Rangsangan yang hebat menguasai mereka, mendorong hasrat ingin saling berpelukan, saling berciuman, saling melimpahkan cinta kasih. Tangan mereka menggigil dan mulut mereka sudah saling berdekatan, bibir sudah saling bersentuhan. Pada saat itulah, keduanya sadar ketika pandang mata mereka bertemu kembali.
"Ah, ini tidak
benar!" seru Pusporini melepaskan pelukannya.
"Memang salah! Harus
kita lawan .....!" Joko Pramono juga berseru dan keduanya melepaskan
pelukan dan meloncat mundur. Akan tetapi mereka terhuyung lagi ke depan, saling
pandang penuh kasih mesra dan sebelum mereka sadar apa yang mereka lakukan,
keduanya sudah saling tubruk dan saling rangkul. Joko Pramono menundukkan
mukanya mencium Pusporini dengan penuh nafsu yang dibalas oleh gadis itu tanpa
malu-malu lagi, dengan mata setengah dipejamkan. Akan tetapi setelah ciuman
yang bagi mereka seakan tiada putus-putusnya itu mereka saling berpandangan
dekat sekali dan melihat bayangan sendiri di dalam manik mata masing-masing,
kesadaran mereka membuat keduanya memekik keras, melepaskan dekapan dan
meloncat tiga tindak ke belakang, berdiri terbelalak. Mereka berdua melawan
rangsangan yang membuat mereka ingin saling dekap dan ingin melakukan hal-hal
yang lebih berani lagi untuk melampiaskan dorongan hasrat yang amat kuat, dan
terdengarlah Joko Pramono berkata terengah-engah,
"Pusporini ....racun
....racun ular .....kita harus melawan ....kumpulkan hawa sakti ....bernapas
sempurna mengusir hawa jahat .....!” Pusporini yang terengah-engah mengangguk
dan keduanya lalu menjatuhkan diri duduk bersila dan melakukan samadhi sekuat
mungkin, melawan rangsangan yang amat hebat itu. Sungguhpun mereka itu adalah
orang-orang gemblengan, namun mereka masih muda dan masih berdarah panas, maka
dapat dibayangkan betapa sukarnya melawan racun yang merangsang nafsu berahi
itu.
Syukur bahwa keduanya adalah
murid-murid sang sakti Resi Mahesapati yang sudah cukup mengisi mereka dengan
kekuatan batin yang dahsyat sehingga setengah jam kemudian mereka pun sudah
berhasil mengusir hawa beracun dari tubuh dan kepala mereka. Keduanya sadar dan
begitu membuka mata saling berpandangan, keduanya malu sekali. Entah mana yang
lebih merah mukanya, Pusporini ataukah Joko Pramono. Akan tetapi pengalaman itu
membuat mereka berdua makin yakin akan perasaan hati selama ini bahwa biarpun
lahirnya mereka selalu berlomba dan bersaingan, namun di dalam hati mereka
sudah berakar benih cinta kasih yang mendalam.
"Batu mustika itu
.....!" kata Joko Pramono tiba-tiba dan keduanya memandang ke arah batu
yang masih terletak di antara mereka. Akan tetapi aneh sekali. Kini keduanya
tidak bersicepat berdahuluan merebut batu. Keduanya tetap duduk bersila dan
tenang-tenang saja. Ketika kembali mereka beradu pandang, keduanya menunduk dan
tahulah mereka bahwa kini mereka tidak berpura-pura lagi, tidak perduli akan
batu mustika itu, tidak ingin bersaing dan mengalahkan satu kepada yang lain.
"Pusporini ....“
"Hemm ....?" Tanpa
mengangkat muka Pusporini menjawab lirih.
"Batu itu .....mengapa
tidak kau ambil?"
"Kau ambillah, sama
saja."
Joko Pramono tidak bergerak
dari duduknya dan sunyi sampai lama.
"Pusporini ....“
"Hemmm....?”
"Alangkah bahayanya
racun itu...”
"Benar, mengerikan
....“
"Untung engkau kuat
....“
"Engkau pun kuat, Joko
Pramono."
"Hemm, masih baik kita
berdua sadar. Hal itu berarti bahwa kita saling menghargai, bahwa kita saling
....“
"....apa .....“
"Saling mëncinta !”
"Husshhh!".
Setelah kini terlepas dari bahaya yang mengerikan itu, saking girangnya
Pusporini mulai timbul kembali kegalakannya, sungguhpun kini dia sama sekali
tiada niat untuk bersaing lagi dengan Joko Pramono.
"Pusporini, tidakkah
kau merasa di dalam hatimu seperti yang kurasakan sekarang?"
Pusporini mengangguk lalu
menyambung,
"Sudahlah. Kau bawa batu
itu dan kita kembali kepada Eyang Resi. Kita serahkan batu itu kepada Eyang
Resi."
Joko Pramono tersenyum penuh
kebahagiaan, lalu bangkit, mengambil batu, membersihkannya dari darah dengan
bajunya, mengamatinya sebentar penuh kekaguman, lalu menghampiri Pusporini yang
juga sudah bangkit. Ia menyerahkan batu itu dan berkata,
"Kau yang membawa dan
menyerahkannya kepada Eyang Resi, Pusporini."
"Tidak! Kau saja ....“
"Aku laki-laki, aku
lebih patut mengalah." Mereka berdiam. Pusporini menerima batu itu dan
keduanya sejenak merasa terheran-heran akan perubahan yang mendadak ini.
Tadinya mereka ingin sekali saling mengalahkan dan bersaing, kini mereka ingin
sekali saling mengalah.
"Eh, kulihat tadi si
laki-laki gagah dan gadis itu ..... ke mana mereka?"
Joko Pramono tiba-tiba
bertanya dan memandang ke kanan kiri. Pusporini juga teringat, cepat menyimpan
batu mustika ular di dalam kembennya dan juga mencari-cari denga pandang
matanya.
"Ah, jangan-janga
mereka telah tewas karena racun ular. Mari kita mencari mereka."
Keduanya lalu melompati
bangkai ular dan mencari-cari. Tak lama kemudian mereka berdiri terhenyak dan
memandang ke atas rumput tebal di bawah pohon, di mana mereka melihat laki-laki
itu dan gadis yang berpakaian robek-robek rebah di situ! Keduanya agaknya
pingsan dalam keadaan masih saling berpelukan!
"Ihhh ..... Bedebah!
Tak tahu malu!" Pusporini berseru sambil membuang muka. Ia dapat menduga
apa yang telah terjadi antara kedua orang yang masih berpelukan itu.
Wajah Joko Pramono juga
menjadi merah sekali, dan ia hanya dapat berkata lirlh,
"Betapa mungkin mereka
masih dapat berbuat seperti itu .....?”
"Dasar manusia rendah!
Lebih baik kubunuh saja!" seru Pusporini sambil menyambar sebuah batu
besar di dekatnya. Akan tetapi Joko Pramono cepat memegang lengannya. Dia
teringat akan sesuatu dan cepat berbisik,
"Jangan, Pusporini!
Ingatlah keadaan kita tadi! Kita yang sudah lama melatih diri dengan segala
ilmu kesaktian, masih hampir tidak kuat menghadapi rangsangan hawa beracun.
Tentu mereka berdua juga menjadi korban hawa beracun ular itu."
Pusporini melepaskan batunya
dan menghela napas sambil mengangguk.
"Kalau begitu .. patut
dikasihani mereka itu ... siapakah gerangan mereka?"
"Kita bersembunyi di
sana .... ssttt, mereka sudah bergerak. Kita dengarkan apa yang mereka katakan
dan kalau memang laki-laki itu seorang jahat, aku yang akan memberi hajaran
kepadanya. Mari ... !" Keduanya meloncat dan menyusup ke dalam
semak-semak, mengintai.
"Aduh .... Jagad Dewa
Bathara .....! Apa yang telah kulakukan ini??" Begitu sadar dari
pingsannya dan mendapatkan dirinya rebah berpelukan dengan Widawati, Wiraman
meloncat bangun. Melihat keadaan pakaian gadis itu cepat ia membereskan dan
menyelimuti gadis itu dengan sarungnya karena baju gadis itu robek-robek,
kemudian ia duduk, menghela napas berkali-kali kemudian menutupi mukanya dengar
kedua tangan.
"Aku telah gila ....!
Gila ...Gila!" Wiraman menampari kepala sendiri dan merenggut-renggut
rambutnya.
Isak tangis yang terdengar
tiba-tiba membuat Wiraman menurunkan kedua tangannya dan ia memandang Widawati
yang sudah duduk menangis itu dengan wajah pucat. Gadis itu menangis
terisak-isak dan air matanya mengalir turun melalui cela-cela kedua tangan yang
menutupi muka. Beberapa kali Wiraman menelan ludah, agaknya sukar baginya untuk
membuka mulut, kemudian dapat juga ia berkata, suaranya gemetar dan lirih,
"Di ajeng Widawati...
aku .... aku berdosa .... aku telah merusakmu.... aku manusia berhati binatang.
Aku terkutuk! Aku patut dihukum seberat-beratnya, seribu kali mati pun masih
belum dapat mencuci dosaku kepadamu. Akan tetapi, demi semua Dewata, aku
bersumpah bahwa itu yang kulakukan tadi benar-benar terjadi di luar
kesadaranku, Diajeng...”
Widawati masih menangis,
makin mengguguk sampai pundaknya terguncang.
"Diajeng, penyesalanku
lebih besar daripada penyesalanmu. Percayalah dan sebagai bukti, biarlah
kausaksikan kepalaku remuk oleh batu ini! Selamat tinggal, Diajeng .. !”
"Kakang ...! Jangan
...!!" Widawati yang menurunkan kedua tangannya dan melihat betapa
laki-laki itu sudah mengangkat sebuah batu besar hendak ditimpakan kepalanya
sendiri, menjerit dan menubruk.
"Jangan, Kakang....
lebih baik kaubunuh aku lebih dulu....” Dan ia menangis tersedu-sedu.
Wiraman menjadi lemas.
Diturunkan batu itu dan dielus-elusnya rambut kepala yang bersandar di dadanya.
"Diajeng Widawati
....apakah yang kau maksudkan? Mengapa engkau berkata demikian? Aku telah
menodaimu aku telah berdosa dan aku hendak menebus dosa dengan nyawaku. Mengapa
kau melarangku?"
Widawati masih menangis di
dada Wiraman ketika ia menjawab,
"Kakang ....bukan
kesalahanmu seorang..., aku teringat semua sekarang .... ah, akulah yang
bersalah ....aku gadis tak tahu malu ....aku.... aku yang menggodamu, Kakang
..!"
Wiraman mengerutkan alisnya
dan mengingat-ingat. Terbayanglah semua peristiwa tadi, peristiwa yang amat
mesra namun juga amat memalukan setelah kini diingat dalam keadaan sadar.
Memang sesungguhnyalah, dia tidak memperkosa Widawati, hal itu terjadi bukan
karena kekerasan atau bujukan. Sama sekali bukan, melainkan terjadi atas
kehendak kedua fihak. Terjadi karena rangsangan yang luar biasa, yang membuat
keduanya seperti mabuk, melakukan hal itu karena tidak dapat menguasai diri
sendiri, tidak sadar menjadi boneka-boneka yang dikuasai nafsu, dipermainkan
rangsangan nafsu sampai mereka pingsan.
Wiraman menarik napas
panjang.
"Sekarang aku pun
ingat, Diajeng. Tidak salah lagi, kita menjadi korban hawa racun ular itu
...ah, setan telah menguasai kita berdua... dan... dan hal itu telah
terlanjur.... terjadi di luar kesadaran kita."
"Aku aku. malu sekali,
Kakang. Kaubunuhlah aku..” Wiraman mendorong kedua pundak gadis itu, memaksanya
untuk beradu pandang dengannya.
"Diajeng, setelah hal
itu terjadi di luar kesadaran kita... apakah... apakah engkau merasa terhina?
Apakah engkau merasa menyesal?"
Widawati terpaksa memandang
wajah Wiraman dengan mata merah dan muka basah air mata. Ia menggeleng kepala.
"Bukan merasa terhina
atau menyesal .... hanya malu .....karena aku ....seolah-olah telah merampasmu
dari isterimu, Kakang ..........“
Wiraman menarik napas
panjang lagi.
"Ah, jangan berkata
demikian, Diajeng Widawati. Hal ini telah terjadi di luar kehendak kita,
berarti bahwa Hyang Widi Wisesa telah menentukan demikian. Kalau engkau sudi
....aku pun bersumpah bahwa mulai saat ini kau kuanggap sebagai seorang
isteriku ....dan aku akan melindungimu sebagai seorang suami, selama-lamanya,
Diajeng" Widawati mengeluh dan menyandarkan mukanya di dada Wiraman.
"Ahh, Kakang ....aku
hidup sebatangkara di dunia ini, hanya engkaulah yang kupandang, hanya engkau
seorang yang menjadi sandaran hidupku ....tadinya engkau kuanggap sebagai
seorang kakak, sebagai pengganti orang tua dan saudara-saudaraku ... akan
tetapi, sekarang terjadi hal ini ... terserah kepadamu, Kakang, terserah
kebijaksanaanmu."
"Jangan khawatir, kelak
kalau bertemu dengan keluargaku, akan kuceritakan semua peristiwa ini. Isteriku
seorang yang bijaksana, tentu dapat memahami dan akan menerimamu sebagai
saudara muda dengan tangan dan hati terbuka." Agak lega hati Wiraman bahwa
peristiwa yang mengerikan itu berakhir dengan dipertemukannya hatinya dengan
hati Widawati sehingga terdapat persesualan faham. Tiba-tiba ia teringat akan
dua orang muda sakti yang tadi telah menolongnya.
"Ah, di mana mereka
...? Diajeng, kalau tidak ada dua orang muda yang sakti mandraguna datang
menolong, tentu kita berdua telah berada di dalam perut ular itu."
Widawati bergidik.
"Aku pun samar-samar
melihat berkelebatnya bayangan mereka. Mari kita cari mereka, Kakang…….”
Keduanya bangkit berdiri dan
Widawati kini menggunakan sarung Wiraman untuk menutupi tubuh atasnya, karena
pakaiannya koyak-koyak. Akan tetapi ketika mereka berdua keluar dari belakang
semak-semak, mereka melihat dua orang muda sakti itu berdiri dengan wajah
berseri. Seketika wajah Widawati menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar
penuh kekhawatiran. Apakah kedua orang muda itu melihatnya dan mendengarkan
semua percakapannya dengan Wiraman?
Akan tetapi, Wiraman segera
maju dan memberi hormat.
"Syukur kepada para
Dewata Yang Agung bahwa Andika berdua dalam keadaan selamat. Saya yakin bahwa
Andika berdua yang sakti mandraguna telah berhasil membunuh ular siluman itu.
Bolehkah kami mengenal nama Andika berdua yang sakti mandraguna?"
No comments:
Post a Comment