Perawan Lembah Wilis; Bagian 112


Wajah yang tua dan masih membayangkan kecantikan itu, yang selama ini keruh, tiba-tiba berseri. Sejenak sang permaisuri memejamkan mata dan menengadahkan muka, seolah-olah menghaturkan terima kasih kepada para dewata. Kemudian dengan cepat namun tenang ia bangkit, lalu membiarkan dirinya digandeng oleh emban keperdayaannya itu, keluar dari kamar memasuki taman sari. Taman sari milik sang permaisuri ini bersambung dengan taman sari milk Suminten, hanya dibatasi pagar tinggi. Biasanya, pintu tembusan antara kedua taman itu dijaga oleh pengawal kepercayaan Suminten dan ditutup. Akan tetapi malam ini tidak ada pengawal menjaga dan daun pintunya tidak dipalang sehingga mudahlah sang permaisuri bersama emban memasukinya. Kedua kaki sang permaisuri menggigil karena hatinya tegang. Kalau saja tidak mengingat keselamatan raja dan kerajaan, tentu ia tidak sudi bertindak sebagai maling dan pengintai macam ini. Berindap-indap mereka menghampiri pesanggrahan bercat merah yang mungil di dalam taman sari Suminten itu.
Malam itu gelap, dan hal ini menguntungkan sang permaisuri yang dapat menghampiri pondok kecil mungil bercat merah itu sampai dekat sekali. Emban kepercayaannya memberi isyarat agar sang permaisuri tidak mengeluarkan suara sambil menunjuk ke arah jendela kecil yang bertirai sutera merah. Mereka berdua lalu berindap-indap menghampiri jendela, di mana emban kepercayaannya itu mengintai ke dalam. Sang permaisuri juga mengintai dan melihat bahwa Suminten sedang duduk seorang diri di dalam kamar itu, termenung. Melihat wajah cantik madunya ini, hati wanita tua itu menjadi panas. Sesungguhnya dia bukanlah seorang wanita pencemburu, bukan wanita yang berhati sesempit itu. Kalau melihat madunya yang lain, betapapun sang prabu mencinta madu itu, dia tidak akan menjadi panas hatinya. Akan tetapi lain lagi halnya dengan Suminten. Dia menganggap wanita ini bukan hanya memikat sang prabu, melainkan menganggapnya sebagai seorang wanita pengacau kerajaan yang menimbulkan banyak malapetaka, yang membuat sang prabu mabuk dan lupa diri sehingga melakukan hal-hal kejam, dan menganggapnya sebagai seorang musuh kerajaan yang berniat meruntuhkan Jenggala.

Diam-diam sang permaisuri berdoa kepada para dewata agar malam ini dia mendapatkan jalan untuk menjatuhkan wanita berbahaya itu. Ia berdoa agar dapat menangkap basah Suminten yang menerima kekasihnya di dalam kamar pesanggrahan di taman, sehingga dia mendapatkan senjata untuk menghantam Suminten di depan sang prabu. Doa permaisuri tua yang menderita batinnya itu agaknya diterima karena belum lama dia dan embannya mengintai, tampak sesosok bayangan berindap-indap memasuki taman sari, langsung menghampiri pondok itu dan mengetuk pintunya tiga kali. Suminten sendiri yang membuka pintu pondok, kemudian terdengar suara mereka berdua di dalam kamar itu. Ketika sang permaisuri mengintai, hatinya agak kecewa karena yang memasuki pondok itu bukanlah seorang pria, melainkan seorang abdi pelayan yang masih muda dan cantik. Akan tetapi hatinya berdebar tegang ketika mendengar percakapan mereka.
"Emban, mengapa engkau yang datang? Mana gustimu?" tanya Suminten, suaranya membayangkan kekecewaan dan kemarahan.
"Hamba diutus oleh gusti pangeran untuk menghadap Paduka dan menyatakan penyesalannya bahwa gusti pangeran berhalangan datang. Akan tetapi gusti pangeran memerintahkan hamba menghaturkan sepucuk surat kepada paduka." Berkata emban itu sambil bersujut dan menghaturkan sebuah sampul surat. Suminten menjadi merah mukanya, mulutnya merengut dan ia menampar tangan emban itu sehingga suratnya melayang jatuh ke atas lantai.
"Aku tidak butuh surat! Pangeran itu memang terlalu! Kalau dia sudah tidak suka mematuhi panggilanku, bilang saja terus terang! Sudah sejak sore aku menantinya di sini, untuk bertemu dengan dia, bukan dengan suratnya! Engkau adalah kepercayaan sang pangeran, bahkan abdi kinasih (abdi tercinta), tentu engkau dapat merasakan kekecewaan seorang wanita yang menanti-nanti akan tetapi tidak diperhatikan!"
"Ampun, Gusti Ayu, harap sudi bersabar. Gusti pangeran tentu saja terhalang oleh kesibukannya sebagai seorang putera mahkota, agaknya ada urusan penting yang... “
"Alasan! Kau abdi terpercaya dan terkasih, tentu saja hanya akan membelanya. Pendeknya aku tidak suka menerima suratnya, aku tidak sudi membacanya!"
Sang permaisuri yang mendengarkan dari luar menjadi berdebar tegang hatinya. Maklumlah ia kini bahwa emban itu adalah utusan Pangeran Kukutan! Kalau saja ia bisa mendapatkan surat itu, tentu dapat ia bawa kepada sang prabu sebagai bukti pengkhianatan hubungan jina antara Suminten dan Kukutan! Juga diam-diam dia merasa geli mendengar ucapan Suminten yang menolak membaca surat karena ia tahu benar bahwa selir ini tidak pandai membaca! Seorang selir yang tadinya hanya menjadi abdi dari Pangeran Panjirawit, mana mungkin dapat membaca surat? Akan tetapi hatinya makin tegang ketika ia mendengar percakapan mereka berdua itu lebih lanjut.
Sang emban tertawa genit.
"Gusti, hamba sudah mendapat perintah gusti pangeran bahwa kalau paduka tidak sudi membaca, hamba disuruh membacakan surat beliau itu di hadapan Paduka."
"Sukamu! Masa bodoh kalau kau mau baca! Aku sendiri tidak sudi menyentuh suratnya, apalagi membaca," kata Suminten dengan sikap ngambek dan duduk di atas pembaringan memutar tubuh membelakangi emban itu.

Emban itu yang agaknya tahu belaka akan hubungan gelap antara selir sang prabu dan puteranya itu, tersenyum-senyum dan dengan gerakan genit mengambil surat dari atas lantai, membuka sampulnya dan kemudian membaca dengan suara dibuat-buat, merdu dan mesra,
"Adindaku yang tercinta, juita sayang pujaan kalbu, Adinda Suminten yang denok ayu. Betapapun rindu hatiku kepada Adinda, ingin sekali berdekatan dengan Adinda, bercumbu-rayu bersendau-gurau, berenang berdua di lautan cinta, ingin mendengar suara emas Adinda, mencium rambut Adinda yang sedap harum, memeluk tubuh Adinoa yang indah, kulit yang halus lunak dan hangat, namun terpaksa malam ini kakanda tak dapat datang menjumpai Adinda. Malam ini kakanda sibuk dengan Ki Dukun untuk mengatur siasat yang Adinda rencanakan. Ramuan racun telah dibuat Ki Dukun, tidak ada rasanya dan dapat dicampurkan dalam minuman untuk sang prabu dan permaisuri. Di malam Respati depan. Harap Adinda... agar pada malam Respati...”
"Cukup! Goblok engkau, emban! Masa hal begitu kau baca keras-keras! Sang pangeran juga sembrono sekali, mengirim surat seperti itu kepadaku! Bagaimana kalau terjatuh ke tangan orang lain? Lekas kau pergi dari sini, bawa surat yang berbahaya itu, kembalikan kepada sang pangeran. Katakan bahwa aku bukan anak kecil, aku tahu apa yang harus kulakukan. Cepat, pergi ...!” Emban itu menyembah, menyelipkan surat itu ke dalam sampul kembali, lalu membawa surat itu pergi keluar dari dalam pondok. Akan tetapi, ketika emban ini sedang berjalan tergesa-gesa menyelinap di antara pohon-pohon yang gelap, tiba-tiba ia menahan pekik karena tahu-tahu di depannya telah berdiri sang permaisuri! Cepat dia menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil. Seorang emban tua yang menemani permaisuri dengan cepat menangkap kedua lengannya, dan ditelikung ke belakang, dan tanpa banyak cakap sang permaisuri lalu merampas surat bersampul.
"Ampun .... ampunkan hamba ..harap kembalikan surat itu ..... surat itu milik hamba... hendak dipersembahkan kepada Gusti Ayu Suminten.... Emban itu meratap dan menangis dengan muka ketakutan, tubuhnya menggigll seperti orang menderita sakit demam.
"Diam kau?" Sang permaisuri membentak penuh wibawa.
"Hayo ikut bersamaku!"
Dengan masih menangis emban yang sial itu lalu dibawa pergi memasuki taman sang permaisuri.
"Kau lihat, aku tidak membuka sampul surat kotor yang kau bawa. Kita tunggu hadirnya sang prabu agar sang prabu sendiri yang membuka dan memeriksa!"
"Tapi ....tapi, duh Gusti .. ampunkan hamba.... surat... surat itu adalah surat.... ,”
"Cukup! Aku tahu surat kotor macam apa!" bentak sang permaisuri yang segera memerintahkan seorang abdi untuk melaporkan sang prabu bahwa urusan darurat yang amat penting memaksa sang permaisuri untuk mohon menghadap di ruangan dalam. Ruangan ini khusus untuk tempat keluarga raja berunding tentang masalah-masalah kekeluargaan yang pelik-pelik dan tidak perlu diketahui oleh para ponggawa.

Tak lama kemudian abdi yang diperintah datang kembali menyampaikan perintah sang prabu yang telah siap menanti di ruangan dalam. Permaisuri bersama emban tua menggiring emban cantik itu memasuki ruangan dalam di mana sang prabu telah duduk di atas kursi dengan wajah keruh. Agaknya sang prabu merasa tidak senang diganggu pada malam hari itu, malam yang merupakan malam istirahat baginya. Maka begitu sang permaisuri muncul bersama dua orang emban, sang prabu telah menegurnya dan dengan sikap yang tidak terlalu manis menanyakan maksud isterinya mengganggu istirahatnya.
"Harap Kakanda sudi memaafkan kalau mengganggu Paduka, akan tetapi urusan yang amat penting terjadi sehingga terpaksa saya mengganggu. Akan tetapi karena urusan ini menyangkut diri selir Paduka Suminten yang jelas sedang merencanakan pengkhianatan dan pembunuhan, maka saya harap sukalah Paduka memerintahkan agar Suminten dipanggil menghadap." Wajah sang prabu berubah mendengar ucapan yang tenang ini. Sekilas ia memandang ke arah sampul yang berada di tangan permaisuri dan keningnya berkerut. Sang prabu cukup mengenal isterinya ini, seorang puteri yang angkuh dan berbudi luhur. Lain orang isterinya boleh jadi akan menurutkan hati cemburu menjatuhkan fitnah, namun ia merasa yakin bahwa permaisuri tidak akan mau bertindak seperti itu. Maka dia kini menjadi berdebar risau, karena biasanya, apa yang dinyatakan oleh permaisuri pastilah benar dan bukan fitnah, bukan pula main-main. Ia menekan perasaan yang tegang lalu bertepuk tangan memberi isyarat. Seorang pengawal yang hanya boleh menjaga di luar ruangan itu, muncul dan sang prabu segera memerintahkan untuk memanggil Suminten menghadap. Karena panggilan ini datangnya dari sang prabu yang berada di ruangan dalam, tanpa dijelaskan pun Suminten akan tahu bahwa panggilan ini ada hubungannya dengan urusan penting mengenai keluarga, dan ia tidak boleh membawa pelayan. Suasana menjadi tegang sekali ketika mereka yang berada di dalam ruangan itu menanti munculnya Suminten. Hanya terdengar isak tertahan si emban muda yang menangis. Sang prabu mengerti bahwa dalam keadaan seperti itu, tidak perlu ia bertanya-tanya. Sang permaisuri akan menjelaskan kesemuanya setelah Suminten datang. Sementara itu, sang permaisuri lalu menyimpan surat yang dipegangnya tadi di balik bajunya karena ingin menjatuhkan Suminten dengan tepat dan baru mengeluarkan surat itu ketelah mendengar pengakuan palsu Suminten yang ia tahu pasti akan mencari-cari alasan. Ia harus bersikap cerdik menghadapi ular betina itu, pikirnya. Akhirnya orang yang dinanti-nanti muncullah Suminten yang cantik jelita, yang ayu dan segar seperti orang baru saja keluar dari kamar mandi. Sekali lirlk tahulah sang permaisuri bahwa Suminten telah bertukar pakaian. Tadi ketika berada di pesanggrahan dalam taman, pakaiannya serba merah jambon, kembennya tipis semrawang sehingga terbayang tubuhnya dan lekuk lengkung tubuhnya. Berbeda dengan tadi ketika menanti kekasih, kini pakaiannya lebih sopan, masih serba merah dan jelas menonjolkan tubuhnya yang berbentuk indah menggairahkan, namun patut menjadi pakaian seorang selir terhormat. Suminten serta merta menjatuhkan diri berlutut menghaturkan sembah kepada sang prabu dengan gerak tubuh yang lemah lembut.

Melihat selir terkasih ini, seketika keraguan di hati sang prabu melenyap. Selirnya ini, Suminten yang begitu mesra dan penuh kasih sayang kepadanya setiap kali mereka memadu kasih, menjadi pengkhianat dan pembunuh? Tidak mungkin!
"Duhai Kakanda prabu junjungan hamba!" Suminten berkata dengan suaranya yang halus merayu, membuat hati sang permaisuri makin mendidih apalagi mendengar bahwa kini Suminten tidak lagi menyebut gusti melainkan kakanda kepada sang prabu.
"Paduka amat memerlukan istirahat, mengapa malam-malam Paduka masih terjaga? Hal ini amat tidak baik bagi kesehatan Paduka!"
Senang hati sang prabu mendengar betapa selirnya ini amat memperhatikan keadaan kesehatannya. Tidak seperti permaisuri tua yang rewel.
"Bukan kehendakku, Suminten. Adinda permaisuri yang menghendaki karena katanya ada urusan penting hendak disampaikan kepadaku, di hadapanmu. Nah, Adinda permaisuri, Suminten telah datang menghadap. Lekas ceritakan apa yang menjadi kehendak hatimu." Nada suara sang prabu tidaklah ramah. Namun permaisuri itu tetap tenang, karena ia yakin bahwa sekali ini ia akan menang dengan adanya senjata surat rahasia itu di tangannya.
"Kakanda tentu masih ingat betapa seringnya saya memperingatkan Kakanda akan kepalsuan wanita ini, bukan karena cemburu, melainkan demi mengingat keamanan paduka dan kerajaan. Namun Paduka tidak pernah mempercaya saya. Sekarang, saya telah mendapatkan bukti kuat akan kepalsuan Suminten. Eh, emban yang menjadi kaki tangan pengkhianat, katakan apa yang kaulakukan di waktu malam tadi?" Sang permaisuri bertanya kepada emban cantik pembawa surat. Emban itu gemetar bibirnya ketika menjawab,
"Hamba ......hamba tidak melakukan sesuatu kesalahan ...“
"Cukup!" permaisuri membentak, kini menoleh ke arah Suminten yang bangkit berdiri dengan sikap menantang.
"Suminten, engkau tadi berada di dalam pesanggrahan di dalam taman, lalu datang emban ini mengantar surat untukmu. Betulkah itu?"

<<< Bagian 111                                                                                       Bagian 113 >>>

No comments:

Post a Comment