Perawan Lembah Wilis; Bagian 117


Pangeran Panji Sigit mengerutkan alisnya yang tebal.
"Habis, apakah yang harus hamba lakukan, Kanjeng Ibu? Apakah menerima nasib dan berdiam diri saja?"
"Hanya ada satu jalan terbaik yang dapat kutunjukkan kepadamu, Puteraku. Pergilah engkau bersama isterimu ke Panjalu. Di Jenggala sendiri sudah tidak ada orang yang akan dapat menolong kerajaan. Panjalu sajalah yang akan dapat mengatasi keadaan. Pergilah menghadap uwa prabu di Panjalu dan ceritakan semua yang telah kaudengar dariku tadi. Di sana banyak terdapat orang-orang pandai, bahkan Adipati Tejolaksono pun kabarnya berada di Panjalu menjadi patih muda. Nah, ke sanalah tempat engkau mencari bantuan, Angger."
Pangeran Panji Sigit bukanlah seorang pemuda yang hanya menurutkan nafsu amarah. Mendengar nasehat ini ia dapat menerima, maka ia pun lalu berpamit dan pergilah ia bersama Setyaningsih menuju ke Panjalu. Setyaningsih juga merasa girang sekali karena mendengar bahwa Adipati Tejolaksono telah pindah ke Panjalu, dengan demikian dia akan mendapat kesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan mereka, terutama sekali dengan Pusporini yang sudah amat dia rindukan. Tidak ada halangan merintangi perjalanan sepasang suami isteri yang perkasa ini, dan perjalanan dilakukan dengan cepat.

"Kalian berhati-hatilah. Ular itu bukan sembarang ular, melainkan ular yang sudah bertapa ratusan tahun lamanya. Sudah ribuan kali berganti kulit dan sudah banyak menerima cahaya sakti bulan dan matahari. Batu mustika itu berada di dalam kepalanya, di atas lidah, tepat di antara kedua matanya. Mustika itu tidak ada gunanya bagi seekor ular, hanya menambah kebuasannya membahayakan mereka yang lewat di hutan itu, namun sebaliknya amatlah berguna kelak bagi kalian berdua. Aku sudah memberi ijin kepada kalian, pergi cari ular itu, bunuh dia sebagai hukuman karena dia telah menelan tiga orang anak penggembala, dan ambil mutiaranya. Akan tetapi hati- hatilah!" Demikian pesan Sang Resi Mahesapati kepada dua orang muridnya, Joko Pramono dan Pusporini. Telah tiga tahun lebih mereka berdua digembleng oleh guru mereka yang sakti mandraguna itu di puncak Gunung Kawi dan biarpun guru mereka ini tidak menurunkan ilmu baru, namun gemblengannya hebat luar biasa sehingga aji-aji yang telah mereka berdua miliki kini memperoleh kemajuan pesat sekali dan kekuatan sakti mereka menjadi berlipat ganda.
"Eyang Resi, untuk membunuh ular dan mengambil mustika di dalam kepalanya saja mengapa Eyang menyuruh dia ini ikut? Dia hanya akan menghalang-alangi pekerjaanku saja. Biar kulakukan sendiri, Eyang. Hamba berjanji akan membawa mustika ular itu kepada Eyang tanpa bantuan dial" kata Pusporini sambil melirik-lirik ke arah Joko Pramono. Hatinya sedang kesal karena tadi pagi dalam latihan mempergunakan tenaga sakti memukul air, ternyata air telaga muncrat lebih tinggi ketika dipukul Joko Pramono dan pemuda itu sengaja mengejeknya.
"Wah-wah, coba Eyang Resi perhatikan, bukankah murid Eyang yang satu. ini makin lama makin sombong? Makin besar kepala!" Joko Pramono juga menyerang marah.
"Apa? Kepalaku besar? Tidak sebesar kepalamu! Engkaulah yang sombong! Pagi tadi dia menyombongkan tenaganya dan mengatakan bahwa aku kalah kuat olehnya, Eyang Resi. Coba, bukankah dia yang sombong?"
"Aku kan bicara apa adanya?" bantah Joko Pramono.
"Aku pun bicara apa adanya. Memangnya aku membutuhkan bantuanmu untuk membunuh ular itu?"
"Wah aksinya. Melihat ular nanti ku rasa kau akan menjerit-jerit kegelian dan ketakutan!"
"Coba saja! Memangnya aku ini anak kecil? Sepuluh ekor ular ditambah engkau aku tidak takut!"
Sang Resi Mahesapati tertawa bergelak.
"Sudah, sudah.... ha-ha-hal ... Kalian ini seperti bocah-bocah nakal saja. Mendengarkan kalian bertengkar setiap hari, benar-benar membuat aku awet muda! Pertengkaran kalian itu membayangkan jiwa muda yang masih panas membara, semangat yang menyala-nyala dan ..... dan ... ha-ha- ha, benar-benar lucu. Sekarang begini saja. Kalian berdua kuijinkan berlomba mencari dan membunuh ular Puspo Wilis itu. Siapa yang nanti membawa mustika dan menyerahkannya kepadaku, kuanggap lebih pandai!"
"Baik, hamba pamit mundur, Eyang!" Pusporini menyembah lalu berkelebat, sekejap mata saja lenyap dari hadapan gurunya yang duduk di depan pondok bambu.
"Hamba pun minta diri, Eyang!" Joko Pramono juga berkelebat cepat mengejar Pusporini, khawatir kalau kalah dulu.
Kembali kakek tua renta itu tertawa bergelak dan menengadah ke angkasa, mulutnya berkemak-kemik,
"Lucu.... lucu .... alangkah indahnya hidup bagi orang-orang muda..... ha-ha-ha..... !”

Seperti burung terbang setidaknya seperti seekor kijang Pusporini lari sambil mengerahkan seluruh aji kesaktian Bayu Sakti yang pernah ia pelajari dari Adipati Tejolaksono dahulu. Namun kini Aji Bayu Sakti yang ia pergunakan jauh mendapat kemajuan yang hebat sehingga larinya amat cepat, tubuhnya ringan sekali dan kedua kakinya seolah-olah tidak menginjak tanah melainkan terbang di atas ujung rumput-rumput hijau! Dalam hal tenaga sakti mungkin dia kalah kuat setingkat kalau dibandingkan dengan Joko Pramono, akan tetapi dalam aji keringanan tubuh dan kecepatan berlari, pemuda itu masih sukar untuk dapat mengalahkannya. Apalagi sekarang Pusporini mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia memang sedang berlomba dengan pemuda itu! Jauh di belakang, makin lama makin jauh tertinggal, Joko pramono juga berlari secepatnya melakukan pengejaran. Di dalam hatinya, pemuda ini sebetulnya sama sekali tidak berniat untuk mendahului Pusporini, sungguhpun harus ia akui bahwa kalau berlomba lari ia takkan menang. Namun, ia melakukan pengejaran karena di dalam hatinya timbul rasa khawatir akan keselamatan gadis yang menjadi teman belajar, menjadi teman berlatih akan tetapi juga menjadi lawan bertengkar itu. Seringkali ia merasa heran mengapa dia selalu bertengkar dengan Pusporini, mengapa agaknya ada terasa kenikmatan dan kegembiraan di hatinya kalau mereka sedang bertengkar itu. Bagi dia, Pusporini tampak paling manis kalau sedang marah-marah seperti itu! Dan pemuda ini merasa di dalam hatinya bahwa mereka berdua selalu bertengkar karena tidak mau kalah, karena masing-masing ingin dihargai, ingin dikagumi. Namun, sehari saja tidak bertengkar, apalagi tidak berjumpa, merupakan siksaan batin yang tiada taranya. Demikianlah, dua orang muda itu berlari-lari seperti terbang menuju ke sebuah hutan di lereng Gunung Kawi sebelah timur, yaitu hutan yang oleh guru mereka disebut hutan Kaloka, di mana terdapat ular besar Puspo Wilis yang bertapa dan yang harus mereka bunuh dan ambil mustikanya. Beberapa pekan yang lalu, ular itu telah menelan tiga orang anak penggembala kerbau yang sedang menggembala kerbau di pinggir hutan.

Sementara itu, dari kaki Gunung Kawi sebelah timur, tampak dua orang berjalan kaki, mendaki lereng. Mereka adalah seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan gagah, berusia empat puluhan tahun, mengiringkan seorang gadis yang usianya takkan lebih dari dua puluh tahun, seorang gadis tinggi semampai yang manis sekali, berwajah cerah bermata jeli. Gadis itu tidak tahu betapa pria yang mengiringkannya memandang kepadanya dari belakang dengan pandang mata mesra, dan betapa pria itu berkali-kali menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka itu bukan lain adalah Wiraman dan Widawati, pengawal perkasa yang setia kepada Ki Patih Brotomenggala dan cucu mendiang ki patih itu, satu-satunya orang dari keluarga kepatihan yang lolos dari cengkeraman maut. Sebagai orang-orang yang diburu oleh kaki tangan Pangeran Kukutan, keduanya harus selalu berpindah-pindah dan bersembunyi-sembunyi, keluar masuk hutan, naik turun gunung. Tujuan perjalanan Wiraman adalah ke Panjalu, namun karena ia harus melakukan perjalanan sambil bersembunyi, maka mereka terpaksa mengambil jalan memutar yang amat jauh dan sukar. Bagi Wiraman sendiri, seorang pengawal gemblengan yang bertubuh kebal dan kuat, perjalanan sukar dan jauh itu tidaklah amat berat. Akan tetapi patut dikasihani Widawati, biarpun dia pernah ia mempelajari ilmu olah keprajuritan, namun karena sebagai cucu patih dia lebih sering melakukan pekerjaan-pekerjaaan halus dan tubuhnya tidak begitu terlatih, perjalanan itu amatlah menyiksa dan melelahkan. Apalagi semua kesukaran ini diderita dengan hati hancur apabila teringat akan nasib buruk yang menimpa keluarganya. Untung baginya, di sampingnya terdapat Wiraman yang pandai menghiburnya, yang siap membela dan melindunginya, dan yang menjamin akan segala keperluannya di sepanjang perjalanan.
Ketika mereka sampai di sebuah tanjakan terjal, di luar sebuah hutan yang nampaknya angker dan liar, kaki Widawati tersandung dan ia terhuyung ke depan. Untung pada saat itu Wiraman cepat melompat dan menyambar lengannya sehingga dia tidak sampai jatuh tersungkur, akan tetapi renggutan tangan Wiraman itu membuat tubuh Widawati tersentak ke belakang dan berada di dalam pelukan pria itu, rapat bersandar di atas dada yang bidang.
"Hati-hatilah .....!" Hanya demikian Wiraman dapat berkata karena pria segera memejamkan mata, dadanya bergelombang ketika perasaan yang aneh meresap di dalam tubuhnya. Tangan kanannya masih memegang lengan Widawati, tangan kirinya memegang pundak gadis itu. Merasa betapa punggung dan kepala gadis itu bersandar ke dadanya, mencium keharuman khas dari rambut dan peluh gadis itu, berdebar jantungnya dan kakinya.

Widawati amat lelah. Juga tadi ia terkejut karena tersandung dan akan tersungkur ke depan, di mana terdapat jurang yang dalam. Kini merasa betapa ia selamat dan mendapat sandaran yang kokoh kuat, ia merasa aman dan tenteram. Tiada henti-hentinya Wiraman melimpahkan budi kebaikan kepadanya. Ia tidak tahu,, apa yang akan dia lakukan kalau di sampingnya tidak ada Wiraman. Tanpa disadari lagi, ketika kali ini kembali Wiraman yang menolongnya pada saat yang tepat, menjadi bukti bahwa Wiraman selalu memperhatikannya, selalu menjaganya, ia bersandar pada dada yang bidang dan kuat itu dan sampai beberapa lamanya mereka hanya berdiri dalam keadaan seperti itu, keduanya memejamkan mata. Widawati dapat mendengar dengan telinganya betapa dada yang bidang itu berdetak-detak keras. Hal ini menyadarkannya dan ia segera memisahkan diri.
"Terima kasih, Kakang Wiraman, engkau telah menyelamatkan aku ...“
"Ah, tidak perlu berterima kasih, Diajeng. Memang sudah menjadi kewajibankulah untuk menjaga dan melindungimu. Engkau tentu lelah sekali, dan di depan adalah hutan yang amat lebat, mari kita mengaso dulu."
"Baik, Kakang ...“
Maka duduklah mereka berdua di bawah sebatang pohon, berteduh dari panas terik matahari yang membakar kulit. Widawati menyusuti peluhnya dengan ujung baju, menjilat-jilat bibirnya yang merah dengan ujung lidah. Sebentar Wiraman terpesona memandang mulut itu, ketika pandang mata mereka bertemu, Wiraman cepat-cepat menunduk dan berkata,
"Engkau tentu haus, Diajeng. tunggu sebentar kucarikan air... " Tanpa menanti jawaban, Wiraman sudah pergi mencari air gunung yang jernih. Ditampungnya air itu dengan daun talas dan dibawanya air itu kepada Widawati yang menerima dan meminumnya dengan lahap karena memang ia haus sekali. Sampai lama mereka beristirahat di situ. Angin sumilir membuat Widawati mengantuk. Ia bersandar pada batang pohon dan memejamkan matanya. Wiraman tidak mengganggunya, melainkan duduk pula tidak jauh dari situ, memandang ke arah hutan lebat dengan pandang mata melamun. Berkali-kali, sama halnya ketika dalam perjalanan tadi, ia memandang ke arah Widawati, menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepala, menghela napas lagi.

"Kakang Wiraman.”
Wiraman terkejut, seperti disentakkan dari alam mimpi. Tadinya ia tengah melamun, memandang ke hutan dan menggigit-gigit rumput yang tanpa disadarinya telah ia cabut dari dekat kakinya. Ia menoleh dan pandang mata mereka bertemu, bertaut, dan dari pandang mata Wiraman masih memancar sinar cinta kasih yang jelas dan mesra. Mereka tidak berkata-kata lagi, hanya pandang mata mereka yang melekat dan seolah-olah mewakili mulut dan hati. Akhirnya Widawati yang berkata lirih,
"Kakang .., engkau kenapakah? Sejak tadi kulihat engkau menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. Ada sesuatu yang mengganggu hatimu, Kakang. Katakanlah, apakah gerangan yang kau susahkan? Kalau tidak kau ceritakan kepadaku, aku tentu akan menganggap bahwa akulah yang menyusahkan hatimu, Kakang."
"Ah, tidak .. tidak sama sekali, Diajeng ...aku hanya ...” Wiraman terdiam, amat sukar agaknya untuk mengeluarkan isi hatinya. Mereka berpandangan kembali dan sinar mata penuh ketulusan hati dari gadis itu seolah-olah memberi semangat dan keberanlan kepadanya.
"Biarlah kubukakan semua rahasia hatiku, Diajeng. Aku seorang laki-laki yang suka berterus terang, dan aku berani pula mempertanggungjawabkan semua perbuatan atau ucapanku. Semenjak aku bertemu denganmu, Diajeng, ketika kau dibawa oleh Kakang Mitra ....semenjak itulah terjadi sesuatu yang tidak wajar di hatiku. Bagiku, ada sesuatu pada dirimu yang mengikat, mempesona, dan mengguncang hatiku. Ada suatu daya tarik luar biasa yang tidak wajar. Bukan kecantikanmu, bukan pula kemudaanmu, entah apamu aku sendiri tidak dapat mengatakan, melainkan yang sudah pasti, ada sesuatu yang membuat aku amat tertarik. Inikah yang disebut ikatan Karma? Aku harus jujur, Diajeng, dan dengan segala kejujuran kunyatakan sekarang juga demi menjaga segala kepura-puraan bahwa aku ...cinta kepadamu, Diajeng."

<<< Bagian 116                                                                                      Bagian 118 >>>

No comments:

Post a Comment