"Wulandari, bintang pujaanku ....tidakkah engkau mengenal aku, Diajeng? Pangling orangnya masa pangling suaranya? Andaikata engkau pangling rupa dan suara, apakah engkau sudah melupakan ini?” Sambil berkata demikian, Ki Patih Warutama atau yang dahulu bernama Raden Sindupati itu menundukkan mukanya lalu mencium leher Wulandari di bawah telinga kini. Ciuman yang khas, seperti yang ia lakukan dahulu kalau dia bermain cinta dengan bekas kekasihnya ini, bibirnya mengecup kulit kuning langsat yang halus itu dan giginya menggigit
"Aaggghhhh ....engkau
....engkau benar Kakangmas Sindupati ...” Wulandari berkata lirih dan mereka
kembali berpandangan.
"Engkau mengenalku
kini, Diajeng. Akan tetapi Sindupati sudah tidak ada nama itu sudah dikubur.
Aku Ki Patih Warutama. Sindupati lenyap namun cinta kasihku kepadamu tak pernah
lenyap Diajeng bintang pujaanku" Warutama lalu mencium mulut yang terbuka
karena tercengang keheranan itu, mencium mata yang memandangnya penuh takjub
karena memang wajah pria ini sudah amat berubah. Wulandari mula terengah-engah
dan berkata seperti merintih,
"Akan tetapi
...Kakangmas ...aku ... aku sudah menjadi isteri .....“
Kembali Warutama mencium dan
membungkam mulut itu sehingga Wulandari tidak dapat melanjutkan kata-kata nya.
"Bukan, engkau kini
sudah menjadi seorang janda, Wulandari kekasihku."
“....tetapi ...aku ....
sudah tua, Kakangmas“
Kembali bibir Warutama sudah
menghentikan kata-katanya. Ki patih ini menciumi kekasih lama ini dengan penuh
kemesraan, menumpahkan semua kerinduannya selama ini sehingga Wulandari
menggigil dibuatnya. Wanita ini memejamkan matanya dan belaian serta ciuman
kekasihnya yang tak pernah dilupakannya ini membuat semua bulu di tubuhnya
meremang.
"Engkau tidak pernah
tua bagiku, Diajeng. Engkau akan kuboyong ke kepatihan bersama puterimu, engkau
akan hidup bahagia di sampingku, akan kutebus semua penderitaan yang kita alami
selama berpisah, kita takkan berpisah lagi, Diajeng“
"Kakangmas Sindupati“
"Hushh, namaku
Warutama”
"Kakangmas Warutama,
betapa mungkin itu? Apa yang akan dikatakan orang kalau kami diboyong ke
kepatihan? Suami ...suamiku baru saja meninggal ...dan... “
Kembali bibir Warutama yang
tiada puasnya itu sudah menghentikan kata-katanya, menciuminya dengan penuh
kemesraan sehingga naik sedu-sedan dari dalam dada Wulandari, membuat napasnya
sesak, kepalanya pening seperti, orang mabuk.
"Tidak mengapa,
Diajeng. Mendiang suamimu seorang berjasa, sudah sepatutnya kalau keluarganya
menerima penghargaan dariku. Engkau menurut sajalah aku yang akan mengatur
segalanya, aku yang bertanggung jawab."
"Tapi ....tapi
...." Hanya sampai di situ saja bantahan yang keluar dari mulut Wulandari
karena ciuman-ciuman dan belaian-belaian disertai suara bujuk rayu bekas
kekasihnya telah membuai seluruh tubuhnya menjadi lemas, napasnya
terengah-engah dan membuat dia seperti mabuk, tidak lagi sadar apa yang
dilakukannya melainkan tunduk akan kekuasaan nafsu yang sudah mencengkeramnya.
Bahkan ketika Ki Patih Warutama memondongnya menuju ke pembaringan, dengan
sepasang mata dipejamkan dan mulut merintih tak tentu apa yang diucapkannya,
Wulandari melingkarkan kedua lengannya ke leher bekas kekasihnya, seperti dua
puluh tahunan yang lalu. Peristiwa pemboyongan nyi tumenggung dan puterinya ke
kepatihan tentu akan menimbulkan geger kalau saja yang melakukan pemboyongan
itu adalah "orang kecil" atau ponggawa yang kedudukannya masih
rendah. Perbuatan tidak wajar, apalagi melanggar hukum, dari ‘orang kecil’
tentu akan mencelakakan pembuatnya sendiri. Akan tetapi, siapakah yang berani
mencela atau menghalangi perbuatan "orang besar" seperti Ki Patih
Warutama? Tidak dahulu tidak sekarang, orang yang berkedudukan tinggi dan
memiliki kekuasaan, dapat berbuat seenak perutnya sendiri tanpa ada orang yang
berani mengganggu, karena bukankah "hukum" berada mutlak di dalam
telapak tangannya? Semenjak dahulu sampai kini, hukum yang dibuat manusia
ternyata gagal untuk melindungi manusia-manusia yang termasuk golongan kecil,
dan pada hakekatnya merupakan cara untuk menekan si kecil dan sebaliknya
melindungi si besar.
Pemboyongan ibu yang baru
saja menjadi janda bersama puterinya ke kepatihan tentu saja menimbulkan
keheranan dan pelbagai dugaan, namun semua ini dapat ditutup oleh alasan ki
patih bahwa hal ini dilakukan oleh ki patih mengingat akan jasa Tumenggung
Matunggal yang tewas dalam melakukan tugas. Maka habislah urusan itu, bahkan ki
patih dipuji-puji sebagai seorang atasan yang pandai menghargai jasa
bawahannya, dan bahwa ki patih adalah seorang baik hati yang menaruh kasihan
kepada ibu dan puterinya itu. Namun, sesungguhnya bukan sesederhana ini
persoalannya dan hal ini hanya Wulandari yang mengetahuinya. Mula-mula janda
ini merasa berbahagia sekali karena dia telah dapat berkumpul kembali dengan
kekasih lama, bahkan dapat melanjutkan cinta kasih mereka yang dahulu diputus
dengan paksa. Mula-mula Wulandari terlena dalam kenikmatan cinta, terbuai oleh
bujuk rayu dan cinta asmara yang dilimpahkan oleh Ki Patih Warutama. Akan
tetapi, ketika pada suatu malam ki patih menyatakan bahwa ki patih hendak
mengambil puterinya, Dyah Handini, menjadi isteri ki patih, ia terkejut sekali
seperti disambar halilintar di malam terang bulan!
"Ahhh, Kakangmas ...!
Betapa mungkin? Tidak bisa... tidak boleh Handini menjadi isterimu“ Ki Patih
Warutama merangkulnya, memeluk dan membelainya sambil tersenyum.
"Mengapa tidak,
Wulandari? Dia akan menjadi isteriku, dan kita bertiga akan dapat berkumpul
terus sampai selamanya! Bukankah hal ini membahagiakan kita bertiga?"
"Tidak boleh ....ah,
Kakangmas, tidak boleh ...." Wulandari menangis.
Warutama mengerutkan
alisnya, akan tetapi ia masih tersenyum dan menciumi muka yang mulai basah air
mata itu.
"Diajeng Wulandari,
ketahuilah bahwa aku mencinta puterimu. Dia mengingatkan aku kepada engkau
ketika masih muda. Ketika kita dipaksa berpisah, engkau seumur dia dan persis
seperti dia sekarang inilah keadaanmu. Apakah engkau cemburu? Dia puterimu
sendiri. Dan engkau tentu yakin bahwa kalau dia menjadi isteriku, dia akan
hidup bahagia. Dan engkau pun akan selalu bersanding di sisiku dan di sisi
puterimu. Jangan khawatir, bintang pujaanku, aku dapat membagi cinta kasihku
antara kalian berdua. Bahkan hubungan suci ini akan mengikat kita bertiga
erat-erat, selamanya tidak akan berpisah lagi."
"Tidak ....! Tidak
....Aahhh, jangan ...." Wulandari menangis makin mengguguk. Sinar mata
yang menyeramkan memancar keluar dari mata Ki Patih Warutama. Kedua tangannya
yang tadi membelai tubuh Wulandari, masih membelainya dan naik ke atas,
membelai dan meraba-raba leher wanita itu, mengusap usap dengan gerakan-gerakan
tangan seperti hendak mencekiknya. Mulutnya tersenyum dan suaranya dingin
sekali ketika ia bertanya lirih,
"Mengapa? Mengapa
tidak? Katakanlah, apa sebabnya mengapa kau tidak setuju."
Wulandari mengangkat mukanya
memandang wajah pria yang sudah menjatuhkan hati dan segala-galanya itu.
"Kakangmas, dia ...Dyah
Handini itu ..., dia.. adalah anakmu sendiri”
Jari-jari yang mengelus
leher itu menegang, akan tetapi belum mencekik, sungguhpun masih membelainya,
agak lebih kasar daripada tadi. Wulandari hendak merenggutkan dirinya namun
tidak dapat.
"Apa kau bilang ...?
Dia anakku....?”
"Betul, Kakangmas.
Dengarlah dahulu, ketika engkau melarikan diri ...dan aku dipaksa kawin dengan
Tumenggung Matunggal, aku sudah ...sudah mengandung satu bulan. Dia anakmu,
Kakangmas, karena itu ... tidak boleh engkau mengambilnya sebagai isterimu”
"Aku tidak percaya!
Juga tidak perduli. Dia akan menjadi isteriku, tak perduli dia anakku atau
bukan, tak perduli engkau setuju atau tidak!?"
"Kakangmas ...”
Wulandari berseru dengan suara penuh permohonan, dengan air mata bercucuran.
"Cukup! Dengar
baik-baik. Aku cinta kepada Dyah Handini, seperti cintaku kepadamu dahulu.
Cintaku kepadamu yang terputus. Kini aku minta dilanjutkan, karena dia serupa
benar dengan engkau dahulu. Hanya ada dua jalan bagimu. Menyetujui dia menjadi
isteriku sehingga kita bertiga akan dapat terus berkumpul, akan tetapi terus
saling mencinta, atau .... engkau mati sekarang juga dan dia tetap menjadi
isteriku!" Jari-jari tangan yang masih melingkari leher Wulandari itu kini
mengeras dan cekikan mulai terasa.
Dengan wajah pucat dan air
mata mengalir, Wulandari terpaksa mengangguk, tak mampu mengeluarkan kata-kata
lagi.
"Ha-ha-ha, bagus, itu
baru namanya bintang pujaanku yang sejati!" Ki Patih Warutama tertawa lalu
mengecup bibir Wulandari dengan buas, lalu memaksa wanita yang nelangsa
batinnya itu untuk melayani cinta kasihnya yang sesungguhnya hanya merupakan
cinta berahi, cinta berahi, cinta nafsu yang selalu menjadi penuntun bagi
setiap perbuatan seorang manusia macam Warutama atau Sindupati.
Demikianlah, biarpun sudah
mendengar dari mulut Wulandari sendiri bahwa Dyah Handini adalah anaknya, Ki
Patih Warutama tidak mau mundur dan melangsungkan pernikahannya dengan dara
yang denok ayu itu. Tentu saja pesta pernikahan diramaikan dengan mewah dan
meriah, dan orang-orang mulai memuji-muji lagi ki patih yang dianggapnya amat
baik, suka mengangkat derajat anak seorang tumenggung. Semua orang menganggap
betapa baik nasib Dyah Handini dan ibunya, yang biarpun telah kehilangan ayah
dan suami, namun kini malah dinaikkan derajatnya sampai berlipat kali! Dyah
Handini sendiri sebagai seorang gadis pada masa itu, hanya menurut kehendak
ibunya dan akhirnya dia pun berbahagia karena suaminya, biarpun usianya sudah
mendekati setengah abad, harus diakui merupakan seorang pria yang tampan dan
gagah, apalagi amat pandai dan seorang ahli dalam merayu wanita dan bermain
cinta. Segera dara yang denok ini jatuh dan mabuk oleh rayuan pria yang menjadi
suaminya, sedikit pun tak pernah menduga bahwa suaminya ini sesungguhnya adalah
ayahnya sendiril Ki Patih Warutama yang pada lahirnya merupakan seorang patih
yang berpengaruh dan berkuasa, merupakan seorang pria yang tampan dan gagah,
sebenarnya batinnya amatlah rendah. Hanya manusia berperangai binatang saja
kiranya yang sudi melahap puterinya sendiri! Bukan hanya itu saja, bahkan lebih
jauh lagi tingkah dan ulah ki patih ini. Terang-terangan di depan isterinya, ia
melanjutkan hubungan rahasianya dengan Wulandari! Akhirnya Dyah Handini juga
mengetahui bahwa ibunya telah "diselir" oleh suaminya. Anak dan ibu
menjadi madu! Namun, Dyah Handini yang sudah jatuh bertekuk lutut oleh belaian
kasih sayang ki patih yang amat pandai, tidak berani marah, bahkan diam-diam
menjadi gembira karena baginya, lebih baik membagi suaminya dengan ibunya
daripada dengan wanita lain. Terjadilah kemaksiatan yang menjijikkan dalam
kamar Kl Patih Warutama. Kini terang-terangan saja dia bermain cinta dengan ibu
dan anak itu. Dia tidur sekamar dengan Wulandari dan Dyah Handini, bergiliran
mencintai ibu dan anak, tanpa malu-malu lagi bertiga tidur seranjang!
Kadang-kadang, mereka bertiga duduk bercengkerama, bersendau-gurau, ki patih
duduk di tengah, Wulandari duduk di atas paha kanannya, Dyah Handini duduk di
atas paha kirinya, memeluk kedua ibu dan anak itu dengan dua lengannya,
bergiliran menciumi dan mencumbu mereka! Hebatnya, lambat-laun Wulandari dapat
melupakan rasa nelangsa di hatinya dan mulailah ia bergembira dan akhirnya ia
merasa berbahagia mendapat kenyataan betapa ki patih masih tetap mencintanya
seperti cintanya terhadap puterinya. Wulandari merasa mendapat kepuasan lahir
batin dan tak perduli lagilah akan tata susila, tidak malu menyaksikan
puterinya bermain cinta dengan ki patih, juga tidak malu lagi disaksikan
puterinya apabila dia mendapat giliran! Adakah perbuatan a-susila yang lebih
gila daripada ini? Sementara itu, kedudukan Suminten makin kuat. Keadaan sang
prabu yang sudah tua tiada lebih kuat daripada seorang tapadaksa yang tak
berdaya. Semua persoalan pemerintahan dipegang oleh tiga serangkai itu,
Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama. Hubungan dengan wakil-wakil
Kerajaan Sriwijaya dan Cola makin diperkuat dan mulailah diatur rencana untuk
menguasai seluruh Jenggala, kemudian menghantam Panjalu. Kadipaten sebelah
timur sudah pula dihubungi dan mereka ini, termasuk Kadipaten Nusabarung dah
Kadipaten Blambangan yang menaruh dendam terhadap Panjalu, sudah siap-siap pula
untuk membantu jika pecah perang. Awan gelap menyelimuti angkasa di atas kedua
kerajaan bersaudara itu, kerajaan yang menjadi keturunan Mataram, yang terpecah
karena mendiang Sang Prabu Airlangga bermaksud bersikap adil dan mencegah
perang saudara dengan cara membagi kerajaan menjadi dua.
Di kaki Gunung
Anjasmoro sebelah utara merupakan pedusunan yang amat sunyi, yang hanya
berpenduduk beberapa puluh keluarga petani miskin. Namun tempat ini memiliki
pemandangan alam yang indah dan kesunyian selalu merupakan sifat yang khas
daripada keindahan alam. Di antara pondok-pondok kecil, gubuk-gubuk berdinding
anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu terdapatlah sekelompok bangunan yang
dikurung pagar tembok. Pintu gerbang dinding yang mengurung kelompok bangunan
ini selalu terjaga oleh beberapa orang prajurit pengawal.
No comments:
Post a Comment