"Apakah kalian tuli? Gusti sinuwun sudah memberi perintah, kalian masih berdiri seperti arca?" Suminten berseru marah.
"Akan tetapi ....tetapi
....”
"Kalian berani
membangkang terhadap perintahku? Apakah pengawal-pengawalku sendiri hendak
memberontak?"
Mendengar perintah ini, para
pengawal itu hilang keraguannya dan cepat mereka menyeret tubuh emban tua yang
sudah ditunggangi dan dipukuli emban muda itu, dan karena sang permaisuri sudah
siuman dan tengah menangis, para pengawal lalu memegang lengannya, dengan halus
namun paksa mereka membantunya bangun dan menggiringnya keluar dari ruangan
itu.
Kembali Kerajaan Jenggala
menjadi geger ketika beberapa hari kemudian rakyat mendengar bahwa sang ratu
mereka ini telah "dibuang" atau "diasingkan", yaitu
ditempatkan di luar istana, di sebuah pesanggrahan yang terletak di kaki Bukit
Anjasmoro sebelah utara, sebuah pesanggrahan yang amat sederhana bagi seorang
bekas permaisuri raja namun cukup mewah dan indah bagi rakyat kecil, lengkap
dengan segala keperluan dan pelayan, namun pondok-pondok itu dikurung dinding
tinggi dan terjaga oleh beberapa orang prajurit. Mengingat akan kedudukannya
dan akan hubungan mereka, maka oleh sang prabu, bekas permaisuri ini tidak
dihukum, hanya diasingkan dan dilarang meninggalkan tempat pengasingan ini
sampai mati. Adapun emban tua yang menjadi abdi kepercayaan bekas permaisuri
itu dihukum mati.
Sang ratu yang kini telah
diasingkan, tidak merasa berduka akan nasib yang menimpa diri pribadi,
melainkan dia merasa berduka dan gelisah memikirkan nasib sang prabu, dan
terutama sekali nasib Kerajaan Jenggala. Dia maklum bahwa setelah ia gagal
dalam melawan manusia- manusia iblis yang pada waktu itu sedang mencengkeram
kerajaan, tidak akan ada lagi yang dapat melawan Suminten dan kaki tangannya.
Saking prihatin dan nelangsa hatinya, bekas ratu ini menanggalkan pakaiannya
yang indah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian pendeta, dan setiap hari
pekerjaannya hanya duduk bersamadhi, mengheningkan cipta dan memanjatkan doa
kepada para dewata agar supaya sang prabu dan Kerajaan Jenggala dilindungi
daripada kehancuran. Dan memang tidak kelirulah apa yang dikhawatirkan bekas
permaisuri ini. Kemenangan mutlak atas diri permaisuri yang siasatnya diatur oleh
Suminten, benar-benar membuat Suminten dapat mencapai puncak kekuasaannya.
Tepat pula seperti dugaan emban tua yang kini telah dihukum mati, semua yang
terjadi, semenjak di dalam taman sari, di pesanggrahan Suminten, sampai
kejadian di depan sang prabu, telah lebih dahulu diatur oleh Suminten. Akal
siasat yang amat cerdik dan licik itu adalah hasil pengolahan mereka bertiga,
yaitu Suminten, Ki Patih Warutama, dan Pangeran Kukutan! Diolah di antara
buih-buih gelombang cinta berahi antara Suminten dan kedua orang pria yang ia
layani bermain cinta secara bergiliran.
Dan hasilnya hebat, seperti
siasat yang diatur iblis sendiri. Sang ratu yang berbathin bersih itu mana
mungkin dapat menghadapi siasat manusia-manusia iblis ini? Dia terjebak dan
terpaksa mengaku kalah. Kalau Suminten makin besar kekuasaan dan pengaruhnya
atas diri sang prabu yang sudah tua, dan Pangeran Kukutan kini sudah dapat
merasa yakin bahwa sepeninggal ayahandanya, pasti dia yang akan menjadi
penggantinya, adalah Ki Patih Warutama yang kini hidup penuh kemewahan dan
kesenangan.
Seringkali ia tersenyum puas
menyaksikan hasilnya. Dahulu dia hanyalah seorang perwira kecil di Jenggala,
dan karena dia bermain cinta dengan seorang puteri dari selir raja, dia
terpaksa melarikan diri agar tidak dihukum mati. Dan setelah berkali-kali gagal
dalam usahanya mengejar kemuliaan, gagal di Blambangan dan merantau
terlunta-lunta di Bali, kini dia berhasil menjadi Patih Jenggala! Ki Patih
Warutama yang dahulunya bernama Raden Sindupati ini adalah seorang pria yang
tampan dan gagah, namun sayang ketampanan dan kegagahannya itu hanya menjadi
pulasan belaka, hanya setebal kulitnya. Hati dan pikirannya selalu kotor dan
menjadi ham daripada nafsu-nafsunya sendiri, terutama sekali nafsu berahi yang
membuat dia menjadi seorang pria yang gila wanita. Setelah kini kedudukannya
kokoh kuat, ia mulai membujuk Suminten dan Pangeran Kukutan untuk mulai
mengadakan kontak dengan fihak Sriwijaya dan Cola yang wakil-wakilnya memang
sudah banyak yang menyelundup ke Jenggala. Mulailah kini Ki Patih Warutama
mengangkat pembantu-pembantu yang sesungguhnya adalah anak buah Sang Wasi
Bagaspati dan Sang Biku Janapati! Mulailah pengaruh kedua kerajaan itu menyusup
ke Jenggala. Bukan hanya ini saja usaha yang dilakukan oleh Ki Patih Warutama.
Juga kedudukan dan kemuliaannya membuat penyakit lama dalam dirinya kambuh,
yaitu mengejar wanita-wanita cantik! Dan di Jenggala adalah kedungnya
wanita-wanita cantik! Dengan ketampanan wajahnya, ditambah kedudukannya sebagai
patih, diperkuat pula oleh kesaktiannya, akan mudah sekali bagi Warutama untuk
mencari perawan, janda, atau isteri orang untuk diambilnya. Mulailah pria ini
berpesta-pora, pesta palsu, dan ia seolah-olah berlomba dengan Suminten.
Suminten adalah seorang wanita yang gila pria yang selalu haus dan tak
terpadamkan, tak pernah puas nafsu berahinya, sehingga setiap malam dia harus
ditemani seorang pria, ganti-berganti bahkan hampir setiap malam berganti pria.
Demikian pulalah dengan Warutama. Setelah kini kedudukannya mencapai tingkat
tinggi dan kokoh kuat, ia tidak menyembunyikan sifatnya ini dan menyaingi
Suminten dalam hal mengumbar nafsunya, berganti-ganti wanita setiap malam,
entah puteri siapa, entah isteri siapa asalkan cantik jelita dan sesuai dengan
seleranya!
Ketika teringat akan bekas
kekasihnya dan mengadakan penyelidikan, ia mendengar bahwa puteri yang dahulu
menjadi kekasihnya, yaitu puteri raja dari selir yang bernama Wulandari telah
menjadi isteri seorang tumenggung, dia menjadi penasaran sekali dan hatinya
takkan dapat merasa puas dan tenteram sebelum ia berhasil mendapatkan kembali
kekasihnya yang dahulu dipaksa berpisah darinya itu. Dia tidak perduli akan
kenyataan bahwa menurut penyelidikannya, suami Wulandari itu, yang bernama
Tumenggung Matunggal adalah seorang tumenggung yang menjadi kaki tangan
Pangeran Kukutan pula, jadi merupakan "anak buah", dan tidak perduli
pula bahwa suami isteri itu telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini
sudah menjadi seorang gadis dewasa! Mulailah ki patih merenung dengan hati penuh
kerinduan kepada bekas kekasihnya dahulu, padahal iapun mengetahui bahwa,
kekasihnya itu, Wulandari yang dahulu amat cantik jelita, kenes dan kewes
memikat, kini sedikitnya tentu sudah berusia empat puluh tahun! Makin rindu
rasa hatinya kalau ia mengenang peristiwa di masa yang lalu. Wulandari mencinta
dirinya, menyerahkan jiwa raga kepadanya dan ketika hubungan gelap mereka
ketahuan, terpaksa ia melarikan diri. Tadinya dikabarkan orang bahwa Wulandari
telah membunuh diri. Baru sekarang ia ketahui bahwa hal itu hanya disiarkan
untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga raja, padahal diam-diam gadis bekas
kekasihnya itu dikawinkan dengan Tumenggung Matunggal. Apalagi setelah ia
melakukan penyelidikan dan berhasil melihat bekas kekasihnya itu, rindu dendam
dan berahinya makin memuncak. Bukan saja terhadap kekasihnya yang ternyata
masih cantik jelita, bahkan lebih "matang" daripada duapuluh tahun
lebih yang lalu, melainkan juga terhadap Dyah Handini, puteri bekas kekasihnya
itu yang kini telah menjadi seorang perawan jelita! Dan mulailah otaknya yang
cerdik seperti setan itu merencanakan siasatnya yang keji.
Ki Tumenggung Matunggal
merasa girang dan bangga sekali ketika ia diserahi tugas oleh Ki Patih Warutama
untuk melakukan peninjauan ke Nusabarung dan terus ke Blambangan, dua kadipaten
yang telah ditaklukkan oleh Jenggala. Baik Nusabarung maupun Belambangan dahulu
dapat diserbu dan ditaklukkan berkat kesaktian Endang Patibroto. Setiap orang
pembesar tentu akan merasa girang dan bangga kalau menjadi utusan atau wakil
kerajaan meninjau daerah taklukan, girang karena biasanya daerah taklukan tentu
akan melimpahkan hadiah-hadiah dan tanda bukti yang akan membuatnya pulang
dengan harta benda bertumpuk, dan bangga karena tugas ini membuktikan bahwa dia
adalah orang yang dipercaya oleh kerajaan!
Dengan hati bangga dan besar
Ki Tumenggung Matunggal berangkat beserta pasukannya setelah berpamit dari
isterinya, puterinya, dan selir-selirnya. Sama sekali ki tumenggung ini tidak
pernah mimpi bahwa kepergiannya yang takkan pernah kembali, dan bahwa
perpisahannya dengan keluarganya adalah perpisahan terakhir! Mengapa demikian?
Karena semua ini adalah siasat keji yang dilakukan oleh Patih Warutama yang
bertekad bulat untuk mendapatkan kembali bekas kekasihnya, Wulandari yang telah
menjadi nyi tumenggung itu, mendapatkan kembali Wulandari berikut puterinya,
Dyah Handini. Dan untuk mencapai niat hati keji ini, Patih Warutama tidak segan
untuk melakukan hal yang bagaimana kejamnya pun. Tumenggung Matunggal harus
dilenyapkan! Demikianlah siasat yang amat busuk dan yang hanya timbul dalam
hati seorang manusia yang sudah menjadi hamba nafsu dan menjadi murid iblis!
Sungguh patut dikasihani orang-orang seperti Ki Tumenggung Matunggal ini.
Seorang manusia pengejar kemuliaan dan kedudukan dengan cara apa pun juga,
tidak segan untuk menjilat-jilat atasannya, rela menjadi kaki tangan Pangeran
Kukutan dan mengkhianati kerajaan, sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya ia
hanya dipergunakan sebagai alat oleh fihak atasan yang dalam hal mengejar
kesenangan pribadi jauh melebihinya, dalam kekejaman jauh 'melewatinya. Tidak
sadar bahwa ia hanya dipermainkan, dipuji-puji dan diberi hadiah apabila masih
diperlukan, namun sekali pihak atasannya tidak memerlukannya, dia akan dilempar
dan dibunuh begitu saja! Dan alangkah banyaknya manusia-manusia macam
Tumenggung Matunggal ini, yang tidak mempunyai pendirian, tidak mempunyai
kesetiaan. Kepergiannya melaksanakan tugas meninjau ke daerah-daerah taklukan,
diakhiri dengan kematian dalam perjalanan karena diracun oleh pengawalnya
sendiri, sudah tentu saja pengawal yang menjalankan perintah Ki Patih Warutama.
Adapun racun yang dipergunakan adalah racun yang diminta oleh Ki Patih Warutama
dari Ni Dewi Nilamanik, racun yang amat hebat dan tidak dikenal orang sehingga
kematian Tumenggung Matunggal dianggap sebagai kematian wajar, kematian karena
sang tumenggung diserang penyakit mendadak di dalam perjalanannya.
Malam hari itu nyi
tumenggung atau yang dahulunya bernama Wulandari, puteri dari selir sang prabu,
menangis di dalam kamarnya, menangisi kematian suaminya. Sesungguhnya ia tidak
mencintai suami ini, suami yang dijodohkan dengan dia secara paksaan. Akan
tetapi karena suaminya itu selalu baik terhadapnya, maka kematiannya yang
mendadak dalam perjalanan itu membuatnya berduka juga. Dan menjelang tengah
malam, ketika nyi tumenggung yang berduka ini sudah hampir dapat melupakan
dukanya dengan tidur, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka dari luar dan sesosok
bayangan berkelebat masuk ke kamar itu. Wulandari terkejut dan sejenak berdiri
bulu tengkuknya, mengira bahwa roh suaminya yang datang melayang masuk dari
jendela itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa pria tampan
dan gagah yang berdiri di kamarnya, yang memandangnya dengan senyum membayang di
balik kumis tipis dan pandang mata mesra, adalah Ki Patih Warutama! Baru satu
kali Wulandari melihat patih yang baru ini, yang sekali itu pun hanya sepintas
lalu, akan tetapi ia telah mengenal ki patih ini karena wajah ki patih
mengingatkan dia akan seorang yang pernah dikenalnya baik-baik, akan wajah
Raden Sindupati, bekas kekasihnya belasan tahun yang lalu! Mengapa Ki Patih
Warutama memasuki kamarnya? Dan pada waktu malam buta dengan melalui jendela
seperti seorang maling? Jantung Wulandari berdebar keras, wajahnya menjadi
pucat dan kalau saja ia tidak melihat jelas bahwa ki patihlah orang ini, tentu
ia telah menjerit. Kini dengan tubuh gemetar ia lalu menjatuhkan diri berlutut
dan berkata dengan suara penuh teguran, namun halus,
"Gusti Patih ... mengapa
Paduka .....?”
"Wulandari, jangan
takut, bintang pujaanku ..." kata Warutama sambil melangkah maju,
mendekat.
Wulandari membelalakkan
kedua matanya. Ia mengangkat muka dan memandang dengan mata terbelalak, muka
makin pucat. Nama kecilnya disebut begitu saja oleh ki patih, padahal di dalam
dunia ini hanya satu orang saja yang menyebutnya dengan ucapan mesra
"bintang pujaan".
"Paduka ..... Paduka
....." ia menggagap kebingungan.
Namun kedua tangan ki patih
yang kuat itu sudah memegang pundaknya dan mengangkatnya berdiri. Muka mereka
berdekatan, dua pasang mata berpandangan, dan terdengar bisikan keluar dari
mulut yang menggigil.
"Paduka Gusti Patih
Warutama...”
Warutama tersenyum.
"Benar, aku Ki Patih Warutama...”
"Kenapa Paduka masuk
kamar ini .? Di tengah malam melalui jendela? Apakah ....apakah kehendak
Paduka?" Wulandari sudah dapat menguasai hatinya dan merenggutkan dirinya
terlepas dari pelukan ki patih.
"Apa salahnya? Aku
datang untuk menghiburmu, karena aku merasa kasihan kepada keluarga Tumenggung
Matunggal yang sudah berjasa."
"Akan tetapi ....ah,
Paduka harus cepat keluar dari sini ....“
Kembali lengan ki patih
bergerak dan tanpa dapat mengelak lagi Wulandari sudah dipeluknya dan
dipaksanya muka yang masih cantik itu menengadah sehingga mereka kembali saling
memandang, muka mereka amat dekat.
No comments:
Post a Comment