Perawan Lembah Wilis; Bagian 114


"Apakah kalian tuli? Gusti sinuwun sudah memberi perintah, kalian masih berdiri seperti arca?" Suminten berseru marah.
"Akan tetapi ....tetapi ....”
"Kalian berani membangkang terhadap perintahku? Apakah pengawal-pengawalku sendiri hendak memberontak?"
Mendengar perintah ini, para pengawal itu hilang keraguannya dan cepat mereka menyeret tubuh emban tua yang sudah ditunggangi dan dipukuli emban muda itu, dan karena sang permaisuri sudah siuman dan tengah menangis, para pengawal lalu memegang lengannya, dengan halus namun paksa mereka membantunya bangun dan menggiringnya keluar dari ruangan itu.

Kembali Kerajaan Jenggala menjadi geger ketika beberapa hari kemudian rakyat mendengar bahwa sang ratu mereka ini telah "dibuang" atau "diasingkan", yaitu ditempatkan di luar istana, di sebuah pesanggrahan yang terletak di kaki Bukit Anjasmoro sebelah utara, sebuah pesanggrahan yang amat sederhana bagi seorang bekas permaisuri raja namun cukup mewah dan indah bagi rakyat kecil, lengkap dengan segala keperluan dan pelayan, namun pondok-pondok itu dikurung dinding tinggi dan terjaga oleh beberapa orang prajurit. Mengingat akan kedudukannya dan akan hubungan mereka, maka oleh sang prabu, bekas permaisuri ini tidak dihukum, hanya diasingkan dan dilarang meninggalkan tempat pengasingan ini sampai mati. Adapun emban tua yang menjadi abdi kepercayaan bekas permaisuri itu dihukum mati.
Sang ratu yang kini telah diasingkan, tidak merasa berduka akan nasib yang menimpa diri pribadi, melainkan dia merasa berduka dan gelisah memikirkan nasib sang prabu, dan terutama sekali nasib Kerajaan Jenggala. Dia maklum bahwa setelah ia gagal dalam melawan manusia- manusia iblis yang pada waktu itu sedang mencengkeram kerajaan, tidak akan ada lagi yang dapat melawan Suminten dan kaki tangannya. Saking prihatin dan nelangsa hatinya, bekas ratu ini menanggalkan pakaiannya yang indah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian pendeta, dan setiap hari pekerjaannya hanya duduk bersamadhi, mengheningkan cipta dan memanjatkan doa kepada para dewata agar supaya sang prabu dan Kerajaan Jenggala dilindungi daripada kehancuran. Dan memang tidak kelirulah apa yang dikhawatirkan bekas permaisuri ini. Kemenangan mutlak atas diri permaisuri yang siasatnya diatur oleh Suminten, benar-benar membuat Suminten dapat mencapai puncak kekuasaannya. Tepat pula seperti dugaan emban tua yang kini telah dihukum mati, semua yang terjadi, semenjak di dalam taman sari, di pesanggrahan Suminten, sampai kejadian di depan sang prabu, telah lebih dahulu diatur oleh Suminten. Akal siasat yang amat cerdik dan licik itu adalah hasil pengolahan mereka bertiga, yaitu Suminten, Ki Patih Warutama, dan Pangeran Kukutan! Diolah di antara buih-buih gelombang cinta berahi antara Suminten dan kedua orang pria yang ia layani bermain cinta secara bergiliran.
Dan hasilnya hebat, seperti siasat yang diatur iblis sendiri. Sang ratu yang berbathin bersih itu mana mungkin dapat menghadapi siasat manusia-manusia iblis ini? Dia terjebak dan terpaksa mengaku kalah. Kalau Suminten makin besar kekuasaan dan pengaruhnya atas diri sang prabu yang sudah tua, dan Pangeran Kukutan kini sudah dapat merasa yakin bahwa sepeninggal ayahandanya, pasti dia yang akan menjadi penggantinya, adalah Ki Patih Warutama yang kini hidup penuh kemewahan dan kesenangan.

Seringkali ia tersenyum puas menyaksikan hasilnya. Dahulu dia hanyalah seorang perwira kecil di Jenggala, dan karena dia bermain cinta dengan seorang puteri dari selir raja, dia terpaksa melarikan diri agar tidak dihukum mati. Dan setelah berkali-kali gagal dalam usahanya mengejar kemuliaan, gagal di Blambangan dan merantau terlunta-lunta di Bali, kini dia berhasil menjadi Patih Jenggala! Ki Patih Warutama yang dahulunya bernama Raden Sindupati ini adalah seorang pria yang tampan dan gagah, namun sayang ketampanan dan kegagahannya itu hanya menjadi pulasan belaka, hanya setebal kulitnya. Hati dan pikirannya selalu kotor dan menjadi ham daripada nafsu-nafsunya sendiri, terutama sekali nafsu berahi yang membuat dia menjadi seorang pria yang gila wanita. Setelah kini kedudukannya kokoh kuat, ia mulai membujuk Suminten dan Pangeran Kukutan untuk mulai mengadakan kontak dengan fihak Sriwijaya dan Cola yang wakil-wakilnya memang sudah banyak yang menyelundup ke Jenggala. Mulailah kini Ki Patih Warutama mengangkat pembantu-pembantu yang sesungguhnya adalah anak buah Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati! Mulailah pengaruh kedua kerajaan itu menyusup ke Jenggala. Bukan hanya ini saja usaha yang dilakukan oleh Ki Patih Warutama. Juga kedudukan dan kemuliaannya membuat penyakit lama dalam dirinya kambuh, yaitu mengejar wanita-wanita cantik! Dan di Jenggala adalah kedungnya wanita-wanita cantik! Dengan ketampanan wajahnya, ditambah kedudukannya sebagai patih, diperkuat pula oleh kesaktiannya, akan mudah sekali bagi Warutama untuk mencari perawan, janda, atau isteri orang untuk diambilnya. Mulailah pria ini berpesta-pora, pesta palsu, dan ia seolah-olah berlomba dengan Suminten. Suminten adalah seorang wanita yang gila pria yang selalu haus dan tak terpadamkan, tak pernah puas nafsu berahinya, sehingga setiap malam dia harus ditemani seorang pria, ganti-berganti bahkan hampir setiap malam berganti pria. Demikian pulalah dengan Warutama. Setelah kini kedudukannya mencapai tingkat tinggi dan kokoh kuat, ia tidak menyembunyikan sifatnya ini dan menyaingi Suminten dalam hal mengumbar nafsunya, berganti-ganti wanita setiap malam, entah puteri siapa, entah isteri siapa asalkan cantik jelita dan sesuai dengan seleranya!

Ketika teringat akan bekas kekasihnya dan mengadakan penyelidikan, ia mendengar bahwa puteri yang dahulu menjadi kekasihnya, yaitu puteri raja dari selir yang bernama Wulandari telah menjadi isteri seorang tumenggung, dia menjadi penasaran sekali dan hatinya takkan dapat merasa puas dan tenteram sebelum ia berhasil mendapatkan kembali kekasihnya yang dahulu dipaksa berpisah darinya itu. Dia tidak perduli akan kenyataan bahwa menurut penyelidikannya, suami Wulandari itu, yang bernama Tumenggung Matunggal adalah seorang tumenggung yang menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan pula, jadi merupakan "anak buah", dan tidak perduli pula bahwa suami isteri itu telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini sudah menjadi seorang gadis dewasa! Mulailah ki patih merenung dengan hati penuh kerinduan kepada bekas kekasihnya dahulu, padahal iapun mengetahui bahwa, kekasihnya itu, Wulandari yang dahulu amat cantik jelita, kenes dan kewes memikat, kini sedikitnya tentu sudah berusia empat puluh tahun! Makin rindu rasa hatinya kalau ia mengenang peristiwa di masa yang lalu. Wulandari mencinta dirinya, menyerahkan jiwa raga kepadanya dan ketika hubungan gelap mereka ketahuan, terpaksa ia melarikan diri. Tadinya dikabarkan orang bahwa Wulandari telah membunuh diri. Baru sekarang ia ketahui bahwa hal itu hanya disiarkan untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga raja, padahal diam-diam gadis bekas kekasihnya itu dikawinkan dengan Tumenggung Matunggal. Apalagi setelah ia melakukan penyelidikan dan berhasil melihat bekas kekasihnya itu, rindu dendam dan berahinya makin memuncak. Bukan saja terhadap kekasihnya yang ternyata masih cantik jelita, bahkan lebih "matang" daripada duapuluh tahun lebih yang lalu, melainkan juga terhadap Dyah Handini, puteri bekas kekasihnya itu yang kini telah menjadi seorang perawan jelita! Dan mulailah otaknya yang cerdik seperti setan itu merencanakan siasatnya yang keji.

Ki Tumenggung Matunggal merasa girang dan bangga sekali ketika ia diserahi tugas oleh Ki Patih Warutama untuk melakukan peninjauan ke Nusabarung dan terus ke Blambangan, dua kadipaten yang telah ditaklukkan oleh Jenggala. Baik Nusabarung maupun Belambangan dahulu dapat diserbu dan ditaklukkan berkat kesaktian Endang Patibroto. Setiap orang pembesar tentu akan merasa girang dan bangga kalau menjadi utusan atau wakil kerajaan meninjau daerah taklukan, girang karena biasanya daerah taklukan tentu akan melimpahkan hadiah-hadiah dan tanda bukti yang akan membuatnya pulang dengan harta benda bertumpuk, dan bangga karena tugas ini membuktikan bahwa dia adalah orang yang dipercaya oleh kerajaan!
Dengan hati bangga dan besar Ki Tumenggung Matunggal berangkat beserta pasukannya setelah berpamit dari isterinya, puterinya, dan selir-selirnya. Sama sekali ki tumenggung ini tidak pernah mimpi bahwa kepergiannya yang takkan pernah kembali, dan bahwa perpisahannya dengan keluarganya adalah perpisahan terakhir! Mengapa demikian? Karena semua ini adalah siasat keji yang dilakukan oleh Patih Warutama yang bertekad bulat untuk mendapatkan kembali bekas kekasihnya, Wulandari yang telah menjadi nyi tumenggung itu, mendapatkan kembali Wulandari berikut puterinya, Dyah Handini. Dan untuk mencapai niat hati keji ini, Patih Warutama tidak segan untuk melakukan hal yang bagaimana kejamnya pun. Tumenggung Matunggal harus dilenyapkan! Demikianlah siasat yang amat busuk dan yang hanya timbul dalam hati seorang manusia yang sudah menjadi hamba nafsu dan menjadi murid iblis! Sungguh patut dikasihani orang-orang seperti Ki Tumenggung Matunggal ini. Seorang manusia pengejar kemuliaan dan kedudukan dengan cara apa pun juga, tidak segan untuk menjilat-jilat atasannya, rela menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan dan mengkhianati kerajaan, sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya ia hanya dipergunakan sebagai alat oleh fihak atasan yang dalam hal mengejar kesenangan pribadi jauh melebihinya, dalam kekejaman jauh 'melewatinya. Tidak sadar bahwa ia hanya dipermainkan, dipuji-puji dan diberi hadiah apabila masih diperlukan, namun sekali pihak atasannya tidak memerlukannya, dia akan dilempar dan dibunuh begitu saja! Dan alangkah banyaknya manusia-manusia macam Tumenggung Matunggal ini, yang tidak mempunyai pendirian, tidak mempunyai kesetiaan. Kepergiannya melaksanakan tugas meninjau ke daerah-daerah taklukan, diakhiri dengan kematian dalam perjalanan karena diracun oleh pengawalnya sendiri, sudah tentu saja pengawal yang menjalankan perintah Ki Patih Warutama. Adapun racun yang dipergunakan adalah racun yang diminta oleh Ki Patih Warutama dari Ni Dewi Nilamanik, racun yang amat hebat dan tidak dikenal orang sehingga kematian Tumenggung Matunggal dianggap sebagai kematian wajar, kematian karena sang tumenggung diserang penyakit mendadak di dalam perjalanannya.

Malam hari itu nyi tumenggung atau yang dahulunya bernama Wulandari, puteri dari selir sang prabu, menangis di dalam kamarnya, menangisi kematian suaminya. Sesungguhnya ia tidak mencintai suami ini, suami yang dijodohkan dengan dia secara paksaan. Akan tetapi karena suaminya itu selalu baik terhadapnya, maka kematiannya yang mendadak dalam perjalanan itu membuatnya berduka juga. Dan menjelang tengah malam, ketika nyi tumenggung yang berduka ini sudah hampir dapat melupakan dukanya dengan tidur, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka dari luar dan sesosok bayangan berkelebat masuk ke kamar itu. Wulandari terkejut dan sejenak berdiri bulu tengkuknya, mengira bahwa roh suaminya yang datang melayang masuk dari jendela itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa pria tampan dan gagah yang berdiri di kamarnya, yang memandangnya dengan senyum membayang di balik kumis tipis dan pandang mata mesra, adalah Ki Patih Warutama! Baru satu kali Wulandari melihat patih yang baru ini, yang sekali itu pun hanya sepintas lalu, akan tetapi ia telah mengenal ki patih ini karena wajah ki patih mengingatkan dia akan seorang yang pernah dikenalnya baik-baik, akan wajah Raden Sindupati, bekas kekasihnya belasan tahun yang lalu! Mengapa Ki Patih Warutama memasuki kamarnya? Dan pada waktu malam buta dengan melalui jendela seperti seorang maling? Jantung Wulandari berdebar keras, wajahnya menjadi pucat dan kalau saja ia tidak melihat jelas bahwa ki patihlah orang ini, tentu ia telah menjerit. Kini dengan tubuh gemetar ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara penuh teguran, namun halus,
"Gusti Patih ... mengapa Paduka .....?”
"Wulandari, jangan takut, bintang pujaanku ..." kata Warutama sambil melangkah maju, mendekat.
Wulandari membelalakkan kedua matanya. Ia mengangkat muka dan memandang dengan mata terbelalak, muka makin pucat. Nama kecilnya disebut begitu saja oleh ki patih, padahal di dalam dunia ini hanya satu orang saja yang menyebutnya dengan ucapan mesra "bintang pujaan".
"Paduka ..... Paduka ....." ia menggagap kebingungan.
Namun kedua tangan ki patih yang kuat itu sudah memegang pundaknya dan mengangkatnya berdiri. Muka mereka berdekatan, dua pasang mata berpandangan, dan terdengar bisikan keluar dari mulut yang menggigil.
"Paduka Gusti Patih Warutama...”
Warutama tersenyum. "Benar, aku Ki Patih Warutama...”
"Kenapa Paduka masuk kamar ini .? Di tengah malam melalui jendela? Apakah ....apakah kehendak Paduka?" Wulandari sudah dapat menguasai hatinya dan merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ki patih.
"Apa salahnya? Aku datang untuk menghiburmu, karena aku merasa kasihan kepada keluarga Tumenggung Matunggal yang sudah berjasa."
"Akan tetapi ....ah, Paduka harus cepat keluar dari sini ....“
Kembali lengan ki patih bergerak dan tanpa dapat mengelak lagi Wulandari sudah dipeluknya dan dipaksanya muka yang masih cantik itu menengadah sehingga mereka kembali saling memandang, muka mereka amat dekat.

<<< Bagian 113                                                                                       Bagian 115 >>>

No comments:

Post a Comment