"Datujiwa! Engkau ini siapa berani menentangku? Sudah kukatakan bahwa aku tidak memaksa, dan bocah ini dengan suka sendiri hendak menjadi muridku, dengan syarat aku harus dapat mengalahkanmu. Tidak perlu banyak wawasan lagi, majulah dan lawanlah aku kalau kau hendak mempertahankan kedudukanmu sebagai guru Retna Wilis!" Ki Datujiwa menoleh kepada Retna Wilis dan bertanya, suaranya halus dan sikapnya masih tenang,
"Angger, Retna Wilis.
Benarkah engkau akan suka berguru kepada Nini Bumigarba ini kalau dia dapat
mengalahkan aku?"
Retna Wilis semenjak kecil
dimanja ibunya dan anak ini paling ingin menjadi seorang yang sakti. Dia belum
dapat membedakan mana baik dan mana jahat, bahkan tidak memperdulikannya.
Baginya, kalau dia bisa menjadi seorang sakti, seperti ibunya, atau melebihi,
dia akan merasa senang sekali. Kini ditanya oleh gurunya, dia menjawab sambil
mengangguk,
"Benar, Eyang. Saya
percaya bahwa Eyang yang sakti tentu akan dapat mengalahkan nenek ini."
Ki Datujiwa menghela napas
dan ketika bertemu pandang dengan Endang Patibroto, ia makin kecewa. Dalam
pandang mata Endang Patibroto, ia dapat menangkap pernyataan wanita itu yang
ingin agar dia turun tangan menandingi Nini Bumigarba. Agaknya Endang Patibroto
sendiri pun percaya bahwa dia akan dapat mengalahkan nenek ini.
"Baiklah, Nini
Bumigarba. Entah apa hubungannya kemunculanmu yang aneh ini dengan munculnya
awan gelap dari Sriwijaya dan Cola, aku tidak tahu. Akan tetapi, jangan salah
menduga bahwa aku menghadapimu karena memperebutkan siswa. Kalau hanya untuk
itu, aku rela mengalah. Akan tetapi terpaksa aku melupakan kebodohan sendiri
menentangmu karena aku tahu pasti bahwa kalau Retro Wilis menjadi muridmu, dia
akan kaubawa menyeleweng daripada kebenaran dan kelak dia hanya akan
menimbulkan malapetaka saja. Nah, aku sudah siap!"
Nini Bumigarba bergelak,
suara ketawa yang mengandung kekejaman karena sesungguhnya nenek ini marah
sekali. Rahasianya telah dibuka oleh dugaan Ki Datujiwa dan dia mengambil
keputusan untuk melenyapkan orang yang dianggapnya hanya akan menjadi
penghalang saja ini.
"Nah, hadapilah
kematianmu!" Nini Bumigarba mendengus dan kedua tangannya bergerak seperti
orang menampar. Jarak antara dia dan Ki Datujiwa ada dua meter jauhnya, akan
tetapi tamparannya itu mendatangkan angin dan hawa pukulan amat dahsyatnya. Ki
Datujiwa yang maklum akan kesaktian lawan, cepat mengelak dan menangkis. Namun
tetap saja ia terhuyung-huyung ke belakang dengan wajah pucat.
"Hi-hi-hik, Retna Wilis
bocah ayu lihatlah, baru sekali pukulan saja dungu yang menjadi gurumu ini
sudah tidak kuat!" Nini Bumigarba melangka maju dua tindak dan kembali
kedua tangannya menampar dari kanan kiri.
Ki Datujiwa sebetulnya bukan
seorang sakti biasa saja. Dia memiliki kesaktian yang sudah tinggi tingkatnya
dan jaranglah ada orang yang mampu menandinginya. Endang Patibroto sendiri yang
memiliki kesaktian menggemparkan kedua kerajaan Jenggala dan Panjalu, masih
kalah olehnya. Akan tetapi kini dia menghadap Nini Bumigarba, bukan manusia
lumrah, maka dia terpaksa mengerahkan seluruh tenaga batin dan tenaga saktinya.
Kembali dia menangkis pukulan jarak jauh itu sambil meloncat ke kiri sehingga
kini tidak lagi dia terhuyung. Dia maklum bahwa kalau dia membalas dengan
pukulan jarak jauh, tenaga saktinya masih tidak akan kuat merobohkan si nenek
iblis, maka kini dengan nekat ia lalu melanjutkan loncatannya mengelak tadi,
sebelum kakinya kembali menyentuh tanah ia sudah melejit dan tubuhnya menyambar
miring ke arah Nini Bumigarba, tangan kananhya menampar dan ia mengeluarkan
pekik nyaring. Telapak tangan kakek ini berubah merah dan pukulannya ini kalau
mengenai tubuh lawan, dapat membuat tubuh lawan tewas dalam keadaan hangus!
"Plakkk ..” Pukulan
telapak tangan itu sama sekali tidak menyentuh kulit tubuh Nini Bumigarba,
masih sejengkal jauhnya, akan tetapi sudah tertangkis hawa sakti yang kuat
sekali sehingga Ki Datujiwa terpelanting jatuh! Dengan sigapnya Ki Datujiwa
meloncat bangun, akan tetapi gerakannya ini dipapaki oleh sebuah tamparan
tangan kiri Nini Bumigarba. Telapak tangan nenek ini tidak menyentuhnya, namun
hawa pukulan yang ampuhnya menggila telah mengenai kepala sehingga kakek yang
sakti itu mengeluarkan suara keluhan perlahan dan robohlah ia, roboh miring tak
betgerak lagi karena nyawanya telah meninggalkan badan.
"Kau .....kau bunuh
dia....?” Endang Patibroto memeklk marah dan siap untuk menyerang nenek itu.
Akan tetapi tiba-tiba Retna Wilis berseru,
"Ibu, dia hebat sekali!
Eyang Datujiwa dikalahkannya dengan mudah! Ibu, aku suka menjadi muridnya!"
"Retna Wilis
.....!!" Endang Patibroto membentak akan tetapi tiba-tiba terjadilah
keanehan. Endang Patibroto merasa seolah-olah tubuhnya kemasukan air dingin
yang mengusir semua kemarahannya, membuat semangatnya lemah dan tubuhnya lesu
dan dingin. Ketika ia mengangkat muka, ia melihat betapa kini tabir asap yang
menyelubungi wajah nenek itu lenyap, tampaklah wajah yang masih membayangkan
kecantikan, wajah yang kini dalam pandang matanya tampak agung dan suci, yang
mempunyai sinar mata seperti kilat menyambar. Ia pun menunduk dan seperti bukan
atas kehendak sendiri, Endang Patibroto berkata,
"Baiklah, Retna Wilis,
kuijinkan engkau menjadi murid Nini Bumigarba ..“
Nini Bumigarba tertawa
mengikik, tubuhnya menyambar didahului asap hitam kemudian ia melayang pergi
dari situ dan lenyaplah nenek itu bersama Retna Wilis! Setelah nenek itu
lenyap, barulah Endang Patibroto seperti disiram air dingin, seperti baru sadar
dari mimpi buruk. Ia terbelalak mencari anaknya, kemudian menjerit,
"Retna .... Anakku
....! Jangan pergi....!" Ia lalu meloncat dengan Aji Bayu Tantra,
melakukan pengejaran ke arah lenyapnya tubuh nenek tadi. Namun sampai ke bawah
puncak ia berlari-lari, dipandang penuh keheranan oleh semua anggota Padepokan
Wilis yang tidak tahu apa yang telah terjadi. Kemudian Endang Patibroto
berlari-lari ke puncak, kini diikuti oleh semua anak buahnya yang menduga
terjadi hal-hal yang amat hebat. Ketika para anggota Padepokad Wilis tiba di
puncak, mereka terbelalak memandang ketua mereka itu menangisi Ki Datujiwa yang
telah menjadi mayat! Beberapa hari kemudian, setelah mengurus jenazah Ki
Datujiwa dan berkabung, Endang Patibroto mengumpulkan semua anak buahnya.
Dengan rambut awut-awutan dan pakaian lusuh dia berkata,
"Puteriku diculik
orang. Aku akan pergi mencarinya. Kalian semua bekerja seperti biasa dan
jagalah Padepokan Wilis baik-baik. Jangan mencari perkara dengan orang luar dan
hanya kalau ada orang luar datang mengganggu, lawan sekuatnya. Tunggu sampai
aku kembali ke sini." Demikian pesannya dan semua anak buahnya mengantar
kepergian ketua mereka itu dengan hati penuh prihatin. Setelah jauh
meninggalkan Wilis, Endang Patibroto menjadi bingung. Kemana ia harus mencari
puterinya? Penculik puterinya adalah seorang manusia seperti iblis, sukar
sekali dicari jejaknya. Andai-kata dia berhasil menemukan puterinya bersama
penculiknya sekali pun, apakah dayanya? Dia tidak akan dapat berbuat apa-apa
terhadap seorang yang sakti mandraguna seperti Nini Bumigarba itu! Makin
nelangsa rasa hati Endang Patibroto, nelangsa dan merasa ditinggalkan seorang
diri di dunia yang penuh derita ini. Teringatlah Endang Patibroto kepada ayah
Retna Wilis dan tiba-tiba wanita perkasa ini menjatuhkan diri di atas tanah dan
menangis terisak-isak. Wanita gagah perkasa yang di waktu mudanya menimbulkan
geger, yang tidak mengenal takut tidak mengenal susah berwatak keras seperti
baja itu kini menangis sesenggukan.
"Joko Wandiro
....aduhh, Joko Wandiro ...., bagaimana anakmu .... Tidak tahukah engkau betapa
hancur hatiku?" Ia merintih-rintih menyebut nama kecil Tejolaksono.
Terbayanglah wajah kekasihnya itu. Tejolaksono atau Joko Wandiro, adipati di
Selopenangkep dan rasa rindunya tak tertahankan lagi. Dia harus mencari
Tejolaksono. Dia harus menyampaikan kesusahan ini kepada ayah Retna Wilis. Hanya
bersama Tejolakson saja di sampingnya ia akan merasa kuat menghadapi Nini
Bumigarba, merasa kuat untuk melanjutkan hidup, menempuh gelombang kehidupan,
mengatasi segala kepahitan dan derita. Dia tidak perlu malu kepada Ayu Candra.
Setelah mendapat pikiran
ini, bulat tekad di hati Endang Patibroto untuk kembali ke Selopenangkep minta
bantuan Tejolaksono untuk bersama-sama mencari puteri mereka yang dilarikan
Nini Bumigarba. Wanita perkasa ini melakukan perjalanan cepat siang malam tanpa
berhenti dan dalam beberapa hari saja tiba-lah dia di Kadipaten Selopenangkep.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kecewa hatinya ketika mendapat keterangan
bahwa Adipati Tejolaksono tidak lagi menjadi adipati di Selopenangkep dan bahwa
Adipati Tejolaksono telah di ganti orang lain. Namun kekecewaan in terobati
oleh keterangan bahwa kekasihnya itu kini telah menjadi patih muda Kota Raja
Panjalu! Diam-diam ia merasa girang dan bersyukur bahwa kini orang yang
dicintanya telah mendapat kemuliaan. Kemudian rasa girang dan syukur ini
terganggu pula oleh berita bahwa di dalam kekacauan yang ditimbulkan oleh
musuh-musuh Panjalu, Selopenangkep pernah diduduki musuh dan dalam perang itu
banyak sekali orang gagah Selopenangkep yang gugur, di antaranya adalah Roro
Luhito, ibu tirinya yang gugur dalam medan perang. Juga bahwa adik tirinya
Pusporini, lenyap dalam keributan itu. Ketika Endang Patibroto mendengar cerita
tentang hancurnya Selopenangkep dan larinya Tejolaksono bersama Ayu Candra, ia
menjadi terharu. Ah, kiranya orang yang dikasihinya itu pun mengalami
penderitaan. Putera mereka, Bagus Seta, masih belum kembali dan akhirnya
Tejolaksono berdua Ayu Candra saja yang masih tinggal, namun kemudian terpaksa
pula lari dari Selopenangkep.
"Aku harus menyusul
mereka ke Panjalu," pikirnya.
Tidak ada orang lain di
dunia ini yang dapat ia sambati, yang dapat ia harapkan bantuannya untuk
mencari kembali anaknya yang hilang. Tanpa mengenal lelah Endang Patibroto lalu
meninggalkan Selopenangkep dan melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan, yaitu
menuju ke Kota Raja Panjalu di timur. Sungguh ia tidak mengira bahwa ia masih
akan kembali ke kota raja, padahal ketika ia tinggal di Wilis, ia berjanji
dalam hatinya tidak akan mencampuri urusan kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala
lagi. Endang Patibroto adalah seorang wanita yang sudah amat terkenal, baik di
Panjalu maupun di Jenggala. Karena maklum akan hal ini, Endang Patibroto
memasuki Kota Raja Panjalu secara diam-diam, menggunakan kepandaiannya untuk
masuk dengan cara meloncati pagar tembok yang mengelilingi kota raja. Kemudian
ia pergi mencari tempat tinggal Patih Muda Tejolaksono. Waktu itu telah lewat
tengah hari, menjelang senja dan dengan gerakan seperti seekor burung srikatan,
Endang Patibroto meloncati pagar di belakang kepatihan, kemudian melayang turun
masuk ke dalam taman kepatihan. Teringat bahwa ia telah berada di taman tempat
tinggal kekasihnya dan bahwa ia akan bertemu dengan orang yang selama
bertahun-tahun ini menjadi kembang mimpi, menjadi kenangan yang menimbulkan
kerinduan, jantungnya berdebar karena girang dan tegang, juga amat terharu.
Pada saat itu, kebetulan
sekali Patih Muda Tejolaksono sedang duduk di dalam taman bunga, duduk melamun
seorang dia. Hati Ki Patih Tejolaksono sedang ruwet, pikirannya tidak tenang
dan hatinya selalu merasa tidak enak. Hal ini disebabkan karena ki patih ini
memikirkan keadaan di Jenggala. Beberapa pekan yang lalu, secara tak
terduga-duga ia dan isterinya, Ayu Candra, menerima kedatangan Setyaningsih dan
suaminya, Pangeran Panji Sigit. Suami isteri yang untuk beberapa tahun hidup
kesepian di Panjalu ini tentu saja menjadi girang dan hampir tidak percaya
kepada pandang matanya sendiri ketika melihat Setyaningsih tiba-tiba muncul
itu. Baru setelah Setyaningsih yang menangis itu memeluk Ayu Candra, mereka
sadar bahwa yang mereka alami bukanlah dalam mimpi.
"Aduh, adikku yang
cantik ..engkau ....engkau Setyaningsih ....Puji syukur kepada para dewata
bahwa engkau ...engkau sekarang telah menjadi puteri jelita ... betapa lamanya
engkau pergi, Adikku.. " Akhirnya Ayu Candra dapat berkata setelah
berangkul-rangkulan dan bertangisan.
Setyaningsih mengusap air
matanya kemudian memberi hormat, menyembah kepada Ki Patih Tejolaksono yang
memandang penuh keharuan. Wajah ki patih yang masih tampan itu penuh gores-gores
tanda kepahitan dan penderitaan batin yang menimpanya selama bertahun-tahun
ini. Setelah mengelus rambut kepala Setyaningsih penuh keharuan, Ki Patih
Tejolaksono berkata,
"Adinda Setyaningsih,
sungguh saat ini amat membahagiakan hatiku. Duduklah dan ceritakan semua
pengalamanmu. Siapakah ksatria perkasa yang datang bersamamu ini, Adinda?"
Wajah yang ayu itu tiba-tiba
menjadi merah dan dengan suara lirih ia berkata memperkenalkan,
"Dia ....dia adalah
....suami hamba, dia Pangeran Panji Sigit dari Jenggala.”
"Ahhhh .....!"
Tejolaksono berseru, tercengang kemudian cepat-cepat ia menjatuhkan diri
berlutut, diikuti oleh Ayu Candra, hendak menghaturkan sembah.
"Harap Paduka maafkan,
karena hamba tidak tahu bahwa Paduka”
Akan tetapi Pangeran Panji
Sigit cepat-cepat berlutut juga dan mengangkat bangun Ki Patih Tejolaksono.
"Duh Rakanda Patih dan
Ayunda, mohon jangan membikin saya menjadi malu dan kikuk. Setelah saya menjadi
suami Diajeng Setyaningsih, berarti saya adalah adik ipar Paduka sendiri.
Rakanda Patih, saya tidak berani menerima penghormatan Paduka berdua, bahkan
sayalah yang menghaturkan sembah kepada Rakanda berdua."
No comments:
Post a Comment