Wajah yang tua dan masih membayangkan kecantikan itu, yang selama ini keruh, tiba-tiba berseri. Sejenak sang permaisuri memejamkan mata dan menengadahkan muka, seolah-olah menghaturkan terima kasih kepada para dewata. Kemudian dengan cepat namun tenang ia bangkit, lalu membiarkan dirinya digandeng oleh emban keperdayaannya itu, keluar dari kamar memasuki taman sari. Taman sari milik sang permaisuri ini bersambung dengan taman sari milk Suminten, hanya dibatasi pagar tinggi. Biasanya, pintu tembusan antara kedua taman itu dijaga oleh pengawal kepercayaan Suminten dan ditutup. Akan tetapi malam ini tidak ada pengawal menjaga dan daun pintunya tidak dipalang sehingga mudahlah sang permaisuri bersama emban memasukinya. Kedua kaki sang permaisuri menggigil karena hatinya tegang. Kalau saja tidak mengingat keselamatan raja dan kerajaan, tentu ia tidak sudi bertindak sebagai maling dan pengintai macam ini. Berindap-indap mereka menghampiri pesanggrahan bercat merah yang mungil di dalam taman sari Suminten itu.
Malam itu gelap, dan hal ini
menguntungkan sang permaisuri yang dapat menghampiri pondok kecil mungil bercat
merah itu sampai dekat sekali. Emban kepercayaannya memberi isyarat agar sang
permaisuri tidak mengeluarkan suara sambil menunjuk ke arah jendela kecil yang
bertirai sutera merah. Mereka berdua lalu berindap-indap menghampiri jendela,
di mana emban kepercayaannya itu mengintai ke dalam. Sang permaisuri juga
mengintai dan melihat bahwa Suminten sedang duduk seorang diri di dalam kamar
itu, termenung. Melihat wajah cantik madunya ini, hati wanita tua itu menjadi
panas. Sesungguhnya dia bukanlah seorang wanita pencemburu, bukan wanita yang
berhati sesempit itu. Kalau melihat madunya yang lain, betapapun sang prabu
mencinta madu itu, dia tidak akan menjadi panas hatinya. Akan tetapi lain lagi
halnya dengan Suminten. Dia menganggap wanita ini bukan hanya memikat sang
prabu, melainkan menganggapnya sebagai seorang wanita pengacau kerajaan yang
menimbulkan banyak malapetaka, yang membuat sang prabu mabuk dan lupa diri
sehingga melakukan hal-hal kejam, dan menganggapnya sebagai seorang musuh
kerajaan yang berniat meruntuhkan Jenggala.
Diam-diam sang permaisuri
berdoa kepada para dewata agar malam ini dia mendapatkan jalan untuk
menjatuhkan wanita berbahaya itu. Ia berdoa agar dapat menangkap basah Suminten
yang menerima kekasihnya di dalam kamar pesanggrahan di taman, sehingga dia
mendapatkan senjata untuk menghantam Suminten di depan sang prabu. Doa
permaisuri tua yang menderita batinnya itu agaknya diterima karena belum lama
dia dan embannya mengintai, tampak sesosok bayangan berindap-indap memasuki
taman sari, langsung menghampiri pondok itu dan mengetuk pintunya tiga kali.
Suminten sendiri yang membuka pintu pondok, kemudian terdengar suara mereka
berdua di dalam kamar itu. Ketika sang permaisuri mengintai, hatinya agak
kecewa karena yang memasuki pondok itu bukanlah seorang pria, melainkan seorang
abdi pelayan yang masih muda dan cantik. Akan tetapi hatinya berdebar tegang ketika
mendengar percakapan mereka.
"Emban, mengapa engkau
yang datang? Mana gustimu?" tanya Suminten, suaranya membayangkan
kekecewaan dan kemarahan.
"Hamba diutus oleh
gusti pangeran untuk menghadap Paduka dan menyatakan penyesalannya bahwa gusti
pangeran berhalangan datang. Akan tetapi gusti pangeran memerintahkan hamba
menghaturkan sepucuk surat kepada paduka." Berkata emban itu sambil
bersujut dan menghaturkan sebuah sampul surat. Suminten menjadi merah mukanya,
mulutnya merengut dan ia menampar tangan emban itu sehingga suratnya melayang
jatuh ke atas lantai.
"Aku tidak butuh surat!
Pangeran itu memang terlalu! Kalau dia sudah tidak suka mematuhi panggilanku,
bilang saja terus terang! Sudah sejak sore aku menantinya di sini, untuk
bertemu dengan dia, bukan dengan suratnya! Engkau adalah kepercayaan sang
pangeran, bahkan abdi kinasih (abdi tercinta), tentu engkau dapat merasakan
kekecewaan seorang wanita yang menanti-nanti akan tetapi tidak
diperhatikan!"
"Ampun, Gusti Ayu,
harap sudi bersabar. Gusti pangeran tentu saja terhalang oleh kesibukannya
sebagai seorang putera mahkota, agaknya ada urusan penting yang... “
"Alasan! Kau abdi
terpercaya dan terkasih, tentu saja hanya akan membelanya. Pendeknya aku tidak
suka menerima suratnya, aku tidak sudi membacanya!"
Sang permaisuri yang
mendengarkan dari luar menjadi berdebar tegang hatinya. Maklumlah ia kini bahwa
emban itu adalah utusan Pangeran Kukutan! Kalau saja ia bisa mendapatkan surat
itu, tentu dapat ia bawa kepada sang prabu sebagai bukti pengkhianatan hubungan
jina antara Suminten dan Kukutan! Juga diam-diam dia merasa geli mendengar
ucapan Suminten yang menolak membaca surat karena ia tahu benar bahwa selir ini
tidak pandai membaca! Seorang selir yang tadinya hanya menjadi abdi dari
Pangeran Panjirawit, mana mungkin dapat membaca surat? Akan tetapi hatinya
makin tegang ketika ia mendengar percakapan mereka berdua itu lebih lanjut.
Sang emban tertawa genit.
"Gusti, hamba sudah
mendapat perintah gusti pangeran bahwa kalau paduka tidak sudi membaca, hamba disuruh
membacakan surat beliau itu di hadapan Paduka."
"Sukamu! Masa bodoh
kalau kau mau baca! Aku sendiri tidak sudi menyentuh suratnya, apalagi
membaca," kata Suminten dengan sikap ngambek dan duduk di atas pembaringan
memutar tubuh membelakangi emban itu.
Emban itu yang agaknya tahu
belaka akan hubungan gelap antara selir sang prabu dan puteranya itu,
tersenyum-senyum dan dengan gerakan genit mengambil surat dari atas lantai,
membuka sampulnya dan kemudian membaca dengan suara dibuat-buat, merdu dan mesra,
"Adindaku yang
tercinta, juita sayang pujaan kalbu, Adinda Suminten yang denok ayu. Betapapun
rindu hatiku kepada Adinda, ingin sekali berdekatan dengan Adinda,
bercumbu-rayu bersendau-gurau, berenang berdua di lautan cinta, ingin mendengar
suara emas Adinda, mencium rambut Adinda yang sedap harum, memeluk tubuh Adinoa
yang indah, kulit yang halus lunak dan hangat, namun terpaksa malam ini kakanda
tak dapat datang menjumpai Adinda. Malam ini kakanda sibuk dengan Ki Dukun
untuk mengatur siasat yang Adinda rencanakan. Ramuan racun telah dibuat Ki
Dukun, tidak ada rasanya dan dapat dicampurkan dalam minuman untuk sang prabu
dan permaisuri. Di malam Respati depan. Harap Adinda... agar pada malam
Respati...”
"Cukup! Goblok engkau,
emban! Masa hal begitu kau baca keras-keras! Sang pangeran juga sembrono
sekali, mengirim surat seperti itu kepadaku! Bagaimana kalau terjatuh ke tangan
orang lain? Lekas kau pergi dari sini, bawa surat yang berbahaya itu,
kembalikan kepada sang pangeran. Katakan bahwa aku bukan anak kecil, aku tahu
apa yang harus kulakukan. Cepat, pergi ...!” Emban itu menyembah, menyelipkan
surat itu ke dalam sampul kembali, lalu membawa surat itu pergi keluar dari
dalam pondok. Akan tetapi, ketika emban ini sedang berjalan tergesa-gesa
menyelinap di antara pohon-pohon yang gelap, tiba-tiba ia menahan pekik karena
tahu-tahu di depannya telah berdiri sang permaisuri! Cepat dia menjatuhkan diri
berlutut dengan tubuh menggigil. Seorang emban tua yang menemani permaisuri
dengan cepat menangkap kedua lengannya, dan ditelikung ke belakang, dan tanpa
banyak cakap sang permaisuri lalu merampas surat bersampul.
"Ampun .... ampunkan
hamba ..harap kembalikan surat itu ..... surat itu milik hamba... hendak
dipersembahkan kepada Gusti Ayu Suminten.... Emban itu meratap dan menangis
dengan muka ketakutan, tubuhnya menggigll seperti orang menderita sakit demam.
"Diam kau?" Sang
permaisuri membentak penuh wibawa.
"Hayo ikut
bersamaku!"
Dengan masih menangis emban
yang sial itu lalu dibawa pergi memasuki taman sang permaisuri.
"Kau lihat, aku tidak
membuka sampul surat kotor yang kau bawa. Kita tunggu hadirnya sang prabu agar
sang prabu sendiri yang membuka dan memeriksa!"
"Tapi ....tapi, duh
Gusti .. ampunkan hamba.... surat... surat itu adalah surat.... ,”
"Cukup! Aku tahu surat
kotor macam apa!" bentak sang permaisuri yang segera memerintahkan seorang
abdi untuk melaporkan sang prabu bahwa urusan darurat yang amat penting memaksa
sang permaisuri untuk mohon menghadap di ruangan dalam. Ruangan ini khusus
untuk tempat keluarga raja berunding tentang masalah-masalah kekeluargaan yang
pelik-pelik dan tidak perlu diketahui oleh para ponggawa.
Tak lama kemudian abdi yang
diperintah datang kembali menyampaikan perintah sang prabu yang telah siap
menanti di ruangan dalam. Permaisuri bersama emban tua menggiring emban cantik
itu memasuki ruangan dalam di mana sang prabu telah duduk di atas kursi dengan
wajah keruh. Agaknya sang prabu merasa tidak senang diganggu pada malam hari
itu, malam yang merupakan malam istirahat baginya. Maka begitu sang permaisuri
muncul bersama dua orang emban, sang prabu telah menegurnya dan dengan sikap
yang tidak terlalu manis menanyakan maksud isterinya mengganggu istirahatnya.
"Harap Kakanda sudi
memaafkan kalau mengganggu Paduka, akan tetapi urusan yang amat penting terjadi
sehingga terpaksa saya mengganggu. Akan tetapi karena urusan ini menyangkut
diri selir Paduka Suminten yang jelas sedang merencanakan pengkhianatan dan
pembunuhan, maka saya harap sukalah Paduka memerintahkan agar Suminten dipanggil
menghadap." Wajah sang prabu berubah mendengar ucapan yang tenang ini.
Sekilas ia memandang ke arah sampul yang berada di tangan permaisuri dan
keningnya berkerut. Sang prabu cukup mengenal isterinya ini, seorang puteri
yang angkuh dan berbudi luhur. Lain orang isterinya boleh jadi akan menurutkan
hati cemburu menjatuhkan fitnah, namun ia merasa yakin bahwa permaisuri tidak
akan mau bertindak seperti itu. Maka dia kini menjadi berdebar risau, karena
biasanya, apa yang dinyatakan oleh permaisuri pastilah benar dan bukan fitnah,
bukan pula main-main. Ia menekan perasaan yang tegang lalu bertepuk tangan
memberi isyarat. Seorang pengawal yang hanya boleh menjaga di luar ruangan itu,
muncul dan sang prabu segera memerintahkan untuk memanggil Suminten menghadap.
Karena panggilan ini datangnya dari sang prabu yang berada di ruangan dalam,
tanpa dijelaskan pun Suminten akan tahu bahwa panggilan ini ada hubungannya
dengan urusan penting mengenai keluarga, dan ia tidak boleh membawa pelayan.
Suasana menjadi tegang sekali ketika mereka yang berada di dalam ruangan itu
menanti munculnya Suminten. Hanya terdengar isak tertahan si emban muda yang
menangis. Sang prabu mengerti bahwa dalam keadaan seperti itu, tidak perlu ia
bertanya-tanya. Sang permaisuri akan menjelaskan kesemuanya setelah Suminten
datang. Sementara itu, sang permaisuri lalu menyimpan surat yang dipegangnya
tadi di balik bajunya karena ingin menjatuhkan Suminten dengan tepat dan baru
mengeluarkan surat itu ketelah mendengar pengakuan palsu Suminten yang ia tahu
pasti akan mencari-cari alasan. Ia harus bersikap cerdik menghadapi ular betina
itu, pikirnya. Akhirnya orang yang dinanti-nanti muncullah Suminten yang cantik
jelita, yang ayu dan segar seperti orang baru saja keluar dari kamar mandi.
Sekali lirlk tahulah sang permaisuri bahwa Suminten telah bertukar pakaian.
Tadi ketika berada di pesanggrahan dalam taman, pakaiannya serba merah jambon,
kembennya tipis semrawang sehingga terbayang tubuhnya dan lekuk lengkung
tubuhnya. Berbeda dengan tadi ketika menanti kekasih, kini pakaiannya lebih
sopan, masih serba merah dan jelas menonjolkan tubuhnya yang berbentuk indah
menggairahkan, namun patut menjadi pakaian seorang selir terhormat. Suminten
serta merta menjatuhkan diri berlutut menghaturkan sembah kepada sang prabu
dengan gerak tubuh yang lemah lembut.
Melihat selir terkasih ini,
seketika keraguan di hati sang prabu melenyap. Selirnya ini, Suminten yang
begitu mesra dan penuh kasih sayang kepadanya setiap kali mereka memadu kasih,
menjadi pengkhianat dan pembunuh? Tidak mungkin!
"Duhai Kakanda prabu
junjungan hamba!" Suminten berkata dengan suaranya yang halus merayu,
membuat hati sang permaisuri makin mendidih apalagi mendengar bahwa kini
Suminten tidak lagi menyebut gusti melainkan kakanda kepada sang prabu.
"Paduka amat memerlukan
istirahat, mengapa malam-malam Paduka masih terjaga? Hal ini amat tidak baik
bagi kesehatan Paduka!"
Senang hati sang prabu
mendengar betapa selirnya ini amat memperhatikan keadaan kesehatannya. Tidak
seperti permaisuri tua yang rewel.
"Bukan kehendakku,
Suminten. Adinda permaisuri yang menghendaki karena katanya ada urusan penting
hendak disampaikan kepadaku, di hadapanmu. Nah, Adinda permaisuri, Suminten
telah datang menghadap. Lekas ceritakan apa yang menjadi kehendak hatimu."
Nada suara sang prabu tidaklah ramah. Namun permaisuri itu tetap tenang, karena
ia yakin bahwa sekali ini ia akan menang dengan adanya senjata surat rahasia
itu di tangannya.
"Kakanda tentu masih
ingat betapa seringnya saya memperingatkan Kakanda akan kepalsuan wanita ini,
bukan karena cemburu, melainkan demi mengingat keamanan paduka dan kerajaan.
Namun Paduka tidak pernah mempercaya saya. Sekarang, saya telah mendapatkan
bukti kuat akan kepalsuan Suminten. Eh, emban yang menjadi kaki tangan pengkhianat,
katakan apa yang kaulakukan di waktu malam tadi?" Sang permaisuri bertanya
kepada emban cantik pembawa surat. Emban itu gemetar bibirnya ketika menjawab,
"Hamba ......hamba
tidak melakukan sesuatu kesalahan ...“
"Cukup!"
permaisuri membentak, kini menoleh ke arah Suminten yang bangkit berdiri dengan
sikap menantang.
"Suminten, engkau tadi
berada di dalam pesanggrahan di dalam taman, lalu datang emban ini mengantar
surat untukmu. Betulkah itu?"
No comments:
Post a Comment