Perawan Lembah Wilis; Bagian 124


Ki Patih Tejolaksono menjadi gembira sekali menyaksikan kerendahan hati dan keramahan pangeran muda itu. Dia tersenyum dan berkata,
"Baiklah, Adinda Pangeran, silahkan duduk. Sungguh amat besar rasa bahagia di hati saya mendengar bahwa Adinda Pangeran berkenan mengambil Yayi Setyaningsih sebagai isteri."
"Setyaningsih, kau bocah nakal! Sungguh terlalu sekali, mengapa menikah secara diam-diam saja tidak mengundang kami? Betapa tega hatimu ....melupakan kami ...." Ayu Candra menegur.
Setyaningsih menunduk.
"Maafkan saya, Ayunda. Sesungguhnya, belum lama saya dinikahkan secara sederhana di Wilis. Ayunda Endang Patibroto menghendaki demikian, dan dia adalah ketua Padepokan Wilis dan tinggal di sana semenjak ...semenjak pergi dari Selopenangkep.”
"Aduh Dewa ... Kasihan sekali Endang Patibroto!" Ayu Candra terisak menangis sedangkan Ki Patih Tejolaksono mengerutkan keningnya, merasa jantungnya seperti ditusuk keris berbisa.
"Ohhh, Endang Patibroto, mengapa engkau meninggalkan kami dan hidup bersunyi sendiri di puncak Wilis? Ah, betapa besar penderitaanmu” Kembali Ayu Candra menangis, dan Setyaningsih ikut pula menangis.
Ki Patih Tejolaksono menghela napas panjang lalu berkata, suaranya menggetar namun nadanya senang,
"Sudahlah, tidak perlu disedihkan karena hal itu sudah terlewat. Kurasa, penderitaannya tidaklah lebih besar daripada penderitaan kita, bahkan mungkin sekali dia lebih senang karena dapat hidup tenteram dan damai di puncak Wilis, tidak seperti kita yang selalu tertimpa keributan dan kekacauan perang."

Ayu Candra terhibur pula dengan ucapan suaminya yang cukup beralasan ini, maka sambil menyusut air matanya ia lalu bertanya,
"Adinda Setyaningsih, bagaimana ...bagaimana dengan puteranya?”
Setyaningsih mengerling ke arah Ki Patih Tejolaksono dan menjawab perlahan,
"Ayunda Endang Patibroto mempunyai seorang puteri, namanya Retna Wilis, keponakanku cantik manis dan amat pintar. Kini telah berusia enam tahun dan bahkan baru-baru ini mendapatkan seorang guru yang sakti mandraguna, yaitu Eyang Resi Datujiwa“
"Aahhhh, Kakangmas ..Paduka harus menyusul ke Wilis, harus memboyong Adinda Endang Patibroto dan Nini Retna Wilis! Endang Patibroto adalah isteri Paduka dan Retna Wilis adalah puteri Paduka, anak kita ..ah, Kakangmas, Paduka harus memboyong mereka ibu dan anak ... harus!” Ayu Candra terisak menangis.
Pangeran Panji Sigit bertukar pandang, dengan isterinya. Pangeran muda ini telah mendengar dari isterinya bahwa Retna Wilis adalah puteri Tejolaksono, bahkan Endang Patibroto, kakak iparnya yang telah menjadi janda itu telah menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono. Ia hanya menunduk dan mendengarkan dengan terharu, merasa kasihan kepada Endang Patibroto dan puterinya, dan merasa kagum akan kehalusan budi Ayu Candra.
"Diajeng Ayu Candra, apakah engkau sudah lupa akan watak Endang Patibroto? Kalau dia sudah mengambil keputusan, siapakah yang akan mampu merubahnya? Kalau dia menghendaki untuk hidup bersama kita, tentu dia akan datang sendiri, sebaliknya kalau dia tidak menghendaki, disusul pun apa gunanya? Kita harus mengucap syukur bahwa dia masih dalam keadaan selamat, demikian puteri kita ...Retna Wilis" Ketika menyebut nama ini, suara Ki Patih Tejolaksono agak menggigil karena ia merasa terharu sekali. Dia mempunyai seorang putera, namun Bagus Seta itu semenjak kecil dibawa pergi orang-orang sakti dan belum juga kembali. Dia mempunyai seorang puteri pula, namun selama hidupnya belum pernah ia melihat puterinya yang sudah berusia enam tahun itu!

Setelah menarik napas panjang menenangkan penderitaan batinnya, Tejolaksono lalu berkata kepada Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit,
"Sebaiknya Adinda berdua kini menceritakan pengalaman Andika."
Tiba-tiba wajah Pangeran Panji Sigit yang tampan itu menjadi muram dan ia berkata,
"Ah, Rakanda Patih, kedatangan kami berdua membawa berita yang amat buruk dari Jenggala."
Ki Tejolaksono mengangguk-angguk
"Kami di Panjalu telah mendengar berita terbawa angin lalu bahwa di Jenggala terjadi kekacauan-kekacauan, bahkan kabarnya Paman Patih Brotomenggala yang setia itu melakukan pengkhianatan sehingga seluruh keluarga dihukum mati. Sampai di manakah kebenaran berita ini Adinda Pangeran?"
"Duh Rakanda Patih, memang seperti mimpi buruk apa yang terjadi di Jenggala. Bukan itu saja, bahkan ...Ibunda Ratu sendiri kini telah diasingkan di pembuangan yang terletak di kaki Gunung Anjasmoro .....“
"Aduh para dewata yang agung! Sampai sedemikian jauhnya? Mengapa ...?
"Fitnah, Rakanda! Fitnah merajalela di Jenggala dan Ramanda Prabu telah dicengkeram persekutuan yang lebih jahat dan keji daripada iblis-iblis sendiri!" Dengan penuh semangat namun dengan suara penuh duka Pangeran Panji Sigit lalu menceritakan keadaan di Jenggala seperti yang ia dengar dari mulut sang ratu sendiri. Ki Patih Tejolaksono dan Ayu Candra mendengarkan dengan wajah berubah pucat dan mata terbelalak. Setelah Pangeran Panji Sigit selesai bercerita, Ki Patih Tejolaksono memukul pahanya sendiri sampai mengeluarkan bunyi nyaring.
"Hebat ………! Sang Prabu di Panjalu selalu merasa sungkan untuk mencampuri urusan dalam istana Jenggala. Akan tetapi kalau keadaan sudah sedemikian rusaknya, hal ini sebaiknya harus dilaporkan kepada sang prabu!"
"Memang kedatangan saya di Panjalu ini selain mengunjungi Rakanda Patih, juga menurut nasehat dari Ibunda ratu untuk minta bantuan Uwa Prabu di Panjalu agar Kerajaan Jenggala dapat diselamatkan dan dibersihkan daripada pengaruh anasir-anasir jahat itu, Rakanda."
"Bagus! Kalau begitu, marilah sekaang juga kuantarkan Adinda Pangeran menghadap sang prabu.”

Sang prabu di Panjalu menerima kunjungan keponakannya dengan penuh keramahan, akan tetapi ketika Sang Pangeran Panji Sigit menceritakan tentang keadaan di Jenggala, sang prabu menjadi kaget dan keningnya berkerut-kerut.
"Duh Jagad Dewa Bathara! Mengapa yayi prabu sampai terperosok begitu dalam?"
"Gusti sesembahan hamba," Ki Patih Tejolaksono berkata,
"hamba teringat akan wejangan Sang Sakti Bhagawan Ekadenta akan awan gelap yang mengancam keselamatan kerajaan keturunan Mataram. Hal ini cocok benar dengan lenyapnya huru-hara yang tadinya ditimbulkan oleh orang-orang Sriwijaya dan Cola. Bukan tidak mungkin kalau mereka itu yang berhasil menyelundup ke Jenggala dan merusak Jenggala dari dalam Gusti. Mohon beribu ampun, bukan sekali-kali hamba hendak bersikap lancang akan tetapi sebaiknya hal ini tidak didiamkan saja dan sudah sepatutnya kalau hamba menerima perintah Paduka untuk membawa pasukan pilihan dan membersihkan Jenggala daripada pengaruh-pengaruh jahat itu, Gusti."
Sang prabu tersenyum tenang.
"Memang sudah sepatutnya kalau engkau sebagai patih muda bersiap-siap untuk membela Jenggala karena Kerajaan Jenggala merupakan kerajaan keluarga kami. Akan tetapi wawasanmu itu kurang tepat dan agaknya tidak akan bijaksana kalau dilaksanakan, Patih 'Tejolaksono."
"Bolehkah hamba mengetahui mengapa tidak bijaksana kalau dilaksanakan, Gusti? Padahal Jenggala sungguh amat membutuhkan bantuan."
"Engkau harus ingat bahwa keadaan di Jenggala itu bukan terjadi karena pengaruh dari luar yang dipaksakan, melainkan semua terjadi atas kehendak yayi prabu sendiri. Kalau kita mencampurinya, hal itu amatlah tidak baik dan pula tidak semestinya, patihku yang setia. Jangan-jangan malah akan menimbulkan salah faham dari pihak yayi prabu sendiri. Tentu saja akan menjadi lain persoalannya kalau yayi prabu sendiri yang mengajukan permintaan bantuan secara resmi, tentu akan kukerahkan bala tentara Panjalu untuk menyelamatkan Jenggala, tetapi, keadaannya lain sama sekali. Belum tiba saatnya bagi kita untuk turun tangan."
Mau tidak mau Tejolaksono harus mengakui kebenaran pendapat junjungannya ini dan dia tidak berani membantah pula. Pangeran Panji Sigit sebagai keponakan sang prabu, diminta untuk membawa isterinya dan berada di istana. Sejak hari itulah, pikiran Ki Patih Tejolaksono terganggu. Hatinya selalu memikirkan keadaan Jenggala dan ia amat tidak puas dengan keputusan sang prabu. Dan pada sore hari itu, Ki Patih Tejolaksono termenung seorang diri di dalam taman bunga. Hatinya merasa yakin bahwa dugaannya pasti tidak meleset jauh, bahwa ada tangan-tangan kotor dari Sriwijaya dan Cola yang menyebabkan kekeruhan di Jenggala. Kalau ia teringat kepada orang-orang sakti seperti Sang Biku Janapati, apalagi Sang Wasi Bagaspati, dengan anak buah mereka yang sakti mandraguna seperti Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Sariwuni, ia bergidik dan merasa ngeri. Kalau orang-orang yang amat sakti dan jahat seperti mereka itu, menandingi iblis sendiri, yang sedang mengacau Jenggala, akan hebat dan mengerikan akibatnya.

Ketika senja hari itu Endang Patibroto menggunakan kepandaiannya menyelundup ke Kota Raja Panjalu kemudian secara rahasia ia melompati dinding kepatihan dan memasuki taman bunga, pada saat itu kebetulan Ki Patih Tejolaksono sedang termenung seorang diri di alam taman itu.
"Kakangmas....." Lirih sekali panggilan yang keluar dari mulut Endang Patibroto yang berdiri dengan muka pucat dan air mata bercucuran ketika ia memandang pria yang amat dicintanya itu. Hatinya diliputi keharuan. Kekasihnya itu kini sudah agak tua, rambutnya di atas telinga telah mulai bercampur uban, wajahnya yang masih tampan dan gagah itu penuh garis-garis derita batin. Apalagi dalam keadaan termenung itu, wajah Tejolaksono kelihatan susah dan murung. Ki Patih Tejolaksono sedang tenggelam dalam lamunannya, memikirkan keadaan Jenggala, memikirkan Endang Patibroto dan puterinya yang belum pernah dilihatnya itu, memikirkan Bagus Seta yang belum juga kembali, sehingga ia agaknya tidak mendengar panggilan halus lirih itu.
"Kakangmas Tejolaksono....“
Ki Patih Tejolaksono tersentak kaget lalu bangkit dari duduknya sambil membalikkan tubuh. Matanya terbelalak, wajahnya pucat, sejenak ia mengejap-ngejapkan matanya, bahkan menggunakan tangan menggosok kedua matanya karena ia khawatir kalau-kalau renungannya membuat ia seperti mimpi. Benarkah wanita yang berdiri dengan air mata bercucuran ini Endang Patibroto, wanita yang tak pernah dia lupakan selama ini, yang selalu ia rindukan, yang membuat ia merana dan duka? Tidak salah lagi. Tak ada wanita ke dua di dunia ini seperti Endang Patibroto. Memang agak tua, dan wajah yang cantik itu lesu dan membayangkan kedukaan hebat, rambut yang hitam panjang itu kusut, pakaiannya pun lusuh. Akan tetapi dia tetap Endang Patibroto!
Sejenak mereka berpandangan, muka Ki Patih Tejolaksono pucat, air mata makin deras mengucur dari kedua mata Endang Patibroto. Bibir kedua orang itu menggigil, bergerak-gerak namun tidak ada suara yang keluar. Akhirnya Ki Patih Tejolaksono mengeluarkan suara lirih dan serak,
"Engkau ....??" Dalam suara bisikan ini terkandung segala kerinduan, segala harapan, dan segala teguran, membuat Endang Patibroto terisak lalu wanita itu lari menghampiri, langsung menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tejolaksono dan merangkul kedua kaki pria itu. Tejolaksono berdiri seperti arca, menunduk dan memandang kepala yang rambutnya kusut, memandang sepasang pundak yang terguncang-guncang karena tangis. Setelah kini wanita itu merangkul kakinya, setelah ia merasa betapa betisnya basah kejatuhan air mata, yakinlah hati Tejolaksono bahwa benar Endang Patibroto yang kini berlutut di depan kakinya. Hatinya menjeritkan kerinduan, hasratnya mendorong-dorongnya untuk memeluk dan menciumi wanita yang amat dicintanya ini. Akan tetapi melihat Endang Patibroto, teringatlah ia akan semua penderitaan yang dialami keluarga semenjak Endang Patibroto lolos dari Selopenangkep tanpa pamit. Teringatlah ia betapa ia hidup nelangsa dan terbenam kerinduan dan kedukaan ditinggal, pergi Endang Patibroto. Teringatlah betapa kejam hati Endang Patibroto meninggalkannya, memutuskan cinta kasih mereka yang sedang hangat-hangatnya dan timbullah kemarahan di hati Tejolaksono.
"Endang Patibroto, engkau yang sudah minggat meninggalkan kami tanpa memperdulikan kami, sekarang datang ada keperluan apakah?"

Endang Patibroto menengadahkan muka yang basah air mata, memandang ke wajah pria yang dicintanya itu. Akan tetapi ketika ia mendengar suara itu, suara yang dingin sekali, melihat wajah yang tak bersemangat, melihat yang menatapnya penuh penyesalan dan sikap yang acuh tak acuh, jantungnya seperti ditusuk-tusuk jarum dan wanita itu tersedu-sedu.
"Kakangmas Tejolaksono ....“ Rintihan suara Endang Patibroto ini tersendat-sendat dan sukarlah baginya untuk melanjutkan kata-katanya karena tangisnya membuat tenggorokannya seperti tersumbat.

<<< Bagian 123                                                                                      Bagian 125 >>>

No comments:

Post a Comment