Perawan Lembah Wilis; Bagian 115


"Wulandari, bintang pujaanku ....tidakkah engkau mengenal aku, Diajeng? Pangling orangnya masa pangling suaranya? Andaikata engkau pangling rupa dan suara, apakah engkau sudah melupakan ini?” Sambil berkata demikian, Ki Patih Warutama atau yang dahulu bernama Raden Sindupati itu menundukkan mukanya lalu mencium leher Wulandari di bawah telinga kini. Ciuman yang khas, seperti yang ia lakukan dahulu kalau dia bermain cinta dengan bekas kekasihnya ini, bibirnya mengecup kulit kuning langsat yang halus itu dan giginya menggigit
"Aaggghhhh ....engkau ....engkau benar Kakangmas Sindupati ...” Wulandari berkata lirih dan mereka kembali berpandangan.
"Engkau mengenalku kini, Diajeng. Akan tetapi Sindupati sudah tidak ada nama itu sudah dikubur. Aku Ki Patih Warutama. Sindupati lenyap namun cinta kasihku kepadamu tak pernah lenyap Diajeng bintang pujaanku" Warutama lalu mencium mulut yang terbuka karena tercengang keheranan itu, mencium mata yang memandangnya penuh takjub karena memang wajah pria ini sudah amat berubah. Wulandari mula terengah-engah dan berkata seperti merintih,
"Akan tetapi ...Kakangmas ...aku ... aku sudah menjadi isteri .....“

Kembali Warutama mencium dan membungkam mulut itu sehingga Wulandari tidak dapat melanjutkan kata-kata nya.
"Bukan, engkau kini sudah menjadi seorang janda, Wulandari kekasihku."
“....tetapi ...aku .... sudah tua, Kakangmas“
Kembali bibir Warutama sudah menghentikan kata-katanya. Ki patih ini menciumi kekasih lama ini dengan penuh kemesraan, menumpahkan semua kerinduannya selama ini sehingga Wulandari menggigil dibuatnya. Wanita ini memejamkan matanya dan belaian serta ciuman kekasihnya yang tak pernah dilupakannya ini membuat semua bulu di tubuhnya meremang.
"Engkau tidak pernah tua bagiku, Diajeng. Engkau akan kuboyong ke kepatihan bersama puterimu, engkau akan hidup bahagia di sampingku, akan kutebus semua penderitaan yang kita alami selama berpisah, kita takkan berpisah lagi, Diajeng“
"Kakangmas Sindupati“
"Hushh, namaku Warutama”
"Kakangmas Warutama, betapa mungkin itu? Apa yang akan dikatakan orang kalau kami diboyong ke kepatihan? Suami ...suamiku baru saja meninggal ...dan... “
Kembali bibir Warutama yang tiada puasnya itu sudah menghentikan kata-katanya, menciuminya dengan penuh kemesraan sehingga naik sedu-sedan dari dalam dada Wulandari, membuat napasnya sesak, kepalanya pening seperti, orang mabuk.
"Tidak mengapa, Diajeng. Mendiang suamimu seorang berjasa, sudah sepatutnya kalau keluarganya menerima penghargaan dariku. Engkau menurut sajalah aku yang akan mengatur segalanya, aku yang bertanggung jawab."
"Tapi ....tapi ...." Hanya sampai di situ saja bantahan yang keluar dari mulut Wulandari karena ciuman-ciuman dan belaian-belaian disertai suara bujuk rayu bekas kekasihnya telah membuai seluruh tubuhnya menjadi lemas, napasnya terengah-engah dan membuat dia seperti mabuk, tidak lagi sadar apa yang dilakukannya melainkan tunduk akan kekuasaan nafsu yang sudah mencengkeramnya. Bahkan ketika Ki Patih Warutama memondongnya menuju ke pembaringan, dengan sepasang mata dipejamkan dan mulut merintih tak tentu apa yang diucapkannya, Wulandari melingkarkan kedua lengannya ke leher bekas kekasihnya, seperti dua puluh tahunan yang lalu. Peristiwa pemboyongan nyi tumenggung dan puterinya ke kepatihan tentu akan menimbulkan geger kalau saja yang melakukan pemboyongan itu adalah "orang kecil" atau ponggawa yang kedudukannya masih rendah. Perbuatan tidak wajar, apalagi melanggar hukum, dari ‘orang kecil’ tentu akan mencelakakan pembuatnya sendiri. Akan tetapi, siapakah yang berani mencela atau menghalangi perbuatan "orang besar" seperti Ki Patih Warutama? Tidak dahulu tidak sekarang, orang yang berkedudukan tinggi dan memiliki kekuasaan, dapat berbuat seenak perutnya sendiri tanpa ada orang yang berani mengganggu, karena bukankah "hukum" berada mutlak di dalam telapak tangannya? Semenjak dahulu sampai kini, hukum yang dibuat manusia ternyata gagal untuk melindungi manusia-manusia yang termasuk golongan kecil, dan pada hakekatnya merupakan cara untuk menekan si kecil dan sebaliknya melindungi si besar.

Pemboyongan ibu yang baru saja menjadi janda bersama puterinya ke kepatihan tentu saja menimbulkan keheranan dan pelbagai dugaan, namun semua ini dapat ditutup oleh alasan ki patih bahwa hal ini dilakukan oleh ki patih mengingat akan jasa Tumenggung Matunggal yang tewas dalam melakukan tugas. Maka habislah urusan itu, bahkan ki patih dipuji-puji sebagai seorang atasan yang pandai menghargai jasa bawahannya, dan bahwa ki patih adalah seorang baik hati yang menaruh kasihan kepada ibu dan puterinya itu. Namun, sesungguhnya bukan sesederhana ini persoalannya dan hal ini hanya Wulandari yang mengetahuinya. Mula-mula janda ini merasa berbahagia sekali karena dia telah dapat berkumpul kembali dengan kekasih lama, bahkan dapat melanjutkan cinta kasih mereka yang dahulu diputus dengan paksa. Mula-mula Wulandari terlena dalam kenikmatan cinta, terbuai oleh bujuk rayu dan cinta asmara yang dilimpahkan oleh Ki Patih Warutama. Akan tetapi, ketika pada suatu malam ki patih menyatakan bahwa ki patih hendak mengambil puterinya, Dyah Handini, menjadi isteri ki patih, ia terkejut sekali seperti disambar halilintar di malam terang bulan!
"Ahhh, Kakangmas ...! Betapa mungkin? Tidak bisa... tidak boleh Handini menjadi isterimu“ Ki Patih Warutama merangkulnya, memeluk dan membelainya sambil tersenyum.
"Mengapa tidak, Wulandari? Dia akan menjadi isteriku, dan kita bertiga akan dapat berkumpul terus sampai selamanya! Bukankah hal ini membahagiakan kita bertiga?"
"Tidak boleh ....ah, Kakangmas, tidak boleh ...." Wulandari menangis.
Warutama mengerutkan alisnya, akan tetapi ia masih tersenyum dan menciumi muka yang mulai basah air mata itu.
"Diajeng Wulandari, ketahuilah bahwa aku mencinta puterimu. Dia mengingatkan aku kepada engkau ketika masih muda. Ketika kita dipaksa berpisah, engkau seumur dia dan persis seperti dia sekarang inilah keadaanmu. Apakah engkau cemburu? Dia puterimu sendiri. Dan engkau tentu yakin bahwa kalau dia menjadi isteriku, dia akan hidup bahagia. Dan engkau pun akan selalu bersanding di sisiku dan di sisi puterimu. Jangan khawatir, bintang pujaanku, aku dapat membagi cinta kasihku antara kalian berdua. Bahkan hubungan suci ini akan mengikat kita bertiga erat-erat, selamanya tidak akan berpisah lagi."
"Tidak ....! Tidak ....Aahhh, jangan ...." Wulandari menangis makin mengguguk. Sinar mata yang menyeramkan memancar keluar dari mata Ki Patih Warutama. Kedua tangannya yang tadi membelai tubuh Wulandari, masih membelainya dan naik ke atas, membelai dan meraba-raba leher wanita itu, mengusap usap dengan gerakan-gerakan tangan seperti hendak mencekiknya. Mulutnya tersenyum dan suaranya dingin sekali ketika ia bertanya lirih,
"Mengapa? Mengapa tidak? Katakanlah, apa sebabnya mengapa kau tidak setuju."
Wulandari mengangkat mukanya memandang wajah pria yang sudah menjatuhkan hati dan segala-galanya itu.
"Kakangmas, dia ...Dyah Handini itu ..., dia.. adalah anakmu sendiri”
Jari-jari yang mengelus leher itu menegang, akan tetapi belum mencekik, sungguhpun masih membelainya, agak lebih kasar daripada tadi. Wulandari hendak merenggutkan dirinya namun tidak dapat.
"Apa kau bilang ...? Dia anakku....?”
"Betul, Kakangmas. Dengarlah dahulu, ketika engkau melarikan diri ...dan aku dipaksa kawin dengan Tumenggung Matunggal, aku sudah ...sudah mengandung satu bulan. Dia anakmu, Kakangmas, karena itu ... tidak boleh engkau mengambilnya sebagai isterimu”
"Aku tidak percaya! Juga tidak perduli. Dia akan menjadi isteriku, tak perduli dia anakku atau bukan, tak perduli engkau setuju atau tidak!?"
"Kakangmas ...” Wulandari berseru dengan suara penuh permohonan, dengan air mata bercucuran.
"Cukup! Dengar baik-baik. Aku cinta kepada Dyah Handini, seperti cintaku kepadamu dahulu. Cintaku kepadamu yang terputus. Kini aku minta dilanjutkan, karena dia serupa benar dengan engkau dahulu. Hanya ada dua jalan bagimu. Menyetujui dia menjadi isteriku sehingga kita bertiga akan dapat terus berkumpul, akan tetapi terus saling mencinta, atau .... engkau mati sekarang juga dan dia tetap menjadi isteriku!" Jari-jari tangan yang masih melingkari leher Wulandari itu kini mengeras dan cekikan mulai terasa.
Dengan wajah pucat dan air mata mengalir, Wulandari terpaksa mengangguk, tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
"Ha-ha-ha, bagus, itu baru namanya bintang pujaanku yang sejati!" Ki Patih Warutama tertawa lalu mengecup bibir Wulandari dengan buas, lalu memaksa wanita yang nelangsa batinnya itu untuk melayani cinta kasihnya yang sesungguhnya hanya merupakan cinta berahi, cinta berahi, cinta nafsu yang selalu menjadi penuntun bagi setiap perbuatan seorang manusia macam Warutama atau Sindupati.

Demikianlah, biarpun sudah mendengar dari mulut Wulandari sendiri bahwa Dyah Handini adalah anaknya, Ki Patih Warutama tidak mau mundur dan melangsungkan pernikahannya dengan dara yang denok ayu itu. Tentu saja pesta pernikahan diramaikan dengan mewah dan meriah, dan orang-orang mulai memuji-muji lagi ki patih yang dianggapnya amat baik, suka mengangkat derajat anak seorang tumenggung. Semua orang menganggap betapa baik nasib Dyah Handini dan ibunya, yang biarpun telah kehilangan ayah dan suami, namun kini malah dinaikkan derajatnya sampai berlipat kali! Dyah Handini sendiri sebagai seorang gadis pada masa itu, hanya menurut kehendak ibunya dan akhirnya dia pun berbahagia karena suaminya, biarpun usianya sudah mendekati setengah abad, harus diakui merupakan seorang pria yang tampan dan gagah, apalagi amat pandai dan seorang ahli dalam merayu wanita dan bermain cinta. Segera dara yang denok ini jatuh dan mabuk oleh rayuan pria yang menjadi suaminya, sedikit pun tak pernah menduga bahwa suaminya ini sesungguhnya adalah ayahnya sendiril Ki Patih Warutama yang pada lahirnya merupakan seorang patih yang berpengaruh dan berkuasa, merupakan seorang pria yang tampan dan gagah, sebenarnya batinnya amatlah rendah. Hanya manusia berperangai binatang saja kiranya yang sudi melahap puterinya sendiri! Bukan hanya itu saja, bahkan lebih jauh lagi tingkah dan ulah ki patih ini. Terang-terangan di depan isterinya, ia melanjutkan hubungan rahasianya dengan Wulandari! Akhirnya Dyah Handini juga mengetahui bahwa ibunya telah "diselir" oleh suaminya. Anak dan ibu menjadi madu! Namun, Dyah Handini yang sudah jatuh bertekuk lutut oleh belaian kasih sayang ki patih yang amat pandai, tidak berani marah, bahkan diam-diam menjadi gembira karena baginya, lebih baik membagi suaminya dengan ibunya daripada dengan wanita lain. Terjadilah kemaksiatan yang menjijikkan dalam kamar Kl Patih Warutama. Kini terang-terangan saja dia bermain cinta dengan ibu dan anak itu. Dia tidur sekamar dengan Wulandari dan Dyah Handini, bergiliran mencintai ibu dan anak, tanpa malu-malu lagi bertiga tidur seranjang! Kadang-kadang, mereka bertiga duduk bercengkerama, bersendau-gurau, ki patih duduk di tengah, Wulandari duduk di atas paha kanannya, Dyah Handini duduk di atas paha kirinya, memeluk kedua ibu dan anak itu dengan dua lengannya, bergiliran menciumi dan mencumbu mereka! Hebatnya, lambat-laun Wulandari dapat melupakan rasa nelangsa di hatinya dan mulailah ia bergembira dan akhirnya ia merasa berbahagia mendapat kenyataan betapa ki patih masih tetap mencintanya seperti cintanya terhadap puterinya. Wulandari merasa mendapat kepuasan lahir batin dan tak perduli lagilah akan tata susila, tidak malu menyaksikan puterinya bermain cinta dengan ki patih, juga tidak malu lagi disaksikan puterinya apabila dia mendapat giliran! Adakah perbuatan a-susila yang lebih gila daripada ini? Sementara itu, kedudukan Suminten makin kuat. Keadaan sang prabu yang sudah tua tiada lebih kuat daripada seorang tapadaksa yang tak berdaya. Semua persoalan pemerintahan dipegang oleh tiga serangkai itu, Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama. Hubungan dengan wakil-wakil Kerajaan Sriwijaya dan Cola makin diperkuat dan mulailah diatur rencana untuk menguasai seluruh Jenggala, kemudian menghantam Panjalu. Kadipaten sebelah timur sudah pula dihubungi dan mereka ini, termasuk Kadipaten Nusabarung dah Kadipaten Blambangan yang menaruh dendam terhadap Panjalu, sudah siap-siap pula untuk membantu jika pecah perang. Awan gelap menyelimuti angkasa di atas kedua kerajaan bersaudara itu, kerajaan yang menjadi keturunan Mataram, yang terpecah karena mendiang Sang Prabu Airlangga bermaksud bersikap adil dan mencegah perang saudara dengan cara membagi kerajaan menjadi dua.

Di kaki Gunung Anjasmoro sebelah utara merupakan pedusunan yang amat sunyi, yang hanya berpenduduk beberapa puluh keluarga petani miskin. Namun tempat ini memiliki pemandangan alam yang indah dan kesunyian selalu merupakan sifat yang khas daripada keindahan alam. Di antara pondok-pondok kecil, gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu terdapatlah sekelompok bangunan yang dikurung pagar tembok. Pintu gerbang dinding yang mengurung kelompok bangunan ini selalu terjaga oleh beberapa orang prajurit pengawal.

<<< Bagian 114                                                                                      Bagian 116 >>>

No comments:

Post a Comment