Perawan Lembah Wilis; Bagian 111


Dapat dibayangkan betapa kaget dan duka hati ksatria ini. Ia maklum bahwa keselamatan keluarganya sendiri pun terancam, maka dengan menahan nyeri di dadanya akibat luka pukulan, ia memaksa diri pulang ke dusunnya di Suko dan cepat-cepat ia membawa keluarganya pergi dari dusun itu, bersembunyi di daerah liar di pantai laut Kidul. Untung ia berlaku cepat, karena Pangeran Kukutan yang kemudian mendengar akan dua belas orang pengawal rahasia ini, cepat-cepat mengerahkan pasukan pengawal mencari keluarga dua belas orang itu dan menangkap mereka semua! Hanya sehari setelah ia membawa keluarganya lari dari Suko, datanglah sepasukan pengawal ke dusun itu dan mengobrak-abrik dusun Suko.
Mendengar berita ini, Ki Mitra maklum bahwa amatlah tidak aman bagi Widawati untuk berdiam di dusun Suko, maka terpaksa ia mengajak gadis itu pergi meninggalkan Suko, untuk ia ajak ke dusunnya sendiri di mana tanggal keluarga adik kandungnya yang hidup sebagai petani di situ. Memang dia berasal dari dusun ini, dan ia bermaksud menitipkan Widawati pada keluarga adiknya untuk sementara waktu sehingga ia akan lebih mudah pergi menyusul dan mencari Wiraman yang telah melarikan diri. Menjelang senja mereka telah melewati gunung karang terakhir dari pegunungan yang berderet-deret dari barat ke timur seolah-olah menjadi tanggul pembendung ancaman Laut Selatan. Widawati sudah lelah sekali, dan baru sekarang ia mengeluh,
"Ki Mitra ...., masih jauhkah dusunmu? Aku ingin sekali beristirahat dan berpikir ....”
"Sudah dekat, Den-ajeng, itu di depan .....eh, hati- hatilah, di depan ada orang!”
Widawati cepat menundukkan mukanya. Pakaiannya sudah kusut dan kotor, juga kakinya penuh lumpur dan debu sehingga ia tidak banyak bedanya dengan gadis-gadis dusun biasa, apalagi karena telah melepaskan semua perhiasan emas permata dari tubuhnya dan menyimpannya di dalam kemben. Hanya menurut nasehat Ki Mitra, ia harus selalu menyembunyikan mukanya karena wajahnya terlalu cantik untuk mengaku seorang gadis dusun. Maka kini otomatis ia menundukkan mukanya agar orang yang disebut oleh Ki Mitra itu tidak akan melihat wajahnya apabila mereka bersilang jalan.
Ketika orang yang datang dari depan dan jalannya berindap-indap menyusuri tepi sawah itu telah datang dekat, Ki Mitra berseru, suaranya girang sekali,
”Ah, Denmas Wiraman?" Ki Mitra tertegun memandang.
"Bukankan andika .. Denmas Wiraman?”

Mendengar sebutan nama ini, Widawati mengangkat muka memandang. Pria itu bertubuh sedang dan tegap, terbayang kekuatan di balik kulit lengan dan dadanya yang bidang. Usianya empat puluh tahunan, dengan pandang mata tajam dan wajahnya yang tampan membayangkan derita hidup yang diterimanya penuh kesabaran. Sabar, kuat, penuh pengertian membayang pada wajah di bawah rambut yang sudah mulai terhias warna putih. Seorang pria yang gagah dan wajahnya mendatangkan kepercayaan. Wiraman, pria itu, juga memandang penuh perhatian, dan hanya mengerling sebentar kepada Widawati, lalu perhatiannya tercurah kembali kepada
Ki Mitra. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya kelihatan menderita kelelahan hebat. Akan tetapi pandang matanya bersinar dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal Ki Mitra.
"Kakang Mitra kalau aku tak salah duga?" tanyanya.
"Betul, saya adalah Ki Mitra! Ah, Denmas Wiraman, betapa susah payah saya mencari Andika ..!" Dengan girang Ki Mitra memegang lengan tangan prla itu.
"Ada apakah? Engkau yang telah bekerja sebagai juru taman di kota raja, mengapa datang mencariku?"
"Denmas, ceritanya panjang sekali. Marilah Andika ikut bersama kami ke rumah adik saya di dusun itu, nanti saya ceritakan semua persoalan yang amat gawat dan penting“
"Hemm ..., boleh, marilah. Akan tetapi ... siapakah nini yang ikut bersamamu ini?”
Ki Mitra menoleh ke kanan kiri sebelum menjawab, lalu berbisik,
"Untuk dia inilah maka saya mencari Andika. Dia ini adalah satu-satunya cucu gusti patih yang berhasil lolos dari cengkeraman maut ...“
"Ahhh ..Ya Dewata Yang Maha Kasih! Paduka cucu gusti patih? Aduhai puteri yang patut dikasihani betapa hebat penderitaan Paduka ..!” Digerakkan oleh hati yang penuh iba Wiraman mendekati Widawati dengan pandang mata penuh perasaan.
Kedukaan yang sudah memenuhi hati gadis itu kini meluap. Pria ini adalah seorang kepercayaan kakeknya dan sikap yang amat baik itu membuatnya terharu sehingga ia pun lupa diri, melangkah maju dan membiarkan dirinya dirangkul, menangis di atas dada yang bidang itu. Wiraman mengelus rambut yang kusut itu, hatinya seperti disayat-sayat pisau beracun.
"Duh para dewata yang agung, lindungilah kiranya puteri yang malang ini ...." bisiknya. Namun dia seorang satria yang segera dapat mengatasi keharuan hatinya.
"Harap Paduka tenang dan teguh hati, menerima nasib seperti yang telah ditentukan para dewata. Manusia hanya sekedar menerima dan mengalami. Mari, mari kita pergi ke dusun dan di sana bicara panjang lebar dan menentukan langkah selanjutnya."

Pergilah mereka bertiga ke dusun kecil yang menjadi kampung halaman Ki Mitra. Mereka disambut dengan penuh keheranan akan tetapi juga penuh kegirangan oleh keluarga adik kandung Ki Mitra. Terhadap adiknya, Ki Mitra memperkenalkan Wiraman sebagai seorang rekan kerja di kota raja, adapun Widawati diperkenalkan sebagai adik misan Wiraman. Agar tidak menimbulkan keraguan, terpaksa Widawati menyebut "kakang" kepada Wiraman, sebaliknya Wiraman menyebutnya "nimas".
Malam hari itu, mereka bercakap-cakap dan menceritakan pengalaman masing-masing. Hati Wiraman terharu sekali ketika ia mendengar betapa seluruh keluarga kepatihan musnah dibasmi oleh Pangeran Kukutan dan Suminten. Wajah satria ini menjadi merah, giginya berkerot dan kedua tangannya dikepal.
"Hem m ....si bedebah Kukutan dan Suminten! Tentu saja sang prabu yang sudah sepuh dan kehilangan kewaspadaan karena mabuk nafsu itu tidak mengerti akan tipu muslihat mereka! Kalian tunggu saja! Di dunia ini, masih ada aku Wiraman yang tahu akan semua muslihat kalian!"
"Sebetulnya, rahasia apa yang tersembunyi di balik peristiwa itu, Kakang Wiraman?" tanya Widawati yang kini tidak merasa canggung lagi di hadapan pria itu, karena memang sikap Wiraman wajar dan sopan serta jujur terhadap dirinya.
Wiraman menghela, napas panjang, kemudian mulai bercerita,
"Ketika sang prabu pergi berburu, kami dua balas orang kepercayaan gusti patih mendapat tugas rahasia dari gusti patih untuk secara sembunyi melindungi keselamatan sang prabu. Kami melihat betapa rombongan sang prabu diserbu oleh gerombolan orang-orang gundul. Tentu saja kami segera menerjang keluar dari tempat persembunyian karena para pengawal kewalahan menghadapi serbuan liar mereka. Akan tetapi, tiba-tiba muncul tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga sebelas orang teman-temanku tewas semua, sedangkan aku sendiri terluka parah. Aku bersembunyi dan menyaksikan peristiwa hebat. Sang prabu, Pangeran Kukutan, dan wanita iblis Suminten itu ditangkap dan diancam hendak dibunuh sisa gerombolan gundul. Tiba-tiba muncul seorang pria yang mengaku bernama Raden Warutama yang membunuhi sisa gerombolan gundul, padahal aku mengenal dia itu sebagai seorang sakti yang tadinya membantu gerombolan gundul. Hemm ..... ! Dan sekarang, Warutama itu menjadi seorang yang berjasa!”
"Kabarnya akan diangkat menjadi patih ..!” kata Ki Mitra.
Wiraman memukulkan tinjunya di atas tanah lantai kamar kecil itu.
"Tentu saja! ini adalah hasil persekutuan mereka! Siasat yang busuk sekali untuk menonjolkan jasa Warutama dan untuk menjatuhkan fitnah kepada gusti patih! Keparat…….! Kalau aku tidak dapat membalas kekejian ini, aku tidak akan sudi memakai nama Wiraman lagi!"
Suasana menjadi sunyi. Mereka bertiga tenggelam ke dalam lamunan masing-masing, merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa itu, ngeri mengingat tipu muslihat yang demikian keji dan busuknya. Kemudian kesunyian dipecahkan suara Ki Mitra,
"Sekarang,....bagaimana.....selanjutnya harus diatur, Denmas? Tentang Den-ajeng Widawati ini .....“
"Kakang Mitra lebih baik besok kembali ke kota raja agar jangan menimbulkan kecurigaan. Kakang berjalan seperti biasa dan diam-diam memperhatikan keadaan dan perkembangan di dalam istana agar siap untuk memberi laporan kalau dibutuhkan. Sedangkan mengenai Diajeng Widawati, serahkan saja kepadaku. Akulah yang mulai detik ini bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku sedang memikirkan. jalan terbaik untuk Diajeng Widawati." Widawati menyusut air matanya.
"Kakang Wiraman, karena membela mendiang Eyang Patih, engkau telah mengalami kesengsaraan. Bagaimana aku kini tega untuk menjadi beban tanggunganmu lagi? Aku akan memperberat hidupmu, akan membahayakan hidupmu dan keluargamu masih amat membutuhkan perlindunganmu”
"Keluargaku ...?" Wiraman menghela napas panjang.
"Jangan kau khawatir, Diajeng Widawati. Keluargaku telah kuungsikan dan mereka kini hidup sebagai petani-petani yang cukup aman tenteram. Bahkan sementara ini aku tidak berani mendekati mereka, karena keadaanku seperti sebuah penyakit menular, siapa yang kudekati berarti terancam bahaya. Jenggala sedang mencari-cariku sebagai seorang yang berbahaya bagi Pangeran Kukutan dan Suminten, juga bagi Patih Warutama, karena akulah satu-satunya orang yang mengetahui akan rahasia mereka. Aku bahkan harus menjauhkan diri dari keluargaku. Isteriku seorang bijaksana, dan aku tidak khawatir akan keadaan mereka. Juga engkau sendiri merupakan seorang buronan seperti aku, Diajeng. Engkau dicari karena engkau merupakan sisa musuh besar yang tentu akan membalas dendam. Keadaan kita berdua sama-sama sebagai buronan, maka tidak ada yang saling menjadi beban, tidak ada yang saling memberatkan. Asal saja engkau menaruh kepercayaan penuh kepadaku, demi para dewata, aku tidak akan membiarkan engkau tertimpa malapetaka, akan kubela dengan seluruh jiwa ragaku." Makin deras air mata Widawati mengalir dan di antara linangan air matanya ia memandang kepada pria yang begini baik terhadap dirinya. Seolah-olah ia mendapatkan pengganti orang tua dan keluarga dalam diri Wiraman. Mendapatkan seorang sahabat baik, seorang pelindung, seorang yang dapat ia sandari dalam kehidupan mendatang, yang boleh ia percaya sepenuhnya.
Pada keesokan harinya, mereka meninggalkan dusun itu sesuai rencana yang diatur oleh Wiraman. Ki Mitra kembali seorang diri ke kota raja setelah dilepas pergi oleh Widawati yang berkali-kali menghaturkan terima kasih sambil berlinang air mata. Kemudian Wiraman bersama gadis itu pergi meninggalkan dusun. Widawati kali ini tidak pernah bertanya ke mana mereka pergi, karena dia sudah menyerahkan seluruh keselamatan dirinya ke tangan pria ini, akan menurut saja ke mana dia dibawa pergi.

Permaisuri Jenggala seringkali duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya sambil meruntuhkan waspa (air mata). Semenjak terbasminya keluarga kepatihan, ia merasa sunyi dan duka, merasa betapa kini ia menghadapi lawan yang ;amat kuat tanpa kawan yang dapat ia andalkan. Hatinya selalu perih kalau ia mengingat betapa kini seluruh istana telah dicehgkeram oleh Suminten, sedangkan seluruh kerajaan berada di telapak tangan Pangeran Kukutan dan Patih Warutama yang baru diangkat. Betapapun juga, sang prameswari tidak pernah putus harapan untuk menolong suaminya dari cengkeraman Suminten, terutama sekali mengingat bahwa usahanya menentang persekutuan mereka itu demi untuk menolong Kerajaan Jenggala daripada keruntuhan. Ia maklum bahwa diam-diam masih banyak sekali ponggawa dan para pangeran yang setia kepadanya, yang diam-diam membenci persekutuan busuk itu. Dan permaisurl yang sabar dan tekun ini tidak pernah menghentikan usahanya memata-matai Suminten. Ia percaya bahwa akan tiba saatnya ia akan dapat menghancurkan Suminten melalui perbuatan Suminten sendiri yang ia tahu merupakan seorang wanita muda pengabdi nafsu berahi, seorang wanita muda yang hanya pada lahirnya saja mencinta dan setia kepada sang prabu, akan tetapi sesungguhnya merupakan seorang wanita yang bermoral bejat, yang setiap malam berganti pacar untuk melayani nafsu berahinya. Hanya sukarnya, Suminten amat pandai menjaga diri. Kamarnya selalu dikepung ketat oleh para pengawal penjaganya, juga para abdi dalem yang melayaninya adalah orang-orang kepercayaannya sendiri sehingga sukarlah bagi sang permaisuri untuk "menerobos" pertahanan penjagaan yang ketat itu.
Namun, sang permaisuri yang sabar dan tekun ini tak pernah menyerah kalah. Setiap malam ia berdoa mohon bantuan dewata, dan diam-diam ia selalu memasang mata- mata yang berupa emban-emban tua yang setia untuk mengawasi gerak-gerik di keputren di mana Suminten tinggal dalam bangunan-bangunan dan taman yang amat mewah. Dan pada malam hari itu agaknya doa yang selalu ia panjatkan terkabul, karena tiba-tiba masuklah seorang emban dengan tergesa-gesa, bersembah sujud di depan sang permaisuri sambil berbisik,
"Duh Gusti, tibalah saatnya kini yang telah dinanti-nanti oleh Paduka Gusti. Ibis betina itu kini berada di pesanggrahan di taman sari, agaknya menanti kekasihnya. Dan pintu tembusan ke taman sari tidak terjaga, sehingga Paduka dapat masuk ke taman sari bersama hamba. Mudah-mudahan sekali ini paduka dapat menangkap basah si iblis betina itu."

<<< Bagian 110                                                                                      Bagian 112 >>>

No comments:

Post a Comment