"Ahhh .....!" Suara Widawati seperti rintihan perlahan yang langsung keluar dari lubuk hatinya. Sepasang mata yang lebar jernih itu mulai basah.
"Aku bukan..seorang
yang tidak tahu diri, Diajeng. Aku sadar bahwa aku telah beristeri, telah
mempunyai anak-anak, dan bahwa usiaku pun sudah setengah tua! Aku bukan seorang
penghamba nafsu, aku mencinta isteri dan anak-anakku, sampai kini aku belum
pernah mengambil selir. Akan tetapi terhadap engkau, Diajeng, entah mengapa aku
sendiri tidak mengerti. Ada sesuatu yang menarik hatiku sehingga hatiku
menjerit bahwa aku mencintamu, bukan cinta nafsu, akan tetapi ...ah,
seolah-olah aku tidak akan sanggup untuk berpisah lagi dari sampingmu”
"Kakang
Wiraman...." Widawati mulai terisak.
"Mungkin aku telah
menjadi gila, Diajeng," suara Wiraman terdengar gemetar,
"akan tetapi ... demi
semua Dewata, aku tidak berpura-pura, tidak pula dimabuk nafsu. Sudah banyak
kujumpai puteri-puteri cantik jelita, lebih cantik dari padamu, sudah pula
kuhadapi godaan wanita-wanita cantik, namun aku selalu menghindari karena
hatiku tidak suka menerima semua itu. Akan tetapi terhadap engkau, aku
benar-benar jatuh! Duhai Dewata, salahkah Wiraman ini? Salahkah Wiraman yang
setengah tua ini menjatuhkan hatinya kepada seseorang, dalam hal ini seorang
gadis seperti, Widawati? Berdosakah kalau hati ini jatuh cinta?"
Ucapan-ucapan terakhir itu tidak lagi ditujukan kepada Widawati, melainkan
kepada diri sendiri atau kepada para dewata.
Sampai lama keadaan sunyi,
hanya terdengar Widawati menangis sesenggukan sambil menyembunyikan mukanya di
balik telapak tangannya. Kemudian terdengar gadis itu berkata lirih,
"Kakang, bagaimana aku
akan menjawab? Engkau merupakan satu-satunya orang yang paling baik bagiku,
seorang yang telah melimpahkan budi kepadaku. ... cintamu itu, sungguhpun amat
mengejutkan hatiku, namun aku percaya akan kemurniannya. Engkau adalah seorang
pria yang patut dihormati, patut disuwitani, patut dicinta. Sesungguhnya,
alangkah akan mudahnya bagi hatiku untuk membalas cinta kasihmu, Kakang, akan
tetapi ....“
“Akan tetapi aku sudah
terlalu tua bagimu? Pantas menjadi ayahmu, menjadi pamanmu? Katakanlah terus
terang, Diajeng. Aku Wiraman bukan seorang lemah dan aku dapat menghadapi semua
kenyataan dengan mata terbuka dan pikiran sadar."
"Bukan, bukan begitu,
Kakang Wiraman. Aku pun maklum bahwa cinta tidaklah melihat usia, tidak pula
melihat kedudukan dan keadaan seseorang. Akan tetapi.... engkau telah mempunyai
anak isteri, Sedangkan aku.. aku semenjak dahulu bercita-cita untuk cinta
mencinta dengan satu orang saja, tidak suka aku dimadu... tidak suka aku
melihat seorang pria mempunyai selir. Banyak sudah terbukti kekacauan timbul
karena selir, contohnya sang..prabu sendiri“
"Akan tetapi, tidak
semua selir sejahat dia, Diajeng. Bukan sekali-kali aku menyatakan ini untuk
memaksamu menjadi selirku. Tidak. Sudah kukatakan tadi bahwa aku mencintamu
bukan oleh dorongan nafsu. Aku hanya tidak ingin berpisah darimu dan ...dan
...ah, sudahlah, Diajeng, aku hanya membuatmu berduka saja. Sudah cukup bagiku
kalau engkau mendengar akan perasaan hatiku, sudah cukup kalau engkau
mengetahui bahwa aku mencintamu. Lebih daripada itu, tidak kuharapkan. Kalau
engkau tidak membalas cintaku, itu pun dapat kuterima dengan penuh kesadaran.
Aku tidak menyalahkanmu, hanya aku sendirilah yang gila. Aku tidak ingin
menyeretmu ke lembah kedukaan dan kesengsaraan, dan semoga Sang Hyang Wisesa
akan dapat mengangkatku daripada keadaan yang gila ini. Kau tinggallah di sini,
Diajeng, aku akan memburu kijang untuk kita makan dagingnya. Di dalam hutan di
depan itu pasti banyak binatang buruan."
Tanpa menanti jawaban,
Wiraman sudah lari meninggalkan Widawati memasuki hutan yang liar itu untuk
mencari binatang buruan, terutama kijang yang lembut dan lezat rasa dagingnya.
Hatinya, terasa ringan,
dadanya lapang setelah ia membuka rahasia hatinya. Ia tidak mengharapkan
balasan cinta karena maklum bahwa tak mungkin seorang gadis seperti Widawati
dapat mencinta seorang setengah tua seperti dia. Dia tidak berduka akan
kenyataan yang sudah diketahuinya ini, dan dia hanya ingin melihat Widawati
hidup bahagia.
Wiraman menjadi
terheran-heran ketika ia memasuki hutan itu karena hutan itu amat sunyi, tidak
tampak seekor pun binatang buruan. Hanya burung-burung beterbangan di atas
pohon dan agaknya hurung-burung itu pun dalam keadaan gelisah. Karena belum
juga melihat adanya binatang buruan, Wiraman menyusup makin dalam ke dalam
hutan dengan hati penasaran. Ia harus mendapatkan makanan untuk Widawati, kalau
tidak mungkin menangkap atau membunuh seekor binatang yang dapat dimakan
dagingnya sedikitnya ia harus bisa mendapatkan buah-buah untuk gadis itu.
Wiraman mengusap peluhnya. Di sekitarnya pohon pohon raksasa menjulang tinggi
dan membuat hutan itu kelihatan gelap dan menyeramkan. Pakaiannya, pakaian
pengawal sudah lusuh dan basah oleh keringat. Ia merasa makin heran karena kini
ia telah berada di tengah hutan, namun masih juga belum ditemuinya seekor pun
binatang buruan. Mulailah ia putus asa untuk mendapatkan daging binatang dan ia
kini mencari-cari ke atas kalau-kalau ada buah yang dapat dimakan. Sudah lebih
satu jam ia berkeliaran di hutan tanpa hasil. Widawati tentu menunggunya dengan
hati gelisah dan perut lapar. Teringat akan gadis itu, teringat pula ia akan
pengakuannya terhadap Widawati, cinta kasihnya, wajah orang gagah ini menjadi
merah. Berhakkah ia menyatakan cinta kasihnya secara terus terang seperti tadi?
Benarkah ia seorang pria yang mata keranjang, yang mudah tergiur hatinya
melihat perawan cantik? Tidak! Biasanya dia tidak pernah tertarik kepada wanita
lain, betapapun cantiknya dan muda belianya. Dia mencinta isterinya dan
teringat akan penderitaan isterinya ketika melahirkan anak-anaknya, teringat
pula betapa isterinya terlunta-lunta karena dia menjadi seorang buruan,
cintanya diperdalam dengan rasa kasihan. Tidak! Dia bukan seorang yang kurang
setia, bukan seorang suami yang bosan kepada isterinya karena cintanya terhadap
isterinya bukanlah cinta nafsu belaka, melainkan cinta yang mendalam dan murni.
Isterinya tentu akan memaafkannya, dan akan menyetujuinya kalau dia menjatuhkan
hati kepada seorang wanita seperti Widawati. Selamanya dia tidak pernah
mempunyai selir seperti orang lain. Dan terhadap Widawati, ada sesuatu yang
amat aneh pada diri gadis itu yang menarik hatinya. Bukan nafsu semata!
Widawati tidaklah terlalu cantik kalau dibandingkan dengan wanita-wanita cantik
yang pernah dijumpainya.
Tiba-tiba Wiraman yang
mengaso duduk di bawah pohon itu tersentak kaget dan meloncat bangun mendengar
jerit mengerikan. Jerit seorang wanita yang ketakutan! Widawati! Jerit itu
datangnya dari arah di mana tadi meninggalkan gadis itu. Bagaikan seekor kijang
ketakutan, dengan sigap Wiraman lari ke arah suara jerit yang kini makin santer
dan berulang-ulang didengarnya itu. Keris pusaka telah berada di tangannya dan
sambil mengerahkan tenaga berlari cepat, jantungnya berdebar penuh
kekhawatiran.
"Aiiihhhh .. ! Kakang
Wiraman ...tolongggg!"
Pucat wajah Wiraman. Kalau
tadi ia masih setengah berharap bahwa jerit wanita itu bukan keluar dari mulut
Widawati, kini harapan itu musnah dan kekhawatirannya makin memuncak. Widawati
dalam bahaya! Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan berloncatan ke arah jerit
yang terakhir didengarnya itu. Tibalah ia di sebuah tempat terbuka di mana
pohon-pohon raksasa agak berjauhan tumbuhnya. Dan apa yang ia lihat membuat
bulu romanya bangun, kedua kakinya menggigil dan mukanya panas karena marah dan
khawatir. Widawati berada di situ, menggigil dan bingung, matanya terbelalak
memandang ke depan, Mulutnya bergerak-gerak terbuka tanpa ada suara yang
keluar. Agaknya saking takutnya, gadis itu kehilangan suaranya! Bajunya
compang-camping, robek sebagian besar sehingga tampaklah sebagian dari dadanya.
Kulit tubuhnya banyak yang terkait dan tergores duri-duri sehingga pecah
mengeluarkan darah. Apakah yang membuat dara itu ketakutan setengah mati
seperti itu? Wiraman sejak tadi sudah melihatnya dan ia sudah siap dengan
seluruh urat syaraf menegang, gagang keris dipegang erat di tangan. Ular itu
tidaklah amat besar. Kurang lebih sepaha manusia besarnya, akan tetapi amat
panjang dan kulit tubuhnya yang membelit pohon itu amat indahnya, berwarna
dasar hijau dengan kembang-kembang kuning bergaris merah. Karena warna yang
kehijauan, dari jauh tidak tampak di antara daun-daun pohon. Akan tetapi
sepasang matanya yang merah menyala amat mengerikan, seolah-olah sepasang mata
itu mengeluarkan api. Lidahnya yang bercabang dan amat merah itu menjilat-jilat
keluar masuk cepat sekali. Kepalanya tergantung ke bawah dan mendekati tubuh
Widawati yang berdiri seperti arca, dengan mata terbelalak kehilangan akal.
Ular itu siap agaknya untuk melakukan serangan terakhir, untuk meluncurkan
kepala dan menggigit daging lunak pada dada dan leher dara itu. Pada detik yang
tepat tubuh Wiraman sudah meloncat ke depan, menerjang ular itu yang juga sudah
meluncurkan kepalanya dengan mulut terbuka lebar ke arah dada Widawati yang
membusung!
"Ular jahanam!!"
Wiraman mengeluarkan pekik dahsyat dan untunglah bahwa kemarahannya membuat ia
mengeluarkan bentakan itu karena andaikata tidak, tentu dia akan kalah cepat
oleh ular itu dan tentu Widawati sudah terkena gigitan mulut yang mengerikan
itu. Karena pekik yang nyaring ini, ular itu terkejut dan menahan kepalanya
yang sudah siap menggigit, lalu memutar kepala memandang ke kanan dari mana
tubuh Wiraman sudah menerjang maju. Cepat sekali gerakan Wiraman, tangan
kanannya yang memegang keris sudah menyerang, keris pusakanya ditusukkan tepat
ke arah ular dari arah kanan.
"Tessss ......Wiraman
mengeluarkan seruan dan cepat-cepat ia membuang diri ke kini sehingga terhindar
daripada serangan ular yang kini membalik dan menyerangnya. Ternyata bahwa
tusukan kerisnya itu sama sekali tidak dapat menembus leher ular, bahkan
sedikit pun tidak dapat melukai kulit ular yang indah itu. Kerisnya meleset dan
ular itu seolah-olah tidak merasakan tusukannya lalu membalik dan menyerangnya.
Namun Wiraman tidak menjadi gentar. Demi keselamatan Widawati ia harus
melakukan perlawanan. Ia melihat betapa gadis itu masih berdiri terpaku di
tempat yang tadi, terbelalak seperti telah berubah menjadi arca. Mukanya merah
sekali dan hal ini amat mengherankan hati Wiraman.
"Diajeng, larilah
.....! Pergilah menjauh ......!" teriaknya namun Widawati tidak menjawab,
juga tidak bergerak. Terpaksa Wiraman menghentikan teriakannya karena kini ular
itu meluncur ke arahnya dalam sebuah serangan yang amat cepat dan dahsyat.
Wiraman adalah seorang prajurit perkasa yang sudah banyak mengalami
pertandingan. Gerakannya sigap, terampil dan matanya awas. Serangan ini dapat
ia hindarkan dengan mengelak ke kiri, kemudian pada saat kepala ular meluncur
lewat, ia sudah menghunjamkan kerisnya, kini mengarah mata kanan ular itu. Dia
maklum bahwa kulit ular itu kebal, maka kini ia menyerang matanya karena tidak
mungkin matanya kebal, pikirnya. Akan tetapi, ternyata ular hijau itu tangkas
dan tidak dapat diakali begitu saja. Kepalanya bergerak sedikit dan tusukan
keris Wiraman meleset karena tidak mengenal mata melainkan mengenai kulit
kepala. Bukan hanya meleset, bahkan hampir terlepas dari tangan Wiraman karena
"tangkisan" dengan kepala itu mengandung tenaga yang amat kuat,
membuat tangan Wiraman seperti lumpuh sesaat. Dan sebelum Wiraman dapat
menguasai dirinya, tiba-tiba ular itu mengeluarkan suara mendesis keras dan uap
yang kehijuan menyambar ke arah muka bekas pengawal ini. Wiraman cepat
miringkan mukanya, namun masih tercium bau yang amat harum mengandung bau amis
yang memuakkan. Kepalanya menjadi pening, pandang matanya gelap sedetik,
kemudian berubah menjadi ganjil sekali karena ia melihat beraneka warna-warna
cemerlang terbentang di depan matanya. Pohon-pohon tidak berwarna hijau lagi
melainkan berwarna indah barmacam-macam seperti seribu pelangi mewarnai segala
sesuatu yang berada di depan matanya. Ia terpesona dan tak dapat bergerak
seperti berubah menjadi arca dan pada saat itu tubuhnya telah dibelit ekor
ular. Kepala ular itu sejenak bergoyang-goyang seperti menari di depan mukanya,
kemudian mulut yang bergigi runcing itu dibuka lebar, siap untuk menggigit.
Wiraman maklum akan bahaya yang mengancam dirinya namun ia masih terpesona oleh
warna-warna aneh yang mengelilinginya. Muka ular yang dekat dengan mukanya
itu pun kini tidak berwarna
hijau seperti tadi, melainkan menjadi bermacam-macam warnanya, cemerlang dan
amatlah indahnya.
Sebagai
seorang yang sudah banyak pengalaman hidupnya, Wiraman segera dapat menekan
perasaannya dan mengerjakan otaknya. Kini terlintas di otaknya dalam keadaan
bahaya mengancam seperti itu bahwa dia telah terkena racun yang amat hebat. Dan
kini teringatlah ia akan keadaan Widawati yang juga berdiri seperti orang
terpesona. Tidak salah lagi. Gadis itu yang agaknya tidak lagi melihat bahaya,
yang berdiri memandang dengan mata kagum, tentu telah terkena racun pula
seperti dia. Teringat akan ini, Wiraman mengerahkan tenaganya, hendak meronta
dari libatan tubuh ular, hendak melawan mati-matian dan menyelamatkan Widawati.
Namun, sia-sia belaka. Ular itu bukan main kuatnya dan kini moncong yang
terbuka lebar itu telah mendekatinya, mengeluarkan bau amis-amis harum dan
tampak olehnya rongga mulut ular yang merah seperti darah. Karena usahanya
untuk melepaskan diri dari belitan ular sia-sia belaka, mendadak Wiraman
mendapat pikiran untuk mengorbankan dirinya saja.
No comments:
Post a Comment