Perawan Lembah Wilis; Bagian 120


Rangsangan yang hebat menguasai mereka, mendorong hasrat ingin saling berpelukan, saling berciuman, saling melimpahkan cinta kasih. Tangan mereka menggigil dan mulut mereka sudah saling berdekatan, bibir sudah saling bersentuhan. Pada saat itulah, keduanya sadar ketika pandang mata mereka bertemu kembali.
"Ah, ini tidak benar!" seru Pusporini melepaskan pelukannya.
"Memang salah! Harus kita lawan .....!" Joko Pramono juga berseru dan keduanya melepaskan pelukan dan meloncat mundur. Akan tetapi mereka terhuyung lagi ke depan, saling pandang penuh kasih mesra dan sebelum mereka sadar apa yang mereka lakukan, keduanya sudah saling tubruk dan saling rangkul. Joko Pramono menundukkan mukanya mencium Pusporini dengan penuh nafsu yang dibalas oleh gadis itu tanpa malu-malu lagi, dengan mata setengah dipejamkan. Akan tetapi setelah ciuman yang bagi mereka seakan tiada putus-putusnya itu mereka saling berpandangan dekat sekali dan melihat bayangan sendiri di dalam manik mata masing-masing, kesadaran mereka membuat keduanya memekik keras, melepaskan dekapan dan meloncat tiga tindak ke belakang, berdiri terbelalak. Mereka berdua melawan rangsangan yang membuat mereka ingin saling dekap dan ingin melakukan hal-hal yang lebih berani lagi untuk melampiaskan dorongan hasrat yang amat kuat, dan terdengarlah Joko Pramono berkata terengah-engah,
"Pusporini ....racun ....racun ular .....kita harus melawan ....kumpulkan hawa sakti ....bernapas sempurna mengusir hawa jahat .....!” Pusporini yang terengah-engah mengangguk dan keduanya lalu menjatuhkan diri duduk bersila dan melakukan samadhi sekuat mungkin, melawan rangsangan yang amat hebat itu. Sungguhpun mereka itu adalah orang-orang gemblengan, namun mereka masih muda dan masih berdarah panas, maka dapat dibayangkan betapa sukarnya melawan racun yang merangsang nafsu berahi itu.

Syukur bahwa keduanya adalah murid-murid sang sakti Resi Mahesapati yang sudah cukup mengisi mereka dengan kekuatan batin yang dahsyat sehingga setengah jam kemudian mereka pun sudah berhasil mengusir hawa beracun dari tubuh dan kepala mereka. Keduanya sadar dan begitu membuka mata saling berpandangan, keduanya malu sekali. Entah mana yang lebih merah mukanya, Pusporini ataukah Joko Pramono. Akan tetapi pengalaman itu membuat mereka berdua makin yakin akan perasaan hati selama ini bahwa biarpun lahirnya mereka selalu berlomba dan bersaingan, namun di dalam hati mereka sudah berakar benih cinta kasih yang mendalam.
"Batu mustika itu .....!" kata Joko Pramono tiba-tiba dan keduanya memandang ke arah batu yang masih terletak di antara mereka. Akan tetapi aneh sekali. Kini keduanya tidak bersicepat berdahuluan merebut batu. Keduanya tetap duduk bersila dan tenang-tenang saja. Ketika kembali mereka beradu pandang, keduanya menunduk dan tahulah mereka bahwa kini mereka tidak berpura-pura lagi, tidak perduli akan batu mustika itu, tidak ingin bersaing dan mengalahkan satu kepada yang lain.
"Pusporini ....“
"Hemm ....?" Tanpa mengangkat muka Pusporini menjawab lirih.
"Batu itu .....mengapa tidak kau ambil?"
"Kau ambillah, sama saja."
Joko Pramono tidak bergerak dari duduknya dan sunyi sampai lama.
"Pusporini ....“
"Hemmm....?”
"Alangkah bahayanya racun itu...”
"Benar, mengerikan ....“
"Untung engkau kuat ....“
"Engkau pun kuat, Joko Pramono."
"Hemm, masih baik kita berdua sadar. Hal itu berarti bahwa kita saling menghargai, bahwa kita saling ....“
"....apa .....“
"Saling mëncinta !”
"Husshhh!". Setelah kini terlepas dari bahaya yang mengerikan itu, saking girangnya Pusporini mulai timbul kembali kegalakannya, sungguhpun kini dia sama sekali tiada niat untuk bersaing lagi dengan Joko Pramono.
"Pusporini, tidakkah kau merasa di dalam hatimu seperti yang kurasakan sekarang?"
Pusporini mengangguk lalu menyambung,
"Sudahlah. Kau bawa batu itu dan kita kembali kepada Eyang Resi. Kita serahkan batu itu kepada Eyang Resi."
Joko Pramono tersenyum penuh kebahagiaan, lalu bangkit, mengambil batu, membersihkannya dari darah dengan bajunya, mengamatinya sebentar penuh kekaguman, lalu menghampiri Pusporini yang juga sudah bangkit. Ia menyerahkan batu itu dan berkata,
"Kau yang membawa dan menyerahkannya kepada Eyang Resi, Pusporini."
"Tidak! Kau saja ....“
"Aku laki-laki, aku lebih patut mengalah." Mereka berdiam. Pusporini menerima batu itu dan keduanya sejenak merasa terheran-heran akan perubahan yang mendadak ini. Tadinya mereka ingin sekali saling mengalahkan dan bersaing, kini mereka ingin sekali saling mengalah.
"Eh, kulihat tadi si laki-laki gagah dan gadis itu ..... ke mana mereka?"
Joko Pramono tiba-tiba bertanya dan memandang ke kanan kiri. Pusporini juga teringat, cepat menyimpan batu mustika ular di dalam kembennya dan juga mencari-cari denga pandang matanya.
"Ah, jangan-janga mereka telah tewas karena racun ular. Mari kita mencari mereka."

Keduanya lalu melompati bangkai ular dan mencari-cari. Tak lama kemudian mereka berdiri terhenyak dan memandang ke atas rumput tebal di bawah pohon, di mana mereka melihat laki-laki itu dan gadis yang berpakaian robek-robek rebah di situ! Keduanya agaknya pingsan dalam keadaan masih saling berpelukan!
"Ihhh ..... Bedebah! Tak tahu malu!" Pusporini berseru sambil membuang muka. Ia dapat menduga apa yang telah terjadi antara kedua orang yang masih berpelukan itu.
Wajah Joko Pramono juga menjadi merah sekali, dan ia hanya dapat berkata lirlh,
"Betapa mungkin mereka masih dapat berbuat seperti itu .....?”
"Dasar manusia rendah! Lebih baik kubunuh saja!" seru Pusporini sambil menyambar sebuah batu besar di dekatnya. Akan tetapi Joko Pramono cepat memegang lengannya. Dia teringat akan sesuatu dan cepat berbisik,
"Jangan, Pusporini! Ingatlah keadaan kita tadi! Kita yang sudah lama melatih diri dengan segala ilmu kesaktian, masih hampir tidak kuat menghadapi rangsangan hawa beracun. Tentu mereka berdua juga menjadi korban hawa beracun ular itu."
Pusporini melepaskan batunya dan menghela napas sambil mengangguk.
"Kalau begitu .. patut dikasihani mereka itu ... siapakah gerangan mereka?"
"Kita bersembunyi di sana .... ssttt, mereka sudah bergerak. Kita dengarkan apa yang mereka katakan dan kalau memang laki-laki itu seorang jahat, aku yang akan memberi hajaran kepadanya. Mari ... !" Keduanya meloncat dan menyusup ke dalam semak-semak, mengintai.

"Aduh .... Jagad Dewa Bathara .....! Apa yang telah kulakukan ini??" Begitu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya rebah berpelukan dengan Widawati, Wiraman meloncat bangun. Melihat keadaan pakaian gadis itu cepat ia membereskan dan menyelimuti gadis itu dengan sarungnya karena baju gadis itu robek-robek, kemudian ia duduk, menghela napas berkali-kali kemudian menutupi mukanya dengar kedua tangan.
"Aku telah gila ....! Gila ...Gila!" Wiraman menampari kepala sendiri dan merenggut-renggut rambutnya.
Isak tangis yang terdengar tiba-tiba membuat Wiraman menurunkan kedua tangannya dan ia memandang Widawati yang sudah duduk menangis itu dengan wajah pucat. Gadis itu menangis terisak-isak dan air matanya mengalir turun melalui cela-cela kedua tangan yang menutupi muka. Beberapa kali Wiraman menelan ludah, agaknya sukar baginya untuk membuka mulut, kemudian dapat juga ia berkata, suaranya gemetar dan lirih,
"Di ajeng Widawati... aku .... aku berdosa .... aku telah merusakmu.... aku manusia berhati binatang. Aku terkutuk! Aku patut dihukum seberat-beratnya, seribu kali mati pun masih belum dapat mencuci dosaku kepadamu. Akan tetapi, demi semua Dewata, aku bersumpah bahwa itu yang kulakukan tadi benar-benar terjadi di luar kesadaranku, Diajeng...”
Widawati masih menangis, makin mengguguk sampai pundaknya terguncang.
"Diajeng, penyesalanku lebih besar daripada penyesalanmu. Percayalah dan sebagai bukti, biarlah kausaksikan kepalaku remuk oleh batu ini! Selamat tinggal, Diajeng .. !”
"Kakang ...! Jangan ...!!" Widawati yang menurunkan kedua tangannya dan melihat betapa laki-laki itu sudah mengangkat sebuah batu besar hendak ditimpakan kepalanya sendiri, menjerit dan menubruk.
"Jangan, Kakang.... lebih baik kaubunuh aku lebih dulu....” Dan ia menangis tersedu-sedu.
Wiraman menjadi lemas. Diturunkan batu itu dan dielus-elusnya rambut kepala yang bersandar di dadanya.
"Diajeng Widawati ....apakah yang kau maksudkan? Mengapa engkau berkata demikian? Aku telah menodaimu aku telah berdosa dan aku hendak menebus dosa dengan nyawaku. Mengapa kau melarangku?"
Widawati masih menangis di dada Wiraman ketika ia menjawab,
"Kakang ....bukan kesalahanmu seorang..., aku teringat semua sekarang .... ah, akulah yang bersalah ....aku gadis tak tahu malu ....aku.... aku yang menggodamu, Kakang ..!"
Wiraman mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat. Terbayanglah semua peristiwa tadi, peristiwa yang amat mesra namun juga amat memalukan setelah kini diingat dalam keadaan sadar. Memang sesungguhnyalah, dia tidak memperkosa Widawati, hal itu terjadi bukan karena kekerasan atau bujukan. Sama sekali bukan, melainkan terjadi atas kehendak kedua fihak. Terjadi karena rangsangan yang luar biasa, yang membuat keduanya seperti mabuk, melakukan hal itu karena tidak dapat menguasai diri sendiri, tidak sadar menjadi boneka-boneka yang dikuasai nafsu, dipermainkan rangsangan nafsu sampai mereka pingsan.
Wiraman menarik napas panjang.
"Sekarang aku pun ingat, Diajeng. Tidak salah lagi, kita menjadi korban hawa racun ular itu ...ah, setan telah menguasai kita berdua... dan... dan hal itu telah terlanjur.... terjadi di luar kesadaran kita."
"Aku aku. malu sekali, Kakang. Kaubunuhlah aku..” Wiraman mendorong kedua pundak gadis itu, memaksanya untuk beradu pandang dengannya.
"Diajeng, setelah hal itu terjadi di luar kesadaran kita... apakah... apakah engkau merasa terhina? Apakah engkau merasa menyesal?"

Widawati terpaksa memandang wajah Wiraman dengan mata merah dan muka basah air mata. Ia menggeleng kepala.
"Bukan merasa terhina atau menyesal .... hanya malu .....karena aku ....seolah-olah telah merampasmu dari isterimu, Kakang ..........“
Wiraman menarik napas panjang lagi.
"Ah, jangan berkata demikian, Diajeng Widawati. Hal ini telah terjadi di luar kehendak kita, berarti bahwa Hyang Widi Wisesa telah menentukan demikian. Kalau engkau sudi ....aku pun bersumpah bahwa mulai saat ini kau kuanggap sebagai seorang isteriku ....dan aku akan melindungimu sebagai seorang suami, selama-lamanya, Diajeng" Widawati mengeluh dan menyandarkan mukanya di dada Wiraman.
"Ahh, Kakang ....aku hidup sebatangkara di dunia ini, hanya engkaulah yang kupandang, hanya engkau seorang yang menjadi sandaran hidupku ....tadinya engkau kuanggap sebagai seorang kakak, sebagai pengganti orang tua dan saudara-saudaraku ... akan tetapi, sekarang terjadi hal ini ... terserah kepadamu, Kakang, terserah kebijaksanaanmu."
"Jangan khawatir, kelak kalau bertemu dengan keluargaku, akan kuceritakan semua peristiwa ini. Isteriku seorang yang bijaksana, tentu dapat memahami dan akan menerimamu sebagai saudara muda dengan tangan dan hati terbuka." Agak lega hati Wiraman bahwa peristiwa yang mengerikan itu berakhir dengan dipertemukannya hatinya dengan hati Widawati sehingga terdapat persesualan faham. Tiba-tiba ia teringat akan dua orang muda sakti yang tadi telah menolongnya.
"Ah, di mana mereka ...? Diajeng, kalau tidak ada dua orang muda yang sakti mandraguna datang menolong, tentu kita berdua telah berada di dalam perut ular itu." Widawati bergidik.
"Aku pun samar-samar melihat berkelebatnya bayangan mereka. Mari kita cari mereka, Kakang…….”
Keduanya bangkit berdiri dan Widawati kini menggunakan sarung Wiraman untuk menutupi tubuh atasnya, karena pakaiannya koyak-koyak. Akan tetapi ketika mereka berdua keluar dari belakang semak-semak, mereka melihat dua orang muda sakti itu berdiri dengan wajah berseri. Seketika wajah Widawati menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar penuh kekhawatiran. Apakah kedua orang muda itu melihatnya dan mendengarkan semua percakapannya dengan Wiraman?
Akan tetapi, Wiraman segera maju dan memberi hormat.
"Syukur kepada para Dewata Yang Agung bahwa Andika berdua dalam keadaan selamat. Saya yakin bahwa Andika berdua yang sakti mandraguna telah berhasil membunuh ular siluman itu. Bolehkah kami mengenal nama Andika berdua yang sakti mandraguna?"

<<< Bagian 119                                                                                      Bagian 121 >>>

No comments:

Post a Comment