Ki Patih Tejolaksono menjadi gembira sekali menyaksikan kerendahan hati dan keramahan pangeran muda itu. Dia tersenyum dan berkata,
"Baiklah, Adinda
Pangeran, silahkan duduk. Sungguh amat besar rasa bahagia di hati saya mendengar
bahwa Adinda Pangeran berkenan mengambil Yayi Setyaningsih sebagai
isteri."
"Setyaningsih, kau
bocah nakal! Sungguh terlalu sekali, mengapa menikah secara diam-diam saja
tidak mengundang kami? Betapa tega hatimu ....melupakan kami ...." Ayu
Candra menegur.
Setyaningsih menunduk.
"Maafkan saya, Ayunda.
Sesungguhnya, belum lama saya dinikahkan secara sederhana di Wilis. Ayunda
Endang Patibroto menghendaki demikian, dan dia adalah ketua Padepokan Wilis dan
tinggal di sana semenjak ...semenjak pergi dari Selopenangkep.”
"Aduh Dewa ... Kasihan
sekali Endang Patibroto!" Ayu Candra terisak menangis sedangkan Ki Patih
Tejolaksono mengerutkan keningnya, merasa jantungnya seperti ditusuk keris
berbisa.
"Ohhh, Endang
Patibroto, mengapa engkau meninggalkan kami dan hidup bersunyi sendiri di
puncak Wilis? Ah, betapa besar penderitaanmu” Kembali Ayu Candra menangis, dan
Setyaningsih ikut pula menangis.
Ki Patih Tejolaksono
menghela napas panjang lalu berkata, suaranya menggetar namun nadanya senang,
"Sudahlah, tidak perlu
disedihkan karena hal itu sudah terlewat. Kurasa, penderitaannya tidaklah lebih
besar daripada penderitaan kita, bahkan mungkin sekali dia lebih senang karena
dapat hidup tenteram dan damai di puncak Wilis, tidak seperti kita yang selalu
tertimpa keributan dan kekacauan perang."
Ayu Candra terhibur pula
dengan ucapan suaminya yang cukup beralasan ini, maka sambil menyusut air
matanya ia lalu bertanya,
"Adinda Setyaningsih,
bagaimana ...bagaimana dengan puteranya?”
Setyaningsih mengerling ke
arah Ki Patih Tejolaksono dan menjawab perlahan,
"Ayunda Endang
Patibroto mempunyai seorang puteri, namanya Retna Wilis, keponakanku cantik
manis dan amat pintar. Kini telah berusia enam tahun dan bahkan baru-baru ini
mendapatkan seorang guru yang sakti mandraguna, yaitu Eyang Resi Datujiwa“
"Aahhhh, Kakangmas
..Paduka harus menyusul ke Wilis, harus memboyong Adinda Endang Patibroto dan
Nini Retna Wilis! Endang Patibroto adalah isteri Paduka dan Retna Wilis adalah
puteri Paduka, anak kita ..ah, Kakangmas, Paduka harus memboyong mereka ibu dan
anak ... harus!” Ayu Candra terisak menangis.
Pangeran Panji Sigit
bertukar pandang, dengan isterinya. Pangeran muda ini telah mendengar dari
isterinya bahwa Retna Wilis adalah puteri Tejolaksono, bahkan Endang Patibroto,
kakak iparnya yang telah menjadi janda itu telah menjadi isteri Ki Patih
Tejolaksono. Ia hanya menunduk dan mendengarkan dengan terharu, merasa kasihan
kepada Endang Patibroto dan puterinya, dan merasa kagum akan kehalusan budi Ayu
Candra.
"Diajeng Ayu Candra,
apakah engkau sudah lupa akan watak Endang Patibroto? Kalau dia sudah mengambil
keputusan, siapakah yang akan mampu merubahnya? Kalau dia menghendaki untuk
hidup bersama kita, tentu dia akan datang sendiri, sebaliknya kalau dia tidak
menghendaki, disusul pun apa gunanya? Kita harus mengucap syukur bahwa dia
masih dalam keadaan selamat, demikian puteri kita ...Retna Wilis" Ketika
menyebut nama ini, suara Ki Patih Tejolaksono agak menggigil karena ia merasa
terharu sekali. Dia mempunyai seorang putera, namun Bagus Seta itu semenjak
kecil dibawa pergi orang-orang sakti dan belum juga kembali. Dia mempunyai
seorang puteri pula, namun selama hidupnya belum pernah ia melihat puterinya
yang sudah berusia enam tahun itu!
Setelah menarik napas
panjang menenangkan penderitaan batinnya, Tejolaksono lalu berkata kepada
Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit,
"Sebaiknya Adinda
berdua kini menceritakan pengalaman Andika."
Tiba-tiba wajah Pangeran
Panji Sigit yang tampan itu menjadi muram dan ia berkata,
"Ah, Rakanda Patih,
kedatangan kami berdua membawa berita yang amat buruk dari Jenggala."
Ki Tejolaksono
mengangguk-angguk
"Kami di Panjalu telah
mendengar berita terbawa angin lalu bahwa di Jenggala terjadi
kekacauan-kekacauan, bahkan kabarnya Paman Patih Brotomenggala yang setia itu
melakukan pengkhianatan sehingga seluruh keluarga dihukum mati. Sampai di
manakah kebenaran berita ini Adinda Pangeran?"
"Duh Rakanda Patih,
memang seperti mimpi buruk apa yang terjadi di Jenggala. Bukan itu saja, bahkan
...Ibunda Ratu sendiri kini telah diasingkan di pembuangan yang terletak di
kaki Gunung Anjasmoro .....“
"Aduh para dewata yang
agung! Sampai sedemikian jauhnya? Mengapa ...?
"Fitnah, Rakanda!
Fitnah merajalela di Jenggala dan Ramanda Prabu telah dicengkeram persekutuan yang
lebih jahat dan keji daripada iblis-iblis sendiri!" Dengan penuh semangat
namun dengan suara penuh duka Pangeran Panji Sigit lalu menceritakan keadaan di
Jenggala seperti yang ia dengar dari mulut sang ratu sendiri. Ki Patih
Tejolaksono dan Ayu Candra mendengarkan dengan wajah berubah pucat dan mata
terbelalak. Setelah Pangeran Panji Sigit selesai bercerita, Ki Patih
Tejolaksono memukul pahanya sendiri sampai mengeluarkan bunyi nyaring.
"Hebat ………! Sang Prabu
di Panjalu selalu merasa sungkan untuk mencampuri urusan dalam istana Jenggala.
Akan tetapi kalau keadaan sudah sedemikian rusaknya, hal ini sebaiknya harus
dilaporkan kepada sang prabu!"
"Memang kedatangan saya
di Panjalu ini selain mengunjungi Rakanda Patih, juga menurut nasehat dari
Ibunda ratu untuk minta bantuan Uwa Prabu di Panjalu agar Kerajaan Jenggala
dapat diselamatkan dan dibersihkan daripada pengaruh anasir-anasir jahat itu,
Rakanda."
"Bagus! Kalau begitu,
marilah sekaang juga kuantarkan Adinda Pangeran menghadap sang prabu.”
Sang prabu di Panjalu
menerima kunjungan keponakannya dengan penuh keramahan, akan tetapi ketika Sang
Pangeran Panji Sigit menceritakan tentang keadaan di Jenggala, sang prabu
menjadi kaget dan keningnya berkerut-kerut.
"Duh Jagad Dewa
Bathara! Mengapa yayi prabu sampai terperosok begitu dalam?"
"Gusti sesembahan
hamba," Ki Patih Tejolaksono berkata,
"hamba teringat akan
wejangan Sang Sakti Bhagawan Ekadenta akan awan gelap yang mengancam
keselamatan kerajaan keturunan Mataram. Hal ini cocok benar dengan lenyapnya huru-hara
yang tadinya ditimbulkan oleh orang-orang Sriwijaya dan Cola. Bukan tidak
mungkin kalau mereka itu yang berhasil menyelundup ke Jenggala dan merusak
Jenggala dari dalam Gusti. Mohon beribu ampun, bukan sekali-kali hamba hendak
bersikap lancang akan tetapi sebaiknya hal ini tidak didiamkan saja dan sudah
sepatutnya kalau hamba menerima perintah Paduka untuk membawa pasukan pilihan
dan membersihkan Jenggala daripada pengaruh-pengaruh jahat itu, Gusti."
Sang prabu tersenyum tenang.
"Memang sudah sepatutnya
kalau engkau sebagai patih muda bersiap-siap untuk membela Jenggala karena
Kerajaan Jenggala merupakan kerajaan keluarga kami. Akan tetapi wawasanmu itu
kurang tepat dan agaknya tidak akan bijaksana kalau dilaksanakan, Patih
'Tejolaksono."
"Bolehkah hamba
mengetahui mengapa tidak bijaksana kalau dilaksanakan, Gusti? Padahal Jenggala
sungguh amat membutuhkan bantuan."
"Engkau harus ingat
bahwa keadaan di Jenggala itu bukan terjadi karena pengaruh dari luar yang
dipaksakan, melainkan semua terjadi atas kehendak yayi prabu sendiri. Kalau
kita mencampurinya, hal itu amatlah tidak baik dan pula tidak semestinya,
patihku yang setia. Jangan-jangan malah akan menimbulkan salah faham dari pihak
yayi prabu sendiri. Tentu saja akan menjadi lain persoalannya kalau yayi prabu
sendiri yang mengajukan permintaan bantuan secara resmi, tentu akan kukerahkan
bala tentara Panjalu untuk menyelamatkan Jenggala, tetapi, keadaannya lain sama
sekali. Belum tiba saatnya bagi kita untuk turun tangan."
Mau tidak mau Tejolaksono harus
mengakui kebenaran pendapat junjungannya ini dan dia tidak berani membantah
pula. Pangeran Panji Sigit sebagai keponakan sang prabu, diminta untuk membawa
isterinya dan berada di istana. Sejak hari itulah, pikiran Ki Patih Tejolaksono
terganggu. Hatinya selalu memikirkan keadaan Jenggala dan ia amat tidak puas
dengan keputusan sang prabu. Dan pada sore hari itu, Ki Patih Tejolaksono
termenung seorang diri di dalam taman bunga. Hatinya merasa yakin bahwa
dugaannya pasti tidak meleset jauh, bahwa ada tangan-tangan kotor dari
Sriwijaya dan Cola yang menyebabkan kekeruhan di Jenggala. Kalau ia teringat
kepada orang-orang sakti seperti Sang Biku Janapati, apalagi Sang Wasi
Bagaspati, dengan anak buah mereka yang sakti mandraguna seperti Cekel
Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Sariwuni, ia bergidik dan
merasa ngeri. Kalau orang-orang yang amat sakti dan jahat seperti mereka itu,
menandingi iblis sendiri, yang sedang mengacau Jenggala, akan hebat dan
mengerikan akibatnya.
Ketika senja hari itu Endang
Patibroto menggunakan kepandaiannya menyelundup ke Kota Raja Panjalu kemudian
secara rahasia ia melompati dinding kepatihan dan memasuki taman bunga, pada
saat itu kebetulan Ki Patih Tejolaksono sedang termenung seorang diri di alam
taman itu.
"Kakangmas....."
Lirih sekali panggilan yang keluar dari mulut Endang Patibroto yang berdiri
dengan muka pucat dan air mata bercucuran ketika ia memandang pria yang amat
dicintanya itu. Hatinya diliputi keharuan. Kekasihnya itu kini sudah agak tua,
rambutnya di atas telinga telah mulai bercampur uban, wajahnya yang masih
tampan dan gagah itu penuh garis-garis derita batin. Apalagi dalam keadaan
termenung itu, wajah Tejolaksono kelihatan susah dan murung. Ki Patih
Tejolaksono sedang tenggelam dalam lamunannya, memikirkan keadaan Jenggala,
memikirkan Endang Patibroto dan puterinya yang belum pernah dilihatnya itu,
memikirkan Bagus Seta yang belum juga kembali, sehingga ia agaknya tidak
mendengar panggilan halus lirih itu.
"Kakangmas
Tejolaksono....“
Ki Patih Tejolaksono
tersentak kaget lalu bangkit dari duduknya sambil membalikkan tubuh. Matanya
terbelalak, wajahnya pucat, sejenak ia mengejap-ngejapkan matanya, bahkan
menggunakan tangan menggosok kedua matanya karena ia khawatir kalau-kalau
renungannya membuat ia seperti mimpi. Benarkah wanita yang berdiri dengan air
mata bercucuran ini Endang Patibroto, wanita yang tak pernah dia lupakan selama
ini, yang selalu ia rindukan, yang membuat ia merana dan duka? Tidak salah
lagi. Tak ada wanita ke dua di dunia ini seperti Endang Patibroto. Memang agak
tua, dan wajah yang cantik itu lesu dan membayangkan kedukaan hebat, rambut
yang hitam panjang itu kusut, pakaiannya pun lusuh. Akan tetapi dia tetap
Endang Patibroto!
Sejenak mereka berpandangan,
muka Ki Patih Tejolaksono pucat, air mata makin deras mengucur dari kedua mata
Endang Patibroto. Bibir kedua orang itu menggigil, bergerak-gerak namun tidak
ada suara yang keluar. Akhirnya Ki Patih Tejolaksono mengeluarkan suara lirih
dan serak,
"Engkau ....??"
Dalam suara bisikan ini terkandung segala kerinduan, segala harapan, dan segala
teguran, membuat Endang Patibroto terisak lalu wanita itu lari menghampiri,
langsung menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tejolaksono dan merangkul
kedua kaki pria itu. Tejolaksono berdiri seperti arca, menunduk dan memandang
kepala yang rambutnya kusut, memandang sepasang pundak yang terguncang-guncang
karena tangis. Setelah kini wanita itu merangkul kakinya, setelah ia merasa
betapa betisnya basah kejatuhan air mata, yakinlah hati Tejolaksono bahwa benar
Endang Patibroto yang kini berlutut di depan kakinya. Hatinya menjeritkan
kerinduan, hasratnya mendorong-dorongnya untuk memeluk dan menciumi wanita yang
amat dicintanya ini. Akan tetapi melihat Endang Patibroto, teringatlah ia akan
semua penderitaan yang dialami keluarga semenjak Endang Patibroto lolos dari
Selopenangkep tanpa pamit. Teringatlah ia betapa ia hidup nelangsa dan terbenam
kerinduan dan kedukaan ditinggal, pergi Endang Patibroto. Teringatlah betapa
kejam hati Endang Patibroto meninggalkannya, memutuskan cinta kasih mereka yang
sedang hangat-hangatnya dan timbullah kemarahan di hati Tejolaksono.
"Endang Patibroto,
engkau yang sudah minggat meninggalkan kami tanpa memperdulikan kami, sekarang
datang ada keperluan apakah?"
Endang Patibroto
menengadahkan muka yang basah air mata, memandang ke wajah pria yang dicintanya
itu. Akan tetapi ketika ia mendengar suara itu, suara yang dingin sekali,
melihat wajah yang tak bersemangat, melihat yang menatapnya penuh penyesalan
dan sikap yang acuh tak acuh, jantungnya seperti ditusuk-tusuk jarum dan wanita
itu tersedu-sedu.
"Kakangmas Tejolaksono
....“ Rintihan suara Endang Patibroto ini tersendat-sendat dan sukarlah baginya
untuk melanjutkan kata-katanya karena tangisnya membuat tenggorokannya seperti
tersumbat.
No comments:
Post a Comment