Apalagi bagi Endang Patibroto yang selalu menekan penderitaan batinnya. Bertahun-tahun wanita sakti yang bernasib malang ini menekan perasaan rindunya kepada Tejolaksono, satu-satunya pria di dunia ini yang amat dicintanya, ayah dari Retna Wilis. Kemudian ditambah dengan malapetaka hebat yang menimpa dirinya, yaitu penghinaan berupa perkosaan atas dirinya yang dilakukan oleh Sindupati atau Warutama. Penderitaan batin ini ditahannya secara diam-diam, tak seorang pun mengetahuinya. Kini kepergian adik kandungnya, Setyaningsih, membuat Endang Patibroto makin menderita dan kesepian, memperhebat rasa rindunya kepada Tejolaksono. Betapapun juga, demi untuk puterinya, ia mempertahankan diri dan tekun menggembleng puterinya itu yang kini mempunyai seorang guru yang boleh diandalkan yaitu Ki Datujiwa yang sakti mandraguna.
Pada suatu pagi yang cerah,
mereka bertiga duduk bersila menerima sepenuhnya cahaya matahari pagi, bermandi
cahaya untuk menerima inti kesaktian sinar sang surya. Endang Patibroto duduk
bersila, mengatur napas, akan tetapi sukarlah baginya untuk menenteramkan
pikirannya yang melayang-layang penuh kerinduan kepada Tejolaksono dan
Setyaningsih. Pikirannya yang muram dan kacau ini ia coba menenteramkannya dengan
mendengarkan wejangan-wejangan yang keluar dari mulut Ki Datujiwa yang sedang
menggembleng Retna Wilis. Guru dan murid itu pun duduk bersila menghadap ke
timur. Retno Wilis bersila seperti Arca, wajahnya yang cantik itu gemilang
bersinar terkena cahaya matahari yang keemasan, dengan tekun ia mendengarkan
suara yang keluar dari mulut gurunya.
"Muridku, Retna Wilis,
camkanlah baik-baik. Di dunia ini, tidak ada kesaktian yang lebih tinggi
daripada menaklukkan dan menguasai nafsu-nafsu diri pribadi karena inilah yang
merupakan syarat terpenting menuju ke arah sempurnanya segala ilmu yang
dipelajari manusia. Ilmu macam apa pun akan menjadi ilmu yang menghasilkan
buah-buah kebaikan apabila dimiliki oleh orang yang telah dapat menguasai
nafsu-nafsu pribadi. Sebaliknya, segala macam ilmu akan menjadi ilmu hitam yang
sifatnya merusak dan merugikan orang lain apabila ilmu itu dimiliki oleh orang
yang menjadi hamba daripada nafsu-nafsunya."
Endang Patibroto yang ikut
mendengarkan, dapat merasakan kebenaran wejangan ini dari pengalaman. Di waktu
mudanya ia sudah banyak berdekatan dengan orang-orang sakti golongan sesat dan
orang-orang sakti yang bersih, dan ia dapat merasakan bahwa mereka yang
termasuk golongan sesat itu adalah orang-orang yang selalu bertindak menurutkan
hawa nafsu. Dan betapapun saktinya dia yang menurutkan hawa nafsu, akhirnya
akan roboh sebagai akibat daripada tindakannya sendiri.
"Dan tidak ada,
kemenangan yang paling mutlak dan besar kecuali kemenangan yang diperoleh dari
sikap mengalah, muridku. Mengalah dengan tulus ikhlas, mengalah bukan karena
takut, melainkan mengalah karena sadar bahwa jalan kekerasan bukanlah jalan
yang baik. Memang betul bahwa engkau sejak kecil digembleng dan mempelajari
ilmu kesaktian, akan tetapi bukanlah kehendak ibumu dan kehendakku untuk
mendidik engkau menjadi orang yang mengandalkan kesaktian mengejar kemenangan
dengan kekerasan. Mengalah adalah laku yang paling utama, muridku."
Sekali ini, di dalam hatinya
Endang Patibroto tidak dapat menyetujui sepenuhnya akan wejangan Ki Datujiwa.
Mengalah untuk menang? Ah, betapa tidak sesuai dengan kenyataan! Dia sudah
mengalah kepada Ayu Candra, meninggalkan Kadipaten Selopenangkep, meninggalkan
orang yang dicintainya, Adipati Tejolaksono, akan tetapi dia tidak merasakan
kemenangan karena mengalah ini! Dia menderita sampai bertahun-tahun! Akan
tetapi, dapatkah kepergiannya tanpa pamit itu digolongkan perbuatan mengalah?
Endang Patibroto menarik napas panjang, pikirannya menjadi bingung.
"Heh-heh-heh, ini dia
anak yang kucari! Sukar mencari yang lebih baik daripada ini! Sayang dirusak
oleh omongan-omongan kosong pertapa dungu!"
Tiga orang yang sedang
bersila itu terkejut sekali. Lebih-lebih Endang Patibroto dan Ki Datujiwa.
Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki kesaktian hebat, yang tidak saja
sudah memiliki telinga yang terlatih bahkan mempunyai apa yang dinamakan
telinga batin sehingga dapat mendengar apa yang sukar tertangkap oleh
pendengaran telinga biasa. Akan tetapi kedatangan orang ini sama sekali tidak
mereka ketahui dan secara tiba-tiba saja ada suara yang kedengarannya begitu
dekat, akan tetapi ketika mereka memandang, tidak tampak bayangan seorang pun
manusia di situ! Endang Patibroto merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Ia
maklum bahwa yang bicara itu adalah seorang yang memiliki kepandaian seperti
iblis, mungkin dapat menghilang atau dapat mengirimkan suara dari tempat jauh.
Apalagi Endang Patibroto, bahkan Ki Datujiwa sendiri yang memiliki kesaktian
lebih tinggi dari wanita itu, juga menjadi pucat wajahnya dan dapat menduga
bahwa yang datang adalah orang yang amat tinggi tingkat kesaktiannya.
Jantungnya berdebar aneh dan kakek ini cepat mempergunakan kekuatan batinnya
untuk menindas guncangan itu, lalu ia berkata, suaranya tenang penuh wibawa,
"Salam dan hormatnya Ki
Datujiwa harap diterima oleh sahabat sakti mandraguna yang berkenan datang
mengunjungi Wilis! Jika Andika mempunyai kepentingan dengan kami, sudilah
kiranya datang, kami membuka kedua tangan menanti kunjungan Andika!" Dari
ucapan ini Endang Patibroto dapat menarik kesimpulan bahwa suara itu datang
dari orang yang masih berada di tempat jauh.
Namun suaranya tadi demikian
jelas seolah-olah pembicaranya berada di depannya. Kembali terdengar suara yang
tadi,
"Datujiwa bocah kemarin
sore! Tak tahu engkau bersopan-sopan aku memang akan datang!" Mendadak
bertiup angin keras yang menerbangkan daun-daun di pohon, merontokkan daun-daun
kuning dan tampaklah berkelebat bayangan orang seperti asap bergulung-gulung.
Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang nenek yang berpakaian serba hitam.
Nenek ini sukar ditaksir berapa usianya, kedua lengannya mengenakan sepasang
gelang emas dan wajahnya diselimuti uap kehitaman sehingga sukar dilihat
mukanya. Nenek itu berdiri tegak dan amat menyeramkan karena kehadirannya membawa
hawa yang luar biasa, dingin dan mengerikan sehingga kembali Endang Patibroto
bergidik. Sekian banyaknya orang-orang sakti ia jumpai, akan tetapi
dibandingkan dengan nenek ini, mereka itu hanya seperti kanak-kanak saja.
Ki Datujiwa yang biasanya
bersikap tenang itu kini memandang nenek itu dengan wajah pucat dan ia berkata,
"Dewi Sarilangking
.....! Maafkan kalau saya keliru menduga ... bukankah Andika ini Sang Dewi
Sarilangking yang kemudian terkenal dengan julukan Nini Bumigraba .... “
"Hik, hik, Datujiwa!
Matamu masih tajam. Lima puluh tahun yang lalu kita pernah bertemu dan engkau
masih belum lupa kepadaku. Bagus! Hai ini saja sudah menyelamatkan
kepalamu!"
"Saya menghaturkan
salam dan hormat kepada Nini Bumigarba yang sakti mandraguna. Kalau boleh saya
bertanya, apakah kehendak Andika sehingga memberi penghormatan kepada kami
dengan kunjungan ke Wilis ini?"
"Ketahuilah, heh engkau
Datujiwa! Aku sedang nganglang jagad (mengelilingi dunia) untuk, mencari
seorang murid yang cocok. Di sini aku melihat bocah ini, hatiku tertarik
sekali. Dia cocok untuk mewarisi ilmu-ilmuku. Sayang engkau telah merusaknya
dengan omongan-omongan kosong tentang mengalah dan macam-macam obrolan tiada
guna."
Sebelum ada yang menjawab,
Retna Wilis yang baru berusia enam tahun itu bangkit berdiri dan berkata kepada
nenek aneh yang mukanya diselimuti uap hitam itu, suaranya nyaring dan matanya
bersinar-sinar,
"Nenek yang aneh! Aku
adalah murid Eyang Datujiwa yang sakti. Engkau hendak mengambil murid aku?
Apakah kesaktianmu? Apakah engkau lebih sakti dari Eyang Datujiwa? Aku hanya
mau menjadi murid orang yang memiliki kesaktian lebih dari Ibuku dan Eyang
Datujiwa!"
"Retna.... Diam
kau!" bentak Endang Patibroto yang masih merasa ngeri melihat nenek itu.
Ia mengerti bahwa nenek ini biarpun seorang sakti, namun dikelilingi oleh hawa
jahat seperti iblis. Mana mungkin ia membolehkan puterinya menjadi murid nenek
iblis ini?
"Heh-heh-heh,
semangatnya boleh juga! Nah, Datujiwa, engkau mendengar sendiri. Hayo bangkit
dan kau lawan aku beberapa jurus untuk membuka mata calon muridku!"
"Tidak! Tidak boleh
anakku diambil murid orang begitu saja!" Endang Patibroto berteriak marah.
Kekhawatirannya bahwa anaknya akan diambil murid nenek iblis itu membuat ia
marah dan lupa akan kengeriannya. Timbul keberaniannya dan kalau Endang
Patibroto sudah marah, biar setan dan iblis sendiri muncul di depannya, dia
tidak akan mundur selangkah untuk melawannya!
Nenek yang tadinya sama
sekali tidak memperhatikan Endang Patibroto, kini membalikkan mukanya memandang
penuh perhatian. "Hemm ............ jadi engkaukah yang menjadi ibu anak
ini? Wah, engkau boleh juga. Pantas saja mempunyai puteri seperti dia. Siapakah
namamu, Nini?"
"Namaku Endang
Patibroto dan akulah ketua Padepokan Wilis. Retna Wilis adalah puteriku, dan
dia menjadi murid Ki Datujiwa atas kehendakku. Aku, tidak memperkenankan dia
menjadi muridmu, harap kau orang tua jangan memaksa!"
"Heh-heh-heh, siapa
yang memaksa? Anakmu itu dengan suka hati sendiri datang kepadaku. Bukankah
begitu, Retna Wilis yang manis? Engkau yang datang sendiri kepadaku?
Lihatlah."
Retna Wilis hanya memandang
dengan matanya yang lebar bersinar-sinar, akan tetapi tiba-tiba anak itu lalu
berjalan menghampiri nenek itu. Ada sesuatu yang mendorongnya sehingga kedua
kakinya dengan sendirinya melangkah menghampiri nenek iblis itu.
"Retna Wilis! Jangan
lancang engkau!" Endang Patibrotb membentak.
"Heh-heh, tidak ada
yang memaksa dan engkau pun akan merelakan anakmu, Endang Patibroto. Retna
Wilis bocah ayu, kembalilah dulu kepada ibumu, aku tidak memaksa siapa-siapa
dan kalau kau ingin menyaksikan kesaktianku, Ibu dan gurumu ini boleh belajar
seratus tahun lagi masih takkan mampu menandingiku." Setelah Ratna Wilis
berjalan mendekatinya, Endang Patibroto maklum dari pandang mata anaknya bahwa
anaknya tadi menghampiri si nenek iblis itu bukan atas kehendak sendiri.
Kemarahannya memuncak dan ia lalu menerjang maju, meloncat dan menampar dengan
tangan terbuka. Hebat bukan main gerakan Endang Patibroto ini karena dalam
kemarahannya dan dugaannya bahwa lawannya amat sakti, ia meloncat dengan Aji
Bayu Tantra dan menghantam dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh sekali.
"Wuuuutttt .....dessss
.....tubuh Endang Patibroto terpental membalik seperti dilontarkan. Padahal
pukulannya belum menyentuh tubuh nenek itu masih terpisah setengah meter. Akan
tetapi ada hawa mujijat yang mendorongnya ke belakang sehingga kalau dia tidak
memiliki ilmu keringanan tubuh yang hebat tentu ia telah terbanting!
"Jangan .... Ni
dewi...... !" Namun cegahan Ki Datujiwa itu terlambat karena Endang
Patibroto dalam kemarahannya telah memekik dengan aji kesaktian Sardulo Bairowo
dan dia telah menerjang lagi sambil menggunakan pukulan Gelap Musti yang amat
dahsyat.
"Blaarrrr !!"
Pukulan yang hebat bagaikan halilintar menyambar itu juga tidak sampai
menyentuh tubuh si nenek yang hanya tersenyum. Pukulan itu tertumbuk pada
dinding yang tak tampak, namun yang kuatnya melebihi baja, dan yang membuat
Endang Patibroto terhuyung- huyung ke belakang dengan tubuh tergetar hebat.
Kini Endang Patibroto memandang dengan mata terbelalak.
"Hi-hi-hik, kau
benar-benar hebat. Tak kusangka engkau sehebat ini, Nini. Ah, makin berhargalah
puterimu. Ibunya begini hebat, dan sudah sepatutnya kalau puterinya kelak lebih
hebat lagi. Siapakah gurumu, Nini Endang Patibroto?"
Suara itu terdengar halus
lembut dan manis sekali dan ada pengaruh yang mendorong Endang Patibroto untuk
menjawab dengan suara gemetar,
"Guruku .... adalah
Dibyo Mamangkoro.... !!
"Heh-heh-heh-heh!
Pantas .... pantas..... Dibyo Mamangkoro adalah paman dari iblis betina
Mamangsari isteri Prabu Boko! Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Dan aku
adalah guru dari Mamangsari! Kalau kini puterimu belajar kepadaku, berarti dia
menjadi murid dari Eyang Canggahnya sendiri ... hi-hik!"
Endang Patibroto terbelalak
dan tertegun. Pantas saja nenek ini sakti seperti iblis sendiri, kiranya adalah
guru dari Mayangsari permaisuri Sang Prabu Boko yang kabarnya dahulu memiliki
aji-aji kesaktian sejajar dengan kesaktian Sang Prabu Boko! Akan tetapi kini Ki
Datujiwa yang sudah bangkit berdiri maju dan memberi hormat kepada nenek itu.
"Sadhu-sadhu-sadhu ...
Nini Bumigarba! Pengambilan murid harus dilakukan dengan suka rela antara guru
dan muridnya, juga harus pula mendapatkan ijin orang tuanya. Memaksakannya
berarti memperkosa dan hal itu amatlah tidak baik. Apalagi Retna Wilis sudah
menjadi muridku, biarpun kepandaianku masih dangkal, kalah jauh kalau
dibandingkan dengan kepandaianmu, akan tetapi dia menjadi muridku secara suka
rela, Kalau aku sebagai gurunya melarang dia menjadi murid orang lain, ibunya
sendiri pun tidak setuju, tidak semestinya Andika memaksakan kehendakmu, Nini
Bumigarba."
Kini dari balik tabir asap
atau uap menghitam itu tampak sepasang mata yang menyinarkan api.
No comments:
Post a Comment