Permaisuri mengira bahwa Suminten pasti akan menyangkal, maka amatlah heran hatinya menyaksikan keberanian wanita itu ketika Suminten menjawab,
"Memang benar hamba
telah menerima surat yang hamba suruh emban membawa kembali kepada
pengirimnya."
Bagus, pikir permaisuri.
Engkau berani dan tabah, akan tetapi keberanianmu memudahkan penyelesaian
perkara ini yang akan menjatuhkanmu! Wajah yang tua itu tersenyum penuh
kemenangan ketika ia menoleh ke arah emban yang berdiri menggigil di belakang
Suminten sambil menghardik,
"Engkau abdi dari
mana?"
"Hamba ....abdi dalem
pangeran mahkota .....“
"Suminten, dari
siapakah surat yang kauterima tadi?"
Masih tenang sikap Suminten,
bahkan dia mengerling ke arah sang prabu dengan bibir tersenyum dan mata
seolah-olah menyatakan betapa cerewetnya permaisuri tua ini.
"Surat itu dari
puteranda pangeran mahkota." Suaranya mengandung tuntutan mengapa hal
begitu saja dihebohkan. Akan tetapi wajah sang permaisuri menjadi pucat
mendengar jawaban emban dan Suminten. Jawaban ini saja sudah jelas membuktikan
bahwa antara Pangeran Kukutan dan Suminten terdapat hubungan gelap, dan mereka
telah bersurat-suratan! Wajah sang prabu berubah menjadi makin merah dan makin
merah, tanda bahwa ia mulai cemburu dan marah. Sang permaisuri sebaliknya
berseri wajahnya. Wajah tua yang masih berbekas garis-garis cantik ini
tersenyum ketika ia menoleh sang prabu sambil mengeluarkan surat dari balik
bajunya. Melihat surat ini, Suminten kelihatan kaget, menahan jerit dengan
jari-jari tangan halusnya menutupi bibirnya yang merekah merah. Melihat ini,
sang prabu makin merah mukanya dan sang permaisuri makin berseri.
"Harap Paduka bersabar.
Sebelum saya menyerahkan surat agar dapat dibaca oleh Paduka pribadi, lebih
baik Paduka mendengarkan lebih dulu apa yang telah saya dengar dan didengar
pula oleh emban saya di pondok dalam taman sari Karena saya tidak menjatuhkan
fitnah, biarlah emban saya yang menceritakan kesaksiannya. Emban, ceritakanlah
apa yang engkau dengar tadi."
Emban tua itu sebenarnya
amat takut terhadap Suminten, apalagi Suminten memandangnya dengan mata
bersinar-sinar dan terdengar suara Suminten
"Hm emban! Perlukah
engkau menceritakan hal yang mendatangkan bencana?"
Suara Suminten mengandung
ancaman mengerikan sehingga emban tua itu menjadi ketakutan, menjatuhkan diri
berlutut di depan sang permaisuri sambil berkata,
"Mohon Paduka
melindungi hamba, Gusti," katanya sambil menangis.
"Emban! Jangan banyak
tingkah, lekas ceritakan!" sang prabu membentak.
Emban itu cepat menyembah
dan bercerita,
"Hamba bersama gusti
permaisuri menyaksikan dan mendengar, dari luar jendela pondok ketika surat itu
diserahkan oleh abdi gusti pangeran mahkota kepada ... Gusti Ayu Suminten.
Kemudian surat itu dibaca oleh abdi ini dan ..... dan...... “
"Apa bunyinya surat?
Katakan!" desak sang permaisuri.
"Menurut pendengaran
hamba .... surat dari gusti pangeran mahkota itu menyebut tentang persekutuan
dan rencana untuk ....untuk meracuni Paduka berdua, Gusti Sinuwun dan Gusti
Ratu...”
"Bohong ...!!"
Tiba-tiba Suminten menjerit dengan mata terbelalak memandang emban tua itu.
"Engkau wanita setan,
engkau bohong ..., menjatuhkan fitnah keji.... Kakanda harap jangan
mendengarkan hasutan-hasutan busuk dan keji! Hamba lebih baik pergi saja dari
sini daripada mendengarkan fitnah keji yang amat memuakkan.... !"
Setelah berkata demikian,
Suminten bergerak hendak meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi sang permaisuri
sudah mengulurkan tangannya memegang lengan muda yang halus itu. Biarpun jauh
lebih tua, namun permaisuri adalah seorang puteri yang di masa mudanya suka
mempelajari olah keprajuritan, maka masih memiliki tenaga yang kuat sehingga
Suminten tak dapat bergerak.
"Jangan pergi dulu.
Kedudukanmu hanya selir, itu pun selir palsu yang berkhianat, bagaimana engkau
berani pergi tanpa diperintah?"
Tadinya sang prabu tidak
percaya akan tuduhan yang dijatuhkan kepada selirnya yang terkasih, akan tetapi
mendengar cerita emban tua dan melihat betapa Suminten yang menyangkal itu
hendak melarikan diri, hatinya seperti ditusuk rasanya. Sikap Suminten yang
hendak melarikan diri itu menghapus keraguannya dan timbullah kecurigaannya.
"Suminten, jangan pergi
dan tunggu sampai selesai perkara ini!" katanya.
Nada suaranya sudah berbeda,
kehilangan irama kasih sayang yang biasanya terdapat dalam ucapannya terhadap
Suminten.
Sementara itu, dengan wajah
berseri penuh kemenangan yang sudah membayang di depan mata, sang permaisuri
lalu mempersembahkan sampul surat itu kepada suaminya sambil berkata,
"Saya bersumpah bahwa
saya sendiri tidak pernah membaca surat ini yang semenjak saya rampas dari
tangan emban pengkhianat itu tak pernah terlepas dari tangan saya. Dan untuk
membuktikan bahwa saya dan juga emban saya tidak membohong, saya persilahkan
Paduka membacanya sendiri surat yang menjijikkan dan kotor ini."
Jari-jari tangan sang prabu
yang Sudah tua itu menggigil ketika ia mengeluarkari surat dari sampulnya.
Bukan mengglgil karena sudah buyuten, melainkan menggigil karena tegang,
seolah-olah bukan nasib Suminten yang akan dihancurkan oleh surat itu,
melainkan nasibnya sendiri.
"Aduh, Kakanda sinuwun
sesembahan hamba" Suminten sudah merenggutkan lengannya dan lari
menjatuhkan diri berlutut menciumi kaki sang prabu sambil menangis.
"Hamba mohon dengan
seluruh hati hamba, hendaknya jangan dibuka dan dibaca surat itu oleh Paduka
..... hamba...... hamba..... tidak ingin mencelakakan siapa-siapa, hamba lagi,
hamba tidak ingin melihat Paduka menjadi berduka. Percayalah, hamba selalu
mencinta dan setia kepada Paduka ........... dan bahwa kesemuanya inI hanyalah
fitnah semata ..........”
"Kau hendak mengatakan
bahwa surat ini bukan dari Kukutan untukmu?" Sang prabu yang merah mukanya
menghardik.
"Tidak hamba sangkal,
memang benar demikian akan tetapi ....“
"Mundurlah
engkau!" Sang prabu menggerakkan kakinya dan tubuh Suminten terjengkang ke
belakang, dimana wanita ini berlutut lagi sambil menangis sesenggukan. Emban
cantik segera menubruknya dan ikut pula menangis. Sang permaisuri memandang
dengan mulut mengejek, maklum bahwa tangis wanita muda itu adalah tangis palsu,
air mata buaya. Ia merasa girang bahwa sang prabu mulai sadar, tidak
terpengaruh oleh tangis wanita palsu itu. Jari-jari tangan sang prabu masih
menggigil ketika ia membuka surat itu, lalu bibirnya yang gemetar mulai bergerak
ketika membaca. Wajah keriputan yang tadinya mulai memucat, itu kini merah
kembali, sepasang mataya makin lama makin terbelalak lebar. Tiba-tiba sang
prabu tertawa bergelak, suara ketawa aneh yang mengandung rasa sesal di hati,
kemudian ketawanya terhenti diganti suara menggeram dan tangan kirinya menampar
lengan kursinya. Ia masih terbelalak seolah-olah tak percaya akan isi surat
yang dibacanya lagi.
"Ha-ha-ha! Aahhhh
....kalau Adinda Ratu sudah sekeji ini ... entah aku sudah menjadi gila ataukah
masih waras!." serunya.
Tentu saja sang prameswari
menjadi kaget dan heran. Melihat wajah suaminya, ratu ini menjadi gelisah dan
mukanya berubah pucat. Sudah gilakah sang prabu? Dia khawatir dan menyesal
sekali. Kalau sang prabu menjadi gila saking hebatnya pukulan batin yang
dideritanya sungguh bukan demikian yang ia kehendaki. Ia menghendaki sang prabu
menjadi sadar dan bebas daripada cengkeraman wanita iblis Suminten, demi
keselamatan keluarga dan kerajaan.
"Kakanda.... mengapa
Paduka?
"Diam! Jangan buka lagi
mulutmu yang berbisa itu! Baca saja surat ini!" bentak sang prabu sambil
melemparkan surat ke arah permaisuri. Surat itu melayang ke atas lantai dan
sang permaisuri membungkuk untuk memungutnya dengan tangan gemetar. Isak tangis
Suminten makin mengguguk. Sang permaisuri memegang surat itu dan membacanya.
Matanya terbelalak, makin lama makin lebar dan mukanya menjadi lebih putih
daripada kertas yang dipegangnya. Bibirnya gemetar dan akhirnya terlontar dari
mulutnya,
"Aduhh .....Dewata
....!" Tubuh sang ratu menjadi lemas dan robohlah wanita tua ini, terkulai
dan pingsan di atas lantai. Surat itu terlepas dari tangannya dan melayang di
atas lantai pula. Emban tua menjerit dan menubruk junjungannya,
memanggil-manggil dan menangisi dengan bingung. Dalam kebingungannya, ia
menjadi penasaran, cepat menyambar surat itu dan membacanya tanpa permohonan
lagi.
"Ha-ha-hal Emban
berhati busuk, boleh ...kau bacalah ...!" Sang prabu masih tertawa-tawa,
kemudian terdengar suaranya bercampur isak, "Tak kunyana.. tak kusangka
... Adinda Ratu.... demikian keji ...Setelah dia sendiri begini palsu, siapa pula
yang dapat kupercaya ..?”
Suminten cepat berdiri dan
menubruk sri baginda, merangkulnya dan berkata dengan kata-kata halus,
"Aduh junjungan hamba,
masih ada hamba di sini, mengapa Paduka berkeluh-kesah? Di sini hamba, Kakanda,
di sini Suminten .....biarlah hamba yang akan mengusir semua kedukaan Paduka!
Bukankah hamba tadi sudah memperingatkan Paduka agar jangan dibaca saja surat
itu? Hanya menimbulkan malapetaka belaka, sang ratu pingsan dan Paduka
berduka....”
Sang prabu memeluk dan
merangkul leher selir terkasih ini, mengecup dahinya dan berkata mesra,
"Aduh wong ayu ....
kalau tidak ada engkau agaknya sudah bosan aku hidup lebih lama lagi....”
Sementara itu, emban yang
membaca surat, sama halnya dengan sang prabu dan sang ratu, terbelalak
seolah-olah tidak percaya. Wajahnya pucat sekali dana mengulang membaca isi
surat itu
“Puteranda mohon maaf telah
berani menyurat kepada Ibunda, akan tetapi karena keselamatan Ibunda, terutama
sekali Ramanda terancam bahaya, terpaksa puteranda melakukannya juga. Puteranda
mendengar dari para penyelidik bahwa Ibunda Ratu telah merencanakan siasat
untuk membunuh Ramanda dan Paduka. Dan puteranda setiap saat telah memasang
mata-mata untuk mengawasi gerak-gerak Paduka dan puteranda yang selalu menjaga
keselamatan Ramanda yang sudah sepuh (tua). Karena puteranda tidak berani
mengingatkan sendiri kepada Ramanda berhubung hal ini akan menyinggung nama
baik Ibunda Ratu, terpaksa puteranda mohon kepada Ibunda sudilah kiranya
memperingatkan Ramanda daripada bahaya yang tak tersangka-sangka. Ibunda Ratu
agaknya telah lupa diri dengan nafsu kebenciannya kepada Paduka yang dikasihi
Ramanda, kepada puteranda yang diangkat menjadi pangeran mahkota, dan kepada
Ramanda yang agaknya telah menyia-nyiakan cinta, kasihnya menurut bisikan hati
sang cemburu. Kemudian terserah kebijaksanaan Ibunda.”
Demikianlah bunyi surat
Pangeran Kukutan kepada Suminten. Emban tua itu terbelalak keheranan. Alangkah
bedanya bunyi surat itu dengan yang dibaca emban cantik tadi! Padahal surat
rampasan itu tak pernah berpisah dari tangan sang ratu. Emban itu mengerling ke
arah emban muda yang kini bersimpuh di sudut sambil tersenyum-senyum penuh
ejekan kepadanya. Maka tahulah emban tua ini bahwa ia dan junjungannya telah
masuk perangkap, telah menjadi korban siasat yang busuk dan licik sekali, yang
hanya dapat dilakukan oleh manusia-manusia berhati iblis! Tahulah dia yang
memang mengerti akan segala persoalan di dalam keraton, bahwa sang ratu telah
terkena pancingan, bahwa Suminten sengaja memancing dengan membuka pintu taman
dan berada di dalam pondok taman malam itu, kemudian emban muda yang menjadi
kaki tangan itu datang membawa surat. Kini mengertilah ia bahwa sesungguhnya
Suminten dan embannya itu tahu akan kedatangan sang ratu yang mengintai, lalu
sengaja si emban membaca surat secara palsu, kemudian bahkan membiarkan dirinya
tertangkap. Dan kini jelas pula baginya bahwa segala sikap Suminten semenjak
dipanggil datang, adalah sikap yang amat cerdik, menjalankan siasat dan
sandiwara yang sukar dimainkan oleh lain orang, kecuali wanita cantik berhati
ular beracun itu. Timbullah kemarahan besar di hati emban tua ini. Dan karena
dia hanya seorang emban, maka kemarahannya ia timpakan kepada si emban cantik
yang tersenyum-senyum Itu.
"Engkau manusia keji
!" jeritnya sambil menubruk emban muda yang tentu saja melakukan
perlawanan. Maka bergumullah kedua orang emban itu dan karena lebih muda, emban
kepercayaan Suminten yang menang dan
akhirnya, dengan kain
tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih pada, emban muda itu dapat
menunggangi
emban tua dan
menjambak-jambak sambil memuku1 dan mencakarl muka lawannya.
Sang prabu yang masih
memeluk Suminten lalu berseru memanggil pengawal. Lima orang pengawal yang
mendengar ribut-ribut itu cepat muncul dan sang prabu lalu menudingkan
telunjuknya ke arah sang ratu sambil berkata,
"Tangkap sang ratu yang
berkhianat, bersama emban tua keparat ini! Jebloskan sang ratu dalam tahanan
dan bunuh mati si emban tua!" Lima orang pengawal itu ternganga keheranan,
saling pandang dan sejenak mereka tidak bergerak. Menangkap sang ratu yang tua?
Mereka takut kalau-kalau salah dengar, maka tidak berani bergerak.
No comments:
Post a Comment