Perawan Lembah Wilis; Bagian 123


"Datujiwa! Engkau ini siapa berani menentangku? Sudah kukatakan bahwa aku tidak memaksa, dan bocah ini dengan suka sendiri hendak menjadi muridku, dengan syarat aku harus dapat mengalahkanmu. Tidak perlu banyak wawasan lagi, majulah dan lawanlah aku kalau kau hendak mempertahankan kedudukanmu sebagai guru Retna Wilis!" Ki Datujiwa menoleh kepada Retna Wilis dan bertanya, suaranya halus dan sikapnya masih tenang,
"Angger, Retna Wilis. Benarkah engkau akan suka berguru kepada Nini Bumigarba ini kalau dia dapat mengalahkan aku?"
Retna Wilis semenjak kecil dimanja ibunya dan anak ini paling ingin menjadi seorang yang sakti. Dia belum dapat membedakan mana baik dan mana jahat, bahkan tidak memperdulikannya. Baginya, kalau dia bisa menjadi seorang sakti, seperti ibunya, atau melebihi, dia akan merasa senang sekali. Kini ditanya oleh gurunya, dia menjawab sambil mengangguk,
"Benar, Eyang. Saya percaya bahwa Eyang yang sakti tentu akan dapat mengalahkan nenek ini."
Ki Datujiwa menghela napas dan ketika bertemu pandang dengan Endang Patibroto, ia makin kecewa. Dalam pandang mata Endang Patibroto, ia dapat menangkap pernyataan wanita itu yang ingin agar dia turun tangan menandingi Nini Bumigarba. Agaknya Endang Patibroto sendiri pun percaya bahwa dia akan dapat mengalahkan nenek ini.
"Baiklah, Nini Bumigarba. Entah apa hubungannya kemunculanmu yang aneh ini dengan munculnya awan gelap dari Sriwijaya dan Cola, aku tidak tahu. Akan tetapi, jangan salah menduga bahwa aku menghadapimu karena memperebutkan siswa. Kalau hanya untuk itu, aku rela mengalah. Akan tetapi terpaksa aku melupakan kebodohan sendiri menentangmu karena aku tahu pasti bahwa kalau Retro Wilis menjadi muridmu, dia akan kaubawa menyeleweng daripada kebenaran dan kelak dia hanya akan menimbulkan malapetaka saja. Nah, aku sudah siap!"

Nini Bumigarba bergelak, suara ketawa yang mengandung kekejaman karena sesungguhnya nenek ini marah sekali. Rahasianya telah dibuka oleh dugaan Ki Datujiwa dan dia mengambil keputusan untuk melenyapkan orang yang dianggapnya hanya akan menjadi penghalang saja ini.
"Nah, hadapilah kematianmu!" Nini Bumigarba mendengus dan kedua tangannya bergerak seperti orang menampar. Jarak antara dia dan Ki Datujiwa ada dua meter jauhnya, akan tetapi tamparannya itu mendatangkan angin dan hawa pukulan amat dahsyatnya. Ki Datujiwa yang maklum akan kesaktian lawan, cepat mengelak dan menangkis. Namun tetap saja ia terhuyung-huyung ke belakang dengan wajah pucat.
"Hi-hi-hik, Retna Wilis bocah ayu lihatlah, baru sekali pukulan saja dungu yang menjadi gurumu ini sudah tidak kuat!" Nini Bumigarba melangka maju dua tindak dan kembali kedua tangannya menampar dari kanan kiri.
Ki Datujiwa sebetulnya bukan seorang sakti biasa saja. Dia memiliki kesaktian yang sudah tinggi tingkatnya dan jaranglah ada orang yang mampu menandinginya. Endang Patibroto sendiri yang memiliki kesaktian menggemparkan kedua kerajaan Jenggala dan Panjalu, masih kalah olehnya. Akan tetapi kini dia menghadap Nini Bumigarba, bukan manusia lumrah, maka dia terpaksa mengerahkan seluruh tenaga batin dan tenaga saktinya. Kembali dia menangkis pukulan jarak jauh itu sambil meloncat ke kiri sehingga kini tidak lagi dia terhuyung. Dia maklum bahwa kalau dia membalas dengan pukulan jarak jauh, tenaga saktinya masih tidak akan kuat merobohkan si nenek iblis, maka kini dengan nekat ia lalu melanjutkan loncatannya mengelak tadi, sebelum kakinya kembali menyentuh tanah ia sudah melejit dan tubuhnya menyambar miring ke arah Nini Bumigarba, tangan kananhya menampar dan ia mengeluarkan pekik nyaring. Telapak tangan kakek ini berubah merah dan pukulannya ini kalau mengenai tubuh lawan, dapat membuat tubuh lawan tewas dalam keadaan hangus!
"Plakkk ..” Pukulan telapak tangan itu sama sekali tidak menyentuh kulit tubuh Nini Bumigarba, masih sejengkal jauhnya, akan tetapi sudah tertangkis hawa sakti yang kuat sekali sehingga Ki Datujiwa terpelanting jatuh! Dengan sigapnya Ki Datujiwa meloncat bangun, akan tetapi gerakannya ini dipapaki oleh sebuah tamparan tangan kiri Nini Bumigarba. Telapak tangan nenek ini tidak menyentuhnya, namun hawa pukulan yang ampuhnya menggila telah mengenai kepala sehingga kakek yang sakti itu mengeluarkan suara keluhan perlahan dan robohlah ia, roboh miring tak betgerak lagi karena nyawanya telah meninggalkan badan.
"Kau .....kau bunuh dia....?” Endang Patibroto memeklk marah dan siap untuk menyerang nenek itu. Akan tetapi tiba-tiba Retna Wilis berseru,
"Ibu, dia hebat sekali! Eyang Datujiwa dikalahkannya dengan mudah! Ibu, aku suka menjadi muridnya!"
"Retna Wilis .....!!" Endang Patibroto membentak akan tetapi tiba-tiba terjadilah keanehan. Endang Patibroto merasa seolah-olah tubuhnya kemasukan air dingin yang mengusir semua kemarahannya, membuat semangatnya lemah dan tubuhnya lesu dan dingin. Ketika ia mengangkat muka, ia melihat betapa kini tabir asap yang menyelubungi wajah nenek itu lenyap, tampaklah wajah yang masih membayangkan kecantikan, wajah yang kini dalam pandang matanya tampak agung dan suci, yang mempunyai sinar mata seperti kilat menyambar. Ia pun menunduk dan seperti bukan atas kehendak sendiri, Endang Patibroto berkata,
"Baiklah, Retna Wilis, kuijinkan engkau menjadi murid Nini Bumigarba ..“

Nini Bumigarba tertawa mengikik, tubuhnya menyambar didahului asap hitam kemudian ia melayang pergi dari situ dan lenyaplah nenek itu bersama Retna Wilis! Setelah nenek itu lenyap, barulah Endang Patibroto seperti disiram air dingin, seperti baru sadar dari mimpi buruk. Ia terbelalak mencari anaknya, kemudian menjerit,
"Retna .... Anakku ....! Jangan pergi....!" Ia lalu meloncat dengan Aji Bayu Tantra, melakukan pengejaran ke arah lenyapnya tubuh nenek tadi. Namun sampai ke bawah puncak ia berlari-lari, dipandang penuh keheranan oleh semua anggota Padepokan Wilis yang tidak tahu apa yang telah terjadi. Kemudian Endang Patibroto berlari-lari ke puncak, kini diikuti oleh semua anak buahnya yang menduga terjadi hal-hal yang amat hebat. Ketika para anggota Padepokad Wilis tiba di puncak, mereka terbelalak memandang ketua mereka itu menangisi Ki Datujiwa yang telah menjadi mayat! Beberapa hari kemudian, setelah mengurus jenazah Ki Datujiwa dan berkabung, Endang Patibroto mengumpulkan semua anak buahnya. Dengan rambut awut-awutan dan pakaian lusuh dia berkata,
"Puteriku diculik orang. Aku akan pergi mencarinya. Kalian semua bekerja seperti biasa dan jagalah Padepokan Wilis baik-baik. Jangan mencari perkara dengan orang luar dan hanya kalau ada orang luar datang mengganggu, lawan sekuatnya. Tunggu sampai aku kembali ke sini." Demikian pesannya dan semua anak buahnya mengantar kepergian ketua mereka itu dengan hati penuh prihatin. Setelah jauh meninggalkan Wilis, Endang Patibroto menjadi bingung. Kemana ia harus mencari puterinya? Penculik puterinya adalah seorang manusia seperti iblis, sukar sekali dicari jejaknya. Andai-kata dia berhasil menemukan puterinya bersama penculiknya sekali pun, apakah dayanya? Dia tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap seorang yang sakti mandraguna seperti Nini Bumigarba itu! Makin nelangsa rasa hati Endang Patibroto, nelangsa dan merasa ditinggalkan seorang diri di dunia yang penuh derita ini. Teringatlah Endang Patibroto kepada ayah Retna Wilis dan tiba-tiba wanita perkasa ini menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis terisak-isak. Wanita gagah perkasa yang di waktu mudanya menimbulkan geger, yang tidak mengenal takut tidak mengenal susah berwatak keras seperti baja itu kini menangis sesenggukan.
"Joko Wandiro ....aduhh, Joko Wandiro ...., bagaimana anakmu .... Tidak tahukah engkau betapa hancur hatiku?" Ia merintih-rintih menyebut nama kecil Tejolaksono. Terbayanglah wajah kekasihnya itu. Tejolaksono atau Joko Wandiro, adipati di Selopenangkep dan rasa rindunya tak tertahankan lagi. Dia harus mencari Tejolaksono. Dia harus menyampaikan kesusahan ini kepada ayah Retna Wilis. Hanya bersama Tejolakson saja di sampingnya ia akan merasa kuat menghadapi Nini Bumigarba, merasa kuat untuk melanjutkan hidup, menempuh gelombang kehidupan, mengatasi segala kepahitan dan derita. Dia tidak perlu malu kepada Ayu Candra.

Setelah mendapat pikiran ini, bulat tekad di hati Endang Patibroto untuk kembali ke Selopenangkep minta bantuan Tejolaksono untuk bersama-sama mencari puteri mereka yang dilarikan Nini Bumigarba. Wanita perkasa ini melakukan perjalanan cepat siang malam tanpa berhenti dan dalam beberapa hari saja tiba-lah dia di Kadipaten Selopenangkep. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kecewa hatinya ketika mendapat keterangan bahwa Adipati Tejolaksono tidak lagi menjadi adipati di Selopenangkep dan bahwa Adipati Tejolaksono telah di ganti orang lain. Namun kekecewaan in terobati oleh keterangan bahwa kekasihnya itu kini telah menjadi patih muda Kota Raja Panjalu! Diam-diam ia merasa girang dan bersyukur bahwa kini orang yang dicintanya telah mendapat kemuliaan. Kemudian rasa girang dan syukur ini terganggu pula oleh berita bahwa di dalam kekacauan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Panjalu, Selopenangkep pernah diduduki musuh dan dalam perang itu banyak sekali orang gagah Selopenangkep yang gugur, di antaranya adalah Roro Luhito, ibu tirinya yang gugur dalam medan perang. Juga bahwa adik tirinya Pusporini, lenyap dalam keributan itu. Ketika Endang Patibroto mendengar cerita tentang hancurnya Selopenangkep dan larinya Tejolaksono bersama Ayu Candra, ia menjadi terharu. Ah, kiranya orang yang dikasihinya itu pun mengalami penderitaan. Putera mereka, Bagus Seta, masih belum kembali dan akhirnya Tejolaksono berdua Ayu Candra saja yang masih tinggal, namun kemudian terpaksa pula lari dari Selopenangkep.
"Aku harus menyusul mereka ke Panjalu," pikirnya.
Tidak ada orang lain di dunia ini yang dapat ia sambati, yang dapat ia harapkan bantuannya untuk mencari kembali anaknya yang hilang. Tanpa mengenal lelah Endang Patibroto lalu meninggalkan Selopenangkep dan melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan, yaitu menuju ke Kota Raja Panjalu di timur. Sungguh ia tidak mengira bahwa ia masih akan kembali ke kota raja, padahal ketika ia tinggal di Wilis, ia berjanji dalam hatinya tidak akan mencampuri urusan kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala lagi. Endang Patibroto adalah seorang wanita yang sudah amat terkenal, baik di Panjalu maupun di Jenggala. Karena maklum akan hal ini, Endang Patibroto memasuki Kota Raja Panjalu secara diam-diam, menggunakan kepandaiannya untuk masuk dengan cara meloncati pagar tembok yang mengelilingi kota raja. Kemudian ia pergi mencari tempat tinggal Patih Muda Tejolaksono. Waktu itu telah lewat tengah hari, menjelang senja dan dengan gerakan seperti seekor burung srikatan, Endang Patibroto meloncati pagar di belakang kepatihan, kemudian melayang turun masuk ke dalam taman kepatihan. Teringat bahwa ia telah berada di taman tempat tinggal kekasihnya dan bahwa ia akan bertemu dengan orang yang selama bertahun-tahun ini menjadi kembang mimpi, menjadi kenangan yang menimbulkan kerinduan, jantungnya berdebar karena girang dan tegang, juga amat terharu.

Pada saat itu, kebetulan sekali Patih Muda Tejolaksono sedang duduk di dalam taman bunga, duduk melamun seorang dia. Hati Ki Patih Tejolaksono sedang ruwet, pikirannya tidak tenang dan hatinya selalu merasa tidak enak. Hal ini disebabkan karena ki patih ini memikirkan keadaan di Jenggala. Beberapa pekan yang lalu, secara tak terduga-duga ia dan isterinya, Ayu Candra, menerima kedatangan Setyaningsih dan suaminya, Pangeran Panji Sigit. Suami isteri yang untuk beberapa tahun hidup kesepian di Panjalu ini tentu saja menjadi girang dan hampir tidak percaya kepada pandang matanya sendiri ketika melihat Setyaningsih tiba-tiba muncul itu. Baru setelah Setyaningsih yang menangis itu memeluk Ayu Candra, mereka sadar bahwa yang mereka alami bukanlah dalam mimpi.
"Aduh, adikku yang cantik ..engkau ....engkau Setyaningsih ....Puji syukur kepada para dewata bahwa engkau ...engkau sekarang telah menjadi puteri jelita ... betapa lamanya engkau pergi, Adikku.. " Akhirnya Ayu Candra dapat berkata setelah berangkul-rangkulan dan bertangisan.
Setyaningsih mengusap air matanya kemudian memberi hormat, menyembah kepada Ki Patih Tejolaksono yang memandang penuh keharuan. Wajah ki patih yang masih tampan itu penuh gores-gores tanda kepahitan dan penderitaan batin yang menimpanya selama bertahun-tahun ini. Setelah mengelus rambut kepala Setyaningsih penuh keharuan, Ki Patih Tejolaksono berkata,
"Adinda Setyaningsih, sungguh saat ini amat membahagiakan hatiku. Duduklah dan ceritakan semua pengalamanmu. Siapakah ksatria perkasa yang datang bersamamu ini, Adinda?"
Wajah yang ayu itu tiba-tiba menjadi merah dan dengan suara lirih ia berkata memperkenalkan,
"Dia ....dia adalah ....suami hamba, dia Pangeran Panji Sigit dari Jenggala.”
"Ahhhh .....!" Tejolaksono berseru, tercengang kemudian cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Ayu Candra, hendak menghaturkan sembah.
"Harap Paduka maafkan, karena hamba tidak tahu bahwa Paduka”

Akan tetapi Pangeran Panji Sigit cepat-cepat berlutut juga dan mengangkat bangun Ki Patih Tejolaksono.
"Duh Rakanda Patih dan Ayunda, mohon jangan membikin saya menjadi malu dan kikuk. Setelah saya menjadi suami Diajeng Setyaningsih, berarti saya adalah adik ipar Paduka sendiri. Rakanda Patih, saya tidak berani menerima penghormatan Paduka berdua, bahkan sayalah yang menghaturkan sembah kepada Rakanda berdua."

<<< Bagian 122                                                                                     Bagian 124 >>>

No comments:

Post a Comment