Joko Pramono yang tadi mendengarkan percakapan mereka dan bersama Pusporini mendapat kesan baik atas diri Wiraman dan Widawati, juga merasa kasihan kepada dua orang itu, membalas penghormatan itu dan menjawab,
"Nama saya Joko Pramono
dan dia ini adalah adik seperguruan saya, namanya Pusporini. Kami adalah murid-
murid Sang Resi Mahesapati yang mentaati perintah guru kami untuk membunuh ular
sakti Puspo Wilis. Andika siapakah dan mengapa sampai berada di dalam hutan
liar ini?"
Berdebar jantung Wiraman.
Dia telah diselamatkan oleh dua orang sakti ini, dan mereka itu telah mengaku
dan memperkenalkan diri secara terus terang. Sungguhpun dia belum pernah
mendengar nama mereka, belum pula mendengar nama Sang Resi Mahesapati, namun ia
dapat menduga bahwa mereka ini tentu murid-murid seorang pertapa yang maha
sakti. Sudah sepatutnya sebagai orang yang berhutang budi, ia mengaku terus
terang akan keadaannya dan keadaan Widawati. Akan tetapi, mengingat bahwa
mereka berdua adalah orang-orang buruan yang harus melakukan perjalanan secara
rahasia, membuka rahasia mereka berarti membahayakan keselamatan Widawati.
Wiraman merasa serba salah dan setelah ragu-ragu sebentar, ia lalu menjawab,
setengah benar setengah bohong,
"Nama saya Wiraman dan
dia ini adalah adik misan saya bernama Widawati. Kami berdua adalah
perantau-perantau dari dusun yang hendak pergi ke kota raja Panjalu, dengan
niat mencari pekerjaan di sana.... “
"Eh, paman mengapa
bersembunyi-sembunyi dan membohong kepada kami?" Tiba-tiba Pusporini
mencela. Gadis ini memang lincah dan kenes, juga paling membenci segala macam
bentuk kebohongan karena dia sendiri tidak pernah membohong dan selalu
menghendaki kejujuran.
"Paman bukan orang
dusun, apalagi Ayunda ini, pasti sekali bukan seorang gadis dusun! Cara Paman
melawan ular tadi pun menunjukkan bahwa Paman bukan seorang petani biasa! Kami
tidak keberatan Paman tidak mengaku siapa sebenarnya Andika berdua karena bukan
urusan kami, akan tetapi kami pun tidak suka dibohongi karena yang membohong
dan menyembunyikan diri hanyalah para pengecut. Dan kami yakin Paman bukan
seorang pengecut!" Ucapan ini keluar dari hati yang jujur karena setelah
tadi mendengar percakapan mereka, Wiraman mendatangkan kesan yang baik dalam
hati Pusporini, maka gadis perkasa ini menjadi kecewa mendengar pengakuan
Wiraman yang tidak sejujurnya.
Merah wajah Wiraman dan
sejenak ia tidak dapat bicara. Tak disangkanya ia akan bertemu dengan gadis
sakti yang begini terus terang tanpa tedeng aling-aling kalau bicara!
"Saya ....sesungguhnya
......" ia menggagap. Melihat keadaan Wiraman ini, Widawati menjadi
kasihan. Gadis ini tentu saja maklum mengapa Wiraman perlu membohong, tentu
untuk menjaga keselamatannya karena mereka berdua belum mengenal betul siapa
adanya muda-mudi yang sakti itu. Bagaimana kalau mereka itu orang-orang yang
pro kepada kekuasaan baru yang kini mencengkeram Jenggala? Cepat ia membela,
siap mengorbankan dirinya,
"Sesungguhnya, saya
bernama Widawati dan saya adalah satu-satunya cucu Ki Patih Brotomenggala di
Jenggala yang terbebas daripada malapetaka yang membasmi keluarga kepatihan.
Dan Kakang Wiraman ini hanya mengantar saya menuju ke Panjalu minta
pengadilan...“
"Diajeng .....!"
Wiraman hendak mencegah, namun pengakuan itu telah lengkap. Pusporini dan Joko
Pramono terkejut sekali mendengar pengakuan itu dan mereka saling pandang.
Kemudian Pusporini cepat melangkah maju dan memegang tangan Widawati sambil
berkata,
"Ah, kiranya Andika ini
cucu Ki Patih Brotomenggala di Jenggala? Dan keluarga kepatihan Jenggala
terbasmi habis? Apa artinya itu? Apa yang telah terjadi di Jenggala?"
Widawati dan Wiraman saling pandang dan pada pandang Wiraman terdapat pesan
kepada Widawati, agar jangan mengaku sebelum mengenal siapa adanya dua orang
muda-mudi ini. Melihat ini, Pusporini menjadi tidak sabar dan cepat berkata,
"Andika berdua tidak
perlu curiga. Kami adalah orang- orang yang setia kepada kerajaan. Ketahuilah,
aku adalah seorang dari Kadipaten Selopenangkep. Sang Adipati Tejolaksono
adalah rakandaku, kakak misanku! Ayunda Endang Patibroto adalah kakakku! Masih
tidak percayakah Andika kepadaku?"
Kini yang menjadi amat
terkejut adalah Wiraman, sedangkan Widawati memandang dengan mata terbelalak
karena tentu saja ia sudah mendengar dan tahu siapa adanya Endang Patibroto
yang dahulu menjadi isteri Pangeran Panjirawit di Jenggala! Serta-merta kedua
orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan Widawati lalu menangis.
"Sungguh merupakan
kemurahan para Dewata bahwa hamba berdua mendapat pertolongan dari Paduka yang
menjadi saudara muda Gusti Patih Tejolaksono di Panjalu ..... !" kata
Wiraman dengan girang sekali.
Kini giliran Pusporini yang
tercengang.
"Apa kau bilang?
Rakanda Tejolaksono adalah adipati di Selopenangkep, mengapa Andika menyebutnya
gusti patih?"
Wiraman melongo.
"Betapa mengherankan
pertanyaan Paduka ini! Gusti Adipati Tejolaksono kini telah menjadi patih muda
di Panjalu. Bagaimana Paduka sampai tidak mengerti?"
Pusporini mengangguk-angguk.
"Syukurlah kalau
begitu. Ketahuilah, Paman Wiraman. Telah bertahun-tahun aku meninggalkan
Selopenangkep dan menjadi murid Eyang Resi Mahesapati. Sekarang ceritakannya
kesemuanya, ceritakanlah apa yang terjadi di Jenggala, siapa sebenarnya Andika
ini, dan mengapa kepatihan Jenggala terbasmi, oleh siapa."
Maka berceritalah Wiraman
tentang dirinya, betapa dia bersama sebelas orang temannya sebagai orang-orang
kepercayaan mendiang Ki Patih Brotomenggala melakukan tugas mengawal secara
diam-diam pada sri baginda yang mengadakan perburuan. Betapa kemudian sri
baginda diserbu penjahat. Dia menceritakan semua rahasia, juga membongkar
rahasia orang yang bernama Raden Warutama yang dengan licik telah dapat
mengangkat diri menjadi patih di Jenggala. Dia juga menceritakan bagaimana Ki
Patih Brotomenggala difitnah dan dijatuhi hukuman mati sekeluarga dan hanya
Widawati saja yang kebetulan dapat lolos. Diceritakan pula betapa Kerajaan
Jenggala kini dicengkeram oleh selir baru yang bernama Suminten dan persekutuan
antara Suminten, Pangeran Kukutan, dan patih baru yang bernama Warutama.
"Karena hamba berdua
merupakan orang-orang buruan Jenggala, maka hamba mengajak.... Diajeng Widawati
untuk melarikan diri ke Panjalu, untuk mohon bantuan dan pengadilan sri baginda
di Panjalu. Karena hamba berdua melakukan perjalanan secara rahasia, maka hamba
melewati daerah-daerah yang sunyi. Siapa nyana, di sini hamba berdua diserang
ular siluman dan untung tertolong oleh Paduka. Akan tetapi hamba ......"
Wiraman tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia teringat akan peristiwa
yang terjadi antara dia dan Widawati.
Joko Pramono maklum akan isi
hati bekas pengawal yang gagah perkasa itu, maka ia cepat berkata,
"Paman Wiraman harap
menenangkan hati. Aku dan Pusporini yang menjadi saksi bahwa Paman berdua telah
menjadi korban racun ular yang amat jahat. Kami berdua yang menjadi saksi akan
perlindungan dan pembelaan Paman yang amat setia terhadap cucu mendiang Ki
Patih Brotomenggala."
Wiraman mengangkat muka
memandang wajah Joko Pramono dengan penuh syukur dan terima kasih.
"Kalau begitu,
perkenankan hamba berdua untuk melanjutkan perjalanan agar dapat segera sampai
di Panjalu."
"Nanti dulu, Paman.
Cerita Paman sungguh menarik hati dan aku sendiri ingin pergi menjumpai Rakanda
Tejolaksono di Panjalu, Akan tetapi, aku harus minta ijin dulu dari Eyang Resi
dan sebaiknya Andika berdua ikut dengan kami menghadap Eyang Resi untuk
mendapat nasehat dan doa restunya."
Wiraman tidak berani
membantah, apalagi sebagai seorang gagah perkasa, ia pun ingin sekali menghadap
guru dua orang muda yang sakti itu, yang ia percaya tentu memiliki ilmu
kesaktian, yang luar biasa hebatnya. Adapun Widawati yang telah menyerahkan
jiwa raga dan nasibnya ke tangan Wiraman, hanya menurut saja. Berangkatlah
mereka berempat menuju ke puncak Gunung Kawi dan di sepanjang perjalanan
Wiraman dihujani pertanyaan-pertanyaan, terutama sekali oleh Pusporini yang
ingin tahu tentang keadaan keluarganya. Ketika mendengar akan kejahatan
Suminten yang telah mencengkeram Jenggala melalui sang prabu yang lemah dan
tua, dua orang murid Resi Mahesapati ini menjadi marah.
Akan tetapi sungguh berbeda
dengan kedua orang muridnya yang marah mendengar kelaliman merajalela di
Jenggala, Sang Resi Mahesapati malah tersenyum lebar, seolah-olah tidak merasa
heran dan juga tidak menganggap peristiwa-peristiwa mengerikan yang terjadi di
Jenggala itu sebagai hal-hal yang menjadikan penasaran. Ia menerimanya dengan
tenang, tersenyum dan mengangguk- angguk, menganggapnya sudah wajar!
"Segala sesuatu yang
terjadi di dunia ini, baik maupun buruk menurut penilaian orang, adalah wajar
dan sudah ditentukan oleh Sang Hyang Widi Wisesa, sesuai dengan hukum karma,
sama wajarnya dengan perkembangan sebab-akibat sebutir benih yang ditanam lalu
tumbuh, berdaun, berkembang, dan berbuah. Dan sesungguhnya, untuk menghadapi
semua itulah maka aku dahulu mengambil kalian sebagai murid, Joko Pramono dan
Pusporini!"
"Eyang Resi, kalau
begitu, hamba mohon Eyang sudi memperkenankan hamba pergi bersama Paman Wiraman
berdua ke Panjalu untuk menghadap Rakanda Tejolaksono dan membantunya
membebaskan Jenggala dari cengkeraman persekutuan busuk itu!" kata
Pusporini penuh semangat.
"Ha-ha, belum tiba
saatnya, Pusporini. Ingatkah engkau akan janjimu dahulu bahwa kalian berdua
harus lima tahun menerima gemblengan? Baru berjalan tiga tahun, dan yang kalian
bantu bukanlah Sang Patih Muda Tejolaksono. Jangan tergesa-gesa, muridku."
"Pusporini, agaknya
engkau lupa akan tugas yang kita lakukan atas perintah Eyang Resi. Mengapa
tidak kau keluarkan mustika ular itu dan kita sama sekali belum menceritakan
hasil tugas kita kepada Eyang Resi." Pusporini terkejut. Peristiwa
perjumpaan dengan Wiraman dan Widawati, kemudian mendengar tentang rakandanya,
membuat ia lupa sama sekali akan hal itu. Cepat ia mengeluarkan batu mustika
ular itu dan menyerahkannya kepada Resi Mahesapati, sedangkan Joko Pramono lalu
menceritakan secara ringkas tentang hasil mereka membunuh ular Puspo Wilis.
Tentu saja ia tidak menyinggung-nyinggung tentang peristiwa mengerikan yang
hampir saja menyeret mereka menjadi hamba-hamba nafsu karena pengaruh racun
mujijat dari ular itu, juga tidak menceritakan tentang keadaan Wiraman dan
Widawati.
Kakek itu menerima batu
mustika ular, memandanginya sejenak dan mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Kemudian sinar matanya yang halus penuh wibawa itu menyapu ke arah wajah
keempat orang itu. Sinar mata ini begitu penuh pengertian sehingga tanpa dapat
ditahan lagi empat orang yang duduk menghadap itu menundukkan muka yang menjadi
merah padam, terutama sekali Wiraman dan Widawati.
"Kau simpaniah batu
mustika ular Puspo Wilis ini, Pusporini. Ketahuilah bahwa di antara semua
binatang berbisa, ular itu telah menghimpun segala macam bisa dan kebal
terhadap semua bisa karena khasiat batu mustika ini. Batu ini kelak, sesuai
dengan kehendak para Dewata, akan dapat menyelamatkan banyak orang yang
terancam keselamatannya oleh racun-racun yang disebar oleh orang-orang sesat.
Semua luka berbisa dapat digosok bersih dengan batu ini, dan semua racun dalam
tubuh dapat dibersihkan dengan minum air yang merendam batu ini."
"Eyang, mengapakah
hamba belum diperkenankan pergi ke Panjalu sekarang untuk membantu pembersihan
di Jenggala terhadap persekutuan jahat?" Pusporini masih penasaran.
“Telah tiga tahun hamba
mempelajari ilmu dari Eyang, dan hamba merasa cukup kuat untuk menghadapi lawan-lawan
jahat itu. Hamba tidak takut biar menghadapi iblis sekalipun yang mengeruhkan
Kerajaan Jenggala!"
Kakek itu tertawa.
"Pusporini, engkau
tidak tahu. Calon-calon lawanmu adalah orang-orang yang sakti mandraguna,
dikemudikan oleh orang-orang yang maha sakti. Jangankan hanya engkau dan Joko
Pramono, biar aku sendiri belum tentu dapat menandingi mereka. Karena itu,
bersabarlah dan belajarlah lebih rajin lagi. Selama dua tahun. Kalau sudah tiba
masanya, tentu kuperkenankan kalian berdua untuk pergi. Juga Ki Wiraman dan
Nini Widawati kuperkenankan tinggal selama dua tahun di sini. Ki Wiraman adalah
seorang hamba yang setia di Jenggala, adapun Nini Widawati adalah seorang
korban kekeruhan yang melanda Jenggala, karena itu keduanya berhak untuk
menerima ilmu sekedarnya dan kelak menjadi pembantu-pembantu yang baik. Tentu
saja kalau Andika berdua suka menerima bimbinganku ...“
Wiraman sudah menyembah dan
menjawab dengan suara mantab,
"Hamba menghaturkan
banyak terima kasih bahwa Paduka sudi menurunkan kasih sayang dan hendak
memberi petunjuk kepada hamba berdua Diajeng Widawati."
Demikianlah, semenjak hari
itu, bukan hanya Pusporini dan Joko Pramono yang dengan rajin memperdalam ilmu
mereka, juga Wiraman dan Widawati digembleng dengan aji-aji kesaktian oleh Sang
Resi Mahesapati di puncak Gunung Kawi.
Semenjak
perginya Setyaningsih yang ikut bersama suaminya, Pangeran Panji Sigit, dari
Gunung Wilis, maka bagi Endang Patibroto dan puterinya, Retna Wilis, tempat itu
menjadi sunyi. Setyaningsih adalah seorang gadis yang pendiam, namun setelah
dia pergi, mereka merasa kehllangan.
No comments:
Post a Comment