menyesal dan menyalahkannya, sehingga terjadilah
ekor atau akibat yang amat hebat. Kini peristiwa seperti itu menimpa dirimu,
Diajeng. Aku sama sekali tidak menyalahkan engkau, Diajeng yang bernasib malang
..... bukan kehendakmu terjadi hal seperti itu. Namun kita harus membalas
kekejian Sindupati ....eh, kau bilang dia bernama Warutama sekarang? Si
keparat! Dan dia menjadi Patih Jenggala! Celaka………!”
Endang Patibroto seolah-olah
Gunung Semeru yang tadinya menindih perasaan hatinya kini telah lenyap, dadanya
lapang hatinya merasa bahagia sekali. Dia tidak perduli apakah Warutama
sekarang menjadi Patih Jenggala atau menjadi setan. Kegirangan hatinya mendapat
kenyataan bahwa pria yang dicintanya ini tidak marah dan tidak menyalahkannya
dalam peristiwa pemerkosaan itu membuat ia lupa segala. Dipeluknya Tejolaksono
dan dengan sedu-sedan ia berbisik di dada suami itu,
"Aduh,
terima kasih, Kakangmas .....terima kasih.... terima kasih..... !” Tejolaksono
dapat memahami keharuan hati Endang Patibroto.
No comments:
Post a Comment