Dapat dibayangkan betapa kaget dan duka hati ksatria ini. Ia maklum bahwa keselamatan keluarganya sendiri pun terancam, maka dengan menahan nyeri di dadanya akibat luka pukulan, ia memaksa diri pulang ke dusunnya di Suko dan cepat-cepat ia membawa keluarganya pergi dari dusun itu, bersembunyi di daerah liar di pantai laut Kidul. Untung ia berlaku cepat, karena Pangeran Kukutan yang kemudian mendengar akan dua belas orang pengawal rahasia ini, cepat-cepat mengerahkan pasukan pengawal mencari keluarga dua belas orang itu dan menangkap mereka semua! Hanya sehari setelah ia membawa keluarganya lari dari Suko, datanglah sepasukan pengawal ke dusun itu dan mengobrak-abrik dusun Suko.
Mendengar berita ini, Ki
Mitra maklum bahwa amatlah tidak aman bagi Widawati untuk berdiam di dusun
Suko, maka terpaksa ia mengajak gadis itu pergi meninggalkan Suko, untuk ia
ajak ke dusunnya sendiri di mana tanggal keluarga adik kandungnya yang hidup
sebagai petani di situ. Memang dia berasal dari dusun ini, dan ia bermaksud
menitipkan Widawati pada keluarga adiknya untuk sementara waktu sehingga ia
akan lebih mudah pergi menyusul dan mencari Wiraman yang telah melarikan diri.
Menjelang senja mereka telah melewati gunung karang terakhir dari pegunungan
yang berderet-deret dari barat ke timur seolah-olah menjadi tanggul pembendung
ancaman Laut Selatan. Widawati sudah lelah sekali, dan baru sekarang ia
mengeluh,
"Ki Mitra ...., masih
jauhkah dusunmu? Aku ingin sekali beristirahat dan berpikir ....”
"Sudah dekat,
Den-ajeng, itu di depan .....eh, hati- hatilah, di depan ada orang!”
Widawati cepat menundukkan
mukanya. Pakaiannya sudah kusut dan kotor, juga kakinya penuh lumpur dan debu
sehingga ia tidak banyak bedanya dengan gadis-gadis dusun biasa, apalagi karena
telah melepaskan semua perhiasan emas permata dari tubuhnya dan menyimpannya di
dalam kemben. Hanya menurut nasehat Ki Mitra, ia harus selalu menyembunyikan
mukanya karena wajahnya terlalu cantik untuk mengaku seorang gadis dusun. Maka
kini otomatis ia menundukkan mukanya agar orang yang disebut oleh Ki Mitra itu
tidak akan melihat wajahnya apabila mereka bersilang jalan.
Ketika orang yang datang
dari depan dan jalannya berindap-indap menyusuri tepi sawah itu telah datang
dekat, Ki Mitra berseru, suaranya girang sekali,
”Ah, Denmas Wiraman?"
Ki Mitra tertegun memandang.
"Bukankan andika ..
Denmas Wiraman?”
Mendengar sebutan nama ini,
Widawati mengangkat muka memandang. Pria itu bertubuh sedang dan tegap,
terbayang kekuatan di balik kulit lengan dan dadanya yang bidang. Usianya empat
puluh tahunan, dengan pandang mata tajam dan wajahnya yang tampan membayangkan
derita hidup yang diterimanya penuh kesabaran. Sabar, kuat, penuh pengertian
membayang pada wajah di bawah rambut yang sudah mulai terhias warna putih.
Seorang pria yang gagah dan wajahnya mendatangkan kepercayaan. Wiraman, pria
itu, juga memandang penuh perhatian, dan hanya mengerling sebentar kepada
Widawati, lalu perhatiannya tercurah kembali kepada
Ki Mitra. Pakaiannya
compang-camping, tubuhnya kelihatan menderita kelelahan hebat. Akan tetapi
pandang matanya bersinar dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal Ki Mitra.
"Kakang Mitra kalau aku
tak salah duga?" tanyanya.
"Betul, saya adalah Ki
Mitra! Ah, Denmas Wiraman, betapa susah payah saya mencari Andika ..!"
Dengan girang Ki Mitra memegang lengan tangan prla itu.
"Ada apakah? Engkau
yang telah bekerja sebagai juru taman di kota raja, mengapa datang
mencariku?"
"Denmas, ceritanya
panjang sekali. Marilah Andika ikut bersama kami ke rumah adik saya di dusun
itu, nanti saya ceritakan semua persoalan yang amat gawat dan penting“
"Hemm ..., boleh,
marilah. Akan tetapi ... siapakah nini yang ikut bersamamu ini?”
Ki Mitra menoleh ke kanan
kiri sebelum menjawab, lalu berbisik,
"Untuk dia inilah maka
saya mencari Andika. Dia ini adalah satu-satunya cucu gusti patih yang berhasil
lolos dari cengkeraman maut ...“
"Ahhh ..Ya Dewata Yang
Maha Kasih! Paduka cucu gusti patih? Aduhai puteri yang patut dikasihani betapa
hebat penderitaan Paduka ..!” Digerakkan oleh hati yang penuh iba Wiraman
mendekati Widawati dengan pandang mata penuh perasaan.
Kedukaan yang sudah memenuhi
hati gadis itu kini meluap. Pria ini adalah seorang kepercayaan kakeknya dan
sikap yang amat baik itu membuatnya terharu sehingga ia pun lupa diri,
melangkah maju dan membiarkan dirinya dirangkul, menangis di atas dada yang
bidang itu. Wiraman mengelus rambut yang kusut itu, hatinya seperti
disayat-sayat pisau beracun.
"Duh para dewata yang
agung, lindungilah kiranya puteri yang malang ini ...." bisiknya. Namun
dia seorang satria yang segera dapat mengatasi keharuan hatinya.
"Harap Paduka tenang
dan teguh hati, menerima nasib seperti yang telah ditentukan para dewata.
Manusia hanya sekedar menerima dan mengalami. Mari, mari kita pergi ke dusun
dan di sana bicara panjang lebar dan menentukan langkah selanjutnya."
Pergilah mereka bertiga ke
dusun kecil yang menjadi kampung halaman Ki Mitra. Mereka disambut dengan penuh
keheranan akan tetapi juga penuh kegirangan oleh keluarga adik kandung Ki Mitra.
Terhadap adiknya, Ki Mitra memperkenalkan Wiraman sebagai seorang rekan kerja
di kota raja, adapun Widawati diperkenalkan sebagai adik misan Wiraman. Agar
tidak menimbulkan keraguan, terpaksa Widawati menyebut "kakang"
kepada Wiraman, sebaliknya Wiraman menyebutnya "nimas".
Malam hari itu, mereka
bercakap-cakap dan menceritakan pengalaman masing-masing. Hati Wiraman terharu
sekali ketika ia mendengar betapa seluruh keluarga kepatihan musnah dibasmi
oleh Pangeran Kukutan dan Suminten. Wajah satria ini menjadi merah, giginya
berkerot dan kedua tangannya dikepal.
"Hem m ....si bedebah
Kukutan dan Suminten! Tentu saja sang prabu yang sudah sepuh dan kehilangan
kewaspadaan karena mabuk nafsu itu tidak mengerti akan tipu muslihat mereka!
Kalian tunggu saja! Di dunia ini, masih ada aku Wiraman yang tahu akan semua
muslihat kalian!"
"Sebetulnya, rahasia
apa yang tersembunyi di balik peristiwa itu, Kakang Wiraman?" tanya
Widawati yang kini tidak merasa canggung lagi di hadapan pria itu, karena
memang sikap Wiraman wajar dan sopan serta jujur terhadap dirinya.
Wiraman menghela, napas
panjang, kemudian mulai bercerita,
"Ketika sang prabu
pergi berburu, kami dua balas orang kepercayaan gusti patih mendapat tugas
rahasia dari gusti patih untuk secara sembunyi melindungi keselamatan sang
prabu. Kami melihat betapa rombongan sang prabu diserbu oleh gerombolan
orang-orang gundul. Tentu saja kami segera menerjang keluar dari tempat
persembunyian karena para pengawal kewalahan menghadapi serbuan liar mereka.
Akan tetapi, tiba-tiba muncul tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa
sehingga sebelas orang teman-temanku tewas semua, sedangkan aku sendiri terluka
parah. Aku bersembunyi dan menyaksikan peristiwa hebat. Sang prabu, Pangeran
Kukutan, dan wanita iblis Suminten itu ditangkap dan diancam hendak dibunuh
sisa gerombolan gundul. Tiba-tiba muncul seorang pria yang mengaku bernama
Raden Warutama yang membunuhi sisa gerombolan gundul, padahal aku mengenal dia
itu sebagai seorang sakti yang tadinya membantu gerombolan gundul. Hemm ..... !
Dan sekarang, Warutama itu menjadi seorang yang berjasa!”
"Kabarnya akan diangkat
menjadi patih ..!” kata Ki Mitra.
Wiraman memukulkan tinjunya
di atas tanah lantai kamar kecil itu.
"Tentu saja! ini adalah
hasil persekutuan mereka! Siasat yang busuk sekali untuk menonjolkan jasa
Warutama dan untuk menjatuhkan fitnah kepada gusti patih! Keparat…….! Kalau aku
tidak dapat membalas kekejian ini, aku tidak akan sudi memakai nama Wiraman
lagi!"
Suasana menjadi sunyi.
Mereka bertiga tenggelam ke dalam lamunan masing-masing, merasa ngeri kalau
mengenangkan peristiwa itu, ngeri mengingat tipu muslihat yang demikian keji
dan busuknya. Kemudian kesunyian dipecahkan suara Ki Mitra,
"Sekarang,....bagaimana.....selanjutnya
harus diatur, Denmas? Tentang Den-ajeng Widawati ini .....“
"Kakang Mitra lebih
baik besok kembali ke kota raja agar jangan menimbulkan kecurigaan. Kakang
berjalan seperti biasa dan diam-diam memperhatikan keadaan dan perkembangan di
dalam istana agar siap untuk memberi laporan kalau dibutuhkan. Sedangkan
mengenai Diajeng Widawati, serahkan saja kepadaku. Akulah yang mulai detik ini
bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku sedang memikirkan. jalan terbaik
untuk Diajeng Widawati." Widawati menyusut air matanya.
"Kakang Wiraman, karena
membela mendiang Eyang Patih, engkau telah mengalami kesengsaraan. Bagaimana
aku kini tega untuk menjadi beban tanggunganmu lagi? Aku akan memperberat
hidupmu, akan membahayakan hidupmu dan keluargamu masih amat membutuhkan
perlindunganmu”
"Keluargaku ...?" Wiraman
menghela napas panjang.
"Jangan kau khawatir,
Diajeng Widawati. Keluargaku telah kuungsikan dan mereka kini hidup sebagai
petani-petani yang cukup aman tenteram. Bahkan sementara ini aku tidak berani
mendekati mereka, karena keadaanku seperti sebuah penyakit menular, siapa yang
kudekati berarti terancam bahaya. Jenggala sedang mencari-cariku sebagai
seorang yang berbahaya bagi Pangeran Kukutan dan Suminten, juga bagi Patih
Warutama, karena akulah satu-satunya orang yang mengetahui akan rahasia mereka.
Aku bahkan harus menjauhkan diri dari keluargaku. Isteriku seorang bijaksana,
dan aku tidak khawatir akan keadaan mereka. Juga engkau sendiri merupakan
seorang buronan seperti aku, Diajeng. Engkau dicari karena engkau merupakan
sisa musuh besar yang tentu akan membalas dendam. Keadaan kita berdua sama-sama
sebagai buronan, maka tidak ada yang saling menjadi beban, tidak ada yang
saling memberatkan. Asal saja engkau menaruh kepercayaan penuh kepadaku, demi
para dewata, aku tidak akan membiarkan engkau tertimpa malapetaka, akan kubela
dengan seluruh jiwa ragaku." Makin deras air mata Widawati mengalir dan di
antara linangan air matanya ia memandang kepada pria yang begini baik terhadap
dirinya. Seolah-olah ia mendapatkan pengganti orang tua dan keluarga dalam diri
Wiraman. Mendapatkan seorang sahabat baik, seorang pelindung, seorang yang
dapat ia sandari dalam kehidupan mendatang, yang boleh ia percaya sepenuhnya.
Pada keesokan harinya,
mereka meninggalkan dusun itu sesuai rencana yang diatur oleh Wiraman. Ki Mitra
kembali seorang diri ke kota raja setelah dilepas pergi oleh Widawati yang
berkali-kali menghaturkan terima kasih sambil berlinang air mata. Kemudian
Wiraman bersama gadis itu pergi meninggalkan dusun. Widawati kali ini tidak
pernah bertanya ke mana mereka pergi, karena dia sudah menyerahkan seluruh
keselamatan dirinya ke tangan pria ini, akan menurut saja ke mana dia dibawa
pergi.
Permaisuri Jenggala
seringkali duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya sambil meruntuhkan
waspa (air mata). Semenjak terbasminya keluarga kepatihan, ia merasa sunyi dan
duka, merasa betapa kini ia menghadapi lawan yang ;amat kuat tanpa kawan yang
dapat ia andalkan. Hatinya selalu perih kalau ia mengingat betapa kini seluruh
istana telah dicehgkeram oleh Suminten, sedangkan seluruh kerajaan berada di
telapak tangan Pangeran Kukutan dan Patih Warutama yang baru diangkat.
Betapapun juga, sang prameswari tidak pernah putus harapan untuk menolong
suaminya dari cengkeraman Suminten, terutama sekali mengingat bahwa usahanya
menentang persekutuan mereka itu demi untuk menolong Kerajaan Jenggala daripada
keruntuhan. Ia maklum bahwa diam-diam masih banyak sekali ponggawa dan para
pangeran yang setia kepadanya, yang diam-diam membenci persekutuan busuk itu.
Dan permaisurl yang sabar dan tekun ini tidak pernah menghentikan usahanya
memata-matai Suminten. Ia percaya bahwa akan tiba saatnya ia akan dapat
menghancurkan Suminten melalui perbuatan Suminten sendiri yang ia tahu
merupakan seorang wanita muda pengabdi nafsu berahi, seorang wanita muda yang
hanya pada lahirnya saja mencinta dan setia kepada sang prabu, akan tetapi
sesungguhnya merupakan seorang wanita yang bermoral bejat, yang setiap malam
berganti pacar untuk melayani nafsu berahinya. Hanya sukarnya, Suminten amat
pandai menjaga diri. Kamarnya selalu dikepung ketat oleh para pengawal
penjaganya, juga para abdi dalem yang melayaninya adalah orang-orang
kepercayaannya sendiri sehingga sukarlah bagi sang permaisuri untuk
"menerobos" pertahanan penjagaan yang ketat itu.
Namun, sang permaisuri yang
sabar dan tekun ini tak pernah menyerah kalah. Setiap malam ia berdoa mohon
bantuan dewata, dan diam-diam ia selalu memasang mata- mata yang berupa
emban-emban tua yang setia untuk mengawasi gerak-gerik di keputren di mana
Suminten tinggal dalam bangunan-bangunan dan taman yang amat mewah. Dan pada
malam hari itu agaknya doa yang selalu ia panjatkan terkabul, karena tiba-tiba
masuklah seorang emban dengan tergesa-gesa, bersembah sujud di depan sang
permaisuri sambil berbisik,
"Duh Gusti, tibalah
saatnya kini yang telah dinanti-nanti oleh Paduka Gusti. Ibis betina itu kini
berada di pesanggrahan di taman sari, agaknya menanti kekasihnya. Dan pintu
tembusan ke taman sari tidak terjaga, sehingga Paduka dapat masuk ke taman sari
bersama hamba. Mudah-mudahan sekali ini paduka dapat menangkap basah si iblis
betina itu."
No comments:
Post a Comment