Perawan Lembah Wilis; Bagian 122


Apalagi bagi Endang Patibroto yang selalu menekan penderitaan batinnya. Bertahun-tahun wanita sakti yang bernasib malang ini menekan perasaan rindunya kepada Tejolaksono, satu-satunya pria di dunia ini yang amat dicintanya, ayah dari Retna Wilis. Kemudian ditambah dengan malapetaka hebat yang menimpa dirinya, yaitu penghinaan berupa perkosaan atas dirinya yang dilakukan oleh Sindupati atau Warutama. Penderitaan batin ini ditahannya secara diam-diam, tak seorang pun mengetahuinya. Kini kepergian adik kandungnya, Setyaningsih, membuat Endang Patibroto makin menderita dan kesepian, memperhebat rasa rindunya kepada Tejolaksono. Betapapun juga, demi untuk puterinya, ia mempertahankan diri dan tekun menggembleng puterinya itu yang kini mempunyai seorang guru yang boleh diandalkan yaitu Ki Datujiwa yang sakti mandraguna.
Pada suatu pagi yang cerah, mereka bertiga duduk bersila menerima sepenuhnya cahaya matahari pagi, bermandi cahaya untuk menerima inti kesaktian sinar sang surya. Endang Patibroto duduk bersila, mengatur napas, akan tetapi sukarlah baginya untuk menenteramkan pikirannya yang melayang-layang penuh kerinduan kepada Tejolaksono dan Setyaningsih. Pikirannya yang muram dan kacau ini ia coba menenteramkannya dengan mendengarkan wejangan-wejangan yang keluar dari mulut Ki Datujiwa yang sedang menggembleng Retna Wilis. Guru dan murid itu pun duduk bersila menghadap ke timur. Retno Wilis bersila seperti Arca, wajahnya yang cantik itu gemilang bersinar terkena cahaya matahari yang keemasan, dengan tekun ia mendengarkan suara yang keluar dari mulut gurunya.
"Muridku, Retna Wilis, camkanlah baik-baik. Di dunia ini, tidak ada kesaktian yang lebih tinggi daripada menaklukkan dan menguasai nafsu-nafsu diri pribadi karena inilah yang merupakan syarat terpenting menuju ke arah sempurnanya segala ilmu yang dipelajari manusia. Ilmu macam apa pun akan menjadi ilmu yang menghasilkan buah-buah kebaikan apabila dimiliki oleh orang yang telah dapat menguasai nafsu-nafsu pribadi. Sebaliknya, segala macam ilmu akan menjadi ilmu hitam yang sifatnya merusak dan merugikan orang lain apabila ilmu itu dimiliki oleh orang yang menjadi hamba daripada nafsu-nafsunya."
Endang Patibroto yang ikut mendengarkan, dapat merasakan kebenaran wejangan ini dari pengalaman. Di waktu mudanya ia sudah banyak berdekatan dengan orang-orang sakti golongan sesat dan orang-orang sakti yang bersih, dan ia dapat merasakan bahwa mereka yang termasuk golongan sesat itu adalah orang-orang yang selalu bertindak menurutkan hawa nafsu. Dan betapapun saktinya dia yang menurutkan hawa nafsu, akhirnya akan roboh sebagai akibat daripada tindakannya sendiri.

"Dan tidak ada, kemenangan yang paling mutlak dan besar kecuali kemenangan yang diperoleh dari sikap mengalah, muridku. Mengalah dengan tulus ikhlas, mengalah bukan karena takut, melainkan mengalah karena sadar bahwa jalan kekerasan bukanlah jalan yang baik. Memang betul bahwa engkau sejak kecil digembleng dan mempelajari ilmu kesaktian, akan tetapi bukanlah kehendak ibumu dan kehendakku untuk mendidik engkau menjadi orang yang mengandalkan kesaktian mengejar kemenangan dengan kekerasan. Mengalah adalah laku yang paling utama, muridku."
Sekali ini, di dalam hatinya Endang Patibroto tidak dapat menyetujui sepenuhnya akan wejangan Ki Datujiwa. Mengalah untuk menang? Ah, betapa tidak sesuai dengan kenyataan! Dia sudah mengalah kepada Ayu Candra, meninggalkan Kadipaten Selopenangkep, meninggalkan orang yang dicintainya, Adipati Tejolaksono, akan tetapi dia tidak merasakan kemenangan karena mengalah ini! Dia menderita sampai bertahun-tahun! Akan tetapi, dapatkah kepergiannya tanpa pamit itu digolongkan perbuatan mengalah? Endang Patibroto menarik napas panjang, pikirannya menjadi bingung.
"Heh-heh-heh, ini dia anak yang kucari! Sukar mencari yang lebih baik daripada ini! Sayang dirusak oleh omongan-omongan kosong pertapa dungu!"
Tiga orang yang sedang bersila itu terkejut sekali. Lebih-lebih Endang Patibroto dan Ki Datujiwa. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki kesaktian hebat, yang tidak saja sudah memiliki telinga yang terlatih bahkan mempunyai apa yang dinamakan telinga batin sehingga dapat mendengar apa yang sukar tertangkap oleh pendengaran telinga biasa. Akan tetapi kedatangan orang ini sama sekali tidak mereka ketahui dan secara tiba-tiba saja ada suara yang kedengarannya begitu dekat, akan tetapi ketika mereka memandang, tidak tampak bayangan seorang pun manusia di situ! Endang Patibroto merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Ia maklum bahwa yang bicara itu adalah seorang yang memiliki kepandaian seperti iblis, mungkin dapat menghilang atau dapat mengirimkan suara dari tempat jauh. Apalagi Endang Patibroto, bahkan Ki Datujiwa sendiri yang memiliki kesaktian lebih tinggi dari wanita itu, juga menjadi pucat wajahnya dan dapat menduga bahwa yang datang adalah orang yang amat tinggi tingkat kesaktiannya. Jantungnya berdebar aneh dan kakek ini cepat mempergunakan kekuatan batinnya untuk menindas guncangan itu, lalu ia berkata, suaranya tenang penuh wibawa,
"Salam dan hormatnya Ki Datujiwa harap diterima oleh sahabat sakti mandraguna yang berkenan datang mengunjungi Wilis! Jika Andika mempunyai kepentingan dengan kami, sudilah kiranya datang, kami membuka kedua tangan menanti kunjungan Andika!" Dari ucapan ini Endang Patibroto dapat menarik kesimpulan bahwa suara itu datang dari orang yang masih berada di tempat jauh.

Namun suaranya tadi demikian jelas seolah-olah pembicaranya berada di depannya. Kembali terdengar suara yang tadi,
"Datujiwa bocah kemarin sore! Tak tahu engkau bersopan-sopan aku memang akan datang!" Mendadak bertiup angin keras yang menerbangkan daun-daun di pohon, merontokkan daun-daun kuning dan tampaklah berkelebat bayangan orang seperti asap bergulung-gulung. Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang nenek yang berpakaian serba hitam. Nenek ini sukar ditaksir berapa usianya, kedua lengannya mengenakan sepasang gelang emas dan wajahnya diselimuti uap kehitaman sehingga sukar dilihat mukanya. Nenek itu berdiri tegak dan amat menyeramkan karena kehadirannya membawa hawa yang luar biasa, dingin dan mengerikan sehingga kembali Endang Patibroto bergidik. Sekian banyaknya orang-orang sakti ia jumpai, akan tetapi dibandingkan dengan nenek ini, mereka itu hanya seperti kanak-kanak saja.
Ki Datujiwa yang biasanya bersikap tenang itu kini memandang nenek itu dengan wajah pucat dan ia berkata,
"Dewi Sarilangking .....! Maafkan kalau saya keliru menduga ... bukankah Andika ini Sang Dewi Sarilangking yang kemudian terkenal dengan julukan Nini Bumigraba .... “
"Hik, hik, Datujiwa! Matamu masih tajam. Lima puluh tahun yang lalu kita pernah bertemu dan engkau masih belum lupa kepadaku. Bagus! Hai ini saja sudah menyelamatkan kepalamu!"
"Saya menghaturkan salam dan hormat kepada Nini Bumigarba yang sakti mandraguna. Kalau boleh saya bertanya, apakah kehendak Andika sehingga memberi penghormatan kepada kami dengan kunjungan ke Wilis ini?"
"Ketahuilah, heh engkau Datujiwa! Aku sedang nganglang jagad (mengelilingi dunia) untuk, mencari seorang murid yang cocok. Di sini aku melihat bocah ini, hatiku tertarik sekali. Dia cocok untuk mewarisi ilmu-ilmuku. Sayang engkau telah merusaknya dengan omongan-omongan kosong tentang mengalah dan macam-macam obrolan tiada guna."
Sebelum ada yang menjawab, Retna Wilis yang baru berusia enam tahun itu bangkit berdiri dan berkata kepada nenek aneh yang mukanya diselimuti uap hitam itu, suaranya nyaring dan matanya bersinar-sinar,
"Nenek yang aneh! Aku adalah murid Eyang Datujiwa yang sakti. Engkau hendak mengambil murid aku? Apakah kesaktianmu? Apakah engkau lebih sakti dari Eyang Datujiwa? Aku hanya mau menjadi murid orang yang memiliki kesaktian lebih dari Ibuku dan Eyang Datujiwa!"
"Retna.... Diam kau!" bentak Endang Patibroto yang masih merasa ngeri melihat nenek itu. Ia mengerti bahwa nenek ini biarpun seorang sakti, namun dikelilingi oleh hawa jahat seperti iblis. Mana mungkin ia membolehkan puterinya menjadi murid nenek iblis ini?
"Heh-heh-heh, semangatnya boleh juga! Nah, Datujiwa, engkau mendengar sendiri. Hayo bangkit dan kau lawan aku beberapa jurus untuk membuka mata calon muridku!"
"Tidak! Tidak boleh anakku diambil murid orang begitu saja!" Endang Patibroto berteriak marah. Kekhawatirannya bahwa anaknya akan diambil murid nenek iblis itu membuat ia marah dan lupa akan kengeriannya. Timbul keberaniannya dan kalau Endang Patibroto sudah marah, biar setan dan iblis sendiri muncul di depannya, dia tidak akan mundur selangkah untuk melawannya!

Nenek yang tadinya sama sekali tidak memperhatikan Endang Patibroto, kini membalikkan mukanya memandang penuh perhatian. "Hemm ............ jadi engkaukah yang menjadi ibu anak ini? Wah, engkau boleh juga. Pantas saja mempunyai puteri seperti dia. Siapakah namamu, Nini?"
"Namaku Endang Patibroto dan akulah ketua Padepokan Wilis. Retna Wilis adalah puteriku, dan dia menjadi murid Ki Datujiwa atas kehendakku. Aku, tidak memperkenankan dia menjadi muridmu, harap kau orang tua jangan memaksa!"
"Heh-heh-heh, siapa yang memaksa? Anakmu itu dengan suka hati sendiri datang kepadaku. Bukankah begitu, Retna Wilis yang manis? Engkau yang datang sendiri kepadaku? Lihatlah."
Retna Wilis hanya memandang dengan matanya yang lebar bersinar-sinar, akan tetapi tiba-tiba anak itu lalu berjalan menghampiri nenek itu. Ada sesuatu yang mendorongnya sehingga kedua kakinya dengan sendirinya melangkah menghampiri nenek iblis itu.
"Retna Wilis! Jangan lancang engkau!" Endang Patibrotb membentak.
"Heh-heh, tidak ada yang memaksa dan engkau pun akan merelakan anakmu, Endang Patibroto. Retna Wilis bocah ayu, kembalilah dulu kepada ibumu, aku tidak memaksa siapa-siapa dan kalau kau ingin menyaksikan kesaktianku, Ibu dan gurumu ini boleh belajar seratus tahun lagi masih takkan mampu menandingiku." Setelah Ratna Wilis berjalan mendekatinya, Endang Patibroto maklum dari pandang mata anaknya bahwa anaknya tadi menghampiri si nenek iblis itu bukan atas kehendak sendiri. Kemarahannya memuncak dan ia lalu menerjang maju, meloncat dan menampar dengan tangan terbuka. Hebat bukan main gerakan Endang Patibroto ini karena dalam kemarahannya dan dugaannya bahwa lawannya amat sakti, ia meloncat dengan Aji Bayu Tantra dan menghantam dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh sekali.
"Wuuuutttt .....dessss .....tubuh Endang Patibroto terpental membalik seperti dilontarkan. Padahal pukulannya belum menyentuh tubuh nenek itu masih terpisah setengah meter. Akan tetapi ada hawa mujijat yang mendorongnya ke belakang sehingga kalau dia tidak memiliki ilmu keringanan tubuh yang hebat tentu ia telah terbanting!
"Jangan .... Ni dewi...... !" Namun cegahan Ki Datujiwa itu terlambat karena Endang Patibroto dalam kemarahannya telah memekik dengan aji kesaktian Sardulo Bairowo dan dia telah menerjang lagi sambil menggunakan pukulan Gelap Musti yang amat dahsyat.
"Blaarrrr !!" Pukulan yang hebat bagaikan halilintar menyambar itu juga tidak sampai menyentuh tubuh si nenek yang hanya tersenyum. Pukulan itu tertumbuk pada dinding yang tak tampak, namun yang kuatnya melebihi baja, dan yang membuat Endang Patibroto terhuyung- huyung ke belakang dengan tubuh tergetar hebat. Kini Endang Patibroto memandang dengan mata terbelalak.
"Hi-hi-hik, kau benar-benar hebat. Tak kusangka engkau sehebat ini, Nini. Ah, makin berhargalah puterimu. Ibunya begini hebat, dan sudah sepatutnya kalau puterinya kelak lebih hebat lagi. Siapakah gurumu, Nini Endang Patibroto?"
Suara itu terdengar halus lembut dan manis sekali dan ada pengaruh yang mendorong Endang Patibroto untuk menjawab dengan suara gemetar,
"Guruku .... adalah Dibyo Mamangkoro.... !!
"Heh-heh-heh-heh! Pantas .... pantas..... Dibyo Mamangkoro adalah paman dari iblis betina Mamangsari isteri Prabu Boko! Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Dan aku adalah guru dari Mamangsari! Kalau kini puterimu belajar kepadaku, berarti dia menjadi murid dari Eyang Canggahnya sendiri ... hi-hik!"

Endang Patibroto terbelalak dan tertegun. Pantas saja nenek ini sakti seperti iblis sendiri, kiranya adalah guru dari Mayangsari permaisuri Sang Prabu Boko yang kabarnya dahulu memiliki aji-aji kesaktian sejajar dengan kesaktian Sang Prabu Boko! Akan tetapi kini Ki Datujiwa yang sudah bangkit berdiri maju dan memberi hormat kepada nenek itu.
"Sadhu-sadhu-sadhu ... Nini Bumigarba! Pengambilan murid harus dilakukan dengan suka rela antara guru dan muridnya, juga harus pula mendapatkan ijin orang tuanya. Memaksakannya berarti memperkosa dan hal itu amatlah tidak baik. Apalagi Retna Wilis sudah menjadi muridku, biarpun kepandaianku masih dangkal, kalah jauh kalau dibandingkan dengan kepandaianmu, akan tetapi dia menjadi muridku secara suka rela, Kalau aku sebagai gurunya melarang dia menjadi murid orang lain, ibunya sendiri pun tidak setuju, tidak semestinya Andika memaksakan kehendakmu, Nini Bumigarba."
Kini dari balik tabir asap atau uap menghitam itu tampak sepasang mata yang menyinarkan api.

<<< Bagian 121                                                                                      Bagian 123 >>>

No comments:

Post a Comment