Kalau ular ini sudah menelan tubuhku, tentu ia menjadi kenyang dan tidak akan mengganggu Widawati lagi. Pikiran ini membuat Wiraman menjadi tenang dan dia memandang ular itu dengan penuh keberanian, bahkan ada rasa girang terselip di hatinya bahwa pada detik terakhir ini dia dapat melakukan sesuatu untuk Widawati.
"Desss ...” Wiraman
hanya melihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang menghantam ke arah
kepala ular yang sudah siap mencaplok kepalanya. Wiraman mengerahkan tenaganya
ketika merasa betapa libatan ular pada tubuhnya menegang dan mengencang,
kemudian tiba-tiba ekor itu bergerak dan melontarkannya ke udara Wiraman
terkejut sekali dan hanya dan mencegah tubuhnya terbanting keras dengan cara
meringankan tubuhnya menyembunyikan kepala dalam pelukan kedua tangannya.
Ketika ia berguling lalu meloncat bangun dalam keadaan pening, ternyata ia
telah terlempar tidak jauh dari tempat Widawati berdiri. Gadis itu masih
berdiri seperti arca dengan mata terbelalak. Ketika ia menoleh, kagum dan kaget
sekali melihat seorang gadis cantik sedang bertanding melawan ular sakti itu.
Tak lama kemudian berkelebat bayangan orang lain dan muncul seorang pemuda yang
tangkas dan tanpa banyak cakap gadis dan pemuda itu lalu mengeroyok ular yang
mengamuk hebat sambil berdesis-desis mengerikan. Melihat gerakan mereka,
Wiratama dapat mengenal orang-orang sakti. Maka dia lalu menghampiri Widawati,
merangkul pundaknya dan membawa gadis yang masih terpesona itu pergi dari situ.
Widawati terisak lalu terhuyung, tubuhnya lemas. Wiraman cepat memondongnya
lari menjauhi tempat berbahaya itu. Setelah jauh berada di dalam hutan, Wiraman
menurunkan tubuh Widawati ke atas rumput hijau yang tebal. Dia sendiri masih
merasa pening dan pandang matanya masih aneh seperti tadi, masih tampak
warna-warna yang cemerlang indah. Namun dia berusaha melawan perasaan aneh dan
pandangan luar biasa itu dengan kekuatan batinnya, karena ia harus cepat-cepat
menolong Widawati yang agaknya berada dalam keadaan tidak wajar. Gadis ini
setelah ia turunkan dan baringkan di atas rumput, menggeliat-geliat dan
mengeluarkan rintihan-rintihan lirih. Karena khawatir, Wiraman cepat
memeriksanya, dan melihat guratan-guratan merah di leher dan dada, ia menjadi
bingung. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan guratan-guratan yang mengeluarkan
sedikit darah seperti tertusuk dan terbarut duri. Hanya terkena duri ataukah
luka karena ular?
"Diajeng ....apanya
yang nyeri. Di mana yang luka.. ?”
Akan tetapi Widawati hanya
merintih dan menggeliat-geliat sambil memejamkan matanya. Wiraman terpaksa
menekan perasaannya karena melihat tubuh yang muda dan sebagian besar tidak
tertutup rapat karena bajunya robek-robek, ia diserang rangsangan aneh yang
membuat napasnya menjadi sesak. Setan! Dia mengutuk diri sendiri, lalu berusaha
mencurahkan perhatiannya untuk memeriksa dan menolong gadis ini dari bahaya.
Karena dia tidak tahu apakah luka-luka guratan di leher dan dada beracun
ataukah tidak, ia cepat berkata lirih dan merasa heran mengapa suaranya menjadi
menggetar seperti itu dan mukanya terasa panas, bahkan seluruh tubuhnya menjadi
panas.
"Diajeng, maaf ...aku
akan membersihkan lukamu dari racun ..."Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu
menempelkan mulutnya pada luka guratan di leher Widawati dan mengecupnya untuk menyedot
darah dan mengeluarkan racun jika kiranya luka itu ada racunnya.
Akan tetapi begitu bibirnya
mengecup luka di pangkal leher yang melekuk dan hangat itu, naik sedu-sedan
dari dadanya yang membuat napas Wiraman menjadi sesak. Terpaksa ia memejamkan mata
untuk melawan rangsangan hebat yang mengguncang seluruh tubuh dan perasaannya.
Telinganya mendengar betapa Widawati mengeluh dan mengeluarkan suara aneh. Dia
cepat menyedot darah yang terasa asin panas, meludahkannya, membuka mata
kemudian menyedot lagi luka yang agak ke bawah di bawah tulang pundak kiri.
Hampir ia tidak kuat menghisap luka itu karena pada saat itu dari dalam
pusarnya naik rangsangan yang tidak wajar, yang membuat matanya berkunang,
napasnya memburu kepalanya berdenyut-denyut. Pada saat itu, ia merasa betapa
dua buah lengan yang halus hangat melingkari lehernya, betapa wajah yang halus
dan panas itu mendekap mukanya, betapa hidung yang mancung itu mendengus-dengus
seperti kehabisan napas. Widawati telah memeluknya, dan menciuminya! Wiraman
hanyalah seorang manusia biasa. Memang dia seorang manusia gemblengan yang
telah lama berlatih untuk menguasai hawa nafsunya sendiri. Namun saat itu tanpa
ia sadari, ia telah terbius oleh racun ular Puspo Wilis yang amat hebat. Racun
yang keluar dari desis ular itu mula-mula telah meracuni Widawati sehingga dara
itu menjadi terpesona, pandang matanya melihat beraneka warna cemerlang indah,
telinganya berdengung-dengung mendengar gamelan yang merayu indah, dan tubuhnya
terangsang oleh hawa nafsu yang selama ini belum pernah dikenalnya. Kemudian
Wiraman juga terkena racun itu. Biarpun ila sudah berusaha untuk meneguhkan
hatinya, untuk menekan perasaannya, namun keadaan tidak membantunya. Kalau saja
ia tidak khawatir akan keselamatan Widawati, kalau saja ia tidak berusaha
menghisap racun yang disangkanya berada dalam luka-luka guratan yang sebetulnya
hanya guratan terkena duri-duri saja, agaknya pria itu akan dapat menguasai
rangsangan yang timbul dari racun ular Puspo Wilis itu. Akan tetapi, keadaan
tidak demikian. Dia harus menghisap luka-luka itu, di leher yang indah, di dada
yang menggairahkan. Semua ini memperlipatgandakan rangsangan yang menguasainya,
ditambah lagi dengan pelukan dan ciuman Widawati yang berada dalam keadaan
tidak sadar dan dipermainkan oleh pengaruh racun. Wiraman jatuh!
Gadis yang telah
menyelamatkan Wiraman pada detik terakhir tadi bukan lain adalah Pusporini.
Dalam lomba, lari mencari ular, Pusporini menang cepat, akan tetapi karena ia
harus mencari-cari dengan teliti dan tidak dapat berlari cepat di dalam hutan
itu, Joko Pramono dapat menyusulnya dan pemuda ini sudah mulai pula
mencari-cari dalam hutan sebelum Pusporini berhasil menemukan ular Puspo Wilis
yang dicari-cari. Kemudian, tiba-tiba terdengar pekik yang keluar dari mulut Widawati
tadi. Pusporini yang berada dalam jarak lebih dekat, lebih dahulu tiba di
tempat itu dan kebetulan sekali ia menyaksikan betapa ular itu sudah hendak
mencaplok kepala Wiraman. Pusporini menggunakan Aji Bayu Tantra, tubuhnya
mencelat ke depan laksana kilat menyambar dan dengan pukulan Aji Pethit Nogo ia
menghantam ke arah kepala ular itu! Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya
menyaksikan betapa ular itu tidak remuk kepalanya oleh pukulannya Pethit Nogo,
melainkan tersentak ke belakang, melepaskan lingkarannya dan melemparkan tubuh
Wiraman sampai jauh. Pusporini maklum bahwa ular inilah yang dimaksudkan Sang
Resi Mahesapati, maka ia cepat menerjang maju lagi dengan pukulan Pethit Nogo
yang lebih keras lagi ke arah moncong yang mendesis-desis itu.
"Desss .....!!"
Pukulan Pethit Nogo amatlah
ampuhnya, akan tetapi benar-benar luar biasa sekali ular itu karena kepalanya
tidak pecah terkena pukulan itu, hanya desis mulutnya makin menghebat
seolah-olah dia bersambat kesakitan. Tubuhnya kini sudah membelit pohon lagi
dan kepalanya bergoyang-goyang kemudian ia membalas dengan luncuran kepalanya
yang amat cepat, mengimbangi kecepatan gerak tangan Pusporini tadi. Kepalanya
itu seolah-olah merupakan tangan seorang lawan tangguh yang mengirim pukulan ke
arah dada Pusporini, bahkan lebih hebat daripada pukulan orang karena mulutnya
terbuka, mengirim semburan uap kehijauan dan giginya siap menggigit. Pusporini
penasaran dan menangkis, akan tetapi biar pun ia berhasil menangkis serangan
itu, ketika lengannya bertemu dengan leher ular, tenaga serangan binatang itu
membuat ia terhuyung ke belakang. Dan ular itu dengan amat cepatnya sudah
menerjang lagi dengan mulut mendesis-desis.
"Plakk!!" Kepala
ular itu terlempar belakang oleh sebuah pukulan keras yang dilakukan Joko
Pramono yang sudah tiba di situ. Hebat pukulan ini, tidak kalah hebat oleh Aji
Pethit Nogo tadi, bahkan mengandung tenaga yang lebih kuat lagi karena itulah
pukulan dengan Aji Cantuka Sekti. Namun ular itu hanya pening sebentar karena
kembali ia sudah membalas dengan serangan kuat ke arah leher Joko Pramono yang
tertegun dan cepat menangkis.
"Aku tidak membutuhkan
bantuanmu!" Pusporini membentak.
"Aku tidak membantumu!
Kita berlomba membunuhnya!" jawab Joko Pramono.
Celakalah binatang itu
karena sekarang dia dikeroyok dua oleh sepasang orang muda sakti yang berlomba
untuk membunuhnya! Betapapun kuatnya ular yang sudah ratusan tahun umurnya ini,
berat juga ia menanggulangi amukan dua orang muda murid Sang Resi Mahesapati.
Ia menjadi bulan-bulan pukulan sakti, tidak mampu balas menyerang dan untuk
melampiaskan kemarahannya, ular itu terus-menerus mendesis-desis mengeluarkan
uap hijau yang makin lama makin tebal. Dua orang muda itu tadinya terlalu
mengandalkan kekebalan tubuh dan kekuatan hawa sakti mereka, akan tetapi
lama-kelamaan mereka menjadi terkejut sekali karena napas mereka sesak dan
pandang mata mereka selain berkunang-kunang juga mulailah tampak warna-warna
cemerlang yang amat aneh.
"Pusporini
....hati-hati ...racun ....!" Joko Pramono memperingatkan, agak terengah
napasnya.
"Kalau takut racun,
pergilah!" jawab Pusporini tak acuh sungguhpun ia sendiri merasa heran
mengapa pandang matanya melihat warna-warni cemerlang sehingga wajah Joko
Pramono memiliki warna cemerlang yang amat indah dan luar biasa.
Keduanya kini mengerahkan
tenaga dan biarpun ular itu tidak remuk kepalanya oleh pukulan-pukulan mereka,
akan tetapi jelas menjadi agak lemah. Bahkan kini ekor yang tadi membelit pohon
telah terlepas dan membelit tubuh Joko Pramono. Pemuda ini mengerahkan hawa
saktinya sehingga belitan yang kuat itu tidak terasa olehnya, malah ia sudah
mencengkeram perut ular itu. Pada saat yang sama, Pusporini yang mengelak dari
gigitan kepala ular itu, cepat sekali menggunakan kesempatan itu menangkap
leher ular. Tadi tidak mungkin hal dilakukan karena ular itu memiliki gerakan
yang amat gesit. Akan tetapi setelah tenaganya berkurang dan agaknya binatang
itu lelah, kegesitannya pun berkurang sehingga lehernya dapat ditangkap
Pusporini. Melihat ini, Joko Pramono takut kalau ia sampai kalah, maka ia
membetot tubuh ular yang ia cengkeram perutnya itu. Purporini tidak mau kalah,
ia juga membetot leher binatang itu. Terjadilah tarik-menarik antara Pusporini
dan Joko Pramono. Sungguh sial binatang itu yang kini tidak mampu bergerak,
dijadikan seperti tambang untuk tarik-tarikan adu tenaga. Kekuatan ular
terletak pada urat-urat di tubuhnya yang dapat digerak-gerakkan dan dapat
menggeliat-geliat. Kini setelah tubuhnya ditarik, lumpuhlah dia. Dua orang muda
itu terus menarik, mengerahkan tenaga saktinya dan .. "krakk... !"
tubuh ular itu terobek dan putus menjadi dua! Bagian belakangnya berada di
tangan Joko Pramono sedangkan bagian depannya berada di tangan Pusporini. Dua
bagian tubuh ular itu masih menggeliat-geliat hidup, bahkan bagian depan yang
berada di tangan Pusporini tiba-tiba melakukan gerakan sarentak dan kulit
tubuhnya mengeluarkan minyak, kepalanya mendesis keras dan ....... tubuh itu
dapat melepaskan diri dari pegangan Pusporini. Dari kepala sampai ke bagian
tubuh yang buntung masih ada semeter lebih panjangnya. Ular yang tinggal
sepotong itu begitu tiba di tanah lalu meluncur cepat hendak melarikan diri.
Pusporini seperti, orang terpesona atau bingung karena dia berdiri terbelalak
saja memandang. Adapun Joko Pramono ketika melihat ini, melemparkan bagian
belakang
ular yang berada di
tangannya kemudian berteriak,....,
"Pusporini! Jangan
biarkan dia lari…..!
Pemuda itu menubruk,
berbareng dengan Pusporini yang juga menubruk, agaknya gadis ini sadar kembali
oleh teriakan Joko Pramono. Mereka masih berlomba, berebutan. Begitu ular itu
dapat ditangkap, dua pasang tangan berebut dulu menangkap bagian kepala dan
merobek mulut ular itu.
''Kraaaak .....brettttt
.....!" Uap hijau makin tebal mengepul. Kedua orang itu tidak memperdulikan,
melainkan berebut mencari batu mustika yang menurut guru mereka berada di
kepala ular. Mulut ular sudah robek menjadi dua dan kini tampaklah benda
mencorong di telak (rongga mulut atas) yang bersinar hijau. Karena perebutan
ini, tangan mereka bertemu dan cengkeraman mereka membuat setengah kepala ular
bagian atas itu hancur. Sinar berkelebat dan sebutir batu bulat lonjong
meloncat karena licin sekali dari dalam kepala yang hancur, jatuh ke atas
tanah. Itulah mustika ular yang dimaksudkan Sang Resi Mahesapati, sebuah batu
hijau mencorong yang besarnya hanya seibu-jari kaki. Melihat benda ini, Joko
Pramono dan Pusporini menubruk ke bawah dalam detik yang sama.
Karena mereka tergesa-gesa
dan batu itu amat kecil, apalagi karena pandang mata mereka telah disilaukan
warna-warni yang aneh, mereka bertubrukan dan saling cengkeram. Tanpa
disengaja, Pusporini memegang lengan Joko Pramono, sedangkan pemuda itu
pemegang kedua pundak Pusporini. Mereka beradu pandang, muka mereka hampir
beradu dan pada saat itulah terjadinya getaran yang amat hebat, yang membuat
keduanya menggigil, mata saling pandang, napas agak terengah dan batu mustika
ular dilupakan. Bagaikan dalam mimpi, mereka saling pandang penuh kemesraan,
penuh gairah dan berahi, mulut berbisik lirih,
"Pusporini ....!”
"Joko Pramono ....!”
Bagaikan
digerakkan tangan-tangan setan yang tak tampak, dua muka yang elok itu saling
berdekatan, hidung sudah hampir saling menyentuh, hembusan napas masing- masing
terasa hangat di pipi.
No comments:
Post a Comment