Perawan Lembah Wilis; Bagian 118


"Ahhh .....!" Suara Widawati seperti rintihan perlahan yang langsung keluar dari lubuk hatinya. Sepasang mata yang lebar jernih itu mulai basah.
"Aku bukan..seorang yang tidak tahu diri, Diajeng. Aku sadar bahwa aku telah beristeri, telah mempunyai anak-anak, dan bahwa usiaku pun sudah setengah tua! Aku bukan seorang penghamba nafsu, aku mencinta isteri dan anak-anakku, sampai kini aku belum pernah mengambil selir. Akan tetapi terhadap engkau, Diajeng, entah mengapa aku sendiri tidak mengerti. Ada sesuatu yang menarik hatiku sehingga hatiku menjerit bahwa aku mencintamu, bukan cinta nafsu, akan tetapi ...ah, seolah-olah aku tidak akan sanggup untuk berpisah lagi dari sampingmu”
"Kakang Wiraman...." Widawati mulai terisak.
"Mungkin aku telah menjadi gila, Diajeng," suara Wiraman terdengar gemetar,
"akan tetapi ... demi semua Dewata, aku tidak berpura-pura, tidak pula dimabuk nafsu. Sudah banyak kujumpai puteri-puteri cantik jelita, lebih cantik dari padamu, sudah pula kuhadapi godaan wanita-wanita cantik, namun aku selalu menghindari karena hatiku tidak suka menerima semua itu. Akan tetapi terhadap engkau, aku benar-benar jatuh! Duhai Dewata, salahkah Wiraman ini? Salahkah Wiraman yang setengah tua ini menjatuhkan hatinya kepada seseorang, dalam hal ini seorang gadis seperti, Widawati? Berdosakah kalau hati ini jatuh cinta?" Ucapan-ucapan terakhir itu tidak lagi ditujukan kepada Widawati, melainkan kepada diri sendiri atau kepada para dewata.

Sampai lama keadaan sunyi, hanya terdengar Widawati menangis sesenggukan sambil menyembunyikan mukanya di balik telapak tangannya. Kemudian terdengar gadis itu berkata lirih,
"Kakang, bagaimana aku akan menjawab? Engkau merupakan satu-satunya orang yang paling baik bagiku, seorang yang telah melimpahkan budi kepadaku. ... cintamu itu, sungguhpun amat mengejutkan hatiku, namun aku percaya akan kemurniannya. Engkau adalah seorang pria yang patut dihormati, patut disuwitani, patut dicinta. Sesungguhnya, alangkah akan mudahnya bagi hatiku untuk membalas cinta kasihmu, Kakang, akan tetapi ....“
“Akan tetapi aku sudah terlalu tua bagimu? Pantas menjadi ayahmu, menjadi pamanmu? Katakanlah terus terang, Diajeng. Aku Wiraman bukan seorang lemah dan aku dapat menghadapi semua kenyataan dengan mata terbuka dan pikiran sadar."
"Bukan, bukan begitu, Kakang Wiraman. Aku pun maklum bahwa cinta tidaklah melihat usia, tidak pula melihat kedudukan dan keadaan seseorang. Akan tetapi.... engkau telah mempunyai anak isteri, Sedangkan aku.. aku semenjak dahulu bercita-cita untuk cinta mencinta dengan satu orang saja, tidak suka aku dimadu... tidak suka aku melihat seorang pria mempunyai selir. Banyak sudah terbukti kekacauan timbul karena selir, contohnya sang..prabu sendiri“
"Akan tetapi, tidak semua selir sejahat dia, Diajeng. Bukan sekali-kali aku menyatakan ini untuk memaksamu menjadi selirku. Tidak. Sudah kukatakan tadi bahwa aku mencintamu bukan oleh dorongan nafsu. Aku hanya tidak ingin berpisah darimu dan ...dan ...ah, sudahlah, Diajeng, aku hanya membuatmu berduka saja. Sudah cukup bagiku kalau engkau mendengar akan perasaan hatiku, sudah cukup kalau engkau mengetahui bahwa aku mencintamu. Lebih daripada itu, tidak kuharapkan. Kalau engkau tidak membalas cintaku, itu pun dapat kuterima dengan penuh kesadaran. Aku tidak menyalahkanmu, hanya aku sendirilah yang gila. Aku tidak ingin menyeretmu ke lembah kedukaan dan kesengsaraan, dan semoga Sang Hyang Wisesa akan dapat mengangkatku daripada keadaan yang gila ini. Kau tinggallah di sini, Diajeng, aku akan memburu kijang untuk kita makan dagingnya. Di dalam hutan di depan itu pasti banyak binatang buruan."
Tanpa menanti jawaban, Wiraman sudah lari meninggalkan Widawati memasuki hutan yang liar itu untuk mencari binatang buruan, terutama kijang yang lembut dan lezat rasa dagingnya.

Hatinya, terasa ringan, dadanya lapang setelah ia membuka rahasia hatinya. Ia tidak mengharapkan balasan cinta karena maklum bahwa tak mungkin seorang gadis seperti Widawati dapat mencinta seorang setengah tua seperti dia. Dia tidak berduka akan kenyataan yang sudah diketahuinya ini, dan dia hanya ingin melihat Widawati hidup bahagia.
Wiraman menjadi terheran-heran ketika ia memasuki hutan itu karena hutan itu amat sunyi, tidak tampak seekor pun binatang buruan. Hanya burung-burung beterbangan di atas pohon dan agaknya hurung-burung itu pun dalam keadaan gelisah. Karena belum juga melihat adanya binatang buruan, Wiraman menyusup makin dalam ke dalam hutan dengan hati penasaran. Ia harus mendapatkan makanan untuk Widawati, kalau tidak mungkin menangkap atau membunuh seekor binatang yang dapat dimakan dagingnya sedikitnya ia harus bisa mendapatkan buah-buah untuk gadis itu. Wiraman mengusap peluhnya. Di sekitarnya pohon pohon raksasa menjulang tinggi dan membuat hutan itu kelihatan gelap dan menyeramkan. Pakaiannya, pakaian pengawal sudah lusuh dan basah oleh keringat. Ia merasa makin heran karena kini ia telah berada di tengah hutan, namun masih juga belum ditemuinya seekor pun binatang buruan. Mulailah ia putus asa untuk mendapatkan daging binatang dan ia kini mencari-cari ke atas kalau-kalau ada buah yang dapat dimakan. Sudah lebih satu jam ia berkeliaran di hutan tanpa hasil. Widawati tentu menunggunya dengan hati gelisah dan perut lapar. Teringat akan gadis itu, teringat pula ia akan pengakuannya terhadap Widawati, cinta kasihnya, wajah orang gagah ini menjadi merah. Berhakkah ia menyatakan cinta kasihnya secara terus terang seperti tadi? Benarkah ia seorang pria yang mata keranjang, yang mudah tergiur hatinya melihat perawan cantik? Tidak! Biasanya dia tidak pernah tertarik kepada wanita lain, betapapun cantiknya dan muda belianya. Dia mencinta isterinya dan teringat akan penderitaan isterinya ketika melahirkan anak-anaknya, teringat pula betapa isterinya terlunta-lunta karena dia menjadi seorang buruan, cintanya diperdalam dengan rasa kasihan. Tidak! Dia bukan seorang yang kurang setia, bukan seorang suami yang bosan kepada isterinya karena cintanya terhadap isterinya bukanlah cinta nafsu belaka, melainkan cinta yang mendalam dan murni. Isterinya tentu akan memaafkannya, dan akan menyetujuinya kalau dia menjatuhkan hati kepada seorang wanita seperti Widawati. Selamanya dia tidak pernah mempunyai selir seperti orang lain. Dan terhadap Widawati, ada sesuatu yang amat aneh pada diri gadis itu yang menarik hatinya. Bukan nafsu semata! Widawati tidaklah terlalu cantik kalau dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang pernah dijumpainya.
Tiba-tiba Wiraman yang mengaso duduk di bawah pohon itu tersentak kaget dan meloncat bangun mendengar jerit mengerikan. Jerit seorang wanita yang ketakutan! Widawati! Jerit itu datangnya dari arah di mana tadi meninggalkan gadis itu. Bagaikan seekor kijang ketakutan, dengan sigap Wiraman lari ke arah suara jerit yang kini makin santer dan berulang-ulang didengarnya itu. Keris pusaka telah berada di tangannya dan sambil mengerahkan tenaga berlari cepat, jantungnya berdebar penuh kekhawatiran.
"Aiiihhhh .. ! Kakang Wiraman ...tolongggg!"

Pucat wajah Wiraman. Kalau tadi ia masih setengah berharap bahwa jerit wanita itu bukan keluar dari mulut Widawati, kini harapan itu musnah dan kekhawatirannya makin memuncak. Widawati dalam bahaya! Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan berloncatan ke arah jerit yang terakhir didengarnya itu. Tibalah ia di sebuah tempat terbuka di mana pohon-pohon raksasa agak berjauhan tumbuhnya. Dan apa yang ia lihat membuat bulu romanya bangun, kedua kakinya menggigil dan mukanya panas karena marah dan khawatir. Widawati berada di situ, menggigil dan bingung, matanya terbelalak memandang ke depan, Mulutnya bergerak-gerak terbuka tanpa ada suara yang keluar. Agaknya saking takutnya, gadis itu kehilangan suaranya! Bajunya compang-camping, robek sebagian besar sehingga tampaklah sebagian dari dadanya. Kulit tubuhnya banyak yang terkait dan tergores duri-duri sehingga pecah mengeluarkan darah. Apakah yang membuat dara itu ketakutan setengah mati seperti itu? Wiraman sejak tadi sudah melihatnya dan ia sudah siap dengan seluruh urat syaraf menegang, gagang keris dipegang erat di tangan. Ular itu tidaklah amat besar. Kurang lebih sepaha manusia besarnya, akan tetapi amat panjang dan kulit tubuhnya yang membelit pohon itu amat indahnya, berwarna dasar hijau dengan kembang-kembang kuning bergaris merah. Karena warna yang kehijauan, dari jauh tidak tampak di antara daun-daun pohon. Akan tetapi sepasang matanya yang merah menyala amat mengerikan, seolah-olah sepasang mata itu mengeluarkan api. Lidahnya yang bercabang dan amat merah itu menjilat-jilat keluar masuk cepat sekali. Kepalanya tergantung ke bawah dan mendekati tubuh Widawati yang berdiri seperti arca, dengan mata terbelalak kehilangan akal. Ular itu siap agaknya untuk melakukan serangan terakhir, untuk meluncurkan kepala dan menggigit daging lunak pada dada dan leher dara itu. Pada detik yang tepat tubuh Wiraman sudah meloncat ke depan, menerjang ular itu yang juga sudah meluncurkan kepalanya dengan mulut terbuka lebar ke arah dada Widawati yang membusung!
"Ular jahanam!!" Wiraman mengeluarkan pekik dahsyat dan untunglah bahwa kemarahannya membuat ia mengeluarkan bentakan itu karena andaikata tidak, tentu dia akan kalah cepat oleh ular itu dan tentu Widawati sudah terkena gigitan mulut yang mengerikan itu. Karena pekik yang nyaring ini, ular itu terkejut dan menahan kepalanya yang sudah siap menggigit, lalu memutar kepala memandang ke kanan dari mana tubuh Wiraman sudah menerjang maju. Cepat sekali gerakan Wiraman, tangan kanannya yang memegang keris sudah menyerang, keris pusakanya ditusukkan tepat ke arah ular dari arah kanan.
"Tessss ......Wiraman mengeluarkan seruan dan cepat-cepat ia membuang diri ke kini sehingga terhindar daripada serangan ular yang kini membalik dan menyerangnya. Ternyata bahwa tusukan kerisnya itu sama sekali tidak dapat menembus leher ular, bahkan sedikit pun tidak dapat melukai kulit ular yang indah itu. Kerisnya meleset dan ular itu seolah-olah tidak merasakan tusukannya lalu membalik dan menyerangnya. Namun Wiraman tidak menjadi gentar. Demi keselamatan Widawati ia harus melakukan perlawanan. Ia melihat betapa gadis itu masih berdiri terpaku di tempat yang tadi, terbelalak seperti telah berubah menjadi arca. Mukanya merah sekali dan hal ini amat mengherankan hati Wiraman.
"Diajeng, larilah .....! Pergilah menjauh ......!" teriaknya namun Widawati tidak menjawab, juga tidak bergerak. Terpaksa Wiraman menghentikan teriakannya karena kini ular itu meluncur ke arahnya dalam sebuah serangan yang amat cepat dan dahsyat. Wiraman adalah seorang prajurit perkasa yang sudah banyak mengalami pertandingan. Gerakannya sigap, terampil dan matanya awas. Serangan ini dapat ia hindarkan dengan mengelak ke kiri, kemudian pada saat kepala ular meluncur lewat, ia sudah menghunjamkan kerisnya, kini mengarah mata kanan ular itu. Dia maklum bahwa kulit ular itu kebal, maka kini ia menyerang matanya karena tidak mungkin matanya kebal, pikirnya. Akan tetapi, ternyata ular hijau itu tangkas dan tidak dapat diakali begitu saja. Kepalanya bergerak sedikit dan tusukan keris Wiraman meleset karena tidak mengenal mata melainkan mengenai kulit kepala. Bukan hanya meleset, bahkan hampir terlepas dari tangan Wiraman karena "tangkisan" dengan kepala itu mengandung tenaga yang amat kuat, membuat tangan Wiraman seperti lumpuh sesaat. Dan sebelum Wiraman dapat menguasai dirinya, tiba-tiba ular itu mengeluarkan suara mendesis keras dan uap yang kehijuan menyambar ke arah muka bekas pengawal ini. Wiraman cepat miringkan mukanya, namun masih tercium bau yang amat harum mengandung bau amis yang memuakkan. Kepalanya menjadi pening, pandang matanya gelap sedetik, kemudian berubah menjadi ganjil sekali karena ia melihat beraneka warna-warna cemerlang terbentang di depan matanya. Pohon-pohon tidak berwarna hijau lagi melainkan berwarna indah barmacam-macam seperti seribu pelangi mewarnai segala sesuatu yang berada di depan matanya. Ia terpesona dan tak dapat bergerak seperti berubah menjadi arca dan pada saat itu tubuhnya telah dibelit ekor ular. Kepala ular itu sejenak bergoyang-goyang seperti menari di depan mukanya, kemudian mulut yang bergigi runcing itu dibuka lebar, siap untuk menggigit. Wiraman maklum akan bahaya yang mengancam dirinya namun ia masih terpesona oleh warna-warna aneh yang mengelilinginya. Muka ular yang dekat dengan mukanya
itu pun kini tidak berwarna hijau seperti tadi, melainkan menjadi bermacam-macam warnanya, cemerlang dan amatlah indahnya.

Sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman hidupnya, Wiraman segera dapat menekan perasaannya dan mengerjakan otaknya. Kini terlintas di otaknya dalam keadaan bahaya mengancam seperti itu bahwa dia telah terkena racun yang amat hebat. Dan kini teringatlah ia akan keadaan Widawati yang juga berdiri seperti orang terpesona. Tidak salah lagi. Gadis itu yang agaknya tidak lagi melihat bahaya, yang berdiri memandang dengan mata kagum, tentu telah terkena racun pula seperti dia. Teringat akan ini, Wiraman mengerahkan tenaganya, hendak meronta dari libatan tubuh ular, hendak melawan mati-matian dan menyelamatkan Widawati. Namun, sia-sia belaka. Ular itu bukan main kuatnya dan kini moncong yang terbuka lebar itu telah mendekatinya, mengeluarkan bau amis-amis harum dan tampak olehnya rongga mulut ular yang merah seperti darah. Karena usahanya untuk melepaskan diri dari belitan ular sia-sia belaka, mendadak Wiraman mendapat pikiran untuk mengorbankan dirinya saja.

<<< Bagian 117                                                                                       Bagian 119 >>>

No comments:

Post a Comment