Pangeran Panji Sigit mengerutkan alisnya yang tebal.
"Habis, apakah yang
harus hamba lakukan, Kanjeng Ibu? Apakah menerima nasib dan berdiam diri
saja?"
"Hanya ada satu jalan
terbaik yang dapat kutunjukkan kepadamu, Puteraku. Pergilah engkau bersama
isterimu ke Panjalu. Di Jenggala sendiri sudah tidak ada orang yang akan dapat
menolong kerajaan. Panjalu sajalah yang akan dapat mengatasi keadaan. Pergilah
menghadap uwa prabu di Panjalu dan ceritakan semua yang telah kaudengar dariku
tadi. Di sana banyak terdapat orang-orang pandai, bahkan Adipati Tejolaksono
pun kabarnya berada di Panjalu menjadi patih muda. Nah, ke sanalah tempat
engkau mencari bantuan, Angger."
Pangeran Panji Sigit
bukanlah seorang pemuda yang hanya menurutkan nafsu amarah. Mendengar nasehat
ini ia dapat menerima, maka ia pun lalu berpamit dan pergilah ia bersama
Setyaningsih menuju ke Panjalu. Setyaningsih juga merasa girang sekali karena
mendengar bahwa Adipati Tejolaksono telah pindah ke Panjalu, dengan demikian
dia akan mendapat kesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan mereka,
terutama sekali dengan Pusporini yang sudah amat dia rindukan. Tidak ada
halangan merintangi perjalanan sepasang suami isteri yang perkasa ini, dan
perjalanan dilakukan dengan cepat.
"Kalian
berhati-hatilah. Ular itu bukan sembarang ular, melainkan ular yang sudah
bertapa ratusan tahun lamanya. Sudah ribuan kali berganti kulit dan sudah
banyak menerima cahaya sakti bulan dan matahari. Batu mustika itu berada di
dalam kepalanya, di atas lidah, tepat di antara kedua matanya. Mustika itu
tidak ada gunanya bagi seekor ular, hanya menambah kebuasannya membahayakan
mereka yang lewat di hutan itu, namun sebaliknya amatlah berguna kelak bagi
kalian berdua. Aku sudah memberi ijin kepada kalian, pergi cari ular itu, bunuh
dia sebagai hukuman karena dia telah menelan tiga orang anak penggembala, dan
ambil mutiaranya. Akan tetapi hati- hatilah!" Demikian pesan Sang Resi
Mahesapati kepada dua orang muridnya, Joko Pramono dan Pusporini. Telah tiga
tahun lebih mereka berdua digembleng oleh guru mereka yang sakti mandraguna itu
di puncak Gunung Kawi dan biarpun guru mereka ini tidak menurunkan ilmu baru,
namun gemblengannya hebat luar biasa sehingga aji-aji yang telah mereka berdua
miliki kini memperoleh kemajuan pesat sekali dan kekuatan sakti mereka menjadi
berlipat ganda.
"Eyang Resi, untuk
membunuh ular dan mengambil mustika di dalam kepalanya saja mengapa Eyang
menyuruh dia ini ikut? Dia hanya akan menghalang-alangi pekerjaanku saja. Biar
kulakukan sendiri, Eyang. Hamba berjanji akan membawa mustika ular itu kepada
Eyang tanpa bantuan dial" kata Pusporini sambil melirik-lirik ke arah Joko
Pramono. Hatinya sedang kesal karena tadi pagi dalam latihan mempergunakan
tenaga sakti memukul air, ternyata air telaga muncrat lebih tinggi ketika
dipukul Joko Pramono dan pemuda itu sengaja mengejeknya.
"Wah-wah, coba Eyang
Resi perhatikan, bukankah murid Eyang yang satu. ini makin lama makin sombong?
Makin besar kepala!" Joko Pramono juga menyerang marah.
"Apa? Kepalaku besar?
Tidak sebesar kepalamu! Engkaulah yang sombong! Pagi tadi dia menyombongkan
tenaganya dan mengatakan bahwa aku kalah kuat olehnya, Eyang Resi. Coba,
bukankah dia yang sombong?"
"Aku kan bicara apa
adanya?" bantah Joko Pramono.
"Aku pun bicara apa
adanya. Memangnya aku membutuhkan bantuanmu untuk membunuh ular itu?"
"Wah aksinya. Melihat
ular nanti ku rasa kau akan menjerit-jerit kegelian dan ketakutan!"
"Coba saja! Memangnya
aku ini anak kecil? Sepuluh ekor ular ditambah engkau aku tidak takut!"
Sang Resi Mahesapati tertawa
bergelak.
"Sudah, sudah....
ha-ha-hal ... Kalian ini seperti bocah-bocah nakal saja. Mendengarkan kalian
bertengkar setiap hari, benar-benar membuat aku awet muda! Pertengkaran kalian
itu membayangkan jiwa muda yang masih panas membara, semangat yang
menyala-nyala dan ..... dan ... ha-ha- ha, benar-benar lucu. Sekarang begini
saja. Kalian berdua kuijinkan berlomba mencari dan membunuh ular Puspo Wilis
itu. Siapa yang nanti membawa mustika dan menyerahkannya kepadaku, kuanggap
lebih pandai!"
"Baik, hamba pamit
mundur, Eyang!" Pusporini menyembah lalu berkelebat, sekejap mata saja
lenyap dari hadapan gurunya yang duduk di depan pondok bambu.
"Hamba pun minta diri,
Eyang!" Joko Pramono juga berkelebat cepat mengejar Pusporini, khawatir
kalau kalah dulu.
Kembali kakek tua renta itu
tertawa bergelak dan menengadah ke angkasa, mulutnya berkemak-kemik,
"Lucu.... lucu ....
alangkah indahnya hidup bagi orang-orang muda..... ha-ha-ha..... !”
Seperti burung terbang
setidaknya seperti seekor kijang Pusporini lari sambil mengerahkan seluruh aji
kesaktian Bayu Sakti yang pernah ia pelajari dari Adipati Tejolaksono dahulu.
Namun kini Aji Bayu Sakti yang ia pergunakan jauh mendapat kemajuan yang hebat
sehingga larinya amat cepat, tubuhnya ringan sekali dan kedua kakinya
seolah-olah tidak menginjak tanah melainkan terbang di atas ujung rumput-rumput
hijau! Dalam hal tenaga sakti mungkin dia kalah kuat setingkat kalau
dibandingkan dengan Joko Pramono, akan tetapi dalam aji keringanan tubuh dan
kecepatan berlari, pemuda itu masih sukar untuk dapat mengalahkannya. Apalagi
sekarang Pusporini mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia memang sedang
berlomba dengan pemuda itu! Jauh di belakang, makin lama makin jauh tertinggal,
Joko pramono juga berlari secepatnya melakukan pengejaran. Di dalam hatinya,
pemuda ini sebetulnya sama sekali tidak berniat untuk mendahului Pusporini,
sungguhpun harus ia akui bahwa kalau berlomba lari ia takkan menang. Namun, ia
melakukan pengejaran karena di dalam hatinya timbul rasa khawatir akan
keselamatan gadis yang menjadi teman belajar, menjadi teman berlatih akan
tetapi juga menjadi lawan bertengkar itu. Seringkali ia merasa heran mengapa
dia selalu bertengkar dengan Pusporini, mengapa agaknya ada terasa kenikmatan
dan kegembiraan di hatinya kalau mereka sedang bertengkar itu. Bagi dia,
Pusporini tampak paling manis kalau sedang marah-marah seperti itu! Dan pemuda
ini merasa di dalam hatinya bahwa mereka berdua selalu bertengkar karena tidak
mau kalah, karena masing-masing ingin dihargai, ingin dikagumi. Namun, sehari
saja tidak bertengkar, apalagi tidak berjumpa, merupakan siksaan batin yang
tiada taranya. Demikianlah, dua orang muda itu berlari-lari seperti terbang
menuju ke sebuah hutan di lereng Gunung Kawi sebelah timur, yaitu hutan yang
oleh guru mereka disebut hutan Kaloka, di mana terdapat ular besar Puspo Wilis
yang bertapa dan yang harus mereka bunuh dan ambil mustikanya. Beberapa pekan
yang lalu, ular itu telah menelan tiga orang anak penggembala kerbau yang
sedang menggembala kerbau di pinggir hutan.
Sementara itu, dari kaki
Gunung Kawi sebelah timur, tampak dua orang berjalan kaki, mendaki lereng.
Mereka adalah seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan gagah, berusia
empat puluhan tahun, mengiringkan seorang gadis yang usianya takkan lebih dari
dua puluh tahun, seorang gadis tinggi semampai yang manis sekali, berwajah
cerah bermata jeli. Gadis itu tidak tahu betapa pria yang mengiringkannya
memandang kepadanya dari belakang dengan pandang mata mesra, dan betapa pria
itu berkali-kali menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka itu bukan lain adalah Wiraman dan Widawati, pengawal perkasa yang setia
kepada Ki Patih Brotomenggala dan cucu mendiang ki patih itu, satu-satunya
orang dari keluarga kepatihan yang lolos dari cengkeraman maut. Sebagai
orang-orang yang diburu oleh kaki tangan Pangeran Kukutan, keduanya harus
selalu berpindah-pindah dan bersembunyi-sembunyi, keluar masuk hutan, naik
turun gunung. Tujuan perjalanan Wiraman adalah ke Panjalu, namun karena ia
harus melakukan perjalanan sambil bersembunyi, maka mereka terpaksa mengambil
jalan memutar yang amat jauh dan sukar. Bagi Wiraman sendiri, seorang pengawal
gemblengan yang bertubuh kebal dan kuat, perjalanan sukar dan jauh itu tidaklah
amat berat. Akan tetapi patut dikasihani Widawati, biarpun dia pernah ia
mempelajari ilmu olah keprajuritan, namun karena sebagai cucu patih dia lebih
sering melakukan pekerjaan-pekerjaaan halus dan tubuhnya tidak begitu terlatih,
perjalanan itu amatlah menyiksa dan melelahkan. Apalagi semua kesukaran ini
diderita dengan hati hancur apabila teringat akan nasib buruk yang menimpa
keluarganya. Untung baginya, di sampingnya terdapat Wiraman yang pandai
menghiburnya, yang siap membela dan melindunginya, dan yang menjamin akan
segala keperluannya di sepanjang perjalanan.
Ketika mereka sampai di
sebuah tanjakan terjal, di luar sebuah hutan yang nampaknya angker dan liar,
kaki Widawati tersandung dan ia terhuyung ke depan. Untung pada saat itu
Wiraman cepat melompat dan menyambar lengannya sehingga dia tidak sampai jatuh
tersungkur, akan tetapi renggutan tangan Wiraman itu membuat tubuh Widawati
tersentak ke belakang dan berada di dalam pelukan pria itu, rapat bersandar di
atas dada yang bidang.
"Hati-hatilah
.....!" Hanya demikian Wiraman dapat berkata karena pria segera memejamkan
mata, dadanya bergelombang ketika perasaan yang aneh meresap di dalam tubuhnya.
Tangan kanannya masih memegang lengan Widawati, tangan kirinya memegang pundak
gadis itu. Merasa betapa punggung dan kepala gadis itu bersandar ke dadanya,
mencium keharuman khas dari rambut dan peluh gadis itu, berdebar jantungnya dan
kakinya.
Widawati amat lelah. Juga
tadi ia terkejut karena tersandung dan akan tersungkur ke depan, di mana
terdapat jurang yang dalam. Kini merasa betapa ia selamat dan mendapat sandaran
yang kokoh kuat, ia merasa aman dan tenteram. Tiada henti-hentinya Wiraman
melimpahkan budi kebaikan kepadanya. Ia tidak tahu,, apa yang akan dia lakukan
kalau di sampingnya tidak ada Wiraman. Tanpa disadari lagi, ketika kali ini
kembali Wiraman yang menolongnya pada saat yang tepat, menjadi bukti bahwa
Wiraman selalu memperhatikannya, selalu menjaganya, ia bersandar pada dada yang
bidang dan kuat itu dan sampai beberapa lamanya mereka hanya berdiri dalam
keadaan seperti itu, keduanya memejamkan mata. Widawati dapat mendengar dengan
telinganya betapa dada yang bidang itu berdetak-detak keras. Hal ini
menyadarkannya dan ia segera memisahkan diri.
"Terima kasih, Kakang
Wiraman, engkau telah menyelamatkan aku ...“
"Ah, tidak perlu
berterima kasih, Diajeng. Memang sudah menjadi kewajibankulah untuk menjaga dan
melindungimu. Engkau tentu lelah sekali, dan di depan adalah hutan yang amat
lebat, mari kita mengaso dulu."
"Baik, Kakang ...“
Maka duduklah mereka berdua
di bawah sebatang pohon, berteduh dari panas terik matahari yang membakar
kulit. Widawati menyusuti peluhnya dengan ujung baju, menjilat-jilat bibirnya
yang merah dengan ujung lidah. Sebentar Wiraman terpesona memandang mulut itu,
ketika pandang mata mereka bertemu, Wiraman cepat-cepat menunduk dan berkata,
"Engkau tentu haus,
Diajeng. tunggu sebentar kucarikan air... " Tanpa menanti jawaban, Wiraman
sudah pergi mencari air gunung yang jernih. Ditampungnya air itu dengan daun
talas dan dibawanya air itu kepada Widawati yang menerima dan meminumnya dengan
lahap karena memang ia haus sekali. Sampai lama mereka beristirahat di situ.
Angin sumilir membuat Widawati mengantuk. Ia bersandar pada batang pohon dan
memejamkan matanya. Wiraman tidak mengganggunya, melainkan duduk pula tidak
jauh dari situ, memandang ke arah hutan lebat dengan pandang mata melamun.
Berkali-kali, sama halnya ketika dalam perjalanan tadi, ia memandang ke arah
Widawati, menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepala, menghela napas
lagi.
"Kakang Wiraman.”
Wiraman terkejut, seperti
disentakkan dari alam mimpi. Tadinya ia tengah melamun, memandang ke hutan dan
menggigit-gigit rumput yang tanpa disadarinya telah ia cabut dari dekat
kakinya. Ia menoleh dan pandang mata mereka bertemu, bertaut, dan dari pandang
mata Wiraman masih memancar sinar cinta kasih yang jelas dan mesra. Mereka
tidak berkata-kata lagi, hanya pandang mata mereka yang melekat dan seolah-olah
mewakili mulut dan hati. Akhirnya Widawati yang berkata lirih,
"Kakang .., engkau
kenapakah? Sejak tadi kulihat engkau menarik napas panjang dan
menggeleng-geleng kepala. Ada sesuatu yang mengganggu hatimu, Kakang.
Katakanlah, apakah gerangan yang kau susahkan? Kalau tidak kau ceritakan
kepadaku, aku tentu akan menganggap bahwa akulah yang menyusahkan hatimu,
Kakang."
"Ah, tidak .. tidak
sama sekali, Diajeng ...aku hanya ...” Wiraman terdiam, amat sukar agaknya
untuk mengeluarkan isi hatinya. Mereka berpandangan kembali dan sinar mata
penuh ketulusan hati dari gadis itu seolah-olah memberi semangat dan keberanlan
kepadanya.
"Biarlah kubukakan
semua rahasia hatiku, Diajeng. Aku seorang laki-laki yang suka berterus terang,
dan aku berani pula mempertanggungjawabkan semua perbuatan atau ucapanku.
Semenjak aku bertemu denganmu, Diajeng, ketika kau dibawa oleh Kakang Mitra
....semenjak itulah terjadi sesuatu yang tidak wajar di hatiku. Bagiku, ada
sesuatu pada dirimu yang mengikat, mempesona, dan mengguncang hatiku. Ada suatu
daya tarik luar biasa yang tidak wajar. Bukan kecantikanmu, bukan pula
kemudaanmu, entah apamu aku sendiri tidak dapat mengatakan, melainkan yang
sudah pasti, ada sesuatu yang membuat aku amat tertarik. Inikah yang disebut
ikatan Karma? Aku harus jujur, Diajeng, dan dengan segala kejujuran kunyatakan
sekarang juga demi menjaga segala kepura-puraan bahwa aku ...cinta kepadamu,
Diajeng."
No comments:
Post a Comment