Keadaan sekeliling pondok sunyi dan hening, dan hanya beberapa kali saja setiap harinya ada pelayan tua yang keluar melalui pintu gerbang untuk mengurus keperluan penghuni pondok. Pondok ini adalah tempat pengasingan atau pembuangan bagi bekas permaisuri, sang ratu dari Jenggala! Setelah sang ratu ini gagal menandingi Suminten yang sangat cerdik sehingga sang ratu yang hendak "menangkap basah" selir itu sebaliknya malah masuk perangkap, wanita tua ini sekarang menjadi seorang buangan, hidup bersunyi diri di dalam pondok yang dikurung dinding tinggi dan terjaga siang malam ini. Tidak pernah keluar dari pondok, tidak pernah bertemu dengan orang lain kecuali para pelayannya karena bekas permaisuri ini dilarang keluar, dan dilarang pula menerima kunjungan orang luar. Akan tetapi pada suatu hari, lewat pagi, sepasang orang muda memasuki pintu gerbang dinding yang mengurung pondok pengasingan ini. Mereka berdua tidak dilarang oleh para penjaga, bahkan para penjaga cepat-cepat berlutut memberi hormat dan menyapa dengan penuh kehormatan kepada pria yang lewat menggandeng wanita itu. Mereka itu masih muda-muda dan keduanya amatlah eloknya, bagaikan sepasang dewa asmara Sang Hyang Komajaya dan Komaratih.
Kedua orang muda ini bukan
lain adalah Pangeran Panji Sigit dan isterinya, Setyaningsih. Seperti telah
diceritakan di bagian depan, setelah menikah di Padepokan Wilis, Pangeran Panji
Sigit mengajak isterinya untuk ke Jenggala. Pangeran Panji Sigit maklum bahwa
kembalinya ke Jenggala merupakan perbuatan yang banyak resikonya bagi dirinya
karena dia telah mempunyai seorang musuh yang berbahaya, yaitu Suminten. Akan
tetapi karena pangeran ini amat mencinta ramandanya, dan pula karena ia
berpikir
bahwa setelah ia beristeri,
kiranya Suminten tidak begitu gila untuk menggodanya lagi, maka ia bertekad
untuk pulang ke Jenggala. Di sepanjang perjalanan, pangeran yang amat
memperhatikan keadaan ramandanya dan keadaan kota raja, bertanya-tanya dan
alangkah kaget hatinya ketika ia mendengar segala peristiwa hebat yang terjadi
di kerajaan ramandanya. Tentang pengangkatan Pangeran Kukutan menjadi putera
mahkota, sama sekali tidak mendatangkan kesan apa-apa di hatinya karena memang
Pangeran Panji Sigit bukan seorang yang gila akan kedudukan. Peristiwa yang
menimpa keluarga ki patih, yang didengarnya di jalan, dan tentang penggantian
patih baru, hanya mendatangkan rasa haru dan kasihan di samping rasa penasaran
mengapa paman patih yang dianggapnya amat baik dan setia itu sampai dijatuhi
hukuman sekeluarga sedemikian mengerikan. Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa
ibunda ratu diasingkan, dibuang ke kaki Anjasmoro, Pangeran Panji Sigit menjadi
marah sekali.
"Setan betina, iblis
laknat, siluman keji! Semua ini gara-gara dial" seru Pangeran muda itu
sambil mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali.
"Eh, Kakangmas
...!" Setyaningsih menegur suaminya.
Pangeran Panji Sigit
merangkulnya dan ia sadar, dapat pula menguasai hatinya yang terbakar. Setelah
menghela napas panjang ia berkata,
"Diajeng, sungguh jahat
sekali dia itu. Semua ini tentu hasil perbuatan Suminten. Aduh dewata Yang Maha
Agung.... mengapa Ramanda Prabu sampai tenggelam sedemikian dalamnya....
Diajeng, mari kita pergi ke kaki Anjasmoro, lebih dahulu kita menjenguk Ibunda
Ratu."
Perjalanan dilanjutkan. Kuda
tunggangan mereka dilarikan lebih cepat dan akhirnya mereka dapat juga
menemukan pondok pengasingan di kaki. Gunung Anjasmoro. Para penjaga tentu saja
mengenal Pangeran Panji Sigit yang memang sejak dahulu amat disuka oleh semua
prajurit, maka dengan mudah saja Pangeran Panji Sigit dan isterinya memasuki
pintu gerbang dan langsung mencari bekas permaisuri yang menurut para abdi
sedang duduk seperti biasa di belakang pondok.
Hati Pangeran Panji Sigit
terasa seperti disayat-sayat pisau ketika ia melihat wanita tua itu duduk
bersila di atas lantai bertilam tikar. Wajah permaisuri itu masih agung,
sungguhpun segala keadaan memperlihatkan kesederhanaan yang amat tidak pantas
bagi seorang bekas ratu. Muka itu tidak dirias, tidak dibedaki, rambutnya
digelung bersahaja ke belakang, rambut yang sudah bercampur banyak uban,
tubuhnya ditutup libatan kain berwarna putih sederhana, pakaian seorang
pertapa. Hanya sepasang gelang sederhana yang menghias kedua tangannya yang
bertelanjang sampai ke siku. Sang ratu itu sedang duduk bersamadhi, hening dan
tidak bergerak seperti sebuah arca. Wajahnya yang tua itu membayangkan
ketenangan, namun gurat-gurat pada dahinya jelas membayangkan penderitaan batin
yang hebat. Betapapun juga, mulutnya menjadi pencerminan kesabarannya sehingga
makin mengharukan hati Pangeran Panji Sigit yang segera menggandeng tangan
isterinya, diajak maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan sang ratu sambil
berkata lirih,
"Duhai Ibunda Ratu yang
mulia, hamba Panji Sigit bersama isteri datang menghadap Paduka" kata
Pangeran Panji Sigit dengan suara terharu.
Wanita itu membuka kedua
matanya. Wajahnya berseri, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum, tanda bahwa
hatinya gembira sekali.
"Panji Sigit .. Ah,
Pangeran, alangkah gembira hatiku. Mendekatlah, Puteraku wong bagus“ Panji
Sigit mendekat dan wanita tua itu lalu membelai rambut kepalanya. Sentuhan ini
membuat hati Panji Sigit makin terharu sehingga dua titik air mata membasahi
pipinya.
"Dia ini isterimu,
Kulup? Ah, Nini, mendekatlah, Mantuku!"
Setyaningsih menyembah dan
menghampiri. Dengan kedua tangan di atas kepala kedua orang itu, sang ratu
menengadah seolah-olah mohon berkah dewata untuk sepasang orang muda itu.
Wajahnya jelas membayangkan keharuan dan kegembiraan.
"Duhai Ibunda Ratu ...apakah
yang telah terjadi? Paduka...”
"Husshhhh, Panji Sigit
puteraku. Tidak ada apa-apa denganku, cerita tentang aku tidak menarik. Lebih
baik kauceritakan pengalamanmu semenjak kau pergi dari istana. Bagaimana
sekarang tahu-tahu pulang membawa isteri yang begini cantik jelita? Anak nakal,
agaknya engkau baru pulang dari taman sorga dan mempersunting seorang bidadari“
Di dalam hatinya, Pangeran
Panji Sigit makin terharu dan kagum sekali ia akan ketenangan dan ketabahan
hati sang ratu. Sudah mengalami nasib yang demikian sengsara dan terhina, masih
bersikap tenang, tidak menonjolkan penderitaan pribadinya. Dan seorang wanita
yang begini telah dibuang oleh sang prabu! Maka ia pun menenangkan perasaan
hatinya dan bercerita tentang pengalamannya setelah dia pergi meninggalkan
istana. Betapa ia memasuki sayembara di lembah Wilis dan berhasil mempersunting
Setyaningsih.
"Kanjeng Ibu, dia ini
bukan orang lain, melainkan adik kandung dari Ayunda Endang Patibroto yang kini
menjadi ketua Padepokan Wilis." Ia menutup ceritanya.
"Ahhhh ..Endang
Patibroto manluku yang terkena fitnah dan... kasihan puteraku Panjirawit.. Jadi
Andika adik kandung Endang Patibroto? alangkah baiknya, kalian menyambung
kembali ikatan yang terputus oleh keadaan. Aku girang sekali, Panji Sigit dan
Setyaningsih."
"Duh Kanjeng Ibu,
sekarang hamba mohon Paduka suka menceritakan, mengapa Paduka sampai menjadi
begini, sungguh bingung dan sedih hati hamba mendengar dalam perjalanan tentang
paduka“ Sang ratu tersenyum.
"Apa yang engkau
dengar, Pangeran?"
"Hamba mendengar cerita
orang dalam perjalanan hamba bahwa Paduka di ... diasingkan ke tempat ini oleh
Ramanda Prabu karena katanya Paduka ... Paduka melakukan fitnah kepada ibunda
selir .... “
Sang ratu mengangguk.
"Memang tampaknya
begitulah, Puteraku. Akan tetapi sebetulnya di balik kenyataan ini terdapat
rahasia-rahasia yang amat pelik. Nah, kau dengarlah penuturanku, karena engkau
sebagai seorang Pangeran Jenggla berhak mengetahuinya."
Maka berceritalah wanita tua
itu dengan suara tenang dan sabar. Diceritakan segala peristiwa yang terjadi di
dalam istana, yang tidak diketahui orang lain. Tentang sepak terjang Suminten
dan Pangeran Kukutan tentang persekutuannya dengan ki patih yang baru, tentang
kelemahan sri baginda dan kemudian betapa dia sendiri terjebak ke dalam
perangkap yang mereka pasang yang menjebloskannya sehingga mengakibatkan dia
terbukti melakukan fitnah dan dihukum buang.
"Ah, si keparat, iblis
betina yang keji!" Pangeran Panji Sigit mengepal tinju, mukanya merah dan
matanya terbelalak penuh kemarahan.
"Agaknya dahulu pun dia
sengaja menggoda dan menyinggungku agar aku pergi dari istana dan dia dapat
berbuat sesukanya! Keparat!"
"Kakangmas, tenanglah..
" Setyaningsih memperingatkan.
Sang ratu tersenyum.
"Wah, isterimu ini
mengagumkan, Pangeran. Agaknya tidak semudah ayundamu dikuasai kemarahan. Dia
benar, Puteraku, tenanglah dan ceritakan kepadaku, apa yang dia lakukan dahulu
terhadap dirimu."
"Hamba ....hamba merasa
malu untuk menceritakan peristiwa menjijikkan itu, Kanjeng Ibu!"
"Biarlah hamba yang
bercerita, Kanjeng Ibu. Sebelum Kakanda Pangeran pergi dari istana, Kakanda
pernah digoda oleh.... Ibunda selir, dibujuk rayu dan diajak bermain asmara.
Kakanda Pangeran tidak mau melayani niatnya yang kotor itu, kemudian Kakanda
yang merasa malu sekali lalu pergi meninggalkan istana."
Sang ratu mengangguk-angguk.
"Hemm .... tidak aneh.
Betapa banyaknya pangeran yang terjatuh oleh rayuannya! Syukur engkau teguh
hati, Angger."
"Ibunda Ratu, kita
harus menghancurkan iblis betina itu! Penghinaan terhadap Paduka harus dibalas.
Biarlah hamba yang .. !”
"Jangan, Kulup. Jangan
menurutkan hati panas. Ingatlah bahwa benci dan dendam hanya akan mengotori dan
mengeruhkan batin sendiri. Aku tidak membenci Suminten, aku tidak mendendamnya,
setelaha aku mendapat ketenangan batin di sini baru kuketahui akan hal ini. Aku
menerima nasib dan sisa hidupku yang tak lama lagi ini tidak boleh sekali-kali
dikotori oleh benci dan dendam."
"Akan tetapi, iblis
betina itu telah merusak kebahagiaan Paduka, telah menghina Paduka sehingga
Paduka mengalami nasib sengsara seperti ini. Dia adalah musuh Paduka”
"Keliru wawasanmu,
Angger. Boleh jadi dia menganggap aku sebagai musuh, akan tetapi biarlah kalau
begitu. Aku tidak menganggap dia atau siapa saja sebagai musuh, dan peristiwa
yang menimpa diriku tidak kuanggap sebagai salah siapa-siapa, melainkan
semata-mata adalah tepat seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa. Apapun
yang terjadi di dunia ini adalah tepat seperti yang dikehandaki-Nya, karena di
luar kehendak-Nya, takkan terjadi sesuatu."
Diam-diam Pangeran Panji
Sigit dan Setyaningsih menjadi kagum dan di dalam hati mereka tunduk terhadap
wawasan yang sedemikian hebatnya, yang sukar dilaksanakan oleh siapa pun.
"Maaf, Ibunda Ratu,
hamba takkan sanggup dan berani membantah kebenaran wejangan Paduka itu. Akan
tetapi, kerajaan berada dalam cengkeraman manusia-manusia iblis, kerajaan
terancam bahaya, juga Ramanda Prabu .... ah, betapa mungkin hamba yang melihat
hal itu semua lalu berpeluk tangan, mendiamkannya saja?"
"Hal itu lain lagi
persoalannya, Puteraku. Sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang pangeran dan
ksatria untuk membela Ramandamu dan kerajaan. Sudah menjadi kewajibanmu pula
untuk menghalau musuh negara. Akan tetapi kalau demikian, semua tindakanmu
mempunyai dasar yang bersih, bukan semata-mata karena kebencian dan hendak
membalas dendam yang ditimpakan kepadaku. Mengertikan engkau akan perbedaannya,
Angger Pangeran?"
Pangeran Panji Sigit
mengangguk-angguk. Tahulah ia sekarang apa yang dimaksudkan ibu tirinya ini.
Tentu saja sebagai seorang gemblengan, ia sudah banyak menerima wejangan dari
guru-gurunya, sudah mengerti pula akan perbedaan antara dua perbuatan yang
sama. Hanya sama tampaknya, namun seperti bumi dan langit perbedaannya yang
terletak pada dasar perbuatan itu yang menjadi sebab. Membunuh dan membunuh
tidaklah sama kalau membunuh yang pertama berdasarkan kebencian dan dendam
sedangkan membunuh yang ke dua berdasarkan membela negara. Bukanlah
perbuatannya yang dinilai, melainkan yang tersembunyi di balik perbuatan itu,
pendorong dan pamrihnya.
"Hamba mengerti,
Kangjeng Ibu. Akan hamba usahakan sekerasnya agar hamba tidak melibatkan
persoalan pribadi dalam perjuangan hamba, melainkan persoalan membela negara
dan melindungi Ramanda Prabu. Hamba bermohon diri, Kanjeng Ibu, sekarang juga
hamba bersama Setyaningsih hendak mulai menentang dan menghalau iblis-iblis
yang mencengkeram Kerajaan Jenggala."
"Kau terlalu sembrono,
Pangeran. Kalian berdua tidak boleh pergi ke Jenggala, hal ini amat berbahaya
bagi kalian berdua."
"Hamba tidak takut.
Harap Kanjeng Ibu jangan khawatir. Selama hamba pergi merantau, hamba telah
menerima banyak gemblengan ilmu, dan di samping hamba ada Diajeng Setyaningsih
yang memiliki kesaktian. Hamba berdua dapat menjaga diri. Pula, di kota raja
banyak terdapat para ponggawa yang masih setia kepada Ramanda Prabu, dan banyak
sahabat-sahabat hamba ....“
"Ah, engkau tidak tahu,
Angger. Seluruh ponggawa telah menjadi kaki tangan Kukutan. Dan ketahuilah
bahwa Ki Patih Warutama memiliki kesaktian yang amat luar biasa sehingga dia
berhasil menyelamatkan ramandamu dari serbuan orang-orang jahat seperti yang
kuceritakan padamu tadi. Engkau sudah pernah bentrok dengan Suminten. Hal ini
amat berbahaya bagimu. Sekali Suminten menudingkan telunjuknya kepadamu, engkau
akan dikeroyok dan ramandamu takkan dapat berbuat apa-apa karena ramandamu kini
tidak pernah keluar dari dalam kamarnya. Tak ada seorang pun sahabat yang
berani membelamu, Angger."
No comments:
Post a Comment